Sunday, March 17, 2013

Pesan Puitis dan Ironis dari Perempuan Walikota

-- Musa Ismail

PEREMPUAN Walikota (selanjutnya saya singkat PW) merupakan buku kumpulan puisi ke-2 yang ditulis oleh Suryatati A Manan, Wali Kota Tanjungpinang. Langka memang, wali kota dan sang penyair. Ada jiwa seni yang menggelora dan mengalir dari seorang pemimpin. Hal yang patut dibanggakan dari sosok Suryatati, yaitu beliau terbukti mampu menyempatkan diri -tentu saja dengan sepenuh hati- untuk meranggikan peradaban, terutama dunia Melayu, melalui sastra, khususnya puisi. Tentu tidak mudah bagi seorang wali kota yang bisa mencurahkan perhatiannya untuk menulis puisi di tengah kesibukannya di dunia birokrasi. Namun, ketunakan jiwa seninya bisa meruntuhkan kesulitan itu. Tidak heran kalau beberapa tokoh nasional seperti Fauzi Bowo, Taufik Ismail, Maman S Mahayana, dan Tommy F Awuy mengomentari buku ini. Bahkan, pengantar buku ini ditulis oleh Hamsad Rangkuti dengan tajuk “Penyadaran dan Imajinasi Sang Walikota”.

Puisi merupakan genre sastra yang sangat berbeda jika dikaji dari aspek diksi. Diksi merupakan aspek sangat penting dalam puisi. Penyair sudah pasti mengembara jauh dan penuh pertimbangan untuk memutuskan memilih suatu kata. Kata terpilih itulah yang dituangkan dan diaduk sehingga membentuk puisi. Barfield dalam Pradopo mengatakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan imajinasi estetik. Hasilnya itu disebut diksi puitis. Diksi puitis terlahir berdasarkan suasana jiwa yang berbeda. Tentu saja berbagai aspek kehidupan ikut mempengaruhinya. Kesan utama yang dapat ditangkap dari judul kumpulan puisi ini adalah interaksi antara kepribadian Suryatati sebagai pemimpin dengan lingkungannya. Aspek kultural, sosial, dan feminis begitu kental dalam diksi sebagian besar puisinya. Mari kita cermati puisi yang menjadi tajuk buku ini, yaitu “Perempuan  Walikota”.

Perempuan walikota
Perempuan menjadi walikota
Walikota perempuan
Walikotanya seorang perempuan
Artinya sama saja
Walikotanya perempuan
Perempuan menjadi walikota

Yang tak sama pandangan
publik
Terhadap perempuan yang
menjadi pimpinan daerah

Ada yang suka, ada yang tak suka
Ada yang senang ada yang iri
Ada yang sayang ada yang benci
Ada yang menyumpah dalam hati
Ada yang setia sampai mati

Pertanyaan yang meragukan
selalu dilontarkan
Apa perempuan mampu?
Mengapa perempuan, kan
banyak laki-laki tuk jadi
pemimpin daerah
Perempuan langkahnya pendek
Apa sih keistimewaan/
kelebihan yang dimiliki?
Perempuan haram jadi pemimpin
Karena ini karena itu, ayat ini
ayat itu
Segudang pertanyaan dan alasan
Menumpuk ingin mempersoalkan
Kemampuan seorang perempuan
Alangkah naifnya
Alangkah kerdilnya
Alangkah sempitnya,
wawasan mereka
Globalisasi sudah
mendunia masih mempersoalkan
Kemampuan seorang
perempuan dari sudut
keperempuanannya

Sangat menyedihkan,

My room sei ladi, 26 Juli 2007, 22.45 WIB
Puisi ke-92

Puisi di atas sangat bersahaja. Kening pembaca tak perlu sampai  berlipat untuk memahaminya. Permainan diksi yang ditebarkan pun sungguh sederhana. Bait pertama hingga bait ketiga, terkesan bahwa Suryatati piawai memberikan alternatif makna melalui pembolak-balikan kata perempuan dan walikota. Meskipun pada larik kelima menyatakan maknanya sama, tetapi bisa ditafsirkan berbeda, terutama dalam kaitannya dengan aspek  feminis.  

Feminis bukanlah suatu yang sederhana seperti pengertian secara leksikal. Toril Moi menjelaskan, feminis merupakan suatu posisi politis. Dalam puisi PW, posisi politis Suryatati (kaum perempuan) masih terkungkung dalam pasung budaya pola pikir yang sempit. Suryatati melukiskan betapa mitos bahwa perempuan tidak mampu masih saja berlanjut hingga kini. Posisi politis perempuan hingga kini  masih saja diperdebatkan dan diragukan. Dalam puisi ini, Suryatati juga memberontak dengan budaya negatif itu. Sementara itu, Hesse-Biber dkk mengungkapkan bahwa feminis berasal dari kalangan, ras, dan budaya yang berbeda-beda. Mereka bahkan mempunyai pengalaman hidup yang berbeda pula. Sementara banyak di antara mereka yang mempunyai tujuan yang sama, misalnya kesetaraan gender, keadilan sosial untuk perempuan, dan empati untuk kelompok masyarakat yang mementingkan dan mengkhawatirkan persoalan perempuan.

Tampak begitu nyata bahwa Suryatati berkeinginan kuat agar kedudukan perempuan tidak diragukan lagi dalam kepemimpinan. Bukan cuma teori, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan. Hal ini sesuai dengan pandangan Goefe bahwa feminis bukan hanya suatu gerakan, melainkan teori persamaan hak antara kaum lelaki dan perempuan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

Bahkan, keinginan kuat Suryatati menegaskan kemampuan perempuan juga terungkap dalam puisi “Perempuan Paroh Baya” (PPB). Suryatati menulis: Perempuan paroh baya itu/Tak lapuk dimakan usia/Tak lekang semangat berkarya/Tak hilang cita yang ingin digapai/Tak lelah dihantam badai....

Melalui puisi PPB, penyair menyatakan bahwa semangat dan keinginan menggapai cita mampu melumpuhkan keterbatasan usia. Apapun batu penghalang yang disimbolkan dengan kata badai  juga tidak bisa menggeser kekokohan semangat perempuan. Sosok perempuan yang digambarkan Suryatati dalam puisi ini sangat ideal, yaitu perempuan yang mampu menunjukkan kebolehannya meskipun dikecam dari berbagai celah yang mengusik perasaan seorang perempuan. Namun, kemampuan perempuan benar-benar ditonjolkan penyair dengan penegasan larik akhir: Namun tak pernah merasa tua.

Puisi yang berkaitan dengan nafas feminis berikutnya, yaitu ‘’Karena Aku Seorang Perempuan’’ (KASP). Puisi ini merupakan pengaduan kepada Tuhan. Pesan puitisnya lebih nyata mengkritik lelaki. Bukankah suatu perlawanan atau pemberontakan yang luar biasa terhadap kekurangadilan yang diterima perempuan? Tuduhan, dendam, kebencian, kelemahan, dan beragam hal serupa menghantam diri Suryatati sebagai seorang (pemimpin) perempuan. Puisi merupakan suatu ungkapan perasaan si aku lirik yang sangat menyentuh, terutama aspek ironis terhadap keegoan lelaki: Atau hanya karena aku seorang perempuan?/ Suara-suara lancang dan garang/ Selalu datang menyerang/ .... Bagaimana kalau aku seorang lelaki?/ Perlakuan serupakah/ Yang kualami?//

Suryatati, dalam puisi ini, terlihat tidak membanggakan diri. Dia mengakui bukan Ibu Kartini, Margaret Taher, atau Auung Saan Suu Kyi: Aku hanya seorang Suryatati, tulisnya, yang berkeinginan membangun negeri.

Selanjutnya, puisi puisi bernapas feminisme berjudul “PKK”, jelas sekali Suryatati memprotes sikap negatif segelintir orang yang terhadap organisasi wanita. Dalam puisi ini, tertuang larik-larik dan diksi negatif tentang sosok perempuan: Tapi sering diplesetkan menjadi perempuan kurang kerjaan..../Perempuan keras kepala/Pagi-pagi keliling ke pasar/Pulang-pulang kaki keseleo/Petang-petang ke dukun kampung/. Bait-bait berikutnya penyair ini mematahkan pikiran negatif di atas dengan diksi kemuliaan seorang perempuan.

Suryayi ingin menegaskan bahwa melalui organisasi perempuan, justru peranan perempuan semakin teserlah di mata masyarakat. Misalnya, dalam hal kepedulian terhadap keluarga, peka terhadap kemanusiaan dan keadilan, meningkatkan kecerdasan, kesejahteraan, menciptakan lingkungan sehat, dan sebagainya. Isi dan makna puisi ini tampaknya berkelindan dengan puisi berjudul 2009. Harapan-harapan terhadap kaum ibu menggumpal dalam kekentalan feminisme.

Gumpalan harapan Suryatati terhadap peranan kaum perempuan bahkan tidak terbatas hingga ke tingkat politik. Ayolah hai kaumku/ 2009 jangan mau lagi mengalah selalu/ Persiapkan diri berbenah diri/ Majulah mencalonkan diri/ Kursi di dewan harus diisi/ Plafond 30 % untuk wanita jangan disia-siakan/ Peluang ini tantangan bagi kita kaum wanita/ Untuk dapat merubah dunia//

Kumpulan puisi PW, bukan semata-mata memaknai peranan perempuan pada umumnya, tetapi juga memaknai peranan  perempuan dalam dunia birokrasi dan politik (eksekutif dan legislatif). Persoalan-persoalan yang diungkapkan sangat universal, menyentuh sisi terdalam kemanusiaan. Suryatati bukan cuma berkomunikasi dengan lingkungan jabatannya, tetapi kepada seluruh warganya ketika menjabat sebagai wali kota Tanjungpinang. Namun, saya sangat terkesan tentang apa yang ditulisnya tentang kemuliaan perempuan Melayu yang ironis: Sungguh, perempuan melayu anggun dan mulia/ Laksana engkau puteri raja Hamidah/ Pemegang regalia yang amanah dan bermarwah/ Cam mane cik puan yang ada di zaman ini/ Apakah sudah mewarisi sosok engku puteri?/ Silahkan mengamati diri// n

Musa Ismail
, Guru SMAN 3 Bengkalis. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai diberbagai media massa. Bermastautin di Bengkalis.

Sumber: Riau Pos, 17 Maret 2013

No comments: