Sunday, November 17, 2013

[Jendela Buku] Suara Sunyi Sabam Sirait

-- Iwan Kurniawan

Menapaki usia 77 tahun semakin membuat politikus senior itu matang dalam pemikirannya. Ia masih berpegang teguh pada bonnum commune communitatis dan ut omnes unum sint.

POLITIK ITU SUCI: Politisi senior PDIP Sabam Sirait (kiri) dan Ketua
Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berfoto bersama dalam acara Peluncuran
Buku dan Ulang Tahun ke-77 Sabam Sirait di Gedung Lemhannas, Jakarta
Pusat, Minggu (10/11). Peluncuran buku tersebut seiring dengan ulang
tahun Sabam Sirait yang berjudul Politik Itu Suci: Pemikiran dan
Praktik Politik Sabam Sirait. MI/IMMANUEL ANTONIUS
KAIN ulos sebagai lambang kekerabatan tak bisa dipisahkan dari tatanan hidup masyarakat Batak. Meski sudah di tanah rantau sekalipun, para perantau asal Sumatra Utara itu masih menjunjung tinggi akar budaya leluhur.

Setidaknya, khazanah budaya itulah yang ditunjukkan keluarga besar Sabam Sirait saat menggelar acara peluncuran buku Politik itu Suci: Pemikiran dan Praktik Politik Sabam Sirait di Jakarta, pekan lalu.

Sabam yang didaulat duduk di podium bersama istrinya, Sondang Boru Sidabutar, mendapatkan ucapan selamat dari kerabat keluarga terdekat, politisi, hingga tamu undangan. Ia pun dikalungi selembar ulos sebagai simbol penghormatan dalam tradisi Batak.

Perayaan ulang tahun ke-70 dan peluncuran buku itu dilangsungkan bersamaan dengan perayaan Hari Pahlawan. Ada yang menarik untuk dilihat lewat pendekatan kultural keluarga besar itu.

Nilai-nilai adat dan religiositas begitu kuat terlihat saat cucu-cucu Sabam menyanyikan sebuah lagu gerejawi Ise Do Ale-ale Ta. Sabam yang sudah menapaki usia senja hanya menatap sesekali senyum melihat tingkah laku cucu-cucu yang lugu dan lucu.

Buku setebal 319 halaman (Penerbit Q Communication, Jakarta) itu ditulis oleh tim penulis dengan editor Imran Hasibuan, yang mengupas berbagai pandangan Sabam tentang dunia politik. Mulai saat ia masih aktif menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Kristen Indonesia (Parkindo) selama enam tahun (1967-1973), memimpin Kongres III Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 1986, hingga menyokong kemenangan PDI Perjuangan (PDIP) dalam Pemilu 1999 sehingga membawa Megawati terpilih sebagai Wakil Presiden RI (1999-2001) dan Presiden RI (2001-2004).

Berbagai pembahasan disajikan dengan konteks bahasa yang mudah dan lugas. Periodisasi sejarah yang tersaji dalam setiap bab demi bab dikupas dan ditelaah secara sistematis. Tak mengherankan bila buku ini memang menjadi sebuah intisari pandangan dan renungan Sabam selama berkiprah dalam dunia politik.

“Sekian lama keluarga Bung Karno dijauhkan dari politik. Saya tak pernah melupakan karena suatu hari Bang Sabam pernah berucap ‘cobalah kalian berdua (Mega dan suaminya (alm) Taufiq Kiemas) untuk masuk kembali ke dunia politik’,” ucap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat peluncuran buku tersebut.

“Saya hanya ketawa-ketawa saja saat itu. Mana mungkin? Karena saat itu banyak yang alergi dengan nama Soekarno. Hari ini, memang benar politik itu suci. Pemimpin politik harus suci. Tidak mungkin bila kotor,” sambung Mega, sapaan Megawati.

Sejak 1986, Sabam selalu mendorong Mega untuk maju ke kancah politik. Tak mengherankan bila di singgasana kekuasaannya, Soeharto mengetahui persis peningkatan luar biasa karena faktor putra-putri Bung Karno.

Mega dan adiknya, Guruh Soekarnoputra, naik ke podium menjadi juru kampanye PDI dalam Pemilu 1987 dan Pemilu 1992. Slogam mereka menggugah perhatian publik, yaitu pemerataan ekonomi, dan menghilangkan monopoli dan korupsi. Isu paling menggelisahkan Soeharto saat itu ialah PDI membatasi masa jabatan presiden (hlm 127).

Merawat keindonesiaan

Dalam keyakinan Sabam, nilai-nilai keindonesiaan merupakan perekat dari berbagai pluralitas sosial yang ada di Tanah Air. Pluralitas sosial-budaya masyarakat Indonesia sendiri merupakan fakta yang tidak mungkin ditolak oleh siapa pun. Tumbuhnya demokrasi dan keadilan sosial masih menjadi cita-cita yang diperjuangkan Sabam.

Tak mengherankan bila keindonesiaan yang ia anut bukan sebagai nilai-nilai yang dibangun atas klaim identitas sosial, kultural, dan agama tertentu. Kelahiran dan pertumbuhan lebih didasarkan atas perkembangan historis.

Sebagai seorang politikus yang memiliki pengalaman panjang, Sabam tidak memungkiri bahwa nilai-nilai keindonesiaan dewasa ini memang tengah mengalami tantangan yang cukup serius.

Di samping terkait dengan politik desentraliasi yang mengandung beberapa kelemahan, Sabam juga menilai maraknya berbagai pandangan. Terutama, politik sektarian berbasis agama yang akhir-akhir ini muncul dari berbagai bentuk.

Untuk itulah nilai-nilai kearifan lokal seperti tradisi hidup rukun, toleransi beragama, dan gotong royong menjadi titik tolak untuk menemukan kembali keindonesiaan yang dapat diterima semua pihak.

Khazanah budaya itu diharapkan dapat ikut menyertai proses perbincangan kreatif tentang keindonesiaan. Meminjam formulasi Ben Anderson, bangsa ini membutuhkan ruang budaya bagi munculnya imagined communities (hlm 198).

Di usia senja Sabam bukan orang yang lupa pada misinya di masa muda. Sedari muda, selain membaca buku filsuf Inggris Bertrand Russell, ia percaya bahwa politik dibangun dan dikerjakan untuk memperjuangkan teologi kebaikan umum. Bonnum commune communitatis (kebaikan umum bagi masyarakat) dan ut omnes unum sint (perjuangan politik semata-mata agar semua satu adanya).

Lewat buku tersebut, pembaca dapat melihat bahwa politik itu memang suci sehingga butuh 'Ratu Adil' pada 2014 untuk memimpin bangsa ini. Ada benarnya juga pernyataan seorang filsuf Inggris abad ke-17, Thomas Hobbes, yakni homo homini lupus yang berarti manusia ialah serigala bagi manusia lainnya.(M-2)

miweekend@mediaindonesia.com

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 17 November 2013

No comments: