Sunday, March 07, 2010

Peta Sastra Indonesia

-- Hikmat Gumelar

INDONESIA hari ini tetap sebuah negara dengan geografi yang luas dan sifat serta kondisinya beraneka, suku bangsa, sejarah, adat istiadat, bahasa, seni, dan agama yang beragam. Namun, Indonesia hari ini juga tengah mengalami perubahan dalam berbagai bidang. Perubahan dalam berbagai bidang ini satu sama lain saling terkait dan saling memengaruhi.

Sastra Indonesia tidak di luar itu. Ia ada di dalamnya. Ia pun bukan bidang yang tak tersentuh perubahan. Juga bukan bidang yang tak punya daya memungkinkan terjadinya perubahan. Kelahirannya merupakan buah dari berbagai perubahan yang melanda daerah-daerah yang tengah dijajah Belanda, dan sekaligus berperan besar dalam mengelola berbagai perubahan itu sehingga menjadi kekuatan yang memungkinkan terbentuknya sebuah negara bangsa baru dan merdeka dengan nama Indonesia.

Sejak itu, sastra Indonesia selalu ada dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara ini. Namun, kedudukan dan perannya tidak tetap. Kedudukan dan perannya berkali mengalami perubahan yang signifikan. Selain disebabkan oleh faktor-faktor internal bidang kesusastraan, perubahan-perubahan ini pun disebabkan faktor-faktor dari luar dirinya. Maka ketika berbagai bidang yang berkait dengannya mengalami banyak perubahan seperti yang kita rasakan hari ini, bisa dipastikan ia pun mengalami hal sama. Hanya, perubahan yang dialami sastra Indonesia di satu daerah tak mustahil berbeda dengan di daerah lain. Cara bagaimana perubahan itu terjadi, intensitasnya, sebab-sebabnya, akibat-akibatnya, dan tanggapan-tanggapan terhadapnya sangat mungkin bervariasi. Hal ini tidak lain karena sastra Indonesia hari ini pun tumbuh dalam negara dengan geografi yang luas dan sifat serta kondisinya yang beraneka, suku bangsa, sejarah, adat istiadat, bahasa, seni, dan agama yang beragam.

Dalam konteks itu memang perlu ada peta sastra Indonesia hari ini. Ia akan merupakan khazanah berharga. Kehadirannya akan membuat para penulis sastra (Indonesia) bisa mendapatkan gambaran perjalanan sastra Indonesia, pertaliannya dengan bidang-bidang lain, kecenderungan-kecenderungan bentuk dan muatannya, lembaga-lembaga, dan tokoh-tokoh penggeraknya. Juga bisa mengilhami penulis sastra Indonesia kini untuk seketika menulis puisi yang mencengangkan, atau secara terencana menulis prosa yang mengguncangkan dengan kepaduan bentuk dan muatannya yang baru. Pun tak mustahil mencegah penulis sastra kita jatuh pada pengulangan yang memboyakkan, kebanggaan diri yang bodoh dan konyol karena, misalnya, merasa menemukan cara ucap baru padahal itu telah dengan gemilang beroperasi dalam karya Indrus atau Utuy Tatang Sontani.

Para pembaca sastra Indonesia juga bisa mendapat untung. Peta sastra Indonesia hari ini bisa memberi banyak konteks puisi, cerita pendek, novel, dan drama Indonesia. Adanya banyak konteks ini bisa membantu menghindarkan dari pembacaan anakronistis. Pun bisa membantu para siswa SMA kini, misalnya, mereguk nikmat baik saat membaca Saman karya Ayu Utami dan Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf maupun saat membaca Rasa Mardhika: Hikayat Soedjanmo karya Soemantri dan Student Hidjo karya Mas Marco, karena mereka paham beragam kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya. Cakrawala mereka pun lantas jadi lebih luas. Daya empati mereka jadi bertambah. Kesadaran historis mereka jadi lebih kaya. Mereka jadi lebih berakar dan melihat banyak kemungkinan di depan mereka.

Cendekiawan di luar bidang sastra juga demikian. Mereka sangat mungkin bisa mendapatkan gambaran mengenai pertalian antara dinamika perjalanan sastra Indonesia dengan bidang yang mereka suntuki. Sangat mungkin, misalnya, seorang dokter tergerak meneliti segi-segi tertentu dari sejumlah puisi dan prosa Indonesia karena peta sastra Indonesia hari ini yang dibacanya menampakkan apa yang dicarinya selama ini mungkin ada dalam sejumlah puisi dan prosa Indonesia itu. Profesionalismenya bisa melonjak karena menemukan yang berharga bagi bidangnya. Pamor sastra Indonesia pun bisa naik. Bisa menjadi bukan saja bacaan kaum yang tengah didera asmara, akademisi sastra, dan secuil ilmuwan sosial, tetapi juga sumber pengetahuan dan rujukan cendekiawan eksakta.

Menjadikan sastra sebagai sumber pengetahuan dan rujukan dokter, arsitek, planolog, dan sebagainya memang belum lazim di kita. Padahal, sastra merupakan konkretisasi pemaknaan akan kenyataan yang dihadapinya sebagaimana adanya. Bahasa dan imajinasi dalam sastra berperan sebagai pemungkin konkretisasi. Keduanya jadi lebih mendekatkan kenyataan dengan cara menghidupkannya. Sementara yang dilakukan ilmu pengetahuan adalah mengabstraksikan kenyataan yang sudah pula direduksinya, sudah diciutkan oleh konsep-konsep. Bahasa dan imajinasi dalam ilmu pengetahuan fungsinya demi pengabstraksian. Jadilah bahasa dan imajinasi ilmu pengetahuan malah menguburkan kenyataan, atau paling kurang menjauhkannya dari kita. Kekayaan sastra bisa jadi melebihi kekayaan ilmu pengetahuan. Bisa jadi pula, seperti telah dikata, peta sastra Indonesia hari ini berdaya besar mempertemukan sastra Indonesia dengan mereka yang selama ini tampak jauh darinya itu.

Jika demikian saja, saya kira jelas sudah peta sastra Indonesia hari ini adalah hal yang dibutuhkan berbagai kalangan. Akan tetapi, penulisan peta sastra Indonesia yang demikian mengandaikan adanya kecintaan akan karya-karya sastra Indonesia. Sementara kecintaan terhadap prosa dan puisi Indonesia hanya akan tumbuh dalam diri siapa yang secara tekun, terbuka, luas, dan dalam membaca puisi, cerpen, novel dan drama Indonesia. Juga berbagai tulisan yang membicarakannya.

Untuk menemukan semua itu saja bukanlah kerja mudah. Pasalnya, ruang publikasi sastra Indonesia tidak saja di ruang publikasi yang mudah diakses oleh siapa yang secara berlebih mengimani kedigdayaan cakupan koran nasional, penerbit buku ternama di beberapa kota besar di Jawa dan internet. Banyak puisi dan cerpen yang tiap Minggu terbit di koran-koran lokal. Banyak kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan novel yang diterbitkan penerbit kecil di daerah-daerah (di luar Jawa). Banyak drama yang ditulis anggota kelompok teater yang tersebar di pelbagai daerah yang belum diterbitkan lebih karena fokusnya untuk mengadakan pementasan. Banyak tulisan bermutu yang membahas karya sastra Indonesia yang beredar hanya di ruang terbatas. Maka, sekali lagi, untuk menemukan sebanyak mungkin karya sastra Indonesia saja, tenaga besar sudah harus dikerahkan. Begitu pula saat kemudian menelitinya. Untuk ini, kita diminta tekun dan telaten di jalan sunyi yang panjang, berpandangan luas dan tajam, bersih dari prasangka yang datang dari pelbagai kepentingan personal dan/atau golongan.

Dengan demikian, membuat peta sastra Indonesia hari ini adalah kerja besar yang mensyaratkan kerja keras dalam rentang waktu panjang. Syarat inilah, saya kira, yang dilupa oleh siapa yang mengadakan kegiatan-kegiatan sastra yang diuar-uarkan sebagai pemetaan sastra Indonesia kini. Juga oleh siapa yang membuat tulisan singkat perihal, misalnya, peta sastra Indonesia mutakhir di Jawa Barat, sebuah provinsi dengan begitu banyak penulis sastra yang produktif dan kreatif yang bermukim takhanya di kawasan Priangan, juga di Kuningan, Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. Di kawasan Priangan saja banyak komunitas yang intensif bersastra dengan kecenderungan masing-masing, dan tak sedikit dari anggotanya yang karya-karyanya sudah enak dan perlu dibaca khalayak. Juga tak sedikit penulis puisi dan penulis prosa yang mengembangkan kreativitasnya dengan tidak menjadi bagian dari komunitas sastra. Untuk siapa yang tergiur menjadi juru peta sastra Indonesia di Jawa Barat, sepatutnyalah karya-karya mereka itu sebanyak mungkin dibaca dengan tekun, telaten, terbuka, tajam, dan jernih. Tanpa itu, peta itu akan jauh dan menjauhkan kita dari kenyataan.

Namun itulah tampaknya yang terjadi. Pemetaan sastra Indonesia mutakhir yang selama ini dikerjakan lebih banyak dikerjakan dengan data seadanya, dan dalam tempo yang bisa dikata sesingkat-singkatnya. Kekurangan ini umumnya tak diakui secara terbuka, atau disembunyikan dengan memfungsikan bahasa sebagai penutup kenyataan. Ini sungguh ironis karena salah satu fungsi sastra justru menyingkap dan mempertautkan kita dengan kenyataan.***

Hikmat Gumelar
, Koordinator Institut Nalar Jatinangor.


Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 7 Maret 2010

No comments: