Sunday, August 30, 2009

Lola Amaria: Malaysia Licik

KLAIM Malaysia atas beberapa kesenian dan kebudayaan Indonesia belakangan ini menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Bahkan, tak sedikit yang menuding Malaysia tidak beretika karena tanpa basa-basi, mengklaim kebudayaan yang bukan miliknya. Isu lama tentang perseteruan Indonesia dan Malaysia pun kembali mencuat.

Lola Amaria

Bagi Lola Amaria, sebenarnya klaim Malaysia tadi terjadi karena kesalahan Pemerintah Indonesia sendiri. Pemerintah dinilai kurang preventif dalam menjaga warisan seni dan budaya bangsa.

"Kalau sudah begini, baru deh heboh reaksinya," tutur aktris dan sutradara ini dalam perbincangan dengan SP, Rabu (26/8).

Menurutnya, masalah ini selain berpangkal pada masalah ekonomi, juga pada masalah identitas. Malaysia dinilai Lola tidak memiliki identitas yang jelas. Sedangkan, Indonesia yang lebih tua usianya, memiliki akar budaya yang lebih jelas. Setiap daerah pun memiliki kesenian dan kebudayaan yang berbeda.

"Malaysia kan juga punya nenek moyang yang sama dengan Indonesia. Mungkin karena itu, mereka merasa berhak untuk mengklaim kebudayaan kita," kata perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 ini.

Ia menilai, kesalahan Pemerintah Indonesia adalah, mereka tidak pernah mematenkan apa pun yang dimiliki negara secara turun-temurun. Padahal, di dunia internasional, berlaku hukum seperti itu. Harusnya, Lola menyarankan, dari awal pemerintah sudah memiliki benteng untuk melestarikan budaya.

"Ini kayak bom waktu. Kita kan enggak pernah menyangka akan ada serangan-serangan nonpolitik yang bentuknya kayak begini. Pemerintah jangan berkoar-koar aja dong. Sekarang waktunya untuk bertanggung jawab," ujarnya penuh semangat.

Masalah klaim-mengklaim ini, tambah Lola, bisa terus-menerus berlanjut jika Indonesia tidak melakukan tindakan preventif. Ia menyarankan agar pemerintah segera mendaftarkan dan mematenkan seluruh kesenian dan kebudayaan Indonesia, yang seharusnya dilakukan sejak bertahun-tahun lalu.

Lola menilai, belum terlambat jika pemerintah melakukannya itu sekarang. Karena itu, harus dilakukan secepat mungkin. Apalagi, dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, banyak sekali kebudayaan Indonesia yang diklaim Malaysia. Mulai dari batik, Reog Ponorogo, sampai tari Pendet. Nanti kalau dibiarkan, bisa jadi akan ada lagi yang mereka klaim.

Desakan Lola kepada pemerintah bukannya tanpa fakta. Sutradara film Betina ini menilai, Pemerintah Indonesia, termasuk para anggota DPR, tak berbuat banyak untuk menjaga dan mempromosikan budaya Indonesia. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia produksi film dan iklan, ia tahu betul, bagaimana per-bedaan sikap Pemerintah Malaysia dan Indonesia, saat harus mempromosikan budaya dan pariwisata lewat iklan.

Malaysia Royal

Pemerintah Malaysia menurutnya, jauh lebih royal dalam menggelontorkan dana untuk membuat iklan yang ditayangkan di berbagai stasiun televisi asing. Sementara itu, Pemerintah Indonesia sendiri, dana yang dianggarkan jauh dibandingkan realisasinya.

"Ada dana untuk iklan pariwisata, eh kebanyakan 'disunat' sana sini. Dana miliaran rupiah jadinya hanya puluhan juta. Nah, bagaimana kita mau buat iklan yang bagus kalau begitu?" ujarnya.

Tak heran jika pariwisata dan kebudayaan Malaysia yang ditampilkan dalam iklan tampak jauh lebih menarik ketimbang Indonesia. Padahal dalam kenyataannya, Indonesia jauh lebih indah, berwarna, dan variatif dibanding Malaysia. Lola menilai, Malaysia hanya lebih pintar mengemas, plus, memiliki dana yang besar untuk membuat iklan.

"Kita sebenarnya bisa bikin iklan yang lebih bagus dari yang ada sekarang. Masalahnya, dananya ada enggak? Pemerintah kita kebanyakan korupsi sih. Realisasi dana bisa cuma sepersepuluh dari anggaran aslinya. Teman- temanku yang pernah menangani iklan pariwisata Indonesia banyak curhat bahwa mereka tidak bisa maksimal bikin iklan yang bagus karena duitnya enggak ada," jelas pemenang ajang model Wajah Femina 1997 ini.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar pemerintah lebih serius menangani masalah tersebut. Harusnya pemerintah Indonesia bisa lebih pintar daripada Malaysia. Jika tidak, bisa jadi wisata dan budaya Indonesia akan terus diklaim oleh Malaysia.

"Mereka (Malaysia, Red) itu kan licik. Kita dong yang harus lebih pintar. Malaysia bisa bikin iklan yang bagus untuk menarik wisatawan, kita juga harus lebih bagus karena alam dan budaya kita jauh lebih menarik dibanding mereka. Sekarang tinggal pemerintah aja, mau serius atau tidak," katanya. [D-10]

Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 30 Agustus 2009

Sastra dan Industri Kreatif

-- Asarpin

SELAMA ini industri kreatif belum banyak dimanfaatkan kalangan sastrawan untuk memasyarakatkan sastra. Mungkin karena ada anggapan bahwa sastra berbeda dengan industri kreatif. Bahkan hubungan keduanya terkesan bertentangan.

Maka, wajar saja jika tak banyak sastrawan mencatatkan karyanya ke dunia industri kreatif. Padahal, di berbagai belahan dunia, industri kreatif tak jarang dijadikan media pemasyarakatan sastra. Tak cuma sebagai media bagi sastrawan untuk mengenalkan karyanya ke publik. Tapi industri kreatif tak jarang menjadi lahan basah yang mampu memperbaiki ekonomi keluarga.

Sekarang ini tak ada alasan bagi sastrawan untuk menolak rezeki yang ditawarkan industri kreatif. Sastrawan butuh perbaikan gizi dan perbaikan rezeki. Tidak sebagaimana selama ini, sastrawan justru identik dengan kemelaratan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Contoh Putu Wijaya dan Goenawan Mohamad yang mampu eksis dengan memanfaatkan ruang yang disediakan industri kreatif.

Dunia sastra tampaknya tak mungkin hidup eksklusif selamanya. Dunia di luar sastra berkembang begitu pesat. Mau tak mau juga menuntut para pencinta sastra untuk membuka diri. Kendati sebagian sastrawan kita tampak kebingungan saat membedakan sastra dengan industri kreatif; apakah sastra itu bukannya bagian dari industri kreatif, atau industri kreatif bagian dari sastra, tak kunjung jelas.

Iklan, musik, video, film, karya sastra adalah bagian dari konten kreatif. Jika sastra dikaitkan dengan industri kreatif, apa tidak membuat sastra di bawah logika industri? Apakah menghubungkan sastra dengan industri kreatif tidak berlebihan? Apakah yang sedang terjadi pada industri kreatif sesungguhnya?

Saya teringat ungkapan Putu Wijaya beberapa waktu lalu. Dunia sastra kita, kata Putu, masih kurang diperhatikan pemerintah. Padahal sastra dapat dijadikan instrumen untuk membangkitkan industri kreatif. Sastra berperan penting dalam pengembangan industri kreatif nasional dewasa ini. Tak satu orang dan satu bidang pun kini bisa lepas dari sastra. Karya sastra mengambil bagian dalam seluruh tata kehidupan. Tak ada yang terpisah dari sastra karena sastra sebagai totalitas dari bentuk ekspresi dengan bahasa sebagai basisnya. Sastra memberi nilai tambah dalam industri kreatif yang memainkan emosi. Masyarakat dapat melihat karya-karya, misalnya novel, yang dijadikan film yang laris: Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi.

Unsur utama industri kreatif adalah kreativitas, keahlian dan talenta yang bertujuan--selain kepuasan batin--menambah pendapatan. Beberapa produk industri kreatif misalnya, film, video, musik, permainan, media, pertunjukan, kerajinan tangan, tata busana. Atau di bidang jasa: desain, arsitektur, periklanan. Semua ini biasanya dicirikan oleh siklus hidup yang singkat, risiko tinggi, margin yang tinggi, keanekaragaman tinggi, persaingan tinggi dan mudah ditiru.

Kendati sudah beberapa sastrawan melibatkan diri pada industri kreatif, seperti keterlibatan mereka di acara di televisi, ternyata tidak membuat mereka meninggalkan sastra dan bersikap tidak kritis terhadap fenomena yang ada. Bagaimanapun, industri kreatif terbukti menjadi jalur alternatif. Mereka bisa mengekspresikan karyanya dengan memperoleh perhatian publik. Bahkan sebagian sastrawan ada yang secara materil cukup sukses sejak berkecimpung dalam industri kreatif. Sebut saja misalnya Goenawan Mohamad yang bergerak di dunia media, yaitu Tempo Group.

Pilihan Goenawan mengingatkan saya pada sikap teguh Karya dan Putu Wijaya yang begitu apresiatif dengan industri kreatif. Langkah mereka tak jarang mengingatkan saya pada ucapan Gabriel Garcia Marquez beberapa tahun lalu tentang kenyamanan ekonomi dan kesehatan yang terjaga, sampai kapan pun, merupakan hal yang kondusif untuk menulis.

Bahkan, sastrawan idealis macam Afrizal Malna pun tak jarang bergerak di industri kreatif. Beberapa kali Afrizal terlibat pembuatan skenario untuk sinetron di salah satu televisi swasta. Kendati demikian, Afrizal dan Goenawan tidak pernah mengorbankan karya sastra lantaran terlibat dalam dunia industri kreatif. Tapi, justru inilah fenomena keserentakan yang secara ekonomi mungkin saling menguntungkan, dan secara budaya mampu meluruhkan tegangan binari yang berurat-berakar dalam benak sebagian orang. Bukan wajah berlawanan yang saling cakar-cakaran, saling menegasikan, melainkan sebuah fenomen hiburan yang saling mengisi.

Tiap karya sastra yang baik, sebagaimana tiap industri yang kreatif, proses kelahirannya memerlukan kreativitas. Tak ada karya yang baik tanpa ketekunan dan inovasi yang memadai. Seorang penyair dan seorang perancang bangunan, atau seorang arsitek dan seniman, memiliki daya cipta yang mirip. Masyarakat industri dan masyarakat puisi kelihatan di permukaan sebagai bertentangan, tapi jika kita dekati dengan ranah bahasa, maka keduanya sama-sama menghasilkan suatu pekerjaan yang memerlukan kreativitas dan ketekunan, kecerdasan, dan imajinasi. Puisi adalah satu cabang dari sastra kreatif, atau bahkan salah satu genre sastra kreatif yang paling menantang imajinasi.

Baik puisi maupun industri, keduanya membutuhkan kreasi (suatu hasil daya cipta). Industri mengalami perkembangan yang dahsyat saat ini karena kreatif. Puisi tak mati-mati--bahkan kini sejumlah orang menyebut "abad puisi" bersamaan dengan sebutan "abad industri" yang muncul terlebih dulu--karena sifatnya inventif dan inovatif.

"Abad industri" dan "abad puisi" di sini, yang saya maksudkan adalah bagaimana keduanya kini berada pada perkembangan yang nyaris liar. Orang kini tak lagi menggebu-gebu bicara soal "kerajaan sains" dan filsafat sebagai induk semang ilmu pengetahuan. Sejak gagasan pascamodernisme jadi bahan perbincangan yang semarak pada dekade 1960-an hingga kini, orang mulai menempatkan sains tak lebih sebagai puisi. Segalanya kini dikembalikan pada puisi. Setidaknya, kalau mengikuti Christopher Langton, sains pun kini semakin puitis.

Jadi, baik puisi maupun industri, pada dirinya telah menunjukkan sesuatu yang kreatif. Kalau ada perbedaan di antara keduanya yang mungkin relevan di singgung di sini, maka letak beda itu pada tabiat penyair--terutama pada penyair liris -yang masih memosisikan diri sebagai kaum Luddisme yang jadi musuh abadi kemajuan industri teknologis.

Tak perlu ditambah embel-embel industri kreatif, puisi kreatif, keduanya memang sesuatu yang bersifat kreatif. Apa yang dinamakan kreativitas adalah sesuatu yang memiliki inspirasi, dan pada gilirannya melahirkan kemampuan untuk mencipta. Memang, tak semua industri dan puisi adalah kreatif. Ada industri dan puisi yang mengalami stagnan, lambat, beku, dan terancam mati. Kemampuan menghasilkan (baca: proses produksi), tak selalu sejalan dengan kreativitas.

Di sini puisi dan industri dihasilkan dari kegiatan memproses, atau mengolah sesuatu dengan alat. Puisi bekerja dengan kata, dengan image, dengan metafora, dengan nada. Sekalipun tidak semua puisi tergantung pada kata sebagai alat (seperti puisi-puisi mantra Sutardji), tapi hakikat puisi tak mungkin sepenuhnya mengelak dari kata. Dan terbukti, Sutardji sendiri akhirnya kembali kepada kata.

Sementara industri berproses menghasilkan barang-barang dengan menggunakan mesin. Dengan mesin, dengan kata, terjadilah pelipat-gandaan puisi dan industri. Secara tak langsung juga terjadi pelipatgandaan pada sistem komunikasi antarmanusia. Di sinilah tantangan bagi upaya memasyarakatkan sastra dan mengenalkan industri kreatif.

Bila ada yang beda antara puisi dan industri, beda itu terletak pada ideal tertinggi puisi kini bukanlah kolektif, tapi pribadi. Setidaknya itulah pendapat Octavio Faz dalam kuliah Nobel Kesusastraan 1990. Ketika kerinduan industri kreatif akan kebutuhan hidup manusia tak tertangguhkan lagi, anehnya para penyair terus saja memusatkan diri pada tragedi dan kesepian manusia individual. Maka wajar saja jika kebanyakan sastrawan kita tidak gaul, alias kurang pergaulan. Wajar pula jika upaya memasyarakatkan karya sastra seolah tak kunjung memperlihatkan ujung.

* Asarpin, Peserta Program Penulisan Mastera 2009 untuk genre esai

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Agustus 2009

Friday, August 28, 2009

Agenda Besar Kebudayaan

-- Yudhistira ANM Massardi

BANGSA besar adalah yang juga berjiwa besar dan berpikir besar. Bukan yang selalu reaktif, tetapi yang kreatif dan proaktif.

Untuk menegakkan martabat dan mempertahankan kualitas kebudayaan bangsa yang besar, pemerintah bersama seluruh pewaris, pemilik, dan pelaku kebudayaan harus berani membuat rencana dan kerja besar, sekarang juga. Seluruh energi nasional diperlukan untuk menyalakan apinya agar kerja bisa terus terjaga dan cahayanya semarak di langit luas.

Pokok besar

Sebagai negara-bangsa yang selalu mengaku (sambil enggan kerja) merupakan bangsa besar, kaya, dan berbudaya adiluhung, kita sudah terlalu lama terlena dan berlupa. Sebagai pokok kayu besar dengan seribu akar serabut, kita terlalu lama membiarkan banyak bagiannya melapuk.

Sementara pokok kecil yang tumbuh di seberang—sebagaimana galibnya pokok kecil yang ingin besar—begitu bersemangat mencari zat hara untuk menguatkan akarnya. Meski, dia tahu belaka, bijinya berasal dari pokok induk di sebelah, dan dia tidak bisa mengingkari DNA biologis-historis-kulturalnya. Untuk itu, sebagai pokok yang besar, bolehlah kita berbelaskasihan kepadanya. Sebab, dia memerlukan evolusi berbilang abad dan protein dari sel punca untuk bisa bermutasi menjadi sebuah spesies baru.

Hal yang lebih penting dilakukan adalah bikin perhelatan besar kebudayaan berjangka panjang dan berkesinambungan. Untuk itu, pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendirian, tetapi harus bekerja sama dengan pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten, dengan melibatkan perguruan-perguruan tinggi setempat, serta menggairahkan masyarakat di setiap lokus dan situs untuk peduli dan terlibat. Karena, sesudah itu, kelak merekalah yang akan lebih banyak memetik manfaatnya.

Inventarisasi dan publikasi

Yang harus dilakukan adalah inventarisasi seluruh kekayaan budaya: sastra tulis/lisan, teater, tari, musik, kriya, arsitektur, tekstil, desain, kostum, dolanan, kuliner, upacara adat, religi, mitos, legenda, fabel, flora dan fauna, dan lain-lain. Kepada yang masih hidup, berikan energi baru (berdayakan, lahirkan kembali, pertahankan orisinalitasnya sambil ciptakan varian baru dengan warna dan kemasan baru). Untuk yang sudah punah dan terkubur, lakukan penelitian dan penggalian, petakan anatominya, tuliskan sejarahnya, lantas ciptakan replikanya, agar bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi baru.

Bersamaan dengan inventarisasi adalah kerja besar dokumentasi. Sesudah itu, tentu saja publikasi yang luas dengan berbagai macam moda, dalam aneka bahasa, dan memanfaatkan sebesar-besarnya teknologi internet yang begitu mudah, murah, dan meluas. Bangun sebuah situs jejaring ”Warisan Besar Budaya Indonesia” atau apa pun namanya.

Kerja selanjutnya adalah tetapkan agenda kerja ekshibisi/visualisasi: pementasan-pementasan karya orisinal dan kreasi baru, festival, lomba, pameran, seminar, loka karya, bengkel kerja dan laboratorium eksperimental, dalam skala nasional maupun internasional.

Agenda tetap dan berkelanjutan

Alangkah indahnya jika setiap daerah memiliki agenda tetap dan berkelanjutan untuk keriaan besar kebudayaan itu. Durasinya, masing-masing bisa selama seminggu atau sebulan. Sehingga, selain bisa terus-menerus berdenyut memberi penyadaran kepada masyarakat akan kuantitas dan kualitas kekayaan budayanya, juga bisa dijadikan sebagai komoditas wisata domestik dan mancanegara. Sehingga, kegiatan itu tidak hanya menjadi acara yang menghabiskan anggaran, melainkan menjadi adrenalin bagi kegiatan ekonomi yang menguntungkan dan bisa dinikmati oleh banyak sektor usaha masyarakat.

Dengan demikian, seluruh untaian mutiara di Khatulistiwa dari Sabang sampai Merauke itu akan tampak berkelap-kelip memancarkan gairah pesona masing-masing sepanjang masa.

Di Ibu Kota, hal serupa wajib diselenggarakan. Area Taman Mini Indonesia Indah bisa diubah menjadi Taman Besar Indonesia Indah. Setiap daerah/anjungan bisa secara bergilir mengadakan perhelatan selama sebulan—misalnya Festival Budaya Jawa, Sunda, Batak, Bugis, dan lain-lain—dengan memanfaatkan seluruh kawasan.

Jika dipromosikan secara luas, didukung segenap lapisan masyarakat, termasuk para sponsor dan pebisnis, acara semacam itu niscaya memiliki gaung yang bersipongang ke segala arah, menumbuhkan kebanggaan, dan memperkuat jati diri bangsa.

Tak cukup hanya dengan cogito ergo sum. Tidak cukup hanya dengan mengaku dan mendaku. Hanya dengan bekerja, maka kita ada. Untuk itu, mungkin perlu dibentuk lembaga swadaya masyarakat semacam ”Lembaga Pewaris Budaya Bangsa”, yang melibatkan seluruh komponen masyarakat yang peduli dan mau bekerja untuk memajukan kebudayaan.

Jika tidak, di tubuh pemerintahan, kita sudah memiliki lebih dari cukup departemen, berikut anggaran dan jaringannya: Depdiknas, Depbudpar, Depkominfo, Depdagri, dan Deplu. Jika dalam setahun ke depan seluruh kekuatan itu masih belum mampu mengerjakan agenda besar tadi, berarti kita harus mengakui bahwa sesungguhnya kita bukanlah bangsa yang besar.

Maka, kita harus ikhlas menerima kenyataan itu, berikut seluruh pelecehannya yang akan datang. Sebab, hanya kekuatan dan kualitas kebudayaan yang bisa menentukan tinggi-rendahnya harkat dan martabat sebuah bangsa.

* Yudhistira ANM Massardi, Sastrawan; Pengelola Lembaga Pendidikan Dasar Gratis untuk Kaum Duafa di Bekasi

Sumber: Kompas, Sabtu, 29 Agustus 2009