Sunday, April 25, 2010

Tiga Lakon Komedi Remy

-- Putu Fajar Arcana

DAPUR Teater Remy Sylado antara ada dan tiada. Terkadang berpentas, setelah itu lama tidak terdengar. Dan karenanya, jarang dipertimbangkan dalam peta perteateran Tanah Air.

Tiga lakon komedi yang dipentaskan, 21-22 April 2010 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), dalam tajuk ”Komedi Musikal Farce: Jalan Tamblong”, merujuk pada betapa sesungguhnya Remy tetap berproses. Remy sebagai koki Dapur Teater Remy Sylado (DTRS) terus bergulat pada kekuatan teks untuk menyajikan racikan pementasan yang tidak saja bernas, penuh pesan dan isi, tetapi sekaligus membangkitkan rasa terhibur.

Pada lakon pertama, ”Sekuntum Melati Buat Rima”, yang dimainkan aktris kawakan Renny Djajoesman dan Anang Dasoel, sudah terlihat bagaimana Remy menghormati bahasa. Teks lakon dan juga dua lakon lainnya benar-benar mengeksplorasi bahasa sebagai wahana komunikasi lisan, tanpa harus menghancurkan gramatika.

Tokoh Roro Ayu Renggoningsih (Renny Djajoesman), yang beraksen Jawa, dan Zen Kartadisastra (Anang Dasoel), yang beraksen Sunda, tetap berada pada koridor sebagaimana disyaratkan sebagai bahasa baku. Hebatnya, terutama Renny, sama sekali tidak kehilangan improvisasi sebagai aktor panggung meski harus dituntut menggunakan bahasa baku.

Begitu juga dengan lakon ”Jalan Tamblong”, yang mengetengahkan pemain Sammy Patti dan Herlina Syarifuddin, serta ”Mas Joko”, lakon monolog yang dimainkan Jose Rizal Manua. Pada ketiga lakon itu, Remy menunjukkan penghormatannya kepada bahasa Indonesia.

Jika banyak yang berpikir penggunaan bahasa baku dalam teks drama dan juga sastra bisa menghancurkan komunikasi intim dengan penonton atau pembaca, Remy meruntuhkan mitos itu. Bahasa dalam naskah-naskah Remy, termasuk novel Jalan Tamblong yang baru diterbitkan, sangat tertib dan rapi. Aksen para tokohnya hanya muncul dalam dialog-dialog yang improvisatoris. Sementara saat-saat melakukan deskripsi atau prolog sebagai pengantar cerita, para tokoh yang diciptakan Remy selalu menggunakan bahasa baku.

Ketololan

Tiga lakon komedi Remy mengingatkan pada lakon-lakon Samuel Beckett, semisal Waiting for Godot, atau Nyanyian Angsa dari Anton Chekov. Meski absurditas pada Beckett dan Chekov cenderung berakhir sebagai tragedi dan Remy membalikkannya sebagai komedi, mereka sama-sama berupaya menguliti ”ketololan” diri sendiri.

Pada ”Sekuntum Melati Buat Rima”, Remy mengisahkan bagaimana ketololan seorang pemuda bernama Zen Kartadisastra yang melacak alamat rumah Rima lantaran diberikan oleh seorang perempuan cantik di atas kereta Jakarta-Bandung. Sialnya, Rima yang ia dapati tak lain dari seekor anjing ras yang biasa disewakan untuk mengawani anjing lain.

Begitu juga pada ”Jalan Tamblong”, bagaimana seorang aktris yang sudah bercerai tujuh kali melacak surat cintanya yang sudah telanjur dimasukkan ke dalam bus surat. Ia harus menunggu sampai tukang pos tiba di malam hari, ”hanya” untuk memperbaiki letak ”koma” dalam suratnya itu.

Di luar soal penertawaan atas ”ketololan” diri sendiri, dalam ”Jalan Tamblong”, Remy mengisyaratkan bahwa kesalahan meletakkan tanda koma bisa berakibat pada berubahnya makna kalimat. Kalimat yang ditulis aktris itu berbunyi, ”Mari kita ke kebun, binatang”, padahal ia bermaksud mengajak kencan seorang pemuda di kebun binatang, bukan ”menghardiknya” sebagai binatang.

Lakon ketiga, ”Mas Joko”, berkisah tentang jejaka tua berumur 50 tahun bernama Joko yang mencintai seorang gadis yang tinggal di apartemen lantai 20. Ketika Joko berkunjung, listrik di apartemen itu padam dan ia harus naik lewat tangga. Baru sampai lantai tujuh, napasnya habis dan loyo.

Sebagai teks, ketiga lakon yang dimainkan malam itu sungguh menjadi penyegar di saat keluhan tentang ketiadaan naskah-naskah yang cerdas dan bernas dalam dunia teater dan film kita. Namun, sebagai sutradara Remy bukanlah eksekutor yang tangguh. Tuntutan memainkan naskah-naskah ini dalam kemasan yang musikal justru menjadi ”pengganggu” di saat para pemain mengisyaratkan menuju pendakian kisah. Bahkan penggarapan setting panggung, yang diharapkan mendukung ”keindahan” visual, tidak dilakukan dengan baik.

Kenyataan-kenyataan itu tidak berhasil mengimbangi kekuatan naskah yang ditulis Remy. Baiklah, apa pun itu Remy Sylado telah mengembalikan kita pada kesadaran bahwa komunikasi intim lewat bahasa baku bisa dilakukan sama baiknya dengan bahasa yang mengikuti dialek-dialek tertentu untuk memperkuat penokohan.(Ilham Khoiri)

Sumber: Kompas, Minggu, 25 April 2010

No comments: