Friday, January 23, 2009

Menimbang Sebuah Generasi

-- Jajang Supriyadi

APA makna sebuah generasi? Apalagi jika ditambahkan kata "baru" di belakangnya? Mungkin sama sekali tidak berarti selain jabaran secara harfiah. Akan tetapi menjadi lain, ketika padanan kata tersebut dipergunakan untuk menjelaskan atau malah menegaskan sebuah konstelasi, yakni seni rupa di Bandung.

Sebuah pameran seni rupa, jika tidak berlebihan, mencitakan "gema" yang dapat bergaung bukan saja bagi sedikit kalangan seni, juga bagi khalayak luas. Sebagai pameran, Bandung Art Now ternyata mampu membuka berbagai tanggapan. Ahda Imran, mencatatkannya di kolom budaya Khazanah, pada Harian Umum Pikiran Rakyat ("Menatap Sebuah Generasi"; Sabtu, 10 Januari 2009). Ahda Imran menilik pameran Bandung Art Now dan menggariskan kehadiran sebuah generasi baru perupa-perupa muda Bandung yang berbeda dari generasi sebelumnya. Perbedaan generasi yang ditandai kecenderungan tematik, pengolahan bentuk dan media, gagasan estetika, hingga kesadaran yang ditandai keberbedaan sikap dan cara berkarya rupa; yang tanpa ketegangan.

Kemudian esok harinya, dalam kolom Seni sebuah harian nasional, "Yang Keren dan Terkendali", Minggu (11/1), Wicaksono Adi pun menuliskannya dengan suka cita. Tulisannya mengupas pameran Bandung Art Now dengan pandangan berbeda. Berangkat dari pengamatan dan analisisnya terhadap karya-karya yang ditampilkan pada pameran tersebut, Wicaksono Adi menggambarkan adanya praktik kontrol dalam proses berkarya perupa-perupa Bandung. Praktik kontrol yang dilakukan para perupa Bandung terhadap kerumitan batas-batas representasi dan realitas yang terfragmen. Oleh karena itu, menurutnya pula, karya-karya perupa dalam pameran Bandung Art Now menjadi lebih terkendali. Hanya, telaah yang disajikan Wicaksono Adi cenderung melebar. Adakah kebergunaan untuk membandingkan sikap dan cara berkarya perupa Bandung dan Yogya dalam lingkup pameran Bandung Art Now?

Namun sesungguhnya, apa yang ditawarkan dan dikumandangkan pameran Bandung Art Now? Sayangnya, perlu menunggu waktu. Sebab, buku pengantar yang menyertai pameran tersebut diundur peluncurannya. Sejatinya, pada saat penutupan pameran, kemudian berubah menjadi tanggal 30 Januari 2009 di Galeri Soemardja FSRD ITB. Mengapa? Mengapa juga harus di Galeri Soemardja FSRD ITB? Lagi-lagi mengundang tanya.

Barangkali pada waktunya nanti tidak lagi perlu dipermasalahkan. Pemilihan tajuk Bandung Art Now pada pameran 26 perupa Bandung di Galeri Nasional-Jakarta, 7-17 Januari 2009, bukanlah "peti mati" bagi keberlangsungan seni rupa di Kota Bandung sendiri. Mungkin bukan saatnya mengandaikan generasi-generasi sebelumnya "ditiadakan". Jangan harap ada perupa dari 1980-an atau 1970-an, apalagi yang sebelum-sebelumnya. Seni rupa Bandung tampil dalam gerbong terputus. Boleh kecewa, ketiadaan perupa-perupa generasi sebelumnya menyiratkan suatu catatan terpisah.

Mengapa yang muda-muda? Apa sebab yang tua-tua tidak disertakan? Masih banyak mengundang tanya. Akan tetapi, jangan kecele tajuk pameran, mungkin memang hanya diperuntukkan bagi para perupa muda yang benar-benar muda dalam pengertian muda usia.

**

SEKALIPUN berkelit, perencanaan dan pengelolaan pameran yang diikuti perupa muda dari 1990-an hingga 2000-an ini tetap menegaskan sebuah perbedaan dan pengkhususan. Lantas, perbedaan dan pengkhususan atas dasar apakah pameran ini dimaksudkan? Tentu perlu dijelaskan. Pameran ini, menurut Aminuddin T.H. Siregar merupakan rangkaian dari pameran-pameran sebelumnya di Galeri Langgeng-Magelang yang sebelumnya berlabel Petisi Bandung 1 dan 2. Rangkaian pameran yang bermula dari gagasan sederhana untuk memberitakan perkembangan seni rupa Bandung ke tengah kancah seni rupa Indonesia.

Pada katalogus pameran yang terbatas, kurator menjelaskan bahwa rangkaian pameran ini merupakan salah satu usaha menjawab pertanyaan mengenai peranan seni rupa Bandung dalam tatanan sejarah seni rupa Indonesia. Hal ini didasarkan kesangsian terhadap penentuan tipe-tipe rangkaian (series of series) peristiwa sejarah yang ikut membentuknya. Catatan kurator tersebut bertalian dengan eksistensi seni rupa Bandung dan asumsi-asumsi yang beredar di medan sosial bahwa perupa-perupa Bandung sedang mengalami "kemunduran" yang signifikan, baik dalam gagasan estetik maupun peluang di tengah pasar. Oleh karena itu, perupa generasi baru Bandung perlu menampakkan wajah mereka di hadapan publik.

Bersinggunggan dengan catatan-catatan di atas, tulisan ini berupaya sedikit berbelok untuk menggunakan sisipan "terbarukan" dalam padanan generasi. Sengaja dipilihkan untuk menghindar dari kekalutan kata "baru" yang acap kali berujung menjadi perdebatan pretensius. Jika saja dapat dipahami bahwa Bandung Art Now adalah pameran sebuah generasi "terbarukan" seni rupa Bandung, tersedia setidaknya dua aspek yang perlu ditelusuri.

Dalam setiap generasi, tentu ada hal-hal mendasar yang penting sebagai petunjuk atas dirinya. Sebab, kehadiran sebuah generasi membawa sesuatu yang datang dari dalam ataupun luar dirinya. Adakah perbedaan dan pengkhususan yang memungkinkan sebuah himpunan perupa dirangkum dalam pengertian generasi? Mungkinkah dapat dirumuskan agar gagasan sederhana untuk memberitakan perkembangan seni rupa Bandung tidak berhenti hanya sebatas upaya pembingkaian-pembingkaian kuratorial?

Beranjak pada aspek pertama, sebuah generasi perlu diamati dan dikaji berdasarkan kenyataan yang tumbuh dalam iklim sosio-psikologis yang melingkupinya. Sekalipun membutuhkan waktu, upaya tersebut dirasakan berharga agar dapat mengetahui kondisi masyarakat, tatanan sosial ekonomi, ataupun suasana dan kehidupan kesenian yang membentuk sikap dan pendirian perupa yang terhimpun dalam sebuah generasi. Upaya ini sekaligus membantu memetakan dasar dan argumentasi bahwa jika karya-karya yang dihadirkan dalam pameran Bandung Art Now memang berangkat dari "kehidupan sehari-hari" merupakan sebuah pelibatan pengalaman kesenian, baik artistik maupun estetik. Apakah pengalaman tersebut tumbuh sebagai bentuk imajiner atau konkret yang pada gilirannya menjelaskan cara pandang dan berkarya dalam diri para perupa?

Kemudian yang kedua, dalam menimbang sebuah generasi, perlu menelusuri apakah para perupa yang terhimpun di dalamnya memiliki kesadaran mengenai diri, para perupa sebelumnya, serta lingkungan tempat bernaung dan berkarya. Hal ini menjelaskan bahwa kehadiran sebuah generasi bukanlah tanpa ikatan sejarah. Jika para perupa yang tergabung dalam pameran Bandung Art Now adalah generasi "terbarukan" dalam konstelasi seni rupa di Bandung, sangat tidak mungkin untuk menghindar dari berbagai praktik dan tata cipta perupa-perupa sebelumnya. Selayaknya perlu dicari tahu lebih jauh, mengapa para perupa Bandung yang muda-muda memilih jalan yang lebih "rileks dan santai" dibandingkan dengan yang penuh "ketegangan" ataupun yang "berat-berat" dalam berkarya rupa. Bukankah cara pandang, cara berolah rupa dan upaya merepresentasikan sesuatu dalam karya seni pada akhirnya merupakan pilihan-pilihan personal?

Selain perubahan-perubahan sosial dalam kehidupan sehari-hari, perupa zaman sekarang, meminjam yang dikatakan oleh Sanento Yuliman, memiliki ingatan yang banyak dipengaruhi berbagai pameran sebelumnya, buku-buku, majalah, tayangan video, dan film, ataupun beragam reproduksi. Benak para perupa zaman sekarang ibarat "museum khayal" yang memungkinkan lahirnya penggabungan berbagai cara, upaya, dan tata cipta karya yang kaya. Letak pentingnya bukan pada realitas yang fragmentatif dan bercampur aduk. Namun, pada kesadaran dalam memandang proses berkarya rupa, apakah merupakan upaya untuk menunjukkan kedirian, kematangan, serta kedewasaan sebagai perupa.

Di situlah letak makna "terbarukan" dalam pengertian kehadiran sebuah generasi pada suatu konstelasi seni rupa seperti halnya Bandung. Karena dengan begitu, akan terbukakan gambaran mengenai bagaimanakah para perupa memilih dan memandang masalah dalam karya? Atau, seperti apakah para perupa menentukan cara dalam memecahkan masalah rupa dan perupaan? Hingga kemudian tiba pada gambaran yang dapat membantu menjelaskan makna kehadiran sebuah generasi dalam perkembangan dialektis masalah dan pemecahannya. Agar terjelaskan, apa perbedaan dan pengkhususan sebuah generasi dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Perlu pengamatan yang lebih, bukan sebatas cara mengamati generasi pada aspek yang sekadar membingkai pertumbuhan bentuk rupa dan perupaan serta pemekaran cara mencipta karya yang "baru". Karena yang "baru" bukanlah sama sekali baru. Terlalu berisiko untuk membangun kesimpulan dalam batas-batas tersebut. Hal yang diperlukan adalah mengamatinya lebih jauh pada moda, produksi, dan ranah yang melingkupinya. Meminjam apa yang diungkapkan Sanento Yuliman, setiap permainan pada praktiknya memerlukan aturan main.

Ya, perlu sebuah aturan main yang memungkinkan generasi-generasi mendatang dapat belajar, memahami, dan dapat "bermain" dalam konstelasi seni rupa di Indonesia atau Bandung khususnya. Kiranya dapat diambil pelajaran, sejak awal abad ke-20 hingga pascakemerdekaan. Atau, bagaimana Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) era 1970-an dan generasi "bengal" 1980-an terbentuk, serta laku lampah generasi 1990 dan 2000-an dalam Bandung Art Now kali ini dapat menjadi dokumentasi dan pencatatan berharga bagi para perupa dan perkembangan konstelasi seni rupa di Indonesia sendiri. ***

Jajang Supriyadi
(palang_dada Bandung)

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 24 Januari 2009

No comments: