Sunday, August 21, 2011

Hubungan Melayu-Tionghoa dalam "Tak Sampai Bersampan ke Kampung Kusta"

-- Yulita Fitriana


1. Pengantar


Masyarakat Riau adalah masyarakat yang heterogen. Berbagai suku dan etnis ada di daerah ini. Salah satunya adalah etnis Tionghoa. Etnis ini ada di hampir semua daerah di Riau. Biasanya mereka berdiam di ibu kota provinsi atau kabupaten. Populasi yang terbanyak terdapat di Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir. Mereka diperkirakan datang ke Bagan Siapi-api sekitar tahun 1820. Jadi, sebenarnya, orang Tionghoa mempunyai sejarah yang cukup panjang di Riau.

Hubungan antara masyarakat Melayu sebagai penduduk asli Riau, dengan orang Tionghoa tergolong unik. Walaupun mereka dapat hidup berdampingan, ketegangan-ketegangan kecil kadang menghiasi pergaulan mereka. Pandangan-pandangan stereotip yang melekat pada masing-masing etnis, membuat penyatuan (akulturasi) keduanya tidak berjalan mulus. Akan tetapi, jarang sampai terjadi konflik besar seperti yang pernah terjadi di Bagan siapi-api pada tahun 1946.

Sebagai sebuah karya yang merefleksikan kehidupan, karya sastra dianggap dapat memperlihatkan sebuah gambaran situasi yang terjadi dalam masyarakat, seperti yang cerpen “Tak Sampai Bersampan ke Kampung Kusta” yang berupaya melukiskan hubungan etnis Melayu dan Tionghoa ini.

Cerpen yang ditulis oleh Marhalim Zaini ini dimuat di Jawa Pos, 19 Desember 2010. Cerpen ini bercerita mengenai Kongkam, seorang mantan penderita kusta yang bermaksud kembali ke Kampung Kusta, tempat dia dan para penderita kusta pernah diasingkan. Kampung itu terletak di sebuah pulau yang jauh dari masyarakat lain.

Ketika Kongkam sembuh dari penyakitnya, dialah yang membantu menjualkan ayak-ayak (tapisan) dan tangkapan hasil laut para penderita kusta ke kampung seberang. Uangnya dipergunakan untuk membeli segala keperluan mereka di Kampung Kusta. Di kampung itu, Kongkam hidup dengan penderita kusta lainnya, yang beretnis Tionghoa.

Mereka hidup saling membantu. Akan tetapi, tanpa direncanakan sebelumnya, Kongkam meninggalkan kawan-kawannya yang belum sembuh dari penyakit kusta karena tergiur ajakan kawan lamanya. Dua tahun kemudian Kongkam berniat kembali ke Kampung Kusta. Namun, keinginan itu tidak terwujud karena sampan mereka kandas sebelum mencapai kampung tersebut. Sebuah cicin belah bambu yang disediakan untuk Amoy, batal diberikan.

2. Kegagalan Akulturasi Melayu dan Tionghoa

Cerpen ini menguak hubungan etnis Melayu dan Tionghoa yang ada di Riau, khususnya. Pada dasarnya mereka mempunyai hubungan yang baik. Mereka dapat bekerja sama dan hidup berdampingan. Namun hubungan kedua etnis ini tidak pernah benar-benar bisa berbaur.

Di dalam cerpen ini diungkapkan hubungan Kongkam yang orang Melayu, dan para penderita kusta lainnya, Amoy, Limhong, Akiong, Atho, dan Aheng yang orang Tionghoa. Sebagai orang yang diasingkan karena penyakit yang mereka derita, perasaan senasib membuat mereka belajar untuk bekerja sama. Tampaknya, masing-masing tidak lagi memperdulikan etnis mereka yang berbeda. Mereka merasa satu, tidak punya perbedaan.

Memang ada beberapa unit rumah panggung dari kayu, beratap daun rumbia, berukuran sepetak ruang kamar sederhana, berdiri di sekitar pulau yang berukuran 2-3 kilometer ini. Tapi tak semua dapat dihuni. Selain sudah banyak yang lapuk dan senget hampir tumbang, juga tak mungkin hidup berjauhan dengan kondisi serupa itu. Jadilah mereka berlima lebih sering hidup satu atap… (Zaini, 2010)

Kedekatan hubungan mereka ditandai pula dengan “menyatunya” selera mereka mengenai makanan. Perhatikan ketika Atho yang orang Tionghoa menjadi penyuka belacan dan cencalok yang dikenal sebagai makanan orang Melayu itu.

Sudah tak heran, hampir tiap kali Kongkam berangkat Atho pasti memesan belacan. Sebetulnya tak cuma belacan yang orang tua ini suka. Ada satu lagi: cencalok. Keduanya sama-sama buat penyedap makan. (Zaini, 2010)

Namun, kedekatan kedua etnis ini tidaklah sepenuhnya dapat diterima. Kongkam yang berupaya menjembatani kedua etnis ini mendapat tantangan. Demi pembauran ini, Kongkam juga harus terasing dari masyarakatnya yang di dalam cerpen diwakili oleh “perpisahan” Kongkam dengan sang istri. Halangan tersebut ditandai lagi dengan ketidakteguhan Kongkam yang terbujuk kawan lamanya untuk berbisnis sehingga dia meninggalkan kawan-kawan Tionghoanya dalam keterpencilan dan keterasingan, bahkan penderitaan. Ajakan kawan lama ini dapat diartikan sebagai pengaruh atau sejarah masa lalu yang masih kuat membelenggu cara berpikir dan bersikap masyarakat Melayu dan Tionghoa yang kemudian berimbas pada hubungan keduanya. Penanda lain, letak Kampung Kusta di sebuah pulau yang jauh dari perkampungan masyarakat lainnya menjadi tanda bagi jarak antarkedua etnis ini. Hal ini menunjukkan bahwa penyatuan dua etnis ini tidak berjalan mulus.

Ketidakmungkinan penyatuan kedua etnis ini kian jelas ketika Amoy yang jatuh cinta tidak mendapat sambutan dari Kongkam. Alasannya bukan karena Kongkam tidak tertarik kepada Amoy. Menurut Kongkam, Amoy cantik dan berbaik hati melayani kebutuhan makan-minum Kongkam. Akan tetapi, Kongkam adalah suami orang dan Amoy berbeda dengannya.

Kongkam adalah laki orang. Meski sejak ia terbuang ke Kampung Kusta, bininya tak pernah berkunjung. Tiga tahun berkawin belum juga punya anak. Selain itu, agaknya soal agama. Kongkam satu-satunya orang Melayu. Orang Islam. Amoy, Konghucu. (Zaini, 2010)

Dari cerita ini dapat dilihat bahwa hubungan etnis Melayu dan Tionghoa sulit untuk mencapai hubungan yang romantis. Mereka tidak benar-benar bisa dekat walau bisa saling bekerja sama. Di dalam cerpen ini, ditandai dengan Kongkam yang orang Melayu dan Amoy yang orang Tionghoa yang tidak diperkenankan untuk bersatu. Etnis dan agama yang dianut keduanyalah yang menjadi alasan. Selain itu, Kongkam yang digambarkan sudah beristri, walaupun hidup terpisah, memperlihatkan bahwa Kongkam terikat oleh sesuatu yang sulit dilepaskannya.

Hal ini berarti bahwa terlalu banyak halangan yang menghambat akulturasi kedua etnis ini. Marhalim menggambarkan upaya yang terasa sia-sia tersebut dengan ungkapan ….”pentingkah cinta, perkawinan, atau entah apalah namanya di saat hidup telah demikian dinanti oleh kematian?”

3. Simpulan

Cerpen ini menggambarkan keadaan etnis Melayu dan Tionghoa dapat bersama, tetapi tidak dapat berbaur mesra. Perbedaan budaya dan agama adalah penyebab yang didengung-dengungkan sebagai penyebabnya. Upaya yang dilakukan untuk menjembatani perbedaan tersebut tampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Etnis Tionghoa terlanjur “dikustakan” dan diasingkan dari orang Melayu untuk (barangkali) kepentingan-kepentingan tertentu. Bisa jadi, luka sejarah di masa lalu akibat perang etnis pada tahun 1820 itu juga masih membekas sehingga menjadi batu sandungan bagi hubungan kedua etnis. Keprihatinan terhadap kondisi itulah yang diceritakan dalam cerpen “Tak Sampai Berkayuh ke Kampung Kusta” ini. ****


Yulita Fitriana, peneliti sastra di Balai Bahasa Provinsi Riau. Sedang studi dan tinggal di Jogjakarta

Sumber: Riau Pos, Minggu, 21 Agustus 2011


1 comment:

herizal alwi said...

Ingat kampuang ayahnda tercinta