Sunday, April 19, 2009

Oase Budaya: Pertunjukan Puisi Gunawan Maryanto

-- Sjifa Amori

TEATER Garasi menyelenggarakan sebuah perayaan sederhana atas puisi-puisi Gunawan Maryanto untuk menyambut penerbitan kumpulan sajaknya, Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya. Kumpulan sajak ini diterbitkan oleh penerbit OmahSore, sebuah penerbitan dengan pola POD (Print On Demand) yang memberi perhatian kepada karya sastra berkualitas namun belum memiliki pangsa pasar yang luas.

Sejumlah seniman akan turut meramaikan acara peluncuran buku ini. Andy Seno Aji, seorang perupa muda Yogyakarta, akan menerjemahkan dunia puisi Gunawan Maryanto dalam bentuk visual, sedangkan Sahita (kelompok teater-tari dari Surakarta) mencoba menggarap sebuah karya berangkat dari puisi Kayon Blumbangan dan Sendhon Abimanyu—satu hal yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya. Bengkel Mime Theatre juga akan terlibat menampilkan persembahannya bagi puisi-puisi Gunawan.

Adapun Umbrella Project (Hindra Setya Rini, Lusi Neti, Verry Handayani), sebuah kelompok vokal yang baru saja terbentuk, akan mengangkat Seikat Kembang Gunung dan Banowati dengan gaya vokal 80'an. Ani Himawati tak ketinggalan. Ia akan membacakan sebuah bacaan atas Gunawan Maryanto dan puisi-puisinya. Sedangkan Muhammad Marzuki/Kill the DJ, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, dan Yudi Ahmad Tajudin akan membacakan puisi-puisi tersebut dengan gaya mereka masing-masing.

Perayaan atas Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya ini dilaksanakan di Studio Teater Garasi di Jl. Bugisan Selatan No. 36 Yogyakarta pada 17 April 2009 pukul 20.00 WIB.

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 19 Apr 2009

Pustaka: Pengembaraan Spiritual Sang Penyihir

-- Sjifa Amori

KEINGINAN mengisi “ruang kosong” menuntun Athena pada pencarian spiritual yang memberikan kemampuan penyihir yang membahayakan.

Sejauh mana pencarian terhadap diri sendiri akan membawa kita pergi? Akankah perjalanan tak berujung itu menghabiskan seluruh hidup kita? Apakah untuk mendapatkan jawabannya seseorang perlu membahayakan dirinya sendiri, seperti juga Athena yang mengantarkan nyawanya pada pencariannya.

Berawal dari sebuah “ruang kosong” dalam kehidupan. Athena dan sebagian tokoh dalam novel berjudul The Witch of Portobello (Sang Penyihir Dari Portobello) menganggap bahwa kehidupan mereka secara umum sudah sempurna. Meski begitu, kegelisahan terus hinggap dalam hati dan memaksa mereka melakukan semacam perjalanan spiritual dalam rangka mengisi “ruang kosong” tersebut.

Dalam kasus Athena, perjalanannya juga terjadi secara fisik. Untuk mengisi “ruang kosong” hidupnya, Athena berhenti kuliah dan menikah. Daripada menjalin kehidupan rumah tangga normal, gadis yang belum genap 20 tahun ini berambisi melahirkan anak. Akibatnya sang suami merasa dimanfaatkan, dan mereka pun bercerai.

Petualangan Athena dimulai dengan menjalani semacam persatuan mistis dan fisik dengan Tuhan. Ia mempraktikkan tarian “Pencarian Vertex”. Vertex dianggap sebagai titik kulminasi, yakni ketika seseorang bisa menemukan cahaya yang memancar dari hati. Tarian ini diwarisi dari tradisi sebuah suku di desa terpencil di Siberia.

“Menarilah hingga kau begitu kehabisan napas sampai seluruh organmu terpaksa mencari oksigen dengan cara lain, dan saat itulah pada akhirnya, kau akan kehilangan identitasmu dan pertalianmu dengan ruang dan waktu,” kata Pavel Podbielski, pemilik apartemen yang disewa Athena, dalam testimoninya kepada sang pewawancara misterius.

Selama bertahun-tahun Athena yakin gerakan yang cepat diperlukan supaya manusia bisa bersentuhan dengan diri mereka. Keyakinan Athena ini runtuh ketika menyadari bahwa kesabaran juga bisa membawanya pada Vertex, misalnya dalam membuat seni kaligrafi.

“Caraku mendekati Allah-terpujilah nama-Nya- adalah melalui kaligrafi, dan pencarian arti sesungguhnya dari setiap kata,” kata Nabil Alaihi yang mengajari Athena cara mendidik jemari untuk memanifestasi setiap sensasi dalam jiwanya.

Sayangnya, menurut Nabil, meski Athena sudah menguasai seni kaligrafi , dia dianggap belum menguasai ruang kosongnya. Kenyataan ini menyesakkan hatinya dan menuntunnya untuk kembali dalam pencarian. Kali ini ia berkeras untuk menjumpai ibu kandungnya, seorang gipsy dari Romania.

Semakin jauh Athena melangkah, berdua dengan anaknya, semakin jauh penguasaannya akan pemahaman spiritualitas. Dia pun tahu bahwa keadaan trans bisa dicapai tidak hanya melalui tarian, tapi juga segala sesuatu yang membiarkan si pelaku memusatkan perhatian dan memisahkan tubuh dari jiwa. Dengan kemampuan itu, Athena semakin tak bisa dikendalikan. Ia terus belajar tanpa ada yang menemani dan memberitahukan batas-batas. Ia mulai membiarkan sekelompok kecil orang mendatangi rumahnya untuk berguru. Lama-lama kumpulan ini berkembang hingga membentuk komunitas yang menyembah apa yang mereka sebut sang Dewi Ibu. Di sinilah orang-orang merasakan ajaran yang mementingkan cinta kasih daripada larangan dan tabu yang biasa.

Athena mendadak dikuduskan orang-orang yang memisahkan diri dari agama konvensional yang punya banyak aturan ketat. Ia menjadi nabi mereka, namun digolongkan sebagai penyihir oleh kalangan gereja di Inggris.

“Kalau begitu…,” kata aktris Andrea McCain, salah seorang murid Athena yang tidak begitu menyukainya, “…kenapa dia tidak masuk biara dan mengabdikan diri melayani orang miskin. Itu mungkin lebih berguna untuk dunia ini dan jauh lebih tidak berbahaya dibanding menggunakan musik dan ritual untuk menimbulkan reaksi intoksikasi pada orang yang mempertemukan mereka dengan sisi terbaik dan terburuk -masing.”

Memang berbahaya jalan hidup yang dipilih Athena. Begitu berbahayanya hingga ia ditemukan terbunuh dengan keadaan terpotong-potong.

Siapakah kiranya yang merasa terganggu dengan peranan Athena sebagai orang kudus sekaligus penyihir? Apakah karena dalam perjalanannya Athena telah begitu menyinggung banyak pihak. Seperti para pendeta yang “gerah” dengan kemunculan “Sekte Setan di Jantung Inggris.” Belum lagi rasa sakit hati orang yang “dilukai”nya. Seperti Andrea yang menganggap Athena hanya menggunakan topeng spiritual untuk menutupi segala yang berdosa pada diri manusia, termasuk yang terkait seksualitas, demi merayu lawan jenis yang kebetulan adalah kekasih Andrea.

Mampukah orang misterius yang mewawancarai seluruh kenalan, keluarga, dan mantan suami Athena menguak tabir ini? Ataukah wawancara ini hanyalah bentuk lain penulisan sebuah biografi?

Penulis Paulo Coelho menjadikan kesaksian dan pandangan beberapa tokoh sebagai wujud deskriptif terhadap Athena dan perjalanannya. Dari satu mulut ke mulut yang lain menceritakan pada pewawancara misterius mengenai berbagai kisah tentang tokoh utama. Potongan-potongan testimoni ini lalu dijadikan sebuah narasi. Alurnya maju mundur. Ada ibunya yang menceritakan latar belakang adopsi dan masa kecil Athena, ada pula yang menceritakan tahapan-tahapan proses berguru Athena. Setiap tokoh dalam buku ini, dalam satu atau lebih bagian, berfungsi sebagai si pencerita, kecuali Athena sendiri.

Sama menariknya dengan The Alchemist, dalam buku ini Coelho berhasil mengajak pembaca terpaku dengan misteri yang disajikan pewawancara misterius sekaligus mengajak pembaca menyelami penelusuran spiritual yang dipilih oleh tokoh utamanya. Termasuk agama-agama bumi dengan upacara gaya penyembahan berhala untuk menuju keadaan trans.

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 19 Apr 2009

Kantong Seni: Menghidupkan Ancol

PASAR Seni Ancol, Jakarta Utara, kembali memberdayakan diri lewat pembukaan North Art Space. Galeri seni rupa hasil perombakan dari Galeri Pasar Seni Ancol lama itu diresmikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Jumat (17/4) malam. Ruang pameran itu diharapkan mengangkat citra Ancol sebagai kantong seni budaya sekaligus memajukan seni rupa kontemporer Indonesia.

Peresmian dibuka dengan menggelar pameran bertajuk ”Hybridization”, 17 April-3 Mei 2009. Acara berjalan cukup meriah. Selain dihadiri beberapa pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pimpinan PT Pembangunan Jaya Ancol, serta pengurus Pasar Seni Ancol, tampak juga sejumlah seniman, kolektor, pengelola galeri, dan masyarakat pemerhati seni rupa.

Pada katalog pameran, Fauzi Bowo berharap pengembangan North Art Space bisa ikut mendorong Kota Jakarta sebagai kota budaya sekaligus menumbuhkan semangat ekonomi kreatif. Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengungkapkan, sesuai program Ancol Creative City, kawasan itu dikembangkan sebagai panggung bagi komunitas kreatif, termasuk kalangan seni rupa.

Selain galeri, pengembang Ancol juga berencana membangun studio bagi seniman. Di situ, seniman bisa leluasa berkarya, bahkan menyajikan karyanya di sudut-sudut kawasan Ancol yang dikembangkan sejak awal tahun 1970-an itu. ”Karya seni, seniman, dan publik bisa berinteraksi di sini. Bayangkan saja, Ancol itu dikunjungi sekitar 40.000 orang per hari pada akhir pekan,” kata Budi.

Sebagai langkah awal, bekerja sama dengan Galeri Semarang, pengembang memugar dua lantai galeri lama menjadi galeri baru bernuansa kontemporer. Fasad dirombak menjadi sedikit bergaya minimalis dengan dinding kaca; ruang pamer dibersihkan dan dibuat lebih terbuka; serta dibangun dua tangga berlapis kayu di bagian tengah. Nama galeri baru itu North Art Space alias NAS

”Galeri baru ini lebih terbuka bagi semua karya, termasuk karya-karya kontemporer. Ini hanya langkah awal untuk menjadikan Ancol sebagai salah satu kantong seni rupa di Jakarta,” kata Chris Dharmawan, pemilik Galeri Semarang.

Pada tahapan berikutnya, pengembang Ancol berencana membangun studio tempat seniman berkarya sekaligus melakukan semacam residensi di Jakarta. Pasar Seni akan dipugar dan ditingkatkan lagi sehingga menjadi lebih maju. ”Ancol punya potensi karena punya areal masih luas, mudah dijangkau warga Jakarta, dan dikunjungi banyak wisatawan,” kata Chris.

Memang, jika saja pemerintah memihak pengembangan seni rupa secara konsisten, kawasan Ancol berpotensi dikembangkan menjadi semacam kantong seni rupa baru. Selain punya galeri, kantong itu dimanfaatkan untuk membuat studio seniman dan pasar seni. Itu akan bisa menjembatani kepentingan seniman, pasar, akademisi, sekaligus masyarakat.

”Art district”

Sebagai bandingan, mungkin kita bisa menyebut 798 Art District di Ta Sen Tse, Beijing, yang dinilai turut mendongkrak pasar seni rupa China beberapa tahun belakangan. Kawasan bekas pabrik instalasi telekomunikasi militer yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Beijing itu ditempati ratusan galeri dan studio seniman. Para seniman, kolektor, pengamat, dan masyarakat umum mendatangi kawasan itu untuk berinteraksi dengan sebagian karya seni rupa kontemporer.

”Kita mungkin saja membangun Ancol jadi semacam art district jika semua kalangan, seperti seniman, pengusaha, galeri, dan pemerintah berkomitmen memajukan seni rupa di Indonesia,” kata Teguh Ostenrik, pelukis dan pematung, yang hadir di Ancol malam itu.

Jikalau tidak mencapai tahap seperti itu, setidaknya Ancol masih mungkin untuk mengembalikan dirinya sebagai kantong tempat kongko para seniman. Manajer Pasar Seni Ancol Bogang Suharno mengenang, Ancol sempat jadi rujukan para seniman pertengahan tahun 1970-an sampai 1980-an. Di situ, aktif beberapa seniman, antara lain Amrus Natalsya, Endros Sungkowo, Kidro, atau Dwijo.

Selain pelukis dan pematung, banyak seniman lain langganan datang, seperti Umar Kayam, Emha Ainun Nadjib, dan Ireng Maulana. Beberapa penyanyi cilik yang sekarang populer juga mencicipi kemeriahan pengunjung di situ, seperti Anggun C Sasmi dan Novia Kolopaking. ”Saat itu, Ancol menjadi salah satu pusat komunitas seni dan budaya di Jakarta,” katanya.

Hibrida

Bagaimana dengan pameran ”Hybridization”? Ada 24 seniman Indonesia yang turut serta, antara lain Agus Suwage, Andy Dewantara, FX Harsono, Hanafi, Harris Purnomo, Jompet, dan Yani Mariani. Sebagian karya sudah pernah dipamerkan dan sejumlah karya termasuk baru.

Sesuai tema, karya dengan beragam bentuk dan media itu memperlihatkan pertemuan dan percampuran dari berbagai unsur budaya yang berkembang di Tanah Air. ”Hibridisasi itu membebaskan kita dari dogma-dogma sejarah seni rupa Barat dan menyerap sejarah seni rupa Indonesia. Itu membuka kemungkinan praktik seni yang melibatkan aspek-aspek kehidupan sosial dan budaya lokal,” kata kurator pameran Rifky Effendy. (ilham khoiri)

Sumber: Kompas, Minggu, 19 April 2009