Sunday, February 06, 2011

Ceng Ho di Tangan Ki Enthus

-- Aryo Wisanggeni Genthong

DENTING saron gamelan Jawa, gesekan selo orkestra Eropa, gesekan Er Hu, dan petikan Yang Qin tradisional China menelan dengung penonton yang berdesakan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Minggu (30/1). Sang Dalang, Ki Enthus Susmono, muncul di panggung. Dua gunungan wayang kulit Jawa di tangannya bergetar.

Aktor Ray Sahetapy (kanan) memerankan tokoh Laksamana Cheng Ho dalam pentas teater yang dimotori oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) di Teater Kecil, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Minggu (30/1). Pertunjukan ini merupakan pentas teater perdana Lesbumi setelah mengalami kevakuman sejak tahun 1970-an. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

”Cinta dan kehormatan adalah warisan leluhur. Manusia, manusia, tanpa kehormatan bagaikan binatang buas. Manusia, manusia, tanpa cinta akan diperbudak oleh nafsu,” Ki Enthus memulai. Ia bernyanyi. Bait demi bait nyanyiannya mengisahkan Laksamana Cheng Ho, seorang kasim Kaisar China Zhu Di yang berlayar selama 28 tahun dan mengunjungi 35 negara termasuk Nusantara.

Pergelaran Laksamana Cheng Ho itu adalah pentas teater pertama Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) sejak lembaga itu lahir kembali pada 2004. Tahun 1960-an, lembaga gerakan kebudayaan NU itu menjadi alternatif di antara kutub dua gerakan budaya yang ”berseteru”, Manikebu dan Lekra.

Ketika Soeharto berkuasa, diskursus budaya adalah barang terlarang, dan Lesbumi NU pun mati suri. Kelahiran kembali Lesbumi pada 2004 membuat para aktivisnya kembali memiliki dapur mengaktualisasi visi Islam NU yang pluralis dengan berkesenian. Memanggungkan kisah hidup Cheng Ho dipilih menjadi tolakan kebangkitan Lesbumi.

”Cheng Ho adalah perintis gerakan Islam kultural di Indonesia. Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7. Namun, Ma Huan mencatat dalam Ying-Yai Sheng-Lan pada 1405 Islam baru dipeluk komunitas China dan Arab. Cheng Ho menempatkan ulama di berbagai tempat, dan itulah cikal-bakal gerakan Islam kultural yang lantas melahirkan Wali Songo,” kata Ketua Pimpinan Pusat Lesbumi, Ngatawi Al Zastrouw.

Memanggungkan narasi besar seperti kisah hidup Cheng Ho menjadi pertunjukan teater dua jam selalu sulit. Apalagi ketika para pelakonnya memaknai narasi besar itu sebagai identitasnya, sejarah keberadaannya. Agus Smoke dan Suhandi Biru Laut harus merombak naskah hingga tiga kali.

Bongkar pasang adegan pun terjadi. Problem mencari cara mevisualisasikan pengebirian para kasim, atau pemenggalan sejarawan Fang Xiaro, terpecahkan dengan menjadikan Ki Enthus Susmono narator kisah hidup Cheng Ho.

Dalang

Dalang wayang ”Rai Wong” itu memang piawai. Dua wayang golek di tangannya bisa lincah bersilat, jungkir-balik saling pukul bak pendekar kungfu. Ki Enthus pun jago mengocok perut penonton dengan aneka banyolan. Partai disentil dengan ”partai cethek pethakilan, partai besar istiqomah,” politik transaksional disentil dengan ”kejelekan orang lain menjadi komoditas”. Guyonan saru alias porno khas Ki Enthus pun disambut tawa penonton.

Dengan wayang goleknya yang canggih, Ki Enthus menampilkan adegan pemenggalan sejarawan Fang Xiaro dan para musuh Kaisar Zhu Di sebagai ger-geran karena sang dalang piawai memainkan gerakan wayang golek yang dipenggal putus kepalanya.

Namun, sesungguhnya Ki Enthus terlalu mencuri hati penonton. Kemampuannya berimprovisasi, pesonanya di panggung, menguras konsentrasi penonton. Gaya ’teater sampakan’ Ki Enthus yang cerdas, jenaka, berbumbu isu ”Gayus”, ”bohong”, dan semacamnya terlalu renyah sehingga mengandaskan plot serius tentang Sang Laksamana.

Ketika penonton yang masih mulas karena terpingkal-pingkal disodori percakapan serius Kaisar Zhu Di yang meminta sejarawan Fang Xiaro memanipulasi penulisan sejarah, percakapan menjadi terlalu sulit dicerna. Keteguhan Fang Xiaro yang memilih dipenggal daripada memalsukan sejarah nyaris tak berkesan. Adegan ini lewat begitu saja. Padahal, inilah kisah perlawanan terpenting, yang memperlihatkan keteguhan sikap seorang ”ilmuwan”.

Sutradara Laksamana Cheng Ho, Siti Artati, mengakui dominasi improvisasi Ki Enthus. ”Namun itu sah-sah saja, semua masih di dalam jalur skenario dan konsep pementasan,” kata Artati.

Cheng Ho dewasa yang diperankan Ray Sahetapy baru muncul di Nusantara pada 20 menit terakhir dalam pertunjukan berdurasi dua jam itu. Dalam 20 menit terakhir, adegan demi adegan berkejaran, seolah diburu kejenuhan penonton. Adegan penutupnya adalah lawatan Cheng Ho ke Majapahit meski negara itu tengah berperang melawan Blambangan.

Cheng Ho menolak membawa senjata dalam lawatannya ke Majapahit. ”Perbedaan pendapat dan tujuan tidak bisa diselesaikan dengan perang. Perang justru menimbulkan dendam dan penderitaan,” kata Cheng Ho sambil membuang pedangnya.

Al Zastrouw membumikan pesan itu. ”Kami menolak radikalisasi dan kekerasan, tetapi kami tidak ingin menyebut radikalisasi dan kekerasan itu salah. Kami ingin menunjukkan bahwa Lesbumi membuat semua orang berkumpul, bekerja, apa pun agamanya, apa pun latar belakangnya. Kami menolak radikalisasi tanpa perlu menjadi radikal, menolak kekerasan tanpa perlu ikut berbuat kekerasan,” ujarnya.

Itulah pesan penting pentas ini, yang kira-kira bisa mengena untuk konteks realitas di negara kita belakangan hari. Jika kekerasan dihentikan dengan kekerasan, maka kekerasan itu takkan pernah berhenti. Jangan-jangan akan terus menyulut kekerasan-kekerasan baru.

Sumber: Kompas, Minggu, 6 Februari 2011

No comments: