Sunday, April 05, 2009

In Memoriam Adang Ismet: Perjalanan Menuju Sepi

-- Fathul A Husein*

HARU. Tatkala sebuah proses teater ditinggal pergi oleh kreator utamanya (sutradara) untuk selama-lamanya. Itulah Perjalanan Menuju Sepi, sebuah treatment pertunjukan karya Adang Ismet untuk bahan eksplorasi bersama mahasiswa baru di Jurusan Teater STSI Bandung, pengujian pertama untuk calon-calon penerus generasi teater di kampus tersebut. Kuasa takdir tak dapat ditawar, di tengah proses penggemblengan itu Adang Ismet dijemput maut pada 1 Maret 2009 setelah lebih dari dua tahun berjuang melawan gagal ginjal yang menderanya hingga harus terus-menerus cuci darah. Maka, para pendukungnya, dan Jurusan Teater, tak patah semangat untuk mengangkat olah kreasi itu ke dalam peristiwa pentas pada 13 Maret di Studio Teater STSI Bandung, sepekan lebih mundur dari jadwal yang sejak awal dicanangkan almarhum, yakni 7 Maret.

Bersahaja

Perjalanan Menuju Sepi adalah pentas yang bersahaja berupa plot nonlinear dan narasi nonverbal berbentuk enam patahan dari peristiwa-peristiwa yang fragmentaris; sejak tema peristiwa tentang haru-biru kaum hawa (ibu) di hadapan kuasa-kuasa patriarkhal sebagai simbolisasi khaotik dari pertiwi (negeri) dalam situasi-situasi tumpang-tindih terkini, hingga kritisisme yang menerjang secara parodikal isyarat-isyarat demokrasi kelas kambing dalam gelagat komoditas partai-partai politik dan ’pasar tumpah’ caleg menjelang pemilu untuk memperebutkan kursi panas kursi rezeki. Nyaris tak ada yang istimewa dari pertunjukan ini, kecuali semangat menggebu dari ’anak-anak baru’ yang bertekad bulat ingin mewujudkan jejak-jejak terakhir kreativitas sang guru. Bongkahan karya akhir ini tentu mendapat finishing touch setidaknya dari Yani Mae (asisten sutradara) dan W Christiawan (pimpinan artistik). ”Adang Ismet, kita telah mengerjakannya bersama!” teriak Christiawan dengan tangan dan wajah mendongak ke atas saat menengarai dimulainya pertunjukan. Sebuah pentas yang membuat Christiawan menekur diri karena merasa bisa berkolaborasi dengan dunia arwah yang membuatnya merasa melampaui keterbatasan realitas. Lebih dari itu, titik mengharukan dari pentas ini muncul dari nuansa maut, putih sunyi dan hitam kelam, sementara keluarga yang berduka hadir menonton, bahkan seorang putri almarhum turut tampil sebagai pemain.

Adang Ismet (1955-2009) bukan orang terkenal laiknya popularitas yang begitu mudah digamit oleh kalangan selebriti atau politisi. Ia hanya seorang seniman teater dan ’guru’ teater di almamaternya. Dan lumrahnya kebanyakan seniman teater, kecuali satu-dua yang cenderung kompromistik dengan kancah selebriti, hingga akhir hayat tetap tak banyak dikenal orang kendati seluruh hidupnya jungkir-balik memahat dunia teater. Adang Ismet adalah sejenis seniman teater yang punya kegelisahan tinggi dalam kreasi, terus bertanya dan mempertanyakan, mengeksplorasi apa pun yang diyakininya, keras kepala dan kukuh mempertahankan prinsip hingga kerap bersitegang dengan kawan-kawannya. Kepergiannya adalah tengara sunyi untuk perbincangan akrab bahkan perdebatan sengit bagi kawan-kawannya.

Masih terngiang apa yang ditulis sohibnya yang esais dan perupa, Herry Dim, pada tahun 1993 kala Adang Ismet berhasil membuat para aktor andal di Kota Bandung tercengang lewat penampilannya yang luar-biasa memerankan Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling (Death of A Salesman) produksi Sanggar Kita, sutradara Yoyo C Durachman. Karakter (peran) yang dimainkannya adalah karakter besar dari sebuah masterpiece tragedi modern milik Arthur Miller, dramawan besar Amerika Serikat yang mengumumkan bahwa tragedi modern adalah the tragedy of a common man (tragedi orang biasa). Herry Dim saat itu mentahbis Adang Ismet sebagai aktor andal yang mencapai puncak maturasinya lantaran berhasil memainkan peran besar dalam sebuah drama besar.

Prestasi Adang Ismet bukan melulu keajaiban yang turun begitu saja dari langit. Pencapaian keaktoran semacam itu adalah harga mahal yang harus ia bayar dengan sejarah eksplorasi kreatif yang malang-melintang telah ia tunjukan dalam banyak produksi teater, baik di Bandung maupun di Jakarta. Di Jakarta terutama ia pernah menjadi salah-satu entitas penting yang mewakili kekhasan gaya keaktoran Bandung dalam produksi-produksi signifikan Teater Ketjil, salah-satu kelompok legendaris, terutama semasa hayat almarhum Arifin C Noer. Di Bandung sendiri ia kerap mewartakan bahwa dirinya adalah ”santri jauh” dari Studiklub Teater Bandung (STB) dan Suyatna Anirun (alm), kendati tak pernah ’bersentuhan langsung’, tetapi merasa belajar banyak darinya. Inilah pula yang menjadi karakteristik khas keaktoran Adang Ismet; tumbuh dan besar justru dengan ’menyempal’ dari arus utama regenerasi aktor-aktor penting yang lumrahnya milik garis sejarah STB sebagai biang dan pelopor tradisi keaktoran di Bandung.

Ironis

Ironisnya, Adang Ismet tampak tak puas justru setelah mencapai puncak. Dalam dekade terakhir kekaryaannya, ia lebih banyak berefleksi dan menyelami kandungan-kandungan simbolik dan surealistik teater ketimbang mengagungkan pencarian ilusi realitas layaknya dalam drama-drama realis. Tak pelak, persinggungannya dengan style Arifin C Noer lekat menggumpal dalam kreativitas Adang Ismet. Sebut saja manakala ia memanggungkan Syekh Siti Jenar milik Vredi Kastam Marta, pada 1997, imaji-imaji mistik, puitik, simbolik dan surealistik bertebaran di setiap geliat pentas. Dan menjelang masa-masa akhir, ia justru tengah berkutat dengan kompleksitas obsesi yang ingin mengembalikan cara-cara keaktoran masa kini kepada sejenis kredo para aktor tradisional yang menyelami seni justru sebagai totalitas kehidupan itu sendiri.

Entah mengapa, Perjalanan Menuju Sepi terasa tampil sebagai bagian akhir dari semacam trilogi kematian Adang Ismet. Sebelumnya, tahun 2005, dalam Festival Kesenian Indonesia di Bandung, dengan semangat habis-habisan ia menampilkan Prolog Bagi Sebuah Kecemasan, sebuah karya yang sepekan sesudahnya membuat ia jatuh sakit dan ketahuan gagal-ginjal. Sedangkan pada 2007 ia mengusung Biografi Sebuah Mimpi tentang senarai harapannya yang mungkin tak bakal kesampaian. Maka, Perjalanan Menuju Sepi adalah frase yang pas yang ia buat justru untuk menghantar dirinya menelusuri labirin paling rahasia dari alam kematian untuk menuju ke haribaan-Nya.

Selamat jalan Adang Ismet. Pulanglah ke haribaan-Nya sebagai jiwa yang telah menjadi tenang.

* Fathul A Husein, Sutradara Teater. Mahasiswa Program Magister FSRD-ITB.

Sumber: Kompas, Minggu, 5 April 2009

2 comments:

jentjah said...

Trmaksih sdh mnympn brta ini dlm blog anda, trmaksh byk.
Sy ank k2 dr bpa Adang Ismet (alm.)
Mhon bntuan doax untk bliau

Unknown said...

pak, ini saya mahasiswa teater ISI Padangpanjang, bisa ngobrol gak pak? saya mau ngangkat naskah bapak adang ismet untuk tugas akhir saya pak. bisa pak?