Wednesday, December 05, 2012

Jurnalisme Kebudayaan: Wartawan Harus Jadi Pakar

JAKARTA (Lampost): Anekdot tentang wartawan yang tahu sedikit tentang banyak hal segera berakhir. Ke depan, wartawan harus menjadi pakar di bidang liputannya. Ketua Umum PWI Pusat Margiono mengatakan tuntutan terhadap wartawan semakin besar.

Wartawan menjadi tonggak perubahan dalam masyarakat, sehingga wartawan harus menjadi penyampai informasi yang benar. ?Wartawan tak cukup lagi memahami semua secara umum dan global, tapi harus mendalam, spesifik, dan detail,? ujar Margiono saat memberikan sambutan pada pembukaan Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK), di Hotel Century Park, Selasa (4?11).

Pemahaman mendalam ini berkaitan dengan pembentukan pola pikir yang benar dalam melihat dan menyelesaikan setiap persoalan dalam masyarakat. Tuntutan inilah yang mendorong PWI menyelenggarakaan SJK.

Menurut dia, sekolah ini bukan untuk mengajarkan wartawan mendalami seni, tapi lebih kepada membentuk pola pikir kebudayaan kepada wartawan pemula. ?Melalui sekolah ini, wartawan akan paham tentang perubahan kehidupan masyarakat, mulai dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kebudayaan juga berkaitan dengan kebiaasaan, kreativitas, dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat,? ujarnya.

Margiono menilai sekolah jurnalistik umum di bangku kuliah tidak lagi cukup untuk melahirkan seorang calon wartawan yang berkompeten. Karena itu, ke depan PWI juga akan menggelar sekolah jurnalisme olahraga, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. ?Ke depan, seorang wartawan harus menjadi pakar di bidangnya,? ujar Margiono.

Secara resmi SKJ dibuka oleh Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Gatot Gautama. Sekolah ini diikuti wartawan dari 18 provinsi dengan beragam latar media, di antaranya harian Lampung Post, Waspada, Analisa Medan, Padang Ekspress, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Bernas Jogja, Palangka Post, Lombok Post, Antaranews.com, dan majalah Teras.

Pada hari pertama, Edi Sedyawati menyampaikan materi tentang sejarah kebudayaan. Dilanjutkan Mudji Sutrisno tentang filsafat seni; Bambang Rudjito tentang tradisi, nilai budaya, dan kepercayaan; serta R.M. Tedjo Baskoro menyampaikan materi Undang-Undang Hak Cipta.

Sekolah Jurnalisme Kebudayaan ini juga diisi wartawan senior di Indonesia, seperti Arbain Rambe, Hendry Ch. Bangun, Bre Wardana, Efix Mulyadi, Wina Armada Sukardi, dan Yusuf Susilo Hartono yang sekaligus direktur SJK. (RIN/S-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 5 Desember 2012

No comments: