Friday, November 04, 2011

Keseharian di Mata Lima Perupa Muda

-- Nofanolo Zagoto

KANVAS berukuran 102 x 95 cm dipenuhi gambaran sebuah wajah. Matanya tampak dibuat melotot, bagian mulutnya menganga. Sisi bawah bibirnya melumer, seperti darah.

Sekilas karya yang terpajang di dinding Koi Gallery, Kemang, Jakarta Selatan, itu seperti lukisan cat akrilik. Begitu didekati, barulah terlihat lukisan wajah tersebut tersusun dari puluhan paku dan jalinan benang wol.

Karya mixed media yang berjudul “Fight or Right” buatan Ucok Viktor Siahaan tersebut merupakan salah satu dari 38 karya yang dimunculkan dalam pameran bertajuk “5 Eksposisi” sampai 30 November 2011 mendatang. Ucok unjuk karya bersama empat rekan sejawatnya, Dian Mulyanto, Fia Meta Gabriela, Reflect, serta Gigin Ginanjar.

Sebenarnya “Fight or Right” merupakan hasil interpretasi karya Ucok lainnya yang berjudul “See You Fall”. Keduanya bermain-main pada ekspresi mimik wajah. Hanya saja “See You Fall”, yang disebutkan Ucok bergaya neorealisme, terbuat dari cat akrilik. Perbedaan bahan itulah yang membuat keduanya menjadi sedikit berbeda.

Itu tampak terlihat jika dikaitkan dengan proporsi dan kedetailan mimik wajah. Pada karya hasil rajutannya di atas kanvas, beberapa bagian seperti hidung atau alis mata justru dibiarkan tidak beraturan. Gambarnya tidak simetris di kedua sisinya. “Sebenarnya saya hanya ingin menjalani keliaran dalam sebuah karya,” begitu kata pria berusia 30 tahun itu, akhir pekan lalu.

Lewat dua karya tersebut Ucok mengaku berusaha menvisualisasikan kegelisahannya ketika dihadapkan sebuah pilihan hidup. Mungkin karena itulah dia menyimbolkannya dengan mimik wajah yang melukiskan ekspresi kaget.

“Intinya kita bisa bertahan atau tidak menghadapinya,” katanya. Eksperimen juga dimainkannya dalam karya mixed media yang berjudul “Adorable”. Hanya saja pada karyanya yang satu ini, hasil rajutan yang timbul menjadi abstrak tidak berfigur.

Keseharian

Tema yang dimainkan lima seniman muda ini memang seputar keseharian yang mereka jumpai, seperti yang ditunjukkan Fia Meta Gabriela (23) lewat lukisan cat akrilik miliknya. Kecintaan dan pengalaman Gabby, sapaan akrabnya, ketika memelihara anjing dituangkannya menjadi sebuah simbol dalam lukisannya.

Contohnya pada “Chicken #1” yang mengekspresikan kesukaan peliharaannya makan ayam. Ada juga “Tiles” yang menceritakan kebiasaan anjing miliknya tidur di lantai. Hanya saja, dari karyanya, Gabby terkesan masih mencari karakter.

Kadang kala dia berupaya menemukan estetika dengan meninggalkan jejak abstrak. Contohnya pada lukisan berjudul “Time” atau “Blue#2”, ketika goresan cat akrilik hitam mengisar riuh.

Spontanitas dari keseharian juga menjadi dasar Gigin berkarya. Hasilnya dalam mencermati lingkungan mengalir di situ. Setidaknya itu terlihat pada lukisannya yang berjudul “Kiss”, hasil imajinasinya mengamati ikan atau juga plastik kotor dalam lukisan berjudul “Bocor”.

Pilihan imaji yang terkesan banal itu terpadu dengan penggunaan warna cerah. Simfoni warna yang ditampilkannya menggambarkan kehidupan pada “Breath Symphony”.

Agak berbeda dibandingkan lainnya, Dian mencari estetika dengan membangun karya instalasi menggunakan bongkahan plastik kecil yang biasa dimainkan anak-anak.

Lima perupa muda tersebut dipertemukan karena “belajar” bersama dan bertukar pikiran di studio Hanafi. Karenanya, perupa yang dikenal dengan lukisan-lukisan abstrak yang penuh estetika dan juga puitik tersebut menekankan pada mereka agar menghasilkan karya yang jujur.

Sumber: Sinar Harapan, Jumat, 4 November 2011

No comments: