Sunday, July 10, 2011

[Pustaka] Kisah ‘Presiden’ 207 Hari

Judul : Presiden Prawiranegara
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Mizan
Edisi : Maret 2011
Tebal : xxii + 370


“ZUS Lily, saya pinjam suamimu sebentar,” ujar Hatta sopan. “Ada tugas yang harus beliau lakukan sebagai menteri kemakmuran. Saya janji hanya beberapa hari saja.” Itulah awal kisah perjalanan bersejarah Syafruddin Prawiranegara.

Saat itu, ketika kondisi negara sedang genting Wakil Presiden Indo nesia, Muhammad Hatta, mengajak Kuding—panggilan akrab Syafruddin Prawiranegara—ke Bukittinggi untuk menyelesaikan persoalan pemerintahan di bumi Andalas.

Dipilihnya Kuding lantaran ia memiliki darah Sumatra. Dengan kemampuan lobinya, diharapkan ia mampu mendamaikan pihak-pihak nasional yang berseteru agar bersatu kembali melawan penjajah. Setelah beberapa hari menginjak tanah Sumatra, terjadi peristiwa penting di Jawa.

Tanggal 19 Desember 1948, dimulailah agresi Militer II Belanda terhadap ibu kota Yogyakarta. Tindak an ngawur pasukan kompeni itu akibat mereka mengkhianati perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan Belanda. Wakil Presiden Muhammad Hatta yang cemas menghadapi kenyataan itu segera mengirim telegram kepada Syafruddin Prawiranegara. Sayangnya, telegram itu tak sampai kepada Kuding dan AA Maramis yang ber ada di India. Isi telegram itu memerintahkan kabinet yang tak ikut tertawan Belanda membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Tak lama setelah serangan militer itu dwitunggal Soekarno-Hatta, dan jajaran kabinetnya tertangkap. Mereka semua terkena hukuman huisarrest(tahanan rumah). Setelahnya, petinggi negara itu diasingkan ke Pulau Bangka. Pemerintahan resmi lumpuh.

Namun, pejuang Indonesia tak berhenti sampai di situ. Di sebuah gubuk bernama Dangau Yaya di tengah perkebunan teh Halaban yang hening, Kuding mengumumkan berdirinya PDRI, pada pukul 03.40, Rabu, 22 Desember 1948. Dalam proklamasi itu ditunjuk Teuku Mohammad Hasan sebagai wakil ketua PDRI. Seluruh jabatan kabinet pemerintahan Soekarno-Hatta diisi orang yang ditunjuk Kuding. Resmilah PDRI menjalankan Pemerintahan Indonesia yang sempat lowong.

Perjalanan hidup dan karakter Kuding terekam dari sudut pandang Kamil Koto, tokoh fiktif yang digambarkan sebagai pejuang muda yang ikut rombongan PDRI. Dari penuturan pria yang jadi pemijat itu mengalirlah kisah Presiden Syafruddin Prawiranegara.

Menurut Kamil Koto, Kuding layak ditetapkan sebagai presiden RI kedua. Sebab, selama 207 hari (19 Desember 1948–13 Juli 1949) melanjutkan pemerintahan berdaulat Indonesia. Sebuah perjuangan yang dilupakan sejarah, Tapi, sangat krusial dalam memastikan keberlangsungan negeri ini.

Dari buku ini, kita bisa melihat ketulusan pengabdian Syafruddin Prawiranegara. Demi negara, ia rela meninggalkan keluarga yang dicintainya. Ia terus bergerak dari pelosok kampung menuju pedalaman hutan rimba memimpin pemerintahan darurat.

Namun, bangsa ini seolah tak menghargai jasa besarnya. Lihat saja, bukannya mendapat gelar pahlawan. Kuding malah mendapat cap sebagai tokoh pemberontak. Padahal, “Pak Syaf pantas jadi pahlawan nasional karena beliau pejuang yang sesungguhnya,” ujar pengamat militer, Salim Said.

Sayangnya, alur novel ini tak melulu menceritakan Kuding. Malah, kisah hidup Kamil Kotto mendapat porsi besar. Akibatnya, gambaran sosok Kuding kurang tergali secara utuh. Adapun, pengorbanannya dalam berjuang membela Merah Putih kurang tergali secara mendalam. c13, ed: subroto

Sumber: Republika, Minggu, 10 Juli 2011

No comments: