Wednesday, December 28, 2011

[Catatan Akhir Tahun] Guru: Menyongsong 2012 Tanpa Gairah

-- Indra Akuntono dan Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menilai, secara umum kebijakan pendidikan sepanjang tahun 2011 masih trial and error serta hit and run. Tidak ada skema kebijakan yang matang untuk diterapkan.

Ketua PB PGRI Sulistyo mengatakan, trial and error yang dimaksud adalah kebijakan pendidikan dijalankan tanpa didahului kajian teori yang mendalam dan tidak didukung oleh studi empiris tentang kelayakan dan tingkat akseptabilitasnya.

Di pengujung 2011, kami menyongsong 2012 dengan tanpa gairah, dengan arah yang tak jelas. Seiring anggaran pendidikan yang meningkat, banyak program disusun tanpa subtansi dan berbasis mutu.
-- PGRI

"Banyak kebijakan hanya bersifat coba-coba," kata Sulistyo saat memaparkan catatan pendidikan 2011 di Gedung PGRI, Jakarta, Rabu (28/12/2011).

Selain itu, lanjutnya, juga banyak program pendidikan yang dijalankan sebagai respons yang sifatnya instan dalam menanggapi berbagai isu dan permasalahan yang muncul. Akibatnya, kebijakan tidak dirancang secara konseptual dalam sebuah grand design dengan perspektif jangka panjang.

"Di pengujung 2011, kami menyongsong 2012 dengan tanpa gairah, dengan arah yang tak jelas. Seiring anggaran pendidikan yang meningkat, banyak program disusun tanpa subtansi dan berbasis mutu," katanya.

Sulistyo menjelaskan, hal itu tecermin dari sejumlah peristiwa pendidikan yang terekspos selama tahun 2011, di antaranya, kembali diubahnya mekanisme penyaluran dana BOS, sentralisasi pendidikan, dan kisruh sertifikasi guru.

Tak hanya itu, lanjutnya, pendidikan karakter juga dinilainya terancam gagal memberikan solusi terkait lemahnya karakter bangsa ini. Hal itu karena program tersebut hanya dijalankan di sekolah. Di sisi lain, para guru juga terus dirundung kekhawatiran dengan sejumlah persoalan dan membuat para guru tak mampu memikul berat beban pendidikan karakter.

"Ditambah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan ujian nasional (UN) yang, meski mendapat banyak kelemahan, nyatanya terus diselenggarakan," ungkapnya.

Meski demikian, Sulistyo mengatakan, PGRI mencatat dua kebijakan penting dan positif dalam dunia pendidikan. Pertama, disatukannya kembali bidang kebudayaan dengan pendidikan dalam satu kementerian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Menurut Sulistyo, langkah ini menjadi penting karena akan memberikan arah yang jelas pada pendidikan sebagai upaya penyempurnaan kebudayaan sesuai dengan nilai-nilai inti (core values) kebangsaan.

"Kedua adalah dirintisnya bantuan operasional sekolah (BOS) bagi siswa jenjang SMA mulai tahun 2012 dan akan berlaku penuh tahun 2013," katanya.

Sumber: Edukasi, Kompas.com, Rabu, 28 Desember 2011

No comments: