Sunday, March 03, 2013

[Tifa] Menerobos Bayangan dalam Cermin Kehidupan

-- Iwan Kurniawan

Kecenderungan seniman China dalam mengangkat konsep ialah mereka begitu lihai lewat unsur dramatis yang sarat makna.

SAMBIL merapatkan kedua tangan ke dadanya, seorang gadis remaja yang sedang terjaga di tempat tidur terlihat gusar. Ia menggenggam selimut yang terurai hingga luruh ke lantai.

Kedua kakinya dirapatkan. Ia terlihat mengerang seakan ada sesuatu yang baru saja menjamahnya. Mata sang gadis pun terlihat berkaca-kaca, seperti menyiratkan ada sebuah ketakutan dan kegundahan.

Karya patung milik Jin NV berjudul Luminescence No 4 (53x80x40 cm) itu menarik perhatian pengunjung yang hadir pada pameran bertajuk Mirror & Shadow: Contemporary Art from China di Galeri Nasional, Jakarta, pertengahan pekan ini.

Lewat pameran bersama yang berlangsung sejak 20 Februari hingga 11 Maret mendatang itu, ada 35 karya yang dihadirkan 17 seniman asal 'Negeri Tirai Bambu'.

Masing-masing memiliki corak tersendiri dari abstrakisme hingga realisme dengan latar belakang yang berbeda pula. Namun, itu masih berpacu pada satu kesatuan, yaitu budaya China yang begitu kental.

Karya Unmask berjudul 0 Derajad No 5 (50x150x40 cm) yang memadukan stainless steel, fiberglass, lece, dan silica gel menghadirkan tiga objek manusia yang dipenuhi rambut yang begitu halus. Salah satunya sedang duduk di atas batu putih.

Sosok lainnya sedang berbaring santai di batu. Ketiga manusia aneh itu dipajang dalam kotak berkaca. Itu membuat karya tersebut semakin mendapatkan nilai estetika yang tinggi.

“Karya-karya di sini cenderung individual yang ekspresif, simbolis, naratif, dan konseptual. Pengalaman setiap seniman begitu konkret sehingga mereka memasukkan pengalaman yang paling dalam,” nilai kurator pameran Rizki A Zaelani.

Yang membuat menarik, beberapa karya lukisan menghadirkan paduan yang begitu kontras antara realitas dan khayalan. Karya Bu Hua Water is Deep Here in Beijing (119x1454 cm) memanfaatkan lampu (led light box) sehingga menghadirkan nuansa ala negeri kahyangan.

Karya tersebut menghadirkan objek sebuah kota di era kekaisaran. Menariknya, lampu-lampu yang menerangi objek (semacam kastil) di dalamnya begitu temarang. Ada semacam pahatan atau ukiran yang terpajang di dinding-dindingnya.

Imajinasi liar dari Bu Hua menunjukkan sang seniman kontemporer itu begitu memperhatikan unsur estetika dan corak klasik yang tinggi. Hal itu membuat siapa pun yang melihatnya seakan masuk ke kota kuno.

Simbol

Terlepas dari kehidupan sehari-hari, sebagian seniman China itu juga memberikan sebuah tafsiran yang tinggi dalam karya-karya mereka.

Chen Yufan menghadirkan karya Truth (180x180 cm). Ia seakan menggunakan metode keterampilan menjahit, yaitu pola tikam jejak.

Chen membuat tusukan-tusukan berukuran kecil sehingga membentuk sebuah lingkaran. Sepintas Truth seperti sebuah matahari.

Chen Yufan juga menggunakan polo yang hampir sama lewat karya berjudul Union (200x115 cm). Namun, bedanya Chen menggunakan pensil terlebih dahulu.

Ia membuat garis-garis secara horizontal di atas kanvas dan membuat titik-titik (seperti membor) secara banyak. Sekilas, karya abstrak tersebut terlihat seperti sebuah motif kain yang menyimpan makna.

Lewat setiap karya, seniman China tersebut menunjukkan ekspresi. Itu cukup membuat kita memahami lebih dalam tentang perkembangan seni lukis hingga patung kontemporer di China.

“Saya melihat ekspresi yang ada telah mentransendensikan pengalaman konkret kehidupan menjadi pengalaman tentang nilai-nilai itu sendiri. Saya melihat itu dalam karya Yuhan,” jelas Rizki, yang juga dosen Seni Rupa ITB.

Kesederhanaan

Terlepas dari kehidupan itu sendiri, anak-anak hingga alam masih menjadi imajinasi yang begitu kuat tecermin dalam beberapa karya. Itu begitu khas dalam lukisan tradisional China yang biasa dibuat di atas kertas.

Lukisan karya Chen Ke Yesterday's Me, Tomorrow's You (200x600 cm) menghadirkan sebuah ruangan pribadi yang cukup menggugah. Karya itu menghadirkan tiga panel lukisan yang bersambung.

Di sudut kiri, seorang perempuan kecil sedang duduk memegang pensil dan mengarah ke buku yang ada di atas meja belajarnya. Poster hingga jam menggantung di dinding kamarnya. Di sisi kanan (panel lainnya) terlihat seorang anak gadis lainnya sedang tidur.

Chen seakan menghadirkan anaknya ke dalam karya. Ada sebuah upaya untuk menunjukkan arti sebuah ketekunan dari balik kamar yang penuh atribut dan aksesori itu.

Namun harus diakui, ada beberapa karya yang kehilangan substansi. Itu terlihat pada beberapa lukisan abstrak yang datar sehingga membuat pengunjung melihatnya sebagai hal yang tidak istimewa. (M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 3 Maret 2013

No comments: