Monday, October 03, 2011

”Dharma Gita Maha Guru”, Cerita Bung Karno di Atas Panggung

-- Nofanolo Zagoto

JAKARTA – Seketika suara bersautan bersumber dari lesung terdengar. Tampak empat perempuan menumbuk padi. Hanya beberapa langkah, sejumlah lelaki tergambarkan sedang memacul.

(foto:dok/antaranews.com)

Suasana desa terlukis di atas panggung. Perlahan Soekarno muda (Andrie Djarot) pun mendekati yang tertua di antara mereka. “Nama bapak siapa?” tanyanya. Sedikit bingung, lelaki tua itu menjawab, “Marhaen”.

Begitulah salah satu cuplikan dialog yang mewarnai pementasan berjudul ”Dharma Gita Maha Guru”.

Pertunjukan teater ini menceritakan tentang perjalanan hidup Soekarno, presiden pertama dan juga Proklamator Kemerdekaan Indonesia, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, yang berlangsung pada 30 September 2011 dan 1 Oktober 2011.

Di atas panggung, pementasan ini memang bermaksud berbagi kisah hidup Soekarno. Mulai dari masa kecil, masa sekolah, masa perjuangan kemerdekaan, masa menjadi presiden, hingga meninggal dunia.

Namun suguhan cerita untuk penonton tak lantas dimulai ketika Soekarno dilahirkan pada 1901. Alur cerita malah dimulai dari masa-masa jauh sebelum Soekarno lahir.

Pertunjukan teater yang disutradarai Maman S Tegeg tersebut memilih zaman Ratu Shima, sebagai pembuka kisah. Sebagai pembuka, tampak para penari yang muncul mengiringi Ratu Shima (Emma Waroka) tampil dengan tarian Nusantara yang sengaja dikombinasikan. Dari gerak tari mereka terselip beberapa tarian dari beberapa daerah, seperti tarian Saman dari Aceh.

Sayang, tak berselang lama, situasi panggung sudah harus cepat berubah. Selintas dimunculkan Patih Gajah Mada dari zaman Kerajaan Majapahit yang sempat membaca sumpahnya, Sumpah Palapa. Lalu zaman penjajahan di wilayah Nusantara pun mulai diperlihatkan.

Diawali dari kedatangan Portugal di abad ke-16. Berikutnya masa pemerintahan kolonial Belanda selama 350 tahun. Entah kenapa pada masa ini sempat dimunculkan teatrikal antara Jatayu, Rawana, dan Dewi Sita dari cerita Ramayana.

Aksi teatrikal hadir dengan latar belakang para prajurit Belanda. Tampil dengan rentang masa yang jauh melebar, karena memulai dari masa Ratu Shima, memang membuat sejumlah fragmen yang menjadi menu pembuka itu muncul seadanya.

Kisah Hidup

Memang pada pementasan yang berlangsung sekitar dua jam itu kisah hidup Soekarno tetap masih bisa diceritakan mulai dari kelahirannya pada 1901 yang diwarnai tari kecak di atas panggung. Kemudian masa sekolah saat bertemu dengan HOS Cokroaminoto.

Kali pertama pertemuannya dengan Fatmawati (Widyawati) saat menjalani pengasingan di Bengkulu. Ada pula sedikit cuplikan saat Soekarno dijebloskan ke penjara Sukamiskin oleh Belanda. Begitu pula momen saat proklamasi, perjuangan setelah kemerdekaan, masa memerintah sebagai presiden pertama, hingga masa pengasingan sebelum Bung Karno wafat.

Pertunjukan ”Dharma Gita Maha Guru” tersebut juga mengikutkan dua komedian, Tarzan dan Kadir, yang kerap dimunculkan di sela-sela pementasan dengan maksud mencairkan suasana panggung dengan lawakan mereka.

Selain itu juga terlibat Sujiwo Tejo yang berperan sebagai dalang, lalu ada pula sejumlah presenter televisi seperti Prabu Revolusi dan Tommy Tjokro. Kemudian ada pula Jouan Louis dan Suzuki Nobuyuki yang berperan sebagai Jenderal Imamura.

Produser ”Dharma Gita Maha Guru”, Rachmawati Soekarnoputri, mengungkapkan, lewat pertunjukan teater ini sebenarnya ingin disampaikan pesan utama, yakni jangan meninggalkan sejarah.

“Dari kelahiran sampai meninggalnya beliau merupakan sejarah. Pertunjukan ini mengisahkan riwayat Bung Karno, sehingga bisa diketahui generasi muda,” katanya.

Sumber: Sinar Harapan, Senin, 3 Oktober 2011

No comments: