Sunday, September 30, 2012

Fenomena Alan Smithee dalam Meramu Buku

-- Riza Multazam Luthfy


BAGI sebagian tokoh pergerakan, pengaburan identitas merupakan langkah paling tepat dalam rangka menggayuh tujuan. Pengaburan identitas memuat peneguhan atas idealitas serta keberimanan atas realitas. Di dalamnya terkandung perlawanan sekaligus persesuaian diri dengan keadaan. Kondisi politik maupun sosial yang kurang menguntungkan pada suatu masa mendesak mereka untuk menyiasatinya dengan menggelapkan jati diri. Maka, "menyamar" pernah dijelmakan sebutir usaha yang digencarkan oleh Natsir dan Tan Malaka.

Selingkar tahun 1920—1930, Natsir melempar tuduhan bahwa kampanye Partai Nasional Indonesia menyemai bibit kebencian dan meremehkan Islam. Natsir urung tinggal diam. Bersama teman-temannya di majalah Pembela Islam, ia menggelontorkan tulisan pedas guna menyerang balik kelompok nasionalis. Tak ayal, karena begitu "beratnya" tulisan-tulisan tersebut, semua pengarang menggunakan nama samaran atau inisial, demi menyingkirkan tubuh dari ancaman hukuman delik pers (pers delict). Muncullah inisial AH, AL, AM WS, dan MS, sedangkan Natsir sendiri merahasiakan diri dengan AM atau A. Moechlis, serta Is. (Ali Rif'an, 2011: 32)

Adapun Tan Malaka—sesuai catatan Franz Magnis-Suseno (2001)—mengantongi beraneka ragam nama samaran sepanjang perburuan terhadap dirinya masih bergaung. Tentu, supaya bisa bernafas lebih lama, perekacipta Madilog ini menyesuaikan personalitasnya dengan kultur negara di mana ia bermukim. Oleh dasar itulah, ia menyematkan nama Elias Fuentes tatkala berada di Filipina, Ong Soong Lee di Hong Kong, Ramli Husein dalam perjalanan Singapura ke Indonesia, dan Ilyas Husein sewaktu bekerja di pertambangan Bayah, Banten. Nama lainnya, yaitu Cheng Kunt Tat, Elisio Rivera, serta Howard Law.

Maraknya Alan Smithee

Pengaburan identitas tidak hanya diketam oleh para tokoh pergerakan. Alan Smithee—penyebutan nama samaran agar nama asli tidak ditampilkan dalam credit title—juga menjangkiti para pengarang. Sudah barang tentu terselip musabab mengapa pengaburan identitas tersebut bisa terbit. Salah satunya yaitu riuhnya gerakan militer yang membatasi aktivitas dan ruang gerak kreativitas.
Dalam perjalanan sejarah, betapa perseteruan antara korps bersenjata dan pengarang pernah menyentuh titik klimaks. Dengan dalih memihak negara, militer leluasa melancarkan tekanan, baik fisik maupun mental, yang luar biasa bagi pengarang. Pengarang-pengarang besar seperti Fran├žois-Marie Arouet dan Mohamed Moulessehoul rajin mengunyah bengisnya militerisme. 

Voltaire (1694-1778)—yang bernama asli Fran├žois-Marie Arouet—dapat digolongkan "maniak" dalam hal nama samaran. Ia memiliki sekitar 175 nama. Selain untuk dongeng-dongeng semisal Zadig dan L'Ingenu, ia menggunakan nama samaran untuk karya-karya yang berisi kritikan tajam. Seorang pakar tetang Voltaire, Rene Pomeau mengatakan—dalam Ida Sundari H. (2003): "Permainan topeng merupakan salah satu kunci psikologi penciptaan Voltaire. Di balik penyamaran, pengarang membebaskan diri." Dengan begitu, Voltaire dapat bermain dengan bebas, tanpa harus mempertanggungjawabkan pernyataan-pernyataannya.

Pengarang asal Aljazair yang lahir pada 1956, Mohamed Moulessehoul, sempat menyamar sebagai perempuan bernama Yasmina Khadra. Hal itu dilakukan saat menyerahkan tulisan ke penerbit, demi mengelabui sensor militer. Meski demikian, orisinalitas dan kecemerlangan buah penanya tetap memperoleh kesaksian. Sebelum pengakuan ihwal identitas aslinya mencuat, seorang pengamat terkenal di Prancis menulis: "Laki-laki atau perempuan tak penting. Tetapi yang jelas, Yasmina Khadra adalah pengarang Aljazair paling hebat saat ini."

Bila diperhatikan, seakan-akan menjamurnya Alan Smithee mendermakan keterpasungan serta kegelisahan yang mendalam. Betapa sekadar demi menghindari pemberangusan militer, pengarang rela melabeli anak ruhani (karya)—meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer—dengan nama orang lain. Namun, ternyata tidak sepenuhnya demikian. Ketika merasakan pengapnya bui, William Sydney Porter (1862-1910) meluncurkan cerpen-cerpennya dengan nama O'Henry. Saat tiba hari kebebasan, nama samaran tersebutlah yang mengantarnya mampu mereguk kesuksesan dan menjadi cerpenis paling populer di Amerika. (Napoleon Hill, terj. Leinovar Bahfein, 2008: 269)

Fenomena Alan Smithee tidak hanya terlahir karena intimidasi militer. Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan pengarang harus membungkus identitas. Di antaranya, karya dianggap rahasia Tuhan, pengarang benci menunjukkan diri, atau bahkan karena didorong tekanan jiwa yang kurang stabil.

Pada 164 SM, kitab Daniel disusun untuk kelompok kecil pembaca Yahudi. Pengarang kitab yang memberitakan pernyataan Tuhan tentang peristiwa-peristiwa masa depan ini memakai tokoh Daniel dan menempatkan peristiwanya seolah-olah terjadi pada zaman Nebukadnesar (605-562 SM). Pemungutan nama Daniel dikarenakan sang pengarang hendak menuturkan bahwa kitab itu bersifat rahasia dan apokaliptis—tulisan mengenai pernyataan Tuhan kepada para bijak, seperti Henokh, Abraham, dan Daniel.

Kitab Nagarakretagama digubah dengan nama samaran Prapanca. Padahal, Prapanca bukan nama elok bagi seorang dharmmadyaksa kasogatan. Karena kata prapanca berarti: kesedihan, rintangan untuk laku utama. Buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama (2009: 295) menerangkan bahwa pengambilan nama demikian dikarenakan pengarang enggan diketahui ciri-cirinya. Dengan kata lain, ia tidak suka memperkenalkan namanya kepada orang lain. Dan sebagai hipotesisnya, Slamet Muljana menganggap bahwa pengarang Nagarakretagama adalah Dang Acarya Nadendra (Nada-Indra).

Tertarik dengan permainan Nicolo Paganini (1784-1840) sepanjang tahun 1831—1835, Robert Schumann (1810-1856) memulai karier sebagai pengarang resensi musik. Ia mendirikan Neu Zeitschrift fur Musik, sebuah majalah musik yang terbit sekali seminggu. Diterka mengidap tekanan jiwa kurang stabil, kritikus musik terpenting abad ke-19 ini kerap memungut beberapa nama samaran; "Eusebius" yang mewakili segi lemah-lembut, khayalan, dan mimpi, "Florestan" mewakili bagian dinamis, revolusioner, dan bersemangat, serta "Meister Raro" bagian yang menggandrungi teknik berdisiplin seperti bentuk-bentuk klasik. n

Riza Multazam Luthfy
, ahlul ma'had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, mahasiswa magister hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.


Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 September 2012
 

No comments: