
”Aku banyak bergaul dengan komunitas-komunitas sastra untuk menyusun buku ini,” ujar perempuan kelahiran Sukabumi, 4 Januari 1980, ini.
Happy memang bukan orang baru dalam bidang tulis-menulis cerita. Selain suka membaca, sebelum menjadi pemain sinetron pun, tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah majalah.
Sebelum Telaga Fatamorgana, dua buku Happy sebelumnya adalah Pulang dan Titian. Dalam Titian ia berkolaborasi dengan sejumlah penulis.
”Aku sangat senang menulis dan akan terus menulis. Aku ingin setelah buku ini, semakin banyak orang yang mau menulis dan berani menyerahkannya kepada penerbit. Artis juga tidak dilarang, lho,” ujarnya.
Menyinggung nama bukunya, kata Happy, telaga diartikan sebagai hal yang indah, sedangkan fatamorgana adalah sesuatu yang ada di mata, tetapi ternyata tak ada.
”Jadi, seperti sesuatu yang tidak ada, namun indah...,” katanya. (PRA)
Sumber: Kompas, Selasa, 16 Desember 2008
No comments:
Post a Comment