
Alhasil, banyak permintaan tak terlayani. Facebook baru tergarap saat cucunya yang duduk di kelas V SD berkunjung.
”Saya benar-benar minta maaf karena banyak yang belum terlayani,” ujar Sapardi yang mulai mempelajari Facebook di waktu senggangnya.
Meski sempat pusing, ia merasa diuntungkan dengan ”keajaiban” Facebook. Berkat aplikasi itu, buku terbarunya, Syair Inul, bisa diterbitkan. Rencananya, Syair Inul diluncurkan bulan depan bersama buku kumpulan puisinya yang lain, Kolam di Pekarangan.
”Saat akan diterbitkan, naskah puisi Syair Inul malah hilang. Lalu saya coba-coba umumkan di Facebook. Eh, kurang dari dua jam, ada orang yang ngirim naskah itu. Rupanya, dia mencatatnya saat puisi itu dibacakan dulu,” kata Sapardi tersenyum lega. (IRE)
Sumber: Kompas, Selasa, 24 Februari 2009
No comments:
Post a Comment