Sunday, July 11, 2010

Achdiat, "Manusia Butuh Agama"

NOVELIS Achdiat Karta Mihardja, Kamis pagi (8/7) meninggal dunia dalam usia 99 tahun di Canberra, Australia. Sebelumnya ia dirawat di ruangan ICU Canberra Hospital. Meninggalnya novelis kelahiran Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911, menurut pengamat sastra Indonesia dan Malaysia, Maman S. Mahayana, yang dikontak "PR" lewat Facebook, meninggalkan duka yang amat dalam bagi bangsa dan negara Indonesia. Dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu pengarang terbaik yang cukup terkenal dan fenomenal pada zamannya. Novelnya, Atheis yang ditulis pada 1949, hingga kini masih dibaca orang dan bahkan dijadikan bahan kajian sastra di berbagai universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. Duka cita atas meninggalnya Achdiat juga datang dari penyair Bali Warih Wisatsana dan tokoh sastrawan Aceh terkenal L.K. Ara.

Sementara itu, Ketua Forum Sastra Bandung penyair Juniarso Ridwan mengatakan, dengan meninggalnya Achdiat K. Mihardja, orang Sunda kehilangan salah seorang tokohnya yang dalam dunia sastra tidak hanya dikenal di dalam tetapi juga di luar negeri. "Novelnya, Atheis, menunjukkan luasnya wawasan si penulis terhadap apa yang dibacanya. Pada zaman itu filsafat eksistensialisme tengah menjadi model dalam menumbuhkembangkan daya intelektual di kalangan sastrawan Indonesia yang haus ilmu pengetahuan," tutur Juniarso.

Sejak 1961 hingga pensiun, Achdiat bekerja sebagai dosen kesusastraan Indonesia di Australian National University, Canberra, Australia. Ia pernah menjadi Ketua PEN Club Indonesia, Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia, anggota BMKN, angggota Partai Sosialis Indonesia, dan wakil Indonesia dalam Kongres Internasional PEN Club di Lausanne, Swiss (1951).

Kumpulan cerpennya, Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Penghargaan Sastra BMKN tahun 1957. Atas jasa-jasanya dalam menuliskan karya sastra dan kegiatannya dalam bidang kemudayaan, pada tahun 1970 Achdiat mendapat Penghargaan Tahunan Pemerintah RI. Dua tahun kemudian R.J. Maguire menerjemahkan novel Atheis ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1972. Sementara sineas Sjumandjaja mengangkat novel tersebut ke layar lebar pada tahun 1974 dengan judul yang sama.

Adapun sejumlah buku penting lainnya yang ditulis dan disunting Achdiat adalah Polemik Kebudayaan (editor, 1948). Hingga kini buku Polemik Kebudayaan yang mendokumentasikan berbagai benturan pemikiran dari berbagai kalangan sastrawan dan intelektual pada zaman itu masih terus dibaca orang. Dalam buku itu, selain memuat hasil pikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA) versus Sanusi Pane, juga memuat tulisan para penanggap lainnya. Soal Barat dan Timur menjadi inti pembicaraan yang menarik dalam buku itu, keduanya bermuara pada iktikad bagaimana membangun bangsa dan negara Indonesia ke depan agar menjadi bangsa yang kuat dan tidak loyo, baik dalam bidang ekonomi, budaya, politik, maupun teknologi.

**

DALAM acara peluncuran novel Manifesto Khalifatullah, pada 2006 di Bandung, Achdiat mengatakan bahwa novelnya itu pada satu sisi merupakan pengembangan tema dari novel Atheis yang secara esensial berlandas pada filsafat esksitensialisme dan sekularisme versus nilai-nilai yang terkandung di dalam agama. Di dalam novelnya yang terbaru itu Achdiat menekankan pentingnya agama dan tidak berdayanya filsafat dalam menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya di muka bumi.

"Saya sadari sepenuhnya bahwa manusia itu butuh agama. Nilai-nilai sejati yang dibutuhkan oleh manusia sebagai khalifatullah ada di dalam agama dan bukan dalam filsafat. Itulah yang ingin saya sampaikan di dalam novel yang saya tulis ini," ujar Achdiat yang masih keluarga dekat dengan istri musisi Harry Roesli, Kania Roesli.

Di dalam catatan kecil yang ditulis Achdiat dalam novelnya, diungkap pula atas kecemasannya selama ini atas sejumlah orang yang menganggap manusia dan alam semesta ada dan mengada dengan sendirinya. Achdiat menolak keras atas anggapan semacam ini. Bagaimanapun juga alam semesta, manusia, malaikat dan iblis: -- ada dan mengadakan merupakan hasil kreasi Tuhan Yang Mahakuasa, yakni Allah SWT.

"Dalam konteks inilah agama menjadi penting kita hayati, sebab adanya manusia di muka bumi merupakan wakil Allah. Untuk memperkuat landasan pikiran saya dalam membuat novel ini, saya antara lain berpegang pada Alquran, yakni pada surah Albaqarah ayat 30 dan 34, serta pada surah Al-A’raf ayat 12-18, dan pendapat sejumlah intelektual Islam yang buku-bukunya saya baca," tutur Achdiat.

Dalam novelnya yang ditulis pada usia 90 tahun yang diterbitkan penerbit Arasy Bandung itu, tokoh-tokoh yang dihidupkan oleh Achdiat bukan hanya tokoh-tokoh fiktif belaka. Tokoh-tokoh terkemuka dalam bidangnya masing-masing seperti Chairil Anwar, H.B. Jassin, Nietzsche, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Adam Smith, hingga Karl Marx dihidupkan dan dipertentangkan buah pikirannya. Pada satu sisi novel ini menjadi sulit untuk diikuti mereka yang tidak luas bacaannya. Misal, bagi yang asing dengan polemik kebudayaan akan sulit mengikuti aluran pikiran di dalam novel ini, demikian juga dengan yang tidak terbiasa dengan filsafat eksistensialisme, khususnya buah pikiran Nietzsche yang pada zamannya mengguncang dunia atas pendapatnya yang mengatakan tuhan telah mati.

Buah pikiran yang demikian itu dikupas habis Achdiat dalam novelnya itu, dan ia tidak setuju dengan itu. Tak aneh bila penyair Saini K.M. memberikan komentar di sampul belakang bahwa tema yang diangkat di dalam novel ini adalah masalah yang sangat fundamental dan mendesak. Yang dimaksud oleh Saini tentang masalah fundamental itu adalah pentingnya agama dan mengakui bahwa Tuhan itu, dalam hal ini Allah SWT, itu ada dan benar adanya.

Itulah Manifesto Khalifatullah, novel religius yang lahir dari tangan Achdiat yang tidak pernah menyerah pada gempuran zaman. Novelnya ini layak dibaca dan diapresiasi karena nilai yang dikandungnya sungguh memberikan penyadaran bahwa manusia fana adanya, dan ia tidak punya kekuasaan apa pun di hadapan Allah SWT. (Soni Farid Maulana/"PR")

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 11 Juli 2010

No comments: