
Dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Karlina Supelli, mengemukakan hal itu pada Peluncuran dan Bedah Buku Guru-Guru Keluhuran Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman, Selasa (31/8) di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. ”Tingkat intelektual dangkal. Generasi muda hanya menyentuh persoalan di permukaan dan perhatiannya mudah sekali berganti pada persoalan lain,” ujarnya.
Namun, dalam pandangan budayawan Mohamad Sobary, lebih baik impian anak muda dibiarkan berbeda karena mereka berasal dari generasi yang berbeda. ”Biarkan anak muda memimpikan masa depannya,” ujarnya.
Pengamat politik Mochtar Pabottingi mengemukakan, sebagian besar dari 23 tokoh nasional yang menulis dan mengungkapkan cerita tentang impian, cita-cita, dan harapannya di dalam buku setebal 303 halaman itu mengaku telah mencapai impiannya. ”Tetapi, impian sebagai bangsa belum terwujud. Bahkan, ada kemunduran,” ujarnya.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef berharap, buku berisi catatan sejarah dan pengalaman hidup masing-masing penulis itu bisa menjadi bahan pelajaran bagi generasi muda.
Buku terbitan Penerbit Buku Kompas itu berisi cerita impian, cita-cita, dan harapan 23 tokoh nasional yang menjalani zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Ke-23 tokoh nasional itu berkiprah di berbagai bidang. (LUK)
Sumber: Kompas, Rabu, 1 September 2010
No comments:
Post a Comment