Sunday, August 12, 2012

[Buku] Maiyah, Penawar Dahaga Spiritualitas

Data buku:

Spiritual Journey, Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Najib

Prayogi R. Saputra

Buku Kompas, Jakarta, 2012

xviii + 214 hlm.

TAMPAKNYA komunitas kritis yang bercorak spiritual dan peduli terhadap realitas sosial di era reformasi kini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Mungkin, Jamaa’ah Maiyah adalah salah satu di antara sekian banyak komunitas spiritual kritis itu.

Jamaah Maiyah lahir tentu bukan tanpa tujuan. Maiyyah hadir dimaksudkan sebagai respons atas kondisi masyarakat Indonesia saat itu, utamanya dalam lingkaran Emha, yang mengalami ketidakpuasan, keputusasaan, amarah yang terpendam pada masa orde baru era Soeharto. Pendeknya, jemaah Maiyah lahir karena psikologi masyarakat waktu itu sudah di ambang tubir semangat penghancuran. Sebab, masyarakat saat itu hatinya tengah dilanda kegalauan yang akut sehingga pengajian Maiyah itu hadir dengan tujuan untuk mengisi “lubang” hati keluarga Emha yang kian menganga.

Mulanya, Maiyyah adalah pengajian padhang mbulan. Pengajian yang diselenggarakan secara regular sebulan sekali dengan mengambil waktu saat malam purnama. Seiring berjalannya waktu, pada 2001, padhang mbulan bermetamorforsis menjadi Maiyah. Pengajian ini unik dan menarik. Unik karena siapa pun dan dari kalangan apa pun bebas berekspresi mempertunjukkan atau berbicara ihwal apa pun dalam kapasitasnya masing-masing. Menarik, karena Emha sendiri—meskipun sebagai penggagas awal jemaah Maiyah—tak merasa sebagai orang besar (semacam ketua umum) dalam lingkaran Maiyah. Tapi, meskipun Emha tak mau diletakkan pada posisi tertentu, ia adalah orang yang menjadi bagian penting bagi Maiyah.

Buku Spiritual Journey, Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Najib besutan Prayogi Saputra ini hadir dengan mengangkat tema-tema menarik yang sering diadakan jemaah Maiyah, seperti kafir dan mukmin, anatomi doa, multikulturalisme, neoliberalisme, fisika kuantum, dan lain sebagainya. Semua tema-tema itu dikemas secara renyah dan bernas tanpa ada kesan menggurui. Bahkan, terkadang penulisnya pun sesekali menyelipkan humor khas ala Emha.

Buku setebal 214 halaman ini terbagi menjadi dua bagian, yakni mozaik dan interlude. Bagian mozaik menceritakan tentang pengalaman-pengalaman ber-Maiyah di Mocopat Syafaat di mana Prayogi juga ikut terlibat di dalamnya. Dalam bagian ini, ada sebagian yang disajikan berupa adegan langsung, dan ada juga yang disajikan dalam bentuk uraian disertai pendalaman tema-tema yang pernah didiskusikan dalam Maiyah. Sementara interlude merupakan semacam jeda yang memberikan looghshoot tentang Maiyah disertai uraian dan argumen-argumen yang menyitir para ilmuwan (xvi-xvii).

Meskipun buku ini renyah dibaca dan dikaji, karena penulisnya mampu mengemas dengan bahasa yang memikat dan merakyat, bukan berari tanpa kekurangan. Saya mendapati bahwa salah satu kekurangan buku ini adalah penulis masih terkesan “mendewakan” sosok Emha sebagai subjek utama dari kekuatan dalam lingkaran Maiyah sehingga seakan tampak kentara sekali bahwa Maiyah adalah Emha dan Emha adalah Maiyah. Padahal, sebagaimana diungkap di muka, Emha sendiri tak mau disebut sebagai orang penting dalam Maiyah, tapi ia tetap menjadi bagian penting dalam Maiyah.

Buku ini laksana oasis di tengah gurun pasir nan tandus. Ia menjadi sumber pengairan dan penyiraman utama bagi masyarakat Indonesia yang tengah dilanda kegalauan akut dan dahaga spiritualitas. Buku ini bukan sekadar menawarkan pembersihan jiwa manusia secara lahir dan batin, melainkan juga menawarkan diskursus penting untuk menyelesaikan segala hal problematika umat. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang telah memiliki kesadaran penuh untuk memajukan bangsa ini bersama-sama.

Ammar Machmud
, peneliti pada Arwaniyyah Institute, Kudus


Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Agustus 2012

No comments: