Sunday, April 24, 2011

Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi

-- Putu Fajar Arcana dan Aryo Wisanggeni G

PANGGUNG berupa balkon yang dibangun dari kayu, cerobong asap, dan sebuah sel sempit dilumuri warna merah. Seseorang berlari lalu mengibaskan bendera di ketinggian. Musik yang juga sayup-sayup berasa merah mengalir….

Itulah adegan pembuka Tan Malaka, Opera 3 Babak yang dipentaskan Sabtu (23/4) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Opera karya Goenawan Mohamad dalam rangka 40 tahun majalah berita mingguan Tempo, itu akan dipentaskan kembali Minggu (24/4) malam.

Goenawan Mohamad meringkas pentas berdurasi sejam lebih itu lewat seorang narator (Landung Simatupang) dengan berkata, ”Ia lahir dari buku, hidup dari pustaka, dan menghilang di halaman terakhir sebuah risalah. Tapi bisakah revolusi lahir dari kitab yang sudah ada?”

Ini memang bukan sebuah riwayat tentang tokoh bernama Tan Malaka. Goenawan Mohamad dan komponis Tony Prabowo menyebutnya sebagai sebuah opera-esai. Begitu juga dengan dua karya pasangan ini sebelumnya, seperti The King Witch dan Kali. Sebagai sebuah esai yang diekspresikan dalam bentuk visual, maka ia menuntut hal-hal yang kasat mata dan telinga sekaligus bergizi buat jiwa. Di dalamnya dipadukan elemen-elemen gerak, teks, reportase, paduan suara, musik, narasi, puisi, dan multimedia. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan penuh tantangan, terutama karena pentas ini menisbikan penokohan, bahkan dialog!

Hal itulah, mungkin, alasan Goenawan Mohamad yang memiliki kecakapan sebagai penulis esai, reportase, dan sekaligus penyair perlu terjun langsung sebagai sutradara. Pada unsur visualisasi seperti artistik panggung dan multimedia, ia menggandeng sutradara Teater Garasi Yudi Ahmad Tajudin sebagai asistennya. Yudi dikenal sebagai sutradara dengan visualisasi panggung yang selalu menawan. Adapun pada Tony Prabowo, yang dikenal sebagai komponis bagi musik-musik avant-garde, Goenawan seolah menemukan kekentalan senyawa puisi dan opera.

Senyawa

Dalam persenyawaan semacam ini teater memang tidak jatuh jadi risalah yang mengumbar pengulangan terhadap teks, bahkan terhadap realitas. Teater sudah menjadi semacam diskursus untuk melontarkan berbagai pandangan dan pemertanyaan terhadap realitas itu sendiri. Dalam soal ini Goenawan mencoba ”membaca”, ”menulis”, dan ”berpendapat” tentang tokoh ”misterius” bernama Tan Malaka, tetapi berperan besar dalam menggerakkan revolusi.

”Saya percaya kepada revolusi meski revolusi selalu dikhianati…. Tan Malaka adalah model revolusi yang tidak melembaga. Ia bahkan tidak tahu pada 17 Agustus 1945 ada proklamasi kemerdekaan Indonesia,” kata Goenawan Mohamad.

Bagi Goenawan, sikap Tan Malaka ini sungguh aneh. Maka, ia pertanyakan lewat narator, ”Aneh. Ia seorang penggerak revolusi. Ia bisa jadi Lenin. Tapi ia kehilangan jejak. Atau tidak berjejak.”

Misterius bukan berarti tanpa perhitungan. Goenawan membaca Tan Malaka sebagai sudut di Taman Pahlawan yang menyediakan liang lahat bagi prajurit tak dikenal. Kita menghormatinya, tetapi sesungguhnya tidak penting benar siapa yang dikuburkan di sana. Mungkin saja liang lahat itu kosong. ”Tapi lebih baik kosong. Tiap kali kita akan bisa mengisinya dengan fantasi. Tafsir kita…,” kata suara dari balik layar.

Dan, revolusi selalu bergerak menentang kemapanan. Tan Malaka berbeda. Ia bergerak dari gorong-gorong sebagai berang-berang, bukan sebagai burung merak sebagaimana yang diperankan Soekarno. Bahkan, revolusi digerakkan Tan Malaka dari sel-sel dingin dan sunyi tentara kolonial. Lalu apakah makna sebuah revolusi sunyi ketika sebuah negara bercita-cita menulis kemerdekaan dengan huruf tebal di bahu kolonialisme?

Pertunjukan ini memang sunyi. Meski penuh dengan laburan warna merah, cerobong pabrik, penjara, dan buruh-buruh yang bekerja keras, tetapi ia bukan sebuah romantisisme terhadap sebuah zaman, di mana revolusi Bolshevik dikobarkan. ”Dalam revolusi bukan siapa yang penting, tetapi kepahlawanan apa yang terjadi dalam sejarah,” ujar Goenawan.

Tan Malaka memang dikabarkan ditembak mati di Kediri, sekitar bulan Februari atau April 1949. Tetapi tidak seorang pun pernah tahu, siapa yang menembaknya dan di mana ia dimakamkan.

Hal yang kemudian sampai secara samar-samar bahwa seseorang yang pernah mengikuti Kongres Komunis Internasional keempat di Moskwa pada 1922 itu menggerakkan revolusi dari lubang-lubang persembunyian yang ia bangun sendiri. Sebuah revolusi sunyi, yang bisa jadi mementalkan dirinya sendiri dari keriuhan baru bernama: kemerdekaan. Dan ia sudah bersiap untuk itu sejak semula....

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

No comments: