Binatang malam pun mulai berkeliaran
mencari mangsa
Di sudut lain
Kupu-kupu malam sedang mencumbu mangsanya
EMPAT larik puisi di atas dipetik dari puisi Binatang Malam, ditulis penyair Opik dengan sintaksis yang sederhana, namun padat makna. Puisi yang secara lengkap berbunyi: Lampu-lampu di rumah penduduk/ mulai dinyalakan// Karena sang malam/ mulai menggeser senja// Pintu-pintu/ mulai ditutup rapat-rapat/ dan dikunci dari dalam// Binatang malam pun mulai berkeliaran/ mencari mangsa// Di sudut lain/ Kupu-kupu malam sedang mencumbu mangsanya// 2006 ditulis oleh seorang difabel penyandang cerebral palsy, yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan, dan gangguan fungsi saraf lainnya. Opik dan teman-temannya sesama penyandang cerebral palsy keberatan dengan istilah lumpuh otak karena mengesankan ada keterbelakangan mental pada para penyandangnya, maka mereka sepakat menggunakan istilah gangguan motorik.
Opik yang memiliki nama asli Taufik Hidayat dilahirkan di Bandung pada 23 Maret 1975. Opik dan adik-adik kandungnya yang bernama David, Eskap, dan Prima adalah anak-anak dari pasangan Bapak Aceng Mamat dan Ibu Nining, yang memiliki latar belakang keluarga yang penuh kesederhanaan.
Lantas apa yang membuat saya tertegun di hadapan puisi tersebut? Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin seorang penderita cerebral palsy bisa berpikir runtut dalam menulis sebuah puisi dengan sintaksis semacam itu? Allah Mahaagung, itulah jawabannya. Apa yang diungkap Opik dalam puisi tadi, tidak hanya menggambarkan apa dan bagaimana suasana malam yang dihadapinya, tetapi juga mampu mengungkap gejala sosial yang dianggap buruk oleh masyarakat, yakni dunia pelacuran.
Bahwa metafora kupu-kupu malam yang digunakan Opik sudah terlalu sering dipakai orang sehingga menimbulkan kesan klise, itu benar. Namun hal tersebut menjadi istimewa ketika diungkap oleh Opik, yang sejak 2004 bergabung dengan Bengkel Kreasi 19 di bawah pengawasan Yayasan Sidikara dengan motor penggeraknya antara lain Titi Pudji dan Budi Radjab.
Lepas dari soal Yayasan Sidikara. Bagi saya, puisi yang ditulis Opik adalah teks sastra. Dalam teks sastra, sebagaimana dikatakan Prof. Dr. A. Teeuw (1983), ungkapan itu sendiri penting, diberi makna, disemantiskan segala aspeknya; barang buangan dalam pemakaian bahasa sehari-hari, "sampah bahasa," (bunyi, irama, urutan kata dan lain-lain) yang dalam percakapan begitu dipakai begitu terbuang (asal komunikasi telah berhasil) dalam karya sastra tetap berfungsi, bermakna, malahan semuanya dimaknakan dan dipertahankan maknanya.
Metafora kupu-kupu malam, yang sudah kita kenal maknanya selama ini, tetap dipertahankan Opik dalam pengertian yang demikian, yakni pelacur perempuan yang suka ke luar malam hari, suka nongkrong di pinggir jalan menunggu mangsa. Dengan tegas secara diametral puisi di atas mengungkap si baik (yang mengunci pintu rumahnya) diperhadapkan dengan si buruk (yang tengah mencumbu mangsanya) di gelap malam. Dalam bahasa sehari-hari, dalam hal ini dalam percakapan sehari-hari, metafora kupu-kupu malam sudah jadi "sampah bahasa." Kepekaan Opik dalam konteks yang demikian, banyak menulis puisi dengan menggarap ulang "sampah bahasa" menjadi sesuatu yang menarik dan mengejutkan. Jangan-jangan secara spiritual Opik lebih kaya dari kita-kita yang hidup normal.
Sebagaimana dikatakan Titi Pudji, sebagai seorang difabel, Opik sangat mandiri, Ia bisa melakukan pekerjaan atau kegiatan apa pun hampir tanpa bantuan orang lain. Dalam keterbatasannya, Opik bahkan memiliki sikap setia kawan yang sangat tinggi, ia sungguh memahami ketika ada di antara kawan-kawannya yang memerlukan perhatian dan bantuan fisik selama berkegiatan di dalam Bengkel Kreasi 19. Satu di antara banyaknya keinginan Opik yang pernah Opik ungkapkan adalah keinginannya mengunjungi teman-temannya sesama penyandang cerebral palsy secara door to door, sehingga dapat bertemu langsung dengan orang tua serta saudara-saudara penyandang cerebral palsy, untuk meyakinkan bahwa dunia masih sangat luas untuk belajar, berkarya, dan hidup sebagai manusia.
Dalam menempa dirinya sebagai manusia yang ingin berguna bagi lingkungan hidupnya, Opik pernah mengenyam pendidikan dasar di SD YPAC di Kota Bandung, dan melanjutkannya ke sekolah lanjutan di SMP YPAC di Kota Bandung juga. Akan tetapi, pada 1994, ketika Opik masih duduk di kelas 2 SMP, Opik memutuskan keluar dari sekolah tersebut karena permasalahan biaya pendidikan yang tidak dapat ditangani orang tuanya. Setelah keluar dari sekolah, Opik memutuskan untuk mencoba bekerja demi membantu perekonomian orang tuanya dan juga untuk memenuhi keperluan hidupnya sendiri. Opik bekerja selama dua tahun di sebuah toko makanan dan minuman milik YPAC di Kota Bandung hingga 1996.
**
OPIK adalah contoh tentang kemandirian, ia laksana inspirasi, khususnya bagi sesama difabel penyandang cerebral palsy. Dalam keterbatasan motorik tubuhnya ia mengajarkan pentingnya ketelitian, konsentrasi, kesabaran, dan tanggung jawab. Menurutnya banyak bentuk latihan yang sangat bermanfaat bagi penyandang cerebral palsy. Bentuk-bentuk latihan tersebut kemudian menjadi "kurikulum" kegiatan di Bengkel Kreasi 19.
Kecintaan Opik pada seni dan juga sastra mulai tumbuh pada saat Opik masih bersekolah di SMP. Beberapa puisi mulai ditulisnya dalam kata-kata yang sederhana dan apa adanya, antara lain tentang kekaguman pada teman-teman sekelasnya. Sejak 1996, Opik mulai menulis puisi-puisi dan mengumpulkannya satu persatu di dalam lembaran-lembaran kertas yang disimpan di dalam sebuah map plastik dan selalu dibawa di dalam tasnya ke mana pun Opik pergi.
Pada 2003, Opik bergabung dengan komunitas teater Bhani dan teater Pentas. Pada 2006, Opik bergabung dengan teater Creamerbox dan terlibat di dalam pementasan teater di enam kota antara lain Jakarta, Banjamasin, Denpasar, Singaraja, Yogyakarta, dan Cirebon. Sejak 2007, Opik bergabung dengan komunitas yang bernama Bengkel Kreasi 19 di Kota Bandung, dan sempat menjadi Ketua Pengurus Bengkel Kreasi 19 selama dua periode hingga Januari 2009.
Di tengah keasyikannya menggeluti puisi-puisi, Opik juga selalu ingin mengembangkan jiwa seni yang ada pada dirinya dengan belajar. Pada 2005, Opik pernah ikut belajar melukis pada salah sebuah sanggar lukis milik seorang seniman lukis di Kota Bandung, serta ikut belajar membuat keramik pada sebuah bengkel keramik milik seorang pengrajin keramik di Kota Bandung. Pada 2008, Opik mengikuti Pelatihan Kerajinan Kulit yang diselenggarakan PLN Kota Bandung.
Selain memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan diri dalam dunia seni dan sastra, Opik juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi pada sesama teman-temannya yang memiliki perbedaan kemampuan. Untuk mengungkapkan rasa kepeduliannya tersebut, Opik mengikuti Program Pelatihan Konseling tentang Motivasi Terhadap Kaum Difabel yang diselenggarakan oleh BILLIC (Bandung Independent Living Centre) di Kota Bandung pada 2008. Opik memliki keinginan yang kuat untuk merangkul sebanyak-banyaknya teman sesama difabel untuk bergabung dalam suatu wadah agar memiliki kemauan dan keberanian untuk keluar rumah, bergaul, berbagi, belajar, dan berkarya.
Dalam mengungkap dirinya sebagai penyandang cerebral palsy, Opik menulis puisi seperti ini: Otakku tidak berfungsi/ seperti mesin yang berkarat dan macet// Otakku tak mampu berpikir panjang// Hatiku seperti padam/ dan gelap tanpa setitik cahaya pun// Hatiku atau jantungku/ detaknya semakin melemah/ dan lemah seperti ingin berhenti berdetak// Tubuhku seperti tidak bertenaga/ dan lemah tak berdaya// Terkapar/ tak bergerak sedikit pun/ seperti mati// M.T.H.T (Mati Tidak, Hidup Tidak, 2006).
Hal yang sungguh mengejutkan membaca puisi tersebut adalah, kita akan mendapatkan sejumlah majas simile, yang oleh Jan van Luxemburg (1991) masuk dalam kategori majas identitas. Majas tersebut antara lain bisa kita baca dalam dua larik puisinya yang berbunyi: Otakku tidak berfungsi/ seperti mesin yang berkarat dan macet// atau dalam larik-larik puisi selanjutnya, yang berbunyi: // Hatiku seperti padam/ dan gelap tanpa setitik cahaya pun// Sungguh saya tidak menduga Opik bisa menggambarkan otaknya seperti mesin yang berkarat dan macet. Ini sebuah ungkapan yang mengejutkan. Pada satu sisi, sebagaimana dikatakan Titi Pudji, Opik menolak dikatakan sebagai penyandang cerebral palsy, tapi pada sisi yang lain ia mengakui hal itu. Pada titik ini, diakui atau tidak, di dalam diri Opik tengah terjadi pergulatan batin yang cukup dahsyat dan seru. Hasilnya adalah puisi semacam itu, yang dalam segala keterbatasannya, Opik masih sanggup menghadirkan ungkapan-ungkapan estetik seindah itu.
Menurut Opik, suatu proses belajar tidak pernah berhenti ketika seseorang memutuskan untuk berhenti sekolah. Masih ada tempat belajar dan menimba ilmu pengetahuan selain di sekolah, yaitu suatu tempat yang dinamakan masyarakat yang ada di sekitar kita. Opik telah menemukan bahwa proses belajar kepada masyarakat ternyata lebih luas, lebih menarik, penuh tantangan, dan tidak menjemukan. Melalui belajar kepada masyarakat tersebut, Opik mendapat banyak pengalaman yang nyata dan penuh hikmah, dan yang terpenting adalah semakin banyak teman yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. (Soni Farid Maulana)
Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Mei 2009
Sunday, May 03, 2009
Politik, Tema, dan Risiko
-- Iman Muhtarom*
TEMA memiliki konsekuensi yang serius dalam sebuah novel. Konsekuensi ini tidak hanya pada cara novel tersebut menyampaikan materi ceritanya, tetapi juga menyangkut bagaimana akhirnya novel tersebut diterima dan ditafsirkan pembaca. Tema merupakan pusat dari struktur cerita. Tema merupakan inti dari seluruh elemen intrinsik dan ekstrinsik dari karya tesebut. Oleh karena itu, sebuah novel bisa dilacak pada tema ini jika ingin mengetahui lebih mendalam sisi intrinsik maupun ekstrinsiknya.
Bagaimana sebuah novel mengalami masalah dalam begitu kuatnya peran pencerita hingga mengganggu jalannya cerita dicari permasalahannya pada tema ini. Begitu juga ketika kecenderungan pilihan politik sebuah karya yang terbaca dari motif tokoh-tokohnya, bisa dicari penjelasannya dalam tema novel tersebut. Dengan kata lain, tema memegang peran sentral bagaimana teks dan konteks yang terbayang dalam novel tersebut mendapatkan pengorganisasiannya.
Dalam kaitannya dengan novel yang berupaya mengangkat sejarah yang terpinggirkan, gagasan dasar ini semakin jelas posisinya. Ini berkaitan dengan fakta sejarah resmi yang telah diterima dan bagaimana novel tersebut melakukan pembacaan ulang. Sebuah novel yang menggunakan latar waktu yang jelas dengan konteks sosial-kulturalnya, selalu dibayangi antara sejarah yang telah beku dengan berbagai penafsiran atasnya. Jika tidak melakukan penafsiran, risikonya novel akan terjebak pada praktik afirmatif. Novel demikian tidak bisa menghindar dari klise.
Apa yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Arok Dedes adalah radikal jika diperbandingkan dengan Ken Arok versi sejarah resmi. Bukan Arok versi Pramoedya berhasil menggulingkan Tunggul Ametung, tetapi yang penting Arok digambarkan seorang yang mahir dalam mengorganisasi massa untuk melakukan pemberontakan pada Tunggul Ametung. Ini berbeda dengan Arok versi Pararaton karya Mpu Prapanca yang digunakan untuk banyak orang dan berbagai orde pemerintahan dalam memahami Ken Arok. Sejarah yang kemudian menjadi demikian terpatri dalam benak banyak orang Indonesia, terutama untuk menyimpulkan pengkhianatan di ranah politik atau ranah sehari-hari. Di titik ini Pramoedya berhasil memasukkan gagasan yang cukup subversif dalam melihat fakta sejarah. Tampaknya Pramoedya meyakini sejarah akan menemui kesimpulan final dan selesai sebab sejarah adalah sesuatu yang tidak dialami oleh orang yang hidup di masa kini. Sejarah adalah usaha manusia untuk mereka-reka masa lalunya. Persoalannya siapa yang mereka-reka itu? Di sini argumentasi tentang sejarah sebagai sebuah kebenaran final merupakan tindakan yang sulit dimaafkan.
Seseorang boleh menggunakan argumentasi bahwa nilai lokal yang dikandungnya merupakan bagian dari strategi menahan gerusan zaman yang disebut global ini. Akan tetapi, apakah kemudian bisa diterima secara argumentatif pula jika kemudian justru gagasan untuk melindungi nilai lokal tersebut justru memosisikan kelokalan dan kesilaman tersebut beku. Sementara zaman global dan kapitalistik ini terus menderu menerjang apa saja yang tiada mau beradaptasi. Sebuah novel akan menjadi inspirasi terus-menerus bagi zamannya maupun zaman sesudahnya ketika ia memperhitungkan arus zaman yang sedang bergolak. Ketika ia terbuai dengan nilai yang tidak relevan pada saat itulah ia terancam bukan dengan pengaruh dari dunia luar tapi cara berpikirnya yang tidak berpijak dari waktu dan tempat.
Dalam penulisan novel saat ini kecenderungan seperti telah diutarakan di atas tampaknya tak bisa dihindari. Ada kecemasan untuk keluar dari cangkang kultural yang dianggap berterima. Perubahan sebagai sesuatu yang menakutkan. Misal dalam novel Mutiara Karam (2008) karya Tusiran Suseno. Novel ini sangat menjanjikan dengan menimbang bahannya yang unik serta konteks sejarahnya yang dilematis. Keunikan ini pada kehidupan bajak laut yang digambarkan secara detail. Dari sisi ini, keunikan terasa menonjol sebab jarang menjadi garapan novelis. Latar darat cenderung mendominasi dalam penulisan novel di Indonesia.
Sementara sisi dilematisnya ada pada sejarah latar sosial dari Kerajaan Riau-Lingga (1824-1911). Berdirinya Kerajaan Riau-Lingga ini tidak lepas dari adanya kolonialis Belanda dan Inggris. Melalui Traktat London yang ditandatangi 17 Maret 1824 dua kolonialis tersebut membagi Melayu sebagai jajahan Inggris, sementara Jawa dan Sumatera menjadi jajahan Belanda. .
Dalam novel Mutiara Karam dengan protagonis Sahar, Suri, dan Panglima Kaman meletakkan pilihan politik-sosial-kultural-ekonomi pada Kerajaan Riau-Lingga. Sekalipun sebelumnya mereka menjalin kerja sama yang baik dengan kelompok bajak laut yang dipimpin Marasan dan Markong. Panglima Kaman berpikir bahwa ia merasa berutang sekali pada Kerajaan Riau-Lingga sekalipun ia membenci rajanya sebab rajanya justru menyingkirkan dia walaupun telah bersusah payah membela sang raja.
Namun, Panglima Kaman harus mati sebelum berhasil mewujudkan cita-cita terakhir hidupnya. Namun anaknya, Sahar, meneruskan cita-cita ayahnya sekalipun tujuan utamanya bukan demi kedaulatan kerajaan, tetapi agar hidup bahagia bersama ng.
Apa yang krusial dalam novel ini dalam latar sejarah yang dilematis tersebut ada pada pilihan politiknya yang membela kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga sebagaimana tergambar dalam tokoh Sahar. Hasrat novel ini untuk mengarahkan seluruh elemen cerita ke arah sebagaimana yang diperturutkan Sahar tampak jelas dalam mengerahkan aspek intrinsiknya. Pencerita dalam novel ini selalu hadir dalam banyak adegan untuk menjelaskan peran dan fungsi tindakan tokoh, khususnya tokoh Sahar.
Ada semacam keraguan bila keterangan dari pencerita dalam novel ini tidak muncul. Pembaca akan kehilangan konteks dari setiap adegan yang terpapar. Ketika kehilangan konteks adegan tersebut terjadi, ada kekhawatiran pembaca akan kehilangan pijakan sekalipun pembaca secara implisit sudah tahu posisi Sahar dalam adegan tersebut.
Sikap untuk tidak "tega" membiarkan pembaca terkatung-katung dalam lautan cerita ini, barangkali sebuah kesengajaan yang dilakukan penulisnya. Artinya, penulis memang menginginkan kepastian dari ketidakpastian nasib tokoh. Kepastian untuk menempatkan posisi tokoh Sahar dalam ukuran moral ideal yang diketengahkan secara hitam-putih dalam perbandingannya dengan kelompok bajak laut. Bahwa pilihan Sahar sebagai sebuah tindakan yang memenuhi aspek moral ideal.
**
DARI sini menjadi jelas "pesan" yang tersirat dari Mutiara Karam dalam kaitannya dengan tema. Sesuatu yang dianggap benar, yaitu kerajaan dan bukannya kelompok bajak laut, mesti dibela sampai akhir hayat. Sebab di sanalah kehidupan yang damai terpapar. Sementara di kampung bajak laut di Retih dan Enok yang terpapar hanya perilaku pengkhianatan, seks bebas, saling bunuh, dan tipu. Gambaran kampung bajak laut itu tak ubahnya sarang binatang berwujud manusia kecuali Si Sahar, ayahnya, dan Suri.
Mutiara Karam menengahi situasi dilematis yang dialami tokoh Sahar dengan kematian agung. Kematian agung dengan membela kedaulatan kerajaan. Demikianlah gambaran seorang pahlawan atau mutiara karam itu agar dirinya menjadi seorang sosok agung, sebagaimana pandangan itu juga masih melekat kuat pada benak banyak orang dan mereka yang berkuasa pada zaman sekarang.
Namun, kematian semacam ini menjadi tidak bermakna sekalipun kedamaian dan kenyamanan yang Sahar bela itu merupakan gambaran puak kultural yang secara tidak langsung ingin ia bela. Kedaulatan yang ia bela justru dipimpin raja yang hidup foya-foya, tidak peduli pada kedaulatan kerajaannya sebab daulat berada di tangan Belanda.
Di sini, pilihan kultural berupa hidup damai yang dicita-citakan Sahar berbanding terbalik dengan pilihan politiknya dengan melawan kelompok bajak laut. Ia tidak sadar ketika ia berbalik ke kerajaan dengan kontrol Belanda, bukankah ia akan masuk pada kedamaian semu, kultural yang semu? Bukankah ia bisa melakukan kesepakatan dengan para bajak laut dengan memberi semacam "suaka kultural" agar bisa hidup damai dengan Suri di tengah komunitas bajak laut lewat kemampuan strategisnya sehingga bajak laut yang berdaulat tersebut tetap eksis?***
* Iman Muhtarom, Bergiat di FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar), Surabaya.
Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Mei 2009
TEMA memiliki konsekuensi yang serius dalam sebuah novel. Konsekuensi ini tidak hanya pada cara novel tersebut menyampaikan materi ceritanya, tetapi juga menyangkut bagaimana akhirnya novel tersebut diterima dan ditafsirkan pembaca. Tema merupakan pusat dari struktur cerita. Tema merupakan inti dari seluruh elemen intrinsik dan ekstrinsik dari karya tesebut. Oleh karena itu, sebuah novel bisa dilacak pada tema ini jika ingin mengetahui lebih mendalam sisi intrinsik maupun ekstrinsiknya.
Bagaimana sebuah novel mengalami masalah dalam begitu kuatnya peran pencerita hingga mengganggu jalannya cerita dicari permasalahannya pada tema ini. Begitu juga ketika kecenderungan pilihan politik sebuah karya yang terbaca dari motif tokoh-tokohnya, bisa dicari penjelasannya dalam tema novel tersebut. Dengan kata lain, tema memegang peran sentral bagaimana teks dan konteks yang terbayang dalam novel tersebut mendapatkan pengorganisasiannya.
Dalam kaitannya dengan novel yang berupaya mengangkat sejarah yang terpinggirkan, gagasan dasar ini semakin jelas posisinya. Ini berkaitan dengan fakta sejarah resmi yang telah diterima dan bagaimana novel tersebut melakukan pembacaan ulang. Sebuah novel yang menggunakan latar waktu yang jelas dengan konteks sosial-kulturalnya, selalu dibayangi antara sejarah yang telah beku dengan berbagai penafsiran atasnya. Jika tidak melakukan penafsiran, risikonya novel akan terjebak pada praktik afirmatif. Novel demikian tidak bisa menghindar dari klise.
Apa yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Arok Dedes adalah radikal jika diperbandingkan dengan Ken Arok versi sejarah resmi. Bukan Arok versi Pramoedya berhasil menggulingkan Tunggul Ametung, tetapi yang penting Arok digambarkan seorang yang mahir dalam mengorganisasi massa untuk melakukan pemberontakan pada Tunggul Ametung. Ini berbeda dengan Arok versi Pararaton karya Mpu Prapanca yang digunakan untuk banyak orang dan berbagai orde pemerintahan dalam memahami Ken Arok. Sejarah yang kemudian menjadi demikian terpatri dalam benak banyak orang Indonesia, terutama untuk menyimpulkan pengkhianatan di ranah politik atau ranah sehari-hari. Di titik ini Pramoedya berhasil memasukkan gagasan yang cukup subversif dalam melihat fakta sejarah. Tampaknya Pramoedya meyakini sejarah akan menemui kesimpulan final dan selesai sebab sejarah adalah sesuatu yang tidak dialami oleh orang yang hidup di masa kini. Sejarah adalah usaha manusia untuk mereka-reka masa lalunya. Persoalannya siapa yang mereka-reka itu? Di sini argumentasi tentang sejarah sebagai sebuah kebenaran final merupakan tindakan yang sulit dimaafkan.
Seseorang boleh menggunakan argumentasi bahwa nilai lokal yang dikandungnya merupakan bagian dari strategi menahan gerusan zaman yang disebut global ini. Akan tetapi, apakah kemudian bisa diterima secara argumentatif pula jika kemudian justru gagasan untuk melindungi nilai lokal tersebut justru memosisikan kelokalan dan kesilaman tersebut beku. Sementara zaman global dan kapitalistik ini terus menderu menerjang apa saja yang tiada mau beradaptasi. Sebuah novel akan menjadi inspirasi terus-menerus bagi zamannya maupun zaman sesudahnya ketika ia memperhitungkan arus zaman yang sedang bergolak. Ketika ia terbuai dengan nilai yang tidak relevan pada saat itulah ia terancam bukan dengan pengaruh dari dunia luar tapi cara berpikirnya yang tidak berpijak dari waktu dan tempat.
Dalam penulisan novel saat ini kecenderungan seperti telah diutarakan di atas tampaknya tak bisa dihindari. Ada kecemasan untuk keluar dari cangkang kultural yang dianggap berterima. Perubahan sebagai sesuatu yang menakutkan. Misal dalam novel Mutiara Karam (2008) karya Tusiran Suseno. Novel ini sangat menjanjikan dengan menimbang bahannya yang unik serta konteks sejarahnya yang dilematis. Keunikan ini pada kehidupan bajak laut yang digambarkan secara detail. Dari sisi ini, keunikan terasa menonjol sebab jarang menjadi garapan novelis. Latar darat cenderung mendominasi dalam penulisan novel di Indonesia.
Sementara sisi dilematisnya ada pada sejarah latar sosial dari Kerajaan Riau-Lingga (1824-1911). Berdirinya Kerajaan Riau-Lingga ini tidak lepas dari adanya kolonialis Belanda dan Inggris. Melalui Traktat London yang ditandatangi 17 Maret 1824 dua kolonialis tersebut membagi Melayu sebagai jajahan Inggris, sementara Jawa dan Sumatera menjadi jajahan Belanda. .
Dalam novel Mutiara Karam dengan protagonis Sahar, Suri, dan Panglima Kaman meletakkan pilihan politik-sosial-kultural-ekonomi pada Kerajaan Riau-Lingga. Sekalipun sebelumnya mereka menjalin kerja sama yang baik dengan kelompok bajak laut yang dipimpin Marasan dan Markong. Panglima Kaman berpikir bahwa ia merasa berutang sekali pada Kerajaan Riau-Lingga sekalipun ia membenci rajanya sebab rajanya justru menyingkirkan dia walaupun telah bersusah payah membela sang raja.
Namun, Panglima Kaman harus mati sebelum berhasil mewujudkan cita-cita terakhir hidupnya. Namun anaknya, Sahar, meneruskan cita-cita ayahnya sekalipun tujuan utamanya bukan demi kedaulatan kerajaan, tetapi agar hidup bahagia bersama ng.
Apa yang krusial dalam novel ini dalam latar sejarah yang dilematis tersebut ada pada pilihan politiknya yang membela kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga sebagaimana tergambar dalam tokoh Sahar. Hasrat novel ini untuk mengarahkan seluruh elemen cerita ke arah sebagaimana yang diperturutkan Sahar tampak jelas dalam mengerahkan aspek intrinsiknya. Pencerita dalam novel ini selalu hadir dalam banyak adegan untuk menjelaskan peran dan fungsi tindakan tokoh, khususnya tokoh Sahar.
Ada semacam keraguan bila keterangan dari pencerita dalam novel ini tidak muncul. Pembaca akan kehilangan konteks dari setiap adegan yang terpapar. Ketika kehilangan konteks adegan tersebut terjadi, ada kekhawatiran pembaca akan kehilangan pijakan sekalipun pembaca secara implisit sudah tahu posisi Sahar dalam adegan tersebut.
Sikap untuk tidak "tega" membiarkan pembaca terkatung-katung dalam lautan cerita ini, barangkali sebuah kesengajaan yang dilakukan penulisnya. Artinya, penulis memang menginginkan kepastian dari ketidakpastian nasib tokoh. Kepastian untuk menempatkan posisi tokoh Sahar dalam ukuran moral ideal yang diketengahkan secara hitam-putih dalam perbandingannya dengan kelompok bajak laut. Bahwa pilihan Sahar sebagai sebuah tindakan yang memenuhi aspek moral ideal.
**
DARI sini menjadi jelas "pesan" yang tersirat dari Mutiara Karam dalam kaitannya dengan tema. Sesuatu yang dianggap benar, yaitu kerajaan dan bukannya kelompok bajak laut, mesti dibela sampai akhir hayat. Sebab di sanalah kehidupan yang damai terpapar. Sementara di kampung bajak laut di Retih dan Enok yang terpapar hanya perilaku pengkhianatan, seks bebas, saling bunuh, dan tipu. Gambaran kampung bajak laut itu tak ubahnya sarang binatang berwujud manusia kecuali Si Sahar, ayahnya, dan Suri.
Mutiara Karam menengahi situasi dilematis yang dialami tokoh Sahar dengan kematian agung. Kematian agung dengan membela kedaulatan kerajaan. Demikianlah gambaran seorang pahlawan atau mutiara karam itu agar dirinya menjadi seorang sosok agung, sebagaimana pandangan itu juga masih melekat kuat pada benak banyak orang dan mereka yang berkuasa pada zaman sekarang.
Namun, kematian semacam ini menjadi tidak bermakna sekalipun kedamaian dan kenyamanan yang Sahar bela itu merupakan gambaran puak kultural yang secara tidak langsung ingin ia bela. Kedaulatan yang ia bela justru dipimpin raja yang hidup foya-foya, tidak peduli pada kedaulatan kerajaannya sebab daulat berada di tangan Belanda.
Di sini, pilihan kultural berupa hidup damai yang dicita-citakan Sahar berbanding terbalik dengan pilihan politiknya dengan melawan kelompok bajak laut. Ia tidak sadar ketika ia berbalik ke kerajaan dengan kontrol Belanda, bukankah ia akan masuk pada kedamaian semu, kultural yang semu? Bukankah ia bisa melakukan kesepakatan dengan para bajak laut dengan memberi semacam "suaka kultural" agar bisa hidup damai dengan Suri di tengah komunitas bajak laut lewat kemampuan strategisnya sehingga bajak laut yang berdaulat tersebut tetap eksis?***
* Iman Muhtarom, Bergiat di FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar), Surabaya.
Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Mei 2009
Badabadu dan Martin Amis
-- Anwar Holid*
WAKTU pertama kali bertemu dan kenalan di sebuah toko buku dan hobi mungil di depan SMU Aloysius Bandung yang rindang, saya merasa baik-baik saja waktu dia menyebut namanya, "Badabadu." Jelas itu panggilan, sangka saya. Orangtua mana mau kasih nama anak dengan nada badut seperti itu?
Saya juga malas mengecek nama dia sebenarnya. Buat apa, tanya saya. Toh mungkin suatu saat tahu sendiri, kalau perkenalan kami berlanjut dan tambah akrab. Lagi pula, di zaman identitas kabur sekarang ini, apa bedanya nama asli dan palsu, kalau kedua-keduanya lain dan nyata? Waktu itu adalah perkenalan biasa sesama pembaca buku. Basa-basi klise. Yang klise biasanya dikuasai semua orang. Pada saatnya berguna.
"Kamu suka baca apa?"
"Fiksi, biografi, autobiografi, buku-buku sinematografi."
"Siapa penulis favorit kamu?"
"Martin Amis."
"Martin Amis? Saya nggak punya teman lain yang suka dia. Kenapa suka dia?"
"Wah, sulit dijelaskan. Tapi karya-karya dia asyik loh."
"Paling-paling saya kenal satu orang malah suka ayahnya."
"Ya, ayahnya memang penulis yang terkemuka juga."
"Apa Martin terpengaruh juga sama ayahnya?"
"Dalam lingkup keluarga tentu saja. Artinya, dia lahir dari keluarga penulis; seperti beberapa penulis lain, misalnya Virginia Woolf. Tapi tidak dalam karya. Katanya, dia justru sangat terinspirasi oleh Vladimir Nabokov, Saul Bellow, atau Philip Roth."
"Kamu benar-benar suka Martin, ya?
"Saya punya semua buku dia, kecuali beberapa, apalagi yang sulit dicari di sini atau karena terlalu mahal."
"Dapat dari mana saja buku-buku itu?"
"Banyak. Kebanyakan dari sini juga. Ada yang dapat dari loak, hadiah teman, beli baru. Macam-macam.
"Apa yang paling kamu suka?"
"Susah ya... Tapi yang paling asyik kayaknya Night Train dan Visiting Mrs. Nabokov.
" Kenapa?"
"Itu karya dia yang paling mudah."
Kami ngakak mendengar alasan itu. Tapi menyenangkan memang mengaku seperti itu. Kalau memang tak mengerti, kenapa juga mengaku- saya paham? Dengan begitu kita terhindar dari menanggung beban sia-sia.
"Apa buku Martin Amis menarik semua?"
"Enggak juga. Ada yang isinya kabur atau bikin bingung. Misalnya Koba the Dread.
***
SAMPAI waktu itu saya belum pernah baca Martin Amis. Saya hanya tahu dia anak Kingsley Amis, penulis Lucky Jim (1954) yang legendaris di Inggris. Sedikit reputasi Martin saya baca dari beberapa informasi kecil, terutama indeks penulis kontemporer. Dia dijuluki "Mick Jagger of Fiction." Apa ini terkait reputasinya terhadap perempuan? Martin juga kontroversial. Sejumlah orang menuduh dia arogan dan punya dendam pada wanita. Orang Islam menuduh dia mengidap Islamofobia. Di Time 2007 edisi "The Most Influential in the World", Martin Amis menulis tentang Osama bin Laden.
Karena itulah segera saya ingin pinjam buku Martin Amis, sekadar ingin tahu seperti apa karyanya. Badabadu meminjami Night Train; tapi saya kurang terkesan dengan novel itu. Menurut saya seperti novel dektektif, dengan protagonis polisi wanita. Saking detail, dia memberi tahu novel itu memuat kata "Indonesia" dalam konotasi miring: I guess you can`t blame a guy for loving his job, or for being Indonesian, but I have to say that that little slope gives me the creeps (Aku kira kamu mustahil menyalahkan orang karena mencintai pekerjaannya, atau karena dia orang Indonesia, tapi harus kukatakan justru hal itu yang mengerikan buatku)."
Setelah itu saya pinjam Visiting Mrs. Nabokov. Ini buku esai yang menarik, berisi komentar Martin tentang sejumlah selebriti yang pernah dia liput atau sempat bersinggungan dengannya, antara lain Madonna, Ny. Nabokov, Mick Jagger, dan Julian Barnes--kawan sesama penulis, tapi persahabatan mereka sekarang berakhir pahit gara-gara perempuan. Di buku ini juga dia berkomentar sinis terhadap Frankfurt Book Fair, meski semua pencinta buku memuja-muja acara itu.
Kemudian Experience, autobiografinya. Buku itu hanya saya baca bagian awalnya, tapi saya perhatikan betul foto-fotonya. Salah satu yang mencolok: covernya menampilkan ia sedang merokok, padahal masih ABG. Tatapannya tajam. Ngejago sekali. Dengan lagak seperti itu kebengalannya jelas tampak.
Baru setelah pinjam The War Against Cliché: Essays and Reviews, 1971-2000, saya merasakan daya kekuatan Martin Amis: dia blak-blakan, terutama bila sedang sinis. Buku itu membuatku tambah tertarik pada Martin, apalagi Badabadu memberi aku masukan cerpen Martin yang amat saru (saya tegaskan: bukan "seru"), berjudul "Let Me Count the Times". Dari sinilah saya mulai bisa enak menikmati tulisannya.
The War Against Cliché berisi resensi yang pernah ia tulis kala masih bekerja menjadi kritik buku untuk The Times Literary Supplement. Buku itu tebal, membuktikan alangkah panjang kerja dia sebagai peresensi dan kritikus. Cara dia mengkritik apik dan tegas. Salah satunya, karena kurang suka pada novel pop macam The Silence of the Lambs (Thomas Harris), dia hajar novel sejenis itu. Subjek buku Martin Amis memang sangat kena: menulis itu perang melawan klise, perang terhadap basa-basi.
Tapi menghindari klise itu sulit sekali, begitu juga perang melawan yang sia-sia. Berat sekali. Cobalah melawan kebiasaan buruk sendiri. Termasuk ketika berkenalan. Bisa menciptakan perkenalan yang nonklise?
***
SAYA selalu takjub dengan anak-anak muda, apalagi yang wawasan, bacaan, maupun kemampuannya kaya. Bagaimana mereka mencapai itu semua? Selalu begitu pikir saya. Tapi rupanya saya luput satu hal: percepatan membuat anak muda ini jauh lebih canggih dari generasi terdahulu. Ada kalanya budaya dalam keluarga atau pencapaian sendiri membuat mereka istimewa. Saya sudah pernah kenalan dengan beberapa anak muda dengan bacaan canggih, up-to-date, sementara sering saya merasa terkurung harus menyelesaikan kewajiban tertentu yang kadang-kadang membuatku aus.
Badabadu sejenis anak muda seperti itu. Dia banyak baca, banyak tahu, banyak dengar, hingga kalau bertemu dengannya, saya seakan-akan segera bakal penuh dengan berbagai informasi yang dia tukarkan.
Badabadu adalah penggemar Martin Amis No. 1 di Indonesia. Bisa jadi satu-satunya.
Setahu saya, tak ada orang Indonesia lain yang pernah menyebut Martin Amis, menuliskan, mengenalkan dia pada publik sastra, atau bilang suka karyanya, termasuk penggemar fiksi kontemporer sekalipun. Kalau kita bicara fiksi kontemporer, nama yang paling muncul misalnya Salman Rushdie, Ian McEwan, atau Haruki Murakami. Penulis kontemporer favorit saya ialah Raymond Carver--dia pun sudah meninggal. Martin Amis? Terdengar seperti merk minuman keras. Saking takzim, Badabadu suka menyebut Martin Amis dengan, "Tuan Martin Amis yang terhormat."
Setelah pertemuan itu, ditambah interaksi lain, saya merasa cukup akrab dengan Badabadu. Tapi karena sama-sama punya problema, kami hanya bisa sesekali bertemu, itu pun dengan siasat agak sulit. Saya dengan problema sebagai lelaki berumah tangga, dia dengan sejumlah kompleks personalnya.
Salah satu yang saya syukuri dari pertemanan itu ialah saya bisa berhubungan dengan generasi lebih muda. Itu membuat saya merasa terkait dengan masa kini dan bisa ikut perkembangan zaman. Misal dalam hal selera. Generasi saya terkait dengan grunge/alternatif; generasi dia dengan Britpop.
***
LAMA kemudian, toko buku kecil itu sudah pindah ke ruko di depan Universitas Parahyangan (Unpar), Ciumbuleuit. Sementara Badabadu pun rutin "menyampah" ke Timbuku, kerja di dunia film, jadi scriptwriter untuk sebuah variety show televisi yang sempat bikin heboh negeri itu. Kami terpaksa berhubungan via email.
Pertemanan dengan Badabadu menautkan saya pada blog dia yang kini sudah inaktif, http://budibadabadu.blogspot.com. Subjek tulisan di blog itu kadang-kadang aneh, pendek-pendek, tapi juga ada yang tertib-normal, dengan cara bercerita dan sudut pandang kuat. Dia bahkan menghadiahi saya Night Train. Waktu saya tanya kenapa dia memberi buku itu, dia jawab, "Untuk mengenalkan Tuan Martin Amis, aku mau berbuat apa saja."
Siapa tahu, setelah tulisan ini, Anda jadi orang Indonesia ketiga yang tertarik pada Martin Amis. Minimal mengendus baunya.***
* Anwar Holid, Editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Mei 2009
WAKTU pertama kali bertemu dan kenalan di sebuah toko buku dan hobi mungil di depan SMU Aloysius Bandung yang rindang, saya merasa baik-baik saja waktu dia menyebut namanya, "Badabadu." Jelas itu panggilan, sangka saya. Orangtua mana mau kasih nama anak dengan nada badut seperti itu?
Saya juga malas mengecek nama dia sebenarnya. Buat apa, tanya saya. Toh mungkin suatu saat tahu sendiri, kalau perkenalan kami berlanjut dan tambah akrab. Lagi pula, di zaman identitas kabur sekarang ini, apa bedanya nama asli dan palsu, kalau kedua-keduanya lain dan nyata? Waktu itu adalah perkenalan biasa sesama pembaca buku. Basa-basi klise. Yang klise biasanya dikuasai semua orang. Pada saatnya berguna.
"Kamu suka baca apa?"
"Fiksi, biografi, autobiografi, buku-buku sinematografi."
"Siapa penulis favorit kamu?"
"Martin Amis."
"Martin Amis? Saya nggak punya teman lain yang suka dia. Kenapa suka dia?"
"Wah, sulit dijelaskan. Tapi karya-karya dia asyik loh."
"Paling-paling saya kenal satu orang malah suka ayahnya."
"Ya, ayahnya memang penulis yang terkemuka juga."
"Apa Martin terpengaruh juga sama ayahnya?"
"Dalam lingkup keluarga tentu saja. Artinya, dia lahir dari keluarga penulis; seperti beberapa penulis lain, misalnya Virginia Woolf. Tapi tidak dalam karya. Katanya, dia justru sangat terinspirasi oleh Vladimir Nabokov, Saul Bellow, atau Philip Roth."
"Kamu benar-benar suka Martin, ya?
"Saya punya semua buku dia, kecuali beberapa, apalagi yang sulit dicari di sini atau karena terlalu mahal."
"Dapat dari mana saja buku-buku itu?"
"Banyak. Kebanyakan dari sini juga. Ada yang dapat dari loak, hadiah teman, beli baru. Macam-macam.
"Apa yang paling kamu suka?"
"Susah ya... Tapi yang paling asyik kayaknya Night Train dan Visiting Mrs. Nabokov.
" Kenapa?"
"Itu karya dia yang paling mudah."
Kami ngakak mendengar alasan itu. Tapi menyenangkan memang mengaku seperti itu. Kalau memang tak mengerti, kenapa juga mengaku- saya paham? Dengan begitu kita terhindar dari menanggung beban sia-sia.
"Apa buku Martin Amis menarik semua?"
"Enggak juga. Ada yang isinya kabur atau bikin bingung. Misalnya Koba the Dread.
***
SAMPAI waktu itu saya belum pernah baca Martin Amis. Saya hanya tahu dia anak Kingsley Amis, penulis Lucky Jim (1954) yang legendaris di Inggris. Sedikit reputasi Martin saya baca dari beberapa informasi kecil, terutama indeks penulis kontemporer. Dia dijuluki "Mick Jagger of Fiction." Apa ini terkait reputasinya terhadap perempuan? Martin juga kontroversial. Sejumlah orang menuduh dia arogan dan punya dendam pada wanita. Orang Islam menuduh dia mengidap Islamofobia. Di Time 2007 edisi "The Most Influential in the World", Martin Amis menulis tentang Osama bin Laden.
Karena itulah segera saya ingin pinjam buku Martin Amis, sekadar ingin tahu seperti apa karyanya. Badabadu meminjami Night Train; tapi saya kurang terkesan dengan novel itu. Menurut saya seperti novel dektektif, dengan protagonis polisi wanita. Saking detail, dia memberi tahu novel itu memuat kata "Indonesia" dalam konotasi miring: I guess you can`t blame a guy for loving his job, or for being Indonesian, but I have to say that that little slope gives me the creeps (Aku kira kamu mustahil menyalahkan orang karena mencintai pekerjaannya, atau karena dia orang Indonesia, tapi harus kukatakan justru hal itu yang mengerikan buatku)."
Setelah itu saya pinjam Visiting Mrs. Nabokov. Ini buku esai yang menarik, berisi komentar Martin tentang sejumlah selebriti yang pernah dia liput atau sempat bersinggungan dengannya, antara lain Madonna, Ny. Nabokov, Mick Jagger, dan Julian Barnes--kawan sesama penulis, tapi persahabatan mereka sekarang berakhir pahit gara-gara perempuan. Di buku ini juga dia berkomentar sinis terhadap Frankfurt Book Fair, meski semua pencinta buku memuja-muja acara itu.
Kemudian Experience, autobiografinya. Buku itu hanya saya baca bagian awalnya, tapi saya perhatikan betul foto-fotonya. Salah satu yang mencolok: covernya menampilkan ia sedang merokok, padahal masih ABG. Tatapannya tajam. Ngejago sekali. Dengan lagak seperti itu kebengalannya jelas tampak.
Baru setelah pinjam The War Against Cliché: Essays and Reviews, 1971-2000, saya merasakan daya kekuatan Martin Amis: dia blak-blakan, terutama bila sedang sinis. Buku itu membuatku tambah tertarik pada Martin, apalagi Badabadu memberi aku masukan cerpen Martin yang amat saru (saya tegaskan: bukan "seru"), berjudul "Let Me Count the Times". Dari sinilah saya mulai bisa enak menikmati tulisannya.
The War Against Cliché berisi resensi yang pernah ia tulis kala masih bekerja menjadi kritik buku untuk The Times Literary Supplement. Buku itu tebal, membuktikan alangkah panjang kerja dia sebagai peresensi dan kritikus. Cara dia mengkritik apik dan tegas. Salah satunya, karena kurang suka pada novel pop macam The Silence of the Lambs (Thomas Harris), dia hajar novel sejenis itu. Subjek buku Martin Amis memang sangat kena: menulis itu perang melawan klise, perang terhadap basa-basi.
Tapi menghindari klise itu sulit sekali, begitu juga perang melawan yang sia-sia. Berat sekali. Cobalah melawan kebiasaan buruk sendiri. Termasuk ketika berkenalan. Bisa menciptakan perkenalan yang nonklise?
***
SAYA selalu takjub dengan anak-anak muda, apalagi yang wawasan, bacaan, maupun kemampuannya kaya. Bagaimana mereka mencapai itu semua? Selalu begitu pikir saya. Tapi rupanya saya luput satu hal: percepatan membuat anak muda ini jauh lebih canggih dari generasi terdahulu. Ada kalanya budaya dalam keluarga atau pencapaian sendiri membuat mereka istimewa. Saya sudah pernah kenalan dengan beberapa anak muda dengan bacaan canggih, up-to-date, sementara sering saya merasa terkurung harus menyelesaikan kewajiban tertentu yang kadang-kadang membuatku aus.
Badabadu sejenis anak muda seperti itu. Dia banyak baca, banyak tahu, banyak dengar, hingga kalau bertemu dengannya, saya seakan-akan segera bakal penuh dengan berbagai informasi yang dia tukarkan.
Badabadu adalah penggemar Martin Amis No. 1 di Indonesia. Bisa jadi satu-satunya.
Setahu saya, tak ada orang Indonesia lain yang pernah menyebut Martin Amis, menuliskan, mengenalkan dia pada publik sastra, atau bilang suka karyanya, termasuk penggemar fiksi kontemporer sekalipun. Kalau kita bicara fiksi kontemporer, nama yang paling muncul misalnya Salman Rushdie, Ian McEwan, atau Haruki Murakami. Penulis kontemporer favorit saya ialah Raymond Carver--dia pun sudah meninggal. Martin Amis? Terdengar seperti merk minuman keras. Saking takzim, Badabadu suka menyebut Martin Amis dengan, "Tuan Martin Amis yang terhormat."
Setelah pertemuan itu, ditambah interaksi lain, saya merasa cukup akrab dengan Badabadu. Tapi karena sama-sama punya problema, kami hanya bisa sesekali bertemu, itu pun dengan siasat agak sulit. Saya dengan problema sebagai lelaki berumah tangga, dia dengan sejumlah kompleks personalnya.
Salah satu yang saya syukuri dari pertemanan itu ialah saya bisa berhubungan dengan generasi lebih muda. Itu membuat saya merasa terkait dengan masa kini dan bisa ikut perkembangan zaman. Misal dalam hal selera. Generasi saya terkait dengan grunge/alternatif; generasi dia dengan Britpop.
***
LAMA kemudian, toko buku kecil itu sudah pindah ke ruko di depan Universitas Parahyangan (Unpar), Ciumbuleuit. Sementara Badabadu pun rutin "menyampah" ke Timbuku, kerja di dunia film, jadi scriptwriter untuk sebuah variety show televisi yang sempat bikin heboh negeri itu. Kami terpaksa berhubungan via email.
Pertemanan dengan Badabadu menautkan saya pada blog dia yang kini sudah inaktif, http://budibadabadu.blogspot.com. Subjek tulisan di blog itu kadang-kadang aneh, pendek-pendek, tapi juga ada yang tertib-normal, dengan cara bercerita dan sudut pandang kuat. Dia bahkan menghadiahi saya Night Train. Waktu saya tanya kenapa dia memberi buku itu, dia jawab, "Untuk mengenalkan Tuan Martin Amis, aku mau berbuat apa saja."
Siapa tahu, setelah tulisan ini, Anda jadi orang Indonesia ketiga yang tertarik pada Martin Amis. Minimal mengendus baunya.***
* Anwar Holid, Editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Mei 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)