Monday, March 01, 2010

[Nama & Peristiwa] Mudji Sutrisno: Sketsa dan Puisi

Malam tak jadi purnama/ karena lebat hujan menggenangi Roma....” Itu baris awal puisi Mudji Sutrisno SJ (55) berjudul ”Malam Tak Jadi Purnama”. Judul itu sekaligus menjadi judul buku kumpulan puisi dan sketsa terbitan Obor, Jakarta.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Waktu sedang di Roma, aku mendengar kabar gempa di Padang. Aku lalu menyepi di (kampus) Gregoriana,” kata Mudji tentang suasana batin yang menaungi lahirnya puisi tersebut.

Mudji bercerita tentang puisi dan sketsa itu, Sabtu (27/2) siang, sekembali dari Yogyakarta. Ia tengah berbenah-benah karena sore harinya harus menjadi juri untuk acara Kick Andy's Heroes yang digelar Metro TV.

Hero atau pejuang yang dipilih pada acara itu adalah pejuang pada bidang lingkungan, kesehatan, pendidikan, sosial, seni, dan budaya. Mudji menjadi juri untuk pejuang seni dan budaya.

Apa ukuran ”kepahlawanan” itu?

”Orang yang berada dalam keterbatasan, tapi masih memikirkan, memedulikan, membantu, dan berjuang untuk orang lain. Itu hero, pejuang,” kata Mudji.

”Wong sugih (orang kaya) membantu orang lain itu sudah biasa. Romo (pastor), seperti aku ini, membantu orang lain, juga biasa, he-he...,” katanya.

Dalam puisinya, Mudji juga menulis tentang sosok pahlawan: ”Sayapmu tinggal satu/ teriris tiap kali/ padahal menaungi sekaligus anakmu dan aku....” (XAR)

Sumber: Kompas, Senin, 1 Maret 2010

No comments: