Tuesday, February 28, 2012

Seminar Budaya: Tahu Celahnya, Indonesia Bisa Sangat Tangguh

-- Tri Harijono & Agus Mulyadi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak ada negara manapun di dunia yang memiliki ratusan suku dengan beragam budaya dan 300 bahasa, namun bisa sepakat menggunakan satu bahasa persatuan, kecuali Indonesia. Padahal, wilayahnya pun tidak kecil. Antara Aceh hingga Papua, misalnya, setara dengan jarak dari Iran di Asia hingga Perancis di Eropa.

Kalau tahu celahnya dalam memanfaatkan keunggulan budaya, Indonesia pasti bisa menjadi negara yang sangat tangguh. - Didi Kwartanada

Dari sisi potensi alam, Indonesia merupakan negara di dunia yang paling banyak memiliki gunung api aktif yakni 127 gunung api. Jika memiliki gunung api, maka otomatis sumber daya alamnya melimpah mulai dari emas, gas alam, panas bumi, batubara hingga kekayaan flora dan faunanya.

Namun mengapa Indonesia tak kunjung maju?

”Padahal, dalam sejarahnya, Indonesia pernah sangat hebat. Budaya bangsanya pun sangat mendukung,” kata Aan Rukmana, Ketua Harian Nabil Society, Selasa (28/2/2012) di Jakarta.

Bagaimana memanfaatkan budaya untuk kemajuan Indonesia?

Persoalan inilah yang akan dibahas dalam seminar bertajuk ”Cross Cultural Fertilization : Sebuah Strategi Kebudayaan” atau penyerbukan silang budaya untuk kemajuan Indonesia.

Seminar ini akan diselenggarakan di Universitas Paramadina Jalan Gatot Subroto Jakarta pada Selasa (28/2/2012) hari ini pukul 09.30 – 12.00 WIB.

Sejumlah pembicara akan menyampaikan pandangannya, seperti sejarawan senior Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) Prof Dr Taufik Abdullah, Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto, dan budayawan Nirwan Ahmad Arsuka.

Seminar yang diadakan Nabil Society, Paramadina, dan Harian Kompas ini terbuka untuk umum.

”Kalau tahu celahnya dalam memanfaatkan keunggulan budaya, Indonesia pasti bisa menjadi negara yang sangat tangguh,” kata anggota Dewan Pakar Yayasan Nabil, Didi Kwartanad

Sumber: Oase, Kompas.com, Selasa, 28 Februari 2012

Seminar Kebudayaan: Indonesia Tidak Serumpun dengan Malaysia

-- Tri Harijono & Marcus Suprihadi

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggapan yang salah jika dikatakan Indonesia merupakan bangsa serumpun dengan Malaysia. Indonesia lebih hebat dan lebih beragam dibandingkan Malaysia.

Kalau disebut bangsa serumpun, identik dengan Melayu saja, sedangkan suku bangsa, bahasa, dan budaya suku lain dinihilkan.

"Serumpun apanya? Dalam bidang suku dan budaya, Malaysia tidak ada kaitannya sama sekali dengan budaya Papua, Flores, maupun budaya lainnya yang ada di Indonesia. Indonesia lebih luas, hebat, dan beragam!" kata sejarawan Dr Anhar Gonggong dalam Seminar "Cross Cultural Fertilization: Sebuah Strategi Kebudayaan" yang berlangsung di Universitas Paramadina Jakarta, Selasa (28/2/2012).

Tampil sebagai pembicara Guru Besar Sejarah Prof Taufik Abdullah, Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto, dan budayawan Nirwan Arsuka.

Menurut Anhar, bangsa Indonesia jangan mau direndahkan oleh bangsa mana pun dengan iming-iming sahabat dekat, bangsa serumpun, dan sebagainya, tetapi di belakang merendahkan bangsa Indonesia dengan sebutan Indon dan sebagainya.

"Ingat, Indonesia dalam sejarahnya saat masih dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, wilayahnya sangat luas serta mencakup beberapa negara tetangga sehingga disebut Nusantara," kata Anhar.

Sebutan Indonesia, kata Anhar, merupakan buah pikiran jenius para pendiri bangsa yang bervisi jauh ke depan untuk menyatukan suku-suku bangsa, bahasa, dan kebudayaan yang sangat beragam.

"'Kalau disebut bangsa serumpun, identik dengan Melayu saja, sedangkan suku bangsa, bahasa, dan budaya suku lain dinihilkan," kata Anhar.

Cendekiawan Harry Tjan Silalahi mengatakan, jika Indonesia dan Malaysia dianggap serumpun maka keberadaan suku dan budaya lain di luar Melayu dianggap tak ada. "Pandangan ini sesat dan berbahaya," ujarnya.

Sumber: Oase, Kompas.com, Selasa, 28 Februari 2012

Sunday, February 26, 2012

[Jejak] M Yazid bin Tomel, Maestro Tari Zapin Indonesia

M YAZID bin Tomel adalah maestro tari zapin Indonesia asal Riau yang telah menghabiskan sebagian besar usianya untuk mengabdikan diri mengembangkan seni tari zapin. Lahir di Desa Latak Bengkalis pada 31 Desember 1931 dan wafat pada usia 79 tahun, Kamis 23 September 2010 di RSUD Grand Hospital Bengkalis.

M Yazid belajar tari zapin sejak kanak-anak dan telah berhasil pula menemukan 20-an bunga dan pecahan zapin. Bunga dan pecahan zapin secara umum saja hanya 12 tapi M Yazid telah mengambangkan lebih jauh lagi. Artinya, almarhum tidak hanya melestarikan tapi mengembangkan secara baik. Salah satu bunga atau pecahan yang diciptakannya adalah ‘’Cino Buto’’ (Cina Buta). Ditarikan dua orang atau dua pasang yang tetap dimainkan di sanggarnya yakni Sanggar Yanurbih.

Sang maestro ini meninggalkan tujuh anak dan 36 cucu. Sedang istrinya, Asnah binti Usman telah mendahuluinya dua bulan sebelum kepergiannya. Menurut Ahmad, anak Yazid, sepanjang hidupnya, almarhum telah mendapatkan berbagai penghargaan dari tingkat nasional, provinsi hingga kabupaten. Hanya saja, perhatian padanya, semasa hidup, terbilang minim.

Tokoh zapin yang begitu sederhana dan tabah menghadapi kehidupan itu memberikan banyak pencerahan di sini, bahkan bangsa ini. Menurutnya, almarhum akan selalu dikenang, bersama karya-karya terbaiknya hingga akhir zaman.

Para pakar zapin Riau seperti Nurdin (Siak) dan M Yazid bin Tomel adalah pakar zapin yang menciptakan gerak aneh atau tidak biasa. Pernah dimanfaatkan oleh ASKI Padangpanjang (Sumbar), mengajar di sana dan ilmu itu sudah dicatat di sana. Begitulah orang lain menghargai kesenian. Bahkan banyak seniman semasanya mengatakan, pemerintah tak pernah menghargai itu dari Tengku Nurdin hingga M Yazid. Almarhum sendiri pernah mengajar di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Berdedikasi cukup baik hingga akhir hayatnya dan tak pernah bicara budget saat meneruskan ilmunya yang mahal tersebut.

Bahkan Tom Ibnur (tokoh tari Indonesia) mengatakan, M Yazid mendapat gelar maestro zapin di penghujung usianya. M Yazid adalah guru, tokoh dan sosok tak tergantikan. M Yazid membanggakan Melayu. M Yazid, menyemai, menumbuhkan dan memelihara zapin tanpa pamrih karena kecintaan yang mendalam. Kesadarannya akan pentingnya khazanah Melayu sebagai warisan yang sangat berharga ke masa depan.

Penghargaan yang diberikan langsung wakil presiden, pada 23 Juli 2010. Waktu itu kondisi juga sudah sakit-sakitan. Uang itu bisa mengobati penyakit istrinya, dari duit penghargaan itu. Namun 25 Juli istrinya meninggal. M Yazid menjadi simbol kebangkitan tari zapin di Indonesia. Bahkan kampung Meskum (Bengkalis) yang dibinanya, dikenal sebagai Kampung Zapin karena warga kampung tersebut menggiatkan zapin dari kanak-kanak hingga orang tua. (fed)


Sumber: Riau Pos, Minggu, 26 Februari 2012

Saturday, February 25, 2012

Berenergi Dramaturgi Wayang

-- Beni Setia

KUMPULAN puisi terbaru Tjahjono Widijanto (TW), Janturan (Jakarta, Spirit Management, 2011), terdiri dari tiga bagian: Janturan, Bayang-bayang, serta Lurung. Terma janturan itu sendiri diterangkan TW, di dalam prolog yang ditulisnya sendiri, sebagai bagian dari dramaturgi pementasan wayang (Jawa), sesuatu yang diterimanya sebagai nina bobo pengantar tidur dari sang bapak yang kebetulan guru bahasa Jawa di SPG di Ngawi.

Kebiasaan yang membuatnya sangat kecanduan menonton wayang, serta suka memaksa sang bapak untuk mengsiantar dan menemaninya nonton setiap pagelaran wayang yang diselenggarakan di kampung di masa kecilnya. Sesuatu yang membuatnya tetap kerasukan (menyempatkan diri) menonton pagelaran wayang-itu bahkan di tengah acara Temu Sastra MPU VI, 15-17/10.2011, kemarin.

Kronologi pagelaran wayang bersijejer dari awal pangung kosong dengan media tampil ditancapi kayon-gunungan-, lalu buka kayon dengan ikon gunungan dicabut dengan iringan suluk, setelah itu,ketika wayang-wayang ditampilkan dan berdialog,muncul janturan. Fungsinya kalau tak mendahului adegan sebagai deskripsi pembuka, menguatkan dialog sebagai deskripsi monolog pemikiran si tokoh, kemudian sebagai penutup dari adegan untuk penekanan deskriptif.

Dengan kata lain, kelebihan pentas wayang kulit dan kualitas dalang itu terdapat pada wilayah ontowacana,dialog cerdas serta deskripsi janturan,dan sabetan,kemampuan menggerakkan wayang kulit.

Dan TW mengambil filosofis janturan itu untuk mesitandai kemampuan mendeskripsikan peristiwa dan kejadian,tidak heran bila banyak puisi di Janturan bermula dari cerita.

Ada puisi yang mendeskripsikan kesan pribadi dan/atau tafsir dari cerita wayang. Puisi "Jam-Jam Madrim", misalnya, yang menceritakan gejolak emosi cinta terputus si Madrim kepada Pandu, raja hastina yang harus merelakan satu dari tiga wanita yang dibawanya untuk dipilih Destrata yang buta,kita tahu Pandu meninggal, anaknya dari Kunti jadi Pandawa, sedangkan anak-anak dari Madrim dan Destrata jadi Kurawa, dan mereka itu yang menjadi pion dari tragedi besar keluarga Bharata di Kurusetra dalam epos Mahabrata.

Lalu puisi "Kunti di Tepi Kali", yang mendeskripsikan sesalan sertan keterpaksaan Kunti membuang si anak hasil selingkuhnya dengan Betara Surya, yang demi nama baik seorang putri yang belum menikah terpaksa membuang Karta.

Atau puisi "Bisma", si bungsu dari Pandu dan Destrata yang memilkih tidak menikah untuk bisa mengemong keponakan-keponakannya,tapi takdir malahan ada membawanya ke perang besar di Kurusetra, karenanya ia tak mau mati sebelum perang besar itu usai.

Lantas ada puisi yang bertolak dari sejarah, puisi "Mangir", yang mensiceritakan kiai Mangir dari perdikan Mangir yang tak pernah bisa ditaklukan Senapati, sehingga terpaksa diatur siasat supaya Mangir tergoda dan menikahi Pembayun, putri Senapati yang jago nyinden, dan ketika mengunjungi mertuanya ia dibunuh dengan sadis, tapi kuburannya separuh ada di wilayah kraton dan separuh ada di luar kraton.

Atau puisi "Janturan Siti Jenar", yang menceritakan kalahnya kaum penganut hakekat oleh para pengamal syariat yang bersetumpu pada nash fiqih.

Bahkan yang bersipedoman pada teks cerita rakyat, seperti yang ditampilkan dalam puisi "Lima Catatan Malin", yang merupakan deskripsi si yang dikutuk, yang merasakan bagaimana riangnya anak-anak camar diberi makan ibunya, sekaligus merasakan instinik kesiorangtuaannya bangkit ingin mensidoakan (semacam) kemuliaan bagi anaknya.

Dengan kata lain, bukankah kewajiban ibu itu mendoakan kemuliaan anak dan bukan memusnahkann kemuliaan si anak beratas nama balas budi yang berupa penghormatan agung?

Lantas intertekskan roh spirit puisi itu dengan puisi "Kunti di Tepi Kali", "Tafsir Bapa Tafsir Anak", "Tafsir Langit", dan (terutama) puisi "Di Meja Makan Keluarga". Tapi posisinya yang keranjingan untuk membuat deskripsi untuk prolog cerita, untuk memperkuat monolog dengan deskripsi yang setengah prosaik dan abstrak filosofis,karena itu sajak terkadang sengaja diledakkan dengan pensiteraan teks wicara sebagai kesimpulan yang diucapkan, serta untuk epilog membuat kita kesulitan menangkap apa isi puisinya.

Setidaknya kalau kita tak memahami isi induk cerita yang ditafsirkan dan dimainkan dengan penekanan janturan-nya. Sajak-sajak TW itu seperti puncak si gunung es dari sebuah narasi yang tidak ditampilkan, dan terbenam dalam khazanah perbendahaaraan cerita si apresiator. Ambil puisi "Cok Bakal", yang merupakan satu bagian dari upacara adat Jawa,sebagai alat untuk mencegah datangnya bencana, tolak bala, yang di tempatkan di perempatan jalan.

Dengan kata lain, cara berpuisi TW yang bertolak dari cerita, yang menjadi satu referensi pengalaman bersama, jadi kelemahan ketika cerita yang dipilih tak diketahui oleh orang lain, dan ketika para apresiatornya kesulitan untuk merekonstruksi si cerita yang dengan sengaja didekonstruksi jadi metateks tafsir.

Terlebih saat terpaksa harus memaknai teks yang bermula dari pengalaman individual, seperti puisi-puisi "Menara Panti Kudus", "Lukisan Perempuan di Musium Blanco", "Jeddah-Madinah", "Arafah", "Depan Ka'bah", "Hotel Movent Pick Madinah", dan/atau "Singir Sungai Kampung Halaman".

Meski di banyak puisi yang potensial gelap itu si penyair telah kuasa buat mengatasi tabir subyektivitas, sehingga karenanya secara kebahasaan teks puisi telah berhasil jadi alat buat mengungkapkan pengalamannya yang terdalam. TW berkuasa mengobyektivikasinya, seperti apa yang diyakini TS Eliot. Ambil itu puisi "Di Meja Makan Keluarga", misalnya.

Tak heran kalau Janturan, buku setebal 94 halaman dengan 35 puisi ini berhasil menyabet hadiah sastra BPPB 2011 untuk kelompok guru. n

Beni Setia
, pengarang

Sumebr: Suara Karya, Sabtu, 25 Februari 2012

Friday, February 24, 2012

Menuju Humanisasi Pendidikan

-- Siti Muyassarotul Hafidzoh

PERNYATAAN yang dilontarkan oleh Mark Twain tersebut mengindikasikan bahwa dunia pendidikan seakan bukannya menciptakan sosok kreatif masa depan. Namun, pendidikan malah membungkam kreativitas berfikir seseorang yang tidak hanya dalam jangka pendek bahkan dalam jangka panjang.

Pendidikan hanya membuang-buang waktu saja, tanpa memberikan ide-ide cerdas untuk masa depan. Proses belajar-mengajar antara guru-siswa bukannya mendorong siswa untuk berfikir, tetapi siswa malah merasa bosan dan ditahan dalam penjara yang mencekam. Dalam titik demikian, sekolah dianggap sebagai momok yang menakutkan yang bisa menjegal masa depan seseorang.

Ya, itulah gambaran apabila pendidikan gagal memanusiakan manusia: menciptakan dan melejitkan kreativitas kemanusiaan. Padahal, pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya. Sebagai makhluk, batas antara hewan dan malaikat harus dipisahkan dengan tegas.

Sebagai makhluk dilematik, ia dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupnya. Sebagai makhluk moral, ia senantiasa bergulat dengan nilai-nilai. Sebagai pribadi, manusia memiliki kekuatan konstruktif dan kekuatan destruktif. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki hak-hak sosial dan harus menunaikan hak-hak sosialnya. Dan, sebagai hamba Allah, ia harus menunaikan kewajiban ubudiyah-nya. Pendidikan humanistik adalah pendidikan yang mampu memperkenalkan apresiasinya yang tinggi kepada manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan bebas serta dalam batas-batas eksistensinya yang hakiki, dan juga sebagai khalifatullah.

Pendidikan humanistik bermaksud membentuk manusia yang mempunyai komitmen humaniter sejati, yakni manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai insan manusia individual, tanpa terangka dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup di tengah masyarakat. Manusia memiliki tanggung jawab moral kepada lingkungannya, berupa keterpanggilannya untuk mengabdikan dirinya demi kemaslahatan masyarakatnya. Dengan paradigma pendidikan humanistik, dunia manusia akan terhindar dari tirani teknologi kehidupan dan akan mencipta suasana hidup dan kehidupan yang kondusif bagi komunitas manusia.

Untuk mewujudkan potensi humaniter sejati, pendidikan merupakan media paling strategis dalam merumuskan konsep humaniter sejati di masa depan. Dalam konteks ini, manusia sebenarnya ditempatkan sebagai makhluk pedagogik: yakni makhluk yang sejak lahir mempunyai potensi untuk dapat dididik sekaligus mendidik. Potensi dasar (fitrah) manusia, sebagai tabiat asli, perlu dikembangkan agar manusia menjadi baik serta tetap menduduki kedudukan sebagai makhluk Allah yang mulia. Mengembangkan potensi dasar ini harus melalui proses pendidikan, karena itu manusia harus melakukan proses pendidikan.

Proses pendidikan dengan optimalisasi potensi dasar (fitrah) manusia akan membentuk wajah baru dunia pendidikan yang sangat manusiawi. Pendidikan akan kembali kepada khittah-nya sebagai media pembebasan kemanusiaan. Berbagai tragedi pendidikan yang terus menyeruak di wajah bangsa ini menjadi penanda bahwa harus ada gerakan besar dalam menggemuruhkan filsafat dan praktik pendidikan yang sesuai dengan prinsip kemanusiaan universal. Dengan prinsip kemanusiaan itulah, maka terbentuk fondasi dan dasar yang bisa membuka cakrawala baru pendidikan yang selalu bernas, aktual, dan komprehensif dalam menjawab ragam soal yang terus datang silih berganti.

Mencerahkan

Pendidikan yang memanusiakan manusia selalu bervisi untuk pembebasan. Artinya, peserta didik diberikan kebebasan dalam menentukan arah pendidikannya di masa depan. Peserta didik bukanlah bank yang selalu dicekoki, diisi semaunya, dan disetir tanpa mempunyai kedaulatan untuk menentukan dirinya sendiri. Inilah yang oleh Paulo Freire dikritik sangat keras. Freire sangat keras mengkritik praktik pendidikan yang terus mendikte peserta didik. Freire melihat bahwa praktik pendidikan telah merampas hak peserta didik dalam menentukan kedaulatan dirinya untuk membentuk asa depan sesuai dengan potensi dasar yang dimiliknya.

Maka dari itulah, dengan melihat sekujur tubuh pendidikan kita yang penuh luka, sudah saatnya, - menurut analisis Freire -, pendidikan musti menjadi jalan menuju pembebasan permanen, yang dilakukan dalam dua tahap. Pertama, manusia menjadi sadar (disadarkan) tentang penindasan yang menimpanya; ia harus menjalankan praksis mengubah keadaan tertindas itu. Kedua, membangun kemantapan berdasarkan apa yang sudah dikerjakan di tahap pertama; proses permanen yang diisi dengan aksi-aksi budaya yang membebaskan.

Jalan pembebasan yang diwartakan Freire adalah media melangkah menuju pendidikan yang manusiawi. Wajah pendidikan di Indonesia yang masih compang-camping harus segara dibenahi. Semua harus kembali kepada potensi dasar (fitrah) manusia yang bersih, suci, dan bernas. Potensi dasar (fitrah) yang kemudian dijadikan media dasar dalam proses pembebasan dan penyadaran manusia akan menemukan makna substantif pendidikan yang terus menjaga nilai luhur bangsa. Pendidikan yang terus membuka jalan pencerahan (enlighment) dalam proses pembudayaan tata nilai hidup.

Siti Muyassarotul Hafidzoh
, peneliti pada Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogykarta.

Sumber: Suara Karya, Jumat, 24 Februari 2012

Anekdot di Bekas Kediaman Charles Dickens

-- Jodhi Yudono


SEBUAH mobil meluncur perlahan menuruni Doughty Street pada Selasa sore yang cerah, kemudian berhenti di depan sebuah pintu hijau.

Charles Dickens


Dua wanita paruh baya keluar dari mobil tersebut dan memasukkan rangkaian mawar merah dan kuning melalui pengetuk pintu, sementara kemudian kedua wanita berambut perak mundur, mengawasi dalam keheningan.

Pintu bernomor 48 itu adalah bekas kediaman novelis besar Charles Dickens, yang tinggal di sana antara 1837 dan 1839.

Selasa kemarin menandai 200 tahun kelahiran penulis Inggris ikonik tersebut.

Kediamannya, ada di tengah beranda dan biasanya sulit untuk menemukan itu, kemarin penuh dengan pengunjung.

"Aku sangat mencintai Dickens, setiap buku yang ditulisnya, filosofinya tentang kehidupan, ia membuat pernyataan tentang masyarakat dan bagaimana hal itu adalah untuk perbaikan," kata Hilda Patricia Richardson (91), yang meminta putrinya untuk mempersembahkan bunga untuknya.

Ia pergi ke museum dari Notting Hill, yang memakan sekitar 40 menit perjalanan. Ia berkata bahwa dirinya membesarkan anak-anaknya dengan membaca Dickens, sehingga mereka bisa mengagumi dia seperti dirinya mengagumi Dickens.

"Saya berharap kan selalu ada orang yang mengagumi Dickens," kata wanita itu. "Karena semua buku-bukunya selalu memiliki moral di dalamnya, bahwa orang harus memperlakukan satu sama lain lebih baik."

Seorang wanita dari timur London, Annabel Port, mengatakan dia senang berada di rumah Dickens. "Saya sangat merasakan atmosfernya." katanya.

PAMERAN

Apartemen tiga lantai tersebut dianggap sebagai penting dalam kehidupan Dickens, yang dia gambarkan sebagai "rumah saya di kota".

Di apartemen itu, dia menulis novel bergaya otobiografi terkenal, Oliver Twist, dan roman pertamanya Nicholas Nickleby. Dua putrinya juga lahir di sini.

Namun, Dickens kemudian pindah keluar karena kebutuhan ruang yang lebih untuk keluarganya tumbuh. Tapi rumah tinggal itu masih terjaga. Rumah tersebut memang pernah terancam dibongkar pada tahun 1923, tetapi diselamatkan oleh Fellowship Dickens yang membukanya sebagai museum dua tahun kemudian .

Museum tersebut menerima rata-rata 30 ribu pengunjung per tahun, menurut staf museum.

Pada hari-hari tersibuk, museum dikunjungi sekitar 200 sampai 300 pengunjung per hari.

Di antara semua kamar di apartemen, yang terbesar dan sekarang terbuka untuk pengunjung adalah ruang tamu di lantai pertama. Di dalam ruangan ada rak buku dua dengan koleksi karya Dickens. Ada juga piano tua, yang katanya dulu dimainkan oleh putrinya.

Ada anekdot, Dickens suka duduk di sana untuk menikmati pesta keluarga dan teman-temannya, saat menulis Oliver Twist.

Pintu berikutnya adalah menuju ruang studi tentang Dickens, disana dipamerkan naskah Papers Pickwick miliknya, serta majalah sampul biru, di mana ia menerbitkan novel-novelnya secara berkala.

Sinar matahari menyeruak melalui jendela menyinari sebuah meja kayu, di mana Dickens menulis paragraf terakhir dari Misteri Edwin Drood. Hari berikutnya setelah itu, ia meninggal.

Dilihat dari furnitur dan dekorasi, aktor Tim Pritchett (27) percaya Dickens "cukup norak". Satu-satunya kursi di ruang tamunya berwarna merah karat dan yang lainnya berwarna hijau pakis.

"Tirai cukup berani," katanya. Mereka merah skarlet.

HIDUP

Pritchett mempunyai kado khusus untuk Dickens. Hari itu dia membacakan bagian dari Oliver Twist kepada pengunjung.

Dengan mengenakan rompi kotak-kotak dan mantel merah tua Victoria, pria yang memakai kumis palsu di dagu untuk meniru Dickens membacakan ekstrak dari Oliver Twist, di mana Mr Bumble harus bertemu Ibu Corney, sipir dalam cerita tersebut.

Pritchett mengubah suaranya untuk menokohkan karakter yang berbeda. Orang-orang tertawa dan bertepuk tangan.

"Saya merasa senang bisa melakukan hal tersebut di ulang tahun Dickens, dan saya ingin melakukannya lagi untuk 100 tahun," kata Pritchett.

Setelah belajar di sebuah sekolah drama, dia mencatat bahwa Dickens salah satu penulis favoritnya.

"Tidak ada yang lebih sulit seperti menatap semua teks dan mulai habis, mengingat semua karakter. Tapi Dickens menulis dengan baik Karakter-karakter dia ada di semua tempat, begitu besar. Rasanya sangat mudah untuk pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. "

Ia menambahkan bahwa karya Dickens "keseluruhannya begitu kaya, dari awal sampai akhir," katanya.

"Bahkan jika Anda telah mendengar cerita ini, kekayaannya masih terasa. Tidak ada celah lemah. Segala sesuatu tentang cerita tersebut sama kayanya."

Berbicara tentang Dickens, Pritchett percaya Dickens adalah "orang yang jazzy atau suka hidup glamor".

"Dia tukang pamer, saya benar-benar berpikir dia adalah selebriti yang pertama di dunia. Saya merasa dia suka melakukan itu," katanya.

Mendengar Pritchett membaca, membuat orang merasa bahwa sebenarnya Dickens hidup. Bahkan, untuk aktor sendiri, novelis masih hidup.

"Saya datang ke sini dan saya merasakan kehadiran Dickens," katanya. "Saya melihat kursi yang mungkin dia pernah duduki ketika ia menulis, dan api di tungku-nya, mejanya. Dia pernah di sini, di ruangan ini."

NYATA

Paulus Bonny adalah pemandu tur relawan di museum. Setelah berada di sini selama sekitar setengah tahun, pria berpenampilan intelek yang berbicara dengan nada cepat itu tampak cukup akrab karya Dickens.

Ia mengatakan bahwa Sang penulis selalu keluar pada malam hari, dan merekam apa yang ia lihat dalam buku-bukunya. Contohnya adalah Oliver Twist, ia menunjukkan bahwa Mr Brownlow, yang menemukan orangtua asli dari Oliver, sebenarnya adalah pemilik sebuah rumah sakit ketika Dickens mengenalnya.

"Dia benar-benar dirampok di sebuah areal yang tidak jauh dari sini," kata Bonny.

Orang itu mengakui bahwa buku Dickens bisa "sedikit sulit untuk anak muda, tidak hanya masalah ide, tapi juga bahasa."

Namun, relawan lain, seorang mahasiswa, Katherine Becker mengatakan buku-buku Dickens menarik. Ia telah membaca banyak bukunya, dan sedang mengulangi membaca Great Expectations untuk kesekian kalinya.

Selain perubahan waktu, dia percaya karakter Dickens "begitu nyata", sehingga buku tersebut tidak pernah bisa usang.

Oleh karena itu, museum selalu bisa menerima beberapa tamu istimewa. Bonny mengatakan ia telah bertemu cicit dari Dickens, Gerald Charles Dickens, yang juga adalah seorang aktor.

"Dia memiliki sedikit aksen Amerika," katanya. "Dan dia punya jenggot, tampak seperti Gustave Flaubert."

Tamu istimewa lain adalah Lucinda Hawksley Anne Dickens, cucu dari cicit Charles Dickens. "Dia adalah seorang penulis dan sering datang ke sini."

Di antara kerumunan tamu pada hari itu, terdapat banyak selebriti datang untuk menghormati Sang penulis, seperti Prince of Wales dan Duchess of Cornwall yang tiba Selasa pagi.

Bonny mengingat aktor Ralph Fiennes, yang bermain di Schindler`s List, pernah sekali datang ke museum untuk penelitian. Dia akan bermain untuk salah satu film yang disadur dari novel Dickens.

"Gillian Anderson datang pada hari Senin," kata Bonny. Aktris ini membintangi tiga seri episode TV dari Great Expectations oleh BBC, yang ditayangkan Desember lalu.
(ANT)

Sumber: Oase, Kompas.com, Jumat, 24 Februari 2012

Thursday, February 23, 2012

Banyak Mata Pelajaran Tak Relevan, Beban Siswa Terlalu Banyak

JAKARTA, KOMPAS - Banyak materi pelajaran di sekolah yang tidak relevan dengan kondisi di luar sekolah atau kehidupan sehari-hari. Bahkan, sistem pendidikan nasional terbukti tidak mengembangkan kreativitas siswa. Padahal, pendidikan seharusnya mendorong dan mengembangkan kreativitas siswa.

Demikian pokok persoalan yang mengemuka dalam seminar ”Revitalisasi Pendidikan Menuju Generasi Bangsa yang Cerdas dan Berkarakter di Tengah Kemajemukan” yang diselenggarakan Yayasan Tarakanita, Rabu (22/2/2012), di Jakarta.

Dalam seminar itu terungkap, filosofi, konsep, desain, dan arah pendidikan juga tidak jelas. Dalam buku pelajaran memang ada kompetensi yang diharapkan dari siswa, tetapi hanya dalam uraian kata-kata dan tidak tecermin dalam materi pelajaran secara keseluruhan.

Beban mata pelajaran yang harus diikuti siswa juga sangat banyak, bisa 17 mata pelajaran untuk SMA, tetapi tidak membawa pengaruh apa-apa pada pengetahuan, cara berpikir, dan perilaku siswa.

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Pasca Sarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Anita Lie, menilai materi pembelajaran di sekolah banyak yang tidak relevan dengan realitas abad ke-21.

Tidak berpikir kritis

Praktisi pendidikan HAR Tilaar menambahkan, sistem pendidikan nasional tidak mengembangkan kreativitas siswa. Siswa tak dididik dan dibiasakan berpikir kritis dan kreatif yang melahirkan motivasi dan jiwa entrepreneur. Hal ini disebabkan sistem pendidikan nasional masih mengikuti sistem kolonial.

”Tujuan pendidikan kolonial adalah menjadi pegawai. Sistem pendidikan yang sekarang juga mendidik siswa menjadi pegawai,” kata HAR Tilaar.

Untuk mengatasi persoalan ini, menurut pengamat pendidikan Darmaningtyas, siswa seharusnya tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan teori yang dipelajarinya. Jika sekolah mempraktikkan teori dengan hal-hal yang praktis dan konkret, Darmaningtyas yakin akan terjadi perubahan. ”Materinya tidak selalu harus masuk kurikulum. Ajak siswa mengatasi persoalan konkret di masyarakat,” kata Darmaningtyas.

Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Franz Magnis-Suseno menilai model pendidikan yang masih dipakai saat ini hanya model ”mengisi botol”, hanya sekadar memberikan pelajaran. Siswa sebaiknya dirangsang untuk selalu ingin tahu, suka menyelidiki, dan dirangsang perkembangan fantasinya.

Idealnya, setiap siswa harus dibantu agar timbul rasa percaya diri dan berani mengambil sikap. ”Unsur kuncinya, guru tetap sebagai panutan,” ujarnya.

Mencintai bangsa

Bagi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Meutia Hatta Swasono, pendidikan Indonesia harus menumbuhkan karakter mencintai bangsa dan bangga pada kedaulatan bangsa. Kebijakan, seperti rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), justru membuat konsep pendidikan tidak jelas karena hanya meniru model pendidikan asing.

Senada dengan itu, menurut Anita Lie, penggunaan bahasa asing di RSBI dalam proses pembelajaran justru akan mengacaukan penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa adalah masalah serius karena terkait perkembangan kognisi anak.

”Saya tidak tahu paradigma RSBI. Kalau bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar, saya tidak bisa bayangkan kekacauan yang akan terjadi,” kata Anita. (LUK)

Sumber: Kompas, Kamis, 23 Februari 2012

Sunday, February 19, 2012

Jalan Sunyi Sang Penulis

Esai Iwan Nurdaya-Djafar


MEMILIH menjadi penulis adalah memilih jalan sunyi. Kian panjang karier kepengarangan seseorang, kian panjang pula jalan sunyi yang telah ditempuhnya. Dia menempuhnya seorang diri belaka. Larut dalam kesunyian, dan bahkan hilang-lenyap ditelan kesunyian nan mahangelangut. Boleh dikatakan, dilanda sebentuk hening yang begitu mutlak. Kesunyian penulis adalah kesunyian sebatang kara. Bukan saja tanpa kawan, terasing dan terpencil dari sekitarnya, terbuang dan membuang diri dari kumpulannya, bahkan juga abai, lupa, dan alpa akan dirinya sendiri! Tiba di sini, aku jadi teringat Mudji Sutrisno, sang filsuf dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, juga seorang pastur (romo) yang menjalani hidup selibat, yang rambutnya tumbuh panjang tiada beraturan seiring dengan kian memanjangnya dan mendalamnya renungan filsafati yang ditulisnya. Aku pun terkenang Socrates, sang filsuf dari Yunani kuno, yang saban hari berjalan menggelandang keliling Athena mencari teman dialog demi memperdebatkan wacana-wacana yang menyesaki benaknya. Pun aku teringat Chairil Anwar, si penyair-bohemian, yang memekikkan kepada dunia, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang!" Dan di atas itu semua, aku harus menyebut Friedrich Nietzsche, filsuf eksistensialisme Jerman, yang disebut-sebut sebagai "manusia paling kesepian di awal abad ke-20".

Ada suatu masa, yaitu pada dasawarsa 1970-an, jagad perpuisian Indonesia begitu didominasi oleh tema kesunyian, sedemikian menggelegaknya sampai-sampai terasa sudah sedemikian memuakkan sekaligus memualkan. Sementara di luar dirinya, karya sastra mereka sendiri tak jua dibaca oleh lingkungannya, dan kekal sebagai sastra terpencil. Jauh sebelumnya, tema kesunyian sudah pula digubah penyair lain, dari zaman dan tempat lain, sebutlah Kahlil Gibran, penyair Lebanon yang mukim di Amerika, atau penyair Spanyol Juan Ramon Jimenez dalam masterpisnya Platero y yo (Platero dan Saya). Tahukah engkau, bahwa Platero, sahabat dalam sunyi pada karya Jimenez yang memenangi Hadiah Nobel Sastra 1956 itu, bukanlah nama seorang manusia, melainkan seekor keledai, yang menjadi teman bercengkerama bagi tokoh aku-liriknya selama bertahun-tahun menyusuri desa Moguer yang menjadi latar cerita.

Tema kesunyian, biarpun sudah begitu jenuh lagi memuakkan, toh terus diproduksi kembali, seolah tak kenal henti. Kesunyian justru menjadi sahabat semata wayang sang penyair. Tak kurang dari Emha Ainun Nadjib menggubah sepotong puisi pendek yang bernas lagi indah bertema kesunyian yang lalu diangkatnya menjadi lirik sebuah lagu yang dinyanyikannya dalam album Kado Muhammad. Judulnya Jalan Sunyi, sebuah puisi-lagu nan indah lagi mendalam: akhirnya kutempuh jalan yang sunyi/ mendendangkan lagu bisu/ sendiri di lubuk hati/ puisi yang kusembunyikan dari kata-kata/ cinta yang takkan kutemukan bentuknya.

Lihat, di jalan sunyi yang ditempuh Emha, sejatinya dia tiada mendendangkan apa pun, kecuali mendendangkan lagu bisu! Frasa “lagu bisu” justru makin menandaskan kian kentalnya kesunyian. Lagu bisu itu berupa puisi yang masih bersemayam di lubuk hati, yang merahasia, yang bahkan tersembunyi dari kata-kata. Padahal, kita tahu, puisi mestilah bertulangkan kata-kata. Maka, tak pelak, puisi yang tersembunyi dari kata-kata, belumlah lahir sebagai puisi, belum mengejawantah, setidaknya dalam pengertian puisi konvensional. Tapi rupanya, puisi yang tersembunyi dari kata-kata itu tak lain adalah cinta. Cinta yang bagaimanakah, duhai gerangan? Cinta yang takkan ditemukan bentuknya. Itulah cinta yang tak terperikan oleh kata-kata, jangankan dalam ujud prosa atau prosa lirik yang boros dalam pemakaian kata, bahkan juga dalam ujud puisi yang justru menjunjung ekonomi kata.

Tema kesunyian juga hadir dalam puisi indah mendiang penyair Subagio Sastrowardoyo, bertajuk Manusia Pertama di Angkasa Luar yang melaluinya dia ingin menyindir kepincangan intelektual kaum ilmuwan yang sedemikian terasing dari kesenian, dari puisi, sehingga menjelma manusia satu dimensi yang berkacamata kuda di dalam memandang fenomena dunia: "Berilah aku satu kata puisi/ daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji/ yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi/ yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi/ Tetapi aku telah sampai pada tepi/ darimana aku tak mungkin lagi kembali.

Selain dalam ujud puisi, tema kesunyian juga digubah dalam bentuk prosa baik cerita pendek, novelet, maupun novel. Dalam cerpen Sepi, Putu Wijaya mengangkat tema kesunyian melalui sosok seorang anak muda yang mengabaikan etika seksual. Kala bapaknya mati, dia meminta dokter untuk memotong alat vital bapaknya yang masih bagus dan memasangkannya di bagian kening si anak muda. Pada mulanya dokter merasa keberatan, tapi karena terus didesak, akhirnya bersedia, tapi tidak bertanggung jawab atas akibat yang mengiringinya. Setelah alat vital terpasang di kepalanya, anak muda yang telah kehilangan rasa malu itu melakukan petualangan seks secara gila-gilaan, sampai akhirnya merasa jenuh sendiri, merasakan kebosanan yang amat getir. Alhasil dia kembali mendatangi sang dokter, meminta dioperasi demi membuang alat vital yang tertanam di keningnya. Sang dokter menolaknya karena sudah sejak awal memperingatkan bahwa dia tak bertanggung jawab atas akibatnya, seraya melontarkan wejangan, "Sudahlah anak muda, terima sajalah hal itu, dan ambillah sebagai pelajaran." Si anak muda tentu saja amat menderita karena tersiksa oleh neraka kesepian. Di penghujung cerpen yang berakhir tragis, dia berteriak panjang sekeras-kerasnya, "Sepiiiiiii..."

Dalam ujud novelet, tema kesunyian tampak pada Sepi Terasing, Aoh K. Hadimadja. Sementara dalam bentuk novel adalah One Hundred Years of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian) Gabriel Garcia Marquez, yang mengisahkan perikehidupan rakyat di bawah tekanan penguasa diktatorial.

Jalan sunyi yang ditempuh oleh penulis—termasuk sastrawan, ilmuwan, filsuf; pendeknya orang yang memiliki kegiatan menulis—tentu berdampak secara psikologis terhadap si penulis sendiri. Dalam esainya bertajuk Mengapa Saya Menulis Sajak, Subagio Sastrowadoyo menuliskan pengakuan berikut, "Pikirannya yang terlibat pada nilai-nilai kekal itu cenderung membatasi daerah perhatian seniman sehingga menciut dan menunggal. Kemampuannya memusatkan pikiran menyanggupkan dia mencakup secara intuitif intipati-intipati, baik pada kenyataan batin maupun lahir. Tetapi sebaliknya gerak-geriknya kelihatan seperti kikuk dalam menyesuaikan diri dengan tata cara pergaulan. Ia tidak bergerak secara lancar di tengah orang-orang yang tidak dikenalnya, atau ia tidak sanggup turut serta dengan baik di dalam olahraga, main kartu atau 'omong kosong' saja, karena ia cenderung memandang kesibukan-kesibukan demikian hanya sekadar pengisi waktu yang luang dan tidak mempunyai nilai kekal."

Lebih jauh, Subagio menulis, "Kemasgulan tentang nilai-nilai kekal yang memberikan ilham kepada saya untuk menulis sajak, tetapi yang di samping itu telah mendatangkan rasa hidup yang sedih tidaklah selalu menyuruki pikiran saya. Kebanyakan waktu saya 'normal' (seperti hari ini) dan dapat menikmati hidup dengan tinggal pada permukaan dan pinggir kehidupan. Di dalam saat-saat demikian saya tidak mempunyai sesuatu ilham dan jiwaku tergolek kosong dan kering seperti tanah gurun. Pada waktu demikian saya seakan-akan telah ke luar dari malam pemikiran puitis dan berdiri di siang bolong dan menyaksikan diri sendiri dan dunia sekeliling saya secara obyektif dan kritis. Inilah saat-saat yang terbaik bagi saya untuk menulis esai dan kritik tentang sastra."

Akhirnya Subagio mengunci pengakuannya itu dengan berkata begini, "Saat-saat yang tak produktif itu merupakan kerugian tetapi juga keuntungan. Kerugian karena saya tidak sanggup menulis satu baris sajak pun yang terbit dari ilham yang sejati. Keuntungan karena tanpa perhentian yang panjang tanpa mencipta itu saya sudah lama akan menjadi seseorang yang penyendiri serta perenung, yang kurang cocok bagi kehidupan di dunia ini, disebabkan penatapan yang terus-menerus ke dalam bayangan batin...."

Sementara itu, esais Ignas Kleden memotret jalan sunyi sang penulis dengan uraian seperti ini, "Buku adalah femonena kebudayaan. Barang siapa hendak mengurus buku, baik sebagai penulis, editor, penerbit, pustakawan, pemilik toko buku atau peresensi tidak dapat menjalankan tugasnya dengan cukup motivasi dan kecintaan, dengan kreativitas dan kesungguhan, kalau dia tidak dibimbing oleh suatu wawasan kebudayaan yang memadai. Penulis yang tidak mempunyai wawasan kebudayaan akan melupakan bahwa menulis buku selalu memerlukan pemaksaan-diri dan sekaligus pengekangan diri yang bersifat asketis. Dia harus menyendiri untuk meneliti, menuliskan pikiran dan penemuan-penemuan dari penelitian atau perenungannya, mengecek naskahnya berulang kali, dan mau tak mau terhindar dari pergaulan sosial dan pertemuan dengan orang ramai untuk sementara waktu. Sebetulnya ini adalah hal yang biasa karena seorang petani pun selalu menghadapi saat-saat asketis kalau dia harus mengurus lumpur di sawahnya pada pagi-pagi buta, atau mengurus saluran airnya tengah malam untuk menjamin sawahnya tetap hijau dan panenannya akan menguning. Tanpa ausdauer (stamina) dan asketisme seperti ini yang akan kita hasilkan adalah tulisan-tulisan pendek dan cepat yang dibutuhkan untuk merespons suatu keadaan aktual."

Akhirnya, agar tak tercekam oleh kesunyian nan menekan, seorang penulis mesti menyauk hikmah dari sepotong hadis Nabi berikut ini, "Jika engkau kesepian, maka ilmu pengetahuan menjadi sahabatmu." Ilmu pengetahuan yang menjadi sahabat dalam sunyi itu di antaranya justru tersua dalam aktivitas menulis dan membaca. n

Iwan Nurdaya-Djafar, budayawan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 February 2012


Jejak: BM Syamsuddin, Pejuang Seni Tradisi

BM Syamsuddin yang memiliki nama asli Bujang Mat Syamsudin, lahir di Sedanau, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (sebelum pemekaran termasuk ke dalam wilayah Provinsi Riau) pada 10 Mei 1935. Ia menamatkan Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru Bantu (SGB) di kampung kelahirannya itu. BM Syam melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang pada pertengahan tahun 1950-an dan di sekolah inilah bakat kesastraan laki-laki bernama asli Bujang Mat Syamsuddin ini mulai terlihat.

BM Syamsuddin

Setamat SGA, BM Syam mengajar SD dan SMP di beberapa tempat di Tanjungpinang dan Sedanau, sebelum akhirnya memilih hijrah ke ibu kota provinsi, Pekanbaru, pada pertengahan tahun 1970-an. Di kota ini kemampuan kesastraaan BM Syam semakin terasah. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen pun dimuat di bebagai media massa, di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu, Suara Pembaruan, Lembaran Budaya Sagang, Riau Pos, Haluan, Mingguan Genta, majalah Amanah dan lain sebagainya.

BM Syam terbilang salah sedikit pengarang produktif Riau pada masanya. Di awal-awal karier kepengarangannya, ia tidak dikenal sebagai penulis cerpen —ia memulai karier kepenulisannya melalui puisi — namun sebenarnya cerpen sulungnya sudah dimuat di majalah Merah Putih pada 1956 dengan nama pena Dinas Syam.

Selain menulis sajak dan karya-karya fiksi (roman), BM Syam juga banyak menulis esei, kritik dan artikel kebudayaan di berbagai media massa di Indonesia. Ia juga pernah terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan di majalah Topik (Jakarta), menulis laporan-laporan daerah dari Riau di harian Haluan dan beberapa tahun sebelum akhir hayatnya sempat bergabung dengan harian Riau Pos di Pekanbaru.

Setamat SGA BM Syam menjadi guru di sekolah rendah dan menengah di Pekanbaru pada 1955-1981, di samping bertugas di Subseksi Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Pekanbaru selama 10 tahun (1981-1991. BM Syam juga menjadi dosen luar biasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau (FKIP UIR) (1988-1995).

Di antara buku-bukunya yang sudah terbit adalah lima cerita anak-anak Si Kelincing (1983), Batu Belah Batu Bertangkup (1982), Harimau Kuala (1983), Ligon (1984), Dua Beradik Tiga Sekawan (1982). Roman sejarahnya ialah Damak dan Jalak (1982), Tun Biajid I dan Tun Biajid II (1983), Braim Panglima Kasu Barat (1984), Cerita Rakyat Daerah Riau (1993). BM Syam juga menulis buku ilmiah popular untuk tingkat sekolah dasar, antara lain Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong (1982), Mendu Kesenian Rakyat Natuna (1981).

Cerpen fenomenalnya, ‘’Cengkeh pun Berbunga di Natuna’’, mendapat perhatian khalayak sastra Riau ketika terbit di harian Kompas pada tahun 1991. Cerpen ini kemudian terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas dan terbit dalam antologi Kado Istimewa (1992). Cerpen-cerpen penting lainnya antara lain ‘’Perempuan Sampan’’ (1990), ‘’Toako’’ (1991), ‘’Kembali ke Bintan’’ (1991), ‘’Bintan Sore-sore’’ (1991), ‘’Gadis Berpalis’’ (1992), ‘’Pemburu Pipa Sepanjang Pipa’’, ‘’Nang Nora’’, dan ‘’Jiro San, Tak Elok Menangis’’ (1992). Perjuangan BM Syam untuk kehidupan teater tradisional Melayu seperti makyong, mendu, bangsawan dan lainnya, juga dilakukan di berbagai helat kebudayaan, seperti di Taman Ismail Mazuki (TIM) 1970-an, hingga keterlibatannya dalam Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) dan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Nusantara pada 1990-an. Setelah BM Syam meninggal pada Jumat, 21 Februari 1997 di Rumah Sakit (RS) Ahmad Muchtar, Bukittinggi, karena penyakitnya, tak banyak lagi seniman yang mampu seperti dirinya. BM Syam menunjukkan keprihatinannya bukan hanya dengan ucapan, kajian, wacana dan pemaparan, tapi juga mengajarkan dan memberi teladan bagaimana menghidupkan bentuk-bentuk seni warisan itu.

Meski banyak dikritik orang karena dianggap sebagai ’perusak tradisi’ tersebab telah menafsirkan sendiri teater tradisional, namun BM Syam tetap kukuh dengan apa yang dilakukannya. Dia kemudian mengimbuhkan kata ‘’muda’’ pada nama-nama teater tradisional itu, misalnya bangsawan muda, mendu muda dan sebagainya. BM Syam tak ingin wacana tradisional dan modern diadu yang kemudian menimbulkan konflik kebudayaan. BM Syam seperti ingin mendamaikan dua kutub yang dalam wacana kebudayaan beradu pantat tersebut. Harus akui, BM Syam adalah seorang pejuang dan pendobrak teater tradisi.(fed)

Sumber: Riau Pos, Minggu, 19 Februari 2012

Saturday, February 18, 2012

Menggembirakan Pemahaman Anak terhadap Dunia Sastra

-- Y Alprianti

PEMAHAMAN anak-anak terhadap dunia sastra, belakangan ini semakin menggembirakan. Kenyataan itu bisa dilihat dari penerbitan media khusus yang membahas masalah sastra anak-anak. Dan penulis sastra di media itui opada umumnya adalah anak-anak usia sekolah dasar. Tetapi, mesti baru duduk di sekolah dasar pemahaman sastra mereka sudah menggembirakan.

Berbeda dengan di Indonesia. Di negeri ini ada kecenderungan kalangan orangtua malah menganggap remeh bahkan melarang putra-putrinya yang meminati masalah sastra. Akibatnya, di antara duaratus juta penduduk, tradisi 'lekat aksara' hanya dinikmati segelintir orang saja. Itu pun dilakukan oleh kalangan dewasa. Padahal, harus dipahami, pendidikan yang gagal dibarengi dengan pemahaman psikologi anak yang keliru menyebabkan budaya baca hampir tak ada. Kekeliruan pemahaman terhadap psikologi anak misalnya: "anak kecil itu orang dewasa yang kecil", atau anggapan bahwa anak-anak adalah kumpulan manusia yang mirip dan serupa satu sama lain dan kehidupannya bersifat statis.

Orang dewasa banyak yang beranggapan bahwa dunia anak merupakan dunia yang sama dengan masa kecilnya sehingga orang dewasa cenderung mendikte terhadap anak seolah-olah mereka jauh lebih tahu dari anak (Purbani, 2003:2). Kekeliruan pemahaman orang dewasa misalnya, tercermin dengan masih banyaknya anak-anak yang dibiarkan nonton televisi sampai berlarut-larut, atau malah sebaliknya melarang anak-melakukan kegiatan kreatif dengan dalih 'asal orangtua nyaman, tidak curiga, dan tidak khawatir'.

Pengekangan semacam inilah yang mesti dilawan sebab hidup manusia merupakan proses untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Proses individuasi merupakan salah satu pertumbuhan kekuatan dan integrasi kepribadian individualnya. Dunia anak-anak tentu sewarna dengan pengalaman dan pengetahuan mereka yang belum menumpuk sehingga masih diperlukan mediasi untuk mengembangkan daya kreatifnya (Nurgiyantoro).

Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pemenuhan hak anak. Hal yang dimaksud adalah proses belajar, menjadi individu yang subjektif, perkembangan pengalaman dan pengetahuan, yang semuanya berada dalam bingkai dunia anak. Membaca dan menulis misalnya, merupakan hak anak sebab di sana terdapat adanya 'proses menjadi diri sendiri secara utuh', bukan senjadi seperti gurunya, seperti orantuanya, atau seperti orang lain. Penjelasan mengenai hak membaca bagi anak adalah kebutuhan (bukan kewajiban) saya analogikan dengan fenomena mengenai pulsa (telepon seluler) yang ada saat ini.

Sepuluh tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, pulsa bukanlah kebutuhan masyarakat, ia mewah dan eksklusif. Lama-kelamaan dengan alasan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman, kaum kapitalis kemudian mengondisikan komoditi (pulsa) tersebut menjadi kebutuhan. Ternyata sukses dengan cepat. Pulsa menawarkan material dan ketergantungan di kemudian hari, tapi tidak demikian dengan membaca dan menulis yang umurnya lebih tua. Apa sebabnya? Karena pulsa memberikan kekayaan pada segelintir orang, sedangkan membaca dan menulis hanya akan melahirkan manusia merdeka yang bebas dari ketergantungan (sebagai lawan kapitalisme). Maka tidak kaget ketika kita mendapati betapa siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum lebih suka membeli pulsa ketimbang membeli buku.

Membaca dan menulis pada mulanya tidak dikondisikan dalam sebuah ruang kebutuhan. Ia yang 'seolah mewah dan eksklusif' bermula dari nihilnya pemenuhan kebutuhan anak akan buku, pembiasaan anak terhadap keberaksaraan. Sebagai bandingan, akan berbeda halnya dengan tradisi Belanda ketika menjajah Indonesia, mereka sadar akan 'masa depan melek-aksara'itu.

Pada saat itu di Belanda tumbuh kesadaran mengenai sejarah nasional yang juga tercermin dalam buku-buku bacaan anak Hindia (Indische kinderboeken). Menengok sejarahnya, buku-buku yang diperuntukkan bagi anak Hindia dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu buku yang berisi keperluan pengenalan anak-anak Belanda mengenai negara jajahannya dan buku bagi keperluan anak-anak Belanda dan Indo yang tinggal di Hindia Belanda. Sebagai cikal bakal buku anak-anak di Indonesia tentu saja buku-buku yang kedua.

Buku tersebut walaupun ditulis bagi keperluan anak-anak Belanda dan Indo tetapi tidak menutup kemungkinan dibaca juga oleh anak-anak pribumi yang saat itu memperoleh kesempatan memasuki sekolah anak-anak Eropa. Buku yang berjudul Oost-Indische Bloempjes; Gedichtjesvoor de Nederlandsch-Indische Jeugd (Bunga-bunga Kecil Hindia Timur; Syair-syair untuk Remaja Hindia Belanda) yang ditulis Johannes van Soest pada tahun 1846 merupakan buku pertama bagi anak-anak Belanda dan Indo yang tinggal di Hindia Belanda. Buku kedua berjudul De Lotgevallen van Djahidin (Pengalaman Djahidin) ditulis J.A Uilkens pada tahun 1873, bercerita mengenai petualangan anak laki-laki Sunda di pulau Jawa, Singapura, Jepang, dan Papua Nugini. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Jawa, Melayu, dan Sunda.

Buku ketiga berjudul Indisch Kinderleven (Kehidupan Anak-anak Hindia) ditulis Nittel de Wolf van Westerrode pada tahun 1920. Buku inilah yang kemudian mengilhami diadakan lomba mengarang bacaan anak-anak oleh Balai Pustaka. (Bunanta, 1998:37-38). Sastra anak di Indonesia selama ini dianggap 'bawang kosong' semata, sebagai 'bagian kecil' dari sastra Indonesia. Ia seolah 'sastra dewasa yang dianggap kecil', sastra anak sebagai anak sastra. Sementara, sastra Indonesia yang kentara angker menjadikan dirinya eksklusif dan makin menjauh dari ruang kebutuhan.

Demikian pula sastra anak, yang seharusnya berada dalam keberterimaan, ia tidak diajarkan sesuai dengan perkembangan anak yang semestinya dulce et utile (Horatius), yaitu yang menyenangkan dan memberikan pencerahan. Artinya, sastra bagi anak sebenarnya adalah batu loncatan agar mereka terbiasa membaca sehingga ia tidak gagap ketika membaca buku-buku lain di luar buku sastra, tidak kaget dan gumun ketika mendapati dunia begitu gegap. Maka dalam kondisi menyenangkan dan tercerahkan, anak akan tumbuh menjadi manusia merdeka yang memungkinkan adanya proses tumbuhnya kekuatan dan integrasi, penguasaan terhadap alam, akal budi, dan tumbuhnya solidaritas terhadap orang lain (Fromm). Jadi wajar jikalau seorang guru SD bertanya tentang bagaimana sebenarnya pengajaran sastra kepada anak sebab selama ini pendidikan kita berada dalam kegagalan.

Pendidikan sudah seharusnya merupakan proses yang fungsional, bukan suatu kegiatan teknis mengajarkan kebahasaan, pesan-pesan mekanis, apalagi muatan kepentingan. Nah, artinya dalam kondisi 'angker' tersebut hak-hak anak terampas oleh kepongahan orangtua sehingga mereka mengalami 'takut aksara', tidak bisa menemukan dirinya, sehingga tidak paham bagaimana menuliskan sejarahnya.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 18 Februari 2012

Friday, February 17, 2012

Tak Selalu RSBI Lebih Unggul dari Sekolah Reguler

-- Ester Lince Napitupulu & Marcus Suprihadi

JAKARTA, KOMPAS.com — Alasan pemerintah terus mempertahankan rintisan sekolah bertaraf internasional karena mutu pendidikan Indonesia bakal berdaya saing internasional perlu dipertanyakan. Pasalnya, evaluasi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru menunjukkan bahwa tak selalu sekolah RSBI unggul dari sekolah reguler.

Bahkan, dalam beberapa skor penilaian, termasuk Bahasa Inggris yang seharusnya menjadi keunggulan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), siswa dan guru di sekolah reguler lebih unggul.

Ini terlihat di jenjang SMP di mana skor Bahasa Inggris siswa RSBI 7,05, sedangkan siswa reguler 8,18. Guru Bahasa Inggris di SMP juga punya skor yang lebih tinggi, yaitu 6,2, dibandingkan dengan guru RSBI yang 5,1. Ini juga terjadi pada guru Bahasa Inggris di jenjang SMA.

Selisih skor nilai-nilai antara siswa RSBI dan reguler umumnya di bawah 1 dari skor 0-9. Hal ini terjadi karena, dari kajian, guru-guru sekolah reguler justru mempunyai skor yang lebih baik dari guru di RSBI.

Ambil contoh, guru SMA reguler ternyata lebih unggul dalam skor di mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Bahasa Inggris. Di Matematika hampir sama. Kemampuan pedagogi guru juga tidak jauh berbeda.

Bahkan, di SD, skor pedagogi guru sekolah reguler lebih unggul. Di jenjang SMP juga berbeda kecil, kecuali di SMA yang perbedaannya lebih dari 1 poin.

S Hamid Hasan, ahli evaluasi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (17/2/2012), mengatakan, tidak berarti bahwa kemampuan RSBI lebih baik dari sekolah reguler yang unggul. "Asal sekolah diberi fasilitas yang baik, guru yang kompetensinya bagus, tanpa embel-embel RSBI pun sekolah tetap bisa menunjukkan kualitas. Untuk apa pemerintah menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pendidikan lewat RSBI," tutur Hamid.

Retno Lisyarti, guru SMA RSBI di Jakarta, mengatakan, pemerintah tidak mampu membangun kapasistas guru yang dibutuhkan untuk sekolah bermutu. Dana dari masyarakat dan pemerintah yang mengucur ke sekolah RSBI lebih untuk peningkatan sarana, kegiatan, honor guru, dan membayar pengajar asing yang digaji lebih mahal.

Menurut Retno, di sekolah RSBI ada guru asing yang ditetapkan harus dari kawasan Eropa atau Australia. Bayarannya lebih mahal dibandingkan dengan guru Indonesia. Untuk kelas internasional yang bayarannya Rp 31 juta per tahun, kata Retno, siswa mendapat pengajaran ekstra dari beberapa guru asing. Utamanya saat siswa hendak menghadapi ujian internasional Cambridge atau IB.

"Kebijakan RSBI pun menciptakan ketidakadilan bukan hanya kepada masyarakat. Guru dalam negeri saja dipandang lebih rendah daripada guru asing," kata Retno.

Sumber: Edukasi, Kompas.com, Jumat, 17 Februari 2012

Thursday, February 16, 2012

Nuh: Apa Salahnya RSBI?

SEMARANG, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh menilai, kekurangan yang masih terjadi pada pelaksanaan program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, menurutnya, yang harus dilakukan adalah pembenahan, bukan menghilangkannya.

"Opo salahe (Apa salahnya) RSBI? Apa salah kita punya cita-cita memiliki sekolah bertaraf internasional (SBI)? Kalau perguruan tinggi ada visi world class, sekolah juga harus ada SBI," katanya di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/2) malam.

Opo salahe RSBI? Apa salah kita punya cita-cita memiliki sekolah bertaraf internasional? Kalau perguruan tinggi ada visi world class, sekolah juga harus ada SBI
- M Nuh

Menurut Nuh, sebagai rintisan SBI yang baru berjalan selama 5-6 tahun, wajar RSBI masih memiliki beberapa kekurangan.

"Ibaratnya seperti ini, mau pergi dari Semarang ke Surabaya, di tengah jalan ban bocor. Apa harus kembali ke Semarang lagi? Ya tidak akan sampai-sampai ke tujuan. Solusinya ya bannya harus ditambal agar bisa melanjutkan perjalanan," katanya.

Ia mengakui, beberapa keluhan yang disampaikan terkait RSBI. Keluhan-keluhan yang dilontarkan di antaranya, eksklusifitas yang dinilai hanya untuk anak orang kaya. Padahal, seharusnya sekolah bersikap inklusif terbuka untuk seluruh kalangan, baik mampu mau pun tidak mampu.

"Kalau itu keluhannya ya dibenahi. RSBI harus memberi kesempatan anak dari keluarga tidak mampu bersekolah. Sekolah boleh eksklusif secara akademik, namun eksklusif secara sosial tidak boleh," ujar Nuh.

Keluhan lain terkait RSBI, kata dia, berkaitan dengan mutu dan kompetensi guru yang akan diupayakan penyelesaiannya dengan studi lanjut ke strata 2 (S-2) dan S-3 bagi guru untuk menyiapkan diri mencapai SBI.

Hingga saat ini, Nuh mengakui, masih banyak guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan S-2, mengingat proses studi lanjut memerlukan waktu lama. Akan tetapi, ia berharap, masalah studi lanjut ini selesai dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Ketika ditanya tentang adanya judicial review terhadap UU Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi dasar munculnya RSBI, ia mengatakan, pengajuan gugatan atas perundang-undangan ke Mahkamah Konstitusi merupakan hak setiap orang.

"Tidak ada masalah, yang jelas tujuan akhir untuk mewujudkan adanya SBI tidak dihilangkan. Goal yang harus dicapai, kalau ada keluhan-keluhan ya harus dibenahi, bukan malah dihilangkan tujuan akhirnya," kata Nuh. (ANT)

Sumber: Oase, Kompas, Kamis, 16 Februari 2012

Model RSBI Perlu Dirumuskan Ulang

JAKARTA, KOMPAS - Keberadaan sekolah bermutu menjadi komitmen banyak pihak. Namun, rintisan sekolah berstandar internasional atau RSBI yang diklaim sebagai model sekolah bermutu harus dikaji dan dirumuskan ulang karena memiliki banyak kelemahan.

Selain menimbulkan diskriminasi karena biaya masuknya sangat mahal, status internasional pun diartikan dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Pemerintah menjalankan RSBI berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, tetapi tak ada landasan akademiknya.

”Harus ada kemauan untuk merumuskan ulang sekolah bermutu yang menggunakan standar nilai-nilai bangsa Indonesia,” kata Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma di Jakarta, Rabu (15/2).

Ia menanggapi pernyataan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suyanto yang menegaskan akan tetap mempertahankan RSBI.

Menurut Satria, sekolah bermutu yang dituju harus mengejar esensi. ”Jangan kosmetiknya yang dikejar, seperti menggunakan bahasa Inggris, ISO, dan kurikulum Cambridge,” kata Satria.

Uji materi ke MK

Jumono, Sekretaris Jenderal Aliansi Orangtua Murid Peduli Pendidikan Indonesia (APPI), dan satu pemohon uji materi RSBI ke Mahkamah Konstitusi mengatakan, lahirnya sekolah- sekolah RSBI menimbulkan diskriminasi di masyarakat.

”Secara psikologis, sangat berat siswa dari keluarga miskin mendaftar ke RSBI. Pada awalnya memang bebas biaya pendaftaran untuk kuota 20 persen siswa miskin. Tetapi, selanjutnya akan sangat berat karena biaya kegiatan sebagian besar dibebankan kepada orangtua siswa,” kata Jumono. ”Kuota 20 persen untuk siswa miskin hanya upaya perbaikan citra,” ujarnya.

Pemerintah, kata Jumono, mestinya menciptakan sistem yang mendorong semua sekolah terpacu meningkatkan kualitasnya. Semua siswa berprestasi bisa masuk ke sekolah bermutu tanpa dibebani biaya pendidikan yang tinggi.

Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan, yang mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi soal RSBI, menilai RSBI melanggar konstitusi karena bertentangan dengan semangat dan kewajiban negara mencerdaskan kehidupan bangsa.

”RSBI mencerminkan liberalisasi pendidikan, serta berpotensi menghilangkan jati diri bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia,” kata Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Sulistiyo.

Anggota Komisi X, Raihan Iskandar, mengatakan, DPR berinisiatif untuk merevisi Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (ELN)

Sumber: Kompas, Kamis, 16 Februari 2012

Pemerintah Istimewakan RSBI

-- Ester Lince Napitupulu & Nasru Alam Aziz

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kebijakan pemerintah menyelenggarakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang justru berkembang ekslusif bagi kalangan berduit dinilai melanggar hak anak-anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Pemerintah justru menciptakan kastanisasi pendidikan dengan mengagung-agungkan tambahan kurikulum negara lain yang dinilai lebih unggul daripada sekolah standar nasional.

"Dukungan dan pengistimewaan pemerintah terhadap RSBI menunjukkan pemerintah ingin melepaskan tanggung jawab menyediakan pendidikan bermutu pada rakyat. Pendidikan bermutu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang semestinya bagi semua justru diserahkan kepada pasar yang hanya dapat dinikmati segelintir kelompok," tutur Andi Muttaqien dari Tim Advokasi Anti Komersialisasi Pendidikan, usia sidang pendahuluan di Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta, Kamis (16/2/2012).

Sidang dipimpin Anwar Usman didampingi Achmad Sodiki dan Harjono. MK menerima perbaikan permohonan pengujian materil tentang RSBI atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dinilai bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Dasar 1945. Permohonan uji materi diajukan Tim Advokasi Anti Komersialisasi Pendidikan terhadap pasal 50 ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi landasan pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan RSBI/SBI.

Pasal 50 ayat (3) UU Sisdiknas menyebutkan, Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

Menurut Andi, pihaknya juga melampirkan bukti temuan dari Forum Indonesia untuk Transparasi Anggaran (Fitra) bahwa pemerintah mengalokasikan dana yang lebih besar untuk sekolah RSBI dibandingkan sekolah standar nasional (SSN). Pada anggaran tahun 2011 alokasi dana RSBI/SBI mencapai Rp 289 miliar, sementara untuk SSN atau umum yang jumlahnya lebih banyak hanya Rp 250 miliar.

Sumber: Edukasi, Kompas.com, Kamis, 16 Februari 2012

Wednesday, February 15, 2012

Indonesia Miskin Bacaan Berbudaya

-- Jodhi Yudono

JAKARTA, KOMPAS.com — Pakar pendidikan Prof Dr Arief Rachman MPd menilai bahwa negara kita kekurangan bahan bacaan anak-anak yang bertemakan budaya.

"Kita ini miskin bacaan kultural, kebanyakan bacaan anak-anak sekarang ini bersifat teknologi dan dunia global," kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut dalam acara peluncuran serial buku bergambar untuk anak-anak berbahasa Inggris The Tale of Didgit Cobbleheart di Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Arief mengatakan, kurangnya bahan bacaan yang bisa memberi informasi mengenai akar kebudayaan bangsa dapat menyebabkan krisis kebudayaan.

"Dalam kebudayaan bangsa kita terdapat nilai-nilai kearifan tersendiri yang seharusnya bisa menjadi penyeimbang dan penyaring budaya global," kata dia.

Bacaan yang mengandung nilai-nilai kultural akan melekat dalam karakter anak-anak sampai nanti mereka dewasa. "Karakter adalah nilai-nilai baik yang dalam keadaan terdesak pun masih bisa bertahan, bayangkan kalau anak-anak zaman sekarang tidak pernah mengenal kebaikan," kata dia.

Meski begitu, Arief tidak menganjurkan sikap antipati karena bagaimanapun, menurut dia, dunia sudah berubah menjadi lebih global.

"Selain bacaan yang mengangkat budaya bangsa, pendidikan lintas budaya juga penting agar anak-anak mengenal perbedaan dan bisa mengatasi itu dengan baik. Tuhan tidak pernah membuat kita sama, jadi jangan antipati terhadap budaya luar," kata dia.
(ANT)


Sumber: Oase, Kompas.com, Rabu, 15 Februari 2012

UU Kebudayaan Penting untuk Menyatukan Keberagaman

-- Jodhi Yudono

DEPOK, KOMPAS.com — Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Bambang Wibawarta mengatakan, undang-undang kebudayaan sangat penting untuk melindungi keragaman budaya yang ada di Tanah Air.

"UU kebudayaan bukan untuk menyamakan budaya yang ada, tetapi untuk saling memahami satu dengan yang lainnya," kata Bambang di sela-sela acara Festival Kebudayaan Rusia di Kampus UI Depok, Rabu.

Menurut dia, dalam era globalisasi saat ini sangat diperlukan mindset atau pola pikir yang berbeda dengan sebelumnya sehingga kebudayaan Indonesia tidak akan hilang dengan adanya globalisasi. "Globalisasi merupakan keniscayaan dan kita harus siap menghadapinya," ujarnya.

Untuk itu, dia mengharapkan RUU Kebudayaan yang masih di DPR untuk segera dibahas dan disahkan menjadi undang-undang. "Ini penting melindungi budaya di Tanah Air," katanya.

Ia mengatakan, saat ini ada sekitar 32 artefak Indonesia dari berbagai daerah berada di luar negeri. Artefak ini mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi jadi seharusnya dilindungi dan dimiliki daerah.

Kebudayaan, kata dia, banyak mempunyai kearifan lokal yang dapat menjadi kearifan nasional.

Dia mengatakan bahwa kebudayaan bukan sekadar kesenian dan tari-tarian, melainkan memiliki makna yang lebih jauh yang dapat mengubah pola pikir seseorang.

"Kebudayaan mempunyai ’soft power’ tanpa disadari dapat memengaruhi masyarakat," katanya.

Dikatakannya, inventarisasi budaya itu penting karena selama ini banyak kebudayaan di Indonesia yang sebenarnya ada, tetapi hilang seiring perjalanan waktu. Hal tersebut perlu diantisipasi agar tidak meluas. "Kebudayaan yang beragam di Indonesia merupakan aset bangsa dan negara," katanya.

Ia berharap UU kebudayaan dapat menjadi kekuatan bagi negara untuk melindungi kebudayaan agar tidak diklaim oleh negara lain.

Bambang juga mengatakan, perlu dilakukan inventarisasi atau pencatatan kebudayaan di Indonesia dalam sebuah basis data agar budaya-budaya di Tanah Air dapat diketahui.

Bambang menjelaskan, banyak kebudayaan yang ditinggalkan, seperti budaya musyawarah untuk mencapai mufakat. Yang terjadi saat ini adalah selalu menggunakan voting untuk mengambil suatu keputusan. (ANT)

Sumber: Oase, Kompas.com, Rabu, 15 Februari 2012

Jangan Jual Murah Kesenian Tradisional

-- Jodhi Yudono


BONDOWOSO, KOMPAS.com — Seorang seniman lawak mengingatkan koleganya agar berupaya meningkatkan martabatnya sendiri dengan cara tidak menjual murah kesenian tradisional yang mereka geluti.

"Saya pernah menjadi seniman sekelas pemain ludruk yang main semalam suntuk hanya dibayar Rp 100.000. Namun, ketika saya naikkan kelas saya, ternyata saya tidak kehabisan pasar," ujar seniman lawak Satriyo Subekti di Bondowoso, Selasa (14/2/2012).

Lelaki yang di atas panggung biasa menggunakan nama Burawi itu mengemukakan bahwa dirinya bisa dibayar Rp 500.000 hingga Rp1 juta dalam satu kali pentas.

"Kuncinya adalah bagaimana kita sebagai seniman memperbaiki kualitas tampilan alias tidak asal-asalan. Kalau asal-asalan, misalnya lawakannya itu-itu saja, orang akan membayar kita asal-asalan juga," ujar pelawak yang sehari-hari dipanggil Yoyok ini.

Menurut dia, dengan menaikkan harga bukan berarti seniman itu "jual mahal" dalam pengertian negatif, melainkan untuk keberlangsungan kesenian tradisional itu sendiri.

"Kalau terus-menerus dibayar seadanya, lama-lama kesenian tradisional akan ditinggalkan oleh pemainnya karena kebutuhan ekonomi tidak tercukupi lewat kesenian. Namun, kalau kesenian itu bisa menghidupi pelakunya, maka kesenian tradisional akan lestari," katanya.

Ia mengemukakan bahwa arena pentas pelaku kesenian tradisional tidak terbatas pada panggung-panggung biasa, seperti acara pernikahan, tetapi juga bisa di acara-acara lain.

"Misalnya ada reuni kelompok masyarakat atau acara sahur bersama. Ini memang memerlukan jiwa entrepreneur dari pelaku kesenian. Tantangan pelaku kesenian tradisional saat ini memang lebih besar dibanding zaman dulu," tuturnya.

Yoyok mengemukakan bahwa di Bondowoso sangat banyak kesenian tradisional yang masih lestari dan ketika dibawa ke ajang nasional, seperti di TMII Jakarta, ternyata mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat dan seniman besar.

"Saya pernah bawa kesenian kentrung dan ’pojhian’ (pujian) dari Bondowoso ke TMII dan ternyata sambutannya luar biasa. Mereka yang peduli seni tradisi sangat kagum karena kesenian daerah seperti ini masih hidup. Karena itu, seniman tradisional jangan berkecil hati," katanya.

Khusus pelaku-pelaku kesenian modern, seperti penyanyi, Yoyok menyarankan agar memiliki manajer yang mengatur sekaligus mencari pasar.

"Dengan memiliki manajer, masyarakat tidak akan seenaknya membayar penyanyi. Karena ini kota kecil, mungkin lima penyanyi ditangani satu manajer, bukan satu orang satu manajer," katanya.

Ia berharap semua kesenian tradisional yang dimiliki kabupaten penghasil penganan tapai ini tetap lestari meskipun diakui sudah ada beberapa yang punah. (ANT)

Sumber: Oase, Kompas.com, Rabu, 15 Februari 2012

Sunday, February 12, 2012

Matajaman cs Sakaratol Cinta

-- Tandi Skober

DALAM ruang awang-uwung, linglang linglung di titik terjauh peradaban yang redup maka yang tersisa adalah realitas ketuhanan dan selarik puisi layang kalimasada. Selarik puisi itu adalah ageman sekaligus jimat milik Prabu Yudhistira usai amarah Bratayudha mematikan sedulur papat kelima pancer. Yudhistira ditemani seekor anjing—beberapa mitos meyebutkan juga ditemani Sabda Palon dan Nayagenggong— meninting roh, mendaki perbukitan ketuhanan di Gunung Tengger. Gunung yang kerap ditabalkan sebagai tetenger pertanda sebuah peradaban alih warna.

Konon, dalam heneng hening dan eling Yudhistira selalu saja gagal memaknai kandungan puisi Layang Kalimasada itu. Hingga ketika pelangi melengkung jauh ke lipatan ombak laut pesisir utara Jawa, ada sosok darwis berbaju gamis ajarkan makna yang terkandung dalam surah layang kalimasada itu. Puisi itu adalah dua kalimat syahadat. Yudhistira sumringah. Selembar surga menjadi perahu langit, roh Yudhistira kembali ke pangkuan Ilahi.

Era abad ke-13 hingga 17, ditengarai jiwa manusia Jawa sedang bertawaf pada pusaran peradaban sinkretisme tanpa jenis kelamin. Jimat layang kalimasada itu ditakwil para pengembara ibad ar rahman—kerap juga disebut darwis atau fakir dari Turki, Yaman, Syria, Iran, dan India—bahwa hakikat berketuhanan ialah pada saat duduk tasyahdu salat yang diarahkan ke kiblat. Saat itu ada konsistensi riligi terhadap keesaan Allah swt. dan pengakuan Muhammad saw. sebagai rasul.

Puisi Layang Kalimahsada itu berputar-putar di ruang nalar saya, saat saya menghadiri Perang Puisi: Sakarotul Cinta vs Matajaman di Rumah Dunia Gol A Gong, Banten, Sabtu, 21 Januari 2012. Pembicara yang hadir, yakni Toto S.T. Radik dan dosen Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung, Bambang Q Anees dengan moderator Rahmat Heldi. Dimulai sejak pukul 20.30 sampai 23.00. Sakarotul Cinta karya Matdon berhadapan dengan antologi puisi Matajaman karya Budhi Setyawan, Jumari H.S., dan Sosiawan Leak.

Saat penyair kelahiran Solo Sosiawan Leak alirliarkan sajak-sajak kesaksian sejarah 2004-2009, yang menyelinap di lipatan nalarku adalah fatwa mata tajam ketika jaman terperangkap sakaratol cinta. Luar biasa, luar dalam! Leak mendaur ulang sastra sufistik kuno dalam kemasan yang aduhai. Ia terperangkap realitas yang diciptakan ruang waktu kekinian dan membenturkan dirinya dalam ruang mangmung yang murung. Perih keprihatinan berputar-putar di bawah cahaya cinta yang kehilangan jejak. Ia menakwil imajinasi dengan cerdas dan memosisikannya sebagai realitas itu sendiri. "Di negeri tahi, para tahi berjubel tanpa peduli," ungkap Leak, "Mereka lahir dari lubang yang mana, entah dari pantat raja, perdana menteri, pengusaha, buruh, atau tunawisma dan psk, tak ragu bertemu dan bercengkrama dengan tahi dari dubur seniman dan mahasiswa."

Hmm, saya tepuk tangan dua kali! Dua-duanya untuk Albert Einstein yang memosisikan harta paling steril yang dimiliki manusia adalah imajinasi. Dan itu hanya dimiliki para penyair. Kenapa?, "Logic will get you A to B, imagination will take you everything."

Tak aneh, manakala penyair Budhi Setyawan tidak hanya menjadi sesuatu juga diam-diam membiarkan imajinasi berhembus bagai angin, memasuki ruang-ruang sunyi dan Toto S.T. Radik menengarai ia terkunci di dalam. Dalam gelap, "Ke mana mesti kutawarkan kalut, kepada siapa bisa kuberikan pengap, di mana mesti kulepaskan hampa," ungkap Budhi dalam Di Matahari Kutemukan Gelap.

Hmm, kali ini saya tidak tepuk tangan. Tapi saya menangis. Kenapa? Budhi telah alirkan air mata dari mata air sejarah lama ketika sastra tarekat terikat idiom-idiom lokal yang jenius. Wajah istikamah sang penyair yang merangkap menjadi pegawai Kementerian Keuangan RI ini merenda luka kultural bersifat holistik dan tidak final! Persis sama ketika para Wali Sembilan memompakan akidah di ruang sinkretisme yang tak berbentuk. Ini ndak salah lo Mas Budhi Setyawan, sebab "form in poetry is itself a trope," tulis Harold Bloom, "A figurative substitution of the as-it-were outside of a poem for what the poem is supposed to represent or be."

Bila Leak dan Budhi bertawaf pada ruang kalbu sastrawi kejawen maka Rois 'Am Majelis Sastra Bandung K.H. Matdon sudah pun memasuki tahapan sastra ukhrawi yang memukau. Ia mengukir humanisme kinasih dalam teks-teks cinta yang teduh. Tak aneh manakala Bambang Q Anees terkesima, "Matdon lari dari realitas dengan mengarahkan kesadarannya dan kemarahannya pada perempuan. Matdon seperti mengajak untuk melarikan diri dari situasi ini kepada cinta. Tidak semua orang sanggup mencatatkan kemarahannya. Namun, seorang penyair mampu mencatatkannya dengan indah."

Itulah K.H. Matdon! Inilah yang membuat saya kerap bermimpi entah kapan bisa diterima sebagai santri sastrawi di Majelis Sastra Bandung. Jujur, K.H. Matdon mengingatkan saya pada sebuah zaman era 1970-an dan awal 1980-an. Era itu sastra ukhrawi sufistik bertebaran. Era itu risau penyair menggiring kita pada keteduhan surau. Karya sastra menjadi kenderaan dunia untuk meraih rida Allah. Kita bisa catat Malam Rumi (1982), Malam Hamzah Fansuri (1984), Malam Iqbal (1987) yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Kini, langkah K.H. Matdon bertasbih ke arah itu. Simak, sajak-sajak K.H. Matdon merupakan proses cendekia yang cerdas. "Adalah langkah nalar di belantara kemajemukan hasrat masyarakat, sekaligus—mengutip Edward T. Hall, Beyond Culture, 1977—sejenis pergulatan “kultur tersembunyi” yang sukar ditangkap oleh orang lain, tapi mampu ternikmati hingga titik teks terakhir."

Kultur tersembunyi inilah kekuatan Matdon! Ini pula yang membuat saya berdiri dan tepuk tangan berkali-kali saat K.H. Matdon membacakan puisi sambil makan durian. Sajak-sajak Matdon memiliki substansi revitalisasi estetika yang berbasis pada imajinasi cendekia. Tak pelak, Matdon layak terposisikan sebagai pilar pemberdayaan sekaligus abstraksi kontesia pemikiran yang memiliki validitas tinggi.

Adakah ini eskapisme kepenyairan Matdon? Saya jadi ingat tuturan Abdul Hadi W.M. di sebuah koran, "Dunia tempat kita menjalani hidup ini adalah rumah bagi kita, sekaligus kuburan. Masalahnya, bagaimana kita memberikan makna, tujuan, dan dimensi spiritual terhadap hidup kita sebelum akhirnya menyongsong kematian."

Malam itu, Ahad 21 Januari 2012, semut di musala Gol A. Gong, saya pijit usai salat isya. Selembar surga menjadi perahu langit membawa roh semut. Hmm, saya tertinggal di altar Sakaratol Cinta. Di sudut musala, saya baca sajak ukhrawi K.H. Matdon, "Assalamualikum, wainna insya Allah bikum lahikuun. Sedang apa kalian di ujung nisan? Di sini aku lelah mencari Indonesia."

Tandi Skober, pengarang

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Februari 2012

[Buku] Tulisan Acep pada Tembok

Judul : Tulisan pada Tembok

Penulis : Acep Zamzam Noor

Penerbit: Komodo Books

Tahun : Oktober 2011

SEIRING bergulirnya waktu, bagi penyair bukan tidak mungkin, ia mengalami perubahan selera dalam menciptakan puisi. Ia seakan-akan melihat puisi—ciptaannya itu, sesuatu yang menggemaskan untuk diperlakukan kembali sebagai "anak hilang" yang telah pulang. Tulisan pada Tembok misalnya, buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Acep Zamzam Noor di rentang tahun 1979-1989. Sebagai penyair, Acep telah mengalami situasi di mana ia kedatangan kembali "anak hilang" yang sudah lama dilepaskannya.

Ada hal yang menarik bila kita mau mangamati apa yang menghampar di buku Tulisan pada Tembok. Hal itu menjadi terasa menonjol karena penyair sendiri seakan telah mengisyaratkan, di halaman pengantar, bahwa puisi yang akan dihadapi di antara lembar-lembar bukunya telah mengalami perubahan-perubahan. Mari sedikit kita cermati, perubahan-perubahan apa saja yang ada.

Perubahan judul, misalnya pada puisi Tamparlah Mukaku halaman 26, yang oleh penulis bandingkan dengan puisi yang terdapat pada buku Tamparlah Mukaku! (1982). Puisi itu awalnya berjudul Aku MencintaiMu, Kekasih Tamparlah Mukaku! halaman 14. Bagi Acep, frasa pada judul sebelumnya adalah bentuk konfrontasi, yang dengan sengaja membawa pembaca untuk menelan puisi pada dua sikap yang satu sama lain berbeda, yakni hubungan subjek pemberi dan objek yang diberi. Subjek pemberi meletakkan diri sebagai hamba yang senantiasa lemah, mahluk ciptaan dan hakikatnya wajib mencintai, objek kedua merupakan makhluk agung, perkasa dengan segala kekuasaanya. Namun akhirnya, Acep memutuskan lebih percaya efisiensi kata, cukup hanya Tamparlah Mukaku saja, bahkan tanda seru dihilangkan. Ini merupakan pertimbangan terhadap pengolahan kata yang mulai diimami penyair.

Bahkan dalam perlakuannya, di bait-bait puisi tersebut penyair sudah tidak dibebani lagi dengan penggunaan huruf kapital dalam menunjukkan identitas Tuhan. Larik dalam bait kedua puisi tersebut penulis dapati yang asalnya jangan pergi, jangan perjelas sepi/berubah menjadi jangan pergi, jangan pertegas sepi/. Kemudian hilangnya frasa aku bego dan hadirnya kata kekasih, perubahan dari lariktunjukan padaku sebuah tempat/di mana seharusnya aku mesti Kaududukan/menjadi Tunjukan padaku sebuat rambu/ Ke mana seharusnya aku mesti menuju/. kemudian perubahan, lemparkan aku ke sebuah tempat/ di mana seharusnya aku mesti berbaring/ menjadi Ingatkan aku bahwa ada sebuah ruang/ Di mana kelak mesti berkubang/.

Penulis sendiri merasakan adanya keinginan mempertahankan pengolahan bahasa sebagai bagian dari keketatkan penyair untuk menjadikan puisinya lebih memiliki irama dan kejernihan ungkapan. Frasa perjelas sepi memerlukan daya rasa dalam memahami, tetapi frasa pertegas sepi tidak hanya memiliki daya rasa tapi juga mengena dalam logika bahasa. Juga sama halnya terjadi pada frasa aku bego dan kata kekasih yang asalnya menghuni ujung larik terlalu banyak jalan bersimpangan di sini//aku bego. Tamparlah mukaku/menjadi Terlalu banyak jalan bersimpangan di sini//Tamparlah mukaku, kekasih/. Kehadiran penambahan kata merupakan bagian bentuk dari keniscayaan penyair untuk menjaga konsistensi suasana dalam sajak tersebut, karena kata kekasih merupakan bagian penting untuk menunjukan siapa objek dan penghilang frasa aku bego adalah hasil pertimbangan yang cermat akan efisiensi seperti yang sudah disinggung tadi. Juga kata kekasih ini kerap sekali ditambahkan Acep pada puisi-puisi lainnya, sebagai dorongan pentingnya memperjelas objek rupanya.

Pada puisi Malam Ini Ingin Kutulis Sajak juga penulis dapatkan perubahan, awalnya penyair memberi judul Malam Ini Ingin Kubangun Sajak. Kata kubangun cukup mendesak kita bila harus disandingkan dengan kata sajak, sehingga Acep kembali mempertimbangkan. Lariknya mengalami perombakan yang bila dicermati, pada dasarnya, Acep menggunakan kemampuan menyusun kembali ke suasana teratur dan rapi dalam meletakan kata-kata. Adanya penggantian padanan, perubahan citraan bahkan penambahan yang terkesan “menambal” atas lubang di masa awal penciptaannya.

Tetapi tidak semua puisi mengalami perubahan, pada puisi-puisi dari buku Jalan Menuju Rumahmu, misalkan puisi Manila Bay, Senja ; In Memoriam Kriapur dan Romantic Agony juga lainnya lagi sama sekali tidak “disentuh”. Acep sepertinya sudah memercayainya sebagai kodrat kelahirannya, satu sisi tidak mau ia ganggu-gugat, hingga puisi-puisi tersebut tidak mengalami perubahan.

Sebenarnya masih ada perubahan-perubahan yang bisa didapati dalam puisi di buku Tulisan pada Tembok yang bisa jadi merupakan bagian dari hasil jurus-jurus berpuisi sang penyair. Bahkan akan menjadi menarik bila kita bisa langsung mengecek dan mengamati buku ini baik dengan cara membandingkan dengan puisi-puisi Acep yang terdahulu atau menikmatinya utuh sebagai buku antologi tunggal—seperti umumnya. Sedangkan jika penulis harus berbicara dalam hal tema, puisi-puisi yang terhampar dalam lembar-lembar buku tersebut, dalam klaim kata pengantarnya, bahwa puisi tersebut mengusung tema religius, meskipun Acep sendiri percaya pada dasarnya semua puisi itu religius. Penulis juga mengamini hal tersebut, di samping itu kemudian mengetahui, lagi-lagi ketika Acep berpuisi–baik dalam bentuk teks maupun di luar teks, penulis rasa, Acep seorang yang gemar mempertanyakan persoalan kekekalan kenangan.

Kenangan yang banyak orang percayai bisa menjadi kekal, bila saja kenangan tersebut tidak dirusak dengan ingatan lain sebagai negasinya. Sebaliknya Acep mempertanyakan kembali, bagaimana kenangan bisa kekal bila harus ada ingatan lain yang dilupakan, hanya karena pertistiwa itu berlawanan. Sungguh Tulisan pada Tembok milik Acep, ketika dinikmati akan menjadi tulisan yang lain dalam hati dan pikiran pembaca. Tidak percaya? Buktikan saja! Selamat mencoba dan membaca.

Mugya Syahreza Santosa, penyair

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Februari 2012

Seniman dan Kenyataan di Depan Mata

-- Hang Kafrawi

PERISTIWA yang terhampar di alam ini merupakan ruh karya seni. Bukankah seniman "pembajak" yang handal menjadikan hamparan peristiwa "taman bunga" tempat pikiran manusia lainnya bermain? Di "taman bunga" itulah manusia diharapkan menafsirkan peristiwa yang terjadi dengan hati nurani, sehingga bermunculan "bunga kesadaran" untuk mengenal diri lebih dekat lagi. Inilah hakikat karya seni; dapat menjadi penyuluh bagi manusia.

Pada hari ini, seniman seakan kehilangan "ruh" untuk menukangi karya seni dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Maka bermunculanlah karya seni yang "menjauh" dari keadaan masyarakat. Dalam karya seni, seniman hanya bercerita tentang keluh-kesah pribadi; tersebab putus cinta (sebagai salah satu contoh). Karya seni bukan menjadi keluh kesah universal, tapi lebih banyak kegelisahan individu sang seniman. Karya seni tak menyentuh hati orang banyak, dia berjalan sendiri dengan "kelukaan" yang maha sunyi.

Mungkinkah peristiwa yang terjadi di negeri kita pada hari ini melebihi perasaan sensitif para seniman? Kita setiap hari disuguhi peristiwa yang mengiris hati nurani; seorang nenek mencuri kakau diganjar hukuman lima tahun penjara. Seorang anak mengambil sandal jepit "dipelasah" dengan hukum penjara. Penegak hukum dengan perkasanya menghabisi nyawa tahanan yang tergolong muda. Pihak keamanan yang tidak berpihak kepada rakyat dengan leluasa melepaskan tembakan ke rakyat kecil. Seorang ibu dituduh mencuri enam buah piring majikannya dan dihukum penjara selama 140 hari. Peristiwa perih ini, nyata adanya dan orang banyak tidak memerlukan tafsiran seperti menafsirkan karya seni.

Hati nurani manusia mendiami negeri ini senantiasa diusik dengan peristiwa-peristiwa perih yang terus menikam keibaan. Gelombang kelukaan semakin besar menghempas ke tebing hati, namun kita tetap berdiri dengan kesedihan yang datang sesaat saja. Semakin jauh peristiwa perih itu berlalu, semakin lupa kita dengan peristiwa itu. Kita pun dihadapkan dengan peristiwa nyata yang lain pula.

Sebagai seniman, yang katanya diberi perasaan lebih dibandingkan dengan manusia lainnya, seharusnya peristiwa nyata itu diabadikan dalam karya seni. Karya seni yang mampu terus menggoyang hati nurani manusia negeri ini untuk selalu ingat dengan peristiwa nyata itu. Dengan demikian, rasa kasih sayang sesama manusia negeri ini terus menyala, sehingga sedikit banyak karya seni dapat membakar perasaan manusia untuk mengenal akan dirinya. Punca dari segala peristiwa di muka bumi ini, berawal dari diri manusia itu sendiri. Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal 1, bait 4 mengatakan, "Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal Tuhan yang bahari."

Seniman melalui karya seninya, membawa kebenaran-kebenaran untuk kepentingan orang banyak. Karya seni tidak berpihak kepada siapapun, tetapi karya seni berpihak kepada kesadaran akan pentingnya kemaslahatan manusia. Dengan kesadaran bahwa manusia saling mengerti satu dengan lainnya, maka terciptalah keharmonisan, keseimbangan hidup manusia. Nilai keindahan dalam karya seni adalah ketika karya seni itu memiliki faedah atau manfaat bagi setiap manusia.

Dengan demikian, karya seni mengambil posisi sebagai penetral keadaan. Karya seni tidak berpihak pada kaum tertindas dan tidak juga menyebelah kepada yang menindas. Bagi kaum tertindas, karya seni menjadi pembangkit semangat untuk tetap berusaha lepas dari penindasan. Menyadarkan diri bahwa ketertindasan harus tetap dilawan; hidup adalah perjuangan yang tak pernah usai. Karya seni memberikan cahaya ke hati tertindas sementara bagi kaum penindas karya seni dapat dijadikan penunjuk jalan untuk tidak melakukan penindasan. Bukankah manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta sama di mata-Nya? Karya sastra membongkar kesadaran kebersamaan itu.

Maka, realitas yang terjadi di negeri ini, sepahit apapun, sepilu bagaimanapun, tetap menjadi sumber seniman untuk ikut andil menciptakan "kebahagiaan" bersama melalui karya seni. Seniman tidak harus lari dari kenyataan yang sedang melanda negeri ini. Seniman ikut bertanggung jawab mengubah keburukan menjadi kebaikan, bukan sebaliknya, seniman menambah "kekacuan" dengan menanam kebencian antar manusia yang mendiami negeri ini. Di tangan seniman diharapkan realitas yang melanda negeri ini menjadi pelajaran berharga bagi kelangsungan kehidupan.

Bukan zamannya seniman berlagak dengan karya yang hanya mempopulerkan dirinya sendiri; menjauhkan karya mereka dengan keadaan yang terjadi di negeri ini. Agar mereka (seniman) terlihat hebat, beramai-ramailah seniman mengokah realitas negeri asing menjadi sumber mereka. Para seniman pun membusungkan dada bahwa mereka pengusung globalisasi dengan menyerap kebudayaan asing. Mereka merasa tidak modern apabila gagasan datang dari kenyataan yang terjadi di negeri ini.

Inilah permasalahan yang dihadapi dunia seni di negeri ini. Selalu menganggap kehidupan nyata yang berhubungan dengan orang banyak tidak penting lagi dirangkai menjadi karya seni yang berkualitas. Padahal seniman selalu ditunggu untuk menghasilkan karya yang mampu "membaca" peristiwa yang terjadi dengan mengedepankan kejernihan. Dari kejernihan inilah, manusia meneguk kesegaran untuk berbuat lebih baik lagi. Kalaulah dapat diibaratkan, karya seni itu seperti baut penting di sebuah mesin, tanpa baut tersebut, mesin tidak bisa dihidupkan.

Mungkin saja disebabkan faktor globalisasi membuat seniman "membanting setir"; seniman harus menghasilkan karya seni yang instan dan berbau pop. Mereka tak mampu bertahan dari godaan kaum kapitalisme yang hanya mengedepankan keuntungan. Seniman juga dipaksa untuk menghasilkan karya seni hanya untuk hiburan, tanpa memikirkan makna yang lebih dalam. Karya seni diukur seberapa banyak orang senang dan berapa duit yang didapatkan dari karya seni itu. Masalah sosial dikesampingkan karena tidak menarik untuk dijual.

Bukan "mengharamkan" budaya populer, tetapi kemaslahatan orang ramai perlu dikedepankan. Apalah arti sebuah karya seni apabila hanya sesaat karya seni itu berarti. Seharusnya karya seni itu bertahan dari segala waktu, berbuah di sembarang musim, bermanfaat kapan saja. Inilah karya seni seharusnya.

Kembali pada peristiwa yang terjadi di negeri ini, memang terasa berat rasanya seniman mengokah realitas tersebut menjadi karya seni yang mampu melantas ke hati setiap orang. Namun demikian, bukan berarti seniman harus menyerah dan menyelewengkan hati nurani dengan membiarkan realitas itu terkapar tak berdaya.

Memang perlu kerja keras bagi seniman membungkus peristiwa pilu hari ini menjadi karya seni. Mari kita lawan godaan kapitalisme dengan mengajak mereka berpikir bahwa kesenian bukan hanya mementingkan hiburan, tapi lebih dari itu, kesenian menjadi kekuatan menjunjung kemanusiaan lebih tinggi lagi. Peristiwa yang terjadi di negeri ini, memang memilukan, kita perlu meresponnya dengan karya seni, sehingga perasaan halus setiap orang tersentuh untuk tidak berbuat semena-mena lagi. Maju terus untuk berkarya.

Hang Kafrawi, nama pena dari Muhammad Kafrawi seorang sastrawan Riau. Selain bergelut di dunia sastra, ia juga aktif membina teater di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Bermastautin di Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 12 Februari 2012

Memahami Sastra Islam

--Jumardi

SASTRA dalam Islam (Arab) disebut dengan adab. Dalam keseharian, kita bisa mengaitkannya dengan kesopanan, kesantunan, atau dengan istilah kelembutan kata. Sudah tentu untuk menilai sikap dan tingkah laku seseorang kita melihatnya dengan adab. Baik dengan melihat kesopanannya, kesantunannya, atau dengan kelembutan tutur katanya saat bicara. Namun defenisi adab di dalam sastra jauh lebih besar daripada itu.

Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan, yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran. Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik. Masyarakatlah yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi sastra Islam lebih mengarah pada pembentukan jiwa.

Definisi seni dan sastra Islam menurut Said Hawa dalam bukunya Al Islam, adalah seni/sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al Faruqi, seni Islam adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), di mana semua bentuk kesenian diakomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga menyatakan bahwa ekspresi dan ajaran Alquran merupakan bahan materi terpenting bagi ikonografi seni/sastra Islam. Dengan demikian seni Islam dapat dikatakan sebagai seni Qurani atau seni Rabbani.

Harun Daud berkata, “Tujuan kesusastraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan. Bukan untuk membentuk makna spekulatif. Sebuah karya sastra atau karya seni dalam Islam adalah alat atau bantuan dan bukannya pengakhiran realita itu sendiri.” Sementara menurut Shanon Ahmad bersastra dalam Islam haruslah bertonggakkan Islam, yaitu sama seperti beribadah untuk dan karena Allah.

Dalam Manifes Kebudayaan dan Kesenian Islam 13 Desember 1963 di Jakarta —yang dideklarasikan untuk merespon Lekra dan Manifes Kebudayaan 17 Agustus 1963— para seniman, budayawan muslim beserta para ulama yang dimotori Djamaludin Malik, menyatakan bahwa yang disebut dengan kebudayaan, kesenian (kesusastraan) Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan umat manusia.

Seni Islam adalah seni karena Allah untuk umat manusia yang dihasilkan oleh para seniman muslim bertolak dari ajaran wahyu Illahi dan fitrah insani.
Setelah kita memahami definisi maupun tujuan dari sastra Islam, ada hal yang perlu kita jawab yaitu apakah yang akan menciptakan karya sastra Islam harus orang Islam? Atau bisa saja orang non muslim berkarya yang karya sastra mereka berdasarkan adab Islam, lalu apakah sastra mereka dapat dikatakan sebagai sastra Islam?

Kita perlu memahami maksud dari definisi di atas, bahwa yang dikatakan sastra Islam adalah sebuah karya yang berlandaskan adab islami yang orang yang membuat karya sastra itupun harus orang Islam. Jadi jika orang non muslim berkarya dengan ciri karya sastra Islam bukanlah disebut sastra Islam. Sastra itu bisa disebut dengan sastra yang bersumberkan Islam.

Untuk memudahkan kita untuk memahami maksud sebenarnya dari sastra Islam. Berikut beberapa ciri sastra Islam. Yaitu: (1) Jika sebuah cerpen, puisi atau novel Islam, misalnya, tidak melalaikan pembaca atau penulisnya untuk mengingat Allah. (2) ketika membacanya akan diingatkan kepada ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. (3) Ada unsur amar maruf nahi munkar dengan tidak menggurui. (4) Penuh dengan ibrah dan hikmah. (5) Ia kerap bercerita tentang cinta; baik cinta kepada Allah, Rasulullah, kedua orangtua, perjuangan di jalan-Nya. Cinta pada kaum muslimin dan semua mahluk Allah: sesama manusia, hewan, tumbuhan, alam raya dan sebagainya.

Ciri lainnya, karya sastra Islam tidak akan pernah mendeskripsikan hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau betapa ‘indahnya’ kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apapun. Ia juga tak membawa kita pada tasyabbuh bi’l kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan.

Sastra Islam akan lahir dari mereka yang memiliki ruhiyah Islam yang kuat dan wawasan keislaman yang luas. Penilaian apakah karya tersebut dapat disebut sastra Islam atau tidak bukan dilihat pada karya semata, namun juga dari pribadi pengarang, proses pembuatannya hingga dampaknya pada masyarakat. Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan pada Allah dan umat. Sastra dalam kehidupan seorang muslim atau muslimah pengarang adalah bagian dari ibadah. Artinya tidak ada dari hasil karya mereka diniatkan selain untuk ibadah.

Sebuah karya tak bisa dikatakan sebagai sastra Islam hanya karena mengambil setting (latar belakang) pesantren, masjid, mengetengahkan tokoh ulama dan menampilkan ritual-ritual keagamaan atau unsur sufistik. Sastra Islam lebih dari sekadar slogan atau simbol. Sang pengarang, kehidupan, Islam dan karyanya menjelma satu kesatuan.

Para sastrawan Islam, berkarya tidak hanya sekadar berkarya, untuk menghasilkan sebuah kesenian yang indah, kata-kata yang mengagumkan. Tetapi mereka jauh lebih besar dari itu. Mereka berkarya atas dasar iman kepada Allah dengan tujuan dari karyanya itu dapat menjadikan dirinya dekat kepada Allah dan orang yang membaca karya-karyanya bisa ikut juga menjadi lebih baik.

Untuk mewujudkan itu semua tentunya sebelum berkarya haruslah memperbaiki pribadi terlebih dahulu secara matang sampai benar-benar memahami agama Islam secara kaffah. Sehingga apapun yang tertulis atau hasil karyanya benar-benar membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Jumardi
, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits UIN Suska Riau Co Kaderisasi FLP Pekanbaru


Sumber: Riau Pos, Minggu, 12 Februari 2012

Jejak: Soeman Hs, Bapak Cerpen Indonesia

-- Penulis?


SOEMAN Hs atau Soeman Hasibuan adalah Sastrawan Melayu Riau asal Tapanuli yang digolongkan sebagai sastrawan dari Angkatan Balai Pustaka. Beliau dilahirkan di Desa Bantantua, Bengkalis, Riau, pada 4 April 1904 dari pasangan Wahid atau dikenal Lebai Wahid Hasibuan dan Tarumun Pulungan, yang berasal dari Desa Hutanopan, Kecamatan Barumun, Tapanuli Selatan. Dalam usia tujuh tahun tepatnya pada 1912, Soeman Hs memulai pelajarannya di Sekolah Melayu Gouevernement Inlandsch School (GIS) yaitu sekolah sederajat SD (Sekolah Dasar) dan menamatkannya pada 1918.

Setelah itu, beliau mengikuti ujian masuk Normal Cursus (Sekolah Calon Guru) di Medan. Dari 24 peserta, Soeman Hs yang menempati juara ke-4 dari 6 orang yang diterima. Beliau dapat bantuan beasiswa dari pemerintah Belanda sebesar Rp4 perbulan selama menempuh pendidikan di Sekolah Calon Guru tersebut. Pada 1920, menyelesaikan pendidikannya di Normal Cursus, kemudian melanjutkan ke Normal School (sekolah guru yang sebenarnya) di Langsa, Aceh Timur dan tamat pada 1923.

Soeman Hs kembali ke Bantantua begitu menyelesaikan pendidikannya di Normal School Langsa. Kemudian setelah tiga bulan di Batantua, ia diangkat menjadi guru Bahasa Indonesia di HIS (Holland Inlandsch School yaitu Sekolah Belanda) di Siak Sri Indrapura. Setelah 7 tahun mengabdi menjadi guru, pada 1930, diangkat menjadi Kepala Sekolah Melayu dan Penilik Sekolah di Pasir Pengaraian. Menjelang Kemerdekaan RI 1945, beliau kemudian ditunjuk menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Pasir Pengaraian. Pada 1946 semasa masih menjabat Ketua KNIP, beliau diangkat menjadi anggota DPR di Pekanbaru Riau. Kemudian 1948, ketika Jogjakarta diduduki Belanda, ia diangkat menjadi KPG yaitu Komandan Pangkalan Gurilla Rokan Kanan.

Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Pekanbaru dijabat beliau sejak 1950 yang berakhir 1960. Baru saja memasuki masa pensiun, 1961, Soeman Hs diangkat menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) merangkap kepala Bagian Keuangan di Kantor Gubernur Riau yang semasa itu dijabat Gubernur Riau, Kaharuddin Nasution. Soeman masih menjabat Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau dan Ketua Yayasan Setia Dharma sampai 1998.

Ketika masih belajar di Sekolah Melayu, Soeman Hs mulai menggemari sastra. Sebagai usaha mengembangkan bakatnya dalam bidang sastra, beliau sering mengikuti pembicaraan ayahnya dengan para saudagar yang datang ke rumahnya tentang kehidupan di Singapura. Dari pembicaraan tersebut, ia kemudian banyak berkhayal dan memperoleh banyak inspirasi, serta beberapa bahan cerita. Selain itu, ia juga banyak memperoleh inspirasi dengan banyak membaca buku di perpustakaan. Dua buku yang diminati ketika itu, Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Teman Duduk karya M Kasim.

Kepengarangan Soeman Hs juga muncul berkat dorongan dari gurunya, M Kasim, yang sering menceritakan pengalamannya menulis. Tulisan-tulisan Soeman telah dimuat dalam majalah ibukota maupun di beberapa harian lainnya. Di harian Indonesia Raya, ia tercatat sebagai penulis tetap, dan di majalah Harmonis, Jakarta (1977-1978) ia khusus mengisi kolom ‘’Menyelami Bahasa Indonesia’’. Di antara tulisannya yang pernah dimuat dalam kolom tersebut, yaitu: ‘’Senyum dan Tawa’’, ‘’Kalau Hari Panas Lupa Kacang Akan Kulitnya’’, ‘’Marilah Kita Bersikap Hidup Sederhana’’ dan lain-lain. Selain itu, ia juga pernah menjadi pengasuh ruang siaran ‘’Pembinaan Bahasa Indonesia’’ di Stasiun RRI Pekanbaru yang ditayangkan dua kali seminggu. Pada 1972, ia sempat menerbitkan sebuah majalah anak-anak bernama Nenek Moyang, meski hanya beberapa kali terbit karena kesulitan dana.

Soeman Hs wafat pada Sabtu 8 Mei 1999 di rumahnya, Jalan Tangkubanperahu, Pekanbaru dalam usia 95 tahun. Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Hasnah dan 9 anak serta sejumlah cucu dan cicit. Pemikiran Soeman HS, berkaitan dengan dunia kesusastraan yakni hakikat kesusastraan adalah untuk masyarakat. Karena bagaimanapun baiknya sebuah karya puisi, kalau sukar dimengerti akan menjadikan karya tersebut tidak dekat dengan masyarakat.

Dalam menulis sebuah novel, ia selalu memakai nama-nama asing dalam setiap novelnya, karena ia ingin mendobrak adat yang kaku. Untuk menggambarkan hal ini, sengaja ia pilih tokoh orang asing agar lebih mudah diterima jika melawan adat. Ini adalah salah satu strategi kepengarangan, agar cerita dalam roman tersebut bisa diterima. Selain itu, judul pada setiap karya juga harus menarik. Sebagai contoh, ‘’Percobaan Setia’’. Menurutnya, judul ini menarik, karena seseorang yang sudah setia masih terus dicoba.

Dalam karya ‘’Kasih Tak Terlerai’’, ia tampak lebih banyak berbicara langsung dari pada memberi hidup pada tokoh-tokohnya. Dengan gaya tersebut, terasa kepada pembaca suatu pemaksaan kepada tokoh-tokohnya untuk hidup. Dengan demikian memaksa pula terhadap pembaca untuk mempercayai segala gerak mereka. Karya-karyanya baik roman maupun cerpen antara lain Kasih Tak Terlerai, Jakarta: Balai Pustaka, 1930, Percobaan Setia, Jakarta: Balai Pustaka, 1931. Mencari Pencuri Anak Perawan, Jakarta: Balai Pustaka, 1932, Kasih Tersesat, Jakarta: Balai Pustaka, 1932. Kawan Bergelut (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1938 serta Tebusan Darah, Medan: Dunia Pengalaman, 1939. Sedang penghargaan untuk Soeman HS atas jasa-jasanya sebagai pahlawan pembela Tanah Air, dianugerahi sebuah Penghargaan Tertinggi dari Komandan Daerah Militer Riau Utara (KDMRU) pada 1949. Nama beliau juga dijadikan nama bagi Gedung Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau. Ia juga dianugerahi sebuah penghargaan bernama Anugerah Sagang Kencana oleh Yayasan Sagang, 2010 lalu


Sumber: Riau Pos, Minggu, 12 Februari 2012