Monday, June 30, 2008

100 tahun Kebangkitan Nasional: Membangun Bangsa yang Humanis

-- B Josie Susilo Hardianto

SJAHRIR dalam pidato di radio, ketika memperingati hari ulang tahun pertama Republik Indonesia, mengatakan, ”Perjuangan kita sekarang ini bagaimana juga aneh rupanya kadang-kadang, tidak lain dari perjuangan kita untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita. Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita.

Oleh karena itu, kita sebagai bangsa yang percaya kepada kehidupan, percaya kepada kemanusiaan, berpengharapan kepada tempo yang akan datang. Kita telah belajar menggunakan alat-alat kekuasaan, akan tetapi kita tidak berdewa atau bersumpah pada kekuasaan.

Kita percaya pada tempo yang akan datang untuk kemanusiaan, di mana tiada kekuasaan lagi yang menyempitkan kehidupan manusia, tiada lagi perang, tiada lagi keperluan untuk bermusuh-musuhan antara sesama manusia. Sebagai bangsa yang balik muda kita mencari tenaga kita sebagai bangsa di dalam cita-cita yang tinggi dan murni. Kita tidak percaya pada mungkin dan baiknya hidup yang didorong oleh kehausan pada kekuasaan semata-mata....”

Pidato Sjahrir ini dikutip almarhum budayawan YB Mangunwijaya dalam orasi ilmiah pada pembukaan Angkatan II Sekolah Ilmu Sosial di Bentara Budaya Jakarta, 5 Agustus 1998. Menurut Mangunwijaya, bagi rakyat Indonesia yang kala itu tengah bergulat melawan aneka kesulitan sebagai bangsa yang baru merdeka, tentu saja pidato semacam itu terasa jauh di awang-awang.

Rakyat tidak mudah mencerna pidato Sjahrir. Tidak semudah mencerna pidato Soekarno. Rakyat memiliki Soekarno yang dengan orasinya mampu menggelorakan semangat juang, dan Sjahrir yang menurut Mangunwijaya menghadapkan ke arah dunia internasional wajah Republik Indonesia yang suka damai, yang polos murni, yang tidak ingin licik, dan yang tidak ingin memakai sarana kekerasan dan kekuasaan untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Kala itu, diplomasi gaya Sjahrir menjadi tidak populer di mata rakyat, tetapi menarik simpati dunia. Simpati itu membuahkan dorongan agar Belanda mengakhiri gerakan militernya dan akhirnya menyerahkan kedaulatan bekas wilayah jajahannya kepada Indonesia. Sjahrir dengan gemilang mampu mencecapi roh dunia yang kala itu telah lelah dengan peperangan.

Riwayat

Lahir 5 Maret 1909 di Padangpanjang, Sumatera Barat, dari keluarga jaksa, Sjahrir mendapat beasiswa untuk pendidikan Fakultas Hukum Universitas Leiden, Belanda.

Di Amsterdam, ia menjadi anggota Socialistische Studenten dan aktif dalam Perhimpunan Indonesia. Pada tahun 1931 ia kembali ke Indonesia dan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia. Namun, aktivitasnya itu membuat pemerintah kolonial Belanda menangkap dan memenjarakannya Februari 1934.

Ia pernah dipenjarakan di Cipinang (Jakarta), Boven Digul (Papua), dan di Banda Neira (Maluku). Dalam suratnya tanggal 9 Mei 1936 ketika berada di Banda Neira, Sjahrir mempertanyakan solidaritas kemanusiaan. Adakah sudah perasaan bersatu dan setia kawan antarmanusia? Tidak, itu belum ada, seperti dulu pun tidak ada. Umat manusia masih saja terpecah-pecah dalam golongan-golongan. Ada pula pertentangan-pertentangan kekuasaan.

Ia menghunjam deras ke dalam panggilan kemanusiaan. Mangunwijaya melihat ciri itu sebagai yang membedakan antara Sjahrir, Hatta, dan Soekarno. Ia menulis, Soekarno adalah personifikasi dari ideal kesatuan dan persatuan serta kesadaran identitas bangsa Indonesia. Mohammad Hatta boleh dianggap sebagai personifikasi cita-cita Indonesia yang demokratis, baik dalam arti politik maupun ekonomi, antikapitalisme, dan pendekar kerakyatan yang berstruktur koperasi.

Dalam diri Sjahrir dapat ditemukan kepribadian cita-cita kemanusiaan, perikemanusiaan yang berbudaya, dan sikap yang sangat tinggi menghargai manusia Indonesia selaku pribadi-pribadi, tanpa lepas dari dimensi kesosialannya. Dalam perspektif Sjahrir, kemanusiaan menjadi cita-cita kemerdekaan.

Sjahrir menunjukkan kepada dunia internasional tentang ciri Indonesia yang cinta damai dan bukan bangsa yang licik lagi picik, di sisi lain ia juga menunjukkan kepada bangsa Indonesia ke mana arah kemerdekaan itu.

Sebagai nakhoda bagi Indonesia—Sjahrir pada usia 36 tahun menjadi perdana menteri pertama mulai dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947— Sjahrir menempatkan arah perjuangannya semata-mata bukan pada dalil-dalil kekuasaan. Ia, menurut Mangunwijaya, bukan hanya memikirkan bangsa, negara, dan masyarakat, tetapi juga memikirkan kepentingan pemekaran manusia-manusia sebagai pribadi-pribadi yang menjadi warga negara itu.

Masa kini

Ketika menjadi perdana menteri dan harus bertanggung jawab membangun dukungan bagi perjuangan bangsanya, Sjahrir menyapa dengan lembut dan penuh damai atas dunia yang kala itu babak belur karena luka-luka dan kesakitan perang.

Namun, humanisme yang diperjuangkan Sjahrir seperti mengendur. Lihat Indonesia saat ini. Di negara yang sudah 63 tahun merdeka, sebagian besar rakyatnya hidup miskin dalam arti ekonomi dan sosial. Ada rasa iri, dengki yang menghinggapi antarkelompok. Di sisi lain, rakyat kerap ditinggalkan oleh para pemimpinnya dalam bentuk kebijakan yang justru makin menyengsarakan rakyat.

Gerakan demokrasi akhir- akhir ini juga mulai banyak digerogoti oleh kekuatan anarkis yang hanya haus kekuasaan, dan para politisi justru sibuk bagaimana mereka harus kembali menang dalam pemilu berikutnya. Dunia pendidikan cenderung menjadi sarana reproduksi kelas karena tidak setiap rakyat dengan mudah mengaksesnya. Aneka sekat imajiner justru makin menguat dibandingkan dengan realitas manusia dan kemanusiaannya.

Ujungnya, rakyat seolah sendirian dalam setiap bentuk kenestapaan ketika mereka digusur, digebuki, dikejar-kejar, dan bersusah payah bertahan dalam impitan kemiskinan. Lalu, di manakah sjahrir-sjahrir baru?

Sumber: Kompas, Senin, 30 Juni 2008

No comments: