Showing posts with label udo z karzi. Show all posts
Showing posts with label udo z karzi. Show all posts

Tuesday, December 31, 2013

Posting Terakhir: Pamit!

Selamat tahun baru 2014! Semoga tahun depan akan lebih baik lagi. 

Tak terasa sewindu (2006-2013) sudah keberadaaan blog Cabik Lunik ini. Saya sebisa mungkin berusaha meng-update-nya. Hingga kini, dalam blog ini setidaknya terdapat tak kurang dari 6.165 postingan berita, feature, dan artikel yang saya sebut sebagai catatan tentang manusia dan kemanusiaan, yang dibuang jangan.

Sayang rasanya harus menelantarkan blog ini. Namun, belakangan saya mulai merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk terus-menerus merawatnya.

Ya, inilah postingan terakhir untuk Cabik Lunik. 

Karena itu, saya mohon maaf, dengan berat hati saya terpaksa menghentikan postingan-postingan di blog ini. Terima kasih atas apresiasi  teman-teman selama ini. Semoga masih bisa memberi manfaat.

Saya pamit. Tapi, tidak ke mana-mana kok. Hehee... Sementara ini saya masih menjaga blog




Tabik!

Udo Z. Karzi

Saturday, September 07, 2013

Dibanggakan tapi Dilupakan

-- Syafnijal Datuk S

Bahasa Lampung masuk dalam kurikulum sekolah, tapi generasi muda enggan menggunakan dalam keseharian.

Aksara Lampung. (SH/Syafnijal Datuk S)
Dibanding suku lain di Nusantara, nenek moyang orang Lampung termasuk yang memahami pentingnya aksara bagi kehidupan bermasyarakat.

Nenek moyang orang Lampung merupakan salah satu dari sedikit suku yang sejak awal memiliki aksara sebagai  simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya, seperti batu, kayu, kain untuk mengekspresikan unsur-unsur ke dalam suatu bahasa. Sayang, kekayaan khazanah budaya ini kurang terpelihara hingga nyaris terlupakan. Kenapa?

Menurut sejarahnya, aksara Lampung atau biasa disebut Had Lampung berasal dari perkembangan aksara Devanagari yang lengkapnya dinamakan Dewdatt Deva Nagari atau aksara Palawa dari India Selatan. Aksara ini berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka atau bahasa Arab alif-ba-ta.

Had Lampung terdiri dari huruf induk yang berjumlah 20 huruf, yakni ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha. Serta atribut lain seperti anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambang, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah Kaganga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan.

Aksara Lampung diperkirakan masuk ke daerah Sumatera Selatan pada era Kerajaan Sriwijaya (700-1.000 Masehi). Aksara ini memiliki banyak persamaan dengan aksara-aksara di luar Lampung, tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara India.

Karena ada pembeda bentuk dan digunakan oleh sebagian orang di daerah pedalaman Lampung, maka disebut aksara Lampung atau dalam bahasa daerah Lampung disebut kelabai surat Lampung, yang berarti ibu surat Lampung.

Aksara Lampung mulai jarang digunakan setelah Islam masuk. Menurut budayawan yang juga tokoh adat Lampung Zulkarnain Zubairi, sejak Islam masuk ke Lampung setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, aksara Lampung banyak digunakan untuk menuliskan mantra-mantra dan kelabai yang bertentangan dengan Islam yang tidak memercayai mantra-mantra.

Karena itu masyarakat diminta tidak lagi menggunakan aksara yang dinilai syirik itu, lalu berkembanglah peradaban baru dengan aksara Arab Melayu atau Jawi.

“Kelihatannya Islam yang masuk Lampung berbeda dengan yang berkembang di Jawa. Kalau Islam yang masuk Lampung menenggelamkan budaya lama, diganti dengan budaya Islam karena dinilai bertentangan dengan kepercayaan Islam. Sementara di Jawa, budayanya tetap berkembang sejalan dengan Islam,” ujar Zulkarnain yang biasa dijuluki Udo Z. Karzi di Bandar Lampung, Kamis (5/9).

Kemungkinan naskah-naskah kuno yang sebelumnya disimpan dan dipelajari oleh masyarakat secara turun-temurun dimusnahkan. “Yang saya dengar naskah-naskah tersebut masih ada yang tersimpan di perpustakaan di Belanda dan Jerman. Tapi saya belum lihat apa isi naskah kuno yang ditulis dalam aksara Lampung tersebut. Kemungkinan isinya mantra-mantra, sastra, dan kelabai,” ungkap Udo.

Kendati sejak masuknya Islam aksara Lampung sudah ditinggalkan, Udo tidak risau aksara ini akan punah. Justru Udo risau dengan tradisi lisan, yakni bahasa Lampung yang menurut kajian para peneliti bakal punah dalam 75 tahun ke depan.

Meskipun saat ini bahasa Lampung dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal pada jenjang pendidikan SD sampai SLTA di Lampung, masyarakat Lampung terutama generasi mudanya mulai enggan menggunakan bahasa Lampung dalam pergaulan sehari-hari.

Untuk mengatasi kepunahan bahasa Lampung, Udo berharap perguruan tinggi  memelopori penyadaran kepada masyarakat bahwa bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Untuk itu perlu strategi pemberdayaan bahasa daerah agar masyarakat Lampung bangga menggunakan bahasa ibunya.

“Bukan sporadis seperti yang dilakukan pemerintah paerah sekarang dengan mengimbau pegawai berbahasa Lampung di lingkungan kantor setiap Jumat dan menulis nama jalan dengan aksara Lampung, sebab dampaknya tidak akan signifikan,” pintanya.

Bangga Orang Lampung

Budayawan Lampung lainnya, Isbedy Setyawan juga berpandangan bahwa dengan memiliki aksara tulis dan lisan seharusnya masyarakat Lampung bangga menjadi salah satu suku di Nusantara yang memiliki warisan budaya sempurna. “Hanya sebagian kecil suku bangsa yang memiliki aksara tulis dan lisan seperti Lampung,” ungkapnya di tempat terpisah.

Terancam punahnya bahasa dan dilupakannya aksara Lampung, menurut Bang Is—panggilan akrabnya—ini karena salah persepsi dari pemerintah daerah.

Yang diperhatikan dan dilestarikan hanya terbatas pada tari, padahal warisan dan kekayaan budaya Lampung lebih banyak; ada aksara, bahasa, upacara adat, tempat bersejarah, rumah kuno, arsitektur. Sementara yang diperhatikan pemerintah hanya tari dan yang dipelajari di sekolah hanya bahasa. Itu pun bahasa tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Isbedi menyesalkan tradisi tulis menggunakan aksara Lampung yang berkembang sejak nenek moyang orang Lampung terputus kemudian yang digunakan dalam pesta-pesta adat hanya tradisi lisan sehingga generasi penerus miskin informasi mengenai tradisi nenek moyangnya.

Khusus soal bahasa, menurut Isbedi, masih menyisakan persoalan karena terdapat dua dialek, yakni dialek yang dikembangkan masyarakat adat Sai Batin, yakni masyarakat yang bermukim di sepanjang pinggir pantai di Provinsi Lampung dan masyarakat adat Pepadun, masyarakat yang bermukim di darat (pegunungan).

“Keduanya harus kita sepakati dulu bahasa mana yang akan dinobatkan sebagai bahasa Lampung. Hingga kini orang Lampung belum bersepakat soal itu, meskipun tulisannya sama tapi cara membacanya berbeda,” akunya.

Sama dengan orang Minang yang juga memiliki dua dialek, yaitu dialek a yang banyak digunakan di daerah Agam dan Padang (pantai), dan o yang digunakan di kabupaten 50 kota (darat/pegunungan). Namun yang dinyatakan sebagai dialek Minang adalah yang menggunakan dialeg a, sehingga masyarakat pendukung dialek o tidak merasa rendah.

“Itulah kelebihan orang Minang, bersepakat dalam perbedaan. Berbeda dengan di Lampung, masalah dialek saja masih belum ada persamaan persepsi dan tidak ada yang mengalah,” ia menambahkan.

Diakui Isbedi, sama dengan di Minangkabau yang memiliki Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), sebetulnya di Lampung juga ada MPAL (Masyarakat Pemangku Adat Lampung) untuk tingkat provinsi.

Di masing-masing daerah juga ada lembaga adat. Seperti di Kabupaten Tulang bawang ada Lembaga Adat Megow, Pak. Lembaga-lembaga ini bukan mengurusi budaya, tapi lebih banyak upacara pemberian gelar untuk kepentingan penguasa. “Sejauh ini MPAL tidak membuat program-program pelestarian budaya, tapi malah lebih banyak membuat program untuk kepentingan penguasa,” sindir budayawan senior ini.

Strategi

Sastrawan Lampung, Oyos Suroso HN juga menilai seharusnya lembaga-lembaga budaya di Lampung meniru program dan kegiatan yang masih berjalan di daerah lain dalam menjaga warisan budayanya. Seperti orang Jawa yang tetap menggunakan bahasa Jawa, begitu pula orang Sunda. Mungkin juga Minang dan Bali.

“Selain karena bahasa Jawa dan Sunda (lisan dan tulisan) masih aktif dipakai oleh masyarakat Jawa dan Sunda di wilayah mereka, juga bahasa Jawa dan Sunda didukung oleh media pelestarian bahasa dan tradisi seperti majalah Panyebar Semangat (Surabaya), Joko Lodhang (Yogyakarta), dan Mangle (Bandung),” ia mencontohkan.

Menurut Oyos, bahasa akan tetap hidup dan berkembang kalau masih dipakai oleh masyarakat pendukungnya. Dalam kasus bahasa Lampung, bahasa Lampung kini terancam karena daya dukung pengembangannya sangat minim. Bahasa Lampung hanya didukung masyarakatnya dari segi kelisanan. Padahal, seharusnya ada strategi pengembangan bahasa Lampung lewat pendidikan di sekolah. Itu pun harus sistematis dan ada intervensi dari pemerintah daerah.

“Perguruan Tinggi di Lampung harus mendukung pengembangan bahasa Lampung lewat pembukaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dengan jurusan Bahasa dan Sastra Lampung,” Oyos mengusulkan.

Bahasa Lampung semestinya bisa berkembang seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, Minang, Batak. Bahkan bisa lebih dari bahasa-bahasa tersebut, sebab di Nusantara hanya sedikit suku yang memiliki aksara sendiri, seperti Lampung. “Sunda yang besar dan berkembang seperti sekarang pun tidak punya aksara Sunda. Jadi, dalam segi keberaksaraan sebenarnya Lampung sejajajar dengan Jawa, Batak, Bali,” jelasnya.

Jika orang Lampung tidak sigap dalam menjaga bahasanya maka nasibnya akan sama dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Itu sudah terjadi di beberapa daerah. Data UNESCO menyebutkan, ada 12 bahasa daerah yang telah punah, yakni Hukumina, Kayeli, Liliali, Mapia, Moksela, Naka’ela, Nila, Palumata, Piru, Tandia, Te’un, Tobada’. Sebagian besar di Indonesia Timur.

“Sangat diyakini jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding yang sebenarnya karena ada banyak bahasa daerah yang tidak terdokumentasi. Intinya, yang patut dicemaskan bukan hanya masa depan bahasa tulis, tetapi juga bahasa lisan,” Oyos mengingatkan.

Kini semuanya terpulang pada orang Lampung sendiri. Jika tetap tidak ngeh (dalam bahasa pergaulan orang Lampung artinya peduli dan berbuat), maka anak cucunya hanya akan tahu bahwa nenek moyangnya pernah memiliki kekayaan tradisi tulis dan lisan, sementara mereka sendiri tidak bisa menuliskannya dan tidak bisa bertutur dalam bahasa tersebut
   
Sumber: Sinar Harapan, Sabtu, 7 September 2013

Sunday, May 05, 2013

[Figura] Mereka yang Berjarak dari Keriuhan Ibu Kota

-- Iwan Kurniawan

KISAH kehidupan pilu masih menjadi sebuah notasi bagi cerpenis Weni Suryandari. Ia mengkritik tradisi, perjodohan, dan tema klasik dalam susastra. Semuanya ia jadikan benang merah beberapa karyanya.

Lewat buku kumpulan cerpen terbaru Kabin Pateh, guru bahasa Inggris di sebuah SD di Bogor, Jawa Barat, itu menghadirkan cerpen Pelacur untuk Suamiku.

Weni menulis, 'Mulai kini, aku bukan lagi istri bagi suamiku. Aku, perempuan utuh yang menikmati kehidupan dan pengalaman yang harus kuciptakan senikmat mungkin bagi diriku sendiri.' Kendati berlarut-larut dalam isu perjodohan, Weni juga berhasil eksis sebagai salah satu cerpenis produktif. Meski sehari-hari bergelut dengan suami dan tiga putrinya, ia berhasil mempertahankan napas kreatifnya.

"Ada rasa yang mengganjal bila saya tak menuliskan apa yang saya temukan. Saya mau menulis hingga mati," ujar Weni dalam sebuah perbincangan.

Karya Weni, cerpenis yang bermukim di Bogor, menjadi penanda kiprah sastrawan daerah. Di kawasan yang berjarak dengan Ibu Kota, baik itu yang terpaut dekat maupun jauh, banyak penyair hingga cerpenis yang konsisten berkarya.

"Saya pernah hidup dan berkarya di Jakarta. Saya memilih untuk pulang kampung untuk mendirikan ruang berekspresi bagi sastrawan di daerah. Saya lebih enak berkarya di desa," ujar salah satu sastrawan di Makassar yang enggan namanya dikutip.

Komunitas sastra

Sebagian sastrawan di daerah bahkan berani menjadikan profesi penulis sebagai pekerjaan tetap. Mereka pun mendirikan komunitas-komunitas sastra buat menjaga semangat bersama rekan-rekan mereka.

Thoni Mukarrom salah satunya. Ia bergiat di Sanggar Sastra di Universitas Ronggolawe Tuban. Ia konsisten menjalankan fungsi sebagai pengamat, penggiat, kritikus, dan tentunya penulis.

Cerpen Di Bawah Cahaya Purnama merupakan salah satu karya terbarunya. Ia menuliskan, 'Bulan berwajah penuh. Angin berdesir menusukkan jarum ghaib. Perempuan itu datang lagi malam ini, di sebuah air terjun, menunggu di bawahnya sambil memandang bulan yang tersenyum sempurna.....' Thoni mengulas kisah percintaan, seseorang yang cemas menunggu, dan cinta platonik.

Bahasa daerah

Cerpenis Ngatini Rasdi, asal Desa Selo, Tawangharjo, Purwodadi, Jawa Tengah, menjaga betul ritme produktivitasnya.

Kantong-kantong budaya, geliat komunitas yang tersebar dari Aceh hingga Papua, serta koran-koran daerah menjadi pegangan seniman itu buat terus berkarya.

Di Lampung, sastrawan Udo Z Karzi bahkan memuliakan bahasa Lampung dengan puisi-puisinya. Ia juga rutin menghasilkan esai dan cerpen.

Kekayaan dan ketenangan di daerah merupakan surga kecil yang senantiasa mengalirkan energi buat mereka. (M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 5 Mei 2013

Sunday, October 07, 2012

[Buku] Kiat Heboh Bikin Biografi Gaya Ramadhan K.H.

Data Buku

The Secret of Biography: Rahasia Menulis Biografi ala Ramadhan K.H.

Zulfikar Fuad

Akademia, Jakarta, 2012

xvi + 155 hlm.

"Ini tentang pengalamanku dengannya, dengan seseorang yang mementingkan segi membangkitkan semangat dan solidaritas bangsa untuk mencapai apa yang dicita-citakannya, apa yang sebenarnya kita cita-citakan bersama, yakni kemerdekaan bagi bangsa kita. Di balik itu, ia pun adalah seorang yang sangat penuh romantika. Aku mengikutinya, melayaninya, mengemongnya, berusaha keras menyenangkannya, meluluhkan keinginan-keinginannya.

Namun, pada suatu saat, setelah aku mengantarkannya sampai di gerbang apa yang jadi cita-citanya, berpisahlah kami, karena aku berpegang pada sesuatu yang berbenturan dengan keinginannya. Ia pun melanjutkan perjuangannya seperti yang tetap aku doakan. Aku tidak pernah berhenti mendoakannya."


(Inggit Ganarsih, Kuantar ke Gerbang hlm. 2)

SIAPA yang tak tergetar membaca novel biografi Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno yang diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Sinar Harapan, 1981, kemudian diterbitkan kembali oleh Kiblat Buku Utama, 2000 dan Bentang Pustaka, 2011. Bahkan, Mizan Production memproduksinya dalam bentuk film dengan pemeran Maudy Koesnaidi (Inggit Garnasih) dan Anjasmara (Bung Karno).

Kemampuan Ramadhan K.H. dalam melakukan rekonstruksi riwayat hidup Inggit Garnasih, istri pertama Presiden Indonesia, pertama memang luar biasa. Tak perlu heran karena sebagai penyair, Ramadhan K.H. sangat memikat dalam Priangan Si Djelita (1956). Novel-novelnya Royan Revolusi (1958), Kemelut Hidup (1976), Keluarga Permana, (1978), dan Ladang Perminus (1990) mempunyai warna tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia.

Ayahanda pemusik Gilang Ramadhan ini menjadi pioner dalam menulis roman biografi. Maka, lahirlah roman biografi lain dari penanya semacam Gelombang Hidupku: Dwi Dja dari Dardanella. Ada juga biografi tokoh-tokoh besar, antara lain Ali Sadikin, Mochtar Lubis, D.I. Pandjaitan, Soemitro, Gobel, A.E. Kawilarang, Hoegeng, dan Adnan Buyung Nasution.

Yang paling heboh adalah ketika Ramadhan bersama G. Dwipayana meluncurkan Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989). Buku ini banyak mendapat perhatian publik.

Bagi pembaca buku, nama sastrawan kelahiran Bandung, 16 Maret 1927 memiliki tempat tersendiri. Kita jelas merasa kehilangan besar ketika peraih Hadiah Sastra ASEAN (Southeast Asia Write Award) 1993 ini meninggal pada 16 Maret 2006. Tapi, peninggalannya berupa tidak kurang dari 30 buku puisi, novel, dan biografi menjadi warisan tak ternilai bagi bangsa ini.

Fakta menunjukkan kepergian seorang seniman, sastrawan, atau tokoh memang tak kan tergantikan. Adakah yang bisa menjadi duplikat bagi Bung Karno, Bung Hatta, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, dan seterusnya? Rasanya sulit! Begitu juga dengan Ramadhan K.H., perjuangan hidupnya, dedikasinya, dan karya-karyanya, tidak mungkin bisa ditiru.

Namun, beruntunglah kita karena ada Zulfikar Fuad yang secara tekun berupaya "berguru" kepada almarhum. Hasilnya, lahirlah buku The Secret of Biography: Rahasia Menulis Biografi ala Ramadhan K.H. ini. Seperti ditulis dalam persembahannya, buku ini merupakan intisari pelajaran menulis biografi yang disampaikan kepada Zulfikar Fuad sepanjang 2002?2003 (hlm. 5).

Buku ini terbagi empat bagian. Bagian I menghadirkan kembali Ramadhan K.H., mengenang Sang Maestro Biografi Indonesia. Bagian II membahas beberapa hal yang melatarbelakangi mengapa menulis biografi, syarat penulis biografi, dan tahapan penulisan dan penerbitan biografi. Bagian III membahas bagaimana Ramadhan K.H. menulis biografi, strategi dan praktek menulis biografi. Dan, Bagian IV membahas tentang beberapa catatan tokoh dan peristiwa.

Sebagai penulis biografi --beberapa biografi yang sudah ditulisnya di antaranya B.J. Habibie, Derom Bangun, Mochtar Sani Badrie, dan beberapa lagi, termasuk yang sedang dalam proses terbit biografi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono--Zulfikar Fuad relatif berhasil melakukan transfer ilmu dan pengalaman Sang Maestro dalam menulis biografi melalui buku ini.

Menulis tentang manusia, pemikiran, dan lakon hidupnya memang menarik. Apatah lagi Ramadhan K.H. Karena itu, buku ini sangat enak dibaca dan sangat kaya dengan tips, motivasi, dan seluk-beluk penulisan biografi. Pada bagian akhir, Zulfikar memperlihatkan contoh-contoh penulisan biografi tokoh dalam berbagai model.

Meskipun tidak sepenuhnya kemahiran Ramadhan K.H. dalam menggeluti penulisan biografi dapat disajikan dalam buku ini seperti diakui Zulfikar sendiri (hlm. v-vi), kiranya buku ini sangat bisa memberikan inspirasi dan sekaligus menyadarkan kita bahwa segala ucapan, sikap, dan tindakan dari siapa pun bisa menjadi sejarah. Syaratnya, ditulis.

Salah satu bentuknya yang cukup menantang adalah biografi atau autobiografi kalau ditulis sendiri.

Mari menulis biografi.

Udo Z. Karzi, pembaca buku


Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Oktober 2012

Saturday, September 29, 2012

Jokowi Amalkan Kentut Ki Semar

Oleh Tandi Skober


BENARKAH taman pikir Jokowi bernuansa alur zikir Mamak Kenut, berbalut kentut Ki Semar mesem? Tanda tanya Tandi ini meluncur pada sebuah diskusi "secangkir kopi buat Indonesia" (23-9) di kedai depan Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung. Bisa jadi memang begitu itu. Jokowi telah mematematika kearifan kultural sebagai teologi kerakyatan. Heriditas pesona personality yang bertasbih pada jiwa rakyatlah yang membuat Jokowi dihalalkan duduk di mobil berpelat nomor B-1. Ia tahu bahwa, "All political theology, should be no more and no less than folk political theology, political theology of the people." (C. Song, 1982). Artinya: Semua teologi politik seharusnya menjadi teologi politik rakyat dan teologi politik tentang rakyat.

Tersebab itu, tidak aneh meskipun Fauzi Bowo memiliki kekayaan Rp59,3 miliar, didukung koalisi parpol segede gajah, berhiaskan kumis yang selalu disemir hitam dan citrakan diri sebagai sosok muslim istikamah, toh pada Pilkada Jakarta, Kamis (20-9), ambruk dikalahkan Joko Widodo dengan score 45,89% berbanding 54,11%. "Kumis di hari kamis tidak bagus dijadikan arena zero sum game pilkada," tuturku di hadapan peserta diskusi. Tapi Foke tidak juga mau mengerti. Bahkan diyakini bahwa jiwa manusia Jawa memosisikan kumis?rambut yang tumbuh di atas bibir di bawah hidung itu?sebagai simbol pria perkasa sekaligus tetenger sejatining drajating praja. Ia membuntuti pikiran bos Parpol Demokrat SBY. Timur Pradopo jadi kapolri disebabkan memiliki kumis melintang. SBY pada 2004 memilih Jusuf Kalla untuk melenggang ke istana disebabkan kumis tipis Kalla mirip Charlie Chaplin yang kerap disebut sebagai kumis politik pembawa berkah. Lantas ketika tahu Joko Widodo tidak berkumis, kian dipertebal pula kumis Foke.

Ah, Foke, andai dikau berteman daku juga Udo Z. Karzi di Facebook, pasti taulah bahwa tragedi kumis Foke di hari Kamis sudah diprediksi akan menjadi kartu mati Pilkada DKI. Tapi nasi sudah menjadi tai, mustahil dipungut ulang untuk dimakan. Yang bisa dicermati bahwa Jokowi tiap kali buat testimoni selalu diawali dengan tertawa hehehe usai itu lontarkan aksesori orasi yang cerdas. Tertawa hehehe Jokowi adalah presentasi kultural bercirikan kerakyatan khas wayang Semar sedang lontaran testimoni cerminkan aura negara batin Mamak Kenut. Terus? Kami peserta diskusi bersepakat bahwa wajah Jokowi mirip banget dengan peraih Hadiah Sastra Rancage 2008 bernama Udo Z. Karzi. "Simak, wajah tirus bertubuh kurus Jokowi cerminkan lelananging jagad yang mengadop frasa budaya Solo "cegah dahar kalawan guling," ucap saya yang disambut dengan tepuk tangan meriah.

Dalam arti lain, Jokowi kibarkan jargon teologi kultural yang berbasis pada hasrat steril akar rumput. Ini bisa dilihat ketika ada tetes eces di sudut bibir Jokowi saat melahap nasi bungkus. Hal ini paling tidak menjadi cerita citra kesalehan sosial akar rumput yang mengesankan. Bahkan ketika Jokowi tahu persis jerit tangis rakyat saat Pilkada Solo, ia ogah membalihokan gambar diri. Kenapa? Sebab rakyat tidak butuh gambar dan sesumbar. Rakyat itu butuh sandang, papan, pangan, dan udud.

Tapi itu sudah! Semua serba salah kaprah, Foke! Frasa lama Jawa ingatkan bahwa "Lanang lirlanangira yen tinemu kumis apes kamis wekasan". Lelaki akan kehilangan kelakiannya bila kumis di hari Kamis dijadikan simbol politik kekuasaan. Kumis di hari Kamis disarankan hanya untuk pemanis hubungan seksual di sebuah kamar harum bersama istri hingga fajar subuh menjelang. "Malam Jumat adalah malam ibadah menunaikan hajat kumis," tulis saya di Facebook.

Usai itu, Jumat pagi, sang pemilik kumis layak mengadop amalan Kanjeng Nabi Muhammad saw. seperti diriwayatkan Bukhari bahwa ada, "Lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu mencukur bulu kemaluan, berkhitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku."

Kumis ?Baplang?

Itu sudah! Sebagai sesama lansia tak elok kumis dipelihara, diplintir-plintir agar dilirik rakyat. Emang sih, kumis dalam perspektif teologi kultural Darma Ayu, Cirebon pertengahan abad ke-16, juga pernah menjadi tetenger dealetika demokrasi manunggaling kawula gusti. Era itu, ada pergulatan yang memetafor kumis sebagai kesatuan substansional suara kawula adalah suara gusti. Gusti yang berkumis dan kawula klimis selayaknya memanunggal lir manis kalawan madu manunggaling kawula-gusti. Kawula adalah rakyat dan gusti adalah Tuhan. Ikhwal ini bersebrangan dengan mindset penguasa saat itu yang memosisikan penguasa sebagai emanasi Ilahiah bersifat otonom dan tunggal. Dengan begitu, mustahil gusti berkumis dan kawula klimis menjadi satu kesatuan emban ingemban selawase.

Pengusung jargon yang bertentangan dengan mindset penguasa bernama Kantong Bolong. Seperti Mamak Kenut di Lampung, narasi sejarah Cirebon menuturkan bahwa Kantong Bolong adalah personifikasi nagara batin di hamparan akar rumput Dermayu. Ia memiliki kumis baplang?tidak jelas apakah Mamak Kenut juga berkumis? ia juga bersuara serak-serak basah berwajah aneh yang ngangenin. Disebabkan itu kumis Kantong Balong menjadi idola di dataran akar rumput. Kenapa? Kantong Bolong mendekonstruksi orientasi duniawi ke ruang steril ukhrawi. Ia tuding saudagar yang kuasai Pelabuhan Cimanuk adalah bayang-bayang mentalitas tak terpuji. Salah satu dari cacat besar sekaligus beban berat saat menyebrangi sirotolmustakim adalah wong ati saudagar.

Dari perdebatan antara penguasa dan Kantong Bolong inilah muncul teologi kerakyatan bahwa hanya suara rakyat yang bisa menentukan siapa yang layak menjadi penguasa. Hanya Kantong Bolong yang berkumislah yang layak menjadi demang Darma Ayu. Demokrasi kawula gusti ini menjadi pembicaraan di kalangan kasultanan Ceribon. Tersebab itu, Kesultanan Ceribon mengutus Nyi Endang Darma Ayu untuk membenahi kalbu rakyat Cimanuk. Maka peradilan kumis Kantong Bolong pun digelar. Nyi Endang paparkan bahwa suara rakyat bukan suara Tuhan tapi pada posisi tertentu adalah suara hantu. Mayoritas umat manusia pada zaman Nabi Nuh as. menentang dakwah nabi Nuh as., zaman Nabi Isa as. menentang dakwah Nabi Isa as., juga di era nabi Muhammad saw.. Artinya, suara mayoritas rakyat malah bertentangan dengan ajaran Tuhan.

Kantong Bolong kian terpuruk. Terlebih lagi saat Nyi Endang paparkan hanya Ahlul Halli wal ?Aqdi, yaitu kalangan ulama, ahli fiqih dan orang-orang yang mumpuni dalam bidangnya masing-masing yang mampu menempatkan siapa menduduki kursi apa. "Kumismu itu kumis ikan lele, Ki Sanak Kantong Balong," ujar Nyi Endang, "Hal aneh ketika bumi dicacah kuasa dan memutuskan kerumitan dengan cara menyembah pada pendapat banyak manusia. Ini lakon ling lang lung. Sebab, kebanyakan manusia itu bersepakat di atas kekufuran kepada Allah swt.. Mereka merekayasa fajir dan dhalim sebagai kesepakatan yang tidak terjelaskan."

Kumis Umbel

Kantong Bolong kalah! Ia duduk ngelemprak di hadapan Nyi Endang Darma Ayu. Ia menyayat ujung hidung. Darah Kantong Bolong membasahi jaringan kumis dan menetes ke tanah tiap kali Kantong Bolong paparkan esensi dari demokrasi kawula gusti. Sayatan darah merah itulah yang menjadi cikal-bakal berdirinya pedukuhan Lemah Abang (Tanah Merah) Sekober Indramayu.

Adakah pada Kamis (20-9), kumis dikau pada hakikatnya mendaur ulang kumis Kantong Bolong, wahai Foke? Benarkah taman pikir Jokowi bernuansa alur zikir Mamak Kenut, berbalut kentut Ki Semar mesem? Saya hanya angkat bahu! Sebab, narasi sejarah kabarkan bahwa sejak kumis Kantong Bolong memble di hari kamis, sejak itulah muncul rintihan macapat berbunyi "Benjing amenanging kala tida, wong duwur dadi umbul-umbul, wong cilik tengal-tengul nyedoti kumis umbel, brebes milih tetangisan."

Tandi Skober, budayawan

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 29 september 2012

Saturday, September 08, 2012

Mamak Kenut: 'Pubalahan' dan 'Taturik' Menukik

-- Asarpin


MAMAK Kenut, sebuah nama dalam khazanah budaya atau tradisi lisan Lampung, yang kembali dipopulerkan Udo Z. Karzi lewat serangkaian kolomnya di rubrik Nuansa Lampung Post, kini telah dibukukan dengan judul Mamak Kenut: Orang Lampung Punya Celoteh (Indepth Publishing, Bandar Lampung, Juni 2012).

Apa boleh buat, Mamak Kenut pun menjelma seorang tokoh yang begitu melekat dengan si penulisnya. Sampai-sampai beberapa teman pembaca mengindentikkan Mamak Kenut dengan sosok Udo Karzi sendiri.

Mamak Kenut adalah tokoh yang usil, cerewet, dan nakal. Sentilan-sentilan, olok-oloknya, dan celotehnya yang sarkas terasa menyegarkan untuk sebuah kolom pendek dengan ruang yang amat terbatas. Antara nama yang kampungan dengan cita-rasa yang sekolahan dalam diri Mamak Kenut tampaknya berbaur.

Sosok Mamak Kenut tak mudah ditafsirkan karena posisi dan wataknya seringkali sulit ditangkap, walaupun kelampungan dan kekampungan dari nama itu amat kentara. Mamak Kenut memang bukan tokoh tunggal dalam kolom-kolom Udo, tetapi posisinya yang sentral tak bisa dimungkiri.

Posisi ini serupa tapi tak sama dengan Mister Rigen dalam kolom-kolom Umar Kayam di Kedaulatan Rakyat tahun 1980-an atau Markisot dalam kolom-kolom Emha Ainun Nadjib. Walaupun Udo mencoba menghadirkan tokoh-tokohnya dengan posisi yang nyaris tetap dan selalu memiliki pasangan perwatakan, hemat saya Mamak Kenut adalah sebuah pokok dan tokoh sekaligus.

***

Mamak Kenut bisa jadi agak membosankan jika didekati secara tematik. Sebab, apa yang dihadirkan Udo di situ sudah pula dimamah-biak oleh media massa. Namun, yang menarik—dan menjadi daya tarik Mamak Kenut—adalah bagaimana persoalan-persoalan politik itu tecermin lewat penggunaan bahasa Udo yang khas.

Harus diakui, sebagian besar kolom dalam Mamak Kenut menggunakan bahasa campuran Lampung dan Indonesia. Bahkan, di sana-sini muncul pula bahasa Inggris. Pencampuran atau pembauran bahasa dalam Mamak Kenut bukan sekadar strategi kosong, memang barangkali diniatkan dengan sengaja agar tulisan terasa komunikatif dan lucu. Lewat bahasa Lampung Udo tampaknya sengaja mengomentari dunia Indonesia, dan lewat bahasa Indonesia ia tampak menemukan kerinduan akan bahasa kedua orang tuanya.

Apakah ini dapat disebut sebagai strategi melokalisasi bahasa Indonesia? Dengan kata lain, sebuah cara yang sengaja untuk me-Lampung-kan bahasa Indonesia sebagaimana banyak kolumnis-kolumnis Jawa yang sengaja tampaknya ingin men-Jawa-kan bahasa Indonesia? Bisa jadi karena ini kolom-kolom yang dihadirkan dengan bahasa orang kebanyakan dengan maksud menghibur.

Kalaulah Udo lebih total bereksprerimen dengan nakal, kolom-kolomnya lebih berpeluang untuk menampilkan hakikat dari falsafah wat-wat gawoh yang dipopulerkan Lampung Post. Kolom-kolom Udo hemat saya adalah jelmaan dari wat-wat gawoh yang berhasil dan mendalam.

Udo diam-diam memiliki ketangkasan berbahasa khas orang Lampung yang pandai nurik, pacak menghadirkan pubalahan. Udo kaya dengan pubalahan yang khas dan menukik, yang mengingatkan saya kepada beberapa kolom mendiang Mahbub Djunaidi, terutama dalam buku Kolom Demi Kolom.
Judul-judul seperti Politisi Olahraga, Biasa Saja, Bablas, Musyawarah-Mufakat, Orang Bersih, Kapasitas, Iqra, Sementara Itu, Satu Miliar adalah kolom-kolom tangguh yang berkelas. Bahasanya kadang langsung menukik. Kolom-kolom Udo terasa lebih kuat justru ketika ia bicara hal-hal yang tidak terkait langsung dengan isu aktual. Campuran bahasa Lampung dan bahasa Indonesia sengaja dipakai dengan maksud untuk mempertegas identitas atau mungkin menunjukkan sebuah peralihan budaya.

Udo berusaha menghadirkan kembali bahasa percakapan sehari-hari yang tidak birokratis. Udo bolak-balik menggunakan bahasa Indonesia bergaya Lampung dengan bahasa Lampung bergaya Indonesia. Dalam campuran linguistik ini, lalu lintas bahasa tampaknya berjalan sangat komunikatif. Inilah bahasa keakraban, bahasa kehidupan sehari-hari orang Lampung kini, baik yang tinggal di kota maupun di desa. Melalui bahasa campuran, pembaca merasa lebih akrab dan tersentuh.

Dari segi linguistik, Udo saya kira telah memiliki bahasa pengucapan khas, yang bukan sekadar pengagum para pendahulunya, yang memiliki keberanian berucap yang konyol tapi penuh kejujuran sekaligus bijak. Orang yang telah memiliki bahasa dengan gayanya sendiri adalah orang yang tak mudah tergoda oleh rayuan tulisan orang lain yang bagus. Kalaupun sesekali ia menelikung, ciri khas dan karakternya akan dengan mudah dikenali oleh pembaca setianya.

Saya cemburu dengan orang yang telah memiliki bahasa pengucapan khusus, dalam arti telah memiliki gaya dan ciri khasnya sendiri. Soal model dan genre yang dipakai, itu urusan nomor sekian. Yang terpenting saya telah menemukan sesuatu yang menyegarkan tatkala membacanya.

Tak banyak orang yang menyukai "kolom-kolom yang tidak serius" tapi menghadirkan urusan yang begitu serius. Ketika masih mahasiswa, saya sama sekali tak menyukai kolom-kolom Mahbub Djunaidi, Emha Ainun Nadjib, Abdurrahman Wahid, Mohamad Sobary, M.A.W. Brouwer, Zaim Saidi, dan Farid Gaban. Tapi belakangan saya "tergila-gila" dengan tulisan mereka lantaran itulah menurut saya hakikat dari sebuah tulisan esai yang sejati.

Udo selalu konsisten dengan gayanya yang ke-Lampung-Lampung-an. Saya kira ini modal awal bagi seorang penulis yang bersungguh-sungguh dan percaya diri. Dan Udo, adalah satu dari seribu orang Lampung yang mampu menyampaikan pubalahan dan taturik yang menukik dalam bentuk tulisan pendek. Orang yang pacak menyampaikan warahan atau pubalahan serta taturik secara lisan belum tentu tetap pacak ketika disampaikan dalam bentuk tulisan. Dan Udo telah melakukan itu, dan hasilnya adalah ratusan kolom yang layak untuk dijadikan bahan skripsi para calon sarjana di bidang humaniora.

Pilihan kata yang menerabas kaidah resmi dan dengan ringan mencomot kosakata daerah Lampung demi sebuah kisah yang hidup, sungguh amat terpuji. Pilihan kata ada yang begitu lucu. Ambil contoh misalnya kata "pelitisi". Kata ini tentu pelesetan dari politisi. Selain logatnya agak kelampungan, kata ini mengandung maksud ledekan atau sindiran. Udo memilki semangat bertutur secara lisan yang kadang unik, tetapi terkadang begitu polos, seperti “Gua Gegol Nanti”. Gerundel-gerundel dan pisuh-misuh-nya amat berbahaya dan bisa menimbulkan perkara yang panjang.

Barangkali dapat dimaklumi jika anak-anak muda kurang berselera dengan gaya Mamak Kenut, apalagi anak muda yang tak mengerti bahasa Lampung. Tapi jangan coba-coba meremehkan pembaca tua, apalagi dengan santai Anda yang berusaha membacakannya kepada kakek Anda, apalagi dia orang Lampung, spontan rawut wajahnya ceria dan terkadang tertawa terbahak-bahak (mungkin) tidak karena ceritanya lucu, tetapi pilihan nama tokoh-tokohnya begitu menyentuh perasaan kelampungan. n

Asarpin, Esais, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 8 September 2012

Wednesday, July 18, 2012

Menetaskan Telur di Ujung Tanduk

-- Hardi Hamzah


TRANSFORMASI sosial bagi seorang Udo Z. Karzi, tampaknya bukanlah sekadar fenomenal, melainkan ia lebih banyak memandangnya sebagai ruas kehidupan yang mengasyikkan.

Ini terlihat dalam kumpulan kolom (nuansa)-nya yang terbilang banyak dalam bukunya Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh (diterbitkan Indepth Publishing, Bandar Lampung, Juni 2012). Dalam buku ini, Udo mengintrodusasi fenomena perubahan menjadi fenomenal dalam lakon para tokoh khas daerah Lampung Mamak Kenut dan konco-konconya. Dari sinilah kemudian mengalir nafas sosiopolitik yang ditekuk-tekuk oleh kesejarahan zaman kebebasan era reformasi.

Bahasanya yang tumpah dari baskom lakon dinamisasi sosial, politik, budaya, dan seabrek lagi kencan-kencan interaktif, mengingatkan saya dengan rubrik secangkir kopi yang diasuh Emha Ainun Nadjib dalam surat kabar Masa Kini Yogyakarta (1988), dan atau sketsa-sketsa lainnya yang telah dipaparkan Djadjat Sudradjat dalam pengantar buku ini.


Promosi Lampung

Udo Z. Karzi alias Zulkarnain Zubairi seakan memayungi budaya Lampung lewat para tokoh-tokoh yang ditawarkannya. Udo yang memenangkan hadiah Sastra Rancage 2008 lewat buku puisinya Mak Dawah Mak Debingi (2007), sungguh concerned dengan budaya Lampung, meskipun budaya Lampung terus-menerus tercabik-cabik oleh zamannya.

Oleh karena itu, buku setebal 226 halaman ini memberikan kontribusi untuk melestarikan budaya Lampung (meskipun Udo hanya melalui nama-nama tokoh ansich), yang pada gilirannya menjadi amat penting.

Pada titik inilah, kita merasakn betapa gigihnya Udo Z. Karzi memperjuangkan budaya Lampung melalui kesusastraan dan esai-esai. Ini setidaknya bila kita rasakan makin "gombalnya" orang Lampung sendiri yang kerap menjadikan tradisi dan budayanya secara temporer, bahkan mengaduk-aduknya dalam kiasan yang centang-perenang di TVRI dan merampoknya lewat lakon seremoni para birokrat.

Itulah sebabnya, budaya Lampung, kini bak telur di ujung tanduk yang siap diremas siapa saja dengan alasan idiom "Lampung itu Indonesia Mini", "Orang Lampung Sangat Terbuka" dan seterus dan seterusnya, yang tanpa terasa idiom ini justru menggeser setting sosial budaya Lampung kehilangan pakemnya.

Dus, Udo Z. Karzi jauh dari ingin meremas telur yang telah di ujung tanduk itu, tetapi ia berusaha menetaskannya agar beranak-pinak dan besar serta memberikan benefit tersendiri. Apalagi bila buku yang meskipun hanya kumpulan nuansa ini diterjemahkan dalam bahasa Lampung, barangkali saja telur yang telah di ujung tanduk itu benar-benar bisa menetas dan menjadi "anak ayam" kebudayaan Lampung yang makin mahal harganya.

Kumpulan tulisan yang terasa basah ini, menjual suatu strategi sendiri bagi jalan pintas untuk mempromosikan Lampung tidak dengan seremoni. Menguatnya celotehan para lakonnya menghidupkan api tradisi Lampung dalam dimensi kebudayaan.

Ya, Tampaknya Udo merasakan betul, bahwa kebudayaan Lampung, apa pun juga alasannya makin "dikeringkan" oleh birokrat. Bahkan, diperalat menjadi komoditi politik, sementara Udo Z. Karzi terus menerus mentransformasikannya, meskipun sekecil apa pun premis-premis yang disajikannya.

Di sini mengingatkan kita pada Trotzky yang memperpanjang napas Rusia melalui polemik kesusasteraan Rusia, yang kemudian dikalkulasikan ulang oleh St. Takdir Alisjahbana dan Syahrir dalam polemik kebudyaan pada paruhan kedua tahun 30-an.


Telur KebudayaanKendati namanya juga celoteh Udo Z. Karzi, harus diakui bahwa kehendaknya untuk menyelamatkan budaya Lampung yang telah diujung tanduk itu sedemikian dinamis. Biarlah "telur kebudayaan" bergelayut, singkirkan tanduknya dan eramkan telurnya dalam sosok-sosok yang sangat ngelampung.

Yang pada gilirannya kita dapat menimang-nimang kebudayaan Lampung sesuai dengan pakemnya. Karena bisa saja para penguasa di daerah ini memecahkan telur kebudayaan itu, atau mengambil atau menggeser tanduk sampai telur kebudayaan pecah dalam genggaman antara pepadun dan saibatin.

Kalaulah ini terjadi dan hal ini sangat mungkin, buku ini dapat menjadi fundamen atau kandang bagi ayam yang kemudian dapat menemukan induknya tersendiri. Bahwa, Lampung tidak hanya berada pada dikotomi pepadun dan saibatin, tetapi Lampung juga punya tokoh-tokoh jenaka yang patut diperkenalkan.

Di sini, Udo mengkajinya dengan jernih melalui buku ini sehingga lagi-lagi kita berharap agar "telur kebudayaan" yang telah di ujung tanduk itu benar-benar menetaskan kesadaran sublimatif, semisal kita tidak lagi malu berbahasa Lampung, muatan lokal (mulok) di sekolah tidak hanya mengenalkan aksara, dan last but not least para birokrat "tidak merampok kesenian dan budaya Lampung" semena-mena.

Selamat Do, teruskan pergulatanmu untuk menembus rusuk terdalam menyadarkan kita semua, bahwa Lampung kalau ingin besar tidak hanya lewat kosmopolitan, tetapi lewat sebongkah harapan yang diwujudkan lewat karya-karya.

Hardi Hamzah, Peneliti Madya Mahar Indonesia Foundation

Sumber: Lampung Post, Rabu, 18 Juli 2012

Saturday, June 09, 2012

Di NTB, Menunggu Tetas Harapan Jassin

-- Budi Afandi


30 MEI adalah hari dimana telah dilahirkan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, hari kelahiran yang didasarkan pada saat ia (PDS H.B. Jassin) diresmikan oleh Ali Sadikin (1977) ketika menjabat sebagai Gubernur DKI. Semoga keberadaan PDS H.B. Jassin terjaga hingga akhir waktu, sehingga tetap bisa melakukan kerja-kerja yang selama ini telah, masih dan akan terus dilakukan.

Setitik Harapan Jassin

Bagi para pegiat dan peminat sastra Indonesia dan dunia, mungkin hanya sedikit yang tak mengenal nama, Hans Bague Jassin (alm), yang diakrabi juga dengan sebutan “Paus Sastra Indonesia.” Ada juga yang menggelarinya dengan sebutan “Penjaga Sastra Indonesia, “Kritikus sastra yang bekerja secara cermat dan kontinyu” juga “Penerjemah Yang Baik.” Ketekunan pria yang meninggal pada 11 Maret 2000 itu dalam giat pengembangan kesusastraan Indonesia sudah tidak perlu diragukan.

Bilamana saya teringat hari kelahiran PDS H.B. Jassin, saya teringat pula pada salah satu esai dalam kumpulan esai H.B. Jassin berjudul Koran dan Sastra Indonesia (Puspa Swara; 1994). Dalam buku itu terdapat esai penutup yang berjudul Fungsi Lampiran Kebudayaan Dalam Pembinaan Kesusastraan, yang dikutip dari H.B. Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai IV; Jakarta; Gramedia; 1985, edisi revisi hal.125-129.

Pada esai penutup itu ada kalimat Jassin yang berbunyi,”Pengharapan satu-satunya yang bergetar dalam hati sanubari ialah semoga tiap kota dan daerah merupakan pusat penerbitan kebudayaan.” Melalui esai itu Jassin menyoroti keberadaan Lampiran Kebudayaan di sejumlah majalah (pada masa itu). Dan dalam esai itu pula, jelas terpapar bagaimana Jassin memandang strategis sebuah ruang penerbitan yang disediakan bagi perkembangan kebudayaan dan kesusastraan. 

Hari ini, penerbitan dalam berbagai bentuknya, mulai dari koran, buku dan majalah telah menjadi ‘piring’ yang sangat besar peranannya dalam memberikan nutrisi bagi kehidupan kebudayaan dan kesusastraan dalam masyarakat. Kita bisa melihat dengan jelas, bagaimana terbitan-terbitan kebudayaan dan sastra muncul dan menghiasai rak-rak di toko buku, pun demikian terjadi pada majalah, tabloid dan koran.

Perkembangan  penerbitan kebudayaan, seni dan sastra tersebut sangatlah menyenangkan untuk dilihat, dinikmati, dipelajari dan kemudian dibanggakan. Mengingat posisi strategis kebudayaan, seni dan sastra memang demikian penting dalam sejarah perkembangan kita sebagai bangsa. Sesuatu yang juga sempat ditegaskan Jassin dalam kumpulan esai yang lainnya. (lihat H.B. Jassin; Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa; Puspa Swara;1993; hal.43-53)

Sampai detik ini, Suara NTB merupakan koran daerah di NTB yang mulai memberikan ruang dan mengelola tulisan-tulisan sastra dengan lebih profesional, tinimbang koran lainnya. Halaman Opini, Suara NTB secara umum telah memuat berbagai tulisan dalam berbagai genre, termasuk sastra. Bagi saya, hal itu menunjukkan indikasi positif yang bisa mengarah pada kemungkinan terwujudnya pengharapan yang bergetar di sanubari Jassin, di NTB.

Tanpa bermaksud mengecilkan keberadaaan koran lain yang ada di daerah ini. Saya memandang usaha Suara NTB sebagai anak dari inangnya (Bali Post), menunjukkan gelagat positif ke arah sikap yang telah lama dipilih Bali Post yakni menyediakan ruang Apresiasi bagi tulisan-tulisan sastra. Dan jika suatu ketika Suara NTB melakukan hal tersebut, lalu dikelola secara profesional, maka Suara NTB telah mengambil langkah berani untuk mencatatkan namanya dalam sejarah perkembangan Sastra Koran di Indonesia.

Hari ini, kita tentu bisa melihat banyaknya majalah, tabloid dan koran yang secara rutin menyediakan ruang sastra. Meski beberapa di antaranya tidak melakukan secara rutin, sebab ada koran yang menjadikan halaman tersebut sebagai halaman tidak tetap yang bisa muncul dan tak masalah jika dihilangkan.

Tapi tentu ada cukup banyak majalah, tabloid dan koran yang dengan serius mengelola halaman sastranya dan memertahankan dengan baik. Kita bisa melihat belasan hingga puluhan koran (nasional dan lokal di berbagai daerah) melakukan penerbitan halaman sastra secara rutin pada hari sabtu dan minggu. Sebut saja Bali Post, Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Sinar Harapan, Sindo, Riau Pos, Tribun Jabar, Medan Bisnis, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Haluan Padang dan banyak lagi yang lainnya. Bahkan sejak 1991, ada koran yang mulai melanjutkan penerbitan sastranya dengan menerbitkan buku kumpulan yang berisi karya sastra yang pernah mereka tayangkan di media masing-masing. Hal yang saya kira suatu ketika akan mampu dilakukan di NTB, mengingat besarnya potensi kesusastraan kita.

Modal Besar Kesusastraan NTB

NTB adalah sebuah kawasan yang memiliki sejarah kesusastraan (lisan dan tertulis) yang terbilang sangat besar. Sebagaimana yang disampaikan Usup Mahri dalam sebuah tulisannya berjudul, Ideologi Dalam Mitos Mandalika (Tinjauan Strukturalisme Lévi-Strauss). Bahwa begitu banyak karya sastra (lisan dan tertulis) yang kini masih tersebar di masyarakat, pun yang telah tersimpan di Museum NTB. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung mencapai lima ribuan. NTB juga begitu kaya dengan pencapaian kesusastran lisan di masa lampau, terlihat jelas dengan tidak sedikitnya sastra lisan dalam bentuk puisi dan prosa (dongeng).

Tapi tentu kita semua sadar, bahwa kebesaran sejarah kesusastraan kita tidak bisa hanya dibanggakan. Namun lebih dari itu, sejarah itu harus dibuktikan keberlanjutannya dengan karya-karya sastra di masa kekinian.

Di masa kini, cukup banyak penulis sastra NTB yang telah mencatatkan namanya dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Kita mengenal adanya (Alm) Putu Arya Tirtawirya, Dinullah Rayes. Kemudian ada Sindu Putra, Marewo, Imtihan Taufan, Eko Wahono, Geger Prahara, Rianto Rabbah, dan yang paling kekinian ada Kiki Sulistyo. Dan saya yakin  masih banyak lagi potensi penulis sastra di NTB yang belum tersentuh mata, tersembunyi di bentangan Lombok dan Sumbawa. 

Keberadaan sastrawan NTB yang hingga kini masih bertahan dan berkarya, kiranya patut menjadi pertimbangan bagi Suara NTB (jika nanti melahirkan halaman seni dan sastra). Saya kira mereka telah cukup teruji untuk menjadi penjaga gawang agar lempiran sastra bisa terjaga mutunya. Sesuatu yang sangat berkaitan dengan keberlangsungan halaman dan minat penikmat dan pembaca sastra. Hal yang telah dilakukan Bali Post dengan menempatkan sosok sekaliber Umbu Landu Paranggi (puisi) dan Oka Rusmini (cerpen). Pun begitu dilakukan Kompas dengan Putu Fajar Arcana (cerpen) dan Hasif Amini (sajak), Koran Tempo dengan Nirwan Dewanto, Sinar Harapan bersama Sihar Ramses Simatupang, Lampung Post dengan Udo Z. Karzi, dan banyak lagi yang lainnya.

Satu lagi potensi besar yang terpendam di NTB adalah adanya ribuan terbitan sastra di perpustakaan pribadi (alm) Putu Arya Tirtawirya. Sesuatu yang sangat tak berbilang nilainya jika mampu dirawat dengan baik dan dinikmati oleh generasi-generasi muda di NTB. Konon di ruang perpustakaan tersebut terdapat surat-surat antara almarhum dengan H.B. Jassin, Goenawan Mohamad, Budi Dharma dan banyak tokoh sastra lainnya. Alangkah luar biasanya jika semua potensi tersebut dikelola dengan baik, untuk kemudian digunakan dan mampu mendatangkan manfaat, sebagaimana yang dilakukan (alm) H.B. Jassin dengan Pusat Dokumentasi Sastranya.

Budi Afandi, Departemen Kajian Komunitas Akarpohon Mataram-
     
Sumber: Suara NTB, Sabtu 9 Juni 2012

Thursday, May 03, 2012

Sastra Marjinal dan Pemarjinalan Sastra

Oleh M. Nasrurrohman


Judul Buku: The Regala 204B
Penulis: Nera Andiyanti dkk.
Penerbit: Gapuraja Media Kudus
Cetakan I: Agustus 2006
Tebal: 116 hlm.

DIA menarik tanganku dengan paksa menuju ke ranjang. Tapi ku coba untuk menepisnya sekuat tenaga. Tiba-tiba laki-laki itu berbalik dan menyambar pistol yang tergeletak di atas meja. Lengkahnya kembali mendekat padaku. Sementara moncong pistol itu tepat mengarah di keningku. Setapak demi setapak langkah itu kian mendekat. Tak terbayangkan di mana letak jantungku. Yang kurasakan detaknya tengah berpacu dengan cepatnya. Terlalu cepat untuk aku hitung perdetiknya. Persendianku terasa lolos. Batinku menjerit. Menyebut Asma Allah.(hal. 31)

Sepenggal cerita di atas memberi sedikit sentuhan pada pembaca. Di sini, Nera telah menggambarkan seluruh cerita yang ada dalam buku ini. Bagaimana kehidupan orang-orang marjinal. Sastra “Persembahan untuk kaum marjinal,” melihat titel tersebut, memang layak untuk dipersembahkan, ini tak lepas dengan isi buku ini yang bercerita tentang kaum marjinal. Kaum ini sering dipandang sebagai sekelompok orang yang selalu menerima belas kasihan orang lain atau mereka yang tinggal dipinggiran kota. Tapi di sini, dalam kumpulan cerpen (kumcer) The Regala 204 B, editor menuliskan kaum marginal bukan sekelompok orang yang selalu menerima belas kasihan orang lain. Sesuai dengan cerpen yang di tulis, justru orang marjinal di sini, mereka yang gigih berjuang dalam genggaman “penguasa”.

Buku ini pun tidak sekedar bercerita tentang anak jalanan atupun (maaf) pengemis. Tapi lebih dari itu, seperti dalam cerpen Nera Andiyanti, Nela sebagai tokoh utama dalam cerpen The Regala 204 B bukan gadis dari kaum marginal, hanya saja ia teraniaya. Dan masih banyak cerita dalam buku kumcer ini. Dari sebelas cerita yang di muat, kebanyakan bercerita tantang kehidupan yang mengharukan.

Saat ini aku terbangun dari tidur yang bersisian dengan emak. Suara-suara aneh mengusik telingaku. Kulihat emak bersama Kimong. Di atas alas kardus. Aku pun pura-pura tidur pulas kendati emak bekali-kali menoleh ke arahku di tengah-tengah desah anehnya dan gerak liar Kimong.”(hal. 45). Coba cermati penggalan cerita ini, ia lebih menggambarkan pada kehidupan jalanan yang penuh dengan kecamuk kekejaman dunia, pergaulan bebas dan dekadensi moral.

Melihat dua contoh cerpen di atas, ada dua tema besar yang di usung, pertama, Marjinal Karena kekejaman kaum kapitalis, kedua, Marjinal karena keadaan dunia yang telah menjadikan manusia harus mengadongkan tangan pada juragan.

* * *

Ada sisi menarik dari kumcer ini, sudut pandang penulis mempunyai banyak kesamaan, terutama dalam tema yang diangkat. Antara fiktif dan realis memang sulit dibedakan, jika sudah masuk dalam sebuah tulisan sastra. Terlepas dari fiktif dan non fiktif, kumcer ini telah mengatakan kepada dunia, bahwa inilah kehidupan saat ini yang terjadi.

Setelah membaca semuanya, ada sedikit keganjalan. Apakah cerita “Di Sebuah Persimpangan”-nya Udo Z Karzi dalam buku ini termasuk cerita tentang orang-orang marjinal? Atau memaksa untuk memarjinalkan? Jika itu yang terjadi, berarti ini cerpen yang termarjinalkan. Selain itu, kenapa harus The Regala yang menjadi titel dari buku ini, padahal “Catatan Harian Gembel Cilik dan Kurir”, bagi saya lebih menarik dan ceritanya lebih dekat dengan orang-orang marjinal. Selain bercerita kemarjinalan, buku ini adalah bagian dari marjinalisasi editor, meski ini menjadi otoritas editor dalam menerbitkannya dan memilih titel yang menarik.

Di sisi lain, buku ini patut mendapat sambutan positif, karena ini akan menjadi catatan penting bagi kaum muda penerus, sebagai penulis sastra marjinal – yang tak termarjinalkan. Dan satu catatan lagi, buku ini akan lebih baik lagi jika terbitan kedua hadir dengan tampilan yang lebih menghebohkan dengan cerita yang benar-benar tentang kaum marginal. Karena kaum marginal mempunyai banyak sisi menarik untuk menjadi catatan sastra. Semoga tidak sampai di sini. []

 

---------------
M. Nasrurrohman,  anggota Kelompok Belajar Sastra E-Ja Kudus.

 

Sumber: Sastra-Indonesia.com,  4  Mei 2012

Monday, August 04, 2008

Dicari: Sastra(wan) Kalteng!

-- Udo Z. Karzi*

SUDAH lama memang saya bertanya-tanya, adakah sastrawan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Teman-teman bilang ada. Namun, siapa, tidak ada yang bisa menyebutkannya.

Sama saja ketika Temu Sastra se-Kalteng, 18 Juli 2008 lalu, Kepala Kantor Bahasa Kalteng Puji Santoso menyebutkan Kalteng baru memiliki tiga sastrawan yang dikenal publik. Lagi-lagi saya tidak menemukan nama.

Menurut Puji Santoso, apresiasi masyarakat yang rendah terhadap sastra di Kalteng menyebabkan daerah ini sangat minim menghasilkan sastrawan dan karya sastra bermutu.

Warga kurang meminati karya sastra. Alasannya, karya sastra tidak mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dibutuhkan warga sehari-hari. Sebagian besar warga Kalteng yang hidup masih miskin dan tersebar di berbagai daerah pedalaman, menyebabkan sastra sulit berkembang di daerah itu.

Ada yang salah? Kepala Kantor Bahasa Kalteng menuding media massa kurang mendukung perkembangan sastra di Kalteng. "Media massa seharusnya ikut bertanggung jawab melestarikan sastra
dengan menyediakan ruang khusus atau kolom sastra. Saat ini baru beberapa media saja yang telah memberikan apresiasi untuk ini," jelasnya.

Ah, argumen yang terlalu materialistik. Saya sungguh heran jika persoalan sastra terkait dengan persoalan kaya-miskin.

Kita lihat kantong-kantong sastra di tanah air: Medan, Sumatera Barat, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Lampung untuk menyebutkan beberapa tempat. Saya kira bukan persoalan tempat-tempat itu penduduknya sudah makmur-makmur, sehingga mereka dapat membuat karya sastra dan mencetak sastrawan.

Tanpa harus bertanya kepada Biro Pusat Statistik, Kalteng toh bukan provinsi yang terlalu miskin dibandingkan dengan, katakanlah Provinsi Lampung yang masih menjadi provinsi termiskin kedua di Sumatera. Tadinya, nomor satu sebelum digeser Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pasca tsunami tahun 26 Desember 2004.

Saya ambil contoh Lampung karena saya tahunya cuma Lampung. Kemiskinan, penganguran, daerah terisolir, dan masalah sosial lain masih mendera provinsi ujung Pulau Sumatra ini. Tapi, sastra memang tidak terkait dengan kaya-miskin, sehingga Lampung dikenal sebagai 'negeri penyair'.

Bahkan, sastrawan Djadjat Sudradjat dalam sebuah acara Temu Penyair Lampung sempat mengatakan, di tengah berbagai masalah sosial-ekonomi-politik yang mendera, nama Lampung diselamatkan oleh sastrawan (penyair). Pengamat sastra tanah air mengakui pertumbuhan syair (dan penyair) di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ini sangat pesat. Saat ini, puluhan penyair tinggal dan pernah tinggal di provinsi ini.

Kalimantan sendiri sudah melahirkan beberapa nama sastrawan seperti Odhie's, Yusach Ananda, dan Korrie Layun Rampan. Yang terkini, ada Pay Jarot Sudjarwo dan Hasan Aspahani.

Saya juga heran, dari nama-nama itu hampir tidak ada (untuk mengatakan memang tidak ada) yang berasal dari Kalteng. Karena kemiskinan? Ah, saya malah berpikir kemiskinan dan juga masalah sosial justru bisa menyuburkan sastra. Bukankah kemiskinan (asal bukan miskin jiwa) justru membuat orang lebih kreatif?

Memang, perlu 'situasi kondusif' yang memungkinkan lahirnya kreativitas (karya sastra dan sastrawan) untuk kemudian terus-menerus dipupuk agar subur dan berkembang baik. Situasi seperti ini (pesatnya perkembangan sastra) memang tidak lahir begitu saja. Harus ada yang tanpa lelah menjadi lokomotif yang menggerakkan sekaligus menjadi inspirasi.
Media massa sebagai salah satu sarana bisa juga membantu mendorong ke arah itu. Bagaimana pun media juga membutuhkan karya-karya sastra yang berkualitas.

Entah, siapa yang mau memulainya. Dan, harus dari mana dimulai. Saya hanya mau pasang pengumuman.

Dicari: Sastra(wan) Kalteng!

* Udo Z. Karzi, Seorang penikmat sastra, sementara ini tinggal di Pangkalan Bun

Sumber: Borneonews, Senin, 4 Agustus 2008

Baca juga: Sastra di Kalteng Sulit Berkembang

Monday, February 04, 2008

Pustaka: Rancage untuk Karya Sastra Berbahasa Ibu

RANCAGE terus memperluas jangkauan karya sastra berbahasa ibu. Mulai tahun ini, Yayasan Rancage memberikan penghargaan kepada karya sastra berbahasa Lampung. Dengan demikian, Rancage kini menjangkau karya sastra dalam empat bahasa ibu, yakni Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung.

Buku kumpulan sajak Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang tak Malam) menjadi karya sastra berbahasa Lampung yang mendapat penghargaan Rancage pertama kalinya. Zulkarnain Zubairi-lah penyair yang menyusun kumpulan sajak yang diterbitkan BE Press, Tanjungkarang Barat, Lampung, itu lewat nama pena Udo Z Karzi.

Sajak-sajak Udo ini lebih banyak berbicara problem-problem kehidupan masa kini yang dihadapi masyarakat bawah. Dalam sajaknya juga terekam isu-isu lingkungan, pengangguran, korupsi, juga ketuhanan. Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, Ajip Rosidi, berharap penghargaan tersebut bisa mendorong sastrawan lain untuk menulis karya sastra dalam bahasa lampung.

Para penerima penghargaan Rancage 2008, telah diumumkan bersamaan dengan peringatan 70 tahun Ajip Rosidi. Selain Udo, sastrawan lain yang juga menerima penghargaan ini adalah Godi Suwarna untuk karyanya Sandekala. Karya Godi ini mengungguli 32 karya berbahasa Sunda yang terbit sepanjang 2007.

Sandekala merupakan roman yang dituturkan dengan kata ganti orang pertama uing (saya) dalam bahasa dialek Ciamis. Roman ini dikisahkan dengan latar belakang krisis multidimensi yang kemudian melahirkan reformasi.

Dengan penghargaan tersebut, Godi tercatat tiga kali menerima anugerah Rancage. Hadiah ini pertama kali diterimanya pada tahun 1993 untuk kumpulan puisinya yang berjudul Blues Kere Lauk. Penghargaan serupa juga diterimanya pada tahun 1996 lewat karyanya berjudul Serat Sarwasatwa yang merupakan kumpulan cerita pendek.

Sedangkan untuk karya sastra berbahasa Jawa, penghargaan Rancage 2008 diraih oleh Bledheg Segara Kidul. Kumpulan sajak karya penyair Turiyo Ragilputra ini mencerminkan sikap dan perhatian penyair terhadap budaya, bangsa, dan rekan-rekannya. Bledheg Segara Kidul ini menyisihkan 24 karya berbahasa Jawa yang terbit sepanjang tahun 2007.

Penganugerahan hadiah sastra Rancage untuk karya sastra berbahasa Bali diserahkan kepada I Nyoman Manda untuk karya romannya Depang Tiang Bajang Kayang-kayang. Roman ini berisi kisah pertautan hati antara gadis Bali dan pria Australia yang terhenti akibat peristiwa bom Bali.

Menurut Ajip, panitia menilai lima judul buku berbahasa Bali yang terbit sepanjang 2007. ''Ini lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya ada belasan judul,'' tutur Ajip.

Selain Manda, pria Bali yang juga mendapatkan hadiah Rancage tahun ini adalah I Made Suatjana. Dia adalah penemu program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar. Program ini bisa diaplikasikan dalam komputer lewat program Microsoft Word.

Untuk semua penerima penghargaan Rancage, panitia memberikan piagam dan uang masing-masing senilai Rp 5 juta. Panitia menjadwalkan penyerahan piagam dan hadiah tersebut pada Mei 2008 mendatang.

Bersamaan dengan diumumkannya penerima penghargaan Rancage, panitia juga menentukan penerima Hadiah Samsudi 2008. Hadiah ini didedikasikan untuk penulis buku bacaan anak-anak berbahasa sunda. Untuk tahun ini penerima hadiah Samsudi adalah Ai Koraliati untuk karyanya Catetan Poean Rere. Ai berhak mendapatkan piagam dan uang senilai Rp 2,5 juta. (irf)

Sumber: Republika, Minggu, 3 Februari 2008

Friday, August 17, 2007

Sajak: Way Besai

-- Udo Z. Karzi

1
dari sekalabrak ulun-ulun menghilir
way besai, antar aku ke repong-repong
talang-talang

”dari kopi, lada, damar kami menghela nafas”

ulun tuhaku ngebangun rumah panggung
berjan meranti
belantara menjelma umbul

2
way besai, dari sinilah hidup menghulu
dari sinilah sejarah dan peradaban
ulun lampung!

”bagaimana memisahkan kami darimu?”

Sunday, July 01, 2007

Udo Z Karzi: Aku Bayangkan Got yang Kau Pajang

-- Dody Kriswaloejo*


ketika hujan aku tak pernah membayangkan
bagaimana keajaiban tercipta
tapi tidak melalui got yang kau angankan
betapa sajakmu membuat hantu hantu bangkit tidur
persis tanah Surabaya dengan keinginan lembab Samun

betapa aku inginkan melukis sajakmu sebagai bukit dan kau arung melebihi bayangan kota bodoh dengan anjing menyalak
tapi aku tak ingin lahir serupa puisimu
aku ingin meledakkan rumah rumah utara
yang kau kira berubah hitam sejak sungai tak lagi kau alirkan di lenganmu
seperti barisan tanah yang lebih sakit hati dari elang elang hujan

gerimis yang kupajang melebihi bentang gaun pelacur
selebihnya sungai dengan hantu hantumu yang
tak perawan

inilah keinginan kota kota selatan
bagaimana sajakku membaca sejarah sebagai dunia tanpa ketololan
sebab kau lebih layak
terpotong sebagai penyair simbolis
yang sudah terbantai sejak
patung patung bermimpi mengelupas di kulitmu

Surabaya, Juni 2007

* Dody Kristianto, lahir 3 April 1986. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Penikmat Kajian Sastra, Seni dan Budaya. Bergiat pada kelompok Jeda Interlude dan Komunitas Penulis lepas (www.penulislepas.com). Beberapa sajaknya pernah muncul di beberapa media.

Sumber: Puitika.net, Sabtu, 30/06/2007 - 11:40.

Tuesday, June 12, 2007

Sajak: Buat Udo Z. Karzi

-- Dody Kriswaloejo

ternyata mendung melahirkan bayi bayi planet bermulut perak
lebih hijau dari penggembaraanku yang berpayung
sejuta mantra surealis
aku hikmati,
lagu lagu kosongmu yang penuh persetubuhan
seolah kenangan ku
tidur di malam malam amnesia
tapi kubaca sajakmu yang lebih
pedang dari dzikir dzikir khidir
penantianku berubah gelap
dan pohon pohon yang ku imajikan
rata hangus bersama bayangan kota

akulah pelamun yang berupaya mencuri mimpi dari sajak sajakmu yang terdampar
di bulan
seperti sebadan,
teriakanku gasang dan kematian
tumbuh
melebihi bau mayat yang
kau pasung di pundakmu

juni 2007

-------

Dody Kriswaloejo (=Dody Kristianto)
, lahir 3 April 1986, adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Bergiat di Kelompok Jeda Interlude. Puisi-puisinya pernah tergabung dalam antologi bersama: Eksekusi Kata (Sastra Reguler 2004, Surabaya, 2006), Sapi in Love (Warung 85, 2007)

http://puitika.net pada Sab, 02/06/2007 - 16:47

Monday, May 14, 2007

Esai: Hak Masyarakat atas Akses Informasi

-- Udo Z. Karzi dan Andri Saputra*

DALAM sebulan terakhir, kehidupan birokrasi di Kotawaringin Barat menunjukkan gejala yang kurang bersahabat. Sejumlah pejabat menolak diwawancarai dengan alasan yang beragam. Anehnya, sikap ini ditunjukkan setelah pers memublikasikan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai penyimpangan anggaran yang terjadi di beberapa instansi.

Aneh bin ajaib jika ada pejabat yang mengatakan menerima atau menolak diwawancarai dengan atau tanpa alasan sebagai sebuah hak asasi pejabat yang bersangkutan. Mana bisa seorang ketua lelang mengaku tidak mengetahui daftar nama proyek; seorang pejabat mengaku tidak ikut rapat, padahal jelas-jelas ia menjadi peserta rapat.

Kita menjadi bertanya-tanya ‘hak asasi’ semacam apa yang membenarkan pejabat berwewenang atau yang paling berkompeten dengan urusan pemerintahan dan pembangunan kok malah tutup mulut. Pejabat toh pemimpin rakyat yang kebetulan mendapat amanah mengepalai atau menjadi ketua sebuah dinas/badan/institusi atau bagian/subbagian/seksi dalam institusi (organisasi) pemerintahan daerah.

Jelas dan gamblang pejabat (pemimpin) atau bahkan pegawai terendah di Pemkab Kobar menjalankan kegiatan pemerintahan dan pembangunan untuk tujuannya, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, di antaranya yang terpenting, mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyejahterakan masyarakat. Tidak pada tempatnya pejabat menjadi tertutup dengan informasi kepada rakyat (Warga Negara Indonesia). Dan, koran sebagai media publik menjalankan peran itu, yaitu membuka akses sebesar-besarnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi.

Paradigma yang dianut birokrasi itu yang harus dibalik. Yang punya hak asasi itu adalah warga (publik). Tegasnya, pejabat dilarang menyimpan informasi. Apa lagi yang terkait dengan kepentingan publik. Tidak ada argumen pemerintah bagi pemerintah secara sengaja menggunakan kekuasaan untuk membatasi hak-hak publik dalam memperoleh informasi.

Menjadi soal ketika pejabat (termasuk dalam hal ini para legislator) dengan gampang berkata, saya tidak bisa bilang, ini ‘rahasia negara’. ‘Rahasia negara’, kata dia, tetapi sesungguhnya karena ada kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu. Yah, sudah menjadi rahasia umum kalau yang namanya penguasa itu suka berkongkalikong atau bahasa resminya KKN dengan pengusaha.

‘Kepentingan’ kelompok inilah yang hendak dilindungi oleh kata-kata ‘rahasia negara’ atau ‘saya tidak berkompeten untuk bicara’ itu. Jelas, pejabat tertutup karena memang takut ‘rahasia pribadi’ atau ‘rahasia atasan’ (bukan rahasia negara) terbongkar. Padahal, ini bukan zamannya lagi. Kalau memang good governance, clean government, transparansi, akuntabilitas, profesionalisme benar-benar mau dijalankan -- sekali lagi -- tidak ada argumen yang tepat untuk mengelak dan menutup diri terhadap kerja pers.

Soalnya konsep-konsep penyelenggaraan pemerintah yang baik yang dikemukakan tadi; memerlukan satu syarat terbuka terhadap informasi. Bagaimana bisa dikatakan good goverment jika publik tidak mempunyai jalan untuk menilai? Bagaimana clean government kalau jalannya pemerintah justru serbarahasia? Bagaimana akuntabilitas jika pejabatnya suka bohong? Lalu, transparan bagaimana kalau masih suka ketertutupan? Kok bisa mau dikatakan profesional kalau tidak paham pada apa yang dilakukan (kegiatan pemerintahan dan pembangunan)?

Pers sebagai pilar keempat demokrasi, setelah legislatif, eksekutif, dan yudikatif, telah menyediakan diri menjadi sarana untuk mewujudkan apa yang digembargemborkan sebagai good governance, termasuk clean government, akuntabilitas, dan sebagainya yang menjadi bagian dari good governance itu.

Saat inilah Pemkab Kobar sebagai pihak yang mendapatkan amanat masyarakat membuktikan komitmennya untuk mewujudkan tujuan pemerintahan, yaitu antara lain meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan rakyat. Karena esensi segala kegiatan pemerintahan dan pembangunan diarahkan kepada kepentingan rakyat banyak dan bukan untuk segelintir orang/golongan yang sedang berkuasa atau yang berharta; maka ‘tidak boleh ada dusta di antara kita’.

Semua terbuka, semua transparan; tidak boleh ada yang dirahasiakan. Lebih dari itu pejabat daerah tidak boleh antikritik. Jangan pernah meremehkan masyarakat yang sudah melek informasi, dan menganggap mereka tidak (boleh) tahu apa-apa. Menutup diri justru akan semakin menguatkan dugaan bahwa pemerintah kita alergi terhadap kritik. Semestinya, pemerintah legowo terhadap berbagai kritik yang disampaikan publik.

Sikap serba tertutup para pejabat, justru menjadi penyemangat bagi kerja jurnalis dan menantang bagi upaya ‘membongkar kebobrokan birokrasi’. Pers, kata Goenawan Mohamad, memang bukan satu-satunya kebenaran, tetapi dia akan terus-menerus mengupayakan kebenaran.

Sederhana saja, kalau tidak salah, mengapa pejabat takut berbicara di koran. Atau, jangan-jangan ketertutupan para pejabat, sesungguhnya untuk menyembunyikan ‘ketidakbecusan’ menjalankan roda pemerintah.

Apanya yang transparan, kalau begitu?

* Udo Z. Karzi dan Andri Saputra, keduanya jurnalis

Saturday, April 07, 2007

Nuansa: Pepatah Basi

-- Udo Z. Karzi

GURU kencing berdiri, murid kencing berlari. Namun, pepatah ini tidak berlaku buat anggota DPRD Negarabatin. Soalnya, meski anggota DPR (mungkin) kencing berdiri, anggota Dewan Negarabatin (tetap mungkin) kencing berdiri. Soalnya, toilet yang dibangun tidak memungkinkan (mungkin) untuk duduk sewaktu kencing. Jadi, (mungkin) pepatahnya yang basi seiring dengan perkembangan teknologi perkakusan.

Sudah tahu anggota DPR menganggarkan pembelian 500 laptop dan kemudian mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan, sehingga akhirnya dibatalkan; eh... anggota legislator Negarabatin ngikut menganggarkan pembelian 46 unit laptop. Dana diambil dari sisa APBD 2007 yang belum dimanfaatkan.

Basi... Benar-benar basi.

Masa anggota Dewan mau niru Tukul semua yang ndeso dan selalu bilang, "Kembali ke laptop!"

Eh, tahu nggak, sewaktu laptop Tukul agak crowdet, Tukul kebingungan (maklum agak gaptek alias gagap teknologi), terpaksa manggil orang IT.

"Kembali ke laptop!" Namun, di monitor laptop yang muncul malah gambar-gambar mak jelas.

Apa hayoo?

***

"Anggota Dewan kok latah begitu sih?"

"Latah apaan?"

"Ya, ikut-ikutan mau beli laptop kayak di pusat sana."

"Kali beda. Kalau pusat udah batal karena diprotes banyak orang, di sini kali nggak."

"Berarti nunggu orang protes dulu."

"Kali maunya anggota Dewan begitu."

"Kalau orang-orang pada malas protes, terus dong."

"Ya, itu yang diharap."

***

Basi... Benar-benar basi. Anggota Dewan kok nggak pernah mau berpikir makai otak sendiri. Uang APBD kok dianggap uang sendiri yang boleh diatur sekehendak sendiri.

Lihat saja bagaimana legislator itu mengatur (lebih tepatnya mengakal-akali) anggaran: Dalam pembahasan APBD 2007, Panitia Anggaran mengalokasikan Rp180 juta untuk pembelian 12 laptop. Namun, setelah revisi APBD, Panitia Anggaran menambah jumlah pembelian laptop 46 buah. Penambahan pembelian laptop memungkinkan karena masih ada dana APBD Rp4,3 miliar yang belum dimanfaatkan. Dana ini berasal dari pemangkasan sejumlah mata anggaran.

Basi... Benar-benar basi. Modus lama dipakai lagi: mata anggaran lain dipotong, tetapi hasil pemangkasan malah justru diperuntukkan hal-hal yang remeh-temeh dan sama sekali tidak penting. Sama sekali tidak penting dan meminjam istilah Jarwa Kwat, "signifikan" bagi pelaksanaan tugas-tugas anggota Dewan.

Laptop itu apa? Anggota Dewan itu siapa? Pujangga atau sastrawan besar sekalipun (mungkin) tidak memakai laptop.

Memang, apa sih yang mau ditulis anggota Dewan itu? Informasi apa sih yang hendak didapat anggota Dewan? Bukankah setiap ruangan anggota Dewan sudah dilengkapi komputer multimedia? Lagi pula, kalau mau, anggota Dewan bisa beli laptop setiap bulan. Dari uang representatif dan tunjangan-tunjangan lainnnya.

Namun, esensinya bukan di sana. Laptop hanya berguna bagi orang-orang yang kreatif seperti menulis, merancang, merencanakan, memprogram, mempresentasikan, dan berbagai olah pikir yang serba memerlukan keahlian (skill).

Basi... Benar-benar basi. Mau apa anggota Dewan dengan laptop?

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 7 April 2007

Tuesday, March 27, 2007

Kumpulan Cerpen dari Kudus

 Oleh Anita Retno Lestari

 

BARU-BARU ini Gapuraja Media, sebuah penerbit yang tergolong baru di Kudus, telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul The Regala 204B. Peristiwa ini sangat menarik karena sejak dulu Kudus dikenal sebagai kota kretek yang cenderung materialistis sehingga nyaris “alergi” terhadap kesusastraan.


The Regala 204B, kumpulan cerpen (2007).
Memang, di Kudus ada Keluarga Penulis Kudus (KPK) yang berdiri pada awal dekade 90-an, tetapi sampai sekarang hanya menghasilkan buku-buku tipis kumpulan  puisi untuk kalangan sendiri. Padahal, KPK memiliki anggota yang produktif menulis puisi seperti Mukti Sutarman Espe. Nama ini sampai sekarang belum juga berani menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal, padahal sudah ratusan puisi dipublikasikan di berbagai media cetak.

Di Kudus juga ada penulis produktif Maria Magdalena Bhoernomo yang telah menulis sekitar 1.000 judul cerpen. Penulis ini justru gembira dengan terbitnya kumpulan cerpen tersebut, yang tidak memuat satu pun karyanya. Menurut dia, hal ini layak disyukuri karena bisa menjadi bukti bahwa ada penerbit di Kudus yang lebih suka menerbitkan karya penulis-penulis daerah lain sehingga dengan demikian akan membangkitkan interaksi budaya yang lebih luas.

Buku kumpulan cerpen tersebut memuat 11 judul cerpen  karya Indarpati, Nera Andiyanti, Anita Kristianasari, St Fatimah, Abdullah Khusairi, Joko Nugroho, Fitri Mayani, Ragdi F Daye, Sunly Thomas Alexander, Nursalam  AR, dan Udo Z Karzi. Nama-nama ini merupakan penulis muda. Kata pengantarnya ditulis oleh Profesor Arief Budiman. Sementara, cerpenis Semarang S Prasetyo Utomo sebagai penyeleksi.

Buku kumpulan cerpen tersebut konon dipersembahkan untuk kaum marjinal, maka cerpen-cerpen yang dimuat memiliki tema-tema mengenai kehidupan seputar kaum marjinal. Dan menurut pihak penerbit, sebagian hasil penerbitannya akan disumbangkan untuk kaum yang membutuhkannya. Hal ini menujukkan optimisme penerbit yang luar biasa, tetapi mungkin akan terkesan sumir bagi telinga kalangan penerbit di daerah lain yang sering kecewa karena usahanya menerbitkan buku-buku sastra (khususnya kumpulan cerpen) selalu merugi.

Terbitnya buku kumpulan cerpen di Kudus tersebut layak dicatat karena terkesan berani mengambil risiko rugi dengan bermodalkan optimisme meraup untung yang akan disumbangkan kepada kaum yang membutuhkan. Meski terkesan sumir, hal ini harus dihargai. Sebab, di banyak daerah, sudah banyak penerbit yang merugi menerbitkan buku kumpulan cerpen, kecuali penulisnya selebriti dengan dukungan promosi yang gencar dan melibatkan berbagai macam sponsor.

Jika dikaitkan dengan perkembangan kesusastraan Indonesia, usaha penerbitan buku  kumpulan  cerpen  patut mendapat respons positif bagi kalangan guru sastra dan mahasiswa fakultas sastra, karena bisa memperkaya perpustakaan pribadinya. Mungkin karena itulah, dalam catatan untuk buku kumpulan cerpen  tersebut, pihak penerbit menyebut sejumlah tokoh dan lembaga pendidikan yang ada di Jawa Tengah.

Maksudnya, mungkin hendak menyapa banyak pihak agar bersedia mendukung penerbitan buku kumpulan cerpen  tersebut. Pada saat ini, memang banyak orang membeli buku dengan maksud membantu pihak penerbitnya, atau tidak untuk dibaca sendiri. Oleh karena itu, tidak perlu heran jika ada tokoh politik misalnya yang tiba-tiba membeli sekian eksemplar buku untuk dibagi-bagikan kepada kolega dan anak buahnya.

Adanya pihak yang bersedia belanja banyak buku, tentu akan mendukung perkembangan penerbitan buku (khususnya buku sastra), apalagi jika hal ini bisa menjadi tradisi atau fenomena baru di tengah masyarakat kita. Dengan demikian, sikap optimisme penerbit buku kumpulan cerpen tersebut bisa jadi tidak perlu dianggap sumir karena tujuannya memang hendak mentradisikan belanja buku besar- besaran untuk dibagi-bagikan kepada kolega atau komunitasnya. Misalnya, tujuan ingin menyumbangkan sebagian hasil penerbitan buku kumpulan cerpen tersebut bisa benar-benar terwujud jika misalnya Bupati Kudus dan seluruh anggota DPRD Kudus serta kalangan pengusaha rokok di Kudus bersedia membeli sekian ribu eksemplar untuk dibagi-bagikan kepada kolega dan warga Kudus yang miskin agar mereka juga bisa mengenal karya sastra yang temanya seputar kehidupan mereka yang notabene marjinal.

Dan, akan lebih hebat lagi jika misalnya Gubernur Jateng bersama jajaran eksekutif dan legislatif serta rektor-rektor perguruan tinggi di Jawa Tengah juga bersedia membeli buku kumpulan cerpen tersebut untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak jalanan dan kaum gelandangan yang begitu banyak di sudut-sudut Kota Semarang.

Memang, yang terpapar di atas bisa jadi masih merupakan impian, tetapi bukan tidak mungkin benar-benar menjadi kenyataan jika pihak penerbit buku kumpulan cerpen tersebut sangat bersemangat ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya keuntungan yang sebagian akan disumbangkan kepada kaum yang membutuhkan.

Dalam ranah sastra, segala impian selalu sah-sah saja untuk dikemas menjadi sesuatu yang menimbulkan optimisme. Dan jika menilik data empiris, setiap dekade selalu bermunculan banyak orang yang ingin mewujudkan impiannya dengan karya sastra. Misalnya, selalu saja ada penulis dan penerbit yang bersemangat menerbitkan karya- karya sastra, meskipun pada akhirnya harus gigit jari. Hal ini sudah menjadi fenomena klasik.

Oleh karena itu, jika misalnya penerbit kumpulan  cerpen tersebut merugi, mungkin tidak akan membuatnya kapok. Namanya saja usaha, segalanya harus dicoba. Untung dan buntung itu risiko logis. Maka, ada baiknya setiap penerbit memang sudah memperhitungkan semua risiko yang bakal terjadi.

Dan, untuk mencegah buntung, penerbit buku-buku sastra memang seharusnya didukung modal finansial dan modal sosial. Yang dimaksud modal finansial adalah biaya penerbitan yang berasal dari banyak kalangan. Sementara, yang dimaksud modal sosial adalah dukungan masyarakat luas yang bersedia membeli dan membaca buku.

Modal finansial dan modal sosial harus sama-sama mendukung penerbitan buku-buku sastra semacam buku kumpulan cerpen  tersebut, agar sastra kita tidak selamanya terasing di negeri sendiri. []

 

------------------ 
Anita Retno Lestari,Penggiat Komunitas Sastradipati dan Kelompok Studi Humaniora Tinggal di Pati, Jawa Tengah.

 

Sumber: Kompas, 38 Maret 2007

Saturday, December 23, 2006

Sajak: Lampung (1)

-- Budi Hutasuhut*

sudah lama ruang ini dibekap gelap
warna samun dari rimba alpa
yang kami bangun tanpa sengaja
di dalamnya kami selalu meraba
saling menjengkal dan terluka

kami mengaduh oleh rasa sakit berbeda,
nyeri tak terawat. jiwa kami dikocok bimbang,
batin tertatih menuju pintu muasal
dengan luka yang terus bergetah
kami tak ingin semua ini di nadi mengental

nyalakan semua yang bisa menyala
hingga kau lihat kirut pada keningku,
lekuk sinis pada bibirmu tampak nyata

kami temukan juga senyuman yang dibuang
di lantai, mengirut diselaputi debu
melembab digerogot sepi tanpa kata-kata maaf
atau puisi-puisi cinta. hingga mata kami
susah mengusap lingkar dunia

sebelum segala kikis diamuk waktu
kami harus kenali lagi semua tanda
cakrawala merah, jingga, kuning, dan biru
yang lama terabaikan dalam kegelapan wasangka

kami ingin mengenali kembali tempat
tahi lalat, juntai misai, dan warna-warna
keindahan. merasakan ada yang bangkit
semacam kenangan, serupa ingatan

lihatlah!
bukankah dulu kami pernah menenggak kopi
dari gelas yang sama sampai tinggal serbuk
sampai pagi dan kau berkata:
"aku seperti menikmati keringat orang-orang dari liwa."
akupun teringat sepotong puisi
dari liwa: "ajar sikam cawa cinta!"*

* sajak udo z. karzi dalam bahasa lampung berjudul ajar sikam cawa cinta (ajari aku bahasa cinta).

* Budi Hutasuhut, lahir di Sipirok, 3 Juni 1972. Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung dan jurnalis di sebuah media di media terbitan Lampung.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 23 Desember 2006

Thursday, December 14, 2006

Esai: Siapakah (Masyarakat) Lampung

-- Galih Priadi S.S.*


ADA banyak makna dan tafsir yang dilontarkan dalam diskusi panjang di Lampung Post sejak Firdaus Agustian menggelontorkan pemikirannya mengenai piil pasenggiri. Pemikiran itu memantik diskusi kualitatif tentang pandangan hidup (welstanchaung) orang Lampung hingga berkembang masuk, dan membangun wacana soal identitas orang Lampung yang diuraikan Budi Hutasuhut.

Menurut saya, para penulis--Firdaus Agustian, Fachrudin, Muhammad Aqil Irham, Udo Z. Karzi, dan Budi Hutasuhut--sedang berupaya mengurai hal-ihwal transformasi masyarakat Lampung dan ide-ide yang menjadi pandangan hidupnya. Saya bersepakat dengan rekan-rekan itu soal kegelisahan dan pergulatan pencarian identitas merupakan bagian keniscayaan, konsekuensi yang harus ditanggung dari roda globalisasi dan kuda tunggangannya, teknologi informasi.

Memudarnya roh dan relevansi dari piil pasenggiri telah ditafsirkan dalam ragam makna oleh penulis-penulis terdahulu. Piil pasenggiri telah dikonstruksikan dalam sebentuk puzzle, falsafah hidup, perangkat lunak sebagai cermin "puncak" kebudayaan, kegelisahan tentang relevansi nilai dan praksis, serta sederet kegelisahan lain yang hinggap dalam benak pikir kolektif kita. Hingga terakhir Bung Budi kembali mengusik kita seumpama pertanyaan si tokoh Sophie dalam novel Dunia Sophie, "Siapakah aku". Ya, "Siapakah kita" dan "Bagaimana identitas kita?"

Segala pendapat soal welstanchaung dan identitas mesti saya maknai sebagai serialitas. Secara sederhana, mengenai serialitas ini, saya berusaha memaknainya dari pemikiran Anthony Giddens--The Constitution of Society (1995)--sifat episodis dari semua kehidupan sosial manusia. Serialitas-serialitas dalam suatu rangkai panjang cerita.

Kita bisa memaknai kegelisahan-kegelisahan tersebut sebagai pintu masuk, suatu proses dialektis untuk mencapai serialitas kehidupan masyarakat Lampung yang lebih berkwalitas. Karena, kita bisa menengok ke belakang bahwa serialitas kehidupan masyarakat Lampung terdahulu dihadapkan pada problem identitas yang lahir dari kegelisahan intelektual dan komunitas-komunitas periferi yang lebih luas, yang menempatkan eksistensinya dalam sirkum geo-politik-geo-ekonomi khas komunitas-komunitas pra-negara-bangsa di dunia pada abad-abad 19 dan 20, yang mengkonsolidasi imajinasi mereka tentang identitas nasional?

Saat itu serialitas kehidupan pra-negara-bangsa kita dipengaruhi apa yang disebut Benedict Anderson sebagai "kapitalisme cetak" (print capitalism). Dengan surat kabar sebagai wujud material dari kapitalisme cetak, komunitas-komunitas masyarakat pra-negara-bangsa itu menjadi mungkin untuk melakukan konsolidasi identitas nasional, identitas negara-bangsa melalui bahasa kolektif. Seumpama bahasa Indonesia.

Dalam serialitas hari ini, sedari awal Budi Hutasuhut telah dengan baik mengingatkan kita tentang hubungan saling menguntungkan, saling membutuhkan antara bahasa dengan eksistensi suatu masyarakat dan kebudayaannya. Sebab, kegelisahan kita tecermin dalam ungkapan yang dilontarkan Gerard Bibang, seorang sosiolinguistik, dengan pertanyaan, "Mungkinkah manusia tanpa kebudayaan, atau kebudayaan tanpa manusia?" Jawabannya adalah mustahil.

Kebudayaan adalah produk khas manusia. Ancaman terhadap bahasa adalah ancaman kebudayaan. Ancaman kebudayaan adalah ancaman terhadap manusia. Kristalisasi pemikiran ini membawa kita pada pemahaman bahasa sebagai penanda kebudayaan merupakan suatu kebutuhan mutlak. Tidak bisa tidak. Wajar jika kita mengikrarkan dan mengikhtiarkan perjuangan mempertahankan bahasa-bahasa, dari segi tertentu, sebagai perjuangan mempertahankan eksistensi dan kebudayaan masyarakat pemakainya. Bahasa telah menjadi eksistensi dan kehidupan. Begitu juga dengan bahasa Lampung.

Pascakolonialisme, lahir negara-bangsa Indonesia dan membaiat bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa standar yang dipergunakan. Provokasi kemajuan iptek dan industrialisasi, menyebabkan kemajuan bahasa Indonesia dan pudarnya eksistensi bahasa-bahasa yang digunakan oleh etnis-etnis dalam negara bangsa Indonesia. Bahasa daerah, misalnya, bahasa Lampung, dianggap tidak memenuhi standar dan kebutuhan orang untuk berkomunikasi secara serbacepat, langsung, dan praktis. Bahasa yang berliku-liku dan beragam dirasakan sebagai kendala dan bakal tergusur. Peminggiran ini terkadang juga didukung keengganan penggunaan bahasa daerah oleh mayoritas penuturnya.

Memasuki serialitas berikutnya, di abad teknologi informasi ini, transformasi kebudayaan dan identitas kembali terjadi. Semua perangkat lunak dan perangkat keras masyarakat mau tak mau harus berubah. Pertanyaan "siapakah kita?" jadi sangat aktual berhadapan dengan lalu lintas global yang terus menerus menawarkan petikan-petikan identitas dari bermacam-macam wilayah dunia ini.

Dalam bimbingan Ben Anderson, Arjun Appadurai dalam bukunya Modernity at Large. Cultural Dimensions of Globalization (1996) juga membayangkan transformasi masyarakat dan kebudayaannya. Antropolog asal India itu bukan hanya tertarik pada fenomena nasionalisme, melainkan mencoba mengerti apa yang dewasa ini disebut dengan globalisasi budaya, yaitu fenomena kebudayaan yang tidak terikat kepada negara-bangsa lagi.

Appadurai melihat dewasa ini dunia media dan teknologi informasi sangat bervariasi. Negara-bangsa tidak lagi merupakan kerangka utama untuk media. Ini menjadi satu faktor paling baru, bahkan paling dashyat membahayakan kecepatan punahnya bahasa-bahasa sebagai identitas suatu komunitas masyarakat. Terpenting semakin cepat menggerus welstanchaung masyarakatnya. Begitu juga pada masyarakat Lampung.

Satu solusi yang diberikan pemerintah daerah Lampung--meminjam contoh yang dibuat Budi Hutasuhut--belum merupakan jaminan bahwa welstanchaung itu akan lestari dan dihayati dalam lelakon kehidupan masyarakat Lampung sehari-hari. Saya bersepakat dengan pertanyaan, "masih relevan atau tidak piil pasenggiri yang merupakan welstanchaung orang Lampung saat ini?"

Eksistensi dan berlakunya piil pasenggiri secara fungsional juga tergantung dengan situasi dan kondisi kehidupan dan realitas sosial-budaya yang lain. Dengan demikian, bila ada desakan terhadap piil pasenggiri dalam suatu perubahan sosial mungkin bisa dikaji dalam waktu dunia--meminjam bahasa Anthony Giddens--berarti perlu menekankan adanya pengaruh berbagai bentuk sistem kemasyarakatan yang relevan terhadap transisi episodis ini.

Seperti tantangan Udo Z. Karzi, "Syukur-syukur ada interprestasi (pun penerjemahan dalam praksis) baru tentang piil pasenggiri." Bagaimana episode selanjutnya?

* Galih Priadi S.S., Peneliti pada Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL)

Sumber: Lampung Post, 14 Desember 2006