Sunday, December 12, 2010

Buku: Al-Azhar dan Moderasi Islam

-- Faiq Ihsan Anshori

AL-AZHAR merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di dunia setelah Universitas Oxford di Inggris. Namanya menjulang tinggi di dunia karena membawa bendera moderasi Islam. Di usianya yang lebih dari satu milenium ini, pengaruhnya semakin terasa hingga di Tanah Air.

Buku Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi dan Kiblat Keulamaan karya Zuhairi Misrawi merupakan salah satu buku terlengkap tentang al-Azhar karena menyuguhkan profil keilmuan, sejarah dan jejak reformasi Islam, sejarah mahasiswa Indonesia di al-Azhar, dan perannya dalam mengembangkan moderasi Islam di dunia.

Sejak didirikan pertama kali oleh Dinasti Fatimiah pada 973 M, al-Azhar mampu menarik minat pelajar-pelajar dunia yang ingin mengenyam pendidikan di al-Azhar. Rintisan sekolah ini dimulai dari pendidikan yang berlangsung di Masjid al-Azhar. Masjid tidak hanya digunakan sebagai sarana ibadah, melainkan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Langkah pertama dimulai dengan menggelar pengajian dalam bentuk sorogan (halaqah) pada tahun 976 M. Materi utamanya tafsir Al Quran dan diskusi keagamaan.

Kemudian, pada masa Al-Aziz, pendidikan keagamaan di al-Azhar kian berkembang pesat dengan membuka beberapa materi kuliah baru. Ia adalah pemimpin yang mengubah al-Azhar dari sistem informal menjadi pendidikan formal pada 988 M. Sejak awal abad 10 M, jumlah pelajar sudah mencapai 750 orang yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Dalam perjalanannya, sistem pendidikan al-Azhar yang dikembangkan Dinasti Fatimiah ini tidak bisa menghindari masuknya para pelajar dengan berbagai latar belakang aliran. Meskipun Dinasti Fatimiah berlatar paham Syiah Ismailiah, mayoritas pelajar menganut paham Sunni. Dinasti Fatimiah tidak menerapkan sikap fanatisme mazhab, sebaliknya bersikap toleran dalam upaya mengakomodasi realitas paham Sunni.

Peradaban Sunni

Perjalanan al-Azhar pasca-Dinasti Fatimiah, mulai dari Dinasti Ayyubiyah, Dinasti Mamluk, hingga akhir Dinasti Ottoman merupakan perjalanan yang berliku-liku dan penuh intrik politik. Namun, ada catatan penting di sini; sekalipun kekuasaan silih berganti, dominasi Sunni tidak pernah pudar dan tergantikan sehingga menjadi peradaban Sunni yang kokoh.

Memasuki era modern, al-Azhar mengalami modernisasi. Menurut Kafagi (1988), ada beberapa sosok penting yang sangat berjasa dalam usaha modernisasi, reformasi, dan politik kemerdekaan. Pertama, Rifa’ah Tahtawi. Sosok ulama modern yang berjasa besar dalam modernisasi al-Azhar. Sepulang dari menempuh pendidikan di Perancis, Tahtawi mengarang buku Talkhis al-Ibriz fi Talkhis al-Bariz yang mengisahkan akan kebesaran Eropa serta nilai-nilai modernitas yang membuat ia terkesan dan menginspirasi pencerahan bagi Mesir dan al-Azhar. Kedua, nasionalis Abdullah Nadim dan revolusioner Ahmad Urabi. Selanjutnya, Muhammad Abduh, ulama reformis yang berhasil melakukan reformasi menuju al-Azhar modern.

Pengaruh al-Azhar sampai ke Nusantara satu abad sebelum kemerdekaan. Hingga sekarang masih ada Ruwaq Jawi, tempat tinggal pelajar yang datang dari penjuru Nusantara. Dalam catatan Martin Van Bruninessen (1922), orang Nusantara pertama yang datang untuk menimba ilmu di al-Azhar bernama Abdul Manan Dipomenggolono, pendiri Pondok Pesantren Tremas, kakek ulama besar Syaikh Mahfudz Termas.

Pada tahun 1925, mahasiswa Asia Tenggara menerbitkan majalah Seruan Al-Azhar. Salah satu misinya adalah turut berperan aktif membangkitkan nasionalisme dan mempersiapkan kemerdekaan RI. Di antara mahasiswa yang menonjol pada masa itu adalah Iljas Jacub, Mahmud Junus, Abdul Kahar Mudzakkir, M Rasjidi, dan Harun Nasution.

Dengan segala cara mereka melakukan usaha untuk mendukung kemerdekaan, baik lewat jalur media massa maupun diplomasi dengan negara Mesir. Tak heran ketika mencapai kemerdekaan, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI di dunia internasional. Ini berkat andil mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di al-Azhar.

Pada masa-masa awal kemerdekaan, Soekarno, Presiden RI, memiliki hubungan batin yang kuat dengan Mesir, khususnya al-Azhar. Dalam kunjungan ke Mesir pada 1960, Soekarno menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Perguruan Tinggi Al-Azhar. Di depan ulama sekolah ini, Soekarno berpidato tentang Pancasila sebagai common platform yang menyatukan perbedaan agama, suku, dan bahasa.

Moderatisme

Dalam konteks ideologi global yang saat ini dipertontonkan kubu gerakan Islam kontemporer dan gerakan Islam radikal, al-Azhar mampu menghadirkan wajahnya sebagai poros gerakan Islam moderat. Salah satu agenda utamanya adalah memperbaiki citra Islam di dunia internasional sembari membuktikan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ’alamin).

Garis-garis moderatisme yang dimaksud adalah: pertama, memastikan bahwa paham Islam moderat tak akan melanggar atau melampaui garis-garis primer (al-tsawabit). Kedua, membumikan toleransi. Ketiga, membangun dialog antar-agama.

Sayangnya, buku ini kurang mengelaborasi secara lebih detail tentang peran alumni al-Azhar dalam mengembangkan moderasi Islam di Tanah Air, khususnya peran mereka dalam dua organisasi besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Selama ini, alumni Timur Tengah dianggap sebagai pihak yang mengembangkan puritanisme dan gerakan politik Islam yang mengusung formalisasi agama. Mestinya penulis buku ini dapat mengelaborasi sejauh mana peran alumni al-Azhar dalam proliferasi moderasi Islam atau adakah keterlibatan mereka dalam gerakan-gerakan radikal di Tanah Air?

Meskipun demikian, buku setebal 353 halaman ini merupakan genre buku ilmiah-sejarah yang ditulis dengan bahasa renyah dan lugas. Penulis berhasil memotret Mesir dan al-Azhar secara utuh, di samping penyuguhan alam visual foto-foto nan indah yang mengajak imajinasi pembaca serasa berwisata religi-intelektual ke Mesir dan al-Azhar.

Faiq Ihsan Anshori, Pengurus The World Association for al-Azhar Graduates (WAAG) Indonesia

Sumber: Kompas, Minggu, 12 Desember 2010

No comments: