Sunday, February 24, 2013

Ideologi dan Kesadaran Sastra

- Iwan Kurniawan

PENIKMAT karya sastra, khususnya novel, pasti sudah tak asing lagi dengan sebuah novel yang cukup menyita perhatian dunia kesusastraan Indonesia, Atheis, karya Achdiat Karta Mihardja (1911-2010).

Bila membacanya kembali, kita akan mengingat roman yang menggunakan tiga gaya naratif. Tentu saja tokoh utama, Hasan, seorang muslim muda, dibesarkan untuk berpegang pada agama. Namun, Hasan meragukan agamanya sendiri setelah berurusan dengan seorang sahabat penganut Marxisme–Leninisme dan seorang penulis penganut nihilisme.

Ada konflik yang membuat novel tersebut tetap laik dibaca hingga saat ini. Dengan mencermati proses penulisan novel tersebut saat Achdiat berusia sekitar 37 atau 38 tahun, tak mengherankan pada usia itulah kebanyakan penulis biasanya menemukan jati diri.

Dalam novel tersebut tersuguh sekelumit persoalan. Terutama, tokoh Hasan yang terpaksa harus menanggalkan status keagamaan lahiriahnya. Apa yang dipikirkan Achdiat menjadi salah satu hal menarik yang patut dikaji dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam teori sastra yang ada.

Tentu saja, dalam novel tersebut, ada ideologi yang ia masukkan secara terperinci. Persoalan Marxisme–Leninisme begitu kuat. Entah ia sengaja atau tidak untuk menunjukkan sebuah perlawanan lewat karya sastra. Apalagi, latar belakang Achdiat yang flamboyan itu adalah seorang sosialis.

Memang, akan sulit meletakkan karya sastra secara bebas nilai. Itu mungkin beberapa teori sastra yang terlahir dalam semangat filsafat positivisme, filosofi yang mendukung objektivitas dan netralitas keilmuan.

Teori struktural, misalnya, dalam kadar tertentu memang tidak berpretensi untuk membuka peluang subjektif pengkaji dalam menganalisis karya sastra. Namun, kita tentu saja tahu bahwa kritikan dan timbangan sastra mutlak dilakukan, baik dikaji secara ilmiah maupun sebatas diskusi ala warung kopi.

Novel Atheis menunjukkan ada sebuah pemberontakan dalam jiwa penulis, terutama pada ideologi sebagai seorang penganut sosialis hingga dimasukkan ke novelnya.

Berbeda dengan Achdiat, novel Maluku Kobarkan Cintaku (2010) karya Ratna Sarumpaet mengangkat konflik SARA di Maluku. Namun, ada sebuah kesamaan, yaitu Achdiat dan Ratna begitu berani menghadirkan pandangan ideologi secara nyata dalam karya masing-masing.

Benang merah yang ada yaitu Achdiat menghadirkan konflik batin, sedangkan Ratna menghadirkan konflik sosial. Ratna mampu memberikan sebuah alur yang sangat menggugah. Namun, ia belum begitu berani dalam menunjukkan ideologi secara nakal.

Persoalan sedikit jelas saat Ratna memasukkan tradisi nenek moyang orang Maluku, yaitu pela gandong, dalam novelnya. Itu menjadi sebuah resistensi yang mampu membawa sebuah paradigma baru pada kebinekaan di Maluku.

Pertarungan

Persoalan akan sebuah eksistensi begitu kuat dalam karya sastra. Di balik itu, tentu saja ada pertarungan ideologi untuk menghadirkan konflik dan alur. Walau hanya bersifat fiksi, emosi yang disajikan seorang novelis terbukti lebih lama membekas.

Dalam masyarakat modern, yang juga memengaruhi pribadi sastrawan, ciri perseorangan dalam karyanya biasanya ia memiliki ciri khas tersendiri.

Setiap pengarang pun berusaha untuk tidak menciptakan atau membuat sesuatu yang telah dilakukan pengarang lainnya. Mereka akan malu karena akan dicap sebagai plagiator.

Bagaimana dengan ideologi dalam sastra? Tentu saja, pengarang adalah seorang manusia, bukan dewa. Tanpa disadari, kerap kali ada sastrawan yang mencari sebuah ideologi lewat tokoh yang diciptakan.

Kini, teori-teori sastra terus berkembang. Persoalan objektivitas dan netralitas keilmuan mulai dipertanyakan. Kritikus sastra pun sudah mulai lupa pada jati diri mereka sebagai seorang yang menilai dan menghakimi secara objektif.

Untuk itu, kehadiran kritikus dalam ranah kesusastraan dapat menjadi ‘penjaga’ agar karya-karya sastra yang terlahir dari sastrawan dapat dikaji dan dikritik secara profesional.

Terlepas dari ideologi dan kesadaran sastra, kehadiran sebuah novel mungkin akan lebih diminati bila dibumbui dengan paham-paham yang ekstrem. Itu menjadi mengasyikkan karena sastra dapat menjadi sebuah wadah pembaruan. Menuangkan ide-ide penuh fantasi dan keliaran. (M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 24 Februari 2013

Kala Penyair Merindukan Rasul

-- Iwan Kurniawan

Taufik Ismail membacakan puisi religius dengan khusyuk, Ahmadun berapi-api dalam mengingat Sang Khalik.

BACA PUISI: Sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda saat membacakan sebuah puisi di Taman Ismail Marzuki, Selasa (19/2). (MI/ANGGA YUNIAR)

SAMBIL merapikan pecinya, penyair Taufik Ismail, 77, melangkah perlahan dari sudut kiri deretan kursi penonton menuju ke sebuah panggung. Wajahnya masih terlihat segar malam itu.

Tubuhnya yang tua sudah sedikit membungkuk, tapi panggilan jiwa untuk bersajak seakan tak pernah lekang. Sesekali ia terbata-bata saat berbicara. Sesekali pula ia tersenyum ranum.

Kala tampil membacakan sajak pada Kongres Internasional Nabi Muhammad SAW dalam Literatur Puisi Persia dan Melayu, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pertengahan pekan ini, Taufik begitu menjiwai setiap lirik demi lirik.

Malam itu, Taufik menyiapkan empat puisi untuk dibacakan. Keempat puisi itu ialah Janganlah Kiranya Ditutupkan Cahaya Quran, Rasulullah Menyuruh Kita, Mengenang Awal Sejarah Kita, dan Rindu Kami Padamu, Ya Rasul.

'Pada malam kedua belas Rabiul Awwal bulannyaEmpat belas abad silam masanyalahirlah sang bayi sangat utama Yang telah ditunggu-tunggu oleh jagat semesta raya dan seisinya....'

'Dua puluh tiga tahun dilaksanakan Di Mekkah dan Madinah sebagai permulaan Akhirnya ke seluruh penjuru dunia membawa perubahan....' Taufik lantang membacakan karyanya itu berjudul Rindu Kami Padamu, Ya Rasul.

Gaya pembacaan sajak di atas panggung cukup sederhana. Dengan pakaian batik rapi, ia tampak santai. Itu menunjukkan Taufik adalah seorang penyair Angkatan 66 yang masih memiliki karisma dalam dunia kesusastraan.

Selain Taufik, ada pula sederet penyair seperti Jamal D Rahman, Ahmadun Yosi Herfanda, Fatin Hamama, dan Abdul Hadi WM. Ada pula penyair asal Malaysia Mukhari Lubis dan Rabani dari Iran.

"Lewat kongres ini, kita ingin mendekatkan budaya antara Indonesia dan Iran lewat kesusastraan. Bangsa Persia pernah masuk ke Tanah Melayu dalam menyebarkan Islam," ujar Taufik seusai pementasan.

Malam itu semua penyair membacakan puisi-puisi bernapaskan Islam dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Setiap sajak yang keluar serupa doa-doa dan merindukan Sang Pencipta.

Fatin membacakan Maulid dengan penuh penjiwaan. Suaranya terdengar lantang dan konsisten. 'Dibiarkannya api kobarTak dihiraukannya kota terbakar Kakek yang agung Dengan takzim penuh damai Menanti saat-saat hadir Lahirnya cucu si bayi yatim'.

Pujian

Pembacaan puisi penyair Indonesia hingga Iran menunjukkan ada sebuah kesamaan. Para penyair mencoba mendekatkan diri lewat setiap helaan napas.

Bila dicermati, puisi pujian kepada Nabi Muhammad di dalam sastra Arab disebut mada'ih al-nabawiyah yang kemudian disebut mada'ih.

Meski para penyair telah menulisnya, kebangkitan genre itu dalam kesastraan Islam bermula pada abad ke-12. Dalam sastra Arab, hal tersebut tampak dalam Qasida al-Burda karya Syekh al-Busiri. Adapun dalam sastra Persia tampak pada sajak-sajak Syekh Fariduddin Attar. Sampai pada abad ke-18, penulis mada'ih umumnya adalah kaum sufi. Tak mengherankan apabila genre ini digolongkan sebagai bagian dalam kesusastraan sufi.

"Politik memecah belah, tetapi budaya menyatukan. Pengaruh budaya Persia di Indonesia begitu kuat. Ini yang membuat persahabatan lewat budaya begitu erat," tutur Abdul Hadi saat mengomentari acara tersebut.

Pembacaan puisi malam itu ditutup dengan penampilan Ahmadun. Ia begitu lantang membacakan sajaknya, Musang Berbulu Agama. Lirik yang ia baca terdengar jelas.

'Jika musang berbulu domba Berbahaya bagi anak ayam Yang tak tahu kapan akan diterkam Jika musang berbulu agama Berbahaya bagi semua anak bangsa Yang tak sadar tiap hari dimangsa Karena si musang berpeci dan fasih mengucapkan ayat suci....'

Sebagai karya sastra, mada'ih juga ditulis para penyair nonmuslim, khususnya di India. Banyak penyair Hindu melahirkan mada'ih tanpa terlepas dari pengaruh sastra sufi seperti penyair Rumi dan Hafiz.

Malam pembacaan puisi lintas bangsa tersebut terasa sangat khusyuk. Para penyair mencoba mengekspos kerinduan kepada Sang Khalik. Bahkan, Ahmadun membacakan sajak lainnya, Tuhan, Aku Berlindung Padamu.

"Tuhan aku berlindung padamu. Dari godaan tuhan-tuhan baru. Yang bermunculan di sekelilingku...," teriak Ahmadun seraya mengepal tangan kanannya.

Pembacaan sajak religius selama 2 jam lebih memberikan sebuah arti kekhusyukan dalam meneladani Nabi Muhammad. "Ini membuat saya begitu dekat dengan teman-teman di sini," pungkas Rabani.(M-1)

Sumber: Media Indonesia, Mingggu, 24 Februari 2013

[Buku] Dilema Islam Politik


Data buku
Islam Politik Sebuah Analisis Marxis

Deepa Kumar

Penerjemah: Fitri Mohan

Resist Book, 2012

xx + 74 hlm

MATERIALISME historis sebagai salah satu pintu masuk melihat perkembangan sejarah masyarakat, tanpa terkecuali pada Islam, menarik untuk dicermati. Berpijak pada kondisi-kondisi material, analisis terhadap perkembangan sejarah masyarakat Islam memunculkan keterpisahan pelbagai peran. Peran yang dulu diampu oleh Muhammad, dalam perjalanannya menurut kenyataan (secara de facto) mulai terpisah.

Sewaktu masih hidup, semua peran utuh berada pada diri Muhammad, baik urusan agama, sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Pasca-Nabi wafat, muncul beragam konflik. Secara singkat, mulai dari siapa menjadi pengganti beliau, peristiwa tahkim pada perang Siffin, luas wilayah kekuasaan Islam, sampai pada masa kemunduran peradaban Islam di Eropa. Dari pascawafat Nabi itulah peran mulai terpisah, terbagi.

Kemunduran peradaban Islam, pada pihak lain, Barat (Kristen) mencapai puncak, setelah keluar dari Abad Pertengahan. Kegemilangan peradaban Islam dahulu, kini pada masa modern, mulai bergolak. Islam muncul sebagai kekuatan politik atau disebut sebagai Islam politik. Islam politik ditengarai sebagai bentuk perlawanan dan penolakan Islam terhadap peradaban Barat yang sekuler.

Orientalis menyebut bahwa Islam politik merupakan bentuk keterpisahan yang alamiah, disebabkan oleh kondisi material yang menyelimuti perkembangan sejarah masyarakat Islam. Preseden paling menonjol adalah tragedi 11 September 2001 dan tesis Samuel Huntington. Menambah deretan bagi Islam untuk bergerak melawan. Lantas, bagaimana melihat perkembangan Islam berangkat dari kondisi-kondisi material yang melatarbelakangi perkembangan sejarah masyarakat Islam?

Islam Politik Sebuah Analisis Marxis, (judul asli, Political Islam: A Marxist Analysis) karya Deepa Kumar, secara padat menjelaskan kondisi demikian di atas. Bahwa, perkembangan peradaban Islam tidak melulu berlandaskan pada nilai ajaran, tetapi pula oleh kondisi material yang mengiringi sekaligus juga menuntut untuk menjaganya.

Coen Husain Pontoh dalam kata pengantar buku, memberi andil jalan masuk paparan secara singkat materialisme historis, metode Marx. Masih dari kata pengantar, diketahui pula perhatian buku Kumar ini ada tiga poin. Pertama, tesis tentang menyatunya agama dan politik dalam Islam sebagai sesuatu yang alamiah tidaklah benar. Kedua, konsekuensi dari tesis itu, Islam politik merupakan akibat dari situasi politik kontemporer. Ketiga, kelas menengah sebagai basis utama dari kalangan Islam politik, (hlm. xiii).

Ketiga poin itu, beranjak pada materialisme historis bahwa sejarah terjadi bukan dari dalam (gagasan) manusia itu sendiri, tetapi dari kondisi luaran (kondisi-kondisi material) membentuk manusia yang menyejarah.

Keterpisahan antara agama dan politik, sekaligus juga munculnya keterpisahan pelbagai peran dalam Islam, disebabkan oleh makin luasnya wilayah penguasaan Islam. Akibat dari itu dan beragamnya adat kebiasaan masyarakat serta untuk disatukan ke dalam satu kesatuan Islam. Dari sini dikembangkan serangkaian aturan hukum untuk diterapkan kepada seluruh umat Islam secara seragam. Ulama kemudian ditugaskan untuk memformulasikan hukum baku, syariat, (hlm. 8).

Peran ulama, meskipun di bawah kekuasaan pemimpin, khalifah atau sultan, tetapi keberadaanya berdiri pada posisi yang berbeda. demikian pula dengan mereka yang menulis dan mereka yang menghunus pedang (hlm. 10).

Demikian juga dengan tugas-tugas panglima perang, para bala tentara, juru administrasi, dan keuangan, masing-masing diampu oleh orang yang berbeda. Hal ini yang kemudian menjadikan peran itu terpisah, terbagi kebutuhan. Namun, keterpisahan yang dimaksud bukan berarti secara tegas, secara de facto dalam bahasa Kumar. Berbeda halnya dengan sekulerisme Barat, pemisahan antara domain agama dan peran negara.

Pascaperistiwa 9/11, akibat lanjut adalah stigma negatif terhadap Islam. Islam dicap sebagai agama teror. Barat, terutama Amerika Serikat, lantas menyuarakan perang terhadap terorisme. Perang dilakukan tidak hanya memburu pelaku teror, Al Qaeda, tetapi juga invasi militer (awalnya) terhadap Irak, dengan dalih (mencari) senjata pemusnah massal.

Islam lantas menjadi ?musuh utama? dari segala unsur kedigdayaan Amerika. Berlangsung sampai musim semi Arab sekarang ini. Balasan dari gerakan Islam disebutnya teror, pelaku teror adalah kelompok fundamentalis.

Kelompok ini berusaha mengembalikan peradaban Islam, memakai Islam sebagai basis politik perlawanan. Masyarakat Islam kian kepalang akibat perkembangan kapitalisme lanjut.

Pada posisi demikian, Islam politik seperti dua sisi mata uang. Amerika memanfaatkan posisi Islam dan Islam politik, guna membendung kekuatan blok timur, kelompok kiri, yang berseberangan dengan demokrasi, liberalisme Amerika. Sekaligus juga sebagai palang pintu pascakekosongan ideologi, era perang dingin.

Pada sisi lain, Amerika sendiri terus melancarkan perluasan wilayah dan dominasi penjajahan. Intervensi dan dominasi imperialis berhasil membentuk kekuatan ekonomi neoliberal.

Apresiasi lebih buku Kumar, padat berisi, mengejutkan, memberi terang bagaimana operasi kondisi material pada Islam politik. Namun, di luar konteks buku, dilema lain sebenarnya juga muncul. Terkait dengan term para orientalis, Barat dalam mengkategorikan gerakan yang bernapas Islam.

Bagaimana term itu bisa tersemat pada gerakan Islam untuk keluar dari hegemoni Barat. Perlu juga dilihat kategori-ketegori apa yang menjadikan gerakan Islam disebut sebagai gerakan revivales, fundamentalis, dan radikalis. Sedangkan penamaan itu muncul dari luar. Dari dalam gerakan sendiri, perjuangan yang dilakukan semata adalah untuk keluar dari jerembab intervensi dan imperalisme Amerika dan sekutu. Meskipun Islam itu sendiri, seperti menjadi dasar gerak, diformulasi mendulang massa, spirit perlawanan, dan keberpihakan atas kondisi yang ada.

Nur Wahid, Alumnus UIN Sunan Kalijaga, asal Pujodadi, Pardasuka, Pringsewu. Pegiat di Marakom Institute Yogyakarta.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 24 Februari 2013

Bukan Musikalisasi Puisi, tapi ’’Melainkan’’

-- Rian Harahap

RATUSAN orang masuk riuh dan sibuk dalam gedung pertunjukan, mencari-cari bangku yang tepat untuk diduduki. Sementara lampu panggung masih gelap dengan segala kemisterian pertunjukannya.

Seorang pria keluar dengan celana ketat dan baju yang mengecil, wajahnya penuh dengan kumis klimis kemudian menghentak keheningan panggung.

Ia menyampaikan orasi budaya yang terus berceloteh tentang sebuah kehidupan, layaknya puisi dan roda yang terus berputar. Penonton pun termangu mendengar celotehan yang terdengar seperti aktor teater.

Sekilas dengan kostum dan keanehan wajahnya, sepertinya pertunjukan di balik tirai yang belum terbuka itu pastilah sebuah garapan teater. Itulah kiranya yang akan membuat pola dan konsepsi yang berputar di kepala penonton.

Namun semuanya salah ketika tirai panggung tersibak lalu muncullah kumpulan komposisi yang padu dari berbagai alat musik.

Pertunjukan musikkah? Tentu saja kita (penonton) kembali diliarkan oleh dugaan-dugaan sementara. Sampai masuklah pada sebuah alunan musik modern yang dipenuhi techno dan dentuman tuts keyboard yang singgah di telinga.

Lampu pun memenuhi panggung proscenium anjung seni idrus tintin dengan latar siluet sebuah bangunan tinggi pencakar langit. Inilah sebuah pertunjukan yang ditaja oleh komunitas Home Poetry (HP) Medan.

Dalam pertunjukan yang ditaja dalam dua sesi ini pada Sabtu (9/2) ini, banyak sekali kejutan yang dihadirkan. Mulai dari anggapan penonton yang menganggap pertunjukan ini aneh hingga asumsi yang mendasar dan menikmati pertunjukan ini dengan konsep yang tertata rapi.

Komunitas HP dalam hal ini membuat garapan dengan judul ‘Melainkan’ yang merupakan sebuah garapan yang didasarkan pada benturan ‘kelainan’ yang ia cicipi selama menemui sebuah titik dalam musikalisasi puisi.

Dengan menggandeng sebuah prestasi juara umum nasional musikalisasi puisi pada 2011. Agaknya para juri yang memenangkannya seperti Sujiwo Tedjo, Uli Sigar Rusyadi dan Iman Soleh membuat keputusan yang tepat.

Dalam kompetisi yang dimenangkan oleh Hasan Al-Banna yang sebelumnya membawa nama sanggar Rumput Hijau SMAN 2 Binjai itu masih memiliki kekurangan disana-sini.

Dari kemenangan itulah mereka terus mencari bentuk musikalisasi puisi yang seutuhnya. Hingga membenturkan diri kembali dalam bentuk garapan musikalisasi puisi dan bertransformasi menjadi sebuah grup utuh.

Dengan sadar Hasan Al-Banna menggandeng Musikalinea yang merupakan lanjutan dari sanggar Rumput Hijau serta digabungkan dengan Musisi Dunia Akhirat yang notabene memiliki aliran musik tradisi batak dan modern.

Alunan sordam berlayar bersama kesiur angin/ Menelusuri persawahan di antara padi-padi/ Sepanjang hamparan sigalangan membakar dingin/ Dan burung-burung yang sibuk memetik hasapi. Begitulah sepenggal sajak ‘’Torsa Ni Namora Pande Bosi’’ karya M Raudah Jambak.

Puisi itu menjadi alunan keeempat yang dihadirkan ke telinga penonton. Alunan yang datang dalam bahasa musik halus, disertai pukulan ‘keteng-keteng’ alat musik khas karo dan taganing khas toba seketika menghantarkan penonton masuk dalam wilayah sumatera utara.

Dentingan kecapi dan alunan suling dan notasi yang menggetarkan sudah membuat penonton nyaman dibangkunya. Inilah mungkin sejenak keberhasilan yang diraih Hasan Al-Banna dalam membuat penonton yang nyaman hingga pertunjukan berakhir.

Belum lagi sajak yang pendek dari Sutardji Calzoum Bachri digubah dalam alunan musikalisasi puisi.

Sepisau luka sepisau duri/ sepikul dosa sepukau sepi/ sepisau duka serisau diri/ sepisau sepi sepisau nyanyi/ sepisaupa sepisaupi/ sepisapanya sepikau sepi/ sepisaupa sepisaupoi/ sepikul diri keranjang duri/ sepisaupa sepisaupi/ sepisaupa sepisaupi/sepisaupa sepisaupi/ sampai pisau-Nya ke dalam nyanyi (1973).

Sajak singkat itu menjadi sangat padat tatkala komunitas HP mengaransemennya dalam notasi balok, pukulan taganing dan jimbe sampai pada tiupan seruling lalu petikan gitar hingga menyatu dan mengalunkan penonton jauh dari kesan heroic.

Padahal puisi ini banyak dibacakan dengan suara yang garang dan tatapan yang tajam.

Pada titik ini itulah ‘kelainan’; yang dinyatakan oleh Hasan Al-Banna. Ia tidak ingin membuat sebuah paradigma tentang puisi selalu dengan kesan gagah dan malah menjadi konvensi di tengah masyarakat.

Sekitar tujuh puisi dihadirkan pada pertunjukan dua sesi itu. Mereka menjadi sebuah pertunjukan yang sangat lain dalam ranah sisi musikalisasi puisi sendiri.

Keanehan itu tersebar dalam “Ceracau Sebongkah Kota”, “Rindu 1” (Hasan Al-Banna), “Cintaku Jauh di Pulau” (Chairil Anwar), “Torsa Ni Namora Pande Bosi” (M Raudah Jambak), “Sepiasupi” (Sutardji Calzoum Bachri), “Hotel Siantar” (Damiri Mahmud) dan “Akulah Medan” (Teja Purnama).

Garapan yang dengan persinggungan modernism dan tradisi. Itu sangat terlihat dalam kontrasnya alat musik yang digabung dalam alat musik yang mereka mainkan.

Sebuah taganing akan berhadapan dengan alunan gitar elektrik dengan distorsi yang keras. Maka jadilah sebuah persinggungan dan menjelaskan kegundahan dalam garapan yang bertajuk “Melainkan”.

Namun dari semua keberhasilan Hasan Al-Banna dalam membuat pertunjukan itu sangatlah berbanding terbalik ketika penonton sudah sadar pertunjukan habis.

Mereka seperti dilenakan oleh pertunjukan grup musik yang menyanyikan sebuah lagu. Apa lagi pangsa dalam pertunjukan ini adalah siswa sekolah menengah yang masih minim dalam pengajaran sastra.

Apa hal yang membuat ini terjadi? Tentu saja kita harus kembali menilik konsep dasar musikalisasi puisi itu sendiri.

Dalam hal ini kita tak boleh ragu menimang konsep tersebut. Meski dalam buku-buku teks sastra tak pernah ada yang jelas membuat konsep ini.

Musikalisasi puisi sendiri bisa digambarkan seperti beberapa istilah yaitu yang menyebutkan Poetry Singing, Tembang Puitik, Musik Puisi, musisi Amir Pasaribu menyebutkannya Musiklisasi Syair, atau barangkali ada istilah yang lain.

Kegiatan bermusikalisasi puisi sudah berlangsung cukup lama, bahkan Sunan Kalijaga juga sudah memusikalisasikan puisi, banyak ajaran sunan Kalijaga yg berupa syair, ditembangkan (Latief Noer, ‘’Musik Puisi Dari Istilah ke Aksi’’/Musik Puisi jalan Pintas Menuju Sukses, Penerbit Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta 2005).

Maka musikalisasi puisi belum sangat tenar di negeri ini. konsep yang dihadirkan masih rancu. Apakah musikalisasi puisi merupakan musik yang dipuisikan atau puisi yang diramu menjadi sebuah alunan musik?

Sekiranya itu pula yang coba dihadirkan dalam apresiasi setelah pertunjukan berakhir.

Seorang alumnus Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) bernama Slamet dengan jelas mengutarakan kegundahannya tentang garapan yang dibawa Hasan Al-Banna, dkk.

Ia seperti dibawa dalam ranah lama dan dipakemi oleh beberapa komunitas di Jawa, bahwa musikalisasi puisi haruslah didasarkan pada puisi, lalu bagaimana dengan lagu yang pernah diciptakan oleh Ebiet G Ade, Iwan Fals serta (alm) Franky Sahilatua yang memang lirik-liriknya sangat puitik. Maka itu pulalah yang menjadi perdebatan penting setelah acara ini berlangsung.

‘’Konsep dasar musikalisasi puisi sebenarnya terus berkembang, mulai dari nada, irama dan puisi. Setiap orang berhak memiliki presentasi sendiri atas musikalisasi puisi, boleh saja puisi itu dilakukan dengan segala macam alat musik, baik tradisi maupun elektrik namun asal saja sebuah puisi itu tidak diulang sajaknya dan ruh puisinya tetap hidup dalam alunan musik tersebut,’’ terang Hasan Al-Banna.

Musikalisasi puisi tak boleh mengulang sajaknya dan ruh puisi itu harus terus hidup.

Itulah sebenarnya hal yang paling dapat diajarkan dalam kebingungan penonton yang merasa sedang menonton pertunjukan grup yang menyanyikan lagu atau musikalisasi puisi.

Pada hal ini terang saja musikalisasi puisi adalah suatu kegiatan penciptaan musik berdasar sebuah puisi, sehingga pesan yang ada dipuisi tersebut makin jelas maknanya.

Dalam perkembangannya, memberikan syair pada sebuah melodi yang sudah ada juga dikategorikan sebagai musikalisasi puisi. Keberhasilan sebuah penghadiran ruh puisi dalam bentuk musik sangat penting, sehingga unsur pembentuknya berada pada dua titik, musik dan puisi.

Kontan saja nama yang menjadi pembentuk sebutan bisa saja berubah, terserah orang ingin membuat nama dan sebutan yang konvensi untuk sebuah puisi yang dimainkan dalam alunan musik.

Pada dasarnya pastilah jelas seorang penyair dan musik memiliki kesamaan dalam sebuah penciptaan seni. Tidak heran kalau Carlyle kemudian mendefinisikan puisi sebagai pemikiran yang bersifat musikal.

Profesor sastra dari UGM, Rahmad Djoko Pradopo kemudian menambahkan pula, penyair dalam menciptakan puisi memikirkan bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya.

Keberadaan yang berimbang semestinya disadari sebagai pelajaran penting dalam ‘Melainkan’ musikalisasi puisi, terserah puisi itu dinyanyikan, dibacakan dan diiringi musik atau musik menjadi dominan didalamnya, namun jika semua itu berangkat dari sebuah puisi maka jelas sudah puisi itu berubah menjadi musikalisasi puisi.

Pada akhirnya pertunjukan komunitas HP sudah membuat suasana di Pekanbaru lebih baik. dalam pertunjukan berdurasi enam puluh menit itu mereka menjadikan musikalisasi lebih bebas dan liar.

Musik tradisi Batak, reggae, jazz menjadi penghantar selera baru menuju musikalisa yang sangat ‘Melainkan’ di masa yang akan datang.

Pertunjukan yang bekerjasama dengan teater Selembayung ini mendapat apresiasi juga dari Wakil Gubernur Provinsi Riau yang datang menyaksikan hingga pertunjukan berakhir.

Meski ekspektasi kota Medan hanya tergambar dalam musik dan sajaknya dan tak memanfaatkan seting visual panggung yang mengarahkan penonton lebih dekat ke wajah bangunan kota itu, akhirnya Hasan Al-Banna menutup pertunjukannya dengan membacakan sajak ‘’Akulah Medan’’ dengan menaiki tangga tinggi, persis sebuah tugu Guru Patimpus di Medan.

Mungkin itulah yang membuat komunitas ini membuat sebuah garapan puisi ‘Melainkan’, lain bukan? ***

Rian Harahap, guru swasta dan sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sajak, cerpen dan esainya dimuat di berbagai media seperti Harian Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Riau Pos, Analisa, Waspada, Mimbar Umum, Medan Bisnis dan Majalah Daulat. Bermastautin di Pekanbaru, Riau.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 24 Februari 2013
 

[Jejak] H Arizal MBA Tak Populer di Negeri Sendiri

H ARIZAL MBA lahir di Indragiri Hulu, Riau, 11 Januari 1943 dan wafat pada usia 70 tahun. Dia seorang sutradara terkenal Indonesia.

Filmnya yang banyak diperani oleh para aktris terkenal seperti Yessy Gusman, Rano Karno, Yenny Rachman, Roy Marten, Lydia Kandou, Warkop (Dono, Kasino, dan Indro). Filmnya yang paling terkenal Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati dan Film Komedi yang dimainkan oleh Warkop DKI.

Arizal mengawali bangku pendidikan di Sekolah Rakyat Negeri 1 Tahun 1955 di Airmolek, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tahun 1958 di Airmolek, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tahun 1962 di Pekanbaru, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Tahun 1971 di Jakarta dan West Coast Institute Of Menagement & Technology 4 Th Guardian MBA 20 Februari 2000 di Perth Australia.

Karier dan karya-karyanya antara lain Karikaturis majalah Selecta dan lain lain, 1963-1968 di Jakarta, Pemain orkes Singgalang Ria Asuhan Kapten TNI Syusamsir, 1958-1962 di Pekanbaru,

Pelukis cerita bergambar/komik di Medan dan Jakarta 1958-1968 dan pengarang lagu: ‘’Usah Kau Goda’’ - Ernie Djohan 1967; ‘’Mengapa’’ - Alfian 1967; ‘’Senyum dan Tangis’’ serta film - Rano Karno 1974; Setulus Hatimu/Film - Tanty Yosepha & Elly S 1975; dan Main Film - Benyamin S 1975.

Dia juga dikenal sebagai desainer mebel dan furnitur PT Boanez, 1964-1967 di Jakarta dan Ketua band Boanez Melati Room Proyek Senen, 1967-1968 di Jakarta. Dia juga pernah sebagai aktor figuran film Skull Duggery Universal Studio-Yamaica USA, 1968

Asst Artistic Cartoon Walt Disney Universal Studio - Los Angeles USA, 1968-1969 serta staf redaksi majalah Mayapada, 1969-1970 di Jakarta.

Arizal paling populer dalam dunia film sebagai penulis dan sutradara dan karya-karyanya itu antara lain; Senyum dan Tangis 1974 Jakarta.

Film itu meraih Film Anak Anak Terbaik, mendapat Piala Citra di Medan. Setulus Hatimu juga meraih penghargaan Best Actress Citra Indonesia dan Festival Film Asia. Film Hanya Untukmu, Janji Sarinah, Aula Cinta, Cowok Komersil 1977 Jakarta. Film Semua Gue 1977 Jakarta dibintangi oleh Rano Karno, Yenny Rahman, Yezzy Gusman.

Film lainnya Secerah Senyum 1977 dibintangi Roy Marten, Yenny Rahman. LakiLaki Binal 1978 dibintangi oleh Roy Marten, Yenny Rahman serta film Musim Bercinta 1978 yang juga dibintangi Roy Marten, Eva Arnaz, Rano Karno, Yessy Guzman.

Film andalannya Gita Cinta Di SMA 1979 dibintangi Rano Karno, Yessy Guzman, Sherly Marlinton. Masih banyak lagi karya-karyanya yang cukup populer di negeri ini di zamannya.

Arizal memang sosok seniman yang tidak pernah diam dan selalu aktif dalam memanfaatkan waktu. Dia juga suka menggambar, melukis, dan main sulap. Menulis, membaca, dan bercerita. Bakatnya bahkan sudah terlihat sejak masih kanak-kanak seperti meraih juara juara musabaqah tilawatil quran di Kecamatan Pasir Penyu, Indragiri Hulu 1957-1958.

Dia juga bertugas sebagai wartawan lepas Harian Kami 1966-1968 di Jakarta dan menulis lepas di majalah Intisari Jakarta 1968-1970.

Prestasi lainnya meraih juara pertama ‘’Mencipta Model Jaket Kuning Universitas Indonesia’’ 1968 di Jakarta, mendapat trofi dan buku berisi pesan dari dekan Fakultas Sosiologi Universitas Indonesia, Prof Dr Slamet Imam Santoso.

Dia juga pengarang dan penulis novel Perjaka Ting Ting, dengan semboyan ‘’Bila Cinta Sudah Melekat, Tahi Gigi pun Terasa Coklat’’.

Novel ini difilmkan ke layar lebar berjudul Remaja Idaman pada 1979. Membuat credit title beberapa film nasional, antara lain Ibu Sejati di Jakarta dan membuat film kartun 8 ‘’Iklan Melbrosia’’ pada 1972 di Jakarta.

Anak jati Riau ini memang cukup populer di negeri orang, namun di negerinya sendiri, tidak banyak yang tahu tentang kiprahnya dalam perkembangan dunia perfileman Indonesia.(fed/berbagai sumber)

Sumber: Riau Pos, Minggu, 24 Februari 2013
 

Saturday, February 23, 2013

Wajah Sinetron Televisi (1)

-- Tantri Luwarsih

SEORANG sutradara film, baru saja mendapat tawaran untuk membuah sebuah sinetron. Ceritanya sederhana, konyol dan tidak logis. Skenarionya sangat buruk dengan bahasa Indonesia yang cadel.

    Tapi konon itu dijamin akan komersil. Sebelum proyek itu dilaksanakan, terjadi pergulatan di dalam dirinya sebagai berikut:

    Produksi sinetron kita sedang booming di semua jaringan televisi. Sinetron baik dalam bentuk, cerita lepas, mini seri maupun serial bersambung. Dibuat oleh nama-nama beken maupun ingusan yang barusan tercium baunya.

    Celakanya kalau kita suatu ketika nongkrong di layar kotak itu sambil bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan kita untuk menonton sebuah sinetron yang sedang ditayangkan, jawabannya tidak bermutu.

    Seringkali kita menonton sebuah sinetron, karena acara-acara yang sedang ditayangkan oleh pemancar televisi lain, tidak kita sukai. Misalnya acara protokoler seorang pejabat.

    Atau tayangan musik dari penyanyi-penyanyi yang kita anggap masih kelas kamar mandi, tapi entah kenapa bisa nongol ke atas layar. Atau kita menonton karena ingin teman saja.

    Artinya pesawat tv menyala, pemain-pemain sinetron ngoceh di situ, tapi kita tidak memperhatikannya sama sekali.

    Kemudian kita coba bertanya-tanya, klau tidak ada yang memotivasi kita dalam menonton, kira-kira apa yang sudah memotivasi sinetron itu dibuat?

    Kenapa sebuah sinetron diproduksi, kalau konsumen sampai tidak punya alasan untuk menontonnya? Apakah idenya terlalu berat, sehingga tidak nampak? Apakah informasinya terlalu terselubung, sehngga tidak kelihatan. Apakah nilai hiburnya tidak diuji sehingga menjadi begitu hambar. Atau karena sekedar untuk memenuhi target untuk menayangkan produk sendiri? Sebelum bisa menjawab semua pertanyaan itu, kini saya sendiri nyaris terlibat dalam pembuatan sebuah sinetron. Saya wajib bertanya-tanya kepada diri saya sendiri. Kenapa saya membuat sinetron? Apakah karena film sedang sepi? Walhasil, semata-mata untuk mencari nafkah yang lepas sama sekali dari urusan ekspresi? Karena latah, mumpung, mempergunakan kesempatan, melihat sinetron lagi kebanjiran order? Banyak orang menuduh orang film membuat sinetron sebagai kelatahan. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai "disersi"? Kata mereka, film nasional sedang sakit parah - meski kini sudah berangsur membaik - kok malah main ke rumah tetangga. Itu kan namanya tidak setia, tidak punya komitmen, tidak memiliki dedikasi. Saya mestinya khawatir. Tetapi nyatanya tidak. Begitu datang tawaran untuk menyutradarai sinetron,langsung saya makan. Bahkan kalau tidak ada tawaran pun, saya sudah lama meniatkan akan merebutnya. Kalau perlu menawar-nawarkan diri untuk membuatnya. Bila perlu, melamar menyutradarai sebuah sinetron.

    Buat saya, kalau membuat film adalah bekerja sekaligus berekspresi, membuat sinetron juga setali tiga uang. Hanya saja sifat medianya sedikit berbeda. Tapi tidak sejauh kalau seorang pembuat film kemudian berhenti membuat film lalu berlih profesi jadi tukang jual kondom, misalnya. Buat saya istilah disersi, lari, hanya sekedar seloroh.

    Seloroh - baca tuduhan - yang sama pernah dimuntahkan juga kepada orang-orang teater baru-baru ini ketika beberapa sutradara teater yang beken mulai membuat film. Nyatanya orang teater itu - sebut saja terus terang namanya, almarhum Teguh Karya dan Arifin C Noer - sebelum keduanya meninggal dunia beberapa tahun lalu tetap saja memiliki teater dan membuat pementasan, disamping membuat film-film yang bagus. Jadi omongan-omongan seperti itu, memang tidak perlu diladeni atau dijawab. Nanti dengan tindakan konkret akan jelas dengan sendirinya. Yang lebih menggoda saya, adalah pertanyaan, "apakah saya memiliki sebuah alasan, mengapa nanti penonton mesti menonton sinetron yang saya buat". Kalau tidak, memang tidak perlu dibuat. Dan kalau tidak perlu dibuat saya masih saja ngotot membuat, baru pantas dicurigai itu sebagai maaf: pelacuran. Misalnya semata-mata untuk mempergunakan kesempatan.
    Atau semata-mata untuk cari duit.

    Toh saya pikir motivasi untuk mempergunakan kesempatan - saya lebih menyukai istilah mempergunakan peluang - atau motivasi cari duit sekarang adalah motivasi yang sah.

    Kalau kita sudah melangkah dari amaterisme kita harus bisa menerima bahwa semua pekerjaan adalah profesi. Dan setiap profesi menuntut seorang profesional.

    Dan seorang yang profesional adalah seorang yang mampu mempergunakan peluang dan dapat menghidupi hidupnya dengan profesinya - singkat kata menerima uang sebagai alat ukur jasa yang tanpa dosa.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 23 Februari 2013

Wednesday, February 20, 2013

Happy Salma: Cinta Karya Sastra


SOSOK Happy Salma selama ini dikenal sebagai aktris panggung dan film. Namun, kiprahnya di dunia akting diawali dan dilandasi kecintaannya terhadap karya-karya sastra Indonesia.

Selain di dunia akting, aktris kelahiran 4 Januari 1980 itu juga baru saja menyelesaikan karya terbarunya sebagai salah satu sutradara dalam film omnibus Rectoverso. Dalam film tersebut, ia mengalihmediakan karya sastra Dewi Lestari dari bentuk teks ke layar lebar.

“Saya berani melakukannya karena kecintaan saya terhadap keindahan bahasa dalam karya sastra Indonesia,” ungkapnya di Ambarukmo Plaza, Sleman, Minggu (17/2).

Sebelumnya Happy juga sering terlibat dalam mengalihmediakan sastra Indonesia dari teks ke panggung. Beberapa karya sastra Indonesia yang pernah dipentaskan yaitu Nyai Ontosoroh, Ronggeng Dukuh Paruk, dan Kuantar ke Gerbang.

Ia pun mengaku akan fokus untuk kembali menulis setelah aktivitas film Rectoverso selesai. “Tema yang saya tulis biasanya kehidupan sosial dan sehari-hari,” imbuhnya. (AT/H-1)

Sumber: Media Indonesia, Rabu, 20 Februari 2013

Tuesday, February 19, 2013

Pornografi dan Budaya Plagiat Ancam Generasi Muda

Hasil survei KPAI terhadap 4.500 responden yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA menyebutkan 97% di antara mereka mengakses situs porno.

KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) mengungkapkan sebanyak 64 juta masyarakat Indonesia ialah pengguna internet. Sekitar 80% dari jumlah tersebut berada dalam rasio usia 15 hingga 30 tahun.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Bidang Teknologi Kalamullah Ramli mengungkapkan tingginya aksesibilitas bagaikan dua sisi mata pedang. "Di satu sisi bisa sangat menguntungkan dari segi kemudahan informasi, di sisi lain juga menyimpan banyak hal negatif seperti pelecehan, pornografi, serta penipuan," ujar Kalamullah saat ditemui dalam seminar bertema Internet sehat aman (Insan) di Hotel Millennium Jakarta, kemarin.

Menurut dia, anak-anak usia sekolah bisa dinyatakan sebagai generasi yang paling rentan.

Hasil penelitian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 pelajar SMP dan SMA di 12 kota besar Indonesia pada 2012 menyebutkan 97% dari mereka yang disurvei mengaku pernah mengakses situs porno. Sebanyak 90,27% pelajar yang diteliti tersebut sudah pernah berciuman, berhubungan seks tanpa penetrasi (petting), dan melakukan oral seks. Lebih lanjut, 61% responden pelajar SMP pernah melakukan hubungan seks dan 21,2% siswa SMA pernah melakukan aborsi.

"Data ini ditambah penelitian sebuah organisasi anak di Jabodetabek, bahwasanya hingga 2012 tercatat sebanyak 85% responden dari total sampling dengan rasio usia 9 hingga 25 tahun pernah mengakses situs pornografi," papar Kalamullah.

Gerakan Insan

Kenyataan itulah, menurut Kalamullah, yang melatarbelakangi Kemenkominfo mengadakan gerakan Insan. "Pada dasarnya ini merupakan gerakan yang dibangun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak negatif internet. Sasaran kita ialah para guru sekolah serta orangtua sebagai pembimbing."

Salah satu upayanya ialah diimplementasikan dalam seminar dan sosialisasi ke sekolah-sekolah. "Seperti hari ini kita mengundang para murid, guru SD, SMP, SMA dan para orangtua yang berdomisili di Jakarta dalam seminar Insan," ujar Direktur Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo Mariam Barata dalam kesempatan yang sama.

Upaya penyadaran serupa, menurut Mariam, juga dilakukan Kemenkominfo di 33 provinsi di Indonesia. "Kita merangkul segenap sekolah-sekolah terkait, untuk membangun kesadaran berinternet secara sehat. Ini sudah kita lakukan sejak 2009 silam dan sudah menjangkau ke setiap daerah," ujar Mariam.

Guru SMAN 28 Jakarta Muhammad Arief mengaku sangat mengambil manfaat pada upaya edukasi yang dilakukan Kemenkominfo tersebut. "Kalau dari data yang disampaikan, betapa dampak buruk internet begitu mengancam generasi muda. Karena itu, saya sebagai pengajar sangat mengapresiasi peran edukasi yang diambil Kemenkominfo," ujarnya.

Masalah yang saat ini juga kerap dialami para pengajar, menurut Arief, ialah plagiarisme. "Anak-anak menjadi malas mengerjakan sendiri tugas-tugasnya akibat internet karena sudah amat gampang mengopi hasil kerja orang melalui Google," jelas Arief.

Alih-alih menajamkan analisis sendiri, lanjut Arief, kebanyakan mereka lebih termotivasi menyontek akibat kemudahan yang ditawarkan internet. Untuk solusi tersebut, perusahaan IT global Google menawarkan solusi berupa Google Note.

"Ini semacam software document seperti Microsoft Word. Namun, kelebihannya akan bisa mendeteksi hasil tulisan yang disalin begitu saja dari internet," jelas Kepala Kebijakan Publik Google Inc Shinto Nugroho.(Soraya Bunga Larasati/H-1)

Sumber: Media Indonesia, Selasa,19 Februari 2013

Sunday, February 17, 2013

Arah Pelajaran Bahasa

-- M.Sunyoto

PELAJARAN bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 mengambil arah baru: bahasa dipelajari sebagai alat penyampai ilmu. Sebelumnya, bahasa Indonesia dipelajari sebagai ilmu mengenai kebahasaan. Apa untung ruginya?

Para penyusun Kurikulum 2013 tentu berkepentingan dengan keuntungan arah baru itu. Inilah yang menguntungkan dengan pengajaran tentang bahasa sebagai alat penyampai ilmu. Dengan mempelajari bahasa sebagai sarana berpikir, penyampai pesan dan pikiran, siswa dibiasakan menggunakan bahasa untuk mengungkapkan pikiran lewat tulisan maupun lisan.

Adapun kelemahan arah baru pengajaran bahasa Indonesia adalah: aspek kemampuan linguistik siswa tak tergali secara optimal.

Terlepas dari untung-rugi arah pengajaran bahasa Indonesia pada Kurikulum 2013 itu, ada soal lain yang lebih fundamental: bahan ajar dan kemampuan guru dalam menyampaikan pelajaran bahasa Indonesia.

Buku atau bahan ajar tertulis di Indoesia umumnya dihasilkan oleh penyusun yang tidak kompeten menulis teks yang memukau. Sering kali, sejumlah guru mengerjakan pembuatan buku teks pelajaran lalu dinilai oleh tim penilai dari kementerian dan setelah mendapat persetujuan sang penilai lalu penerbit menggandakannya.

Hampir tak pernah seorang penulis profesional, entah novelis atau penulis nonfiksi masyhur, dikontrak kementerian untuk kepentingan menghasilkan buku teks yang berkualitas. Alhasil, buku-buku teks pelajaran bahasa Indonesia tidak memberikan kesan yang membekas di benak siswa. Semua teks bahasa Indonesia yang dipelajari siswa menguap begitu saja, tidak meninggalkan jejak setelah siswa mengakhiri pelajaran yang tersaji oleh teks itu.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu mencoba menyewa penulis-penulis masyhur, yang kompetensinya sudah teruji di masyarakat, untuk menulis buku teks pelajaran bahasa Indonesia.

Buku hasil karya profesional inilah yang perlu dijadikan pegangan dasar untuk siswa dalam belajar. Metode ini tentu punya lobang untuk dikritik: sentralisme. Sekarang ini, semua yang bersifat sentralistik selalu dianggap buruk. Sentralisme dianggap pembunuh keragaman. Kritik ini tentu tak sepenuhnya benar. Untuk buku-buku pegangan dasar perlu keseragaman. Kualitas yang seragam tidak mesti buruk.

Setelah buku-buku pegangan dasar yang berkualitas tersedia, persoalan berikut adalah: sejauhmana guru-guru dapat menyampaikannya secara mengesankan di hadapan siswa. Guru haruslah inspiratif buat siswa. Guru yang diperlukan bukan yang berpengetahuan komplit dan terlalu banyak omong di depan siswa dengan gairah memamerkan pengetahuan yang tak selalu dibutuhkan siswa.

Guru yang brilian adalah yang membuka jalan dan perspektif siswa untuk mencari sendiri lebih jauh. Guru seperti ini memberi arah seperlunya lalu menyuruh siswa berjalan sendiri dan mengarahkan kembali jika dianggap menyimpang dari arah yang dituju.

Tantangan terberat untuk penerapan Kurikulum 2013 dalam pelajaran bahasa Indonesia akan dialami oleh guru-guru bahasa Indonesia yang selama ini terbiasa menggunakan cara-cara lama, yang terlampau analitik sementara kurikulum baru lebih menuntut lebih interatif. Perlu ada lokakarya untuk melatih mereka mengajarkan bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan kurikulum baru.

Arah Kurikulum 2013 merupakan penafikan atas kurikulum pendidikan bahasa yang cenderung mengajak siswa menjadi linguis-linguis sebelum waktunya.

Dikonfrontasikan dengan fakta lapangan, arah Kurikulum 2013 untuk pelajaran bahasa Indonesia tidak perlu menimbulkan kekhawatiran. Ambil contoh di kalangan pengguna bahasa media massa. Di ranah ini, mereka yang bertungkus rumus dan memahami a-z bahasa jurnalistik tidak mesti mereka yang pernah berjibaku dengan teori-teori linguistik saat menempuh pendidikan formal di perguruan tinggi.

Ahli-ahli bahasa jurnalistik bisa datang dari lulusan ilmu fisika murni, ilmu politik, atau mereka yang tak pernah kuliah di perguruan tinggi. Minat pada segi kebahasaan dalam jurnlisme terbangun setelah mereka bergulat dalam praktik kewartawanan selama belasan tahun.

Atas dasar fakta inilah, arah baru pelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Ada suara kekhawatiran bahwa arah baru itu tidak lagi membangun nilai-nilai kebangsaan, identitas, kebahasaan dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kecerdasan linguistik seorang siswa.

Suara kekhawatiran ini bisa didengar tapi tak harus menghentikan aneka keuntungan yang bisa diraih berupa kemahiran cara berpikir, menulis maupun mencerna teks secara benar.

Sesungguhnya, terbangunnya nilai-nilai kebangsaan, identitas dan kebahasaan seseorang tidak sepenuhnya tergantung pada bagaimana sistem pengajaran bahasa Indonesia disampaikan saat siswa masih dalam usia formatif. Nilai-nilai itu terbangun secara sistemik lewat pengajaran mata pelajaran lain, pergaulan antarmanusia baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

Sumber: Antara, Minggu, 17 Februari 2013

[Buku] Beragama secara Moderat


Data Buku

Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat

Al Hamid Jakfar Al Qadr

Mizan, Bandung

I, Desember 2012

xvii 117 hlm.

MENJAMUR pemikiran radikal dan ekstrem yang tidak toleran dengan kelompok lain di negeri ini sangat mengkhawatirkan. Jika sampai menyentuh akar rumput, akibatnya fatal. Pertikaian atas nama agama terjadi karena pemikiran radikal. Di antaranya karena cengkeraman fanatisme, tidak paham ajaran agama secara menyeluruh, ataupun karena mempertahankan suatu legitimasi, baik sosial ataupun politik. Ironisnya, semua ini mengatasnamakan agama.

Realitas seperti itulah yang menggerakkan Al-Hamid Jakfar Al-Qadri, intelektual muda dari Indonesia, lulusan Sekolah Darul Musthafa, Tarim, Hadramaut, Yaman, menulis buku dengan judul Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat.

Darul Musthafa sendiri, sebagaimana diberitakan New York Times (2009), adalah tempat yang multikutural, banyak pelajar dari Indonesia hingga California. Buku ini merupakan intisari dari pemikiran Al-Habib Umar bin Hafizh?guru dari Al-Qadri sekaligus pengasuh Sekolah Darul Musthafa?dalam menyikapi perbedaan dan upayanya membangun perdamaian dan persatuan umat yang tertuang dalam makalah maupun pidato-pidato Al-Habib Umar bin Hafizh.

Di awal pembahasan buku ini, Al-Qadri menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan pesan-pesan agama, baik itu berupa ketentuan yang sudah pasti (qath?i) ataupun yang masih bersifat dugaan (zhanni). Pada awalnya, siapa pun orangnya, baik sahabat Nabi, tabi?in, para mujtahid, cendekiawan muslim, apalagi orang awam tidak boleh mengotak-atik ketentuan itu. Sementara pada ranah kedua inilah yang masih memungkinkan terjadinya banyak penafsiran dan ijtihad. Sehingga, ketika terjadi perbedaan pendapat, tidak boleh menganggap kelompoknya paling benar sendiri dan kelompok lain salah (hlm. 3).

Jika memang perbedaan itu adalah sunnatullah di muka bumi ini, ada dua ketentuan yang harus diperhatikan dalam menyikapinya. Pertama, toleran ketika berbeda. Hal ini bisa direpresentasikan dengan menghormati pendapat yang berbeda, bersikap objektif, tidak memusuhi pemilik pendapat yang berbeda, menyepakati demi menjaga persatuan, dan memaklumi perbedaan yang terjadi.

Kedua, tidak saling mengafirkan dan menyesatkan. Para ulama sendiri sangat berhati-hati sekali terhadap masalah ini. Sebab, seorang yang divonis kafir darahnya menjadi halal, halal hartanya. Jika meninggal, tidak boleh disalati dan berbagai konsekuensi lainnya. Terkait hal ini, Al-Ghazali pernah berkata, ?Salah karena membiarkan seribu orang kafir hidup itu lebih ringan dibandingkan menumpahkan darah satu orang Muslim.? (hlm. 21?28).

Selain membangun persaudaraan dan persatuan antarumat Islam, Al-Habib Umar bin Hafizh juga berusaha membangun perdamaian dengan kelompok nonmuslim. Di mana ia termasuk salah satu penandatangan dari dua dokumen internasional yang berpengaruh, yaitu Risalah Amman (2005) dan Common Word (2007).

Kedua dokumen ini ditandatangani oleh tokoh-tokoh muslim dunia, termasuk beberapa pemimpin muslim Indonesia. Buku yang ditulis dengan bahasa renyah dan mudah dipahami ini juga memaparkan konsep persatuan dan perdamaian menurut para ulama dari negeri penyebar Islam di Nusantara: Hadhramaut, Yaman, seperti Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir, Imam Faqih Al-Muqaddam, Al-Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syahab, dan lain-lain.

Selain itu, kelebihan dari buku ini adalah sikap moderat dari penulisnya. Artinya, ia tidak terpengaruh pada pemikiran fundamentalisme maupun liberalisme. Secara keseluruhan, buku ini sangat bermanfaaat dalam rangka membangun koeksistensi kehidupan beragama, terlebih dalam masyarakat yang mejemuk seperti di Indonesia. Dengan adanya buku ini, pembaca diharap dapat bersikap bijak dalam memahami sebuah perbedaan.

Zainal F. Marjuni, Mahasiswa Al-Ahgaff University, Hadhramaut-Yaman

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Februari 2013

Bercermin di Buak Air

-- Dantje S Moeis

KETIKA seseorang manusia berlanglang buana, atau bermigrasi, melakukan perjalanan kemudian singgah menetap ataupun tak menetap. Banyak hal yang boleh ia tinggalkan di tempat asal, baik harta-benda maupun saudara-mara. Namun yang lazim terbawa dan tak tertanggalkan adalah perilaku budaya serta kecenderungan yang selalu melekat pada setiap perantau.

Bahkan ketika menjadi warga tumpangan atau setelah dilegitimasi menjadi warga negara di tempat baru, seseorang akan membawa serta adat budaya negeri asal, kultur, sub kultur atau ceruk kampung yang telah sekian lama memberi warna pada kehidupannya bathinnya, yang membuat ia memberikan nilai tersendiri atas pandang matanya, penciumannya, pendengarannya dan pada perilakunya.

Dampak bagi tempat kedatangan, tidaklah begitu berarti ketika budaya yang melekat pada para pendatang, masih sebatas pada diri individu-individu berjumlah kecil, namun ketika individu-individu tersebut tumbuh dan berkembang, bahkan membuat daerah kantong kelompok mukim tersendiri (enclave), maka keadaan akan menjadi lain. Terjadilah tarik-ulur pengaruh dan berproses, yang hasilnya lazim disebut dengan akulturasi budaya (termasuk bentuk kesenian yang ada di dalamnya). Secara sederhana makna akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Sebagai contoh kongkrit, banyak etnis masyarakat Indonesia yang bermukim di Malaysia dan menjadi warga negara Malaysia. Mereka mempertahankan budaya yang mereka bawa di tempatnya yang baru dan akhirnya menjadi sebuah budaya yang memperkaya khasanah budaya tempatan.

Kebudayaan hasil akulturasi, idealnya terjadi bukan dengan cara paksaan atau berpola imperialistik, itu pasti. Pola-pola imperialistik inilah yang banyak berlaku pada suatu negara atau suatu daerah (provinsi) dengan berbagai sub-kultur budaya yang kemudian, kebudayaan dari satu sub kultur menjadi dominan ketika sebahagian besar mereka berada pada ruang strategis di berbagai lini kebijakan dan kekuasaan, lalu cepat atau lambat mematikan kebudayaan dari sub kultur lainnya.

Seyogianya akulturasi budaya (kesenian) dari berbagai kelompok budaya, yang kemudian memperkaya budaya sebuah wilayah, lalu diakui dan diterima dengan manis dan senyum ramah sebagai bahagian dari budaya sebuah bangsa.

Akibat dari keterkaguman yang luar biasa, bahkan ada karya budaya pendatang diterima bulat-bulat tak sejenakpun singgah pada wilayah penyesuaian atau akulturasi dengan wilayah atau negeri kedatangan.

Dalam konteks senirupa yang menjadi bahagian dari budaya. Pengaruh akulturasi pada tatanan roh atau jiwa dari karya-karya para perupa, hingga setakat ini tidaklah tampak terlalu kental mempengaruhi para kreator kita, namun disebalik itu, modernisasi yang mereka buat dari aspek ‘tampakkan’ terlihat sangat jelas keterpengaruhan dari luar sana terutama barat yang menghasilkan karya dengan pijakan tak jelas (mengambang).

Keterpengaruhan ‘tampakkan’ (yang mereka katakan modern) ini, nyata tak lepas dari persekutuan yang kental di kalangan institusi pendidikan seni yang memilah-milah genre, era-era perubahan (periodisasi) dan lain sebagainya, yang nota-bene dominan berkiblat ke barat sana dan kemudian dijadikan  acuan, lalu ditelan bulat-bulat oleh siswa-siswa patuh yang kemudian menjadi seniman prolific namun malas mengkaji dan merealisasikan identitas diri berdasarkan kultur budaya asal menjadi karya baru, atau budaya baru (modern) berpijakan jelas.

Berpijakan jelas. Kalimat yang hanya terdiri dari dua suku kata ini, sangat penting sekali artinya bagi seorang kreator seni tentu saja. Agar tak masuk pada kategori karya seni rupa yang terbuang (tak masuk hitungan), mengutip definisi seni yang tercantum dalam Kamus Jawa Tinggi, Baoesastra Jawa (kamus ini disusun oleh WJS Poerwadarminta, penyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia). Karya apa saja termasuk seni didalamnya, tercatat sebagai sebagai unsur dominan adalah kagunan. Istilah ini disebutkan berasal dari akar kata guna yang dasar pengertiannya adalah: faedah, kelebihan, kepandaian, kemampuan mencipta yang berkaitan dengan watak.

Kagunan didefinisikan sebagai Kapinteran. Jejasan ingkang adipeni. Wudaring pambudi, nganakake keendahan gagambaran, kidung, ngukir-ukir (Kepandaian. Hasil pekerjaan yang berfaedah. Ungkapan budi pekerti melalui keindahan pada gambar, gubahan dan ukiran).

Konsepsi itu kemungkinan besar berangkat dari premis Plato, karena dalam kebudayaan tradisional Indonesia sangat jarang ditemukan pendefinisian seni. Namun keistimewaan kagunan adalah: definisi ini mempertahankan persepsi lokal.

Dalam tata acuan kagunan, budi pekerti (pemikiran) rasa keindahan dan watak (ekspresi) adalah gubahan yang tidak mengenal hirakhi pengungkapan. Bisa tampil pada berbagai produk, fungsional mau pun non-fungsional. Kadar nilainya yang tampil pada gambaran dan hiasan terletak pada perenungan, pekerti dan kepandaian penciptanya. Bukan pada peniscayaan jenis idiomnya.

Dengan memasukkan pengertian kagunan, istilah seni rupa bukan lagi sekadar penerjemahan. Istilah ini menjadi mempunyai makna, konsepsi dan landasan estetik. Dari pengertiannya bisa disusun sebuah terminologi yang berakar pada satu dasar estetik seni rupa yaitu local content sebagai unsur unique, khas yang memberi nilai plus, plus, plus... pada sebuah karya seni, seperti ‘’Berburu Celeng’’ sebuah karya super modern dengan roh tradisi dan filosofi Jawa yang menjadi sebuah mahakarya berskala dunia, dengan penilaian yang sangat tinggi pada sebuah balai lelang yang juga berskala dunia. Nilai plus, yang menghasilkan ‘fulus’ telah diraih oleh Joko Pekik, karena ia telah berhasil membuat makhluk dunia dunia kesurupan roh tradisional Jawa yang bermakna pada kekinian. n

Dantje S Moeis, sastrawan dan perupa Riau yang eksis dalam dua bidang sekaligus. Selain melukis dan menulis dia juga ikut mengasuh Majalah Sagang serta dosen di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR).

Sumber: Riau Pos, Minggu, 17 Februari 2013
 

Kumpulan Cerpen Kinoli: Jalinan Cerita yang Dibangun dengan Kesungguhan

-- Desi Sommalia Gustina

SENO Gumira Ajidarma bilang penulis adalah orang yang mempertaruhkan hidup bagi setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. Jika dicermati, kalimat Seno tersebut terdapat suatu benang merah apabila dihubungkan dengan buku kumpulan cerpen Kinoli karya Yetti A KA yang akan saya bincangkan dalam tulisan ini.

Melalui suguhan bahasa yang detil dan segar pada rangkaian kalimat dalam cerita yang terhimpun dalam buku yang diterbitkan oleh (Javakarsa Media, Juli 2012) ini, secara tak sadar telah memunculkan gaya bahasa yang terasa baru dan memiliki cita rasa yang berbeda pada rangkaian cerita yang terjalin. Pengarang sebagai pencipta bahasa betul-betul terasa dalam cerpen-cerpen Yetti A KA. Misalnya tergambar pada kalimat:

‘’Mataku tampak lelah. Astaga, aku terkesiap. Itu bukan mata yang lelah. Melainkan mata yang telah mati. Disana hanya terlihat sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Betapa mengerikan memiliki mata semacam itu. Bukankah dulu dia, kekasihku, bahkan bisa melihat bermacam-macam semak di sana, bergelantungan di dahan-dahan kecil namun kuat...’’ (“Tebing”, halaman 16). Dalam rangkaian kalimat di atas tampak bagaimana penjelajahan bahasa itu membuat Yetti A KA sebagai pengarang menjadi penemu diksi ataupun majas yang terasa baru dan memiliki keunikan tersendiri.

Di samping itu, sebagai penjelajah bahasa, tak jarang Yetti A.KA menggunakan metafora yang terasa orisinil ketika menyulam konflik cerita. Misalnya dalam cerpen ‘’Naru dan Layang’’. Cerpen ini mengisahkan persahabatan dua perempuan bernama Naru dan Layang. Mereka berteman baik dari kecil meski tidak pernah belajar di sekolah yang sama. Layang kerap mengeluh pada Naru tentang dadanya yang berat. Namun, Naru tak bisa menerka makna kalimat dada yang berat yang kerap dikeluhkan Layang. Hingga ketika Naru dan Layang sama-sama lulus SMA, Layang kembali membicarakan perihal dadanya pada Naru. ‘’Aku berpikir sebenarnya ada seekor kupu-kupu raksasa di dadaku. Kupu-kupu itu berwarna hitam, memiliki mata yang keras, dan sayap yang besar. Pantas ia berat sekali. Warna yang hitam, Naru. Kau bisa bayangkan, bukan?’’ begitu ungkap Layang (halaman 39-40).

Hanya saja, setelah hari itu, Naru kehilangan jejak Layang. Layang seperti lenyap bersama seekor kupu-kupu raksasa yang pernah ia keluhkan. Barulah beberapa bulan kemudian Naru dapat sedikit kejelasan tentang Layang. Ibunya yang membawa kabar itu. Sambil memperlihatkan foto seorang gadis yang sengaja disamarkan di majalah khusus wanita. Ibunya berujar, ‘’Meski disamarkan, gadis ini mirip sekali dengan Layang. Dia diperkosa ayah tirinya selama bertahun-tahun. Kasus ini terbuka karena gadis itu memberi pengakuan pada neneknya...’’ (halaman 41). Naru kemudian mencermati foto dalam majalah yang dibawa oleh sang ibu. Setelah mengamati, Naru bisa memastikan bahwa gadis dalam majalah yang wajahnya disamarkan itu adalah Layang. Sebab, Naru merasa sangat mengenal rambut atau bibir atau hidung Layang, meski disamarkan.

Membaca cerpen ‘’Naru dan Layang’’ ini terlihat bagaimana Yetti menggambarkan sebuah permasalahan dengan cara yang berbeda. Di mana seekor kupu-kupu raksasa yang dikeluhkan Layang pada Naru, merupakan sebuah metafora atas rahasia dan permasalahan hidup yang dialami Layang yang harus ia simpan sendiri selama bertahun-tahun. Sebuah teknik bercerita yang unik, mengajak pembaca berpikir dan mencerna makna pada setiap pilihan kata yang disuguhkan pengarang.

Deskripsi
Kita tahu, latar merupakan faktor yang vital dalam cerpen, meskipun cerpen abstrak atau cerpen yang terjadi di negeri dongeng. Sebab, latar tempat dan suasana dapat menjadi nadi dan menentukan denyut kehidupan sebuah cerpen. Sehingga cerpen menjadi alami, berpijak, tidak sekadar mengawang di angan-angan. Membaca cerpen-cerpen Yetti A.KA dalam kumpulan ini, terlihat betapa Yetti A.KA menunjukkan keseriusannya dalam membuat deskripsi. Dalam rangkaian cerita yang ia jalin, Yetti A.KA berhasil menghadirkan deskripsi mendetail berkaitan dengan tangkapan alat indra, seperti warna, ukuran, motif, bau, rasa, hawa, suara, dan lainnya. Berikut beberapa contoh deskripsi yang begitu detil digambarkan:

‘’Kebetulan sekali rumah kontrakan kami dan rumah anak itu berada dalam satu lorong yang menyisakan halaman sangat sempit dan hanya bisa dilewati sepeda motor. Di mulut lorong terdapat tulisan: mesin motor harap dimatikan. Sebagai orang Sumatera, sebenarnya aku tidak terbiasa dengan keterbatasan semacam itu. Aku akrab dengan halaman yang luas di depan rumah kami atau jalan yang lapang hingga truk pun tidak dilarang lewat...’’ (‘’Tentang Anak Lelaki yang Tinggal Satu Lorong dengan Kami,’’ halaman 96).

‘’Sudah lama Nami menunggu kesempatan untuk melihat bibir merah membara dan mata bulat hitam itu. Bibir yang barangkali serupa kelopak-kelopak mawar; hidup, berani, menyala. Mata yang bagai batu karang; teguh, gelap, basah,’’ (‘’Ibu Laut’’, halaman 25).

‘’Sore hari seusai bekerja di pinggir lapangan yang sekarang kosong. Karena musim hujan, lapangan ini tidak dipakai anak-anak bermain bola. Biasanya disini ramai, terutama sore. Rumput lebih hijau. Cuaca tidak terlalu buruk, tetapi jelas tidak cerah. Kuperkirakan hujan akan turun nanti malam. Atau paling cepat saat senja,’’ (‘’Stro Bertanya: Siapa Lebih Cantik di Antara Kami,’’ halaman 129).

‘’Di luar Malina melihat sawah sedang hijau-hijaunya. Burung-burung kecil hinggap dan terbang. Sebagian sawah yang lain, yang letaknya jauh ke dalam, mulai menguning (Malina Dalam Bus Tua,’’ halaman 78).

‘’Ini bulan Juli. Angin begitu kencang. Dingin. Kering. Gang di depan rumah mesti disiram empat jam sekali. Itu pun masih membuat debu beterbangan. Dinding-dinding warna putih terlihat kusam. Kaca-kaca bening cepat sekali berubah kecoklatan...’’ (‘’Tentang Delori’’, halaman 61).

Membaca beberapa paragraf di atas tampak betapa kesungguhan pengarang dalam menciptakan deskripsi dalam cerita yang dibangun. Membuat pembaca seolah-olah bisa menyaksikan rentetan peristiwa dan seakan-akan berada di dalam jalinan kisahnya.

Melalui cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, tidaklah berlebih jika dikatakan Yetti A KA telah memperlihatkan kesabaran dan keseriusannya sebagai pengarang dalam menjelajah bahasa demi mempersembahkan setiap kata terbaik kepada pembaca. Hal ini tentunya merupakan suatu kontribusi yang selalu diharapkan dalam kesusastraan Indonesia. Disamping itu, juga bertujuan agar cerpen tetap mendapat tempat di hati pembaca di tengah keriuhan-keriuhan instan dan praktis dalam era cyberspace dan pesatnya informasi seperti hari ini. n

04 Februari 2013

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Universitas Andalas, Padang

Sumber: Riau Pos, Minggu, 17 Februari 2013
 

[Jejak] Saiful Bahri Berjasa di Indonesia dan Malaysia

SAIFUL Bahri bukan saja telah berjasa besar kepada tanah airnya (Indonesia) tetapi juga Malaysia. Ini karena selain pernah berkhidmat sebagai pegawai khas kepada Menteri Penerangan ketika itu (Senu Abdul Rahman) dia juga turut memegang jawatan sebagai Pengarah Musik di Filem Negara Malaysia (FNM).

MUSIK adalah kemahirannya, dan dengan itu lahirlah banyak lagu patriotik Malaysia termasuk ‘’Malaysia Berjaya’’ yang tetap segar sampai ke hari ini, ‘’Muhibbah’’ dan ‘’Perajurit Tanahair’’ yang dinyanyikan oleh Jamaluddin Alias. Lagu Kebangsaan Negeri Selangor yang ada sekarang adalah ciptaannya, dan karena jasanya itu Sultan Selangor telah menganugerahkan pingat Setia Mahkota Selangor (SMS).

Saiful Bahri lahir di Payakumbuh, Sumatera pada 19 September 1924, dan mendapat pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Kayutaman, Sumatera, dan di situlah bakat musiknya terselah kemudian ditubuhkannya satu kumpulan musik. Apabila berpindah ke Jakarta mengadu untung dan nasib, pada tahun 1940 Saiful Bahri terpilih menganggutai Orkes Studio Jakarta sebagai pemain biola dan sepuluh tahun kemudian dia sampai ke peringkat sebagai pemimpin Orkes Studio Jakarta dari tahun 1950 hingga 1960.

Dalam tahun 1960, Saiful Bahri bersama Titiek Puspa, Bing Slamet, Sam Saimun, S Effendy dan Mokhtar Embut telah melakukan lawatan ke beberapa negeri di Malaysia (Malaya) dengan membuat pertunjukan pentas yang mendapat sambutan hangat.

Ketika berada di Malaya itulah timbul ilham Saiful Bahri mencipta lagu ‘’Semalam di Malaya’’ (nyanyian S Effandy) kemudian dijadikan film berjudul ‘’Semalam di Malaysia’’ dengan bintang utama Sam Bimbo dan Norzie Nani.

Karena tertarik dengan Malaysia, Saiful Bahri menjadikan Malaysia sebagai tempat kediamannya, dan selain ‘’Semalam Di Malaya’’ lagu-lagu lain ciptaannya termasuklah ‘’Senjakala’’, ‘’Surat Tak Bernama’’, ‘’Kenangan Masa’’ dan ‘’Fajar Harapan’’.
Selain NV Perfini, Saiful Bahri juga turut menghasilkan musik untuk syarikat film Bintang Surabaya dan Golden Arrow. Saiful Bahri pernah menyanyi dan berlakon dalam film Terimalah Laguku (1952) yang turut dibintangi Raden Ismail dan Titi Savitri.

Di Studio Merdeka dia turut terlibat dengan musik (menggunakan nama Surya Buana) untuk film Jauh Di Mata (1964) arahan Fred Young dan dibintangi oleh Abdullah Chik dan Sofia Ibrahim. Dia juga turut menyanyi.

Film tersebut dipadankan dari film Indonesia Lenggang Djakarta keluaran pada 1953 yang turut melibatkan dirinya. Saiful Bahri meninggal dunia di Tokyo, Jepang pada 5 Disember 1976. 

Film pertama yang dibintangi oleh Indriati Iskak. Film ini memenangi anugerah penghargaan dalam Festival Film Indonesia Ke-2 (FFI2) 1960 untuk musik terbaik (Saiful Bahri). Film ini mulai ditayangkan serentak di New Alhambra dan Odeon, Katong, Singapura sempena menyambut Hari Raya Haji pada 28 Juni 1958.

Berikutnya kejayaan box office yang dicapainya, Usmar Ismail mengarahkan pula Asrama Dara (1958) dengan mengekalkan lakonan Chitra Dewi, Rendra Karno, Fifi Young dan Bambang Irawan ditambah dengan Suzzana, Bambang Hermato dan Aminah Cendrakasih tetapi sambutannya kurang berjaya.(fed/berbagai sumber)

Sumber: Riau Pos, Minggu, 17 Februari 2013

Saturday, February 16, 2013

Diminati Pemahaman Spiritualitas dalam Sastra

-- Adam Chiefni

KARYA sastra bertema spiritualitas ternyata masih diminati dikalangan pembaca. Paling tidak bisa dilihat dari hasil survei Bale Sastra Kecapi yang diadakan bulan lalu di Jakarta.

    Berdasarkan hasil survei dari 100 responden di Jakarta dan sekitarnya inilah Bentara Budaya mengusung agenda acara diskusi "Spiritualitas dalam Sastra", baru-baru ini.

    Bekerja sama dengan harian Kompas dan Bale Sastra Kecapi dihadirkan pembicara Yudi Latif (pemikir kebudayaan), Stanislaus (St) Sunardi (ahli sastra dan filsafat Islam), dan Abdul Hadi Wiji Muthari (WM) yang dipandu oleh Radhar Panca Dahana (penyair/esais).

    Penyair /peneliti sastra Islam Abduil Hadi membahas Relevansi Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya sufi Persia terkenal Farriduddin al-`Attar, nama lengkapnya Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim (1132-1222 M).

    Guru besar dalam bidang Ilmu Falsafah dan Agama Universitas Paramadina itu mengemukakan hingga sekarang karya sufi dari Nisyapur ini masih jadi perbincangan hangat di kalangan sarjana dan masyarakat sufi internasional, di Timur maupun di Barat, disebabkan relevansinya.

    Ada beberapa perspektif atau aspek penting yang dapat dikemukakan untuk melihat relevansi karya sufistik atau profetik seperti Mantiq al-Tayr.

    Pertama, berkenaan dengan wawasan estetika yang melandasi penulisannya, yang sebenarnya mencerminkan kecenderungan umum karya sejenis sufistik, mistikal, transendental, spiritual, profetik, bahkan apokaliptik, dan lain sebagainya.

    Kedua, aspek kesejarahan yaitu sejarah sosial budaya dan keagamaan yang melatari penulisan karya `Attar. Ketiga, sebagai karya yang berangkat dari perenungan ketuhanan dan masalah keagamaan.

    Secara estetik Mantiq al-Tayr memerlihatkan bahwa kaum spiritualis atau mistikus (dalam hal ini sufi) memandang bahwa sastra sebagai penyajian secara simbolik gagasan dan pengalaman kerohanian yang dicapai penulisnya sebagai penempuh jalan kerohanian.

    Simbol-simbol tersebut diambil dari kitab suci, teks keagamaan, sejarah agama, pristiwa-peristiwa sejarah, budaya, cerita rakyat yang mereka kenal, dan lain sebagainya.

    Apa yang dipaparkan di situ tetap ada kaitannya dengan realitas di luarnya. Persoalan-persoalan yang dikemukakan melalui kisah-kisah dalam Mantiq al-Tayr, adalah persoalan keseharian namun berhasil ditransformasikan menjadi persoalan spiritual dan keagamaan.

    St. Sunardi memaparkan Sebuah Catatan tentang Surga Anak-Anak karya Najnb Mahf{z. yang mengambil tema pendidikan agama dalam masyarakat modern. Berdasarkan pengamatan Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta itu dapat disimpulkan bahwa sastra mempunyai kekuatan spiritualitas justru karena sastra menyuarakan imanensi manusia (batas-batas kemanusiaan) dan bukannya melantunkan suara dari langit. Karena, menurut Sunardi, spiritualitas berkaitan dengan suara manusia yang terus-menerus mencari dan mencari yang lain. Malah, nuansa spiritual tidak musti terkait langsung dengan agama.

    Dalam konteks itu sastra malah mempunyai caranya sendiri untuk mendefinisikan dan meredifinisikan apa itu "spiritualitas".

    Pengasuh Pesantren Ilmu Kemanu-siaan dan Kenegaraan (PeKiK Indonesia ) Yudi Latif, mengemukakan men-tradisi sastra-spiritualitas juga memantul di kepulauan Nusantara, antara lain dengan menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah mengalami banyak perkembangan sebelum ia digunakan sebagai alat bagi sastra metafisika dan filosofis Islam.

    Sementara itu mengenai tema, teori tentang penciptaan dalam sastra Islam sama tuanya dengan ajaran Islam sendiri.

    Selain itu, sastra Islam juga menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan kerinduan akan cinta-Nya dan merepresentasikan asal-muasal sumber penciptaan. Amir Hamzah, misalnya, digambarkan oleh Prof A Teeuw sebagai "satu-satunya penyair Melayu 'modern' yang kembali pada puisi Melayu religius 'tradisional' yang berwarna-mistik, yang pada gilirannya bisa ditelusuri kembali secara langsung atau tidak langsung kepada para mistikus besar Islam.

    Memasuki perkembangan budaya kontemporer, tampaknya tema sastra bercorak religius tidak pernah mati. Apakah ia sebagai jawaban atas kekeringan kehidupan batin manusia modern ataukah sebagai pelarian dari kekerasan kehidupan yang masih diliputi konflik antarnegara, sosial, agama, etnis, individu, batin, dan degradasi lingkungan hidup yang membuat dunia sastra mau tak mau harus ambil bagian dalam dunia yang semakin sakit ini. Maka, mau tak mau, dalam dunia seperti ini, untuk meminjam ungkapan Romo Mangunwijaya dua puluh tahun yang lalu, setiap karya sastra yang berkualitas selalu berjiwa religius.

    Mengutip ucapan pemikir Islam terkemuka Mohammad Iqbal, bahwa di atas fase penghayatan religius dalam arti pemahaman masih ada penghayatan yang lebih tinggi, yakni yang sering disebut mistik.

    Mistik tersebut bukanlah sebentuk takhayul, melainkan pendewasaan yang lebih menuju ke dalam. Atau bagi Romo Mangun (bukunya Sastra dan Religiositas, 1988) disebut sebagai "religiositas yang dewasa." Yakni sebuah karya sastra yang mampu menyuguhkan kandungan kadar religiositasnya.

    Bukan religiositas dalam arti formal keagamaan, tetapi dalam daya kemampuannya membuat orang bertanya pada dan tentang diri: apa maknanya, apa makna hidupnya?

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 16 Februari 2013

Wednesday, February 13, 2013

Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya

-- Damar Juniarto

Label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini ternyata dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia selama kurun kurang dari seratus tahun.
DELAPAN tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi melalui penerbit Bentang Pustaka dilansir kabar yang sangat menyenangkan untuk didengar. Andrea Hirata, penulis kelahiran Belitung yang menulis seri kisah anak lelaki bernama Ikal dari pulau Belitung yang miskin tetapi akhirnya sukses, aktif mengabarkannya lewat beragam media, baik mainstream maupun akun media sosialnya. Pertama, ?Farrar, Straus and Giroux? (selanjutnya disingkat FSG) akan mencetak Laskar Pelangi di bulan Februari 2013. Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang mendapat kesempatan dari penerbit yang terbiasa mencetak karya-karya sastrawan dunia. Kedua, Laskar Pelangi mendapat pengakuan sebagai “International Best Seller”. Ini didasarkan atas pencantuman label di bagian atas sampul Laskar Pelangi terbitan dari negara Turki.

Kedua kabar ini tidak secara serentak diberitakan, melainkan bertahap disampaikan. Semua mulai bergulir sejak terjemahan Laskar Pelangi lebih dulu dicetak oleh penerbit-penerbit di luar Indonesia, seperti Penguin Books dan Random House dan kemudian dipasarkan ke lebih dari 20 negara. Siapapun orang Indonesia pastilah bangga mendengarnya. Jarang sekali, bukan berarti tidak ada, penulis Indonesia menorehkan prestasi demikian.

Malahan, sebagai publisis yang bergerak di bidang buku dan film, saya nyatakan terbitnya Laskar Pelangi telah mengubah lanskap sejarah penerbitan dan perfilman. Di penerbitan, Laskar Pelangi telah tercetak lebih dari 5 juta eksemplar lewat ritel resmi dan di pasar gelap mencapai 15 juta eksemplar. Itu artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, 20 juta eksemplar dimiliki oleh pembaca. Booming karya Laskar Pelangi melahirkan genre yang dinamakan Novel Otobiografis atau biasanya saya sederhanakan artinya menjadi “novelisasi kisah hidup sendiri”. Sontak, penerbit berlomba mencari penulis yang mampu mengangkat kisah hidupnya dan sedapat mungkin dijadikan novel, hanya untuk mengikuti tren yang muncul karena Laskar Pelangi. Di film, kisahnya kurang lebih sama. Lewat tangan kreatif Mira Lesmana, Riri Riza, dan Salman Aristo sebagai penulis adaptasinya, film Laskar Pelangi mencetak angka penonton yang masih tercatat sebagai angka paling tinggi: 4.606.785 (Catatan Filmindonesia.or.id dari laporan jaringan 21 Cineplex). Sampai tahun 2013 ini, angka penonton ini hampir saja dilampaui oleh film Habibie & Ainun dengan jumlah penonton sebanyak 4.207.864. Sama halnya seperti di penerbitan, booming Laskar Pelangi menderaskan pengadaptasian buku-buku bestseller lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan “film adaptasi” adalah pilihan yang dipertimbangkan produser bahkan melampaui film horor.

Kalau tidak karena pernyataan sensasional yang disampaikan Andrea Hirata pada Selasa, 12 Februari 2013 dan dimuat di sejumlah media nasional, saya masih dalam kerangka berpikir yang sama. Karena pernyataan itu juga saya kemudian melakukan pengecekan ulang atas semua yang pernah dinyatakan Andrea Hirata mengenai pengakuan internasional atas karya Laskar Pelangi.

Klaim Penulis?
September 2012, Andrea Hirata memberitakan dirinya telah ditandatanganinya kontrak perjanjian dengan pihak penerbit FSG. FSG adalah sebuah penerbit yang dianggap sebagai penerbit terakhir yang hanya menerbitkan karya sastra dan terkenal karena daftar para penulis yang diterbitkan melaluinya, mulai dari karya fiksi sastra, narasi non-fiksi, puisi, hingga sastra anak. Nama-nama pemenang Nobel Sastra seperti Hermann Hesse, T. S. Eliot, Yasunari Kawabata, Aleksandr Solzhenitsyn, Pablo Neruda, Camilo José Cela, Nadine Gordimer, Mario Vargas Llosa. Begitu juga pemenang Nobel Perdamaian, tetapi yang pasti adalah para penulis pemenang anugerah sastra bergengsi Amerika Serikat Pulitzer. Nama-nama mulai Oscar Hijuelos, Michael Cunningham, Jeffrey Eugenides, hingga Marilynne Robinson ada di antara nama-nama penulis lain. Ini berarti Andrea Hirata adalah penulis pertama dari Indonesia yang bekerjasama dengan FSG.

Sebagai publisis, beruntung bahwa saya memiliki informasi yang membuat saya mampu melakukan pengecekan ke pihak penerbit. Saya melakukan pengecekan ke FSG dan Bentang Pustaka. Fakta yang menarik adalah Laskar Pelangi yang kemudian diterjemahkan menjadi The Rainbow Troops ternyata dicetak oleh Sarah Crichton Books, imprint dari FSG, yang menerbitkan beragam karya sastra dan fiksi dan non-fiksi komersil. Sarah Crichton Books menekankan pada sisi komersil. Imprint ini mencetak The God Factor karya Cathleen Falsani tahun 2006 dan karya Ishmael Beah berjudul A Long Way Gone bestseller dan buku pilihan Starbucks tahun 2007.

13607730561095941428

Dari informasi ini, saya melihat ada perbedaan besar antara FSG dan imprint Sarah Crichton Books. Sederhana saja, nama-nama penulis yang bekerjasama dengan Sarah Crichton Books nyaris nama-nama penulis yang asing terdengar dan di luar dari nama pemenang penghargaan Nobel/Pulitzer. Daftar penulisnya bisa dicek di: http://www.boomerangbooks.com.au/publisher/Sarah-Crichton-Books

Ketika hal ini saya tanyakan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi lewat wawancara telepon, secara mengejutkan, penerbit tidak mengetahui perihal ini. Salman tetap menyebutkan bahwa Laskar Pelangi dicetak oleh FSG dan bukan oleh imprint, dan bukan didasar atas pertimbangan komersil.

Berdasarkan fakta ini, ada detil kecil yang tidak disampaikan kepada kita sebagai pembaca/publik oleh Andrea Hirata. Informasi mengenai imprint dipotong dan diklaim bagian FSG hanya untuk kepentingan pencitraan (marketing), seolah-olah benar ada seorang penulis dari Indonesia yang telah kontrak dengan FSG.

Tetapi klaim ini kalah apabila dibandingkan dengan pernyataan Andrea Hirata berikut ini. Dalam konferensi pers Selasa, 12 Februari 2013 mengenai pengakuan “International Best Seller” dari Turki, yang dihadiri oleh media-media nasional, dilansir ucapan: “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi bestseller dunia.” (Metronews.com)

Pengakuan Internasional?
Penerbit Turki bernama Butik Yayinlari menerbitkan Gokkusagi Askerleri dengan mencantumkan label “International Best Seller” di bagian atas sampul. “Untuk meraih predikat ‘International Best Seller’ di luar negeri tidak mudah. Paling tidak penjualan buku tersebut mencapai 70 persen di setiap negara yang menerbitkannya,” demikian disampaikan Andrea Hirata kepada pers (Antaranews.com). Tentu saja, saya langsung mencoba mencari data yang diperlukan atas apa yang disampaikan oleh penulis ini. Bagaimana faktanya?

Ketika Andrea Hirata menyatakan bahwa hampir seratus tahun tidak ada pembuktian ada karya anak bangsa mendunia, dengan mudah saya kategorikan Andrea Hirata lagi-lagi sedang melakukan klaim. Karena faktanya tidak benar demikian. Pengakuan internasional untuk karya sastra dari Indonesia tak terbilang banyaknya. Pramoedya Ananta Toer pernah mendapatkannya, bahkan sampai hari ini baru dirinyalah sastrawan dari Indonesia yang dinobatkan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra. YB Mangunwijaya juga mendapatkan pengakuan internasional. NH Dini, yang hampir menjadi kandidat Nobel juga termasuk. Jadi klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun.
Laskar Pelangi versi Turki (Sumber: www.andrea-hirata.com)

Laskar Pelangi versi Turki (Sumber: www.andrea-hirata.com)

Satu-satunya klaim yang mendekati kebenaran adalah soal “International Best Seller”. Paling tidak, menurut saya, Andrea Hirata membawa bukti berupa sampul Laskar Pelangi versi Turki. Maksudnya mendekati kebenaran, menurut Salman Faridi, ada kemungkinan pencantuman “International Best Seller” di sampul versi Turki berdasarkan keterangan dari Kathleen Anderson dari Kathleen Anderson Literary Management, agen yang berhasil menjual Laskar Pelangi. Kemungkinan besar karena Laskar Pelangi berhasil dijual Kathleen ke beberapa negara dan ada beberapa negara yang cetak ulang. Tetapi Salman tidak bisa merinci negara mana saja. Dari berita, hanya Vietnam saja yang mencetak ulang. Lalu mana daftar negara lainnya?

Tetapi masih terlalu cepat menyimpulkan kalau ini juga klaim. Maka saya mencari informasi mengenai kriteria “International Best Seller” dari penulis Maggie Tiojakin, yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional. Maggie menjelaskan kriterianya adalah cetak ulang di beberapa negara, biasanya di atas 10 negara. Setelah mendengar keterangan ini, saya menghentikan kegiatan saya untuk mencari informasi lebih lanjut. Saya tidak setuju label “International Best Seller” yang dasar penetapannya tidak jelas ini kemudian dipergunakan Andrea Hirata untuk mengolok-olok sejarah sastra Indonesia, ini jelas memprihatinkan.

Kedepankan Kejujuran
Berhadapan dengan media, memang membutuhkan news peg yang menarik. Sebagai publisis, saya paham betul apa yang dilakukan Andrea Hirata tidak lebih dari strategi marketing untuk mencitrakan dirinya sebagai penulis Indonesia berkelas dunia. Personal branding dibangun dengan membalut diri dengan informasi-informasi yang fantastis, sama seperti kisah Ikal yang ditulisnya.

Tetapi sebagai publisis, saya berpikir strategi marketing bagi penulis Andrea Hirata dengan segala klaim yang dikatakannya selama ini beresiko. Resiko yang tak seharusnya terjadi bilamana mencuat kebenaran yang sesungguhnya. Resiko yang tak perlu muncul juga seandainya Andrea Hirata lebih bijak menempatkan dirinya. Resiko ini bukan hanya berlaku bagi penulis sendiri, tetapi juga akan mengikutsertakan penerbit, juga seantero industri penerbitan dan perfilman. Pasti kita semua tidak ingin ini terjadi bukan? Maka kedepankan kejujuran, wahai Andrea Hirata.

[dam]

Publisis buku di Tanam Ide Kreasi (@scriptozoid), Moderator komunitas Goodreads Indonesia 2008-2010, pembaca aktif.

Damar Juniarto. Ayah dari #happylux dan suami dari @lux_eternally. Bekerja sebagai penulis. Bergiat sebagai publicist dan new media publisher di Tanam Ide Kreasi http://scriptozoid.wordpress.com Sudi berkenan mampir ke blog saya http://damdubidudam.wordpress.com

Sumber: Kompasiana, Rabu, 13 Februari 2013

Sunday, February 10, 2013

Korupsi dalam Lirik Puisi

-- Riza Multazam Luthfy

DALAM tarafnya masing-masing, puisi dan korupsi sama-sama menjanjikan kenikmatan tiada tara. Keduanya sanggup membawa penikmatnya melayang ke udara sembari menapaki tangga pelangi di cakrawala. Alangkah hebatnya! Dengan puisi, seseorang sanggup menyelami keping-keping rahasia semesta. Pun betapa ajaibnya! Melalui korupsi, seseorang mampu meresapi bebulir dosa dan kebejatannya.

Sesuai kapasitasnya, puisi menghidangkan asupan nilai guna memperkaya jiwa. Adapun korupsi ringan menghibahkan penyakit radang sukma. Atas dasar itulah, menilik kedahsyatan puisi dan korupsi, para sastrawan mengombinasikan keduanya dalam karya-karya mereka. Seperti halnya Remy Sylado (2004) yang melahirkan puisi bertitel “Seorang Prajurit Memulai Korupsi dengan Sumpritan Seharga Rp200”: Satu prit/ Jigo// Empat prit/ Cepek// Delapan prit/ Kembali pokok.

Korupsi Lebih Najis dari Babi
Melukiskan kegalauannya, Gus Mus pernah menulis puisi berjudul ‘’Ada Apa dengan Kalian’’: Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci/ Mengapa kalian diamkan korupsi/ Yang kadar memabukkannya jauh lebih tinggi/ Bila karena najis, babi kalian musuhi/ Mengapa kalian abaikan korupsi/ Yang lebih menjijikkan ketimbang kotoran seribu babi.

Dalam puisi yang diaktualisasikan secara terbuka tersebut, betapa korupsi dijelmakan menjadi barang yang harus dijauhi. Dijauhi karena mengandung daya mabuk luar biasa, sehingga bisa mengantar penikmatnya hilang kesadaran lalu mengamuk, membabibuta. Parahnya lagi, jika didera ketagihan, maka tak ayal baginya untuk melakukan apapun demi mengetam berbagai ragam khasiat yang dimuat serta merasakan ‘sensasi’-nya.

Korupsi digambarkan pula selaku barang dengan kadar najis selangit. Saking najisnya, bahkan ia lebih najis dari kotoran babi. Padahal dalam Islam, babi adalah hewan najis, yang apabila dijilat, maka seseorang wajib membasuh bagian tubuh yang terkena jilatan itu sebanyak tujuh kali dan salah satu diantarannya dengan air bercampur tanah. Sedemikian hina-dinanya, sebagian orang-orang fasik, orang-orang yang dimurkai Tuhan, menelan kutukan menjadi kera dan babi (surah al-Maidah: 60).

Babi juga dilarang untuk dikonsumsi. Nash Alquran mengharamkan atas hewan yang serat dagingnya memuat cacing pita itu dalam surah al-Baqarah: 173, al-Maidah: 3, dan an-Nahl: 115.

Menurut hikmatu at-tasyri’ (hikmah ditetapkannya suatu syariat), suatu larangan menyimpan mafsadah (kerusakan). Ini berarti, ‘berdasar pada puisi Gus Mus di atas’ bahaya serta kandungan kerusakan pada korupsi jauh lebih besar daripada tubuh babi.

Peti Mati bagi Koruptor
Dalam buku puisi Anak Mencari Tuhan yang dikemas satu paket dengan Pertempuran Rahasia Anggitan Triyanto Triwikromo (Gramedia Pustaka Utama, 2010), Nugroho Suksmanto sempat menuturkan kegelisahan akan korupsi. Berbekal racikan kata sederhana, Nugroho Suksmanto menapak ikhtiar dalam rangka menyuguhkan ‘sesuatu yang paradoks’ dalam korupsi -dengan ketus dan genit, pada puisi bertajuk ‘’di China dan di Kita’’: Di China/ Pemimpinnya keji/ Saat memberantas korupsi/ Tak segan menembak mati// Di Kita/ Para pemimpin baik hati/ Berderma dari hasil korupsi/ Pergi haji berkali-kali.

Dari puisi di atas, tampaklah bahwa Cina membentangkan ketegasan membabibuta. Ketegasan yang mengungkap bahwa guna memberantas korupsi, membenamkan nyawa penikmatnya merupakan pilihan paling tepat. Tidak seperti di negeri kita (Indonesia), yang justru pemimpinnya menjadikan rupiah hasil korupsi untuk bersedekah, bahkan berangkat ke Makkah.

Bukan sebiji kebetulan jika Nugroho Suksmanto mendayagunakan Cina dalam puisinya. Sudah barang tentu, kata tersebut telah melewati penyortiran yang matang. Mengapa? Sebab, Cina adalah salah satu teladan dunia dalam mengatasi korupsi. Sesiapa yang terbukti tersentuh korupsi, maka ia harus bersigap memeluk ajal esok hari. Akibat kegigihan dan keberaniannya, Cina pernah menadah peringkat terpuji dalam ‘’Indeks Persepsi Korupsi’’ (CPI) maupun ‘’Indeks Transparansi’’ (TI): berindeks 3,1; sejajar dengan Mesir.

Puncak dari tekad memberangus korupsi itu ialah ketika Presiden Hu Jintao (mulai berkuasa tahun 2003) berikrar menyediakan 100 peti mati untuk para koruptor dan 1 peti untuk dirinya sendiri, kalau ia juga terendus korupsi. Suatu pernyataan yang mengindikasikan simbol dari perwujudan hasrat seorang pemimpin bertanggung jawab.

Wacana pemberlakuan hukuman mati kepada para koruptor perlu mendapat angin baru. Kaum pengganyang uang negara sudah saatnya dijejali hukuman mati, karena selama ini hukuman bui enggan memberikan efek jera (deterrent effect) bagi mereka. Sebenarnya, dalam hukum positif Indonesia, hukuman mati genap terakomodasi dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sayang, dalam realitasnya pemerintah belum beraniatau lebih tepatnya belum punya nyali, secara tegas menerapkannya, sehingga para koruptor masih bisa menghisap rokok sambil ongkang-ongkang kaki.

Penerapan hukuman mati bagi koruptor merupakan hal yang patut dilaksanakan. Sanksi tersebut bukanlah bersifat bengis atau kejam, karena korupsi tergolong crimes against humanity (kejahatan terhadap umat manusia), bukan lagi sekadar extraordinary crime (kejahatan luar biasa), dimana penikmatnya layak mengunyah balasan seberat-beratnya. Mengingat, bahwa korupsi rentan menetaskan dampak negatif yang tidak hanya membahayakan orang seorang, namun masyarakat secara keseluruhan.

Sudah semestinya hukuman perampasan ajal bagi koruptor mengantongi status primum remedium, di mana sanksi pidana dimanfaatkan selaku sarana utama dan pertama kali diancamkan dalam suatu ketentuan Undang-Undang, bukan lagi ultimum remedium, yang mempergunakan sanksi pidana manakala sanksi perdata maupun sanksi administratif sudah tidak berdaya.

Penerapan sanksi merupakan di antara jalan mengayuh tujuan masyarakat: the greates happiness of the greates number, dalam ungkapan Jeremy Bentham (1748-1832). Meminjam apa yang dilontarkan oleh pendiri utilitarisme individual tersebut, kejahatan menghilangkan kebahagiaan manusia dan penghukuman memastikan keamanan yang merupakan fondasi kebahagiaan. Walau tampak jahat, hanya dengan menerapkan sebuah sistem paksaan rasional, pemerintah dapat menyokong kebahagiaan para warga. Raibnya kebahagiaan (atau kebalikannya, terjadinya kebahagiaan) merupakan basis utama untuk menghukum para pelaku kejahatan. Semakin seorang pelaku kejahatan ‘mengganggu kebahagiaan’, semakin ‘besar tuntutan kebahagiaan untuk menjatuhkan hukuman’. (Richard Schoch, 2009)

Jogjakarta, 2012


Riza Multazam Luthfy, Menulis puisi, cerpen dan esai. Karya-karyanya bertebaran di beberapa media, seperti Kompas, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Riau Pos, Analisa, Waspada dan lain-lain. Ia adalah ahlul mahad Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Sedang melanjutkan studi di program Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 10 Februari 2013

Menilik Sejumlah Tokoh ’’Berkepribadian Terbalik’’ dalam Kumpulan Kaki yang Terhormat

-- Desi Sommalia Gustina

ENTAH disadari atau tidak, banyak hal-hal yang serba terbalik terhampar di sekitar kita. Umpamanya orang yang disangka memiliki akhlak terpuji padahal dalam lakunya justru berperilaku sebaliknya. Hal inilah yang dipaparkan oleh sejumlah cerpen dalam kumpulan Kaki yang Terhormat. Cerpen “Upit” dalam kumpulan karya Gus TF Sakai ini misalnya, demi harga diri, pernikahan dilaksanakan hanya untuk menutupi aib.

Cerpen “Upit” bercerita tentang seorang remaja kelas 2 SMU bernama Upit yang terpaksa melepas seragam putih abu-abunya karena harus menikah dengan lelaki pemilik toko tempat Ayahnya bekerja. Sebagai anak, Upit tak kuasa menolak. Suka tidak suka Upit mesti menjalani pernikahan dengan lelaki yang dipilihkan oleh orangtuanya berdasarkan pertimbangan ‘balas jasa’. Persoalan hidup Upit kian pelik setelah resmi menjadi istri si Abang, demikian Upit menyebut suaminya. Karena setelah mengarungi bahtera rumah tangga bersama si Abang baru terkuak bahwa suami Upit adalah lelaki yang menyukai sesama jenis. Si Abang menikahi Upit hanya untuk mendapatkan ‘status’ demi menutupi ketidaknormalannya.

Orang-orang di sekitar tempat tinggal Upit bukannya tidak tahu tentang perangai si Abang yang sering ‘memuat’ lelaki di mobilnya dan kembali keluar pada dini hari bersama si lelaki. Namun, karena si Abang seorang dermawan dan penyumbang terbesar kegiatan sosial di kompleks, masyarakat di sekitar Upit pun bungkam. Justru, Haris, tetangga sekaligus sahabat Upit, yang berusaha menumbuhkan keberanian dalam diri Upit agar bercerita tentang ketidaknormalan si Abang pada orangtuanya, harus menerima kenyataan pahit diusir dari kompleks karena dianggap mengganggu istri si Abang ketika kepergok sedang ngobrol berdua bersama Upit di teras rumah ketika si Abang tidak di rumah.

Dalam cerpen “Upit” ini hal-hal yang serba terbalik sungguh benderang terlihat. Hingga menjungkir-balikkan realita. Membuat yang hitam menjadi putih, yang putih menjadi hitam. Menghukum yang benar, membebaskan yang salah. Sungguh, melihat penjatuhan vonis yang keliru, yang diwakili oleh kelompok masyarakat dalam cerpen ini, seolah merefleksikan hukum di negeri ini yang sering kita jumpai serba terbalik: yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.

Cerpen yang berjudul ‘’Lebaran, Jangan, Jangan...’’ juga bercerita tentang tokoh yang memiliki kepribadian terbalik. Tampak elok jika ditilik dari luar tapi buruk jika ditengok ke dalam. Adalah Openg, bocah yang terjebak dalam perangkap orang-orang yang berkepribadian terbalik. Petaka itu bermula ketika Openg menyanggupi bekerja selama dua bulan di jermal yang jaraknya delapan mil dari pantai. Openg tergiur karena upah Rp400.000 per bulan yang dijanjikan Bang Tohar. Openg pikir dengan bekerja selama dua bulan akan terpenuhi biaya Maknya berangkat ke Malaysia. Disamping juga untuk membeli kue dan baju lebaran buat Atin, adik perempuannya. Tapi rupanya janji Bang Tohar, salah seorang mandor di jermal, akan memberi gaji Rp400.000 per bulan adalah palsu belaka. Sebab, setelah berada di jermal Openg kemudian tahu bahwa gaji yang akan ia terima hanya Rp200.000 per bulan. Dan itu pun Openg harus bekerja selama tiga bulan. Openg merasa tertipu. Karena jika bekerja selama tiga bulan, berarti Openg harus melewatkan lebaran berkumpul bersama Mak dan adiknya.

Dalam cerpen ini Openg dan anak-anak lain di jermal itu tak hanya ditipu oleh Bang Tohar, lelaki 40-an yang mengajaknya itu, tetapi juga diperlakukan tidak manusiawi: bekerja bagai tanpa jeda, dan disodomi di malam hari. Keserba-terbalikan dalam cerpen ‘’Lebaran, Jangan, Jangan...’’ ini tak hanya terlukis dari sosok Bang Tohar yang tampak baik dipermukaan tapi ternyata berperangai jadah. Disamping itu, sistem kerja yang bagai tanpa antara mengingatkan kita pada sistem kerja rodi pada zaman Jepang. Bedanya jika dahulu sistem kerja paksa itu dilakukan oleh para penjajah terhadap pribumi, dalam cerpen ini digambarkan penjajahan dan penindasan itu dilakukan oleh pribumi terhadap pribumi. Cerpen ini seakan menyindir negeri ini yang sudah berpuluh-puluh tahun merdeka namun sejatinya masih dijajah oleh bangsa sendiri.

Lalu, tilik pula cerpen yang berjudul ‘’Kak Ros’’. Cerpen ini bercerita tentang tokoh ‘aku’ yang bertandang ke sebuah kota dalam rangka mengikuti acara seminar sastra. Meski panitia menyediakan hotel untuk menginap, tetapi si ‘aku’ lebih memilih menumpang di kos Ben, keponakannya. Di tempat kos Ben itulah ‘aku’ bertemu dengan Kak Ros, Ibu kos Ben yang sudah hampir separuh baya tapi masih lajang, sangat lembut, halus, pengasih, dan seperti bisa bicara pada daun-daun. Namun, tak disangka, Kak Ros yang mulanya dikira lembut dan tenang itu, adalah sosok yang amat dingin, mirip seperti pembunuh bertangan dingin.

Namun, sosok Kak Ros yang dingin tidak akan diketahui dalam sekali lihat. Ben yang telah berbilang tahun meyewa paviliun Kak Ros malah menyimpulkan Kak Ros sebagai perempuan penuh kasih dan penyayang. Namun, tokoh ‘aku’ dalam cerpen ini justru mendapati kenyataan lain pada diri Kak Ros yang teramat menyayangi tetumbuhan. Pada suatu kesempatan, ‘aku’ menemukan Kak Ros membadai. Entah karena sudah kesekian kalinya daun-daun  tanaman Kak Ros patah oleh lompatan kucing yang berlarian disekitar halaman rumahnya, Kak Ros kemudian tak dapat menahan kemarahannya. Sebongkah batu besar Kak Ros empaskan ke kepala seekor kucing, yang membuat kepala kucing malang itu nyaris gepeng. Sebuah pesan yang mampu membuat nafas terhela. Betapa kemarahan yang tidak dikendalikan akan menyeret pelakunya pada hal-hal yang menggenaskan. Begitulah.

20 Desember 2012


Desi Sommalia Gustina, Lahir di Sungai Guntung, Indragiri Hilir, Riau, 18 Desember 1987. Alumnus Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 10 Februari 2013

[Jejak] Semsar Siahaan, Perupa Perlawanan Penindasan

DIA perupa yang gigih menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan, penindasan dan penghisapan manusia atas manusia lain yang termarjinalkan. Sejumlah lukisan pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, 11 Juni 1952, itu menggambarkan kondisi sebuah negeri yang menderita akibat ulah dan penindasan tersistem oleh manusia yang berkuasa. Putra Mayjen (Purn) Ricardo Siahaan, ini seorang aktivis murni, yang rela berkorban bagi sesama.

Pelukis yang terakhir menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional (2004), itu meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Tabanan, Rabu 23 Februari 2005 pukul 01.00 WITA. Jenazahnya disemayamkan di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Kamis 24 Februari 2005, setelah diadakan upacara melepas pukul 11.00.

Pria peranakan, ayah Batak dan ibu keturunan India, ini wafat saat berupaya membangun studionya di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, 16 Km di utara kota Tabanan, Bali. Saat itu, ia tiba-tiba terlihat lemas ketika mengawasi perataan tanah. Dia mengeluh rasa sakit di bagian dada. Kemudian kejang-kejang. Ahli gambar di atas kertas ini mengalami serangan jantung, yang merenggut nyawanya.

Sejumlah lukisan anak kedua dari enam bersaudara, ini bertema keseharian yang kritis merekam kebobrokan moral masyarakat. Salah satu lukisannya yang pernah dipamerkan di Galeri Nasional berjudul “Pizza”. Lukisan berbentuk pizza yang di dalamnya ada potongan-potongan segitiga seperti pizza, cukup menggambarkan berbagai fenomena kehidupan saat ini. Di antaranya, penggambaran tentang penjungkirbalikan fakta yang sering terjadi.

Perupa terkenal yang memilih hidup berpihak pada kaum tertindas itu sering menggambarkan kegetiran para kaum buruh dari penindasan majikan. Bahkan kepeduliannya kepada kaum buruh tertindas tidak hanya terpancar dari karya lukis dan patungnya. Dia pun aktif sebagai salah seorang pendiri Serikat Buruh Merdeka bersama H Pongke Princent.

Dia juga sangat peduli terhadap masalah lingkungan. Sejumlah lukisannya bertema keserakahan negara-negara kaya yang membabat hutan di negara-negara miskin. Lukisan itu ikut dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, 17- 31 Agustus 2004. Bahkan pada tahun 1980-an, dia juga aktif di Sekretariat Perlindungan Hutan Indonesia (Skepy) yang menentang pembabatan hutan di berbagai daerah.
Dalam beberapa karyanya, seniman yang tidak mau diatur oleh kurator dan tidak mau didikte dalam berkarya, itu juga memosisikan diri sebagai objek, tidak selalu sebagai subjek yang merekam objek saja. Seperti tergambar dari lukisannya ‘’Self Potrait with Black Orchid’’ dan ‘’Buruh’’.

Semsar Siahaan, yang akrab dipanggil Sam, dikenal sebagai perupa yang kritis dan sering melakukan aksi protes. Pada saat kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981, dia pernah membakar karya lukisnya sendiri karena dianggap hanya bersifat suvenir. Ia menggali lubang-lubang kubur dan mengisinya dengan patung-patung mayat di dalam Bienalle Seni Rupa Jakarta IX di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Lalu, pelukis yang sering melakukan aksi demonstrasi di era pemerintahan Orde Baru, itu pun dipecat dari ITB karena melakukan aksi membakar patung berjudul Irian Dalam Tarso, karya pelukis Soenaryo, dosennya, yang dianggapnya sebagai seni kemasan yang mengeksploitasi orang Papua dan mendapatkan uang dari situ, sementara orang Papua tidak dapat apa-apa. Saat itu, dia membungkus patung karya Soenaryo, sehingga orang mengira itu patung karyanya sendiri. Patung itu dibakar, akibatnya dia dipecat dari ITB.

Dia pun pergi ke Prancis. Di sana dia mendalami seni lukis. Ia juga menyempatkan diri kuliah di San Francisco Art Institute. Bukan kali ini saja dia belajar seni di luar negeri. Ketika mengikuti ayahnya yang menjadi atase militer di Beograd, Semsar juga sempat kursus menggambar. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1984, dia kembali ke Tanah Air. Dia pun menunjukkan integritas dan dukungan pada gerakan mahasiswa yang prodemokrasi dengan menggelar pameran lukisan yang disertai diskusi keliling di sejumlah kampus di Pulau Jawa. Ketika itu, lagi-lagi membakar puluhan lukisannya di hadapan para aktivis.

Ketika Tempo, Editor dan Detik dibredel penguasa Orde Baru, dia pun ikut bergabung demonstrasi. Saat itu (27/6/1994), dia bahkan pasang badan melindungi seorang perempuan yang dianiaya aparat. Dia cedera berat, kakinya patah dan harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Namun, kakinya yang patah tidak bisa disembuhkan total, dia cacat. Dalam kondisi demikian, dia pun ikut membidani berdirinya Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) bersama aktivis pers lainnya di Indonesia.(fed/berbagai sumber)

Sumber: Riau Pos, Minggu, 10 Februari 2013