Sunday, August 05, 2012

Jangan Lupa, "Yong Dollah" Masih Hidup... (1)

--Marhalim Zaini

SETIDAKNYA ada dua sebutan yang sangat populer di lingkungan masyarakat Bengkalis sampai hari ini, yakni ikan terubuk dan Yong Dollah. Dua sebutan ini adalah di antara begitu banyak potensi kekayaan tradisional orang Melayu di Bengkalis. Ikan terubuk, bagi orang Bengkalis bisa dikatakan telah menjadi mitos tersendiri, yang berfungsi menjelaskan tentang alam, asal usul kejadian dan peristiwa masa lampau tapi juga sekaligus menjelaskan apa yang terjadi sekarang, yang dianggap benar-benar terjadi (Danandjaja, 2007:50; Ahimsa-Putra, 2001:81).

Secara historis, konon ikan terubuk (Latin: Tenualosa Macrura) pernah menyebar di perairan estuarin (tempat air laut bertemu dengan air tawar) di sekitar wilayah Pulau Bengkalis. Tapi dalam perkembangannya, populasinya menurun, sampai kemudian sangat sulit ditemukan lagi sekarang (bahkan hilang sama sekali). Secara simbolis, hadirnya teks ��Syair Ikan Terubuk�� (sekitar pertengahan abad ke-19) yang cukup dikenal dalam khazanah tradisi tulis dunia Melayu, seolah kemudian menegaskan tentang demikian penting dan populernya ikan terubuk dalam kehidupan masyarakat Bengkalis. GL Koster menyebut, dari penemuan-penemuan Meijer (1984:5-8), setidaknya ada sepuluh varian ��Syair Ikan Terubuk�� baik berupa naskah maupun litografi, salah satunya dipakai oleh Koster yaitu ��Von de Wall 241�� yang tersimpan dalam koleksi naskah Museum Pusat Jakarta untuk mengkajinya dalam buku Mengembara di Taman-taman yang Menggoda, Pembacaan Naratif Melayu (Jakarta, P2KK dan KITLV, 2011;211). ��Syair Ikan Terubuk�� (oleh Overbeck: 1934) dikatakan sebagai ��sebuah syair simbolik yang ditulis dalam bentuk perlambangan dan kiasan yang berhubungan dengan suatu peristiwa politik, finansial, atau romantik.��

Sementara itu, jika dibandingkan popularitas ikan terubuk dengan popularitas Yong Dollah, secara sepintas memang akan sulit menemukan perbedaannya. Namun, jika sebutan ikan terubuk dikaitkan dengan aspek historis dan simbolis yang berasal dari tradisi tulis, maka Yong Dollah merujuk pada tradisi lisan, yang diturunkan turun-temurun secara lisan. Jika misalnya yang diingat oleh masyarakat Bengkalis dalam ��Syair Ikan Terubuk�� adalah hanya kisah secara garis besar tentang percintaan Pangeran Terubuk dengan Puteri Puyu-puyu (tanpa mengingat baris demi baris syairnya), maka terhadap cerita-cerita Yong Dollah, masyarakat seolah telah �menghafal� dan bisa menceritakannya kembali dengan caranya sendiri (meski dalam versi-versi singkat).

Sebagaimana sebelumnya juga sempat ditegaskan oleh Abdul Jalil yang pernah pula melakukan penelitian di tahun 1990-an, bahwa cerita-cerita Yong Dollah tersebar di seluruh wilayah Bengkalis (baik pesisir maupun daratan). Jalil menulis, ��Bagi mereka, cerita-cerita Yong Dollah sudah tidak menjadi suatu hal yang asing lagi pada semua peringkat usia maupun gender. Dari usia anak-anak sampai pada orang tua-tua, baik laki-laki maupun perempuan, semua mengenali cerita-cerita Yong Dollah.�� Artinya, boleh dikatakan bahwa popularitas cerita-cerita Yong Dollah lebih luas, seiring dengan belum adanya penelitian yang menunjukkan hal yang sama terjadi pada penyebaran ��Syair Ikan Terubuk��. Selain, tentu, faktor perbedaan bahasa keduanya, yang satu menggunakan �bahasa istimewa� sementara yang lain menggunakan �bahasa bersahaja� (meminjam Amin Sweeney), yang memudahkan para penutur mengingat formula-formulanya.

Kekhasan Cerita Jenaka Yong Dollah 
Yong Dollah adalah sebuah nama panggilan dari seorang tokoh Melayu bernama asli Abdullah bin Endong, yang lahir di Desa Senggoro, Kabupaten Bengkalis, sekitar tahun 1906-an dan meninggal 20 Februari 1988. Tanggal dan tahun wafatnya Yong Dollah diperoleh dari hasil survei saya di makam Yong Dollah yang terletak di sekitar lingkungan Masjid Kuning, Jalan Panglima Minal, Senggoro, Bengkalis dan diperkuat dari penjelasan dua informan: H Zakaria (70, anak angkat Yong Dollah) dan H Amat Sontel (80, kerabat dekat). Sementara tarikh kelahirannya tak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan Yong Dollah hidup selama sekitar 82 tahun. Dan nama Yong Dollah mencuat terutama karena cerita-ceritanya yang bersifat humor, lucu, kelakar, atau dalam digolongkan ke dalam genre cerita jenaka.

Menyebut istilah �jenaka� memang serta merta mengingatkan kita pada beragam cerita jenaka yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, misalnya ada cerita ��Si Miskin�� atau ��Si Meuseukin�� (Aceh), ��Si Lahap��, ��Si Bilalong��, ��Si Jonaha�� atau ��Jonaka�� (Batak), ��Pak Pandir��, ��Joko Dolog��, ��Joko Lelur�� dan ��Joko Bodo�� (Jawa), ��Madhuluk�� (Madura), ��Angklung Gadang�� dan ��Bungkeling�� (Bali), cerita ��Si Kabayan�� (Sunda). Sementara di dunia Melayu sendiri misalnya ada cerita ��Pak Pandir��, ��Nenek Kabayan��, ��Pak Belalang��, ��Lebai Malang��, ��Si Luncai�� dan ��Pak Kaduk��. Bahkan di belahan dunia lain, dikenal ada cerita ��Abu Nawas�� (Arab) dan cerita ��Nasrudin Hoja�� (Turki). Dalam bahasa Jerman dan Belanda cerita-cerita sejenis ini disebut sebagai uilespiegel (Rostoyati, 1979: 86-87). Sementara itu, Zaidan, dkk. (1991:23) mendefinisikan cerita jenaka sebagai cerita olok-olok atau kelakar, cerita penghibur yang mengandung kelucuan, perbandingan atau sindiran.

Di antara beragam cerita tersebut, terutama yang berkembang di dunia Melayu Riau, cerita-cerita yang dilisankan Yong Dollah memiliki kekhasan tersendiri. Di antaranya yang paling menonjol adalah bahwa cerita-cerita Yong Dollah pada awal kemunculannya disampaikan (dituturkan) langsung oleh tokoh yang diduga kuat adalah �pemilik� cerita tersebut, yakni seseorang yang bernama Abdullah bin Endong yang akrab dipanggil Yong Dollah. Selain itu, tokoh utama (pelaku cerita) dalam cerita-cerita Yong Dollah adalah Yong Dollah sendiri, yang menceritakan tentang berbagai peristiwa rekaan yang seolah terjadi dalam kehidupan Yong Dollah sendiri. Artinya, sumber asal cerita (pengarangnya) diketahui dan masih dapat ditelusuri (meski telah meninggal). Hal inilah yang menurut saya, membuat cerita-cerita Yong Dollah menjadi lebih khas, terutama jika dibandingkan dengan sastra lisan lain yang pada umumnya memiliki salah satu cirinya adalah tidak diketahui siapa pengarangnya atau bersifat anonim (Brunvand dalam Hutomo, 1991:7; Danandjaja, 2007:3-4).

Nilai kekhasan tersebut tidak kemudian serta merta membuat cerita-cerita Yong Dollah ini menjadi eksklusif (seperti halnya �kepemilikan� karya sastra (tulis) modern), yang akan terikat oleh �hak cipta� pengarang. Sebagaimana kaidah dari tradisi lisan (sastra lisan/cerita rakyat), cerita-cerita Yong Dollah memang dituturkan secara lisan, yang dalam perkembangannya telah tersiar dan tersebar ke lingkungan masyarakat pendukungnya sehingga telah menjadi �ingatan kolektif�. Maka sebagai bagian dari folklor lisan (verbal folklore), cerita-cerita Yong Dollah dapatlah dikatakan sebagai suatu kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun temurun secara tradisional (Danandjaja, 1984: 2), sehingga cerita-cerita Yong Dollah pun pada gilirannya telah menjadi �milik bersama�.

Ketika cerita-cerita Yong Dollah telah sampai pada taraf menjadi �ingatan kolektif� dan kemudian menjadi �milik bersama� masyarakat Melayu Bengkalis, maka posisi cerita-cerita Yong Dollah dapat dilihat sebagai sebuah �genre� cerita jenaka yang menjadi bagian dari tradisi lisan orang Melayu Bengkalis. Artinya, sebutan ��Yong Dollah�� tak lagi (sepenuhnya) merujuk pada seorang tokoh penuturnya, tapi telah menjadi sebuah �bentuk� dari sebuah genre cerita jenaka Melayu, yang dengan demikian dapat disejajarkan misalnya dengan cerita jenaka Melayu lain seperti ��Pak Pandir��, ��Lebai Malang��, ��Pak Belalang��, dan lain-lain.

Kekhasan lain yang saya temui dalam proses penelitian lapangan saya di Bengkalis, adalah soal pewarisan cerita. Pilihan Yong Dollah menyampaikan cerita-ceritanya yang lebih banyak pada sahabat-sahabatnya dibanding dengan keluarganya sendiri, boleh jadi menjadi salah satu faktor luasnya ketersebaran cerita-ceritanya. Penuturan cerita dilakukan terutama ketika minum kopi di waktu senggang terutama di kedai kopi. Dulu, kedai kopi yang kerap disinggahi Yong Dollah bernama Kedai Kopi Hailam yang sekarang bertukar nama menjadi Kedai Kopi Jogja.

Selain budaya �waktu senggang� yang digunakan sebagai pola (atau strategi) pewarisan cerita-cerita lisan Yong Dollah, �kedai kopi� sebagai tempat bertemunya si penutur dengan audiens sebenarnya juga menjadi menarik untuk dikaji. Sebab, fakta ini menunjukkan bahwa �kedai kopi� tak semata menjadi tempat orang minum kopi atau mengonsumsi makanan, tapi telah menjadi �ruang publik� yang efektif bagi berbagai komunikasi dapat terjalin, mulai dari tema percakapan yang remeh-temeh sampai pada persoalan-persoalan bisnis, politik dan lain-lain. Sebagaimana Habermas (2010) menyebut, �ruang publik� lebih banyak terbentuk dari kedai-kedai minum di Eropa abad Pencerahan, karena di tempat-tempat seperti inilah para saudagar dan kelas menengah membicarakan bisnis mereka, yang kemudian berkembang pada permasalahan-permasalahan kemasyarakatan yang lebih luas.(bersambung)


Marhalim Zaini SSn MA, Sastrawan, dosen Sekolah Tinggi Seni Riau.

Sumber: Riau Pos, 5 Agustus 2012

No comments: