Sunday, July 25, 2010

Achdiat, Kenangan yang Berkesan

-- Wienta Diarsvitri

ACHDIAT Karta Mihardja, salah seorang sastrawan besar Indonesia Angkatan’45, telah tiada. Pengarang ini meninggal pada usia 99 tahun di Canberra, Australia. Generasi muda Indonesia mungkin tidak banyak yang tahu, bahkan mungkin baru mendengar namanya saat berita kematiannya beredar di media elektronik, kecuali para mahasiswa jurusan sastra Indonesia tentunya.

Achdiat (KOMPAS/JULIAN SIHOMBING)

Mengenal Achdiat atau Aki adalah mengenal sosok yang idealis, penuh semangat, tetapi sederhana. Dr George Quinn, Kepala the Southeast Asia Centre, Faculty of Asian Studies, the Australian National University, yang merupakan seorang ahli bahasa Indonesia dan bahasa Jawa mengatakan bahwa Aki merupakan teladan baginya. Aki selalu bersemangat dan produktif. Di usia 94 tahun, Aki masih meluncurkan buku Manifesto Khalifatullah. Aki sangat idealis dan selalu berpegang teguh pada cita-cita yang menggerakkan revolusi Indonesia, yang menggerakkan kemerdekaan Indonesia. Aki sering mempertanyakan kenapa semangat 45 seakan sudah hilang di Indonesia? Sudah sulit menemukan orang yang idealis di Indonesia.

Aki mengajar kesusastraan Indonesia di the Australian National University sejak tahun 1961 hingga pensiun. Dr Quinn banyak belajar kesusastraan Indonesia dari Aki. Menurutnya, Atheis, roman karya Aki yang diterbitkan pertama kali tahun 1949, benar-benar merupakan suatu adikarya sastra. Atheis punya kekuatan besar dalam hal orisinalitas cerita dan menggambarkan kematangan dalam berpikir. Roman itu melihat manusia sebagai makhluk yang kompleks. Hasan, sang tokoh utama, merupakan seorang Muslim. Karena pergaulannya dengan Rusli yang Marxist, Anwar yang individualis, dan Kartini sang wanita modern, terjadi pergulatan batin dalam diri Hasan, tetapi akhirnya Hasan kembali ke keyakinannya semula.

Suka diskusi

Dr Iwu Dwisetyani, seorang pengajar dan peneliti di the Australian Demographic and Social Research Institute, the Australian National University, mulai mengenal Aki saat dia mulai S-3 pada tahun 1992, saat Aki masih berusia 81 tahun. Saat itu, Aki masih aktif menulis dan sering berdiskusi dengan mahasiswa, baik kalau diundang ke kampus maupun saat mahasiswa datang ke rumahnya. Aki suka berdiskusi tentang politik dan perkembangan sastra di Indonesia. Sampai sekitar usia 92 tahun, Aki masih mandiri, tinggal berdua dengan istrinya. Di usia itu Aki juga masih produktif dan ingin menyelesaikan otobiografinya. Namun, Aki sering frustrasi karena ketajaman matanya sudah sangat berkurang dan tidak bisa menulis secepat apa yang dipikirkan.

Saya sendiri bertemu Aki pertama kali di hari ulang tahunnya yang ke-99. Dalam beberapa kali pertemuan, Aki selalu menuturkan jika dia masih ingin berkontribusi untuk Indonesia, tetapi kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi. Pertemuan itu membuat saya ingin membaca kembali karya-karyanya yang lengkap berjajar di perpustakaan Menzies, the Australian National University. Beberapa karya Aki yang telah diterbitkan antara lain drama Bentrokan dalam Asrama (1952) dan Pak Dullah in Extremis (1957). Kumpulan cerpennya yang telah diterbitkan adalah Keretakan dan Ketegangan (1956), Kesan dan Kenangan (1961), dan Belitan Nasib (1975). Dongeng tentang Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang diterbitkan tahun 2005; sedangkan kumpulan dongeng, cerpen, dan novelet-pentasnya diberi judul Pembunuh dan Anjing Hitam (1977). Novel Aki yang mengambil setting di Sydney, Australia, berjudul Debu Cinta Bertebaran, diterbitkan pertama kali pada tahun 1973. Itulah karya-karya indah Aki.

Dalam buku Satu Pembicaraan Roman Atheis (1961) karya Boen S Oemarjati, Aki mengatakan bahwa dia tidak pernah mempelajari teknik penulisan secara khusus, tetapi mempelajarinya langsung dengan membaca dan meneliti karya bermutu dari penulis besar dunia, seperti Shakespeare, Bernard Shaw, Tolstoi, Faulkner, dan Andre Gide.

Bagi saya sendiri, roman Atheis melukiskan pencarian seorang manusia dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa, yang diungkapkan dalam situasi yang begitu pelik dengan alur pulang balik, pilihan kata yang apik, dan akhir cerita yang cukup sulit untuk dibidik. Aki pintar memilih kata-kata untuk menghidupkan tokohnya dan meletupkan konflik.

Aki punya pandangan positif dalam melihat masa yang akan datang. Semangat Aki yang luar biasa juga terlihat dalam buku Polemik Kebudayaan, perdebatan tentang kehidupan jiwa dan kebudayaan bangsa yang merupakan pikiran delapan tokoh besar Indonesia, yang diterbitkan pertama kali tahun 1948. Aki mendukung paham positivisme Auguste Comte: mengetahui untuk dapat melihat serta bertindak ke arah masa depan, dengan menggunakan budi dan pikiran menyiasati segala kenyataan.

Puisi ini saya tulis untuk Aki. Saya bangga pernah mengenalnya: sosok sastrawan besar yang sederhana tetapi memancarkan kemilau makna.

* Wienta Diarsvitri, Mahasiswi S-3 di the Australian National University, Australia.

Sumber: Kompas, Minggu, 25 Juli 2010

No comments: