Sunday, April 08, 2012

[Jejak] Dasri al Mubary, Tunak Mengasuh Teater

PERJUMPAANNYA dengan penyair Riau Ibrahim Sattah menjadi pertemuan yang menentukan bagi Dasri al Mubary. Bahkan dia langsung bergabung di Bengkel Teater Bhayangkara (BTB) asuhan penyair sekaligus teaterawan itu. Hingga akhir hayatnya pada 2006 silam, Dasri tidak pernah berhenti menulis karya-karya sastra dan membina teater pada generasi di bawahnya.

Dasri al Mubary

Dasri lahir di Kota Bertuah Pekanbaru, 4 Desember 1958 dengan bakat seni yang cukup cerdas. Dia tidak saja menulis puisi, cerpen tapi juga naskah drama yang langsung dipentaskannya. Tiga naskah dramanya berjudul Lancang Kuning Atawa Siti Zubaidah, Jerit Tengah Malam dan Obladi Oblada telah pula dibukukan dengan judul Obladi Oblada.

Selain itu, sebagai dosen Dasri juga aktif membina mahasiswa-mahasiswi FKIP Universitas Riau dalam grup Teater Batra dan menyusun banyak cerita rakyat Melayu Riau, di akhir-akhir masa hidupnya. Karya-karya lainnya, seperti artikel budaya, esai dimuat dalam berbagai media massa terbitan Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Lampung, Medan, Padang, Jambi, Bengkulu dan tentunya Riau sendiri.

Karya-karya sastra beliau juga telah diterbitkan dalam antologi puisi Dakki (1981), Lena bersama Temul Amsal (1982), Nyanyian Kaki Langit (1990), Syair Orang-orang Pinggiran bersama Temul Amsal (1992) dan Zikirhari (1999).

Perjalanan Dasri al Mubary dalam dunia teater dapat dirunut dari pendirian Sanggar Teater Batra-Universitas Riau. Pertengahan 1980-an, ketika stagnasi aktivitas mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, aktivitas mahasiswa bahasa dan sastra digiatkan oleh beberapa aktivitis, antara lain: Dasri al Mubary, Temul Amsal, Al-azhar, Syafruddin Saleh Sei Gergaji, Iskandar Malun dengan mendeklarasikan lahirnya sanggar Sastra dengan produksi kegiatan antara lain: mengadakan teater secara kontinyu, praktikum sastra, Festival Teater Mahasiswa, Hoppla dan lain sebagainya.

Para aktivitis sastra ini kemudian mendirikan grup teater di luar kampus, antara lain: Dasri al Mubary dengan BTB-nya, Al azhar dengan teater Republik, dan Temul Amsal dengan teater Gema. Dari perkembangan teater itu, hanya BTB yang bertahan hingga kini. Sedangkan kedua grup teater lainnya, raib ditelan perjalanan waktu.

Pada 1988, ketika aktivitas bersastra di kampus Bahasa dan Sastra Indonesia sedang stagnasi dan hanya dengan praktikum sastra, Lapasita bersama Jonaidi Alwi, Musrial, dan S Riadi mendeklarasikan Sanggar Teater Batra. Sanggar Teater Batra ini kemudian melakukan aktivitas teater di kampus, dan ke luar kampus dengan membawa atribut Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Riau. Pada 1990, ketika Dasri al Mubary kembali dari sekolah di Universitas Padjadjaran Bandung, mengajak beberapa mahasiswa untuk mengembangkan kesenian di kampus untuk lebih baik.

Kemudian lahirlah grup KSTKF yang dipimpin Eriyanto Hadi. Namun, aktivitas mereka di luar kampus bergabung dengan grup teater BTB pimpinan Dasri al Mubary. Dengan demikian aktivitas berkesenian bertambah semarak karena ada saingan sehat antar aktivis berkesenian. Grup teater ini juga mentas di beberapa kota di Sumatera. Sementara Sanggar Teater Batra juga mencoba untuk memperkenalkan dirinya ke luar dari kampus, sampai ke Melaka (Malaysia) pada 1993.

Meskipun Dasri telah tiada, aktivitas Teater Batra di FKIP Universitas Riau masih terus bergeliat. Walaupun beberapa tahun belakangan mulai redup.(fed)

Sumber: Riau Pos, Minggu, 8 April 2012

No comments: