Sunday, March 21, 2010

Cermin Sosial ”Sadrah”

-- Imad Assundawy*

UNTUK kedua kalinya, Nunu Nazaruddin Azhar kembali menjadi pinunjul (pemenang) pertama pasanggiri menulis naskah drama bahasa Sunda. Setelah naskah drama ”Jeblog” yang dinobatkan sebagai pinunjul pertama 2008, kali ini giliran ”Sadrah” yang dinobatkan sebagai naskah terbaik dalam acara dua tahunan yang digagas oleh Teater Sunda Kiwari dan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) itu. Selanjutnya, ”Sadrah” dijadikan salah satu naskah wajib dalam pementasan Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XI yang sedang berlangsung saat ini.

Pada FDBS kali ini, mayoritas peserta memilih naskah Sadrah. Mungkin yang menjadi salah satu alasannya karena naskah ini memberi peluang untuk dimainkan dengan gaya panggung minimalis. Dalam arti, lakon ini tidak membutuhkan setting dan artistik panggung yang rumit. Tokoh utama yang harus diperankan pun relatif sedikit. Gaya minimalis ini juga tampak pada naskah Nunu terdahulu, yaitu ”Jeblog”.

Namun secara intertekstual, ada banyak perbedaan mendasar antara ”Jeblog” dengan ”Sadrah”. Dalam naskah ”Jeblog”, Nunu menggarap tema sosial, politik, serta agama yang masing-masing ditonjolkan secara merata melalui tiga tokoh utamanya. Sedangkan dalam ”Sadrah”, tema politik hanya dijadikan sebagai setting cerita. Tema besarnya, yakni persoalan sosial, tetap dipusatkan pada tokoh utama Sadrah.

Alhasil, naskah ”Sadrah” kurang begitu warna-warni jika dibandingkan dengan ”Jeblog”. Bahkan dari segi kualitas, naskah drama ”Sadrah” masih di bawah ”Jeblog”. Alur cerita ”Sadrah” cenderung lurus serta miskin oleh sudut tikungan dan tanjakan yang menghentak. Namun, tema yang diangkat oleh ”Sadrah” sangat relevan dengan fakta umum yang terjadi di masyarakat. Inilah yang menjadi punjul-nya naskah ”Sadrah”.

Lakon ”Sadrah” mengisahkan seorang pegawai kecil Dinas Kebersihan bernama Sadrah. Dengan berseragam kuning dan sebuah keranjang sampah, tiap hari Sadrah rajin menjalankan tugasnya. Pergaulannya dengan sampah menyebabkan ia menderita bronkitis akut. Namun malang, setelah empat puluh tahun mengabdi, ia malah di-PHK secara sepihak, dan hanya diberi pesangon satu bulan gaji. Akan tetapi, Sadrah tetap bersikap sadrah. Ia bersabar menerima keadaan yang terjadi.

Sebelumnya, sikap sadrah juga ia tunjukkan manakala dirinya tak kunjung jua diangkat menjadi PNS. Birokrasi yang sarat KKN menjeratnya. Akhirnya, sikap sadrah-nya itu pecah ketika putri semata wayang Sadrah meninggal. Sadrah tak mampu membiayai pengobatan anaknya. Namun, akhirnya ia kembali pasrah, dan menyerahkan musibah itu kepada Tuhan.
**

MENURUT kamus bahasa Sunda, kata sadrah berarti pasrah, sabar, menerima cobaan yang menimpa dengan lapang dada. Sikap sadrah biasanya berhubungan erat dengan sifat suka memendam perasaan. Ketika seseorang yang mempunyai sikap sadrah disakiti, ia cenderung memendamnya tanpa mau menggugat balik. Karena sering memendam perasaan itulah, akhirnya banyak berujung pada sikap neuteuli atau ngunek-ngunek. Perbuatan menyakiti itu akan menjadi sebuah catatan yang tidak akan pernah dilupakan olehnya. Bahkan tak jarang hingga susah memaafkan.

Sikap sadrah juga identik dengan sikap selalu menjaga perasaan orang lain. Ia selalu hati-hati dalam bertindak. Ketika membicarakan hal yang sensitif, misalnya, akan diutarakan dengan cara malapah gedang atau malibir. Tindakan céplak pahang (to the point) dihindari sejauh mungkin. Karena terlalu mempertimbangkan hal lain, ia sering mengorbankan perasaannya sendiri. Positifnya, ia akan selalu menghindari konflik yang lebih besar, dan lebih mementingkan pertimbangan kondisional. Namun efek negatifnya, ia cenderung menjadi pendendam. Ia beranggapan bahwa manusia seperti dirinya tidaklah layak disakiti, karena ia juga tidak suka menyakiti orang lain. Garis besarnya, sadrah menunjukan sebuah sikap pasif dari manusia yang berperasaan halus.

Dalam naskah ”Sadrah”, bagaimana neuteuli-nya tokoh Sadrah digambarkan pada babak akhir. Setelah sekian banyak cobaan mendera, Sadrah bertingkah aneh. Selama mengabdi bagi kebersihan, ia selalu bangga dengan seragam kuning dan keranjang sampahnya. Dan selama itu pula Sadrah menerima nasibnya yang serbasusah. Tak dinyana, Sadrah lalu masuk ke dalam keranjang sampahnya, dan ternyata ia merasa betah duduk di sana. Di dalam keranjang sampah itu, puncak kegetiran terjadi. Sadrah meracaukan kembali dialog dari peristiwa ketika ia dipecat, serta dari peristiwa ketika istrinya meminta perhiasan emas.

Apa yang digambarkan oleh Nunu melalui tokoh Sadrah sebetulnya merupakan cerminan dari sikap rakyat Indonesia secara umum. Rakyat kita memang cenderung bersikap pasif, serta enggan menggugat semua ketidakberesan pemerintah, terutama perihal tindakan korupsi yang sangat merugikan. Padahal di negeri-negeri tetangga, nominal korupsi yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai korupsi di Indonesia bisa meledakkan sebuah gerakan massal. Bahkan tak jarang hingga menjatuhkan kepala negara.

Ada anggapan yang tidak mengenakkan, bahwa sikap rakyat kita yang demikian lebih karena dilatarbelakangi oleh mental bangsa jajahan. Rakyat kita sudah terbiasa disakiti, baik oleh bangsa lain maupun oleh bangsa sendiri. Walaupun dapat dijelaskan secara logis-historis, indikasi ini menunjukkan sesuatu yang tidak wajar, seperti tidak wajarnya si Sadrah ketika ia merasa betah berada dalam keranjang sampah.

A`la kulli hal, sikap sadrah sangat diperlukan manakala kita berhadapan dengan takdir yang memang tidak bisa dipungkiri. Namun, agama Islam juga mengajarkan, nasib manusia tetap harus diubah oleh manusia itu sendiri. Sebuah gerakan perlawanan terhadap korupsi tampaknya tidak cukup hanya dengan neuteuli sambil menggerutu atau mengucapkan sumpah serapah.***

* Imad Assundawy, aktif di ASAS.

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 21 Maret 2010

No comments: