Sunday, June 16, 2013

Semangat Kerja: Sebuah Nukilan Tenas Effendi dalam Menjaga Jati Diri Melayu

-- Alam Terkembang

NAMA Tenas Effendi terdengar akrab di sebagian besar kalangan terpelajar Riau. Perhatiannya terhadap dunia Melayu yang tidak diragukan lagi, menempatkan sosok ini sebagai tokoh yang paling dituakan dan menjadi panutan berbagai kalangan. Dari setiap kata-kata yang diucapkannya mencerminkan kepribadian Melayu yang mengakar kuat. Sebuah nukilan berharga dari tinta emas Tenas Effendi yakni buku ‘’Semangat Melayu’’ menjadi perpanjangan lidah untuk berbagai generasi dalam menjaga jati diri Melayu.

Bagi orang Melayu, ‘semangat’ menjadi kunci dalam kehidupan. Karena tanpa semangat, sebarang pekerjaan, gagasan, rancangan, gagasan akan sulit direalisasikan. Semangat menjadi pemicu orang Melayu dalam melakukan segala pekerjaan, mencapai cita-cita, bahkan menjadi ‘jati diri’ kemelayuan yang mandiri, berani, bertanggung jawab dan percaya diri. Semangat pula yang mendorong suatu bangsa mampu mewujudkan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin.

Orangtua-tua Melayu senantiasa mengingatkan, bahwa ‘’Orang Melayu ternama bukan karena duitnya yang berpeti, tapi karena semangat yang membesi’’ atau dikatakan: ‘’Orang Melayu yang berjaya bukan karena emas dan peraknya, namun karena semangatnya yang membara’’. Itulah sebabnya harkat dan martabat seseorang sangat tergantung dari ‘semangat’ yang dimiliki.

Tenas Efendi dalam buku ‘’Semangat Kerja’’ menyebutkan, sejarah Melayu telah mencatat, bahwa Sang Nila Utama dengan semangat kemelayuannya berpandangan jauh ke depan membangun Bintan dan Tumasik (Singapura) menjadi bandar niaga yang besar di Selat Melaka. Dengan tujuan membangkitkan tuah dan marwah Melayu. Prameswara pula dengan semangatnya membangun kerajaan Melayu di Melaka, sehingga Melaka menjadi sebuah peradana Melayu pada masanya selama berabad-abad.

Demikian pula Sultan Mahmud Syah I bersama Laksamana Hang Nadim, Nara Singa, Mangkubumi Kampar, dan lain-lain berperang puluhan tahun melawan serangan Portugis dari daratan Tanah Semenanjung, perairan Selat Melaka sampai ke Pekantua Kampar. Dan masih banyak lagi ksatria-ksatria dari tanah Melayu dalam mengobarkan semangat anti penjajahan. Seperti Raja Kecil, Sultan Syarif Kasim, Tuanku Tambusasi, Raja Haji Syahid fi Sabilillah, dan ratusan bahkan ribuan pahlawan Melayu di semerata negeri berjuang melawan penjajahan dari zaman ke zaman.

Di dalam kepercayaan lama, semangat dianggap sebagai ‘roh’ yang memberikan kekuatan pada benda-benda tertentu dan dapat pula berpengaruh dalam kemanfaatan orang lain. Misalnya kalau berladang padi, mereka menjaga jangan sampai ‘semangat padi’ hilang. Kalau semangatnya hilang, maka dipercaya padi tidak berbuah atau buahnya hampa. Apabila anak sakit-sakitan ditinggal ayahnya, dikatakan bahwa ‘semangat anak’ itu ikut bersama ayahnya. Apabila seseorang sakit yang berlama-lamaan, dikatakan ‘’semangatnya dibawa atau dikuasai oleh makhluk lain’’, dan harus dikembalikan supaya pulih. Demikianlah seterusnya, sehingga pemahaman ‘semangat’ masa silam selalu dikaitkan dengan benda-benda, makhluk-makhluk tertentu, dan hal-hal mistik yang dianggap memiliki semangat dan mampu memberikan kekuatan pada seseorang.

Maka setelah masuknya Islam, dan menjadi agama orang Melayu, maka Islam pun meluruskan semua kepercayaan yang dianggap menyimpang dari akidah Islam tersebut, bahkan menghilangkannya sama sekali. Namun kepercayaan kekuatan benda-benda atau makhluk tersebut masih saja dipakai oleh orang-orang yang berprofesi sebagai dukun atau bomoh beserta pengikutnya sampai hari ini, dan tetap saja dipercayai oleh sebagian kalangan.

Datangnya Islam dengan cara yang damai telah mendapat sambutan yang luas oleh masyarakat Melayu. Bahkan ia telah menjadikan kebudayaan Melayu menjadi kebudayaan yang Islami, yang membawa perubahan yang luar biasa terhadap kepercayaan dan keyakinan, tradisi dan seni yang berkembang masyarakat Melayu. Kearifan para ulama dan pemimpin Melayu dalam menyebarkan Islam memberikan ruang kepada nilai-nilai budaya untuk berkembang, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan kuatnya Islam yang mengakar, bila saja orang Tionghoa masuk Islam, orang-orang menyebutnya dengan istilah masuk Melayu bukan (disebut) masuk Islam.

Sejarah mencatat, bahwa kebudayaan Melayu dengan pengaruh Islam bukan saja mampu meningkatkan harkat, martabat, tuah marwah umatnya, tetapi juga menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini bisa dilihat dari kerajaan Melayu di zaman Melaka menjadi pusat imperium Melayu, dan juga kecemerlangan dan kegemilangan kerajaan-kerjaan yang berafilisasi dengannnya.

Sementara itu perkembangan saint dan teknologi yang bergerak demikian pesat, arahnya jelas membawa umat kepada kehidupan kebendaan semata. Sehingga mengabaikan kehidupan Melayu Islam yang hakiki. Keberhasilan zaman yang senantiasa diukur lewat kebendaan inilah perlahan tapi pasti mengikis nilai-nilai kebudayaan Melayu yang bersifat penyeimbang itu. Sehingga umat terjebak ke dalam kehidupan duniawi tanpa kawalan, dengan perilaku yang mementingkan diri dan kelompok. Termasuk semangat tanpa esensi, yang hanya cenderung mengedepankan simbol-simbol kemelayuan, warna dan tradisi saja. Namun tidak dibarengi dengan semangat pengokohan keimanan dan pemantapan akidah yang bersih. Sehingga semangat yang muncul bukan dari semangat yang diharapkan sebenarnya. ‘’Apabila semangat tidak terkawal, banyak kerja salah dan janggal. Apabila kerja membabi-buta, banyak kerja keji dan nista’’.

Semangat yang demikian itu perlu diluruskan. Sebagaimana diajarkan orangtua-tua Melayu, bahwa yang dimaksud dengan ‘semangat’ dalam budaya Melayu Islam, ialah kekuatan jiwa, keteguhan pendirian, keteguhan Iman, dan percaya diri sebagai Melayu Islam yang kokoh. Dari sinilah berpuncanya kejayaan Melayu, karena mereka memilik semangat pantang menyerah yang menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri serta kesadaran rasa kebersamaan dan perpaduan umat.

Bila kita amati dengan seksama tunjuk ajar Melayu yang mengatakan; ‘’Apabila semangat kuat dan kokoh, sebarang kerja takkan bertangguh. Apabila semangat sudah berkobar, menghadapi musuh tiadakan gentar’’. Jelaslah, bahwa semangat menjadi mesin menjadikan seseorang menjadi tangguh dan berani. Dan sebaliknya diingatkan pula melalui ungkapan; ‘’Apabila semangat sudah patah, sebarang kerja tidak menyudah. Apabila semangat sudah layu, masuk gelanggang beroleh malu’’. Pelajaran dari ungkapan ini pula berperan sebagai nasihat bila semangat tidak tersemat di kalangan orang Melayu, sebuah akibat yang tidak menguntungkan sama sekali.

Namun bagian yang terpenting adalah mengikut sertakan iman dalam semangat yang ditanamkan. Di dalam tunjuk ajar Melayu diingatkan, bahwa semangat betapapun hebatnya, harus menyatu dengan iman. Sehingga terkawal dan tidak membawa ke arah keburukan, tidak semena-mena, serakah, dan merugikan orang lain. ‘’Apabila semangat bersendi iman, dunia akhirat beroleh kebaikan. Apabila semangat berlandaskan iman, sebarang kerja dirahmati Tuhan’’.

Apa yang terjadi sekarang, di mana sebagian orang Melayu sudah terkelupas dari ‘jati diri’ kemelayuannya, bahkan sebagian besar sudah tercabut dari akar budayanya. Karenanya, walaupun secara lahiriyah ‘Orang Melayu’ masah ada, namun ‘jiwa, semangat, dan kepribadian Melayunya’ sudah nyaris terkikis dan tidak lagi dicerna, dihayati dan diamalkan sebagai jati diri kemelayuannya.

Tenas Efendi menyebutnya ini sebagai ‘malapetaka’ bagi orang Melayu, karena kehilangan ‘jati diri, semangat, kepribadian, dan prilaku kemelayuan’. Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi hidup dan kehidupan orang Melayu masa kini dan masa yang akan datang, sebab Melayu tanpa mencerminkan nilai asasnya, tentulah tidak lagi memiliki tuah dan marwah, dan tidak pula memiliki harkat dan martabat di mata dunia. Bila demikian sia-sia sajalah amanah Hang Tuah perkasa, ‘tak Melayu hilang di bumi’ atau ‘takkan Melayu hilang di bumi’ itu. Bila hal ini terjadi jangan berharap Melayu mampu menjadi negeri yang bertamadun; terbilang, cemerlang dan gemilang. Dan jangan terlalu berharap Melayu bisa menjadi tuan di negerinya sendiri.

Bila kemungkinan-kemungkinan buruk di atas tidak ingin terjadi, maka sudah seharusnya diperlukan kesadaran semua pihak untuk turut serta bahu-membahu menyematkan kembali ‘semangat’ pada berbagai kalangan. Tentulah dengan nilai asas yang berlandaskan ajaran Islam.  Bila hal tersebut dilaksanakan penuh kesadaran dan upaya terus-menerus tentulah akan mampu melahirkan generasi Melayu yang tangguh, dan diharapkan mampu mewujudkan kehidupan bangsa dan negeri Melayu sejahtera lahir dan batin. n

Alam Terkembang, Ketua FLP Cabang Pekanbaru. Bersama penulis muda FLP Riau tengah mengkaji sejarah dan budaya Melayu. Karya-karyanya menjelma sebagai karangan fiksi dan ilmiah, bertebaran di berbagai media.
  
Sumber: Riau Pos, Minggu, 16 Juni 2013


No comments: