Monday, July 26, 2010

Novel Grafis: Mengenalkan Wayang kepada Remaja

ANAK-ANAK dan remaja sangat akrab dengan bacaan komik dan novel. Saking akrabnya, mereka mengidolakan tokoh-tokoh superhero dalam bacaan mereka itu. Sementara dalam khazanah kebudayaan kita, seperti cerita pewayangan, ada banyak tokoh yang pantas diteladani, tetapi mereka tak mendapatkan cerita itu.

Mengisi kekosongan bacaan yang digali dari kekayaan budaya bangsa sendiri itu, Bentara Budaya Jakarta (BBJ), bekerja sama dengan Jagad Pustaka Publishing, Sabtu (24/7), meluncurkan dan membedah buku novel grafis Abimanyu Anak Rembulan karya Dwi Klik Santosa (36).

”Abimanyu Anak Rembulan merupakan naskah klasik cerita wayang purwa yang diadaptasi dari berbagai sumber. Abimanyu figur seorang ksatria muda yang memiliki kepolosan dan keberanian.

Sosok belia yang cerdas, tangguh, mumpuni, optimis, dan cemerlang. Kita merindukan anak-anak kita tumbuh begitu,” kata Simon Puji Widodo dari Jagad Pustaka.

Menurut dalang Sudjiwo Tedjo, yang membedah novel grafis Abimanyu Anak Rembulan bersama kolektor (buku) wayang Henry Ismono, ada banyak sumbangan wayang untuk masa depan. ”Melalui tokoh-tokoh pewayangan, kita bisa mengkritisi dan membedah persoalan bangsa serta memberikan alternatif solusinya,” katanya.

Ke depan, orang mencari spiritualitas. Dalam kondisi seperti itu, tantangannya adalah bagaimana membuat pesan melalui wayang. ”Wayang yang merupakan peradaban adiluhung bangsa yang sarat nilai dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa,” ujar Sudjiwo Tedjo.

Kerinduan masyarakat


Henry Ismono mengatakan, belakangan ada kerinduan masyarakat untuk membaca komik-komik wayang. Karena itu, karya-karya Teguh Santosa dan Kosasih, misalnya, diterbitkan kembali dengan kemasan buku yang lebih menarik.

”Hadirnya seri novel grafis, dengan tokoh pewayangan dalam ceritanya, bisa menjadi bacaan alternatif yang pada akhirnya mencintai wayang dan kekayaan tradisional lainnya,” katanya.

Menurut wartawan senior Kompas dan cerpenis Bre Redana, dalam komentarnya di buku yang diluncurkan itu, transformasi wayang ke pakeliran novel grafis membuat pembaca akrab, eksploratif, tetapi pakem tetap terjaga. ”Klasisisme wayang tidak pernah pudar. Abimanyu Anak Rembulan membuktikannya,” kata Bre Redana.

Penulis novel Dwi Klik Santosa mengungkapkan, Abimanyu Anak Rembulan bercerita tentang kelahiran dan perjalanan Abimanyu, putra Arjuna, beserta sifat-sifatnya yang pantas diteladani.

Wayang urban

Pada peluncuran novel grafis, Sabtu malam, digelar pertunjukan Wayang Urban dengan dalang Nanang Hape. Pertunjukan relatif unik dan menarik. Cerita tentang Arjuna, bapaknya Abimanyu yang gagah dan sakti, auranya terang dan bicaranya lembut menyenangkan, disampaikan secara naratif dalam bahasa Indonesia. Juga ada tembang dengan alat-alat musik modern.

Penonton berkali-kali dibuat tertawa karena Nanang menyelipkan humor-humor segar. Pada sesi berikutnya, baru Nanang memainkan wayang dalam bahasa Jawa.

Pameran wayang, peluncuran buku novel grafis wayang, dan pertunjukan wayang yang digelar BBJ adalah upaya untuk memperkenalkan wayang kepada anak muda dan remaja perkotaan.

”Mengenal wayang, mengenal jati diri bangsa. Pameran dan pertunjukan wayang hingga 30 Juli mendatang adalah sebuah upaya untuk merayakan wayang dengan sasaran utama kaum muda perkotaan,” ungkap Direktur Eksekutif Bentara Budaya Efix Mulyadi. (NAL)

Sumber: Kompas, Senin, 26 Juli 2010

No comments: