Thursday, December 06, 2007

Dubes Malaysia: Malaysia Tak Pernah Klaim Budaya Indonesia

MALAYSIA membantah telah mengakui sejumlah seni dan budaya Indonesia sebagai miliknya, seperti angklung, tarian Barongan (Reog Ponorogo), lagu Rasa Sayange, dan lain-lain. Isu negatif tersebut dituding Malaysia telah diembuskan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sejumlah seniaman Reog Ponorogo menggelar aksi demonstrasi di Jakarta setelah mendengar Malaysia mengklaim Reog sebagai kebudayaan miliknya. (sp/yc kurniantoro)

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato' Zainal Abidin Mahamad Zain, mengatakan, selama ini Kerajaan Malaysia tidak pernah mengeluarkan pernyataan mengklaim beberapa kebudayaan yang terdapat di Malaysia, seperti Tarian Barongan dan Angklung sebagai berasal dari Malaysia.

"Masalah ini telah disensasikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tujuannya adalah untuk merusak keharmonisan hubungan Indonesia dan Malaysia," katanya di sela-sela acara jamuan makan malam Kedubes Malaysia dengan Media Massa Indonesia di Kedubes Malaysia, Jakarta, Rabu (5/12).

Penarikan Tari Barongan atau di Indonesia dikenal sebagai Reog Ponorogo dan Tarian Ninang Tari Garinging (Sumatera Barat) dari bagian promosi pariwisata Malaysia baru-baru ini, menurut Zain, adalah untuk mengantisipasi perkembangan negatif yang mungkin dapat mengganggu keharmonisan hubungan Malaysia dan Indonesia.

Namun, ketika ditanya SP apakah dengan penarikan tersebut berarti Malaysia telah mengakui bahwa Reog Ponorogo dan Tarian Ninang Tari Garinging merupakan seni dan budaya asal Indonesia, Zain hanya memberikan jawaban yang "datar" dan tak menegaskan bahwa Reog Ponorogo dan Tarian Ninang Tari Garinging sebagai seni budaya dari Indonesia.

"Sejak awal, Malaysia tidak pernah mengklaim Reog sebagai seni budaya Malaysia, silahkan cek ke website Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia, di sana hanya disebutkan bahwa Barongan didapat dari Batu Pahat, Johor dan Negeri Selangor. Tidak pernah kami menyatakan bahwa Barongan berasal dari Malaysia," tegasnya.

Sementara itu, lanjut Zain, lagu Rasa Sayange, digunakan untuk iklan promosi pariwisata Visit Malaysia Year 2007 (Tahun Kunjungan Malaysia 2007). Di Malaysia, lagu tersebut merupakan salah satu lagu rakyat, sehingga dipilih untuk lagu iklan promosi pariwisata karena sesuai dengan ekspresi masyarakat Malaysia dalam menyambut wisatawan asing.

"Lagu ini merupakan folk song yang telah ada sejak dulu di Nusantara, dan berkembang seiring dengan hijrahnya masyarakat Nusantara termasuk ke Malaysia," ujarnya.

Begitu juga dengan angklung, kata Zain, Malaysia tidak pernah menyebutnya sebagai milik Indonesia. Seperti halnya Tarian Barongan, angklung juga dibawa oleh masyarakat Indonesia yang berhijrah ke Malaysia sejak dulu.

"Mereka bebas untuk menggunakan atau memainkan alat musik tersebut, pemerintah Malaysia tidak mungkin melarang mereka memainkan keseniannya karena tidak melanggar hukum," tuturnya.

Sedangkan batik yang berkembang di Malaysia, jelasnya, memiliki motif dan corak yang sangat berbeda dengan batik Indonesia. Batik juga dimiliki sejumlah negara, seperti Surinam, Afrika, Thailand, Hawaii dan Italia.

"Dalam hubungan ini sebaiknya kita yang mempunyai banyak persamaan ini merasa bangga dengan kekayaan seni dan budaya yang dimiliki. Kita bisa bekerjasama dalam hal-hal yang memiliki kesamaan itu, karena hal ini justru akan menguntungkan kedua negara," katanya.

Begitu juga dengan makanan Rendang yang selama ini dikenal masyarakat Indonesia sebagai makanan khas masyarakat Sumatera Barat kini juga dapat dijumpai di Malaysia. Hal itu, kata Zain, dikarenakan pada abad ke-17 dan 19 masyarakat Sumatera Barat hijrah ke Tanah Melayu telah melahirkan masyarakat Malaysia keturunan Sumatera Barat.

"Sehingga munculnya sebuah provinsi di Semenanjung Tanah Melayu yang disebut Negeri Sembilan yang mayoritas penduduk asli berasal dari Sumatera Barat. Mereka datang ke Tanah Melayu dengan membawa budaya, adat istiadat, cara hidup, dan makan mereka. Sampai hari ini pun mereka masih mengembangkan adat pepatih, berbicara dalam bahasa Padang dan masakan mereka diwarisi turun-temurun dari nenek moyang mereka dari Sumatera Barat," ungkapnya.

Dengan demikian, jelas Zain, wajarlah jika kemudian masakan rendang telah menjadi makanan yang telah diterima dan dikenal di Malaysia, bukan saja oleh masyarakat Melayu tapi juga Tionghoa, India, dan sebagainya.

"Dalam perkembangannya, meski namanya masih Rendang, namun bumbu-bumbu yang digunakan telah mengalami banyak perubahan, karena mengalami percampuran dengan bahan-bahan masakan melayu dan India. Karena itu rendang yang terdapat di Malaysia mempunyai beberapa ciri perbedaan dari rendang yang terdapat di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat," jelasnya.

Merasa Khawatir


Zain mengatakan, pemerintah Malaysia mulai merasa khawatir dengan kian memburuknya hubungan generasi muda Malaysia dan Indonesia akibat pemberitaan di kalangan media massa, sehubungan dengan berhembusnya isu-isu negatif di bidang seni dan budaya tersebut.

"Kecanggihan teknologi membuat kita mudah mendapatkan informasi. Kecanggihan teknologi kini juga tak lepas dari bagian hidup anak-anak muda, mereka kini mudah mendapatkan informasi lewat internet. Ini masalah yang harus kita beri perhatian. Belakangan ini saya temukan sejumlah atau blog yang membicarakan secara bebas hal-hal yang berkaitan dengan hubungan kedua negara, khususnya mengenai isu-isu sensasi yang menjadi perhatian umum. Saya khawatir masalah ini dapat menimbulkan kebencian di kalangan anak muda kedua negara," katanya.

Zain pun berharap, media massa dapat meredam informasi negatif yang telah dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai kemesraan antara Indonesia-Malaysia.

"Saya berharap pihak media dapat memainkan peranan dalam menyiarkan masalah yang benar dan adil untuk mengimbangi informasi yang didapat secara terbuka tersebut. Generasi muda wajib diberi informasi yang benar untuk menjaga kelangsungan hubungan persahabatan yang telah lama terjalin ini," ungkapnya.

Sementara itu di tempat yang sama, Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Dr Mukhlis Paeni mengatakan, sebaiknya kesalahpahaman yang terjadi di kalangan masyarakat kedua negara sehubungan dengan pengklaiman seni dan budaya tidak dilanjutkan lagi, karena akan merugikan kedua negara.

"Sebaiknya persamaan yang kita miliki dimanfaatkan untuk dipromosikan bersama. Biarlah kalau Malaysia ingin menampilkan seni dan budaya Indonesia sebagai bagian dari budayanya, asalkan Malaysia mengingatkan pada wisatawan asing yang datang ke sana, bahwa kalau mau melihat seni dan budaya yang asli silahkan datang langsung ke sumbernya yaitu Indonesia. Dengan demikian akan terjadi join promotion yang saling menguntungkan kedua belah pihak," tuturnya.

Kesamaan seni dan budaya antara Indonesia dan Malaysia, jelas Mukhlis, sulit untuk dihindari. Sebab sejak ratusan tahun lalu banyak masyarakat Indonesia yang hijrah ke Malaysia dengan membawa seni dan budaya, serta adat istiadat nenek moyang mereka.

"Begitu juga dengan Indonesia, banyak kebudayaan kita yang dipengaruhi oleh kebudayaan negara lain. Itu bukan berarti Indonesia telah mencontek, tapi hal itu terjadi lantaran banyak masyarakat Melayu yang hijrah ke Indonesia berabad-abad silam," tandasnya. [Y-6]

Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 6 Desember 2007

1 comment:

miss kecoh said...

saya setuju!