Sunday, September 01, 2013

[Jendela Buku] Pengelana Tiada Akhir

-- Iwan Kurniawan

Frans Ekodhanto Purba menghadirkan perjalanan lewat sajak-sajak penuh metafora. Ia begitu lihai menunjukkan perasaan lewat karya.

BUKU KELANA ANAK RANTAU: (Dari kiri) Budayawan Radhar Panca Dahana,
Ketua BPP TIM Bambang Subekti, dan Penyair Frans Ekodhanto Purba
menunjukan buku puisi berjudul Kelana Anak Rantau karya Frans Ekodhanto
Purba di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat
(30/8). Buku tersebut mengisahkan tentang sebuah perjalanan emosi
mengenai anak rantau yang merindukan kampung halamannya dari kota
besar. MI/IMMANUEL ANTONIUS
SENJA mulai luruh perlahan. Langkah kaki para undangan terdengar perlahan mulai memasuki sebuah ruangan, tempat peluncuran buku Kelana Anak Rantau karya penyair Frans Ekodhanto Purba dihajat, sore itu.

Acara yang berlangsung pukul 16.00-18.30 WIB di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (30/8) itu cukup sederhana. Namun, penampilan musikalisasi hingga pembacaan puisi sejumlah penyair,

'teaterawan', dan sastrawan menghentak dan membahana.

Sebagai penyair muda, Frans semakin lihai menunjukkan eksistensinya dalam dunia kepenyairan di Indonesia. Buku terbitan Koekoesan (Jakarta) itu memuat 62 puisi yang terdiri dua bab. Bab pertama bertajuk Mazmur Perjalanan berisi 32 puisi, dan bab kedua (Hikayat Kehidupan) berisi 30 sajak. Semua sajak dibuat dalam kurun waktu 2010-2013 dan di tempat penulisan yang berbeda-beda.

Kelana Anak Rantau merupakan buku puisi tunggal pertamanya. Frans mencoba untuk tak menyebutkan tempat pembuatan puisi. Pasalnya, ia tak mau mengikuti kebanyakan penyair yang selalu menonjolkan lokasi penulisan sebagai sebuah ‘kesombongan’ atau ‘keakuan’ penyair. Ia mengubah semua tempat dengan sebutan ‘kereta subuh’.

“Saya menulis puisi di beberapa kota dan kampung. Bagiku semua adalah perjalanan yang mirip seperti kereta. Ketika lahir, kita memulai hidup dan pada akhirnya kita kan sampai ke rumah (kematian),” tutur lelaki kelahiran Desa Sei Suka Deras, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, 8 Juli 1986, itu.

Frans terlahir dari keluarga ayah seorang polisi (FP Purba) dan ibu guru sekolah dasar (L Siringoringo). Ia tumbuh dan besar di Medan, ibu kota Sumut. Frans menamatkan pendidikan di program S-1 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat (lulus 2010).

Kelana tiada akhir

Membicarakan Frans tak bisa dipisahkan soal proses kreatif dan perjalanan hidupnya yang sedikit-banyak tecermin pada larik, metafora, dan makna sajak. Secara harfiah, kata ‘Kelana’ dapat diartikan sebagai sebuah perjalanan atau pengembaraan seseorang pada tempat-tempat tertentu, seperti ke negeri orang atau ke kampung yang baru. Adapun kata ‘Rantau’ dapat diterjemahkan sebagai pencarian. Pencarian atas kehidupan, masa depan, harapan, tempat tinggal, serta pencarian-pencarian lainnya.

Dengan kata lain, sajak-sajak Frans yang terkumpul dalam buku puisi Kelana Anak Rantau ini merupakan suatu perjalanan yang terus melakukan pencarian yang tak berkesudahan. Perjalanan yang tak tahu kapan sampainya. Pencarian yang tak tahu kapan temunya. Namun di dalam melakukan kelana tersebut, Frans kerap menemukan hal-hal yang lumrah atau bahkan baru saja ditemukan. Tak hanya itu, ketika melakukan pengelanaan, Frans tak jarang bertemu dengan simpang-simpang mimpi, harapan, kegelisahan, keresahan (kecemasan), bahkan kerinduan yang tak habis-habis tentang segala hal. Tak mengherankan jika ketika membaca kumpulan buku puisinya, pembaca dipertemukan dengan tema-tema cinta dan kerinduan dalam arti yang luas.

Berdasarkan lirik demi lirik, kumpulan puisi Frans adalah puisi-puisi yang bercerita. Itu yang membawa kita langsung tertuju ke sebuah desa dengan gunung dan lembah, ada sawah-sawah yang menguning, ada orang-orang yang ramah, dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang glamor.

Tengok saja puisi berjudul Melewati Petak-Petak Subuh. Di sanalah diketahuibetapa alam negeri ini meruahsepam menari-nari di ceruk samuderamerpati—sapi bergelincatan di atas kualisedang adab disulap menjadi senyap rebahminyak zaitun, cengkeh menjadi nyawa tak pernah mampusmenebus perut yang rakus.

“Permainan metafora yang indah membuat Frans mampu melambungkan kenangan dengan pemilihan diksi yang tepat. Terkadang ia marah, tapi ia cukup menyimpan kemarahan secara lembut,” ujar Hanna Fransisca, pemateri yang turut hadir mengupas buku tersebut.

Terlepas dari itu, kita bisa melihat idiom ‘ibu’ yang disebut dalam antologi ini, meski sesekali sungguh-sungguh merujuk pada ibu kandung,

yang ditegaskan dengan sebutan ‘mamak’. Telah kuhitung kembali rerambut jagungmu tak kunjung rampungtak kunjung lekang sampai jantung melepuhangka-angka usia luluh tak bertumpuhseperti menghitung jumlah pasir di tubir lautkami tahu kebaikanmu mengalir selayak sungaikami juga tahu, ombak kasihmu tak usai-usaikesetiaanmu mengental candu/kini, waktu kian penuhnamun rambut jagungmu tak kunjung habis dalam hitungan jumlah/sampai kami lupa mengurai keabadianmu (sajak Surat untuk Mamak).

Budayawan Dahana Radhar Panca Dahana menilai Frans mampu menunjukkan kelasnya pada generasi seangkatannya. Tak mengherankan apabila ia mampu bermain dalam metafora yang khas. “Saya ke sini karena acara puisi itu sering sepi. Kasihan kalau sepi, sastra tak berkembang,” cetusnya.

Terlepas dari keberhasilan meluncurkan buku perdananya, Frans masih harus perlu menjaga kualitas dalam menyajikan sajak-sajak berikutnya. Pasalnya, penyair adalah seorang yang harus menjaga kualitas menulis. Bila tidak, tak bisa dielakkan sang penyair mungkin saja dilupakan zaman. (M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 1 September 2013


Wiji Thukul, Perumpamaan, dan Gagasan

-- Widyanuari Eko Putra

‘’Masihkah aku membutuhkan perumpamaan untuk mengungkapkan ini?’’ tulis Wiji ‘Thukul’ Widodo dalam sebuah puisi masih dalam bentuk tulisan tangan. Puisi ini adalah hadiah dari Thukul kepada Prof Dr WF Werthein pada perayaan ulang tahunnya yang ke-90, sosiolog dari Belanda dan ahli Asia Tenggara.

Puisi ini berhasil dikumpulkan dalam sebuah buku tipis bersampul cokelat, terbitan edisi khusus majalah Tempo (13-19 Mei 2013), berkat bantuan Jaap Erkelens, sahabat Thukul yang juga Direktur Konnklijk Instituut voor Taal, perwakilan Jakarta. Maka dari puisi tersebut, kita pun mafhum, kita bisa memahami Thukul: bagaimana mungkin seseorang sanggup menuliskan sajak-sajak sarat metafora lagi melankolia jika ketertindasan hidup selalu jadi sarapan di setiap paginya?

Maka buku tipis berjudul Para Jenderal Marah-marah: Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian adalah bunga rampai yang menunjukan pergulatan serius, terhadap teks-teks yang terlahir dari kesepian, ketertekanan, kekhawatiran, hingga kekerasan yang Thukul alami semasa pelarian diburu intel penguasa. Puisi tertanggal 1 November 1997 di Jakarta ini, pada akhirnya menjadi semacam penegas, klimaks, dari apa yang Thukul alami sedari proses kreatifnya hinga menjelang akhir tahun 1998. Sebuah masa di mana Thukul menemui babak akhir dalam pelariannya.

Thukul memang penantang abadi. Penentang yang bersuara hampir di setiap bagian hidupnya. Pada puisinya, ia mencipta patron perlawanan anti-penindasan. Ia moncer sebagai penyair perlawanan sejak puisi Peringatan (1986) terdengar lantang di setiap mimbar unjuk rasa, diskusi, hingga pentas teater. Tahun 1987, di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Thukul memproklamasikan ‘sastra ngamen’ dan ‘sastra gugat’. Sebuah kredo tentang bagaimana puisi, seperti isi sajak ‘’Peringatan’’, sanggup menggugat keadaan negara yang diktator lewat kata-kata bertenaga. Kredonya pun mewabah dan menjangkiti siapapun yang mendengar atau membacanya, terutama aktivis, mahasiswa, dan rakyat tertindas. Puisi ini bagai nyamuk bagi penguasa Orde Baru, bersuara berisik dan menggigit. Thukul mendermakan diri untuk perlawanan. Dan sajaknya, hidupnya, hingga seluruh perjuangannya bermuara pada satu tujuan: menentang penindasan!

Perumpamaan dalam sajian sajak-sajak Thukul, hadir meski seperti ‘tak hadir’. Buku setebal tiga puluh tujuh halaman ini menghadirkan perumpamaan tak sekedar akrobat kata. Teks yang lahir adalah kenyataan hidup, refleksi kehidupan namun tak sempat larut pada kontemplasi yang mengutamakan, untuk tidak mengatakan ‘’mementingkan, bahasa metaforis. Dalam puisi Buat L Ch & AB Thukul menulis: pagi itu/ budimu menjadi api/ /tapi aku harus pergi lagi/ mungkin tahun depan/ atau entah kapan/ akan kuketuk lagi/ daun pintumu/ bukan sebagai buron.

Api adalah sesuatu yang menggelora. Api menciptakan gerak, energi, dan cahaya. Api adalah perumpamaan tak berlebihan saat puisi menjelaskan: bukan sebagai buron. Maka ‘api’ adalah segumpal energi yang lahir setelah bersembunyi entah berapa lama. Tanpa memandang keberadaan sejarah hidup Thukul, kita segera tahu bahwa puisi ini berkisah tentang petualangan seorang buron pemerintah, penentang kekuasaan. Perumpamaan yang muncul dalam puisi ‘’Pepatah Buron’’ jadi perumpamaan kritik. Penindasan adalah guru paling jujur/ bagi yang mengalami/ lihatlah tindakan penguasa/ bukan retorika bukan pidatonya. Dan begitulah sebuah perumpamaan bagi Thukul, suara yang tidak terlalu rumit. Suara yang jelas-jelas lahir dari situasi dan kondisi.

Gagasan
Kekuasaan tiran pada akhirnya jadi tema sentris kritik dalam puisi-puisi Thukul. Setiap puisi adalah kelahiran dari apa yang dirasa oleh si manusia pencipta. Toh, ketika Thukul berhasil mengafirmasi puisinya dengan pilihan kata yang, tak lagi ‘keras’, ia tetap mengimbuhi puisinya dengan sebuah gagasan utuh. Simaklah: jilatan matahari/ segarnya udara pagi//alangkah indah negeri ini/ andai lepas dari masa ganas tirani.

Petilan puisi bertajuk ‘’Bagi Siapa Kalian Memetik Panenan’’ ini memberi petunjuk betapa gagasan perlawanan itu pada akhirnya adalah utama. Thukul merasa dirinya sebagai pribadi yang harus memperjuangkan apa yang ia derita. Maka, perlawanan demi diri yang lebih baik adalah utama. Thukul (1994) menulis: ‘’Menulis puisi persoalannya selalu kembali ke persoalan saya sendiri’’.

Jika persoalan hidup adalah puisi, maka perumpamaan adalah sisi yang diolah dari bagian persoalan hidup. Persoalan hidup jadi acuan perumpamaan. Sederet kisah dan tragisme hidup sebagai ‘penentang’ tampak dari sebagian besar puisi yang terkumpul dalam buku Para Jenderal Marah-marah. Keindahan puisi Thukul adalah kehidupan yang ‘nyata’, yang benar-benar ‘hidup’, yang menghiasi setiap puisi-puisinya. Dalam buku ini, kita bakal mendapati kisah dan persoalan hidup Thukul (Para Jenderal Marah-marah, Catatan), penderitaan dalam pelarian (Aku Diburu Pemerintahku Sendiri, Ujung Rambut Ujung Kuku, Di Ruangan Ini yang Bernafas Cuma Aku, Hujan Malam Ini Turun, Bulan Agustus Sudah Tiba, Nonstop 24 Jam), kredo kepenyairan (Maklumat Penyair, Penyair, Meditasi Membaca Buku, Sajak), hingga hubungan antar Thukul dan Keluarga (‘’Peluk Sekuat Cintamu’’, ‘’Dengan Apa Kutebus Anakku’’, ‘’Habis Upahan’’, ‘’Wani’’, ‘’Bapakmu Harus Pergi’’).

Pada mulanya, puisi-puisi wiji Thukul, adalah gagasan. Kita bisa menikmati puisi Thukul, selain etos perlawanan dalam sajaknnya, adalah kesederhanaan Thukul dalam menempatkan apa yang ia alami sehari-hari, ke dalam ramuan puisinya. Siapapun bakal tersenyum menyimak petilan sajak ‘’Para Jenderal Marah-marah’’: Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju./ Celananya tidak. Aku memang lebih/ sering ganti baju ketimbang celana. Atau, sajak berbahasa Jawa yang genit dalam ‘’Warung Kopi Yu Yen’’: yen kadhemen/ mang kemulan/ niki wonten kemul anyar/ kemule saged ngentut/ jenenge Narti! Dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini: jika kedinginan/ pakai selimut/ ini ada selimut baru/ selimutnya bisa kentut/ namanya Narti!

Pada sajak-sajaknya yang lain, gagasan tetaplah yang utama. Sebuah sajak, adalah apa yang menurut Thukul harus disuarakan berdasar segala yang menimpa dirinya. Puisi adalah biografi dan jalan pikiran. Puisi bisa jadi rujukan kuat untuk mengenali dan memaknai laku hidup dan derita hidup yang pernah Thukul alami selama pelarian, di bawah rezim Orba, serta kemiskinan yang melanda hidupnya. Maka ketika puisi berjudul ‘’Sajak’’ (1987), dengan lantang bersuara: sajakku gerakan/ bahasaku perlawanan/ kata-kataku menentang/ ogah diam, maka kata-kata itu sepenuhnya jalan pemikiran.

Apa yang ia tulis adalah apa yang ia yakini.  Bisa jadi, ‘kepergiannya’ yang entah, menjadi bukti bagi gagasan-puisinya. ‘’Kalian bisa bikin tubuhku lebam/ membiru/ tapi tak bisa kalian padamkan/ marahnya kepalan kata-kataku!’’, tulis Thukul tahun 1993. Ia sepenuhnya benar. Meski pada keadaan yang lebih menakutkan ketimbang ‘tubuhku lebam’. Dan, pada titik inilah, kita mesti bertanya, masih perlukah sebuah perumpamaan dipakai demi ‘merias’ puisi untuk menceritakan ‘tubuh lebam’ dan nyawa yang hilang, seperti yang Wiji Thukul alami? n

Bibliografi:   
Thukul, Wiji. 2013. ‘’Para Jenderal Marah-marah’’. Edisi spesial majalah Tempo edisi 13-19 Mei. Thukul, Wiji. 1994. ‘’Seniman Harus Memperjuangkan Gagasannya’’ dalam Jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman, Edisi 2, November.

Widyanuari Eko Putra, Mahasiswa IKIP PGRI Semarang, Fakultas  Bahasa dan Sastra, Progdi, Pendidikan Bahasa Inggris. Lahir di Purbalingga, 25 Januari 1989. Dia pengelola Kamar Baca Pandean Lamper Institut, Semarang. Aktif di Kajian Ilmu Apresiasi Sastra (KIAS) IKIP PGRI Semarang. Beberapa tulisan pernah di muat di Buletin Keris; Buletin Lembah Kelelawar; Suara Kampus; Majalah Vokal; Hysteria; Potret; Edaran [ora] Weruh, Majalah Papirus, buletin Pawon, Suara Merdeka, Jateng Pos, Koran Barometer, Wawasan, Harian Detik, Jawa Pos, Solopos

Sumber: Riau Pos, Minggu, 1 September 2013


Kaleidoskop Musik Seni

-- Bayu Arsiadhi

PERKEMBANGAN ilmu musik yang kini marak menjadi pembicaraan di kalangan akademisi musik adalah usaha pengelompokan ulang suatu genre musik yang berkategori seni. Tiga puluh tahun lalu, para teoritikus beranggapan era Renaisans, Barok, Klasik, Romantik adalah zaman lahirnya musik-musik seni, secara kolektif dikenal dengan istilah ‘klasik’ oleh masyarakat awam. Dari aspek komposisi dan komposer, musik di era ini pun relatif didefinisikan dengan baik. Kini, repertoar (naskah) musik bukan satu-satu parameter yang dianggap relevan. Terutama berpijak pada posmodernisme, semua kategori sedang dalam perumusan ulang.

Praktis, kita bisa berbicara bahwa tango, rock, zapin, joget dan simfoni Beethoven semua sama. Hal ini memiliki sisi positif, karena menganggap semua jenis musik bertujuan sama, dan negatif, meskipun diteliti dengan cara yang berbeda akan menuai hasil yang sama.
Lebih dari sekedar parameter jenis atau genre bagi musik seni. Berbagai jenis musik menghasilkan fungsi dan pengalaman yang berbeda, secara umum dapat dipahami dan dibahas. Mengingat keterbatasan ruang, meski tak mencakup keseluruhan, namun, beberapa konsep berikut ini yang bisa memperjelas.

Mulai dari populer, etnis (zapin, langgam, keroncong, jazz, blues dsb) dipahami sebagai musik fungsional (ada transmisi sosial secara langsung). Sebaliknya, berbeda dengan tradisi musik seni Barat, tanpa terlalu risau apakah bobotnya sudah pantas untuk dijadikan produk jualan. Secara historis, musik fungsional berkomunikasi dengan audiens lebih gamblang dan membumi, sehingga pemikiran penciptanya dapat dijangkau oleh khalayak luas. Sementara musisi non-fungsional (umumnya di kalangan akademis) sering dipuja karena potensinya untuk menimbulkan reaksi kuat dalam khalayak- sarat dengan penolakan dan penerimaan oleh khalayak.

Selain perbedaan fungsi musik, ada beberapa konsep penting yang bisa dipertimbangkan- pengalaman dan respon yang ditimbulkan. Respon berbeda dapat dijelaskan ketika membaca novel karangan Michael Crichton atau Mickey Spillane dengan James Joyce atau Borges. Meskipun salah satu tidak selalu lebih baik dari yang lain, namun karya mereka memberi tanggapan yang berbeda. Karangan oleh dua penulis pertama termasuk cerita besar dan menyenangkan. Buku dari dua pengarang terakhir jauh lebih abstrak, membaca berulang-ulang diperlukan untuk menangkap semua rincian serta konsep abstrak yang disajikan, bagi sekelompok orang pengalaman ini menyenangkan.

Analogi yang sama dibuat ketika memeriksa seni visual. Respon yang timbul dari melihat lukisan pemandangan laut (representasional) dalam sapuan cat air oleh Carolyn Blish, tak sama saat melihat Guernica oleh Picasso. Cat air dapat menyenangkan mata atau bahkan mampu membuat kesan ‘hidup’ suatu ruangan. Pada Guernica, seseorang yang tak terlatih akan sulit menangkap citra abstrak dan penggambaran surealistik suatu peristiwa mengerikan. Melihat berulang kali sangat diperlukan untuk memahami secara rinci, yang mungkin menarik bagi seseorang dan tidak bagi yang lain. Seperti contoh di atas, pengalaman ini tidak lebih baik atau lebih buruk; namun cukup berbeda.

Kasus serupa jika dibuat dalam musik, tanggapan seseorang ketika mendengar musik dari Michael Jackson, Julio Iglesias, Madonna, tidak sama dengan respon mendengar Rite of Spring karya Stravinsky, Svara karya Abdul Sjukur, Symphonie Fantastique karya Berlioz. Kelompok pertama dapat membawa seseorang untuk bergerak dan menari, bernyanyi bersama, atau berbicara dengan teman di cafe, tidak begitu dengan kelompok kedua. Dari karya Stravinsky, Berlioz, Sjukur, seseorang mungkin dapat berasimilasi dan bereaksi setelah menaruh atensi penuh dalam mendengar, sementara ini mungkin tidak terjadi dengan contoh pertama. Sekali lagi, satu kelompok tidak lebih baik dari yang lain, melainkan tanggapan yang diberikan suatu karya dan pengalaman seseorang sangat berbeda.

Setiap contoh terakhir lebih abstrak dari yang pertama (umumnya dipinggirkan dalam realitas kehidupan). Lalu, apakah ini membuat satu pengalaman lebih baik dari yang lain? Saya rasa tidak, karena pengalaman yang lebih abstrak mungkin tampak lebih substantif, meskipun seringkali menimbulkan ketidaknyamanan. Dengan kata lain, aktivitas yang dapat mengundang atensi publik secara luas haruslah tidak biasa, memiliki kesan tidak dapat dilakukan oleh orang awam, dan fakta yang dipertunjukkan membuat kita tercengan. Pada saat yang sama, penerimaan oleh massa, tidak selalu ada sesuatu yang berharga. Banyak contoh di mana penerimaan oleh massa tersirat hal-hal yang mungkin dangkal dan minus nilai.

Apa implikasi dari pandangan ini? Pertama, gaya bukanlah faktor utama ketika mendefinisikan apakah musik seni atau tidak, alih-alih sampai batas tertentu fungsi musik. Sedangkan pengalaman dapat dikatakan realitas terdekat dari kehidupan kita. Maka, jika saya ditanya seseorang tentang jazz, jawabannya, siapa yang Anda maksud -John Coltrane atau Kenny G? Jenis pengalaman apa yang dihasilkan dari musik mereka? Hal yang sama untuk beberapa musisi rock dan pop, apa yang Anda maksud Michael Jackson atau Freedy Mercury? Bagaimana dengan musik fungsional Mozart, Haydn, Beethoven dkk? Apakah ini termasuk hal yang abu-abu? Tentu saja tidak, ada banyak masalah untuk terus dibahas. Beberapa genre dan karya akan sulit dijelaskan, tapi itulah yang menyebabkan berbicara musik begitu menarik.

Terakhir, sebuah kata singkat tentang label musik seni. Beberapa kalangan yang lebih sensitif beranggapan hal itu merendahkan musik lain, tersirat suatu seni lebih tinggi daripada lainnya. Perlu dicatat, pelabelan musik seni berasal dari beberapa lagu yang dikategorikan sebagai lagu seni pada abad ke-19 di Eropa, sebagai cara untuk membedakan lagu-lagu di era lainnya. Tidak berarti bahwa itu lebih unggul dari musik lainnya. Saya pribadi merasa tidak relevan bila musik klasik disebut sebagai musik seni. Bisa dikatakan akibat dari pemasaran massal, di mana istilah “musik klasik” adalah pilihan masyarakat, tak hirau apakah yang mereka bicarakan Bach (pada era Barok) atau Beethoven (pada era Romantik).

Apa yang saya usulkan dalam artikel singkat ini tidak dimaksudkan sebagai tes dan proper dalam upaya mengategorikan musik, melainkan strategi menghadapi fenomena yang menurut saya jelas ada. Hal ini juga, untuk memberikan beberapa konsep filosofis kepada musisi. The Truth is not out there, the truth is inside! jika kita hanya mau menerima kebenaran yang ditularkan dan dibudidayakan ; musik hanyalah rangkaian nada yang dapat membuat kita semua bergerak dan menari, bagaimana mungkin musik diyakini atau dijelaskan secara rasional dapat menyembuhkan orang sakit, menolak datangnya hujan, membangkitkan semangat serdadu yang sedang berperang hingga meruntuhkan suatu sistim kekuasaan politik.

Bayu Arsiadhi, pengajar di Sekolah Tinggi Seni Riau sedang melanjutkan studi di Yogyakarta

Sumber: Riau Pos, Minggu, 1 September 2013