Showing posts with label siswa. Show all posts
Showing posts with label siswa. Show all posts

Sunday, August 05, 2012

Eksistensi Sastra dan Minat Baca-Tulis di Kalangan Remaja

-- Untung Wahyudi

TAK dapat dimungkiri, kehadiran sastra remaja yang lebih populer dengan TeenLit (teenagers literature) memang cukup memengaruhi minat baca para remaja. Mereka yang kurang menyukai bacaan berat (sastra serius) memang lebih banyak meminati bacaan TeenLit, karena karya jenis ini memang lebih ringan dan mudah dicerna. Bahasa yang digunakan pengarang pun tak berat dan rumit, sehingga mereka lebih mudah memahami apa yang disampaikan pengarang.

Mayoritas remaja mengakui, kegemaran mereka terhadap TeenLit disebabkan cerita dan bahasanya yang memang �renyah� dan dekat dengan dunia mereka. Ini tak mengherankan karena sebagian besar pengarang-pengarang TeenLit sendiri masih remaja, atau paling tidak anak muda. Mereka dapat bercerita dengan fasih tentang lika-liku kehidupan remaja, sehingga para remaja yang membaca karya-karya mereka merasa dekat dan akrab.

Sementara itu, dalam dunia penerbitan, kehadiran TeenLit memang cukup menggiurkan. Pangsa pasar remaja yang luas membuat beberapa penerbit sangat antusias menghadirkan bacaan yang memang sedang marak dan banyak diburu di pasaran. Tak sedikit dari penerbit yang sebelumnya tak memiliki lini TeenLit, akhirnya memasang caption khusus di setiap buku yang diterbitkan. Sebut saja penerbit Gramedia. Penerbit yang cukup merajai dunia perbukuan di Tanah Air itu sejak 2004 memang konsisten dengan penerbitan buku TeenLit setelah sebelumnya sukses dengan buku-buku ChickLit. Novel Dealova karya pengarang muda Dyan Nuranindya tercatat sebagai salah satu pelopor novel TeenLit asli (non terjemahan) yang diterbitkan Gramedia. Novel ini terbilang sukses, terutama setelah difilmkan dengan judul sama.

Sejak itulah geliat penerbitan novel dengan genre TeenLit ini makin terasa. Banyak penerbit yang berlomba-lomba menerbitkan novel tema remaja yang ringan dan mudah dicerna. Membacanya pembaca tak perlu mengerutkan kening karena dari segi isi memang tak terlalu �berat�.

Jika diteliti, tema yang diangkat dalam sastra remaja memang tak jauh dari tema cinta dan pernak-pernik dunia remaja. Tema yang lebih banyak memotret problematika kehidupan remaja itulah yang menyebabkan novel TeenLit laris manis di pasaran.
Lahirnya

Penulis-penulis Baru
Selain efek menjamurnya penerbit yang menerbitkan novel TeenLit, dampak hadirnya bacaan ini juga berpengaruh terhadap jumlah penulis muda di Tanah Air. Tak terhitung jumlah penulis remaja yang sekarang bermunculan. Baik dari kalangan anak-anak atau remaja yang ikut memeriahkan dunia literasi. Tentu, ini merupakan berita baik yang perlu diapresiasi. Kehadiran mereka di ranah literasi patut diacungi jempol karena mereka telah memberi sumbangsih pada masyarakat dan generasi mendatang agar bisa membaca, demi mengurangi jumlah penduduk yang buta aksara.

Namun, bermunculannya novel TeenLit dan para penulis diakui oleh pengarang dan praktisi perbukuan memang akan mengalami �persaingan� yang kentara, melihat jumlah penulis yang makin banyak. Apalagi, tema yang mereka garap hampir serupa; tentang cinta dan lika-liku pergaulan dunia remaja.

Menurut Asma Nadia, salah seorang pengarang novel remaja, sejauh ini novel-novel TeenLit mayoritas memaparkan kehidupan remaja dan permasalahannya, tapi hanya sekadar potret. Mereka belum banyak yang memberi solusi yang mendidik. Padahal, menurut Asma Nadia, sebuah karya seharusnya bisa berfungsi lebih dari sekadar bacaan yang menghibur. Tapi, juga ada nilai-nilai yang ditawarkan serta memberi kontribusi yang kentara pada remaja.

Sementara dari para pengarang sendiri, Asma Nadia melihat belum ada yang jejak kepengarangannya kuat, atau yang punya gaung. Untuk itu, pengarang TeenLit harus berbenah jika memang ingin serius jadi pengarang. (Annida, 2007: 22)

TeenLit dan Royalti Penulis
Menulis selain sebagai salah satu bentuk ekspresi seorang penulis, juga sebagai �lahan� penghasilan yang diharapkan oleh semua penulis. Tak heran, jika ada penulis yang sukses dan kaya raya dari hasil penjualan buku-bukunya. Sebut saja JK Rowling yang kekayaannya konon melebihi kekayaan Ratu Inggris, Elizabeth II. Berkah itu didapatnya dari serial novelnya Harry Potter, yang berkisah tentang penyihir cilik. Padahal, sebelumnya Rowling adalah perempuan yang terbilang miskin.

Namun, tahun 1997 nasibnya berubah total ketika penerbit Inggris, Bloomsbury Press, menerbitkan buku Harry Potter yang pertama, Harry Potter and The Philosopher�s Stone (di Amerika terbit dengan Harry Potter and Sorcerer�s Stone). Bahkan, seri kelima Harry Potter and The Order of the Phoenix, laris terjual pada hari pertama diluncurkan. Meledaknya penjualan ini membuat buku itu dinobatkan sebagai buku terlaris sepanjang masa. Cetakan pertama seri kelima ini, yang berjumlah 8,5 juta eksemplar, sebagian besar dipesan sebelum naik cetak. (Rahmadiyanti, 2004: 57).

Bagaimana Nasib Penulis-penulis di Indonesia?
Di negeri ini jumlah penerbit tak terhitung jumlahnya. Namun, seringkali para penulis mengalami perlakuan yang �kurang baik� dari penerbit yang kurang bertanggung jawab dengan royalti yang harus mereka terima. Memang, kualitas karya seorang penulis akan menentukan sukses tidaknya buku mereka di pasaran. Jika karya mereka standar dan penjualannya di pasaran cukup lambat, hasil yang didapat pun akan sedikit.

Tapi, bukankah sebelum karya mereka diterbitkan, penerbit lebih dulu memberi MoU yang harus dipelajari dan ditandantangani penulis? Yang berarti para penulis berhak dapat hak atau bayaran sesuai surat perjanjian. Baik dengan sistem royalti atau beli putus (lump sum) atas karya-karya yang diterbitkan.

Seorang pengarang novel remaja mengaku pernah mengalami pahit-getirnya berurusan dengan penerbit. Sebuah penerbit yang menerbitkan salah satu novelnya sama sekali belum memberi royalti yang harus dia terima. Padahal, bukunya sudah terbit dan beredar selama tiga tahun di pasaran.

Lalu, apa artinya surat perjanjian kontrak yang telah disepakati antara kedua belah pihak; penulis dan penerbit, jika hak-hak yang seharusnya diterima penulis tak juga ditunaikan? Ini setidaknya bisa jadi pelajaran bagi para penulis yang memang ingin serius terjun ke dunia penulisan, baik karya fiksi maupun nonfiksi. Mereka harus bisa selektif memilih penerbit yang hendak menerbitkan karya mereka. Jika tidak, penulis sendirilah yang akan rugi. Apalagi karya yang diterbitkan dapat respon positif dari pembaca sehingga menjadi karya yang best seller dan fenomenal seperti karya-karya Habiburrahman el-Syirazy atau Andrea Hirata.n

Untung Wahyudi, Pembina Sanggar Sastra Pesantren di Sumenep, Madura.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 5 Agustus 2012
 

Tuesday, July 27, 2010

Presiden: Jangan Takut Kehabisan Seniman

Gianyar, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis bangsa Indonesia tidak akan pernah kehabisan seniman dan budayawan. Karena itu, Presiden berharap pendidikan setingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membangun karakter bangsa.

”Jangan khawatir kekurangan seniman. Karena itu, anak-anak di sekolah TK (taman kanak-kanak), SD (sekolah dasar), dan SMP (sekolah menengah pertama) tidak hanya diisi dengan pengetahuan saja, tetapi juga meningkatkan karakter menjadi manusia unggul,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pidato Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional V di Istana Tampak Siring, Gianyar, Bali, Senin (26/7).

Di sela-sela perlombaan, Presiden dan Ibu Ani Yudhoyono berkeliling melihat anak-anak berkarya. Sebanyak 231 anak SD dan SMP dari 33 provinsi berlomba di empat kategori, yakni cipta lukis, cipta lagu, cipta puisi, dan cipta batik. Tema lomba adalah Dengan Seni dan Budaya Membangun Karakter Bangsa.

Suasana pengumuman pemenang menjadi kacau setelah Ketua Dewan Juri Putu Wijaya salah membacakan salah satu nama pemenang dari lomba cipta lagu tingkat SMP. Kesalahan ini menyebabkan Agustina Eka Wulandari dari SMP 1 Wonosari, Yogyakarta, menangis dan kecewa. Ibu Ani Yudhoyono memeluk Eka dan menenangkannya.

Presiden menjanjikan semua anak akan mendapat penghargaan setara pemenang. ”Semua karya adalah luar biasa,” kata Presiden. Ketua Dewan Juri Putu Wijaya mengaku bersalah dan meminta maaf. (AYS)

Sumber: Kompas, Selasa, 27 Juli 2010

Sunday, November 29, 2009

Mimpi Buruk Sastra di Sekolah

ADA hal yang menarik diutarakan penyair Sunda, Nita Widiati Efsa, dalam diskusi kecil-kecilan dengan penulis mengenai pelajaran sastra Sunda/Indonesia di tingkat SLTP dan SMA. Menurut dia, belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan. Berkaitan dengan itu, dalam mengemban tugas sebagai guru bahasa dan sastra Sunda/Indonesia, seyogianya guru tersebut dituntut untuk memiliki pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang kehidupan itu sendiri.

Selain itu, katanya lebih lanjut, menjadi guru bahasa dan sastra Sunda/Indonesia adalah profesi yang hebat. Apa sebab? Karena mata pelajaran tersebut menjamah wilayah lain, seperti psikologi, misalnya. Namun demikian, ada kalanya guru bahasa dan sastra tersebut juga sering tidak mengenal, dan bahkan tidak peduli dengan jangkauan kerjanya. "Salah satu alasannya adalah tidak adanya buku rujukan dan buku pendukung lainnya, yang mereka sulit dapat!" ujar Nita menjelaskan.

Apa yang dikatakan Nita memang tidak salah. Pernyataan yang demikian itu, berkali-kali saya dapatkan di berbagai kota, baik ketika menjadi nara sumber dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diselenggarakan majalah sastra Horison bekerja sama dengan Ford Foundation, maupun dalam acara lainnya.

Jika memang kendalanya bermuara pada buku-buku teks sastra sebagai rujukan dan buku-buku pendukung lainnya, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana sesungguhnya dengan pengadaan buku-buku sastra yang selama ini diselenggarakan pemerintah lewat dinas terkait?

Lepas dari persoalan tersebut, bukan rahasia umum, kalau penerbitan buku-buku sastra itu sendiri sering dianggap sebagai penerbitan yang merugi. Untuk itu, sangat jarang di Indonesia ada penerbit yang mati-matian mau menerbitkan kumpulan puisi, atau naskah drama dan cerita pendek. Kalau penerbitan novel boleh dibilang cukup marak.

Akan tetapi, persoalannya pengajaran karya sastra, sebagaimana yang saya lihat di buku-buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia untuk anak SLTP dan SMA, bukan hanya novel yang disajikan lewat petikan novel, tetapi juga cerita pendek, puisi, dan naskah drama. Ada kalanya teks sastra yang dipetik dalam buku-buku pelajaran tersebut, tidak dipetik dari buku karya sastra yang bisa dipertanggungjawabkan mutu dan kualitasnya. Adakah hal ini pun terbentur pada sumber-sumber naskah yang dipunyai oleh penulis buku-buku teks tersebut?

Sungguh, pertanyaan demi pertanyaan yang muncul berkait dengan buku pelajaran bahasa dan sastra itu sendiri, pada satu sisi membuat kita bertanya-tanya. Antara lain pertanyaan itu bermuara pada satu soal, misalnya, seberapa sungguh-sungguhkah pengajaran bahasa dan sastra Sunda/Indonesia diajarkan di sekolah?

Belum lagi soal lain, dengan munculnya berbagai kenyataan yang cukup mengejutkan di lapangan, ada kalanya yang menjadi pengajar pelajaran bahasa dan sastra Sunda/Indonesia, bukan dari jurusannya, tetapi dari jurusan yang lain. Kalau si guru tersebut suka karya sastra, pastilah pelajaran tersebut akan menyenangkan. Kalau tidak, bukan rahasia umum, jika pada akhirnya pelajaran sastra dilewat begitu saja. Itulah data-data yang saya dapat saat mengikuti acara SBSB atas ajakan penyair Taufiq Ismail.

Sehubungan itu, saya sependapat dengan apa yang dikatakan Taufiq Ismail, dengan diajarkannya karya sastra kepada siswa secara sungguh-sungguh pada satu sisi, tidak dimaksudkan agar siswa tersebut menjadi sastrawan. Akan tetapi agar mereka mengenal kehidupan secara luas, sebab di dalam karya sastra ada banyak ilmu pengetahuan, yang tidak hanya berkait dengan nilai-nilai kultural dan moral, tetapi juga dengan nilai-nilai religius, sosial, dan lainnya.

Selain itu, belajar menulis menjadi penting dalam konteks tersebut, antara lain agar siswa bisa mengekspresikan daya nalar dan daya pikirnya dalam bentuk tulisan. Munculnya kendala dalam dunia tulis-menulis itu terjadi karena siswa kurang perbendaharaan kata yang disebabkan malas membaca. "Jadi belajar karya sastra antara lain juga merupakan sebuah rekreasi bahasa. Apalagi bila kita menuliskannya," ujar Taufiq Ismail pada suatu kesempatan di Palembang.

**

KEMBALI ke soal terbenturnya buku-buku teks sastra dan buku-buku pendukung lainnya, dalam kaitan ini kiranya seorang guru dituntut harus kreatif. Ia harus jeli dalam membaca keadaan, yakni dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada, semisal karya sastra di koran, atau mencarinya sendiri di situs-situs tertentu lewat dunia maya.

Tentang hal ini pun, kata seorang guru di Kuningan, menjadi suatu kendala, yakni tidak ada biaya untuk itu. Kalau hal ini menjadi masalah, lantas apa sesungguhnya yang dilakukan oleh sekolah dalam memperkaya buku-buku teks untuk perpustakaan sekolah? Betapa benang kusut pengajaran sastra di tingkat sekolah, ternyata cukup pelik juga. Padahal jika mereka ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, ada jurusan sastra.

Saya jadi ingat Rendra dengan kaitan tersebut. Dirinya menyambut baik gagasan majalah sastra Horison yang menyelenggarakan acara sastrawan masuk sekolah. "Hanya sayangnya tidak semua sekolah bisa didatangi oleh sastrawan, karena terbatasnya dana. Jika pemerintah bersungguh-sungguh dengan pendidikan yang satu ini, sesungguhnya acara yang diselenggarakan majalah sastra Horison itu bisa diselengarakan oleh pemerintah di masing-masing daerah!" ucap Rendra pada suatu kesempatan di Bandung.

Sehubungan dengan itu pula, Rendra memberikan saran yang lain, untuk mengatasi langkanya buku-buku sastra di daerah, yakni dengan cara media massa cetak membuka rubrik sastra, yang tidak hanya melulu memuat karya sastra, tetapi juga memuat persoalan-persoalan di sekitar sastra. Antara lain dengan menampilkan tokoh-tokoh sastrawan yang ditulis tidak hanya dari sisi biografinya, tetapi juga membahas karya sastra yang ditulisnya.

Menarik apa yang dikatakan Rendra tadi. Akan tetapi persoalannya, cita-cita semacam itu sangat sulit diwujudkan, mengingat media massa cetak sendiri punya agenda yang lain. Sekali lagi, tampak sangat rumit memang mencari jalan keluarnya. Mungkin ada gagasan lain yang bisa direalisasikan, yakni masing-masing alumni yang sudah punya penghasilan tetap dari masing-masing sekolah, diwajibkan untuk menyumbangkan satu atau dua buku karya sastra. Dengan demikian, guru-guru yang terbentur oleh buku-buku teks sastra dan buku-buku pendukung lainnya bisa diatasi.

Lantas caranya bagaimana? Masing-masing sekolah mengumumkan agar para alumninya menyumbangkan buku-buku karya sastra untuk mengisi perpustakaan sekolah. Tentu saja pada tingkat lebih lanjut, tentu bukan hanya buku-buku sastra yang harus diadakan oleh sekolah, tetapi juga buku-buku lainnya, yakni buku-buku yang bisa mengasah dan menambah pengetahuan si anak didik tentang hidup dan kehidupan itu sendiri dalam pengertian seluas-luasnya.

"Pendidikan humaniora, termasuk pendidikan karya sastra di dalamnya tidak bisa dimistik menjadi nol. Pendidikan budi pekerti itu, antara lain bisa juga di dapat di dalam karya sastra. Jadi belajar sastra itu bukan sekadar belajar apa dan bagaimana metafora, tetapi belajar apa dan bagaimana karya sastra berkait erat dengan kehidupan itu sendiri," ucap Rendra, dalam sebuah acara yang diselenggarakan majalah sastra Horison, di hadapan sejumlah guru di Bandung.

Bagi guru-guru yang hidup di kota besar, mungkin tidak jadi masalah dalam mendapatkan buku-buku teks sastra yang dimaksud. Akan tetapi, tidak demikian dengan guru-guru yang ada di daerah. Kenyataan pahit inilah yang harus segara diatasi, agar pelajaran sastra bukan sekadar pelajaran sisipan dari mata pelajaran bahasa Sunda/Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Mudah-mudahan ini bukan mimpi buruk yang terus-menerus berkelanjutan dari tahun ke tahunnya. (Soni Farid Maulana/"PR")***

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 29 November 2009

Friday, August 21, 2009

Kemampuan Bahasa Indonesia Siswa Rendah

Hanya 6 Peserta UN SMA Dapat Nilai 10

Jakarta, Kompas - Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan siswa SMP dan SMA sangat rendah. Hal ini terlihat dari rendahnya siswa dan guru dalam melakukan interaksi proses pembelajaran di kelas serta rendahnya nilai ujian nasional Bahasa Indonesia.

Begitu pun Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) bagi guru. Hasil ujian tersebut kurang menggembirakan.

Kenyataan yang ironis itu diungkapkan Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Suyatno ketika menyampaikan orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Pendidikan Bahasa, Kamis (20/8) di Kampus Uhamka, Jakarta. Selain Suyatno, dua dosen lain yang dikukuhkan sebagai guru besar adalah Abdul Madjid Latief di bidang Ilmu Administrasi Pendidikan dan Sylviana Murni untuk bidang Manajemen Pendidikan.

Dalam orasi berjudul ”Bahasa Indonesia sebagai Sarana Pengembangan Guru Profesional”, Suyatno menampilkan data terkini. Data laporan hasil ujian nasional SMP negeri dan swasta tahun 2008/2009 secara nasional menunjukkan, dari 3.441.815 peserta UN, peserta yang rentang nilainya 7,00 sampai 7,99 hanya 32,86 persen atau 1.131.121 orang. Adapun yang mendapat nilai 10 hanya 834 orang (0,02 persen).

Sementara itu, hasil UN tahun 2008/2009 untuk tingkat SMA/MA menunjukkan, dari 621.840 peserta jurusan IPA, tidak ada satu pun yang mendapat nilai 10. Peserta yang rentang nilainya 7,00 hingga 7,99 ada 252.460 orang (40,6 persen).

Demikian pula di jurusan IPS. Dari 854.206 peserta UN, tidak ada seorang pun yang mendapatkan nilai 10. Siswa yang mendapat nilai antara 7,00 hingga 7,99 justru lebih kecil lagi, yaitu hanya 240.815 peserta atau sekitar 28,2 persen.

Adapun untuk jurusan bahasa tingkat SMA/MA, dari 43.688 peserta UN, hanya enam orang atau sekitar 0,01 persen yang mendapat nilai 10. Peserta yang mendapat nilai antara 7,00 sampai 7,99 sebanyak 13.445 orang atau sekitar 30,7 persen.

”Gambaran di atas menunjukkan rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia siswa SMA/MA,” kata Suyatno.

Sebaliknya, untuk nilai bahasa Indonesia pada kisaran 0,01 hingga 5,99, jumlahnya cukup signifikan, yakni 17,26 persen untuk siswa jurusan IPA, 32,53 persen untuk IPS, dan 23,2 persen untuk siswa jurusan bahasa.

Layanan baik

Abdul Madjid Latief dalam orasi ilmiahnya mengatakan, keberhasilan pembelajar organisasi dan organisasi pembelajar di perguruan tinggi menciptakan mutu layanan akademik yang baik.

Sylviana Murni yang memaparkan manajemen pendidikan berbasis e-learning mengatakan, peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktivitas yang dibutuhkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. (NAL)

Sumber: Kompas, Jumat, 21 Agustus 2009

Monday, June 22, 2009

Nilai Pelajaran Bahasa Indonesia Turun

[JAKARTA] Walaupun pelajaran Bahasa Indonesia diajarkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, kompetensi Bahasa Indonesia siswa tidaklah menggembirakan. Data hasil ujian nasional (UN) tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan nilai Bahasa Indonesia.

Selama ini, Bahasa Indonesia ditempatkan siswa sebagai kurang favorit, setelah mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial lain. Kondisi ini diperparah karena Bahasa Indonesia di beberapa sekolah di daerah diajarkan oleh guru di luar bidang studi rumpun bahasa, antara lain dari bidang hukum, agama, olahraga, sejarah, bahkan matematika. Persoalan guru Bahasa Indonesia tidak hanya pada soal kuantitas saja, tetapi lebih pada kualitas. Akibatnya, mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam UN 2009 kembali turun. "Memang nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia turun mungkin sekitar 0,1 persen dari UN sebelumnya," kata Koordinator UN Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Djemari Mardapi, saat dihubungi SP, Senin (22/6).

Untuk tingkat SMP, nilai rata-rata UN Bahasa Indonesia tahun 2006 adalah 7,46, tahun 2007 turun menjadi 7,39, dan tahun 2008 turun menjadi 7,00. Untuk tingkat SMA jurusan bahasa, nilai rata-rata Bahasa Indonesia tahun 2006 adalah 7,40, kemudian tahun 2007 turun menjadi 7,08 dan tahun 2008 turun lagi menjadi 6,56.

Djemari mengemukakan, rendahnya nilai ini, karena tujuan penilaian kurang dipahami banyak pihak. Yang dikejar cuma nilai akhir saja. [W-12]

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 22 Juni 2009

Sunday, October 19, 2008

Ketika Sastra Masih Kering Di Sekolah

-- Ria Febrina

AWAL mula berkenalan dengan sastra waktu itu masih di SLTP 2 Padang tahun 2001, seorang guru bertanya tentang Buya Hamka. Tak seorang pun yang bisa menjawab, termasuk saya. Kemudian, ia menerangkan bagaimana sosok Hamka, termasuk karya-karyanya yang sangat fenomenal. Setelah belajar, saya mengingat namanya dan mencari karya beliau di perpustakaan sekolah. Saya menemukan label sastra dalam novelnya yang agak tebal, 224 halaman. Penasaran dengan cerita panjang yang ditulis oleh Hamka, saya membaca hingga tuntas buku yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Meski banyak hal yang kurang bisa dipahami, namun ceritanya sangat menggugah perasaan, karena sebagai seorang anak yang masih ingusan, bahasa yang ditulis Hamka sangat indah dan jarang ditemui dalam bahasa yang diujarkan guru maupun dalam koran lokal yang menerbitkan halaman sastra dan budaya pada saat itu.

Berlanjutlah, bacaan saya beralih kepada bacaan yang berlabel sastra, baik kumpulan puisi, kumpulan cerita pendek, maupun novel. Sayang, buku sastra yang ada di sekolah hanya sedikit. Lalu, saya mencarinya di perpustakaan daerah Sumatera Barat yang jaraknya tak jauh dari sekolah. Hampir setiap minggu, saya membaca beberapa buku sastra dan mulai mengenal Taufiq Ismail, Chairil Anwar dan Putu Wijaya.

Ketika beranjak SMA, nama-nama tersebut sering muncul di buku Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan buku panduan belajar bahasa Indonesia di sekolah. Saya senang, karena lebih dahulu mengenal nama-nama mereka. Setiap ada nama-nama yang disebut sebagai sastrawan, saya mencari bukunya di perpustakaan, membaca karya mereka, melihat biografi kepengarangan mereka dan mulai mencintai dunia sastra.

Kemudian, ketika hari ini saya melihat lagi ke bawah, memperhatikan kurikulum pengajaran sastra di sekolah, saya menemukan pengajaran sastra menjadi sangat sedikit. Materi sastra dikurangi. Padahal ketika itu, saya sudah merasakan materi sastra sangat minim, karena terpaksa mencari sendiri di luar proses belajar mengajar. Sastra sangat kering di sekolah, karena guru tidak terlalu memberi perhatian lebih terhadap materi ini. Jika hari ini ada pengurangan sastra di sekolah, terbayangkan bahwa akan ada jarak antara sastra dengan pelajar sekolah. Karena perlahan, mereka meminggirkan peran karya sastra yang sangat berguna untuk mencerdaskan masyarakat itu sendiri.

***

Sastra, bagi sebagian orang dianggap sebagai tulisan yang memperjualbelikan cerita karangan (fiksi). Cerita karangan yang dibaca dalam bentuk prosa, puisi dan drama itu ditafsirkan sebagai salah satu media hiburan yang belum mampu memberikan sesuatu untuk masyarakat.

Anggapan seperti itu muncul karena pandangan masyarakat terhadap sastra masih primitif, belum mampu menjangkau hal-hal estetis dari penciptaan sebuah karangan. Apakah hal ini salah? Tentu tidak, karena masyarakat pembaca masih sangat awam dengan “bahasa dan dunia rekaan” yang diciptakan pengarang dalam karangannya. Apalagi, pembaca yang demikian tidak sempat mencicipi dunia pendidikan formal, sehingga kesalahpahaman mereka terhadap sastra semakin tajam. Akibatnya, banyak generasi sekarang mengikuti pola pokir tersebut, yang akhirnya menciptakan jurang antara karya sastra dengan masyarakat.

Seperti yang dialami di bangku sekolah, saya terpaksa belajar menemukan sendiri dunia sastra itu. Hanya ketertarikan yang memaksa saya untuk menemukan banyak bacaan sastra di luar jam belajar di sekolah. Tapi hari ini, apakah semua pelajar melakukan hal serupa?

Jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak, karena tidak semua orang senang membaca bacaan sastra. Mungkin mereka senang membaca komik, cerita laga, dunia bola dan hal-hal lain yang memang patut untuk diketahui. Tetapi mengenai sastra, hampir semua orang mengenalnya hanya melalui halaman sastra dan budaya yang dimuat setiap minggu di koran mingguan lokal dan nasional. Mereka beranggapan bahwa sastra adalah tulisan yang memuat sebuah dunia rekaan yang menarik yang diciptakan seorang pengarang, dan patut dibaca karena menceritakan kehidupan orang lain. Masyarakat menikmatinya, karena dengan cerpen, puisi, dan novel, mereka memiliki pengetahuan baru mengenai orang lain.

Lalu hari ini, beragam novel bermunculan. Dari novel islami, teenlit dan novel penggugah lainnya, mulai menarik perhatian sebagian masyarakat, khususnya kaum pelajar. Mereka menikmati membaca sebagai sebuah kebutuhan. Bahkan, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama membaca setiap buku “the best seller”, buku terlaris yang muncul saat itu. Fenomena ini sangat bagus, seperti saya yang menemukan dunia rekaan sendiri.

Tetapi sayangnya, ketika kita membahas sastra, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa setiap karya sastra yang muncul tersebut adalah dunia khayalan dari si pengarang. Dunia reka-reka, di mana si pengarang menjadi Tuhan sendiri dalam menentukan nasib tokohnya. Meskipun hal tersebut tidak salah, tetapi kemunculan anggapan seperti itu patut disayangkan. Karena sastra bukan sekedar itu saja, tetapi ada hal-hal lain yang patut diketahui, seperti objek yang menjadi perhatiannya, yaitu lingkungan sosial di mana mereka berada.

Sastra Berakar dari Lingkungan Sosial

Sastra sebagai sebuah karya tidak muncul dari khayalan saja, tetapi seorang pengarang mengambilnya dari realitas kehidupan yang terjadi. Pada dasarnya, sastra adalah sebuah media yang menjembatani masyarakat untuk membahasakan apa yang terjadi di lingkungannya, yang berkaitan dengan dunia carut marut yang mereka hadapi setiap hari. Dunia yang tak lepas dari pendidikan, politik, ekonomi dan tempat di mana mereka memposisikan diri sebagai seorang warga negara. Segala sisi kehidupan itu menjadi sorotan bagi seorang pengarang. Setiap peristiwa yang terjadi dan yang mengganjal dalam pemikirannya, semua itu menjadi perhatian pengarang. Potongan demi potongan kehidupan masyarakat dijadikan dasar penciptaan baginya.

Awalnya, karya tersebut bergejolak di otak si pengarang, yang memunculkan pertanyaan, mengapa peristiwa demikian bisa terjadi? Pemikiran-pemikiran itu ditinjaunya sendiri, bahkan ia mulai memperhatikan lingkungannya, mencari sebab, lalu sebuah kemungkinan yang dapat dijadikan solusi bagi si pembaca.

Hal ini yang menjadi perbedaan antara karya sastra dan karya populer. Anggapan masyarakat yang menjadikan karya sebagai hiburan, sebenarnya adalah tujuan dari adanya karya populer. Sementara tujuan itu berbeda dengan kemunculan karya sastra. Jika kita membuat garis, karya sastra tak hanya melewati garis pertama yang bertujuan untuk menghibur pembaca. Tetapi ia melewati garis kedua, yaitu setiap karya sastra memberikan manfaat bagi masyarakat pembacanya.

Setiap pemikiran yang menjadi titik tolak bagi seorang pengarang selalu didasarkan pada pengetahuan, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca, melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi di lingkungannya. Misalnya seperti novel Merantau ke Deli yang ditulis Hamka. Di dalam novel digambarkan bahwa laki-laki Minang yang menikah dengan perempuan di luar kebudayaannya, seperti dinikahkan dengan perempuan Jawa, maka ia akan dinikahkan kembali dengan perempuan yang sama-sama berasal dari Minang. Tujuannya untuk menjelaskan kedudukannya di dalam lingkungan masyarakat Minang, seperti posisinya sebagai seorang anak, mamak dan anggota masyarakat. Dan apakah semua laki-laki Minangkabau seperti itu?

Tentu tidak, karena Hamka menulis novel ini berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lingkungannya. Dengan adanya novel ini, Hamka ingin memberikan kemungkinan, bahwa masih ada masyarakat Minangkabau yang berpikiran demikian. Namun, Hamka juga memunculkan kemungkinan lain bahwa tidak saatnya lagi jika hari ini masih ada masyarakat yang menyandang pemikiran tersebut. Ada dunia kemungkinan yang bisa dipelajari pembaca, yang bisa dijadikannya sebagai media untuk mengenal kebudayaan dan masyarakat yang diceritakan oleh pengarang.

Bertolak dari contoh tersebut, kita dapat melihat bahwa karya tak lahir dari khayalan atau dari kekosongan semata, seperti yang diungkapkan A. Teeuw, seorang ahli sastra. Ia mengatakan setiap karya sastra lahir karena adanya peristiwa yang menjadi sebab dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Seorang pengarang mengambil satu sisi kehidupan yang dianggapnya patut diperbincangkan, lalu dengan pemikiran dan kreatifitasnya, ide-ide tersebut disejajarkan dengan kejadian di dunia keseharian yang biasa dihadapi oleh masyarakat. Dalam hal ini, seorang pengarang bertugas memberikan kemungkinan, apa yang terbaik untuk dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tampak bahwa sastra berakar dari lingkungan sosial, di mana masyarakatnya saling berhubungan dan membentuk interaksi di dalamnya.

Sastra Masih Berdiri di Belakang

Problemnya, pemahaman seperti ini belum dirasakan seutuhnya oleh masyarakat. Hanya masyarakat pembaca yang menaruh perhatiannya kepada bacaan sastra saja yang mampu menembus pemikiran demikian. Sehingga, jurang antara karya sastra dan masyarakat semakin melebar. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah usaha untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan sastra.

Belajar dari pengalaman saya dalam mengenal dunia sastra, bahwa salah satu sarana paling efektif untuk menyebarkan pengetahuan sastra secara serentak kepada masyarakat adalah melalui pengajaran sastra di sekolah. Di dalam kurikulum harus dimasukkan materi sastra, di samping pelajar mempelajari bahasa Indonesia itu sendiri. Mereka akan diajarkan mengenal dunia masyarakat melalui karya-karya sastra yang ada. Mereka juga akan mengenal bagaimana dunia kepengarangan seorang penulis, dan belajar bagaimana nantinya mereka akan menghadapi masyarakat melalui bacaan-bacaan yang ada.

Dan salah satu keuntungan dari adanya pendekatan sastra dengan pelajar adalah mereka dibiasakan untuk membaca, membaca dan membaca. Harapan untuk membuka cakrawala mereka pun berwujud nyata. Seorang pelajar tak hanya ditimpa pengetahuan ilmiah, tetapi juga dibuat peka terhadap sosial lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Dan lihat saja, ketika hari ini, media massa cetak dan elektronik memuat halaman sastra dan budaya. Mulai tampak adanya partisipasi pelajar untuk ikut serta di dalamnya, baik untuk menulis puisi atau cerita pendek. Hal ini tak lepas dari usaha sastra untuk mengajak pelajar memperhatikan lingkungan sekitar, dan dengan kreatifitas yang ada menciptakan dunia kemungkinan atau dunia rekaan sesuai dengan sudut pandang yang mereka miliki. Artinya, ada kerinduan dari pelajar untuk menikmati sastra secara bimbingan. Bahwa di dalam kurikulum sekolah, sastra juga penting bagi perkembangan psikologi dan sosial mereka.

Keinginan untuk mewujudkan harapan ini juga tak lepas dari kehadiran karya sastra yang hari ini membanjir, menuntut kesediaan pembaca untuk mengapresiasikan dan menilai bagaimana hasil kerja dari pengarang. Hal ini juga tak lepas dari harapan untuk meminimalisir jurang antara karya sastra dengan masyarakat pembaca. Sudahnya saatnya sastra berdiri di depan, meluruskan opini masyarakat terhadap perkembangan sastra itu sendiri.

Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 19 Oktober 2008

Saturday, October 18, 2008

Nasib Sastra di Bangku Sekolah

-- Fatkhul Anas*

BEBERAPA waktu lalu, Maman S. Mahayana, pengamat sastra dari Universitas Indonesia, memberikan pernyataan bahwa sastra makin terpinggirkan dari bangku sekolah (Kompas, 13-10). Pernyataan Maman ini jika diukur dari realita yang ada memang benar adanya. Sastra saat ini mengalami marginalisasi dari dunia pendidikan. Geliat untuk mempelajarinya hanya sekadar "sambilan". Bukan atas dasar suka, melainkan tuntutan mata pelajaran. Jika sang guru tidak memberi pelajaran sastra tentu si murid tidak menanyakannya. Dia acuh saja. Seolah sastra tak penting.

Nasib sastra di bangku sekolah memang sedang mengenaskan. Ibaratnya sastra hanyalah pelajaran pelengkap. Sekadar tahu, bukan untuk didalami, apalagi dijadikan hobi.

Pelajaran sastra yang biasanya digabung dengan bahasa Indonesia masih kalah pamor dengan pelajaran lain, terutama ilmu-ilmu eksak. Ilmu eksak dianggap paling bergengsi, dan siapa yang menguasainya dianggap "orang pintar". Hanya ilmu eksak dan ilmu-ilmu sosial humaniora saja yang dianggap mampu mencerdaskan. Sedangkan sastra dianggap tak mencerdaskan dan tidak bermanfaat.

Imbas Kebijakan

Persepsi terhadap sastra yang demikian "buruk" sesungguhnya tidak terlepas dari kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sebab, kebijakan pendidikan yang baik akan menentukan maju dan tidaknya pendidikan. Termasuk juga sastra.

Kebijakan pendidikan, menurut Mark Olsen, merupakan kunci keunggulan bahkan eksistensi bagi negara-negara dalam persaingan global. Sehingga, kebijakan pendidikan perlu mendapatkan prioritas utama dalam era globalisasi. Karena kebijakan pendidikan yang mampu menentukan maju dan tidaknya anak didik, diperlukan kebijakan pendidikan yang tepat.

Terkait dengan sastra, mengapa semakin lama semakin termarginalisasi? Hal ini tak lepas dari kurang tepatnya kebijakan pendidikan yang diterapkan selama ini. Sejak Orde Baru, pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan perekonomian. Saat awal orde baru, perekonomian kita begitu buruk dengan tingkat inflasi yang demikian tinggi.

Dalam buku Kebijakan Pendidikan karya H.A.R. Tilaar dan Riant Nugroho dijelaskan setelah mengalami krisis kehidupan dalam era orde lama, masuklah bangsa Indonesia ke dalam era orde baru yang dimulai dengan upaya meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Perlahan-lahan kehidupan masyarakat mulai membaik, infrastruktur dibangun, dan pendidikan diabdikan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Kebijakan era Orde Baru memang sangat efektif mengentaskan perekonomian. Namun, di salah satu sisi berakibat negatif. Terutama bagi pertumbuhan sastra. Selama Orde Baru pendidikan di-setting untuk mengentaskan perekonomian. Otomatis mata pelajaran yang menjadi unggulan saat itu adalah mata pelajaran yang berhubungan dengan perekonomian. Termasuk ilmu eksak. Dalam pekembangannya, ilmu eksak lebih diutamakan karena untuk menunjang teknologi dan industri.

Hal ini berakibat buruk bagi pelajaran yang lain karena semakin marginalnya mata pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan teknologi dan industri seperti sastra. Pelajaran sastra tidak lagi menemukan tempat. Sastra dianggap tidak penting dan tidak mampu menyumbangkan kontribusi apa-apa. Sastra dipelajari hanyalah untuk mendukung pengembangan bahasa Indonesia agar tetap lestari. Akhirnya, sastra tidak menjadi pelajaran favorit, tetapi sebagai sampingan. Yang favorit mata pelajaran yang dianggap bergengsi, seperti ilmu-ilmu eksak.

Spirit Sastra

Memang sangat disayangkan ketika sastra semakin termarginalisasi dari bangku sekolah. Padahal, kalau boleh dibilang, sastra adalah ruh kehidupan.

Dengan bersastra kita mampu menghayati hidup. Menemukan jati diri dan mampu menentukan apa-apa yang baik dan buruk serta pantas untuk kita lakukan. Sastra juga mampu membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang lelah. Bukankah Chairil Anwar dengan puisi-puisinya mampu membangkitkan para pemuda untuk berjuang melawan para penjajah? Para mahasiswa ketika berdemonstrasi juga melantunkan bait-bait puisi untuk membakar semangat.

Itulah sastra yang berfungsi sebagai ruh dalam kehidupan. Ruh dijadikan berpasangan dengan jasad. Jasad adalah fisik yang kering. Tanpa perasaan dan jiwa. Jika dikaitkan dengan ilmu, ilmu-ilmu eksak maupun ilmu-ilmu lain hanya mengandalkan daya pikir diumpamakan seperti jasad. Kering dan tanpa perasaan. Sastralah yang digunakan sebagai pasangan agar jasad itu hidup. Sastra yang mampu dijadikan penyeimbang (balance) bagi ilmu-ilmu eksak maupun ilmu yang hanya mengandalkan daya pikir, agar tidak kering dan mempunyai perasaan.

Ilmu yang hanya mengandalkan otak tanpa disertai perasaan akan berakibat buruk bagi pemiliknya. Ia cenderung menjadi manusia kaku, tak punya rasa salah, dan tak berperasaan. Dalam bertindak hanya menggunakan otaknya. Ia egois dan tidak memperhatikan perasaan orang lain.

Lihat saja orang-orang yang mahir ilmu-ilmu eksak di Indonesia. Saat meraih kedudukan dan pangkat, mereka malah melakukan korupsi. Mereka tidak peduli apakah hal iu salah atau benar, merugikan orang lain atau tidak, karena mereka tidak mempunyai perasaan. Mereka hanya mengandalkan otak dalam bertindak, sedangkan hatinya tumpul.

Pengalaman semacam ini sesungguhnya mampu dijadikan pelajaran bagi bangsa ini. Bahwa pemberian ilmu yang hanya mengadalkan daya otak saja tidak cukup. Perlu adanya olah jiwa. Olah jiwa tersebut bisa diraih dengan sastra. Sebab, sastra seperti puisi, cerpen, novel timbul dari perenungan jiwa. Ia adalah ungkapan perasaan yang dituangkan dalam kata-kata.

Dengan bersastra, diharapkan jiwa yang kering akan basah kembali. Perasaan yang tumpul akan peka kembali. Sehingga hidup akan senantiasa terarah, teratur, dan tidak semaunya sendiri. Ini artinya, sastra sedapat mungkin harus menjadi prioritas di bangku sekolah. Jangan hanya sekadar sambilan. Pelajaran sastra harus dibuat semenarik mungkin. Hindari memasukkan sastra-sastra absurd yang tidak dimengerti oleh anak didik karena mereka tidak akan suka. Ajak anak didik untuk berapresiasi. Dengan begitu, sastra akan mendapat tempat dan tidak lagi termarginalkan. n

* Fatkhul Anas, penikmat sastra serta peneliti pada Fakultas Tarbiyah UN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 18 Oktober 2008

Thursday, October 16, 2008

Guru Tentukan Pengajaran Sastra

* Kreativitas dan Apresiasi Guru Sangat Berperan

Jakarta, Kompas - Guru berperan besar dalam pembelajaran sastra di sekolah. Penerjemahan kurikulum terkait Bahasa Indonesia dan Sastra sangat tergantung pada minat dan kemampuan guru di bidang tersebut. Oleh karena itu, untuk dapat mengajar dengan baik, guru harus bisa menikmati dan mengapresiasi sastra.

Hal itu dikemukakan Kepala Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional Diah Harianti, Rabu (15/10). Dia mengatakan, guru harus kreatif dalam mencari pola pengajaran sastra. ”Kalau tidak, akan kembali jatuh ke pendekatan kognitif, seperti menghafalkan judul, nama pengarang, dan tahun pembuatan karya,” ujarnya.

Kesulitan di dalam pembelajaran muncul lantaran tidak semua guru senang, mampu, dan menikmati sastra. Persoalan lainnya, guru terlalu khawatir menghadapi ujian nasional sehingga pembelajaran lebih banyak diarahkan ke kognitif untuk persiapan ujian nasional.

Dalam tujuan pendidikan Bahasa Indonesia, menurut Diah, sudah jelas bahwa pembelajaran sastra untuk menikmati karya, memperluas wawasan, dan menghargai sastra sebagai khazanah budaya. Tidak hanya berkonsentrasi pada sastra sebagai tata bahasa. Inti dari pengajaran Bahasa Indonesia dan Sastra adalah supaya anak menikmati karya sastra. ”Kalau guru dapat mengajarkan dengan baik, kurikulum tersebut sudah memadai agar anak kelak dapat membaca, mengapresiasi, dan mengarang,” ujarnya.

Secara terpisah, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Bambang Indrianto mengatakan, pembelajaran sastra menekankan kepada sisi afektif atau olah rasa anak.

Untuk mendorong siswa meningkatkan kemampuan bersastra telah diselenggarakan kompetisi walaupun tidak menggunakan nama olimpiade.

”Sejak tahun 2008 telah diselenggarakan Festival dan Lomba Seni. Tadinya bernama olimpiade seni, tetapi ada seni yang tidak bisa dilombakan sehingga dinamakan Festival dan Lomba Seni,” kata Bambang. (INE)

Sumber: Kompas, Kamis, 16 Oktober 2008

Wednesday, October 15, 2008

Pendidikan Sastra Alami Kemunduran: Tak Ada Lagi Kewajiban Membaca Buku Sastra

Jakarta, Kompas - Pola pendidikan sastra di sekolah mengalami kemunduran yang cukup signifikan. Akibatnya, siswa menjadi kurang tertarik untuk mempelajari sastra. Padahal sastra merupakan pintu masuk untuk menumbuhkan minat membaca dan menulis di kalangan siswa.

”Kemahiran membaca dan menulis sangat bermanfaat bagi anak, termasuk ketika menekuni ilmu-ilmu lain di luar sastra,” kata Sastrawan Taufiq Ismail, Selasa (14/10) di Jakarta.

Menurut Taufiq, sastra pada dasarnya menyenangkan lantaran berupa cerita. Pada level sekolah dasar, misalnya, dikenalkan dongeng dan hikayat yang menarik bagi anak-anak. Begitu menginjak jenjang sekolah menengah pertama, murid mulai diperkenalkan kepada karya sastra, tetapi porsinya masih lebih banyak dongeng.

Di jenjang menengah atas, anak diberikan berbagai karya sastra supaya mereka mengenal dan berempati terhadap manusia lain. Umumnya, karya sastra banyak berbicara tentang kisah manusia dan lingkungannya yang beragam.

”Mengenalkan sastra dalam pendidikan tidak untuk menjadikan mereka sastrawan, tetapi agar siswa menjadi anak bangsa yang membaca buku dan mampu menulis,” ujar Taufiq.

Di zaman Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an, pada jenjang algeme(e)ne middelbare school atau AMS (setara SMA sekarang) siswa wajib membaca 25 judul buku dalam tiga tahun. Buku itu wajib dibaca sampai tamat. Murid harus membuat ringkasan dan diuji. Selain itu, mereka menulis 108 tulisan dalam waktu tiga tahun.

”Dibandingkan dengan murid di SMA sekarang, jauh sekali bedanya. Pola pendidikan sastra mengalami kemunduran,” kata Taufiq.

Untuk menggerakkan kecintaan terhadap sastra tersebut, Taufiq bersama sastrawan lain melakukan sejumlah kegiatan, antara lain, pelatihan kepada guru dan siswa dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya. Dengan bantuan Ford Foundation, mereka juga mencetak dan membagikan buku kumpulan puisi, cerpen, novel, drama, dan esai kepada 4.500 SMA negeri dan swasta secara gratis pada tahun 2002-2003.

Kurang berminat

Buruknya pola pendidikan sastra di sekolah, menurut dosen sastra dari Universitas Negeri Padang, Harris Effendi Thahar, diperparah dengan minimnya minat guru terhadap sastra.

”Kenyataan di lapangan dari pengamatan yang dilakukan di Sumatera Barat, tidak banyak guru-guru yang mampu dan sanggup mengajarkan sastra. Bahkan, di kalangan dosen bahasa dan sastra yang ada di perguruan tinggi bekas Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), hanya sekitar 25 persen yang menyukai dan menguasai sastra,” ujar Harris Effendi Thahar.

Menurut dia, dalam pengenalan sastra di sekolah-sekolah, peran guru sangat menentukan. (INE/NAL)

Sumber: Kompas, Rabu, 15 Oktober 2008

Tuesday, October 14, 2008

Bacaan Sastra Sangat Minim Sebabkan Siswa Kurang Minati Sastra

Jakarta, Kompas - Ketersediaan bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.

Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah minim fasilitas dan bahan bacaan sastra. ”Di sekolah unggulan, minat siswa terhadap sastra cukup tinggi. Bahkan, ada yang sangat menonjol. Sekolah-sekolah demikian tentu siap mengikuti kompetisi di bidang sastra, seperti olimpiade sastra,” ujarnya.

Akan tetapi, tidak demikian di sekolah yang serba terbatas. Dia mencontohkan, sekolah tempatnya mengajar di SMPN 90 yang terletak di kawasan industri, Jatinegara Kawung. Sebagian besar wali murid bekerja sebagai buruh pabrik. Sangat sulit mengharapkan anak membeli buku bacaan sastra.

”Jangankan buku sastra, membeli buku teks pelajaran saja sudah sulit,” ujarnya.

Di perpustakaan juga tidak tersedia cukup buku sastra. Nefita yang pernah menjadi pengurus perpustakaan di sekolah tersebut mengatakan, seharusnya minimal terdapat 50 judul buku sastra. Namun, di sekolah tersebut jumlah yang tersedia hanya sekitar 20 judul.

Lebih ke tata bahasa

Kurikulum pengajaran juga tidak mengacu kepada bagaimana agar siswa menggali sastra. Muatan kurikulum yang ada, sekitar 80 persen muatan kebahasaan atau tata bahasa Indonesia dan sisanya barulah tentang sastra.

Hal senada dikemukakan oleh Syamsudin, guru Bahasa Indonesia dan Sastra SMAN 35 Jakarta Pusat. Keberadaan guru-guru kreatif dan bahan bacaan sangat memengaruhi minat dan kemajuan pembelajaran sastra di sekolah. ”Gurunya harus mengerti sastra dan ditunjang buku bacaan di sekolah,” katanya.

Di SMAN 35, guru Bahasa Indonesia dan Sastra merupakan guru-guru senior di bidang tersebut. Bahan bacaan juga tersedia lengkap di sekolah yang Jurusan Bahasa dan Sastra berada di peringkat dua DKI Jakarta.

Hanya saja, gengsi terhadap Jurusan Bahasa dan Sastra memang masih dirasa kurang. Tak heran jika kemudian sedikit sekolah yang membuka jurusan tersebut dan memilih membuka jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.

”Untuk jurusan IPA dan IPS, sekitar 70 persen kurikulum bahasa lebih ke arah tata bahasa dan sisanya baru sastra,” ujarnya.

Supaya anak tertarik dengan sastra, Syamsudin tidak sekadar menekankan kepada teori, melainkan juga praktik. Melalui kegiatan praktik akan terbentuk karakter dan tergali minat anak di bidang sastra. Sebagai contoh, Syamsudin memberikan tugas kepada anak untuk mewawancarai orang terkenal dan menulis laporannya. Terkadang mereka berlatih drama.

Olimpiade sastra

Gagasan olimpiade sastra di sisi lain mendapatkan dukungan dari para guru tersebut. Melalui olimpiade tersebut, Nefita mengatakan, apresiasi dan kecintaan siswa terhadap sastra akan meningkat. Anak termotivasi mempelajari sastra dan berusaha keras mengembangkan sastra dan menghasilkan karya yang baik.

”Anak yang berbakat di bidang tersebut juga bisa menggali minatnya,” katanya.

Guru pun akan belajar dan meningkatkan pengetahuannya seiring dengan membina anak- anak untuk ikut serta dalam ajang tersebut. (INE)

Sumber: Kompas, Selasa, 14 Oktober 2008

Saturday, October 20, 2007

Perpustakaan: Membaca Tenang Tumbuhkan Minat Baca

MERANGSANG siswa untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah memang tidak mudah. Minat baca memang harus ditumbuhkan. Banyak pakar mengatakan minat baca bisa dimulai dari rumah.

Bagaimanakah menumbuhkan minat baca pada siswa? Ketua Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI) Hanna Latuputty menjelaskan, minat baca pada anak harus dimulai sejak dini. ''Bisa dimulai dari rumah. Malah ada pakar yang bilang minat baca seharusnya dimulai sejak dalam kandungan,'' kata Hanna dalam seminar bertema Kolaborasi guru dan pustakawan dalam proses belajar-mengajar di Sekolah Islam Al-Ikhlas, Cipete, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Menurutnya, apabila orang tua memiliki kebiasaan membaca, anaknya pasti suka membaca. Oleh karena itu, penumbuhan minat baca bukan dibebankan kepada sekolah saja. ''Semua harus menjadi tanggung jawab bersama. Baik sekolah, orang tua, maupun pemerintah,'' imbuhnya.

Lain lagi komentar dari konsultan pendidikan dan penulis Agus Listiyono. Menurutnya, tidak mudah menumbuhkan minat baca pada anak. Namun, para pendidik harus memberikan contoh dan motivasi, agar anak mempunyai minat untuk membaca.

Agus pun mengungkapkan pengalamannya saat memberikan motivasi minat baca pada anak. ''Pada awalnya saya mengajarkan kepada anak-anak agar membaca dengan tenang atau membaca tanpa suara. Waktunya ditentukan sekitar sepuluh menit,'' papar Agus.

Pada mulanya para siswa tidak berminat. Bahkan pada menit ketiga, mereka telah meminta untuk berhenti membaca tenang. Namun, Agus tidak menyerah. Ia tetap meminta para siswa membaca tenang. Kegiatan itu dilakukan berulang-ulang. Pada akhirnya, anak-anak telah terbiasa membaca tenang.

''Pada akhirnya anak-anak menganggap waktu sepuluh menit itu kurang. Sekarang mereka menuntut agar waktu membaca tenang diperpanjang.''

Senada dengan pengalaman Agus, Ratna Tan, guru sekaligus pustakawan dari Sekolah Pelita Harapan, Lippo Cikarang, menjelaskan, metode membaca tenang memang bermanfaat untuk mempersiapkan anak untuk belajar serius di kelas.

''Membaca tenang selama 15 menit bisa membuat anak lebih berkonsentrasi untuk menerima pelajaran selanjutnya,'' ujar Ratna.

Ia mengakui, biasanya setelah jam istirahat, anak-anak masih gaduh dan belum siap untuk belajar. Untuk itu, lanjut Ratna, jalan terbaiknya adalah dengan menyuruh membaca tenang.

Selain membaca tenang, anak didik pun harus didorong untuk sering dan suka berkunjung ke perpustakaan.

Lantas, bagaimana untuk mendorong anak didik berkunjung ke perpustakaan? Sebab, kesan masyarakat selama ini perpustakaan hanyalah terdiri dari rak-rak penuh buku yang kotor dan berdebu. Buku-bukunya terkadang tidak komplit atau sudah terlalu tua, dengan kertas yang telah menguning.

Ratna menjelaskan, kini banyak perpustakaan menyiasati untuk menarik minat pengunjung terutama para pelajar. Misalnya menyediakan majalah remaja, ruangan yang terang dengan pencahayaan yang bagus, dan desain warna tembok yang terang.

''Juru kepustakaan pun harus bisa mendekati gurunya, menanyakan apa yang mereka butuhkan dan buku apa yang diinginkan,'' ujar Ratna.

Dengan langkah-langkah itu semua, baik Ratna, Hanna, maupun Agus yakin para siswa dapat tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. (Edwin Tirani/H-3).

Sumber: Media Indonesia, Sabtu, 20 Oktober 2007

Tuesday, September 11, 2007

Pendidikan Seni: Kerancuan Akibatkan Kreativitas Anak Rendah

DALAM proses belajar, ada suatu masa yang diperlukan untuk mendalami dan mengembangkan sesuatu secara baik dan benar. Akibat kedua hal ini, kreativitas anak menjadi rendah, dan minat anak terhadap kesenian cenderung tidak ada.

Sebanyak 10.000 mahasiswa baru dan civitas academica Universitas Padjadjaran, Bandung, memainkan angklung bersama di kampus universitas itu sehingga tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai permainan angklung dengan personel terbanyak di dunia, Senin (27/8). Kegiatan ini juga sebagai upaya agar angklung diakui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. (SP/Adi Marsiela)

[JAKARTA] Kerancuan pendidikan seni merupakan kelemahan mendasar pendidikan seni di Indonesia. Untuk pendidikan formal dasar dan menengah, kesenian sangat penting untuk melatih kepekaan. Kerancuan pendidikan seni dengan keterampilan menyebabkan kreativitas anak rendah.

Hal itu terungkap dalam Seminar Pendidikan Apresiasi Seni di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin (10/9). Seminar yang diadakan oleh Akademi Jakarta dan Fakultas Bahasa dan Seni itu mengungkap beberapa permasalahan pengembangan seni yang dihadapi dunia pendidikan, non-pendidikan, maupun dari sisi informal.

Menurut Dosen Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Edi Sedyawati, seorang anak tidak akan memiliki kepekaan dengan sendirinya terhadap seni. Kepekaan terhadap seni harus dimulai melalui proses pembelajaran, dan hal tersebut memerlukan waktu yang tidak sedikit.

"Pembelajaran di dunia pendidikan juga selalu mendahului apresiasi yang sebenarnya dimiliki anak. Pembelajaran yang rancu dalam dunia pendidikan formal mengakibatkan ketidakpahaman anak mengenai seni," ujarnya.

Sebagai contoh di tingkat sekolah dasar (SD), kata Edi, terjadi kerancuan antara kesenian dan keterampilan. Mata pelajaran seni dan keterampilan digabung menjadi satu sehingga kesenian dan keterampilan dilakukan secara bergantian setiap minggu.

Padahal, kesenian sangat berbeda jauh dengan apa yang disebut sebagai keterampilan. Kesenian berarti ada suatu kepekaan terhadap apa yang didengar, dilihat, dan dipraktikkan secara nyata. Contoh kesenian adalah karawitan, seni lukis, musik klasik, sedangkan keterampilan adalah suatu bentuk kerajinan tangan.

"Jika setiap minggu hanya ada dua jam pelajaran kesenian dan keterampilan yang dilakukan secara bergantian, maka anak tidak dapat bisa memfokuskan dirinya terhadap seni. Contohnya jika minggu pertama dilakukan pelajaran kesenian memainkan seruling, dan dilanjutkan pelajaran menjahit pada minggu selanjutnya. Hal ini dapat membuat kerancuan sang anak memahami seni dalam arti yang sesungguhnya," tutur Edi.

Selain itu, kerancuan mata pelajaran tersebut, keterbatasan waktu anak dalam belajar seni juga menjadi hambatan besar. Kesempatan anak untuk mempelajari seni menjadi terbatas dalam lingkungan belajar formal seperti sekolah. Hal ini terlihat melalui terbatasnya waktu belajar sang anak. Dua jam pelajaran setiap minggunya tidak bisa membuat anak dapat mengembangkan jiwa seninya secara optimal.

Menurut Edi yang sudah mengajar sejak tahun 1963 ini, dalam mempelajari seni, waktu adalah unsur terpenting. Dalam proses belajar, ada suatu masa yang diperlukan untuk mendalami dan mengembangkan sesuatu secara baik dan benar. Akibat kedua hal ini, kreativitas anak menjadi rendah, dan minat anak terhadap kesenian cenderung tidak ada.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNJ, Prof Dr Ilza Mayuni MA, kelemahan pendidikan seni adalah ketiadaan sarana untuk mengembangkan kreativitas seni anak, juga membuat apresiasi anak terhadap seni semakin berkurang. Bahkan sangat mungkin akan menghilang. Padahal sarana merupakan penunjang dalam mengembangkan kegiatan seni anak.

Keterbatasan sarana inilah yang sering menjadikan mata pelajaran kesenian dan keterampilan menjadi satu mata pelajaran. Jumlah yang harusnya ada di dalam satu kelas kesenian juga sangat tidak optimal jika terdapat 40 siswa dalam satu kelas.

Lain lagi dengan dunia belajar tingkat pendidikan menengah seperti SMP dan SMA. Pada tingkat SMP maupun SMA, pengolahan apresiasi seni terjadi melalui kegiatan ekstra kulikuler semata.

"Dari sini kita dapat melihat terjadi pengurangan perhatian terhadap seni secara mendalam, alokasi waktu secara lebih leluasa untuk mengembangkan kreativitas seni. Pembinaan mendalam yang berkurang ini benar-benar tidak membantu anak untuk melangkah ke dunia pendidikan tinggi terutama yang mengambil pengkhususan masalah seni sebagai bidang jurusan," kata Ilza.

Melalui seminar ini juga, peran orangtua dinilai penting bagi perkembangan apresiasi anak terhadap seni. Di luar lingkungan pendidikan formal seperti sekolah, orangtua dituntut untuk dapat mempersiapkan anak mereka dengan memperkenalkan mutu terbaik dan buruk. Tetapi terkadang, kemiskinan, dan ketidakmampuan orang tua menjadi hambatan bagi sang anak dalam berkembang terutama dalam dunia seni.

Sehubungan hal itu, kata Edi, media massa harus mengambil peranan tersebut secara positif dengan memberikan tayangan-tayangan yang bersifat edukatif, dapat menghargai seni. Dengan memberikan tayangan tersebut maka, media sudah mengambil sebagian peran orang tua di rumah.

Acara seminar tersebut membahas mengenai pendidikan apresiasi seni di Sekolah Umum, dan kejuruan Non Seni, Sasaran Pendidikan Formal Kesenian, Penyiaran Apresiasi Seni di Media Massa, Pendidikan Apresiasi Seni dalam Keluarga dan Lingkungan Hunian. [MAR/U-5]

Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 11 September 2007

Wednesday, August 01, 2007

Sastra: Siswa Kumai Bentuk Komunitas Awan Senja

PANGKALAN BUN (Borneonews): Komunitas sastra di kalangan pelajar Kumai sudah terbentuk, kemarin. Tidak kurang dari 50 siswa menyetujui memberi nama KoKomunitas Awan Senja.

Willi Edi, salah satu guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kumai yang menggerakkan pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kumai mengatakan pembentukan komunitas itu berangkat dari kurangnya kegiatan sastra di kalangan pelajar.

Ia mengajak pelajar melalui pamflet dan undangan untuk mengikuti pelatihan kepenulisan.

"Saya berharap pertemuan seperti ini bisa berlangsung kontinyu," kata Willy.

Seorang siswa dari SMP PGRI 2 Kumai mengaku mengikuti kegiatan tersebut karena ditunjuk oleh gurunya. Namun ia mengaku menyukai dunia sastra, khususnya penulisan puisi.

Dua siswa dari SMPN 1 Kumai Meka dan Wisna berharap dengan kegiatan tersebut terus dilanjutkan.

"Wah, mau banget kalau ada pelatihan seperti itu," kata Meka dan Wisna.

Kedua pelajar tersebut juga sama-sama menyukai puisi.

Dalam pertemuanitu, M Azhari dari SMAN 1 Kumai terpilih sebagai ketua dengan sekretaris Desi dan bendahara Masna.

Pertemuan itu juga sepakat untuk melakukan pertemuan satu sekali dalam seminggu.

Sastrawan yang juga wartawan Borneonews Udo Z Karzi yang hadir dalam acara ini mengatakan, sangat mendukung dan sepakat untuk berkumpul dan bereksplorasi tentang sastra dan kepenulisan dalam komunitas tersebut.

Komunitas akan kembali bertemu di SMPN 1 Kumai Selasa (7/8) dengan pembahasan tentang sastra secara umum. (ET/B-4)

Sumber: Borneonews, Rabu, 1 Agustus 2007

Wednesday, April 04, 2007

Bahasa-Sastra: Remaja Masih Sulit Memahami Karya Sastra

Samarinda, Kompas - Para remaja dan pelajar di Samarinda, Kalimantan Timur, mengaku masih sulit memahami dan mencerna bahasa dalam karya sastra seperti novel, cerita pendek, dan puisi. Akibatnya, murid enggan membaca sehingga karya sastra Indonesia kurang populer.

Gugatan para remaja yang umumnya pelajar SLTA itu mengemuka dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya di gedung olahraga SMA Negeri 10 Melati, Samarinda, Selasa (3/4). Kegiatan itu dihadiri sastrawan Putu Wijaya, Joni Ariadinata, Cecep Syamsul Hari, dan Korrie Layun Rampan. Walau banyak yang mengaku kurang mengakrabi karya sastra, gedung pertemuan dipenuhi para pelajar.

Kepada para sastrawan, seorang murid SMA mengatakan, beberapa karya ditulis dengan gaya bahasa yang rumit dan ungkapan yang sulit dimengerti. "Mengapa pula ada puisi yang antara bait satu dengan lainnya seperti tidak nyambung," kata sang murid.

Namun, beberapa di antara pelajar mengakui ada pula karya yang ditulis dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti. Karya yang seperti itu umumnya disukai para pelajar.

Menanggapi hal itu, Cecep mengatakan, bahasa dalam karya sastra biasanya mencerminkan si penulis. Gaya bahasa yang rumit dalam sastra bisa jadi disengaja. Akan tetapi, ada kemungkinan pula si penulis belum matang.

Sementara Joni berharap, kendala terhadap pemahaman gaya bahasa jangan sampai membuat pelajar tak menyukai sastra. Dengan menyukai sastra, katanya, akan tumbuh kegemaran membaca sehingga banyak pengetahuan yang bisa didapat. (BRO)

Sumber: Kompas, Rabu, 4 April 2007

Friday, December 15, 2006

Mengembangkan Seni Tradisi di Sekolah

-- Indira Permanasari

Ni Randa Dadapan sedang sedih. Hujan lama tidak turun. Makanan menjadi sulit karena kekeringan melanda. Kemudian, diambilnya irus (semacam sendok sayur) yang didandaninya seperti bidadari. Tembang indah yang ibaratnya mantra lalu dilantunkan Ni Randa dengan harapan bidadari sudi menurunkan hujan.

Lakon Ngudang Widadari Nurunnaken Udan itu dibawakan dengan tradisi Dalang Jemblung oleh empat siswa SMA Negeri 5 Purwokerto, Jawa Tengah, dalam Festival Tradisi Lisan beberapa waktu lalu.

"Sampai sekarang, di beberapa daerah yang kurang air di daerah Banyumasan masih menjalankan ritual cowongan atau meminta hujan," ujar Amalia Rahayuni, guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 5 Purwokerto yang membina kelompok teater tersebut. Cowongan biasanya dibuat dari irus, kukusan, kayu, dan bambu hingga menyerupai boneka manusia.

Dalang Jemblung sendiri merupakan kesenian khas daerah Banyumas. Dalang Jemblung yang dibawakan para remaja dengan gaya berteater itu sederhana, tetapi jenaka.

Tidak ada alat musik sehingga bebunyian keluar dari bibir pedalang, pelakon atau sinden. Si pemeran tokoh, sinden, dan dalang dalam satu panggung saling berceletuk sehingga menimbulkan kelucuan. Kostum juga sederhana, seperti pakaian petani di pedesaan. Properti yang dibawa hanya sebuah boneka dari serabut dan semacam piring perak.

Dalang Jemblung cukup dimainkan 4-6 orang. Seni tradisi ini konon di daerah asalnya bisa saja dimainkan di dalam rumah lantaran tidak membutuhkan banyak perlengkapan.

Para pemain Dalang Jemblung muda tersebut tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler teater di sekolah mereka. "Kami memainkan Dalang Jemblung pertama kalinya ketika diundang Festival Tradisi Lisan di Yogyakarta baru-baru ini. Kami mencari naskah cerita rakyat ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas dan berlatih lakon tersebut. Setelah itu, baru diundang ke Jakarta," ujar Amalia.

Sebelum itu, teater tersebut belum pernah membawakan seni tradisi. "Anak-anak ternyata menyukainya, barangkali benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang," kata Amalia.

Selain lakon Dalang Jemblung itu, dua murid SMP Negeri 1 Taliwang, Nusa Tenggara Barat (NTB), Basuk dan Mizar, membawakan seni tradisi Lawas-Sakeco dari Sumbawa. Lawas-Sakeco dibawakan dengan menembang lawas sambil menabuh rebana.

Kesenian itu dimainkan dua orang dan biasanya pria. Mereka bersyair dimulai dari satu orang dan disahuti oleh yang lainnya. Isi syairnya bermacam-macam, mulai dari kritik sosial, lingkungan, dan sebagainya.

Siang itu Basuk dan Mizar membawakan syair-syair yang terkadang kocak. "Biar tidak punya motor Honda, yang penting bisa bersekolah duk... duk... duk," dendang Basuk kemudian menabuh rebananya. Kali lain dia bernyanyi.

Kedua bocah tersebut sudah belajar Lawas-Sakeco sejak kelas empat SD. "Waktu di sekolah dasar, mereka sering mewakili sekolah untuk pertunjukan Lawas-Sakeco," ujar Jaya dari Sanggar Seni Lepas yang mendampingi kedua bocah tersebut.

Selepas SD, mereka lebih banyak belajar dari lingkungannya dan tergabung dalam sanggar. Di SMP tempat mereka belajar tidak ada ekstrakurikuler seni tradisi tersebut.

Wahana pewarisan


Kalau empat remaja SMA Negeri 5 Purwokerto, juga dua remaja dari SMP Negeri 1 Taliwang, Basuk dan Mizar, mengenal seni tradisi di sekolah, itu menunjukkan bahwa sekolah justru dapat menjadi pemutus mata rantai tradisi.

Umumnya, sekolah bisa dibilang kian steril dari nilai dan seni tradisi lokal, terutama di perkotaan. Sekolah yang sistemnya cenderung seragam semakin terfokus untuk kompetitif di era globalisasi. Era yang antara lain ditandai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Akibatnya, kearifan lokal dan tradisi semakin tidak mendapat tempat. Sayangnya, seperti pernah diungkapkan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pudentia, terkadang dengan adanya sistem persekolahan, orangtua cenderung menyerahkan tugas pendidikan dan pengajaran kepada sekolah.

AM Muchtar, salah satu peserta dalam pertunjukan Massureq dari Sulawesi Selatan, mengamini hal tersebut. Massureq merupakan seni pembacaan karya sastra tulis orang Bugis, termasuk di dalamnya I La Galigo. Kata Muchtar, di zaman sekolah rakyat, dirinya masih diajarkan menulis dengan aksara Bugis dan membacanya.

"Anak dan cucu saya sekarang tidak lagi mengalami hal serupa dengan model sekolah seperti sekarang ini. Tradisi tidak lagi diajarkan. Padahal, di lingkungan sehari-harinya, anak juga diserbu oleh berbagai budaya luar," katanya.

Amalia juga mengakui, di dalam kurikulum sendiri jarang mencakup pengenalan kearifan lokal dan seni tradisi. "Untuk itu, salah satu cara yang dapat dikembangkan ialah mengenalkan berbagai kearifan lokal dan seni tradisi melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah," ujarnya.

Selain itu, pihak sekolah dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga lain yang peduli terhadap tradisi. "Mahasiswa sastra dari Universitas Jenderal Soedirman, misalnya, menawarkan untuk menampilkan teater Banyumasan di sekolah kami. Kami setuju, tetapi dengan catatan para siswa kami juga mendapatkan peran sehingga mereka dapat ikut merasakan dan mengenal tradisi," ujarnya.

Sumber: Kompas, Jumat, 15 Desember 2006