Wednesday, October 10, 2012

Remy Sylado: Kementerian Tidak Peka terhadap Kebudayaan

SENIMAN yang juga budayawan Indonesia, Remy Sylado, menyatakan ada dua kementerian yang terkait masalah kegiatan dan program kebudayaan, sama-sama tidak lagi peka terhadap seni dan budaya.
    
"Dua pejabat kementerian itu adalah Kemendikbud dan Kementerian Parawisata dan kebudayaan, yang sama-sama tidak mempedulikan kebudayaan. Bukannya menghampiri tetapi malah menjauhi," katanya saat tampil sebagai pembicara pada Temu Redaktur Kebudyaan se-Indonesia yang dibuka Mendikbud Mohammad Nuh di Gedung Utama Kemendikbud Jakarta, Rabu.
    
Menurut Remy, mestinya, kalau pejabat-pejabat itu peka, harusnya mengundang secara rutin para pelaku seni dan budaya dan memberitakannya terkait apa yang bisa dilakukan pemerintah kepada pelaku seni budaya tersebut.
    
Di bagian lain, Remy dengan gaya kekhasan dan unik yang selalu tampil dengan menggunakan baju dan celana putih-putih itu mengatakan kebudayaan masa lalu dengan masa sekarang memang sudah jauh berbeda.
    
"Dulu masyarakat senang dengan karya-karya maupun sastra lokal dengan berbagai khas dan latarbelakang yang benar-benar menyentuh dengan kehidupan saat ini," katanya.
    
Di samping itu juga dipengaruhi oleh budaya barat yang cendrung telah banyak masuk dan mempengaruhi kultur kebudayaan di tanah air sehingga anak dan generasi saat ini, sudah cenderung tidak mengenal lagi budaya sebagai peninggalan sejarah yang bernilai tinggi.
    
Temu Redaktur kebudayaan yng merupakan kerjasama antara PWI dan Kemendikbud, terkesan ada masalah pelik yang dihadapi oleh media pers saat ini. Masalah yang dihadadapi di antaranya halaman budaya yang cenderung merosot.
    
Selain itu, ada kecenderungan hilangnya antara seniman dan budayawan, media, dan pejabat kesenian dan kebudayaan, serta makin berkurangnya diskusi publik tentang kebudayaan dan serbuan gaya hidup, musik dan film asing yang masuk di tanah air.
    
"Sebenarnya dari berbagai acuan di atas,  bukanlah semata-mata masalah yang hanya dihadi oleh pers sebagai piranti komunikasi yang menyajikan persoalan-persoalan seni dan budaya, tetapi juga merupakan masalah tersendiri yang harus dilihat pelaku seni budaya dan khalayak ramai yang membacanya," ujarnya.
    
Sementara budayawan lainnya, Mudji Sutrisno mengatakan, nara sumber lainnya mengatakan bacaan kebudayaa bukan lagi teori besar, melainkan sebagai keseharian perilaku dan peri-kehidupan yang dimaknai hingga bacaan budaya menjadi bacaan rakyat dan sehari-hari yang dimaknai sebagai berharga.
    
Ia mengatakan, untuk memaknai bahasa kebudayaan, orang harus masuk dari dalam dan hidup didalamnya termasuk mengenali bahasa dan simbol-simbol untuk membaca hati kebudayaan dalam tahan bahasa itu.
    
Dalam temu redaktut kebudayaan itu, menggiring rekan-rekan media untuk tetap selalu menyediakan rubrik dan halaman khusus di masing-masing media yang mereka pimpin maupun miliki.
    
Diakui atau tidak bahwa halaman media memang tidak semua media cetak memilikinya, umummnya media yang bersangkutanm memiliki alasan tersendiri mengapa tidak menyediakan halaman itu.
    
Peran pemerintah sangat berperan dalam memajukan seni dan budaya lokal yang ada di masing-masing daerah. Sebagai contoh, misi pemerintah memperkenalkan benda-benad purbakala kepada masyarakat. Yang terjadi selama ini, pengelola museum dan benda-benda bersejarah memperkenalkan koleksinya melalui pameran atau pun kunjungan anak-anak sekolah.
    
"Kita berharap dengan pertemuan redaktur kebudayaan hari ini bisa melahirkan satu rumusan dan kebijakan yang tidak hanya sampai di tingkat pusat tetapi juga mengangkat kearifan budaya lokal yang bisa menasional," ujar para nasa sumber tersebut.

Sumber: Antara, Rabu, 10 Oktober 2012




No comments: