Saturday, July 16, 2011

Skandal Cita-cita Pendidikan Sastra

-- Eko Triono


/1/

TAHUN ajaran baru 2011/2012 telah dimulai di sekolah, cita-cita disemai, dan impian dilepaskan setinggi awan suci, tetapi siapa di antara mereka yang datang dan sengaja bercita-cita menjadi seorang sastrawan? Bukan pegawai negeri [polisi, guru, tentara], artis, dokter, dan seterusnya. Tidak, nyaris tidak ada, sebab tidak “wajar” yang demikian, kecuali pada beberapa sekolah di Madura yang anak didiknya telah berani bercita-cita menjadi seorang penyair, pekerja puisi. Padahal cita-cita mereka adalah gambaran masa depan bangsa pada suatu hari nanti.

Bagi sebagian besar penduduk Indonesia, topik ini memang terdengar tidak penting untuk dibicarakan. Mereka terbiasa—mungkin juga dibiasakan—menganggap sastra adalah hal yang tidak lebih penting dari ekonomi, politik, hukum, dan sembako. Jadilah kemudian: simbol sebuah mata dari rantai lingkaran setan yang terus melilit dunia literasi Indonesia, sebuah ...mata sangkur [yang] menghujam mata batin... karena mereka terlalu serakah hanya... mengejar mata uang (dinukil dari sajak W.S. Rendra, Mata Kejora).

Para orang tua dengan sadar menjauhkan anak jadi pekerja sastra, sebagian besar karena alasan masa depan ekonominya kelak, dan akibatnya anak tak pernah sempat menulisnya menjadi cita-cita, bahkan yang paling rahasia di antara cita-cita rahasia sekalipun. Dan hancur—seperti kata para ahli—hancurlah kemudian, dengan perlahan yang menyakinkan, sebuah bangsa yang telah jauh dari baca-sastra: dengan menjangkitnya ketidakhumanisan, penindasan, korup, ketidakadilan sosial, dan seterusnya.

Dengan begitu, manjurlah pula hubungan sebab-akibat ini: jika ingin menghancurkan sebuah umat jauhkanlah mereka dari kitab sucinya (penulis sarikan dari perkataan seorang nabi), dan jika ingin menghancurkan sebuah bangsa jauhkanlah mereka dari buku dan literasinya. Apa, kenapa, dan bagaimana semua ini bisa disadari kembali?

/2/

SENGAJA penulis menggunakan istilah “disadari kembali”, karena pada akhir abad XVIII cikal Indonesia sadar bahwa penjajahan (yang sama dengan penderitaan) yang menghantui selama berabad, salah satu sebabnya adalah kegagalan menguasai mantra dari ilmu dan pengetahuan. Mantra itu bernama: tulisan atau kompleksnya adalah literasi. Awal 1900-an munculah beragam surat kabar pribumi dan pergerakan dimulai dengan pena; koordinasi, propaganda, transfer pengetahuan, dan seterusnya. Sampai kemudian mereka berhasil meraih kemerdekaan.

Tentu kenyataan itu bukanlah ingatan jamak dari manusia Indonesia.

Sebagian besar, ketika mengingat perjuangan, hanyalah kenangan tentang darah, senjata, pertempuran, dan kematian. Ini salah satu biang kerok ganjil yang nyaris mewabah hingga kini, karena semua monumen berpatung (bahkan nama jalan) dan teks sejarah perjuangan kemerdekaan didominasi oleh dunia kekerasan militer. Tidak ada nama jalan seorang sastrawan atau teks dari judul pleidoi Indonesia Menggugat-nya Bung Karno yang membawa bangsa ini dipeluk dukungan semesta, dan juga catatan atau karya lain dari para pahlawan-pahlawan nonmiliter, lebih tepatnya pahlawan-pahlawan literasi [tidak melulu pahwalan revolusi] seperti Chairil Anwar dengan propaganda beberapa puisinya di zaman perjuangan.

Dan, bukankah juga Bung Karno, orang nomor satu yang berteman dengan Chairil itu, tidak bertempur di medan perang? Ia justru mengisap jutaan buku, merakit kata, menyetel strategi, dan menggempur dengan jitu-menyakinkan dalam teks, termasuk proklamasi hingga orang-orang bertepuk girang dan kita semua menjadi senang? Meski kemudian Bung Karno aneh juga ternyata. Ia yang memulai mode pelarangan buku dengan keluarnya UU Nomor: 14/PNPS/1963.

Kilas balik ini kecil, tetapi penting artinya untuk membuka beberapa pemikiran dasar dari sikap antiliterasi sebagian besar penduduk Indonesia. Pertama, sejumlah oknum telah mencederai sejarah. Sejarah adalah kiblat cerita dan cita-cita. Perhatikanlah efeknya: menjadi tentara lebih terkesan mulia, dan dianggap pahlawan, daripada menjadi seorang sastrawan. Ini kemudian melebar tradisi menjadi berebut kolom cita-cita dalam peluk dan naungan gaji abadi hingga mati, sebagai pegawai negeri [segala jenis pegawai negeri dari ‘seleksi’ sampai pemilu], dengan tak peduli cara apa pun harus dilalui. Percayalah, dari sinilah korupsi, kolusi, dan nepotisme sesungguhnya dimulai; ketika uang bulanan resmi telah menjadi cita-cita yang paling benderang untuk dijunjung tinggi, untuk disampaikan ke anak-anak dan dituliskan ke sela-sela putih awan suci di langit Tuhan yang seluas bumi.

Kedua, bangsa kita masih dijajah dan akan menghancurkan dirinnya sendiri. Hanya bangsa yang masih dijajahlah yang mual terhadap literasi. Bedakan dengan China, Jepang, Eropa, Amerika, dan negara lain yang benar-benar merdeka. Tandanya gampang: sejauh mana daya baca dan daya karya warga negaranya, bukan daya citra dan daya konsum-manjaisnya. Sekali lagi kita masih dijajah, dijajah oleh “negeri” lain dan pemikiran yang tidak tepat dari dalam diri kita sendiri. Itu terlihat dari cita-cita para kanak masuk sekolah setelah libur panjang berkemas pulang. Sungguh, cita-cita mereka yang ditulis pada balon dan di lambung tinggi itu adalah cita-cita sebuah bangsa pada kelak nanti.

/3/

Kita memerlukan revolusi. Dan, berhentilah memaknai revolusi secara fisik, secara ornamental. Itu penyakit.

Revolusi itu kita namai: revolusi cita-cita. Sementara ini, anak-anak bercita-cita dengan meniru keadaan sekelilingnya atau atas dorongan orang tua [yang cenderung mempertimbangkan aspek ekonomi]. Padahal, jumlah penduduk Indonesia terus membesar. Jika pekerjaan yang diperebutkan itu-itu saja, maka karakter buruk [KKN] dalam persaingan tidak dapat dihindarkan dan bangsa ini akan berjalan di tempat karena banyak sektor lain yang tidak tergarap: seni, budaya, sastra, hutan, sawah, gunung, lautan, dan seterusnya. Anak-anak bangsa harus memiliki cita-cita yang proporsional dan rasional. Termasuk boleh bercita-cita menjadi seorang sastrawan.

Dengan demikian, pendidikan sastra di sekolah pun jadinya bukan lagi sekedar formalitas kurikulum sewajarnya, yang berarti termasuk guru ajar di dalamnya, melainkan semacam anak tangga yang harus dikuasai untuk bisa mencapai cita-cita menjadi seorang sastrawan. Ini akan membuat sektor literasi bangsa kembali bangkit. Yang artinya, akan kembali merevolusi segala macam penjajahan baik atas nama politik maupun ideologi, yang selalu menutupi kejujuran. Percayalah, karena sastra senantiasa mengajarkan keindahan dan kebaikan terhadap sesama manusia, bukan sebaliknya.

Eko Triono
, Sastrawan

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 16 Juli 2011

No comments: