Sunday, August 25, 2013

Iwan Fals dan Pendidikan

-- Beni Setia

LAGU hit Iwan Fals Teman Kawanku berterus terang mendahului kenyataan zaman dengan mengidentifikasi fenomena kuliah asal-asalan, tetapi sukses menjadi sarjana?dengan membeli skripsi. Praktik yang kini terasa wajar cuma dengan PT papan nama, dengan sekadar embel-embel kampus filial yang hanya menyelenggarakan kuliah Sabtu-Minggu. Mirip satu perkemahan pramuka sehingga wajar kalau ditertibkan c.q. UU Sisdiknas, tidak lagi sekadar digarisbawahi (Iwan Fals) sebagai fenomena jual-beli skripsi, yang beredar sebagai gosip tentang ?si temannya teman dari kawanku?.

Barangkali ironi itu yang membuat hit Iwan Fals lainnya, Sarjana Muda, memiliki korelasi intertekstual?tidak ada makan pagi gratis. Kenyataan bila para sarjana kita tidak memiliki keterampilan kerja di satu sisi, sekaligus kompetensi karyawan berkeahlian itu cukup dengan pelatihan singkat. Fenomena yang secara gamblang diidentifikasi Rendra sebagai generasi yang tidak mampu memobilisasi kemungkinan di sekitar, yang sangat berlimpah?lihat Sajak Seonggok Jagung pada Potret Pembangunan dalam Puisi, LSP, Jakarta, 1980.

Tentu saja, prosesi belajar-mengajar yang tidak ditata dalam satuan kurikulum yang bisa mendorong siswa dan mahasiswa sadar akan bakat dan potensi diri, hingga punya kepekaan si wiraswasta inovatif yang kreatif mengeksploitasi kemungkinan di sekitar. Pada gilirannya, apa terkait fakta penghasilan guru minim?seperti dikeluhkan Iwan Fals melalui Oemar Bakri, dan Rendra dengan Sajak SLA?yang ironis sarkastik menempatkan guru sebagai objek pelecehan seksual dari si murid berduit?

Jawabannya ya, setidaknya buat saat itu. Kini, gaji guru relatif tinggi, sebab ada tunjangan profesi nan setara gaji pokok. Namun, apa pendapatan ekstra itu identik dengan level spirit pengabdian meningkat setara si Oemar Bakri? Atau malah?menurut cerita seorang kawan guru?sama sekali tidak berkaitan karena hanya menggugah semangat konsumsi ketimbang fokus mendidik. Mereka tetap abai, mengajar seperti biasanya?tanpa ada peningkatan kuantitas dan kualitas mengajar. ***

KADANG impulsif seperti seniman yang suka improvisasi. Seperti guru PPKN yang memanfaatkan dua jam pelajaran ulangan harian, dengan satu jam mendiktekan soal ulangan yang dicari-cari dan satu jam pelajaran lagi untuk siswa menjawab. Pola improvisasi yang berpindah-pindah kelas sehingga soal tidak pernah seragam dan sulit dikoreksi. Meskipun memang tidak pernah dikoreksi, atau dikoreksi tetapi diabaikan karena seluruh nilai ulangan harian, UAS, dan angka rapor disasar secara improvisatif dengan pengulangan ritmis di atas nilai standar kompetensi yang imajinatif.

Jadi, ide remedial untuk meningkatkan kompetensi siswa itu nonsens?tidak pernah dilakukan. Itu semua bermula dari teknik mengajar tanpa persiapan serta improvisastif?padahal guru harus tertib mempersiapkan apa yang akan diajarkannya via RPP per semester, dengan legalisasi KS.

Ketidakbertanggungjawaban?termin teknisnya: tidak profesional?memicu tindakan otoritarian berlebihan dalam proses belajar-mengajar. Sistem yang sengaja dipersiapkan agar siswa tidak banyak tanya dan protes itu kadang memuncak menjadi tindakan ringan tangan, pelit memberi nilai, atau obral nilai. Tindakan semau gue asal senang sendiri tanpa peduli kepentingan siswa, kualitas kompetensi.

Yang tergerak menjadi sikap tidak profesional, kondisi alumni yang pintar ya alhamdulillah, bodoh ya sudahlah! Hal yang dengan pedih ditulis almarhum I Asikin (guru, sastrawan Sunda) pada cerpen Sandiwara Kahirupan (Sandiwara Kehidupan)?Nu Tepung di Imah Dukun (Yang Bertemu di Rumah Dukun), Pustaka Dasentra, Bandung, 1983. Yang bercerita tentang seorang guru galak suka menempeleng siswa dan yang berkeyakinan laku fisik itu perlu karena sesuai dengan keyakinan: cara terakhir agar siswa yang melenceng bisa diluruskan.

Sekian tahun kemudian, setelah rapat dinas di ujung berung, bertemu Andreas, sang siswa nakal yang pernah dihajarnya, dalam angkot jurusan Cicalengka?Kebonkelapa. Di setengah perjalanan, di Cicadas, saat banyak kawan turun tiba-tiba disalami si Andreas sambil mencopet uangnya.

Ketika sampai di Kebonkelapa, sebelum terus ke Ciparay, Andreas mengajaknya makan di restoran, bahkan mengembalikan semua uang kembalian, yang sebenarnya sisa uang yang dicopetnya, sebagai hadiah. Si guru galak bangga, tetapi bingung ketika duit bekal yang merupakan hasil kasbon ke sekolah hilang dan mau atau tidak mau harus digantinya.

Kekurangajaran itu merupakan manifestasi sebagian?tidak semua?siswa ketika membalas dendam karena (pernah) diperlakukan tidak proporsional di sekolah, baik itu tindakan fisik sederhana atau berlebihan, mungkin juga pelecehan dengan kata-kata, dan tidak mustahil menjadi korban pelampiasan unlike nonmasalah pendidikan. Di titik itu saya teringat lagu Iwan Fals, yang bercerita tentang anak kecil yang menjajakan koran sore dalam gerimis sekitar Tugu Pancoran, Jakarta, mencari uang membiayai pendidikan?tetapi di sekolah dicemooh temannya dan dianggap siswa bermasalah oleh gurunya. ***

PENDIDIKAN tanpa kepekaan humanistik. Hasil pendidikan asal-asalan dari si guru yang mengajar asal-asalan, padahal orang tua siswa serta sebagian dari siswa itu sendiri?sebelum bebas SPP?harus jungkir balik mencari biaya untuk pendidikan. Pas seperti dikeluhkan Iwan Fals lewat lagu Sore Tugu Pancoran dan Engkau Tetap Temanku yang bercerita tentang seorang ayah kuli kelas sandal jepit berkelahi demi mendapat duit untuk biaya sekolah anaknya, membunuh dan dipenjara sehingga si anak tidak berijazah itu terpaksa mencari kerja, saat ditolak dan dilecehkan ia berubah menjadi preman yang gemar rusuh.

Salah kaprah pendidikan yang melahirkan pribadi yang berjeniskan ?TKW susu macan, lulusan SD pengalaman? dalam Nyanyian Preman-nya Katanta Takwa. Di titik ini kita kini bisa bertanya: apa yang salah saat itu bila identifikasi negatif ihwal masalah sosial dari pendidikan di dekade ?80-an dari Iwan Fals, Rendra, dan I Asikin itu melahirkan politikus muda yang gemar beromong kosong dan meraup gratifikasi? Tidak jauh berbeda dari ikon anggota Dewan pemalas yang hanya aktif ketika gajian, seperti yang dicatat secara sinis oleh Iwan Fals dalam lagu Surat buat Wakil Rakyat.

Beni Setia, pengarang

Sumber: Lampung Post, Minggu, 25 Agustus 2013

[Buku] Pasar Gelap Demokrasi

Data Buku
Negara, Pasar, dan Labirin Demokrasi
Ade M. Wirasenjaya
The Phinisi Press, Yogyakarta, 2013
xii, 146 hlm.
NEGARA dan pasar menjadi entitas yang boleh jadi menyajikan pertarungan paling frontal fase neoliberal saat ini. Dalam pertarungan itu muncul berbagai gerakan sosial dari masyarakat. Tidak hanya di Tanah Air, turbulensi sosial terus saja mengiringi segala upaya integrasi negara terhadap rezim pasar global di berbagai belahan dunia. Bahkan, di sejumlah negara Eropa yang makmur, gerakan sosial menentang kebijakan negara untuk melakukan penghematan dan privatisasi terus muncul. Ini menjadi isyarat bahwa tidak mudah membangun harmoni antara negara dan pasar.

Rezim neolib selalu gagal menyembunyikan wataknya yang ambigu: peluang sejarah pada satu sisi dunia nyatanya menjadi tragedi sejarah bagi dunia yang lain. Negara-negara yang makmur dan mampu melakukan integrasi atas struktur pasar dunia menjadi aktor yang sedang merayakan perkembangan itu. Sementara bagi sebagian negara lainnya, termasuk kita di sini, globalisasi seperti meletakkan masyarakat pada labirin yang gelap dan berliku.

Alih-alih menjadi pemain dan aktor yang memiliki peran kuat, sebagai penonton sekalipun barangkali masyarakat kita tak punya cukup punya modal untuk sekadar membeli karcis.

Disharmoni negara dan pasar pada level global berlanjut pada disharmoni pasar dan kelompok-kelompok sosial-politik pada level domestik.
Sebagai sebuah prosedur, kehidupan demokrasi berlangsung sebagai bentuk penyesuaian negara atas arus kiberalisasi dunia. Di negara yang lemah, disharmoni pasar dan negara menampilkan dirinya dalam arena sosial-politik yang ditaburi oleh kelompok-kelompok yang juga disharmoni.
Negara agaknya begitu sibuk melakukan berbagai penyesuaian atas tekanan pasar dunia dan cenderung menjadi administratur finansial internasional. Sementara dalam arena sosial-politik, negara tampil gugup dan cenderung mengalamai kerapuhan (fragile).

Fragilitas negara niscaya menjadi risiko ekonomi-politik yang harus diterima oleh negara-negara yang basis industrinya sangat lemah. Malangnya, kapasitas sosial-politik negara pada tingkat domestik secara diam-diam juga mengalami take-over oleh kekuatan-kekuatan sosial-politik komunal yang mengalami pertumbuhan luar biasa, dalam ruang politik liberal yang secara bersamaan dibawa oleh arus liberalisasi pasar.

Bercampur dengan berbagai sentimen lama—dari agama, ideologi, hingga etnisitas—pertumbuhan kelompok-kelompok itu pada gilirannya akan membuat pasar gagal mengendap dan melakukan pendalaman. Inilah faktor yang juga menjadi penyebab kegagalan pendalaman demokrasi di Indonesia.
Maka, posisi negara di Indonesia pada saat ini justru semakin melemah, bukan saja oleh gempuran rezim ekonomi-politik dunia, melainkan juga oleh semakin meruyaknya aktor-aktor politik komunal di level domestik. Akibatnya, negara selalu terlambat—jika tak ingin disebut gagal—melakukan berbagai konversi yang mampu menggerakkan kekuatan politik di bawahnya secara koheren dan berkelanjutan.

Kegagalan melakukan konversi itulah yang barangkali membuat negeri ini tak pernah berhasil menemukan apa yang juga oleh Fukuyama disebut modal sosial (social capital). Sampai saat ini, upaya merumuskan modal sosial selalu jatuh pada konstruksi sejumlah jargon ketimbang spirit, mendedahkan ritus ketimbang impetus, mencipta dogma ketimbang paradigma.

Kini, agenda besar bangsa ini adalah melakukan pendalaman baik pada aras demokrasi maupun ekonomi. Tanpa pendalaman, demokrasi hanya menjadi ritus yang melelahkan. Sementara ekonomi yang tanpa pendalaman akan kembali mengulang cerita bubble economy yang penuh kepalsuan, membangun kekayaan semu, dan mentalitas negara pengutang. Dan tanpa pijakan kaki yang kuat, globalisasi barangkali hanya berakhir menjadi tsunami.

Sudah sejak lama para pengkritik globalisasi memberikan peringatan tentang jebakan (trap) rezim pasar global terhadap pembangunan yang bisa melemahkan peran negara. Jebakan itu terutama muncul ketika berbagai kebijakan atas struktur ekonomi global dipilih oleh sejumlah negara berkembang. Cerita tentang penyesuaian struktural (structural adjusment) yang dilakukan oleh negara-negara berkembang sejak tahun ‘80-an berlanjut ke penyesuaian-penyesuaian lain pada masa kini.

Dalam isu pemanasan global, misalnya, negara-negara berkembang seolah harus melakukan penyesuaian ekologis (ecological adjusment) atas proyek ekologis negara-negara industri utama, yang secara faktual menjadi aktor terbesar dalam tragedi pemanasan global. Pola seperti ini tampak kuat menjadi tipikal bagaimana globalisasi saat ini bekerja, siapa yang menggerakkannya, dan siapa yang kelak menjadi korbannya.

Kehidupan demokrasi kita hari ini tampaknya mirip-mirip dengan dunia pasar gelap. Di sana aktor dan partai datang silih berganti, mengibarkan partai, memuntahkan iklan dan janji, tetapi kita tidak bisa berharap akan garansi politik dari semua itu. Kanibalisme produk adalah khas kehidupan di pasar gelap. Maka, tampillah aktor-aktor dan elite rekondisi dari partai-partai hasil proses kanibalistik. Aktor dan elite politik yang memiliki otentisitas harus tersingkir karena tidak cukup punya tempat dalam politik yang berbiaya tinggi.

Kekuatan-kekuatan civil society dan media massa yang mampu memberi tafsir kritis senantiasa dibutuhkan untuk mencegah kristalisasi pasar gelap dalam panggung politik negeri ini. Masyarakat harus terus mendapat pencerahan dari kalangan-kalangan kritis supaya tidak mudah terpesona dalam aneka iklan yang bisa dipastikan akan makin mengepung menjelang perhelatan pemilu nanti.

Demokrasi di Indonesia kini tampak memberi ruang bagi negara untuk tampil begitu sibuk. Di satu sisi, negara harus melayani berbagai instruksi kekuatan eksternal. Pada sisi lain juga harus mengakomodasi ledakan partisipasi publik yang dahsyat dan terkadang, begitu liar. Di antara dua tuntutan itu, panorama ironis justru segera terlihat: negara tampak begitu penuh pengkhidmatan pada titah rezim global dan begitu canggung dan gugup saat harus memberi perlindungan bagi berbagai persoalan masyarakat. Arah transisi demokrasi pun semakin mengabur dan tak kunjung terkonsolidasi.

Ditulis dengan gaya esai khas penulisnya, buku ini menawarkan kesegaran gagasan dan perspektif tentang berbagai masalah fundamental seperti kekuasaan, korupsi, gerakan sosial serta kuasa pasar dalam dunia politik kontemporer. n

Imron Nasri, peminat masalah-masalah sosial, politik, dan keagamaan.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 25 Agustus 2013

[Tifa] Melepas Rindu lewat Kanvas

BULAN lebam tampak di atas Kali Ciliwung. Malam baru saja membuka kudungnya. Di bawah deretan rumah-rumah kayu, air terus meninggi dan hampir menenggelamkan rumah penduduk. Degradasi warna gelap dan putih membuat siratan bulan tecermin beda. Keriput dan tak sempurna. Permainan garis abstrak membuat kita harus lebih jeli melihat pantulan bulan yang pas.

Gambaran itu terlihat pada lukisan Bulan di Atas Banjir Ciliwung (65x80 cm) karya Iwan Aswan pada pameran bersama bertajuk Pas Bener 80 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pertengah pekan ini.

Pada pameran tersebut, hadir 10 pelukis/perupa lainnya. Mereka adalah Osoka Kusuma Djaya, Aji Najiullah Thaib, Budi Siswandi, Daryat, Dianthus Louisa Pattiagina, Erwin Utoyo, Frans Teguh Sutanto, Liliek Effendi, Ruli, dan Usdek Zazuli.

Aswan menghadirkan objek sungai dalam setiap karyanya. Sebut saja Ciliwung Banjir (90x75 cm), Bendera Partai yang Menjanjikan (50x70), Mencuci di Pagi Hari Ciliwung (75x125 cm), dan Mandi MCK (70x90 cm).

Semua karya impresif cukup khas. Tengok saja Mandi MCK. Ia hadirkan empat perempuan sedang mandi dan mencuci di pinggir bantaran sungai. Dari empat objek perempuan, ada seorang perempuan yang selesai mandi. Ia menggunakan handuk untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya.

Cermin hidup

Terlepas dari objek sungai dan penghuni di sekitarnya, pameran yang berlangsung pada 18-28 Agustus itu cukup menggelitik. Oka, sapaan Osoka, putra mendiang pelukis kawakan R Otto Djaya itu menghadirkan objek tarian-tarian tradisional secara ekspresif.

Pada karya In Action/Dancer (120x120 cm), ada seorang penari sedang memperagakan sebuah gerakan Tari Cokek atau Tari Jaipongan. Tangan kiri yang gemulai mengayun ke depan dan tangan kanan menyempil. Pada latar belakang objek utama, ada seorang perempuan lain. Seakan menjadi sebuah simbol berupa cermin hidup.

Sesungguhnya, di balik kehidupan sebagai sang penari, ada tugas lain yang ia emban. Mungkin sebagai ibu, pembantu rumah tangga, atau perempuan kantoran. “Objek tarian selalu mengundang imajinasi bagi banyak orang. Saya coba untuk menghadirkan tarian. Tari sangat dekat dengan kehidupan. Bisa untuk memuja Sang Kuasa hingga sajian budaya,” tutur Oka.

Karya lain yang ia hadirkan, antara lain Sepasang Penari (50x70 cm), Dua yang Berbeda/Topeng (50x50 cm), Impian Penari (50x50 cm), Ngrasani/Gosip (50x50 cm), dan Wajah Lesu (100x100 cm).

Oka telah melukis sejak 1965 di bawah asuhan ayahnya sendiri. Namun, lelaki kelahiran Semarang, 14 Juni 1957 itu, baru terjun secara profesional pada awal 1990. Baginya, melukis sebagai terapi jiwa.

Malam itu, Oka dan sahabat-sahabatnya mencoba untuk menggores kenangan. Apalagi mereka semua adalah alumnus (angkatan 80-an) dari sebuah kampus swasta yang sama di Ibu Kota. “Ini sebagai ajang melepas rindu. Sudah lama tak berjumpa sehingga kami baru ngumpul lagi sekarang,” timpal Aji.

Pameran tersebut berhasil memotret kondisi masyarakat bawah. Namun, nafas setiap karya antarpelukis tidak memiliki benang merah yang kuat. Bertolak dari tema sesungguhnya. Terlepas dari itu, 11 pelukis/perupa itu berhasil menujukkan kritik pedas bagi para pengambil kebijakan di negeri ini. (Iwan Kurniawan/M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 25 Agustus 2013

[Tifa] Bidadari Kesunyian

-- Iwan Kurniawan

Drupadi-Drupadi karya keramikus F Widayanto menyimpan kesunyian abadi. Ada tradisi Jawa yang dibalut dengan sentuhan mitologi Yunani kuno.

SUARA keletuk sepatu dua pengunjung perempuan seakan beradu balap. Lamat terdengar dari selingkung halaman sebelum salah satunya melenggang ke arah sebuah karya milik F Widayanto, 60.

Sejurus, suasana pameran itu seakan membawa pengunjung untuk memasuki sebuah dunia tanpa senyum. Hanya ada helaan napas pengunjung. Sesekali itu beradu kencang bagai kereta kencana di sela deretan patung karya Widayanto.

Memang, pameran yang menghadirkan 30 karya bertajuk Drupadi Pandawa Diva di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, pertengahan pekan ini, mengandung unsur tradisi dan kontemporer.

Semua karya berbahan dasar keramik itu terlihat elegan, modis, dan mahal tentunya. Namun, di balik karya-karya yang Widayanto pamerkan, ada sebuah benang merah. Nilai-nilai lokos keindonesiaannya dan mitologi Yunani kuno begitu kental dalam setiap napas karyanya.

Tengok saja karya Mencari Keadilan Drupadi (171x61x90 cm, 83 kg). Drupadi memegang sebuah timbangan keadilan dengan tangan kirinya.

Sementara itu, tangan kirinya dibentangkan horizontal sebahu. Rambut Drupadi menjulur bagai lidah-lidah api ke langit, kusut masai. Sedikit merah keemasan dengan paduan tusuk konde berwarna perak. Pakaian batik Drupadi pun dibuat seakan menyerupai sayap kelelawar terjuntai panjang. Payudaranya menyembul dan sedikit terbelalak.

Begitu pula dengan kemben (kemban)--kain pembebat dada sampai pinggang--semakin membuat objek lebih elegan dan elok dipandang mata. Karya itu diberdirikan dengan mata sedikit melihat ke arah bumi. Kakinya seakan berpijak di antara kantuk dan jaga. Terlepas dari seratusan lebih pengunjung yang memadati arena pameran, setiap karya memiliki arti tersendiri. Mencari Keadilan Drupadi pun mengandung nilai-nilai tentang pencarian.

Dewi keadilan

Karya-karya Widayanto tak bisa dilepaskan dari mitologi Yunani kuno. Drupadi yang memegang timbangan akan langsung menuntun pengunjung untuk berimajinasi ke abad-abad silam tentang dewi-dewi di Eropa Timur.

Personifikasi dari konsep abstrak merupakan ciri khas dari Bangsa Yunani. Itulah yang bisa kita bayangkan bahwa karya berobjek Drupadi itu akan tertuju pada sosok Dewi Themis. Themis kelak sebagai salah satu orakel di Delphi, yang kemudian menjadi dewi keadilan.

Namun, itu sangat berbeda dengan timbangan yang dipegang Drupadi. Dalam penggambaran klasik, Themis memegang timbangan dengan tangan kirinya setinggi bahu, sedangkan tangan kanan membumikan pedang.

Keberadaan Themis cukup penting. Ia melambangkan kesepakatan bersama, bukan paksaan. Tak mengherankan, sang dewi pun selalu menunjukkan adanya keadilan sehingga membuat rakyatnya hidup dalam damai sentosa.

Dari sejumlah literatur, khususnya mitologi Romawi, Themis dipadankan dengan Iustitia atau Justitia, yang juga merupakan dewi keadilan dan hukum. Bahkan, seluruh dunia pun menggunakan lambang timbangan sebagai sebuah cara untuk tidak memihak kepada siapa pun.

Sayangnya, lambang keadilan di negeri ini, misalnya, terkadang digunakan segelintir orang yang memiliki kekuatan--harta, politik, dan adi daya--untuk melumpuhkan kaum lemah.

"Pengaruh patung memang dari Eropa Timur. Anatomi adalah riil budaya Barat sehingga sebagai perupa, saya masuk bagian itu. Saya coba untuk memasukkan Drupadi yang notabene hidup dalam kebudayaan Jawa," ujar Widayanto di sela-sela pameran.

Pada pameran yang berlangsung 22-30 Agustus itu, ada sebuah benang merah tentang perempuan. Perempuan yang Widayanto garap dengan tangannya itu begitu elegan dan super.

Semua karya lelaki lajang itu bukan berupa monumental. Itu lebih kepada simbol tentang kelembutan, kecantikan, kegemulaian, dan kepintaran. "Patung-patung saya tak ada yang kasar dan berteriak. Gerak tubuh yang sensual membuat objek penuh dengan estetika," aku alumnus Jurusan Keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1981) itu.

Objek Drupadi dalam pameran tersebut menunjukkan perempuan sebagai enigmatis. Drupadi mampu menempatkan diri di berbagai latar belakang dengan rendah hati. Dalam mitologi Hindu kuno, Drupadi ialah seorang pancakarya dari lima tokoh utama.

"Kejelian Widayanto terletak pada kemampuan ia mengolah tanah menjadi keramik. Pembakaran yang begitu kuat menghasilkan karya-karya patung yang elegan, sunyi, dan tanpa senyum," nilai Pius Firman, pemerhati seni.

Terlepas dari kesuksesan Widayanto dalam menghadirkan 30 karya berupa objek bidadari sunyi, ada superioritas yang ia tunjukkan dalam karya. Sayang, semua karya kurang menghadirkan nilai-nilai lokal.

Widayanto begitu berpaku pada pengaruh mitologi Eropa dan masih miskin dalam nilai-nilai keindonesiaan. Itu akan membuat kita membayangkan kejayaan masa Michelangelo lewat karya agungnya David yang masih dipamerkan di Galleria dell'Accademia, Florence, Italia. Bedanya, Drupadi adalah Hawa, sedangkan David adalah Adam. (M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 25 Agustus 2013

[Jeda] Makna lewat Repertoar

SUARA sangkakala berkumandang dari depan patung kepala garuda, bagian yang tak terselesaikan dalam pembuatan awal patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Dua pria meniupnya secara berirama.

Sekelompok laki-laki dan perempuan Bali membawa sesajen. Mereka memanjatkan doa dan mengucapkan rasa syukur atas upacara peletakan batu pertama pembangunan patung GWK yang baru.

Secara perlahan, mereka menuruni anak tangga, menuju panggung mini yang dibuat di pelataran luas. Ketut Sumadi yang memimpin ritual mengumandangkan doa dalam bahasa setempat. Semua mata, para pengunjung, termasuk tamu undangan dan wisatawan, tertuju ke prosesi itu. Ketut pun memercik air, melempar bunga, dan mengucapkan doa-doa.

Adegan awal itu membuka pementasan repertoar dengan lakon Garuda Wisnu Kencana di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Ungasan, Bali, Jumat (23/8) malam. Lakon itu digarap pengatur laku Putu Fajar Arcana dan Ersan Amidarto.

Repertoar itu digelar pada acara puncak rangkaian peletakan batu pertama patung GWK yang proses pengerjaannya baru dimulai lagi setelah mangkrak sejak 1997. Pematung sekaligus pencipta patung GWK, Nyoman Nuarta, bertindak sebagai penata artistik.

Penyanyi Tri Utami dan pemain harpa Maya Hasan berkolaborasi membawakan lagu daerah Bali Eda Ngaden Awak Bisa yang mengandung pesan agar manusia selalu rendah hati. Tak lama berselang, 400 penari Kecak muncul dari bawah patung kepala garuda. Mereka membawa obor dan membentuk barisan layaknya naga yang baru saja keluar dari sarang.

Sang naga bertarung dengan seekor burung garuda--diperankan seorang penari perempuan. Sang garuda menang.

Repertoar pun berakhir dengan hadirnya replika patung GWK. Pementasan lakon macam itu rupanya bukan sekadar pementasan megah untuk meramaikan suasana. "Ini menjadi kegiatan progresif yang menginspirasi dalam menunjang ekonomi. Ekonomi bukan sekadar kapitalis, tapi apresiasi. Suatu karya yang baik pasti akan diapresiasi masyarakat," ucap budayawan Taufik Rahzen.

Bagi Taufik, patung GWK yang kembali dikerjakan setelah belasan tahun terbengkalai mengandung makna. "Ini bukan sesuatu yang baru dipetik. Saya melihat pada awal muncul 1996 dan dikukuhkan pembuatannya pada 1997, ada pemikiran mendalam demi sebuah peradaban Indonesia," kata dia seusai pementasan repertoar.

Pementasan repertoar, menurut pengatur lakon, Putu Fajar Arcana, bertujuan menunjukkan makna pembuatan patung GWK yang berupa Dewa Wisnu di punggung garuda.

"Repertoar ini secara keseluruhan menggambarkan pemujaan terhadap kebesaran alam semesta. Kita manusia hanya debu, partikel kecil di dalamnya. Garuda Wisnu ialah simbol harmoni. Pentas ini sebagai bentuk untuk menunjukkan makna dari pembuatan Patung GWK," kata dia. (Iwa/M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 25 Agustus 2013

[Jeda] Merampungkan Lambang Peradaban

-- Iwan Kurniawan

Tiga tahun lagi, Dewa Wisnu di punggung Garuda akan menjulang gagah di Pulau Dewata.

PATUNG RAKSASA GWK SELESAI TIGA TAHUN KEDEPAN. Wisatawan
berfoto di depan karya seniman Nyoman Nuarta berupa potongan patung
Burung Garuda di kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK),
Uluwatu, Ungasan, Bali, Kamis (26/8). GWK merupakan monumen Garuda
Wisnu Kencana yang berwujud Dewa Wisnu duduk di atas Burung Garuda.
Patung raksasa yang tingginya mencapai 126 meter tersebut akan menjadi
sebuah ikon dunia dan landmark baru di Bali. Pembangunan Lanjutan yang
akan dimulai 23 Agustus 2013 ini menelan anggaran tahap pertama sebesar
Rp450 milyar. Alokasi dana ini akan menjadi proyek baru monumen GWK
secara utuh yang direncanakan selesai dalam waktu tiga tahun ke depan.
MI/RAMDANI
EMPAT puluhan laki rapi berjejer, memainkan alat musik gamelan yang dipadukan dengan gong dan seruling. Mereka mengalunkan irama khas Bali secara kompak. Anak Agung Raka, pemimpin Sanggar Hita Buana, sigap mengomandoi para penabuh musik dari barisan depan.

Alunan musik mereka mengiringi upacara peletakan batu pertama pembangunan Patung Garuda Wisnu Kencana di kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK), Ungasan, Bali, Jumat (23/8) sore.

Upakara (sarana dalam upacara adat) disiapkan berupa dedaunan, bunga-bunga, buah-buahan, air, dan api. "Kami menggelar upakara dan ritual agar beliau-beliau (Bhuta Kala, yang diyakini sebagai kekuatan negatif, umumnya diwujudkan dalam rupa mengerikan) tak mengganggu proses pendirian patung GWK ini," tutur Agung.

Seperti banyak hal di Bali, setiap aktivitas diawali upacara adat yang tak terpisahkan dari budaya setempat. Setiap upacara bertujuan memohon berkah agar penguasa langit (angkasa) dan penguasa bumi (pertiwi) memperlancar aktivitas yang akan dilangsungkan. "Kami mengalunkan musik untuk menunjukkan keagungan kepada penguasa langit dan bumi," lanjut Agung.

Segala upaya dan doa rasanya memang dibutuhkan untuk menuntaskan proyek pembangunan patung GWK yang sudah terbengkalai sejak 16 tahun silam itu.

Pembangunan patung GWK pertama kali dilakukan pada 1997. Saat itu, patung diharapkan sudah berdiri utuh pada 2000 sebagai simbol pariwisata Indonesia dan Bali, khususnya. Namun, akibat krisis ekonomi, proses pengerjaannya terhenti hingga Jumat (23/8). Hari itu, peletakan batu pertama untuk melanjutkan pengerjaan patung GWK diselenggarakan. Itu berarti sebentuk patung raksasa akan segera terwujud utuh, menjadi salah satu patung paling tinggi sedunia yang menjulang di Pulau Dewata.

Sebenarnya pada rentang masa terhentinya pengerjaan pun seniman pencipta patung GWK, Nyoman Nuarta, 61, tidak duduk diam. Dia melancarkan langkah-langkah sosialisasi, salah satunya dengan mendirikan GWK Expo di lahan seluas 10 hektare. Di sana, potongan-potongan patung dipamerkan, termasuk kepala Garuda dan separuh badan Dewa Wisnu. Itu yang kemudian menjadi Taman Budaya GWK, sekarang seluas 60 hektare, sebagai wadah beragam perhelatan dan acara meskipun patung GWK belum disusun utuh.

Tetap

Sekarang pengerjaan patung yang dirancang setinggi 126 meter itu, termasuk patung Dewa Wisnu di atas burung Garuda dengan pedestal, sudah dimulai lagi. Proyek itu menelan dana investasi tahap pertama sebesar Rp450 miliar dari PT Garuda Adhimatra Indonesia, anak perusahaan PT Alam Sutera Realty Tbk. Menurut Direktur PT Garuda Harjanto Tirtohadiguno, pihaknya sadar betul akan prospek ke depannya sehingga tidak sungkan mendukung pembangunan patung GWK.

Perupa Nyoman Nuarta memastikan pula potongan-potongan patung yang sudah ada sejak belasan tahun silam itu akan tetap di tempat semula. Sebagai bentuk penghormatan pembangunan GWK tahap awal.

Patung GWK yang baru dan utuh akan didirikan berjarak 300 meter dari posisi sebelumnya.

Patung GWK utuh akan berdiri setinggi 126 meter, lengkap dengan pedestal, dan berada pada 276 meter di atas permukaan laut. Patung dibuat dari tembaga dan kuningan dengan struktur kulit patung berbahan stainless steel dan finishing patina. Berat patung total mencapai 3.000 ton yang dibuat dalam 25 segmen dan 754 modul. "Semua sudah diangkut menggunakan 3.000 truk dari Bandung ke Bali. Besok (kemarin) sudah tiba sehingga sudah proses pengerjaan," jelas Nyoman mantap.

Bukti

Pada kawasan Taman Budaya GWK, patung akan menempati posisi utama yang dihormati. "Kawasan seluas 60 hektare ini akan dibagi dalam tiga zona yang menjadi harmoni dalam konsep tri hita karana, yaitu parahyangan, pelemahan, dan pawongan," terang Ketua Yayasan GWK I Gde Ardika.

Patung GWK akan berdiri di zona parahyangan, yakni wilayah utama yang paling dihormati. Adapun zona pelemahan akan berfungsi sebagai wadah acara-acara budaya, sedangkan pawongan akan mewadahi fungsi-fungsi komersial.

Pada dasarnya, hakikat konsep tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini yang saling berkaitan, yakni hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan.

Pengerjaan patung GWK yang utuh ditargetkan akan rampung pada 2016. "Masih ada tiga tahun. Saya bersama tim akan menyelesaikan dengan semaksimal mungkin," kata Nyoman.

Jim Supangkat, kurator nasional, mengakui pembangunan patung GWK yang baru dan utuh menjadi bukti seniman Indonesia memiliki kemampuan dunia. "Ini akan menjadi lambang peradaban. Saya yakin dengan kemampuan Nyoman sehingga kami dukung agar bisa terselesaikan pada tiga tahun ke depan ini," ucap Jim yang juga menjadi penasihat dalam proyek pembangunan patung tersebut. (M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 25 Agustus 2013

[Jeda] Simbol Indonesia dari Hati

NYOMAN Nuarta, 61, menarik napas dalam-dalam. Matanya terpejam di bawah sorot terik sinar matahari di kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK), Ungasan, Bali. Hembusan angin terasa sejuk di antara bukit-bukit kapur yang memikat mata.

SENIMAN NYOMAN NUARTA: Seniman pembuat patung Garuda Wisnu Kencana,
Nyoman Nuarta di kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK),
Ungasan, Bali, Jumat (23/8). GWK merupakan monumen Garuda Wisnu
Kencana yang berwujud Dewa Wisnu duduk di atas Burung Garuda. Patung
raksasa yang tingginya mencapai 126 meter tersebut akan menjadi sebuah
ikon dunia dan landmark baru di Bali. Pembangunan Lanjutan yang akan
dimulai 23 Agustus 2013 ini menelan anggaran tahap pertama sebesar
Rp450 milyar. Alokasi dana ini akan menjadi proyek baru monumen GWK
secara utuh yang direncanakan selesai dalam waktu tiga tahun kedepan.
MI/RAMDANI
"Banyak seniman yang keluar malam dan berpenampilan bebas. Bagi saya, penampilan seniman itu harus rapi. Kehidupan saya pun kebanyakan dihabiskan di rumah untuk selesaikan proyek ini," tutur Nyoman sebelum prosesi peletakan batu pertama pembangunan patung GWK, Jumat (23/8).

Pembangunan patung berawal di 1997. Harapan saat itu, pada 2000 patung sudah berdiri sebagai simbol pariwisata Indonesia, Bali khususnya. Karena krisis ekonomi, pembuatannya terhenti. Semenjak belasan tahun silam, potongan-potongan patung Dewa Wisnu, yakni tangan, juga kepala garuda, terpisah-pisah dalam kawasan taman budaya.

Buat Nyoman, sebagai kreatornya, patung itu ialah simbol. "Wisnu menaiki garuda merupakan simbol keindonesiaan kita. Ini yang saya buat dengan hati," papar suami Cynthia Laksmi Nuarta itu. GWK berwujud Dewa Wisnu yang dipercaya sebagai dewa pelestari Bali dan burung garuda sebagai lambang negara Indonesia.

Secara utuh, patung GWK berukuran tinggi mencapai 126 meter--terdiri dari patung setinggi 75 meter dan dilengkapi pedestal. "Tinggi patung GWK akan melebihi patung Liberty (Amerika Serikat) dan Menara Miring Pisa (Italia)," kata pemerhati budaya Jean Couteau. GWK akan pula menyaingi patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brasil.

Proyek yang baru digarap lagi setelah lama tak tersentuh ini menelan dana Rp450 miliar untuk tahap pertama dan ditargetkan rampung 3 tahun mendatang dengan konstruksi yang mampu bertahan ratusan tahun. "Saya akan kerjakan secara penuh. Bila tiba-tiba sakit atau pass away, semua sudah ada dalam konsep awal. Patung harus selesai," tegas Nyoman, demi menuntaskan sebentuk simbol Indonesia. (Iwa/M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 25 Agustus 2013

Quo Vadis Sastrawan Digital

-- Nafi’ah Al-Ma’rab

‘’Puisi tidak lagi sederet huruf dan kumpulan kata yang bermakna tetapi sudah menjadi sebuah animasi-bentuk yang bergerak, berwarna, berbunyi, dan berlatar belakang lukisan atau foto (Budianta, 2004:191,Soewandi, 2004:248, Ridwan 2004:253)’’

Memahami Sastra Cyber

Perkembangan arus informasi teknologi internet telah memunculkan banyak perubahan cara berkomunikasi dan pernyajian berbagai bentuk hal dalam kehidupan. Termasuk salah satunya adalah kepada sastra itu sendiri. Tidak bisa ditampik, munculnya berbagai layanan komunikasi jejaring sosial di internet seperti facebook, twitter, miling list dan sebagainya telah mendorong kemunculan sastrawan digital dari berbagai kalangan dan usia. Seolah sastra telah kian membumi, dimiliki dan diminati oleh siapapun dan tidak lagi menjadi sesuatu bahasan yang ekslusif di tengah kehidupan maya yang sangat global dan universal.

Perkembangan teknologi digital telah mendorong kelahiran apa yang sekarang santer dibicarakan orang dengan istilah sastra cyber. Istilah cybersastra, dapat dirunut dari asal katanya. Cyber, dalam bahasa Inggris tidaklah berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan kata lain seperti cyberspace, cybernate, dan cybernetics. Cyberspaceberarti ruang (berkomputer) yang saling terjalin membentuk budaya di kalangan mereka. Cybernate, berarti pengendalian proses menggunakan komputer. Cybernetics berarti mengacu pada sistem kendali otomatis, baik dalam sistem komputer (elektronik) maupun jaringan syaraf. Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa cybersastra adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan komputer atau internet. (Endraswara, 2006:182-183).

Kehadiran sastra cyber telah mampu memberikan ruang segar bagi para sastarawan mula yang selama ini terbelenggu dengan ruang ekslusifme dunia sastra. Para pemula telah mendapatkan ruang khusus untuk mampu menunjukkan eksistensi diri mereka di tengah jejaring komunikasi global tanpa batas yang telah menghilangkan jarak dan sekat antara sastrawan mula dan sastrawan senior. Ini merupakan indikasi positif yang paling digadang-gadang para kalangan muda. Generasi mula seolah mampu menjebol dinding pemisah yang selama menjadi kendala mental para sastrawan mula.

Di satu sisi, kehadiran cyber sastra justru memunculkan kegelisahan pada banyak kalangan. Salah satunya adalah produktifitas yang tidak dibarengi dengan penekanan kualitas terhadap karya-karya yang dilahirkan para penulis mula di dunia maya. Bukan hanya itu, dunia industri penerbitan pun terancam mengalami kerugian finansial yang tak sedikit. Banyak orang lebih memilih menikmati sebuah puisi melalui layar handphone dan laptop dibandingkan dengan harus membeli sebuah buku puisi.

Sebenarnya yang menjadi peranan strategis sastra cyber menurut Theora Aghata adalah bahwa sastra cyber merupakan wahana berkreasi yang mampu mengupdate karya secara singkat sehingga menunjang produktivitas dan mendorong perkembangan sastra selain juga mengembangkan wacana kritis dan asah kemampuan maupun pemikiran. Peran awal hanyalah sebatas penunjang produktivitas, selebihnya kualitas diri akan terpulang kepada bagaimana cara seorang pemula tersebut menyikapi dirinya.

Sastra Cyber dan Komunikasi

Salah satu ciri karya sastra yang sangat penting adalah fungsi komunikasi. Memang benar karya sastra dihasilkan melalui imajinasi dan kreativitas sebagai hasil kontemplasi secara individual, tetapi karya sastra juga ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain sebagai komunikasi. Secara garis besar komunikasi dilakukan melalui: a) interaksi sosial, b) aktivitas bahasa (lisan dan tulisan), dan c) mekanisme teknologi. (Ratna, 2007:297-298).

Pada lingkup pemahaman peran sastra di atas, maka keberadaan sastra cyber memunculkan fungsi menarik tersendiri. Sastra dunia maya telah mampu menghasilkan peran komunikasi yang maksimal secara lahiriah kepada para konsumennya di dunia maya. Bukan hanya itu, dalam tulisan yang dibuat oleh Rulli Nasrullah berjudul ‘’Cyber Culture’’ yang dimuat di Harian Padang Ekspres pada 6 Mei 2007 yang lalu, menurut Rulli keberadaan internet telah mampu membentuk sebuah kultur baru dimana batas-batas geografis, demografis, etnisitas, ras, dan agama, hingga budaya menjadi tersamarkan. Kultur baru tersebut merupakan perwujudan dari keinginan para netter untuk hidup secara demokratis. Tanpa ada intervensi, sikap egois, ingin menyamakan kehidupan dunia maya seperti dunia nyata.

Sastrawan Cyber dan Eksistensi

Ada banyak sekali alasan orang memilih media cyber sebagai tempat untuk melahirkan karya-karya. Beberapa diantara hal yang sering kita temui adalah keinginan para penulis untuk menemukan model baru dalam menjalankan kreativitas. Kejenuhan terhadap tradisi lama di dalam dunia tulis menulis sedikit akan terkurangi dengan adanya dunia maya. Cybersastra akan lebih mewakili keinginan dan daya juang kreativitas, karena masih terbatas yang berminat kearah situ. Daya saing merekapun masih terbatas, sehingga karya seperti apa saja akan semakin diakui eksistensinya.

Ada pula sekelompok orang yang memilih sastra cyber dengan alasan yang sangat dangkal. Mereka ada yang ingin segera mencari popularitas. Lewatcybersastra yang terbatas komunitasnya, sebaliknya diri pengarang dapat mudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, nama mereka tak perlu harus melewati ‘wisuda khusus’. Nama penulis akan terangkat dan segera terkenal ke seluruh jaringan cyber.

Sebuah kesimpulan penting dari uraian sastra cyber bagi seorang sastrawan sebenarnya terpulang pada bagaimana kemampuan seorang sastrawan mula dalam menyikapi eksistensinya. Idealisme penulis merupakan hal penting yang menjadi modal eksistensi seorang penulis pada media apapun ia dilahirkan. Bagaimana kemampuan seorang penulis dalam menjaga kualitas dari karya-karyanya merupakan garis tengah dari persoalan yang ada.

Hal ini sekaligus menjadi keuntungan tersendiri bagi seorang penulis. Sesungguhnya seorang penulis merupakan objek utama yang tak pernah harus bingung dengan kondisi media apapun yang sedang berkembang dan banyak diminati saat ini. Asalkan ia memiliki sebuah idealisme kualitas dalam berkarya, maka dimanapun ia akan mampu tumbuh dan berkembang. Baik di dunia maya maupun dunia nyata. Penulis bukan lah pihak yang harus memikirkan soal kerugian finansial seperti yang dialami para pengelola industri literasi, mereka hanya lah pihak yang seharusnya mutlak meningkatkan kualitas diri dalam melahirkan sesuatu. Maka dengan kesimpulan ini, sudah cukup jelas uraian Quo Vadis (kemana perginya) Sastrawan Digital? Tak lain terpulang kepada sejauh mana idealisme membangun kualitas diri yang dimiliki setiap individu. n

Nafi’ah Al-Ma’rab, Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Riau.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 25 Agustus 2013

Membincangkan Cinta dalam Karya Sastra

-- Desi Sommalia Gustina

CINTA merupakan sebuah persoalan yang acap mengisi takdir kehidupan manusia. Karena itulah barangkali pembicaraan mengenai cinta menjadi topik yang kerap menggoda. Begitupun dalam karya sastra, membincangkan masalah cinta laksana tema yang tak pernah usang. Baik ketika membaca karya yang ditulis di masa lalu, maupun yang terbaru. Hal ini tentu tidaklah mengherankan, karena persoalan cinta merupakan hal yang sangat universal. Di mana setiap makhluk hidup dapat merasakannya.

Namun, kesedihan dan kehilangan selalu hadir dalam karya sastra yang mengusung tema cinta. Simak saja dalam novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, betapa Putri sangat terpukul ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa Nenolelaki yang begitu ia cintai, dinyatakan hilang dan tak pernah kembali setelah terlibat dalam serentetan aksi demonstrasi pada masa Orde Baru. Atau lihat pula dalam Helen of Troy, ketika Helen dipersunting oleh raja, yang menyebabkan Paris berontak, dan kembali merebut hatinya. Atau dalam novel Laila Majnun, di mana dalam novel tersebut digambarkan bagaimana Majnun menempuh cara-cara ‘gila’ demi memperjuangkan cintanya terhadap Laila, perempuan yang ia cintai. Juga dalam Romeo and Juliet-nya Shakespeare, yang justru membuat kecut, dimana adegan percintaan itu malah diakhiri dengan kematian antara kedua kekasih. Meskipun tidak tertutup pula kemungkinan kisah cinta yang berakhir happy ending, seperti dalam kisah cinta Cinderella, dimana mereka hidup berbahagia.

Persoalan mengenai cinta juga dibincangkan oleh Muhammad Subhan dalam novelnya yang berjudul Rinai Kabut Singgalang (FAM Publishing, cetakan 1, Januari 2013). Persoalan cinta dalam novel Rinai Kabut Singgalang (RKS) ini tampil dengan penuh kegetiran, namun sublim. Membaca RKS adalah membaca adegan perjalanan cinta dua insan yang penuh liku. Kisah cinta antara dua anak manusia; Fikri dan Rahima, yang hingga maut memisahkan keduanya tak kunjung bersatu dalam ikatan pernikahan. Mengikuti alur perjalanan kisah Fikri dan Rahima dalam novel ini adalah juga mengikuti persoalan percintaan dua insan yang memberi pelajaran akan pentingnya kesabaran.

Sejatinya yang menjadi batu sandungan kisah cinta antara Fikri dan Rahima dalam novel ini merupakan persoalan yang biasa kita jumpai dalam kehidupan, yaitu tentang perbedaan strata sosial. Dimana dalam novel ini digambarkan Fikri adalah lelaki miskin. Namun, di tengah kemiskinannya Fikri mencoba berdiri sejajar untuk mendapatkan Rahima, sang kekasih hati. Tetapi, bak kata pepatah, kadang mencintai tak berarti harus saling memiliki. Begitupun yang terjadi terhadap Fikri dan Rahima dalam novel ini. Di mana pembaca akan melihat cinta sejati yang tersandung, tersandera intrik-intrik dari para tokoh. Disamping itu, menyimak persoalan cinta dalam RKS ini, pembaca akan menemukan persoalan cinta yang dibalut dengan warna lokal yang kuat, yaitu kebudayan Minang yang matrilineal (garis ibu) melalui tokoh kakak Rahima, yaitu Ningsih, yang memisahkan Fikri si miskin dengan Rahima. Di mana dalam novel ini digambarkan Ningsih merasa berkuasa atas diri Rahima, terutama dalam hal memilihkan jodoh bagi sang adik. Meski di sisi lain, Ningsih tahu betapa besar cinta Rahima terhadap Fikri, demikian pula sebaliknya.

Persoalan cinta memang merupakan salah satu persoalan pokok kehidupan manusia. Sulit ditebak, dan tak mudah dipaksakan. Seperti dalam novel RKS ini, bagaimanapun upaya Ningsih untuk menjauhkan Rahima dari Fikri, namun cinta keduanya tetap menyala.  Sehingga ketika cinta menjelma jadi kelindan yang masuk ke dalam teks-teks sastra, yang tergambar ialah keharuan mendalam, perjuangan tanpa henti dari para pelaku cinta tersebut. Akan tetapi, sejatinya persoalan cinta tak hanya sebatas itu, terkadang cinta, sebagaimana juga yang dijabarkan dalam RKS, juga memberikan gambaran cinta yang universal, tidak saja cinta antara lawan jenis, seperti cinta Fikri terhadap Rahima. Namun juga cinta terhadap sesama manusia. Cinta pada sahabat, misalnya, yang digambarkan begitu tulus dalam novel ini, yakni cinta Yusuf kepada Fikri sahabatnya, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam novel RKS ini pembaca disuguhkan tulusnya jalinan cinta antara dua sahabat, melebihi putihnya cinta antara dua insan yang sedang kasmaran. Memang, sebuah tanya tercipta, di tengah beragam problem hidup manusia seperti hari ini, masih adakah ruang bagi manusia untuk membina persahabatan dengan amat setia? Diantara kesibukan-kesibukan setiap individu dengan persoalannya masing-masing, masih adakah perasaan kasih dan sayang yang begitu tulus dari seorang sabahat seperti Yusuf kepada Fikri? Namun, begitulah, Subhan seolah ingin menunjukkan betapa manusia membutuhkan seorang sahabat yang tulus dan berkelimpahan cinta. Karena sejatinya dalam hidup, setiap manusia memerlukan seorang sahabat yang demikian tulus seperti sosok Yusuf dalam novel RKS ini. Sebab, seorang sahabat yang berkelimpahan cinta, ia akan memiliki bahan baku yang melimpah untuk terus berbagi kebaikan di muka bumi. Dan mereka yang berkelimpahan cinta akan berkelimpahan energi untuk berbuat baik.

Begitupun Yusuf, dimana dalam novel ini digambarkan menjadi sosok yang senantiasa menjaga nyala cintanya terhadap sahabatnya Fikri. Dan, disaat yang sama, pembaca juga menyaksikan, Yusuf yang tengah merawat cintanya pada Fikri sesunggunya ia juga tengah menjaga energi baik dalam dirinya. Lihatlah, tatkala di dalam novel ini digambarkan bagaimana kelaratan dan keterpurukan melanda hati Fikri ketika mendapati penolakan dari Ningsih atas lamarannya terhadap Rahima, berkat motivasi seorang sahabat, diantara hati yang remuk redam itu, Fikri pelan-pelan bangkit, berusaha untuk memahami, mengerti, dan menerima suratan kasih tak sampainya pada Rahima. Ketabahan Fikri kemudian mengubah kenyataan dalam hidupnya, mengantarkannya menjadi seorang penulis novel terkenal dan disukai.

Selain persoalan cinta yang menguras emosi yang dipaparkan dalam novel ini, pembaca juga dihibur dengan serangkaian perjalanan yang digambarkan demikian detil dalam novel ini. Terutama sepanjang perjalanan Serang-Palembang-Jambi-Tebo-Bukit Tinggi. Terlebih dalam hal penggambaran setting lokasi ranah Minangnya yang permai. Pembaca seolah sedang dibawa berwisata oleh tokoh Fikri. Sehingga tidaklah berlebih jika dikatakan RKS seakan menjadi semacam panduan pariwisata bagi para pelancong keluarga. Melalui RSK Subhan menyajikan panorama gambar yang sangat indah. Alam Minangkabau yang digambarkan begitu terperinci seolah membuat pembaca begitu dekat dengan cerita di dalamnya.

Di samping itu, melalui novel ini, hemat saya, Subhan berhasil menyampaikan amanat kepada pembacanya. Seperti halnya Ahmad Fuadi yang berasal dari Kampung Bayur, Maninjau, lewat novel Negeri Lima Menara (Gramedia), menyampaikan pesan ‘man jada wa jadaa’ (yang bersungguh-sungguh akan berhasil) dan buku keduanya Ranah Tiga Warna dengan amanat ‘man shabara zhafira’ (yang bersabar akan beruntung). Di RKS, pembaca akan diingatkan, bahwa bersikap sabar seperti tokoh Fikri akan mendapatkan kebahagiaan tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Di samping itu, melalui tokoh Fikri, secara verbal pembaca diingatkan untuk terus berbagi kepada sesama selama nyawa belum berpisah dari raga. Terlebih lagi novel ini juga menitipkan pesan bahwa kematian adalah sesuatu yang mutlak, dan bisa terjadi dengan kondisi apapun.

Namun, karena tokoh demi tokoh dalam novel ini ‘dimatikan’ oleh sang pengarang, ketika menuntaskan membaca lembaran terakhir novel ini, saya seolah baru saja membaca sebuah dongeng. Begitu.

16 Februari 2013

Desi Sommalia Gustina, lahir di Sungai Guntung, Indragiri Hilir, Riau, 18 Desember 1987. Alumnus Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 25 Agustus 2013

Saturday, August 24, 2013

Membebaskan Bahasa dari Belenggu Kuasa

--  Hanum Fitriah

BAHASA dalam kultur patriarkhi cenderung mengarah kepada penempatan perempuan sebagai objek, karena bahasa dikuasai orde laki-laki. Segala kepentingan disetting agar sesuai dengan kehendak dominasi patriarkhi. Ayu Utami, Maria Hartiningsih dan Gadis Arivia barangkali adalah sedikit diantara orang-orang yang berusaha membebaskan bahasa dari belenggu kuasa laki-laki. Bahasa kemudian diproyeksikan dengan aras kesetaraan gender. Bahwa bahasa yang peka terhadap gender adalah yang tidak menggunakan letupan kekerasan dan eufemisme.

    Ayu Utami misalnya, dalam novel Saman dan Larung, ia menolak menggunakan eufemisme. Apa yang dikatakan sebagai "titit" ia tulis dengan "titit", bukan "alat vital". Bagi Utami, ini bukan semata perspektif kesetaraan gender, namun lebih karena ingin membebaskan bahasa Indonesia dari eufemisme berlebihan. Penggunaan kata "alat vital" justru terkesan erotis dan hegemonik. Pilihan diksi "titit" adalah ekspresi penggambaran atas lampahan sebuah penghinaan. Tidak ada unsur erotis di sana.

    Begitu pula ketika Utami menceritakan kisah penyebutan Adam terhadap organ-organ tubuhnya. Ia menggunakan diksi "puting yang dihisap". Orang lain barangkali menyebutnya sebagai bahasa yang seronok dan tidak layak dihidangkan dalam bahasa tulis, tapi bagi Utami, diksi itu lebih mengutarakan penguasaan perempuan terhadap dirinya sendiri daripada harus diterjemahkan dengan bahasa konotatif berdalih eufemisme ala patriarkhi.

    Taufik Ismail menyebut karya sastra yang menolak eufemisme semacam itu sebagai sastra madzhab "selangkangan". Keterbukaan bahasa dan vulgaritas makna dianggap tak sesuai dengan kultur Nusantara yang mengedepankan etika komunikasi yang lebih "santun". Habiburrahman el-Syirazy justru secara terang menyebut karya itu sebagai karya yang tak punya nilai estetika bahasa.

    Jelaslah, perdebatan di atas muncul karena latar perspektif yang digunakan masing-masing berbeda. Sementara Utami tidak mau terikat oleh norma apapun untuk melakukan humanisasi bahasa; baik dari maskulinitas, feminimitas maupun agama. Intinya, dia ingin mengembalikan bahasa sesuai fitrah asalnya. Karena eufemisme bahasa yang seksis sarat kepentingan jenis kelamin tertentu. Bahasa tidak netral. Karenanya, harus dibebaskan.

    Motif menolak eufemisme adalah menguliti kepentingan-kepentingan seksisme bahasa dan membongkar substansi yang disembunyikan. Ia mengajak untuk keluar dari kesembunyian diri dan keterbukaan kata hati. Makanya, secara normatif, pilihan diksi kata eufemisme cenderung disebut vulgar, bebas, sarkastik dan tidak halus. Ini yang menjadi titik tekan erosi etika dan estetika bahasa dalam eufemisme.

    Padahal, etika juga perlu digunakan dalam kultur komunikasi massa. Dalam sejarah Islam misalnya, orang sekelas Michael H Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh di rangking pertama yang paling berpengaruh sepanjang peradaban manusia. Bukan karena keberhasilan sejarah Nabi melakukan ekspansi misionaris agama yang sukses dalam waktu singkat (23 tahun) semata, tapi karena strategi yang digunakan memang menarik. Termasuk membangun kesetaraan perempuan yang di kala itu tak pernah mendapatkan tempat terhormat di mata masyarakat.

    Toh demikian, cara yang digunakan dalam kerangka membangun kesetaraan gender Nabi tetap menggunakan etika dan estetika bahasa. Ini menjadi tuntutan profesionalitas sebagai Nabi karena estetika bahasa ketika itu sudah menjadi gaya hidup. Status kehormatan seseorang di masyarakat sukuisme Arab ditentukan sejauh mana ia mampu menciptakan karya estetik dalam bentuk puisi syair dan pantun.

    Ketika menyebut alat kelamin (baik perempuan maupun laki-laki), Nabi menggunakan eufemisme bahasa. Ukuran sekarang, mungkin lebih halus daripada eufemisme normatif. Bukan alat vital (Arab: dzakar/farji) yang dipilih untuk mengungkapkan jenis kelamin. Lebih eufimis Nabi menyebutnya dengan ma wara al izar: yang dibalik sarung/rok/jarik.

    Bagi saya, ini lebih etis, estetis dan mengena. Menjelaskan fungsionalitas alat fital, orang tak perlu diterangkan secara gamblang. Hanya dengan simbol, kerja pikir setiap orang akan serta merta secara naluriah memiliki pemahaman sendiri. Ini hanya sebagai tamsil saja. Bahwa membebaskan bahasa untuk dikembalikan kepada fitrah makna asalnya agaknya memang perlu estetika. Bukankah begitu idealnya? n
   
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 24 Agustus 2013

Sunday, August 18, 2013

[Refleksi] Legacy

-- Djadjat Sudradjat
"Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/ Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/ dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu/ Dari mulai tgl 17 Agustus 1945/ Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu/ Aku sekarang api, aku sekarang laut/ Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat/ Di zatmu, di zatku, kapal-kapal kita berlayar/ Di uratmu, di uratku, kapal-kapal kita bertolak & berlabuh" (Chairil Anwar,  "Persetujuan dengan Bung Karno").
                               ***
SEJARAH juga sebuah nostalgia. Sebuah penanda, bahwa di suatu masa, yang jauh, ada peristiwa yang kini jadi renjana. Sejarah sudah pasti tak melulu peristiwa hebat. Bahkan, pada 17 Agustus 1945 yang menyejarah itu, yang jadi mimpi puluhan tahun para pendiri bangsa,  hanyalah peristiwa sepi. Bendera Merah Putih yang dijahit tangan Fatmawati diikat pada tali kusut, dan dililitkan pada sebatang bambu kasar. Teks proklamasi ditulis di atas selembar kertas bersahaja yang disobek dari buku tulis bergaris biru,  dan dibacakan lewat pengeras suara curian dari stasiun radio Jepang. 

"Dan, peristiwa itu tak menimbulkan apa-apa. Aku tidak merasakan kegembiraan.... Tidak ada kata-kata berarti dari kami berdua (Soekarno dan Hatta) yang dapat dicatat dalam sejarah. Juga tak seorang pun dari kami yang memiliki gairah. Kami berdua letih. Dan, ya, mungkin juga sedikit ketakutan, kukira," aku Bung Karno  dalam buku Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams (1965).

Wajarlah Soekarno (juga Hatta) letih. Dua tokoh itu beberapa hari sebelumnya berada di luar Kota Saigon menemui Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi. Sebuah perjalanan penuh drama: dengan pesawat rongsokan yang kapan saja bisa jatuh dan harus menghindari tentara Sekutu yang terus memburu. Sesampai di Jakarta mereka diculik ke Rengas Dengklok oleh para pemuda revolusioner dipimpin Sukarni.Hari itu Soekarno demam tinggi, malaria menyerangnya.

Tapi, revolusi meninggalkan legacy, selain Republik Indonesia tentu.  "Ada masa-masa kesulitanmu berguna dan diperlukan," Bung Karno kerap mengutip Alquran sebagai penguat.  Revolusi yang pahit itu pun menjadi vitamin pagi kaum terpelajar dan seniman. Kita memang beruntung punya Bung Karno, sosok yang sejak muda terus menampa diri dengan bacaan, diskusi, organisasi, perdebatan, perlawanan, kontemplasi, dan terus mengasah kepekaan. Alhasil, ia mampu menjadi poros yang menggerakkan dan pembimbing jalannya perubahan.

Ia tak saja menggali falsafah negara, Pancasila, hasil renungan di bawah alam sunyi yang penuh bintang-gemintang, tapi juga mampu menggelorakan rakyat dalam keramaian dengan gelegar orasi yang menghipnosis. Ia kaya referensi dan kuat dalam pertahanan diri. Ia keras jikalau harus menekan, ia "berkolaborasi" ketika melihat kekuatan diri tak memungkinkan. Ia pemimpin dengan seribu akal. Ia cinta simbol-simbol.

Ia menggerakkan ide untuk menggelorakan patriotisme dengan poster-poster yang menggugah. Semboyan "Merdeka atau Mati" yang amat terkenal, menghiasi ruang-ruang publik masa itu, diambil dari bagian akhir pidato Menggali Pancasila. Juga poster  "Bung, Ayo Bung" yang kondang itu. Bung Karno mengumpulkan para seniman. Affandi membuat gambar. Pelukis Dullah jadi model, Soedjojono meminta penyair Chairil Anwar membuat teksnya. Penyair genius itu, menggoreskan kata-kata sederhana tapi penuh daya pukau: "Bung, Ayo Bung!"  Revolusi pun tak melulu cerita perang para serdadu, tapi juga cerita dan gairah berkesenian.

Dengan pemimpin yang menggerakkan, para seniman pun tak berdiri di luar gelanggang revolusi. Mereka ikut bergelora di dalam. Revolusi punya jejak yang jelas dalam lukisan, sastra, dan lagu-lagu. Revolusi menjadi latar sekaligus spirit para seniman dan  menggetarkan jiwa penikmatnya, hingga hari ini.    
   
Lukisan tema perjuangan karya Affandi, Dullah, Soedjojono, Sudarso, Hendra Gunawan, masih tak lekang oleh zaman.  Sajak-sajak Chairil Anwar, terus dibaca dan digemakan dari generasi ke generasi. Ia menjadi penyair wajib dalam setiap perhelatan bertema perjuangan kemerdekaan. Lagu-lagu karya Wage Rudolf Supratman, Kusbini, Cornel Simanjuntak, Ismail Marzuki, Bintang Sudibyo, Libery Manik, Husein Mutahar,  masih tak tergeser dari keagungan lagu-lagu perjuangan.

Sajak Chairil Anwar yang dikutip di atas bolehlah menjadi "representasi" kedekatan seniman dan dengan pemimpinnya. "Bung Karno! Kau dan aku satu zat, satu urat."  Karena itu, revolusi dan nasionalisme jadi punya sisi yang tak semata penuh darah, tapi juga indah dan penuh getar. Sekarang para elite bangsa seperti hidup dalam dunianya sendiri yang kian menjauh. Ia kering! n

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Agustus 2013

Hipokrisme Sekitar Idulfitri

-- Cucuk Espe

SIMAKLAH perilaku mudik dan balik yang menyita perhatian kita, bahkan gencarnya pemberitaan media massa tentang banyak kasus yang membelit negeri ini, terkalahkan oleh euforia berita migrasi besar-besaran tersebut.

Sebuah tradisi yang hanya ada di Indonesia. Menarik untuk dicermati mengapa mudik begitu fenomenal di negeri ini? Dan apa implikasinya bagi tata kehidupan sosial masyarakat kita?

Mudik merupakan fenomena yang selalu terjadi–dan menjadi persoalan serius—di negeri ini. Sebuah migrasi besar-besaran masyarakat urban menuju tempat asal mereka membiaskan banyak makna, baik makna sosial, kultural, dan religius.

Karena itu, terlepas dari pentingnya membuat regulasi mudik agar aman dan lancar, tidak kalah penting adalah mencermati dimensi sosial-kultural perilau mudik. Sebab, akhir-akhir ini muncul bias fenomena lain tradisi mudik, yakni mudik menjadi ajang unjuk keberhasilan komunitas urban dengan segala implikasi hipokritnya.

Ketika mudik dimaknai sebagai unjuk hipokrisme, persoalan baru pun muncul. Sebelumnya, tradisi mudik memiliki makna sederhana, yakni momentum silaturahmi setelah sekian lama mencari penghidupan di perantauan. Idulfitri menjadi penanda bahwa pulang kampung (baca; mudik) harus dilakukan. Selain memiliki makna religius, meminta maaf kepada kerabat dan orang tua setelah sebulan puasa Ramadan, mudik Idulfitri juga bermakna bahwa sejauh seseorang pergi tetap mengingat kampung halamannya. Cukup sederhana!

Namun, seiring perkembangan zaman dan pergeseran tata nilai global, tradisi mudik tidak sekadar memiliki makna religius saja. Aspek materialisme dan kapitalisasi melingkupi perilaku mudik. Celakanya, mudik pun mengerucut kepada makna hipokrisme sosial. Istilah tersebut saya gunakan untuk mewakili perilaku unjuk “kesombongan” komunitas urban ketika pulang kampung. Nah! Bukankah hal tersebut menjadi realitas yang tak tertolak? Mengapa kaum urban mendadak menjadi komunitas hipokrit di tengah kerabatnya sendiri?

Pesta Materialisme

Ketika tradisi mudik dimaknai sebagai kesombongan-sosial, persoalan pun muncul. Banyak implikasi sosial yang akan muncul, dan besar kemungkinan mengganggu keharmonisan relasi sosial. Sikap hipokrit atau sombong akan mempertegas pemisah antara kaya-miskin, berhasil-gagal, desa-kota. Sebutan dikotomis yang membahayakan keselarasan sosial.

Tak dipungkiri, kaum pemudik–yang berhasil di perantauan—akan mengumbar cerita keberhasilannya. Celakanya, tindak mengumbar ini akan melukai dan mengundang resistensi kerabat di kampungnya.

Beberapa bukti munculnya hipokrisme sosial kaum urban ini semakin nyata terlihat. Misalnya, aksi bagi-bagi uang yang tidak diniatkan sebagai tindak amal menurut aturan agama, semakin sering muncul.

Cermati saja, menjelang Idulfitri ini, semakin banyak “orang kaya baru” yang menggelar pesta materialisme (baca; bagi-bagi uang) di kampung. Tidak sepenuhnya salah! Tetapi akan menghadirkan persepsi kurang sedap pada publik di kampungnya. Selain itu, cermatilah beberapa hari terakhir kita semakin mudah menemukan “gaya kota” di desa. Mulai dari cara berpakaian, bertutur, dan berpikir. Seolah mereka ingin menunjukkan cara perilakunya adalah cara orang yang sudah berhasil.

Saya tidak menyalahkan seseorang merantau ke kota atau memburu kesuksesan di kota-kota besar. Namun, patut disadari bahwa keseluruhan kesuksesan adalah keberhasilan semu. Artinya, kesuksesan dalam makna sebenarnya adalah ketika kita mampu duduk-sejajar dengan kerabat dan berbagi keberhasilan tanpa melupakan akar kultur asal.

Namun, yang terjadi justru kita duduk lebih tinggi dengan sikap jumawa. Bahwa saya dari kota pulang ke desa dan sukses sehingga tidak sama dengan saudara-saudara di kampung. Watak hipokrit muncul karena pergeseran pemahaman kultur besar-besaran.

Mudik telah menjadi bagian kultur Indonesia. Budaya mudik adalah perilaku yang tak tertolak dalam keseluruhan kultur kita. Sayangnya, seiring dengan pendangkalan pemahaman tata nilai kebudayaan, mudik pun mengalami distorsi “pengamalan” (istilah saya untuk aplikasi perilaku sosial).

Jika sebelumnya ukuran keberhasilan terletak pada kebermanfaatan seseorang untuk lingkungan sosialnya, saat ini dianggap berhasil jika telah mampu memenuhi hasrat ego-primifnya, yakni segala kebutuhan pribadi yang diukur dari keter-ada-an materi. Keberhasilan materialistik menjadi anasir utama hipokrisme sosial.

Dan mudik, diakui atau tidak, telah menjadi agen hipokrisme sosial yang mempertinggi kesenjangan sosial. Meskipun dimensi religius masih ada, tetapi menipis dan terkalahkan oleh laku hipokrit kaum urban “pulang kampung”.

Kondisi ini tentu memprihatinkan tetapi seandainya kita atau pembaca esai ini menjadi pemudik, patut disadari bahwa keberhasilan kita di perantauan tak lepas dari peran kerabat di kampung melalui doa dan dukungan moral. Jika demikian, pantaskah kita hipokrit? Mari merenung. n

Cucuk Espe, Penulis dan Peneliti pada Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI)


Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Agustus 2013

[Buku] Mencercap Kenikmatan Bertobat

Data Buku:
Tobat itu Nikmat
Asy’ari Khatib
Zaman, Jakarta
Pertama, 2013
180 hlm.
MANUSIA memang tempatnya salah. Oleh karena itu, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah membuat kesalahan. Kesalahan bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Lebih dari itu, kesalahan bisa saja menimbulkan akibat buruk yang sangat fatal.

Oleh karena itu, kesalahan sebisa mungkin harus dihindari meskipun kesalahan itu tetap tak terhindarkan. Paling tidak, minimalisasi kesalahan akan menjadikan seseorang itu lebih baik.

Namun, kesalahan yang berbuah dosa itu tidak ringan akibatnya. Allah swt. bahkan tidak menyukai hamba-Nya yang berbuat kesalahan (dosa). Namun, manusia adalah tempat salah dan lupa. Oleh karena itu, hendaknya seseorang yang telah berbuat salah atau dosa itu lekas bertobat sebelum dosa menumpuk dan semakin banyak. Tobat dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi perbuatan salah atau dosa menjadi solusinya.

Asy’ari Khatib dalam buku yang bertajuk Tobat itu Nikmat; Kisah Nyata Orang-orang yang Diampuni Allah mengisahkan 50 kisah inspiratif dan reflektif hamba-hamba Allah yang mendapat pengampunan. Di antara para pendosa yang dikisahkan tersebut, bahkan ada yang dosanya hampir memenuhi langit dan bumi. Namun, karena ia bertobat, pintu ampunan pun dibukakan oleh Allah swt.

Kisah-kisah yang terurai secara rapi dan mengalir tersebut memberikan gambaran bahwa dosa sebesar apa pun pada dasarnya bisa diampuni. Setidaknya, dosa seseorang itu diampuni karena dua hal. Pertama, seseorang yang berdosa itu bertobat dengan sungguh-sungguh dan bersumpah tidak akan mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.

Ini merupakan etape awal dari dibukakannya pintu ampunan yang bisa menghapuskan dosa-dosa terdahulu. Etape berikutnya adalah ia harus sering-sering menutup perbuatan-perbuatan dosa yang telah lalu itu dengan perbuatan-perbuatan terpuji dan mulia.

Kedua, sifat belas kasih Allah itu pada dasarnya lebih besar daripada sifat marah-Nya kepada umat. Dengan demikian, dosa sebesar apa pun bisa diampuni oleh Allah jika ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi perbuatan-perbuatan yang bisa menimbulkan kemarahan Allah. Belas kasih Allah sangat luas dan dalam, lebih luas daripada seluruh alam semesta ini dan jauh lebih dalam daripada lautan yang paling dalam sekalipun.

Belas kasih Allah juga berbanding lurus dengan keterbukaan Allah dalam mengampuni para hamba yang mau bertobat. Di sisi lain, itu karena Allah juga memiliki karakter Maha Pengampun. Jika demikian halnya, Allah memang selalu membuka pintu ampunan bagi mereka yang telah berdosa dan berbuat kesalahan. Dosa sebesar apa pun bisa terampuni karenanya.

Hal itu mengilustrasikan bahwa tobat merupakan sebuah hal yang terlampau nikmat. Dengan bertobat, seseorang terampuni dosa-dosanya. Jika seseorang telah terampuni dosa-dosanya, ia akan menjadi bersih dari dosa dan jiwanya akan berhias amalan-amalan mulia yang berpahala. Dengan demikian, jalan menuju surga pun menjadi teramat mudah.

Itulah di antara kenikmatan bertobat jika dipandang dari sisi spiritual-religius. Namun, kenikmatan bertobat juga dapat dirasakan dari sisi psikologis. Sederhananya, seseorang yang mempunyai dosa pada dasarnya ia telah terbebani oleh dosa-dosa tersebut.

Ketika ia bertobat, jiwanya akan tercerahkan. Ketika jiwa si pendosa tersebut telah tercerahkan, ia akan merasakan kenikmatan karena beban-beban dosa yang berat pun luntur dan menghilang sehingga ia serasa mengurangi atau bahkan menghilangkan beban dosa yang hinggap pada dirinya. Beban berat itu pun menjadi ringan, dan itulah kenikmatan yang bisa dirasakan secara psikis.

Konsep tobat yang diajarkan oleh Islam ini pada dasarnya menyiratkan bahwa agama tersebut merupakan agama kasih sayang yang menyukai pertobatan, yakni hijrah dari titik buram menuju titik terang kehidupan.

Selain itu, konsep pertobatan yang menghasilkan kenikmatan tersebut merupakan salah satu bukti bahwa Islam itu merupakan agama yang rahmatan lil alamin, kasih sayang terhadap seluruh alam; termasuk kasih sayang terhadap para pendosa yang mau bertobat.

Orang-orang pendosa ini tentu akan mendapatkan kasih sayang Islam jika ia mau bertobat. Manusia memang tidak bisa terhindar dari perbuatan salah yang mengakibatkan menumpuknya dosa. Namun, tobat harus selalu dikumandangkan demi menebus kesalahan-kesalahan tersebut. Hal itu sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi Muhammad saw. bahwa semua anak cucu Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang bertobat (hlm. 119).

Akhirnya, buku setebal 180 halaman ini menjadi referensi yang inspiratif dan reflektif untuk menggugah kesadaran umat manusia. Terlebih di zaman sekarang ini, antara kebaikan dan keburukan susah untuk dibedakan. Oleh karena itu, tobat harus selalu dikumandangkan agar selalu terbuka pintu rahmat dan ampunan dari-Nya. Dengan begitu, kenikmatan bertobat itu bisa dicercap. n

Lusiana Dewi, pengajar di RA DWP UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Agustus 2013

[Tifa] Sertifikasi Lukisan Hindari Pemalsuan

-- Iwan Kurniawan
   
Sertifikasi lukisan dapat memberikan rasa nyaman bagi kolektor, pelukis, dan galeri. Namun, masih banyak pihak memandang sebelah mata arti sebuah keabsahan.

MARAKNYA pameran karya seni di berbagai galeri hingga pusat kebudayaan menunjukkan seniman Indonesia tak mati dalam berkarya. Mereka memperlihatkan eksistensi dalam meramaikan kancah dunia seni lukis di Tanah Air.

Namun, di balik maraknya pameran, terutama dalam satu dasawarsa terakhir ini, masih banyak seniman hingga galeri menjual karya lukis tanpa sertifikasi lukisan. Hal itu tentu saja bisa merugikan seniman karena karya bisa dipalsukan atau disalahgunakan.

Penelusuran Media Indonesia di beberapa galeri di Kota Jakarta yang menyelenggarakan pameran lukisan menemukan sertifikasi lukisan masih kurang diperhatikan. Para seniman pun terkadang berada di dua sisi mata uang, ingin karya mereka laku dan takut lukisan mereka dipalsukan.

Namun, memang, ada juga galeri dan balai lelang yang sudah menyediakan layanan sertifikasi lukisan. Itu sedikit menguntungkan kedua pihak, baik seniman maupun galeri. Sebuah cara pun ditempuh dengan membagi keuntungan.

Di negara berkembang, sertifikasi lukisan masih menjadi sebuah momok. Pelukis yang memiliki karya-karya cukup banyak di studio atau rumah pribadi sering mengeluarkan sertifikasi lukisan secara sendiri untuk keperluan penjualan. Faktor utama penyebabnya yaitu Indonesia belum memiliki lembaga atau badan sertifikasi lukisan yang dikelola negara.

"Yang terjadi sekarang ini yaitu pelukis mengeluarkan sertifikasi secara pribadi untuk kepentingan bisnis. Ini lebih baik karena bisa memberikan keabsahan karya," ujar pelukis senior Syahnagra Ismail di Jakarta, pertengahan pekan ini.

Untuk menjaga keaslian karya, Syahnagra mengaku mengeluarkan sertifikasi sendiri. Ia membubuhkan cap jempol dan tanda tangan di atas materi. Cara itu dinilai lebih autentik sehingga karya-karya yang dilepas kepada publik tidak bisa dipalsukan. "Cara sertifikasi lukisan seperti ini yang sah sehingga saya lakukan. Kecuali, pelukis yang sudah mati, sertifikasi lukisan dikeluarkan balai lelang atau galeri tertentu," paparnya.

Bila ditelusuri, adanya sertifikasi lukisan juga tak lepas dari permainan bisnis jual-beli lukisan. Hal itu lumrah karena pihak galeri pun ingin meraup keuntungan dari karya-karya pelukis yang sudah memiliki nama dalam jagat seni lukis.

Syahnagra mengaku kesadaran negara untuk melakukan sertifikasi lukisan bagi para seniman masih minim. Berbeda dengan keterlibatan negara-negara di Amerika Serikat atau Prancis. “Karya seni belum dihargai. Hanya orang-orang tertentu saja. Ini yang terjadi dalam dunia lukis kita,” cetusnya.

Hindari pemalsuan

Pendiri Javadesindo Art Gallery Heno Airlangga telah melakukan sertifikasi lukisan untuk menjaga keaslian karya. Sejauh ini lewat galerinya, ia sudah melakukan sertifikasi lukisan untuk karya-karya maestro ternama, di antaranya Basoeki Abdullah, S Sudjojono, Affandi Koesoema, dan Hendra Gunawan. “Untuk karya pelukis sekarang yang masih hidup belum kami sertifikasi. Masih dalam tahap penjajakan dengan beberapa seniman,” akunya.

Lewat sertifikasi lukisan, ada sederet keuntungan yang bisa didapatkan, meliputi eksistensi pelukis lebih profesional, pengabdian sebagai pelukis dalam karier akan lebih dihargai, otoritas pelukis atas karya lukisannya lebih terjaga, bisa mengangkat nilai lukisan, dan kolektor atau pembeli lukisan lebih menghargai lukisan yang besertifikat. “Bisa juga mencegah terjadinya kasus pemalsuan di kemudian hari,” jelas Airlangga.

Proses sertifikasi lukisan di galeri yang ia rintis sejak 1999 itu berkisar Rp500 ribu-Rp1 juta. “Proses ini legal. Ini profesional sehingga kami mengerjakan sesuai dengan standar internasional,” gumamnya.

Pengamat seni lukisan Leonowens Stevan Pratama menemukan sertifikasi lukisan belum begitu berjalan bagus di negara berkembang. Di Indonesia, sertifikasi lukisan pun tak begitu diperhatikan sehingga bisnis lukisan hanya diraup galeri tertentu saja.

“Saya heran, saat mengunjungi beberapa pembukaan pameran, ternyata banyak karya belum disertifikasi tapi dijual secara bebas ke publik. Padahal, sertifikasi lukisan itu berguna untuk menghindari lukisan palsu,” jelasnya.

Tak dapat dimungkiri, Indonesia belum memiliki lembaga khusus sertifikasi yang dikelola negara. Sertifikasi pun bahkan dilakukan pelukis sendiri atau galeri sebagai sebuah tanda sah sebuah lukisan telah dijual dan dialihtangankan kepada penikmat seni atau kolektor.

Leonowens mencontohkan, di Belanda dan Prancis, sertifikasi lukisan menjadi penting, terutama pada karya-karya seniman besar. Semua karya yang dijual dan dilelang memiliki nomor sertifikasi yang jelas karena diurus sebuah lembaga sertifikasi lukisan secara khusus. "Indonesia perlu memiliki lembaga itu yang dikelola negara," jelasnya.

Sertifikat lukisan dapat memberikan rasa nyaman bagi kolektor, pelukis, dan galeri. Dunia seni memang penuh dengan permainan. Karya lukisan itu abadi, tetapi hidup singkat. (M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 18 Agustus 2013

[Tifa] Pesta Teater Remaja Hamburkan Anggaran

PERHELATAN teater menjadi sebuah cermin bangsa ini memiliki kepedulian terhadap seni pertunjukan panggung. Namun, masih banyak kantong budaya seakan hidup tak hidup dan mati pun enggan karena dana yang minim.

Bulan lalu, sebuah ajang terbesar baru saja dilangsungkan, yaitu Festival Teater Remaja Nasional (FTRN) 2013 di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, 3-6 Juli lalu.

Namun, gaung kegiatan itu masih minim karena dilakukan secara diam-diam. Padahal, ajang itu bertaraf nasional karena diselenggarakan Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada festival itu, sebanyak 32 kelompok teater dari 32 provinsi tampil, dengan biaya penyelenggaraan sekitar Rp3 miliar yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Dengan 32 kelompok dan waktu penyelenggaraan yang hanya empat hari, setiap harinya digelar delapan pertunjukan. Semuanya berlangsung di satu tempat/panggung, yaitu di Gedung Kesenian Sunan Ambu.

"Pertunjukan ini bertaraf nasional, tetapi sangat disayangkan karena fasilitas yang disediakan belum memenuhi sebuah hajatan teater. Padahal, dana yang disediakan Rp3 miliar," ujar pegiat teater Arie F Batubara dalam sebuah diskusi di Jakarta, pekan ini.

Ia melihat sistem penyelenggaraan semacam itu hanya melahirkan suatu situasi yang 'memaksa' peserta untuk sedemikian rupa mampu bersiasat terhadap konsiderans waktu dan tempat yang terbatas.

"Ini bukan pertunjukan tari atau konser musik yang secara relatif cukup memungkinkan menyajikan tata panggung generik, melainkan pementasan teater. Dibutuhkan waktu yang lumayan memadai untuk melakukan persiapan sebelum sebuah pertunjukan dilangsungkan," cetusnya.

Kompromi dan pemakluman

Arie melihat, secara umum, 32 pertunjukan pada FTRN tak satu pun yang secara utuh dapat dikatakan memenuhi standar minimal sebuah pertunjukan teater sesungguhnya.

Sebaliknya, karena tuntutan untuk ‘bersiasat’ sedemikian rupa itu, tak sedikit peserta menampilkan pertunjukan ala kadarnya. Setiap pertunjukan dibungkus dengan sederet apologi bernada kompromi dan pemakluman.

Misalnya, festival itu hanya festival remaja. Seakan-akan setiap hajatan yang berlabel remaja, wajar jika selalu serbakurang. Padahal, lanjutnya, jika mau menengok sejarah, ketika Jim Adi Limas untuk pertama kalinya mengadaptasi dan kemudian menyutradarai Badak-Badak karya Ionesco atau saat Rendra dan Arifin C Noer masing-masing menulis lakon Orang-Orang di Tikungan Jalan dan Sumur tanpa Dasar, secara usia mereka masih remaja.

Tak mengherankan, FTRN 2013 sangat wajib dicermati dari aspek tujuan penyelenggaraannya. Jangan sampai itu hanya menjadi ajang proyek pihak-pihak tertentu. FTRN bisa dilihat sebagai cermin sikap negara dalam memandang dan memperlakukan kesenian, utamanya seni teater. “Saya melihat ajang ini masih belum serius sehingga membuang anggaran,” tegas Arie.

Ketua Panitia Pelaksana FTRN Edi Irawan mengaku festival teater remaja itu merupakan agenda acara berskala nasional tahun ini. Ia menilai helatan itu sebagai upaya untuk memberikan wadah kepada teater junior di Tanah Air.

Sayang, kurasi dan pemilihan kelompok teater masih kurang berjalan baik. Salah satu juri FTRN Jose Rizal Manua mengaku penampilan 32 kelompok masih jauh dari harapan. Keseluruhan aktor beraksi rata-rata tak berdasarkan kemampuan.

Persoalan utama yaitu para kelompok teater belum menguasai dasar teater secara maksimal. “Rata-rata pementasan masih kurang. Ini yang membuat ajang ini perlu dibenahi di tahun-tahun mendatang,” nilainya. (Iwan Kurniawan/M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 18 Agustus 2013

[Jendela Buku] Tinjauan Islam soal Tradisi Kawin Lari Suku Sasak

-- Siswantini Suryandari
   
Perlu ada pengkajian kembali tradisi kawin lari (merarik) pada suku Sasak agar mencerminkan hukum Islam.

MERARIK, sebuah tradisi kawin lari pada masyarakat Sasak, Lombok, yang sudah dijalankan turun-temurun. Seorang laki-laki menculik kekasihnya dan membawa lari ke rumah keluarga pria untuk dinikahi.

Tradisi yang disebut merarik itu hingga kini masih dijalankan masyarakat suku Sasak. Namun, buku Merarik pada Masyarakat Sasak, Sejarah, Proses, dan Pandangan Islam, karya Kaharuddin Sulkhad, meneropong tradisi tersebut dari sisi agama.

Sulkhad dalam tulisannya mengaitkan tradisi tersebut dengan Islam sebagai agama mayoritas masyarakat tersebut.

Dalam merarik, menurut pandangan Sulkhad, gadis yang dibawa lari lelaki pilihannya pada malam hari memiliki risiko yang membahayakan.

Saat gadis dibawa lari, dia bisa mengalami masa-masa bahaya, misalnya ada lelaki lain yang tertarik pada gadis itu dan memicu terjadinya pertikaian dengan lawannya.

Di sisi lain, pria Sasak boleh mengencani gadis-gadis yang akan dijadikan istrinya sebelum memutuskan untuk dibawa lari. Akibatnya banyak pria yang mengencani gadis pujaan yang sama.

Seperti pengakuan seorang ibu yang anaknya dibawa lari calon suaminya. Banyak lelaki yang melakukan midang (mengencani) anak gadisnya. Namun, orangtuanya tidak tahu-menahu pria mana yang telah menculik anaknya, dari sekian banyak orang yang telah memidang anaknya.

Kondisi semacam itu sangat umum dijumpai di masyarakat Sasak. Shulkad meninjau tradisi itu lewat Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Sasak dan Lombok pada umumnya.

Tidak ada pinangan

Ada beberapa hal yang memang bertentangan dengan agama. Dalam buku setebal 172 terbitan Penerbit Ombak itu, Shulkad melihat dalam tradisi merarik tidak ada proses pinangan atau lamaran. Alasannya, anak gadis bukanlah sirih, sehingga calon suami tidak perlu meminang atau melamar di depan orangtuanya.

Kemudian, orangtua gadis tidak tahu-menahu soal siapa yang membawa anaknya. Dengan kata lain, orangtua tidak mengenal calon menantu.

Dalam proses pelarian, gadis yang dibawa pergi berisiko mengalami kekerasan fisik, pelecehan, dan hal lain yang cukup membahayakan. Banyak persoalan yang terjadi setelahnya. Misalnya saat pernikahan, pihak perempuan meminta adanya wali nikah (pisuke). Namun, tidak semua calon menantu dan besan bersedia atau setuju.

Bila pasangan tersebut menikah, barulah mereka mengunjungi rumah pihak orangtua perempuan atau disebut nyongkol. Namun, tulis Sulkhad, perlu ada pengkajian kembali mengenai adat perkawinan Sasak tersebut. Penulis yang kini sedang merampungkan studi S-3 bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menyarankan agar merarik bisa mencerminkan hukum Islam, yakni dalam pernikahan harus ada lamaran. Pihak keluarga pria meminang gadis di rumah keluarga perempuan.

Seluruh elemen masyarakat termasuk tokoh agama harus ikut terlibat dalam melestarikan adat merarik yang sesuai dengan hukum Islam. Demikian juga saat pernikahan harus ada wali dari perempuan.

Menurutnya, adat merarik yang sudah dilakukan turun-temurun bisa tetap dipertahankan asalkan faktor-faktor yang menimbulkan pergeseran nilai tradisi diperhatikan sejak dini. (M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 18 Agustus 2013