Monday, July 11, 2011

[Teraju] Perjumpaan yang Menyengsarakan

-- Muhammad Subarkah

KEHADIRAN VOC menjadi penanda munculnya struktur feodalisme dan kemiskinan rakyat yang berdiam di Nusantara.

Pada suatu hari di akhir Januari 1512, penduduk Nusatelo, Maluku, gempar. Warga yang berdiam di tiga buah pulau yang berada di lepas pantai barat daya Hitu itu kebingungan ketika menemukan sebuah kapal yang memuat manusia yang sama sekali belum pernah mereka kenal sebelumnya. Kulit anak buah kapal asing itu berwarna putih. Mata mereka bak mata kucing.

Kebingungan semakin menjadi ketika ditanya, mereka berbicara dalam bahasa asing, bukan bahasa 'anak negeri'. Penduduk pulau saat itu belum tahu bahwa pelaut yang singgah di kampungnya itu adalah orang Portugis. Namun, di tengah suasana galau, mereka segera membawa pelaut itu ke pemimpin setempat, yakni Perdana Jamilu yang saat itu menjadi Ketua Perdana Yang Empat di Hitu. Setelah bertemu, baru kemudian diketahui bahwa mereka singgah untuk berdagang, terutama mencari rempah-rempah.

Catatan awal kedatangan bangsa asing di Maluku itu tercatat dalam Hikayat Tanah Hitu. Hikayat dan kisah kedatangan orang asing di Maluku itu ditulis sejarawan Paramita Abdurrahman pada majalah Prisma edisi 11 tahun 1944. Di sana, dituliskan betapa kepulauan Ambon yang kaya rempah-rempah menjadi tujuan utama para pendatang Eropa. Pada September hingga awal Mei, para pelaut asing itu ramai berada di sana. Angin barat yang baik, laut tenang, dan rakyat memanen cengkihnya yang merupakan hari-hari baik untuk mencari bahan dagangan. Apalagi, penduduknya pun bersikap ramah menyambutnya.

Kondisi yang sama juga terjadi ketika empat kapal Belanda yang dipimpin Cornelis Den Houtman merapat ke Banten. Memang, semula sosok mereka sempat dianggap aneh, tapi warga setempat tetap menyambutnya dengan ramah. Mereka tak diberi keistimeawaan dan diberlakukan sama seperti pelaut asing lainnya. Apalagi, saat itu mereka pun membuat perjanjian dengan penguasa setempat, yakni Sultan Banten. Perjanjian itu diantaranya, sumpah akan saling memilihara persahabatan dan persekutuan.

Tapi, suasana harmonis itu tak berlangsung lama. Para pelaut asing Eropa yang bersaing berebut komoditi rempah-rempah mulai saling bersaing. Bukan hanya itu, mereka pun ternyata kemudian terlibat langsung dalam percaturan politik setempat. Pelaut Portugis di Maluku, misalnya, sempat terlibat dalam kasus pembunuhan raja Ternate. Selain itu, kadang mereka bertindak seenaknya sendiri dengan mengabaikan norma dan adat warga setempat.

Menurut Paramita, masa-masa awal persinggahan orang Eropa (Portugis) berlangsung cukup ideal. Warga tidak pernah menolak kedatangan kaum pendatang dan pedagang asing. Warga paham betul bagaimana cara hidup berdampingan secara damai."Pulau ini (Ambon) tak pernah menolak gelombang demi gelombang pendatang dan pedagang yang menetap di pantai-pantai. Mereka hidup berdampingan secara serasi," tulisnya.

Tapi, suana ini hanya berlangsung dua puluh tahun saja. Setelah itu, Portugis mulai memaksakan kekuatannya dengan kekerasan. Mereka mulai campur tangan dalam urusan kekuasaan Kerajan Ternate yang saat itu berposisi sebagai penguasa wilayah. Hubungan ini semakin rumit karena pada saat yang sama sebagian orang asing Eropa itu adalah misionaris Kristen. Akibatnya, karena saat itu Ternate adalah Kerajaan Islam, suasana persaingan mirip arena pertempuran Perang Salib. Kekuatan politik Islam dan Kristen kembali berhadap-hadapan.

Tak beda dengan pelaut Portugis, kaum pendatang Belanda di Sunda Kalapa (Jayakarta) juga membuat masalah. Selang dua dekade dari pendirian VOC, para pelaut-pedagang ini juga mulai menjalankan aksi kekerasan demi mendapatkan hak monopoli perdagangan. Penyerangan terhadap Jayakarta pada 30 Mei 1619 menjadi salah satu contohnya. Situasi ini jauh berbeda dengan suasana kejiwaan para awak kapal Cornelis De Houtman ketika pertama kali mendarat di Banten pada 1596. Kini, mereka tak lagi ramah.

Bahkan, tak cukup hanya menaklukan Jayakarta, mereka juga membunuh dan mengusir penduduknya."Mereka membakar rumah dan membunuh warga yang tinggal di sekitar Sunda Kalapa. Mereka mengusir semua hingga puluhan ribu orang tewas dan kota pun menjadi kosong," kata budayawan Betawi, Ridwan Saidi.


Praktik kekerasan itu semaki menjadi-jadi, terutama ketika para pelaut dan pedagang Portugis dan Spanyol kemudian kalah bersaing dari rekan Eropanya yang berasal dari Belanda. Dengan perlahan tapi pasti, satu persatu VOC menancapkan kukunya dengan menguasai para raja yang berada di kawasan Nusantara.

Di Jawa misalnya, mereka ikut terlibat dalam setiap konflik perebutan kekuasaan. Mereka membantu salah satu pihak dan setelah menang mereka menguasainya dengan cara yang halus yakni melalui perjanjian. Dari sinilah, setepak demi setapak, mereka kemudian mendapatkan kekuasaan wilayah. Berbagai pelabuhan penting dan wilayah yang saat itu menjadi pusat komoditi perdagangan akhirnya jatuh ke tangannya.

Sejarawan Onghokham menulis, semula memang para petualang barat-yang di antaranya kemudian tergabung dalam VOC-memang merasa tidak menganggap remeh orang pribumi. Bahkan, mereka merasa datang ke suatu daerah yang lebih kaya serta masih merasa penduduk setempat adalah setara dengannya. Saat itu, bila dilihat dari gambar atau lukisan orang Barat yang datang ke Indonesia, keadaan terlihat makmur. Tubuh pribumi juga tak kalah tegap. Tak terlihat bahwa orang Jawa atau Indonesia lainnya bertubuh kurus atau kecil dari orang Barat."Kaum pribumi juga menganggap orang Barat biasa-biasa saja," tulisanya.

Tapi celakanya, situasi egaliter itu kemudian berubah ketika para elit pribumi berebut kekuasaan. VOC pun mulai memanfaatkan kesempatan. Sosok kongsi dagang ini menjadi tak jelas karena kemudian berperan juga sebagai petualang dan penguasa. VOC bertindak layaknya negara.

"Saya tak pernah tahu perubahan ini namanya apa, mungkin suatu kebetulan sejarah (historical incidence). Namun, melalui bentuk-bentuk inilah, VOC kemudian menjelma menjadi kolonialisme. Dan, ini melalui proses yang panjang," ungkap Onghokham dalam wawancara di majalah Prisma edisi XI 1984.

Yang lebih unik lagi, lanjut dia, cara VOC memperloleh kekuasaan kebanyakan tidak ditempuh dengan jalan peperangan. Untuk menguasi Jawa-juga di Bengali India-malah bisa dikatakan, para elit penguasalah yang mengundang kolonialisme. Dengan kata lain, kolonialisme tidak pernah melalui senjata, tapi perjanjian. "Ia merupakan diplomatic treaty dan bukan conquer (penaklukan). Belanda tak pernah perang melawan raja Jawa-kecuali Sultan Agung-tapi mereka selalu berpihak kepada raja Jawa lalu menindas pemberontakan, antara lain misalnya dalam kasus perang Diponegoro."

Yang paling menyedihkan lagi, menurut Onghokman, adanya perjumpaan dengan Barat-termasuk adanya VOC-adalah awal dari datangnya struktur feodalisme dan kemiskinan rakyat yang berdiam di Nusantara. Proses ini dimulai dari abad ke-17 dan semakin terlihat nyata pada abad ke-18. Orientasi perdagangan masyarakat yang saat itu ke luar berubah menjadi ke dalam. Jaringan perdagangan pribumi hancur. Feodalisme-terutama di Jawa-semakin menjadi-jadi dengan penguasaan tanah yang mutlak di tangan raja atau penguasa. Konsep kekuasaan menjadi totalitarian dan kerap kali tidak relevan dengan realitas."Jadi, pada abad ke-18 itulah kemudian tumbuh suatu peradaban yang merupakan respons dari kekalahan, baik dilihat dari kesenian, ekonomi, maupun politik," ujar Ong dalam wawancaranya itu.

Untuk menyiasati 'keadaan' raja Jawa misalnya, mengganti orientasi kebudayaan menjadi inwardlooking (berorientasi ke dalam) dengan cara memperhalus bahasa, tarian, pernak-pernik kehidupan kraton, atau berbagai hal memperumit diri lainnya. Kekuasaan akhirnya hanya mengurus soal budaya saja atau tak lagi mengurus politik. Hal ini terjadi karena pada saat itu sebenarnya kekuasaan riil sudah berada di tangan VOC.

Celakanya lagi, rantai situasi buruk ini belum ada yang bisa memutusnya hingga sekarang. Alhasil, perjumpaan rakyat pribumi nusantara dengan bangsa Eropa-termasuk VOC Belanda-ternyata hanya menyisakan warisan kutukan. Rakyat kebanyakan masih tetap hidup dalam era kesengsaraan atau zaman yang disebut Pujangga Jawa Ronggowarsito sebagai Kalatida. Suasana hidup terus menerus serba tak menentu.

Kungas kasudranira
Tidem tandaning dumadi
Ardayeng rat dening karoban rubeda
(Menanglah kerendahan
Gelap menandai semesta
Dunia terbanjiri kesulitan tiada henti)

Sumber: Republika, Senin, 11 Juli 2011

No comments: