-- Ardus M Sawega
KEKECEWAAN terhadap hasil Pemilu Legislatif 2009 membuat Agus Fatturohman kembali kepada puisi. Lho, apa hubungannya? Ia mengaku, setiap kali pikirannya buntu, ia melarikan diri pada puisi.
Hanya satu puisi paling mengesan dalam hidup Ketua DPD II Golkar Sragen, Jawa Tengah, yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Sragen itu: ”Doa Perahu” karya Ismed Hadad. Ia pun membaca puisi itu di luar kepala: ”Tuhanku/ Beritahu kini/ kemanakah harus kupergi/ Ke muara menyongsong laut biru/ atau melawan arus menuju hulu.”
Di depan hadirin dalam acara Pesta Puisi 2009 di Balai Soedjatmoko Solo, Rabu (29/4) malam, Agus mengaku tak tahu kenapa puisi ”Doa Perahu” yang mirip haiku itu amat membekas dalam memorinya. Sebagai seorang politikus, katanya, puisi itu bergema setiap kali hatinya galau.
Itulah misteri hubungan antara puisi dan penikmatnya. Puisi adalah jendela untuk mengenal keindahan kata, lantas orang pun mengungkapkan haru biru dalam sanubarinya. Bagi sebagian orang, puisi-puisi tertentu, entah karya sendiri atau orang lain, mampu mengisi relung sanubarinya yang terdalam. Kenangan itulah yang diam-diam menyembulkan kerinduan bagi banyak orang.
Di antara mereka mulai terapresiasi puisi pada usia remaja. Baningsih (50-an) dan Indirawati Soetenggi (40-an), misalnya, mengaku menulis dan membaca puisi sejak duduk di bangku SMP. Baningsih kini sukses sebagai eksportir mebel dan handicraft, sedangkan Indirawati berprofesi notaris. Malam itu masing-masing membacakan puisi ”Aporisma Cinta Kasih” karya Kahlil Gibran dan ”Cintaku Jauh di Pulau”-nya Chairil Anwar.
Sebagian orang mungkin heran, ”Hari gini membaca puisi?” Tetapi, menulis puisi, atau sekadar membacanya—entah di kamar sendiri atau di depan publik, suka atau tidak—bisa membuat seseorang ekstase. Meletupkan emosi ataupun rindu dendam yang tersimpan. Itulah yang tecermin dalam Pesta Puisi 2009 yang digelar 28-29 April 2009 di Balai Soedjatmoko yang menyatu dengan TB Gramedia Solo.
Kegiatan selama dua hari itu membuktikan bahwa puisi adalah milik siapa saja. Terjadi desakralisasi puisi. Kalau pada hari pertama menampilkan para remaja, siswa SMA, dan sebagian mahasiswa, hari kedua diisi oleh kalangan umum, profesional, kelompok seni kampus, penyair, dan seniman. Lebih dari 100 orang terlibat dalam pesta ini.
Diawali pemutaran film dokumenter Aku Ingin yang merekam sepenggal hidup penyair Sapardi Djoko Damono (69), dilanjutkan Ngobrol Bareng Sapardi, peluncuran kumpulan puisi Sapardi terbaru, Kolam, lalu workshop menulis puisi untuk siswa SMA.
Keprihatinan
Beragam gaya dan ekspresi terungkap bebas. Kalangan siswi umumnya tak bisa membedakan antara seni baca puisi dan menumpahkan emosi yang nyaris histeris. Tetapi, itu bukan monopoli remaja karena peserta dewasa pun ada yang seperti itu. Muhadi (30-an) yang sehari-hari berjualan buku bekas, misalnya, membacakan karya yang tidak jelas apakah itu puisi atau sekadar caci maki akibat frustrasi.
Panggung sederhana di teras Balai Soedjatmoko yang berarsitektur kolonial itu serta-merta menjadi ajang tumpahan unek-unek, atau malah mungkin jadi katup pengaman. Bambang ART, penyair yang kini menjadi petugas Satpol PP, membacakan puisinya, ”Siang di Benteng Vastenburg”—yang kebetulan sedang jadi polemik di Kota Solo.
”Joko Wi memanah rembulan bernanah/ Aku mesti menangis lagi, sebelum Magrib/ melihat sandiwara tralala di antara orkestra dan aib/ Aku berharap gerimis datang/ jari jemarinya membuka pintu lemari/ sejarah Benteng Vastenburg yang terpatri.”
Selain kerinduan bisa berekspresi secara bebas, banyak penampil menyiratkan keprihatinan terhadap berbagai gejala yang meruyak di tengah bangsanya. Mereka mencatat semangat nasionalisme yang memudar ataupun gejala pengabaian akan nilai-nilai luhur budaya bangsanya sendiri.
Dedek Witranto menuliskan: ”Di mana negeriku/ negeri yang dilahirkan dengan pengorbanan dan perjuangan/ dari setiap guratan luka/ dari setiap tetesan darah/ dari setiap hilangnya nyawa/ anak-anak negerinya”. Atau pada puisi Hanindawan, ”Ibu Menjahit Peta Indonesia di Pinggir Jendela”, yang satu baitnya berbunyi: ”anak-anak/ tumbuh dan dewasa/ lupa atau sudah tidak suka/ pada bahasa ibumu/ kamu memilih bahasamu sendiri/ bahasa batu, pisau/ dan air mata”.
Lebih dari semangat patriotik yang menyala-nyala, puisi-puisi itu niscaya merefleksikan kesaksian mereka akan lingkungan dan nilai-nilai hidup yang berubah. Meski puisi mereka itu boleh jadi tak layak muat di media atau terseleksi dalam antologi puisi yang bergengsi.
Pesta Puisi ini diperkaya dengan musikalisasi puisi, teaterisasi puisi, hingga pantomim. Banyak yang cukup berhasil mengangkat puisi ke musik, salah satunya ”Krawang Bekasi”-nya Chairil Anwar oleh Kelompok Sound of Poem. Atau ”kenakalan” Himpunan Penulis Karanganyar yang membawakan puisi ”Aku Ingin” dalam versi dangdut. Sementara, Kelompok Tari Sahita meramaikan hari pertama dengan celotehannya yang cerdas sekaligus menghibur; menyentil puisi modern hingga tembang macapat.
Kekayaan puisi pun ditampilkan, seperti puisi Jawa geguritan yang dibawakan Kelompok Arsono lewat musik bergaya kocak. Sepenggal syairnya: ”Mbulane krowak dibrakot buta/ mung kari sekilan/ gobyog titir/ Semut ireng njajah angin/ nganglang jagad, nggoleki neng endi butane/ balekna mbulanku…” Dalam bahasa Jawa kontemporer, Kodok Ibnu Sukodok mengungkapkan keprihatinannya akan hidup, termasuk hidupnya sendiri, dengan gaya improvisasi yang terkesan ”mabuk”, tetapi terasa orisinal. Diiringi petikan gitar sendiri, suaranya yang serak bergaya rock mengingatkan kita pada Kelompok Lemon Tree dan Gombloh pada tahun 1970-an.
”Kami sudah lama merindukan ajang seperti ini, dan terasa ini sebagai suatu kebutuhan,” ungkap Hanindawan. Penyair Wijang Warek juga berharap, hendaknya Pesta Puisi ini bisa dijadikan tradisi.
Sumber: Kompas, Minggu, 3 Mei 2009
Sunday, May 03, 2009
Mempertanyakan Kreativitas
-- Dahono Fitrianto dan Budi Suwarna
BELAKANGAN, nama band D’Masiv kembali mencuat. Namun, kali ini tidak dalam catatan-catatan prestasi dan rekor penjualan nada sambung pribadi atau RBT, melainkan dalam hal yang tidak mengenakkan. D’Masiv dituduh sebagai plagiat.
Bahkan, kredibilitas Anugerah Musik Indonesia Ke-12 tahun ini sempat diragukan hanya karena memasukkan nama band asal Jakarta itu sebagai salah satu unggulan peraih penghargaan Artis Pendatang Baru Terbaik-terbaik. Tak kurang dari anggota Dewan Pengarah AMI Seno M Hardjo sendiri mengakui pihaknya ”kecolongan” dengan masuknya D’Masiv . ”Tetapi, yang penting dia tidak terpilih sebagai pemenang,” tutur Seno.
Benarkah band yang beranggotakan Rian Ekky Pradipta (vokal), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bas), dan Wahyu Piadji (drum) itu menjiplak? Apa tepatnya yang ia lakukan sehingga mendapat tuduhan sebagai plagiat?
Menurut wartawan musik Buddy Ace, lagu mereka yang berjudul ”Dilema” mencontek hampir semua bagian dari lagu ”Soldier’s Poem” yang dibawakan band populer asal Inggris, Muse. ”Notasi, pola ritme atau irama, cara memainkan gitar, hingga cara menyanyi Rian sama dengan Muse,” tutur Buddy.
Tak berhenti sampai di situ, band pemenang acara kontes band A Mild Rising Star 2007 itu juga dianggap mencontek lagu-lagu musisi luar negeri lain. Di YouTube, sejak enam bulan silam beredar video rekaman yang menjajarkan lagu-lagu band tersebut dengan lagu yang dianggap telah dijiplak.
Lagu ”Dan Kamu”, misalnya, dianggap menjiplak ”Head Over Heels (In This Life)” milik band Switchfoot asal San Diego, Amerika Serikat. Lagu Switchfoot lainnya yang berjudul ”Awakening” ”diambil” intro dan ketukan ritmenya dalam lagu ”Diam Tanpa Kata”.
Intro lagu ”Luka Ku” mirip dengan ”Drive”-nya Incubus. Intro lagu ”Cinta Sampai di Sini” juga persis dengan ”Into The Sun” milik band Lifehouse dari Los Angeles, AS. Semua lagu itu ada di album perdana D’Masiv yang berjudul Perubahan.
”Racun”
Menurut Buddy, salah satu kelaziman dalam dunia jiplak menjiplak lima tahun terakhir ini adalah mencontek bagian intro atau refrain dari sebuah lagu. Bagian-bagian tersebut biasanya menjadi ”racun” atau ”hook”, yang menarik perhatian pendengar. ”Rian CS adalah salah satu dari sekian banyak musisi muda negeri ini yang akhirnya tertangkap basah melakukan copycat terhadap upaya membuat ’racun’ atau ’hook’ pada karya mereka,” tulis Buddy Ace dalam salah satu artikelnya.
D’Masiv menolak semua tudingan ini. Dalam jumpa pers yang digelar di Hard Rock Cafe Jakarta, 1 April lalu, vokalis Rian mengaku, dia dan grupnya hanya terinspirasi lagu-lagu dari musisi luar itu. ”Intinya, kalau aku bikin lagu tuh mengalir saja. Enggak pernah mikir. Seandainya ada kemiripan, itu pasti karena enggak sengaja. Kebetulan D’Masiv emang suka band-band kayak Muse, Switchfoot, Incubus. Kita emang terinspirasi banget sama mereka,” tutur Rian.
Bukan pertama
Sebenarnya kasus D’Masiv bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada tahun 2005, grup Radja pernah dituduh menji- plak lagu ”Teardrops” dari The Radios untuk lagu mereka, ”Jujur”, dan ”Lately”-nya Stevie Wonder untuk lagu ”Tulus”. Waktu itu Radja berkilah kemiripan yang terjadi adalah murni kebetulan dan ketidaksengajaan (Kompas, 7/1/2007).
Belakangan, lagu ”I Love U, Bibeh” dari kelompok The Changcuters juga dituduh meniru lagu populer grup Creedence Clearwater Revival (CCR), ”Have You Ever Seen the Rain?” ”Kerangka lagu itu mirip banget dengan lagunya CCR,” ungkap gitaris Dewa Budjana.
Terlepas dari tanggung jawab moral setiap artis, pertanyaan yang lebih mengganggu adalah apa yang sebenarnya terjadi pada industri musik Indonesia saat ini?
Indrawati Widjaja, Presiden Direktur Musica Studios tempat D’Masiv bernaung, mengaku tidak tahu bahwa lagu-lagu D’Masiv menjiplak karya orang lain. ”Kami selama ini memberi kebebasan kepada artis untuk membuat karya sendiri. Peristiwa ini memang sangat disayangkan. Kami berharap ini menjadi pelajaran berharga buat D’Masiv. Tetapi, saya juga meminta agar masyarakat tidak mematikan karier D’Masiv. Bagaimanapun mereka adalah band baru yang belum berpengalaman dan belum mengerti aturan di industri musik,” tutur Ibu Acin, panggilan akrab Indrawati.
Ini sebenarnya bukan hanya pelajaran bagi dunia industri musik. Mengingat pola yang sama juga terjadi di bidang kreatif lain, seperti film, sinetron, acara TV, bahkan seni rupa kontemporer. Kita, pasti tidak ingin semata-mata menjadi bangsa dengan semangat epigonis. (SUSI IVVATY)
Sumber: Kompas, Minggu, 3 Mei 2009
BELAKANGAN, nama band D’Masiv kembali mencuat. Namun, kali ini tidak dalam catatan-catatan prestasi dan rekor penjualan nada sambung pribadi atau RBT, melainkan dalam hal yang tidak mengenakkan. D’Masiv dituduh sebagai plagiat.
Bahkan, kredibilitas Anugerah Musik Indonesia Ke-12 tahun ini sempat diragukan hanya karena memasukkan nama band asal Jakarta itu sebagai salah satu unggulan peraih penghargaan Artis Pendatang Baru Terbaik-terbaik. Tak kurang dari anggota Dewan Pengarah AMI Seno M Hardjo sendiri mengakui pihaknya ”kecolongan” dengan masuknya D’Masiv . ”Tetapi, yang penting dia tidak terpilih sebagai pemenang,” tutur Seno.
Benarkah band yang beranggotakan Rian Ekky Pradipta (vokal), Nurul Damar Ramadhan (gitar), Dwiki Aditya Marsall (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bas), dan Wahyu Piadji (drum) itu menjiplak? Apa tepatnya yang ia lakukan sehingga mendapat tuduhan sebagai plagiat?
Menurut wartawan musik Buddy Ace, lagu mereka yang berjudul ”Dilema” mencontek hampir semua bagian dari lagu ”Soldier’s Poem” yang dibawakan band populer asal Inggris, Muse. ”Notasi, pola ritme atau irama, cara memainkan gitar, hingga cara menyanyi Rian sama dengan Muse,” tutur Buddy.
Tak berhenti sampai di situ, band pemenang acara kontes band A Mild Rising Star 2007 itu juga dianggap mencontek lagu-lagu musisi luar negeri lain. Di YouTube, sejak enam bulan silam beredar video rekaman yang menjajarkan lagu-lagu band tersebut dengan lagu yang dianggap telah dijiplak.
Lagu ”Dan Kamu”, misalnya, dianggap menjiplak ”Head Over Heels (In This Life)” milik band Switchfoot asal San Diego, Amerika Serikat. Lagu Switchfoot lainnya yang berjudul ”Awakening” ”diambil” intro dan ketukan ritmenya dalam lagu ”Diam Tanpa Kata”.
Intro lagu ”Luka Ku” mirip dengan ”Drive”-nya Incubus. Intro lagu ”Cinta Sampai di Sini” juga persis dengan ”Into The Sun” milik band Lifehouse dari Los Angeles, AS. Semua lagu itu ada di album perdana D’Masiv yang berjudul Perubahan.
”Racun”
Menurut Buddy, salah satu kelaziman dalam dunia jiplak menjiplak lima tahun terakhir ini adalah mencontek bagian intro atau refrain dari sebuah lagu. Bagian-bagian tersebut biasanya menjadi ”racun” atau ”hook”, yang menarik perhatian pendengar. ”Rian CS adalah salah satu dari sekian banyak musisi muda negeri ini yang akhirnya tertangkap basah melakukan copycat terhadap upaya membuat ’racun’ atau ’hook’ pada karya mereka,” tulis Buddy Ace dalam salah satu artikelnya.
D’Masiv menolak semua tudingan ini. Dalam jumpa pers yang digelar di Hard Rock Cafe Jakarta, 1 April lalu, vokalis Rian mengaku, dia dan grupnya hanya terinspirasi lagu-lagu dari musisi luar itu. ”Intinya, kalau aku bikin lagu tuh mengalir saja. Enggak pernah mikir. Seandainya ada kemiripan, itu pasti karena enggak sengaja. Kebetulan D’Masiv emang suka band-band kayak Muse, Switchfoot, Incubus. Kita emang terinspirasi banget sama mereka,” tutur Rian.
Bukan pertama
Sebenarnya kasus D’Masiv bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada tahun 2005, grup Radja pernah dituduh menji- plak lagu ”Teardrops” dari The Radios untuk lagu mereka, ”Jujur”, dan ”Lately”-nya Stevie Wonder untuk lagu ”Tulus”. Waktu itu Radja berkilah kemiripan yang terjadi adalah murni kebetulan dan ketidaksengajaan (Kompas, 7/1/2007).
Belakangan, lagu ”I Love U, Bibeh” dari kelompok The Changcuters juga dituduh meniru lagu populer grup Creedence Clearwater Revival (CCR), ”Have You Ever Seen the Rain?” ”Kerangka lagu itu mirip banget dengan lagunya CCR,” ungkap gitaris Dewa Budjana.
Terlepas dari tanggung jawab moral setiap artis, pertanyaan yang lebih mengganggu adalah apa yang sebenarnya terjadi pada industri musik Indonesia saat ini?
Indrawati Widjaja, Presiden Direktur Musica Studios tempat D’Masiv bernaung, mengaku tidak tahu bahwa lagu-lagu D’Masiv menjiplak karya orang lain. ”Kami selama ini memberi kebebasan kepada artis untuk membuat karya sendiri. Peristiwa ini memang sangat disayangkan. Kami berharap ini menjadi pelajaran berharga buat D’Masiv. Tetapi, saya juga meminta agar masyarakat tidak mematikan karier D’Masiv. Bagaimanapun mereka adalah band baru yang belum berpengalaman dan belum mengerti aturan di industri musik,” tutur Ibu Acin, panggilan akrab Indrawati.
Ini sebenarnya bukan hanya pelajaran bagi dunia industri musik. Mengingat pola yang sama juga terjadi di bidang kreatif lain, seperti film, sinetron, acara TV, bahkan seni rupa kontemporer. Kita, pasti tidak ingin semata-mata menjadi bangsa dengan semangat epigonis. (SUSI IVVATY)
Sumber: Kompas, Minggu, 3 Mei 2009
Buku, Iman, Pembebasan
-- Damanhuri
"Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara,
dapur tanpa bumbu, kebun tanpa tumbuhan, padang tanpa bunga,
pohon tanpa daun."
The Name of the Rose, Umberto Eco
Selintas, tak ada pertautan antara tiga persoalan yang saya pilih jadi judul tulisan ini. Buku, iman, dan pembebasan memang seolah tak meninggalkan anasir yang memungkinkan kita merajutkan benang merah antarketiganya. Salah duga yang gampang dilacak beberapa penyebab utamanya dalam pandangan-dunia kita yang umumnya dualistik, gemar menilik persoalan melulu dari satu dimensi--"ini-atau-itu-isme" (either-or-ism), kata Naquib al-Attas; parsial, bahkan hitam-putih (Manichean)---dan dalam keseharian biasanya muncul dalam jargon--yang penting praktik, bukan teori".
Padahal, waham ihwal adanya diskrepansi antartiga pokok soal yang sesungguhnya saling berkelindan itu dalam beberapa jenak saja akan tampak kerapuhannya bila kaum muslim, misalnya, sudi berpaling pada sejarah pewahyuan Quran di mana ayat-ayat awal (96: 1--5) yang diterima Nabi adalah perintah membaca (iqra). Etos membaca (baca: mencintai ilmu, memuliakan buku) yang kian diteguhkan dalam pelbagai ayat lain, juga hadis Nabi, tentang pentingnya berpikir dan meneroka segala fenomena.
Karena itu, sebenarnya tak ada ikhtilaf tentang pentingnya memuliakan buku dan mencintai ilmu. Saya kira, afirmasi juga layak segera diberikan kepada siapa pun yang percaya bahwa iman yang otentik mustahil bisa digapai tanpa bekal ilmu. Dan, sejak manusia memasuki zaman yang disebut Marshall McLuhan "galaksi Gutenberg" atau "kapitalisme-percetakan", tak diragukan lagi buku merupakan salah satu sumber utama ilmu. Mata air bagi iman-yang-bernalar---fides quearens intellectum.
Diungkapkan dalam kalimat lain: kian beragam dan luas bahan bacaan seorang mukmin, kian berwarna dan lapang pula perspektif keagamaan-keimanan yang potensial dihayati. Tak terlalu mengagetkan jika berbagai sikap ekstrem dalam beragama hampir selalu muncul dari keterbatasan bahan bacaan dan kedangkalan pengetahuan agama pelakunya. Sehingga, apa yang biasa disebut sebagai "efek pembebasan" dari agama pun lenyap dan justru bermetamorfosis jadi iman yang ofensif. Iman opresif yang gampang "mengoranglainkan" (othering) siapa pun yang tak sepaham, semazhab, atau seakidah.
Seorang cendekiawan kita pernah menggunakan dua metafora tentang iman: iman sebagai "benteng" dan iman sebagai "suluh". Dengan kiasan benteng, iman dipancangkan tidak lain sebagai sesuatu yang kukuh, rapat, dan bergeming; dengan suluh, iman diandaikan sebagai "sesuatu yang berjalan untuk menjelajah sebuah dunia yang tak selamanya terang dan rata." Sayangnya, iman sebagai benteng itulah yang tampaknya tengah dipeluk kebanyakan orang.
***
Begitulah, ajaran agung agama memang tak selalu berhasil memengaruhi perilaku para pemeluknya. Pun sejarah tak selamanya mudah dijadikan cermin bening oleh pewarisnya di belakang hari.
Maka jika kaum muslim-awal berhasil mentransformasikan etos yang diwariskan kitab suci itu dengan melakukan olah intelektual tak kenal henti, sebagian (besar?) kaum muslim saat ini melakukan hal sebaliknya. Jika di masa lalu umat Islam berhasil menerjemahkan beragam khazanan Yunani dan Persia serta melakukan pelbagai sintesis kreatif yang menakjubkan, tradisi itu kini begitu sulit kita temukan.
Jika di masa lalu perbalahan pemahaman (keagamaan) melahirkan sebukit buku yang bermutu, hasil yang muncul dari palagan kontestasi penafsiran di tengah kita saat ini tak lebih dari pseudo-buku berisi daftar nama tokoh yang dituding sebagai "muslim liberal" yang dalam derik waktu yang sama juga berarti kafir, murtad, dan serakan stigma lainnya. Buku-buku yang justru antibuku dan hanya menghasut para pembacanya untuk menghina aktivitas berpikir dan berolah nalar.
Kondisi mencemaskan itu dalam beberapa segi juga kian diperburuk oleh tren baru di sebagian kaum muda urban yang lebih gandrung mengikuti beragam workshop atau pelatihan manajemen berbasis spiritualitas sembari mengerlingkan sebelah mata bagi segala jenis erudisi intelektual. Buku-buku yang biasa diserap dengan baik oleh pasar pun tak jauh dari buku-buku kategori "panduan ibadah" atau "psikologi spiritual". Padahal, seperti pernah dirisaukan Haidar Bagir, jika absennya buku-buku wacana pemikiran terus berlangsung, akibat yang hampir tak bisa ditampik adalah keringnya dinamika pemikiran dan menyempitnya cakrawala penghayatan agama.
Khaled Abou El-Fadl barangkali benar ketika mengatakan bahwa kaum muslim saat ini telah terpangkas dari tradisi intelektual kaum muslim-awal. Telah kehilangan etos pengetahuan maupun landasan moral dan intelektual. Sehingga, alih-alih perayaan atas warisan agung di masa lalu itu, apa yang kita saksikan justru bercokolnya---apa yang disebut Abou El-Fadl dalam Musyawarah Buku (Serambi, 2002)--"pola pikir Mongol".
Seperti dicatat dalam sejarah, tahun 1258 Hulagu serta balatentara Mongol mengaramkan Baghdad dalam merahnya darah dan hitamnya tinta. Sejarah pun bertutur bahwa mayat-mayat yang dicacah balatentara yang beringas itu menyesaki dan membuat macet jejalanan kota. Pun ribuan judul buku yang mereka jarah konon berhasil memampatkan aliran sungai.
Ironisnya, kata Abou El-Fadl, tragedi itu seolah kembali berulang dengan wajah berbeda dan modus yang lebih canggih. Sebab, sebagaimana peristiwa tujuh abad lampau itu, saat ini pun sebagian kaum muslim masih dibantai di banyak penjuru dunia. Sedangkan teks-teks mereka justru dibantai oleh kaum muslim sendiri.
Begitulah, di masa lalu pembantaian buku ditempuh dengan membakar atau menghanyutkan dan menenggelamkannya ke palung-palung sungai. Di masa kini, "pembantaian" tersebut berbentuk pengeditan diam-diam atau melarangnya beredar di tengah umat. Hasilnya, menurut Abou El-Fadl lagi, buku Fatawa dan al-Jawab al-Shahih karya Ibn Taymiyah yang kini beredar adalah edisi yang telah disensor. Pun buku Bihar al-Anwar yang beredar sebenarnya tanpa tiga jilid lain yang dianggap melawan arus-utama ortodoksi.
Tak boleh dilupakan, "penyuntingan semena-mena" sebenarnya juga menimpa tafsir masyhur The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali. Berbeda dari teks aslinya, edisi-edisi yang belakangan diterbitkan Amana Corporation/IIIT atau Ifta/King Fahd Holy Qur'an Printing Complex, misalnya, adalah "versi baru" tanpa disertai beberapa apendiks serta penafsiran dengan perspektif tasawuf. Hal yang, seperti direkam dengan baik oleh MA Sherif dalam biografi Yusuf Ali yang ditulisnya (Jiwa yang Resah, Mizan, 1997), disesalkan banyak kalangan dan sempat menjadi polemik panjang.
Prestasi kaum muslim sekaligus ironi yang mengirinya itu penting diungkapkan sekadar untuk menunjukkan sesuatu yang mungkin sudah jadi klise karena begitu kerapnya diulang-ulang: watak kosmopolitanisme Islam dan sikap terbuka kaum muslim-awal dalam menerima dan menyambut kehadiran "yang lain", the others. Sikap yang akhir-akhir ini seolah raib dari kesadaran umat Islam dan berganti dengan sikap selalu curiga dan bahkan memusuhi (si)apa pun yang dianggap berbeda. Simtom yang diistilahkan Ali Ahmad Said (Adonis) sebagai "past-ism", "masa-lalu-isme": penolakan serta ketakutan akan setiap hal yang baru, beda, dan tak-umum.
Merujuk Abou El-Fadl untuk kali kesekian, kaum muslim saat ini tampaknya memang lebih senang pada, dan begitu cepat terpukau oleh, pleonasme sebuah pidato ketimbang memuliakan keanggunan khazanah pemikiran Islam yang tak tepermanai itu. Lebih terpesona oleh pidato yang gaduh (dan kerap angkuh), pemahaman-umum yang siap-pakai, dan terkesan jeri masuk dalam keheningan laku untuk---meminjam anak judul buku Abou El-Fadl itu--menelusuri keindahan Islam dari buku ke buku.
***
Penghormatan yang tinggi atas buku tentu saja bukan monopoli tradisi Islam. Sebab, sebagaimana khazanah Islam, tradisi Kristiani pun menyodorkan imperatif yang tak jauh berbeda. Dalan novel masyhur The Name of the Rose karya Umberto Eco (Jalasutra, 2003), misalnya, untuk menunjukkan betapa pentingnya buku (membaca) dan alangkah tak memadainya hidup hanya dengan doa (betapapun itu tugas utama para biarawan) atau mendaraskan kitab suci tanpa menelisik potensi makna yang dikandungnya, tokoh kepala biara dalam novel karya pakar semiotika dari Italia itu juga berujar: "Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara, dapur tanpa bumbu, kebun tanpa tumbuhan, padang tanpa bunga, pohon tanpa daun".
Walhasil, tak ada dalih untuk tak merayakan buku. Tak tersedia alasan untuk tak memuliakan siapa pun yang tak kenal letih menulis, merawat, dan menyemarakkan dunia, buku. Dunia yang menjadi suaka jiwa manusia dari proses pelupaan. Sehingga, jika "manusia merasa baru menemukan diri dan nilainya dalam Tuhan," kata Sindhunata suatu ketika, "maka Tuhan pun harus dicarinya bukan hanya dengan berdoa tapi juga dengan membaca."
Akhirnya, sepotong sajak Joko Pinurbo berjudul Buku barangkali tepat untuk menutup tulisan ini: Hadiah terindah yang kudapat dari buku adalah ingatan:/pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak/ mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian.
* Damanhuri, Penyuka buku
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Mei 2009
"Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara,
dapur tanpa bumbu, kebun tanpa tumbuhan, padang tanpa bunga,
pohon tanpa daun."
The Name of the Rose, Umberto Eco
Selintas, tak ada pertautan antara tiga persoalan yang saya pilih jadi judul tulisan ini. Buku, iman, dan pembebasan memang seolah tak meninggalkan anasir yang memungkinkan kita merajutkan benang merah antarketiganya. Salah duga yang gampang dilacak beberapa penyebab utamanya dalam pandangan-dunia kita yang umumnya dualistik, gemar menilik persoalan melulu dari satu dimensi--"ini-atau-itu-isme" (either-or-ism), kata Naquib al-Attas; parsial, bahkan hitam-putih (Manichean)---dan dalam keseharian biasanya muncul dalam jargon--yang penting praktik, bukan teori".
Padahal, waham ihwal adanya diskrepansi antartiga pokok soal yang sesungguhnya saling berkelindan itu dalam beberapa jenak saja akan tampak kerapuhannya bila kaum muslim, misalnya, sudi berpaling pada sejarah pewahyuan Quran di mana ayat-ayat awal (96: 1--5) yang diterima Nabi adalah perintah membaca (iqra). Etos membaca (baca: mencintai ilmu, memuliakan buku) yang kian diteguhkan dalam pelbagai ayat lain, juga hadis Nabi, tentang pentingnya berpikir dan meneroka segala fenomena.
Karena itu, sebenarnya tak ada ikhtilaf tentang pentingnya memuliakan buku dan mencintai ilmu. Saya kira, afirmasi juga layak segera diberikan kepada siapa pun yang percaya bahwa iman yang otentik mustahil bisa digapai tanpa bekal ilmu. Dan, sejak manusia memasuki zaman yang disebut Marshall McLuhan "galaksi Gutenberg" atau "kapitalisme-percetakan", tak diragukan lagi buku merupakan salah satu sumber utama ilmu. Mata air bagi iman-yang-bernalar---fides quearens intellectum.
Diungkapkan dalam kalimat lain: kian beragam dan luas bahan bacaan seorang mukmin, kian berwarna dan lapang pula perspektif keagamaan-keimanan yang potensial dihayati. Tak terlalu mengagetkan jika berbagai sikap ekstrem dalam beragama hampir selalu muncul dari keterbatasan bahan bacaan dan kedangkalan pengetahuan agama pelakunya. Sehingga, apa yang biasa disebut sebagai "efek pembebasan" dari agama pun lenyap dan justru bermetamorfosis jadi iman yang ofensif. Iman opresif yang gampang "mengoranglainkan" (othering) siapa pun yang tak sepaham, semazhab, atau seakidah.
Seorang cendekiawan kita pernah menggunakan dua metafora tentang iman: iman sebagai "benteng" dan iman sebagai "suluh". Dengan kiasan benteng, iman dipancangkan tidak lain sebagai sesuatu yang kukuh, rapat, dan bergeming; dengan suluh, iman diandaikan sebagai "sesuatu yang berjalan untuk menjelajah sebuah dunia yang tak selamanya terang dan rata." Sayangnya, iman sebagai benteng itulah yang tampaknya tengah dipeluk kebanyakan orang.
***
Begitulah, ajaran agung agama memang tak selalu berhasil memengaruhi perilaku para pemeluknya. Pun sejarah tak selamanya mudah dijadikan cermin bening oleh pewarisnya di belakang hari.
Maka jika kaum muslim-awal berhasil mentransformasikan etos yang diwariskan kitab suci itu dengan melakukan olah intelektual tak kenal henti, sebagian (besar?) kaum muslim saat ini melakukan hal sebaliknya. Jika di masa lalu umat Islam berhasil menerjemahkan beragam khazanan Yunani dan Persia serta melakukan pelbagai sintesis kreatif yang menakjubkan, tradisi itu kini begitu sulit kita temukan.
Jika di masa lalu perbalahan pemahaman (keagamaan) melahirkan sebukit buku yang bermutu, hasil yang muncul dari palagan kontestasi penafsiran di tengah kita saat ini tak lebih dari pseudo-buku berisi daftar nama tokoh yang dituding sebagai "muslim liberal" yang dalam derik waktu yang sama juga berarti kafir, murtad, dan serakan stigma lainnya. Buku-buku yang justru antibuku dan hanya menghasut para pembacanya untuk menghina aktivitas berpikir dan berolah nalar.
Kondisi mencemaskan itu dalam beberapa segi juga kian diperburuk oleh tren baru di sebagian kaum muda urban yang lebih gandrung mengikuti beragam workshop atau pelatihan manajemen berbasis spiritualitas sembari mengerlingkan sebelah mata bagi segala jenis erudisi intelektual. Buku-buku yang biasa diserap dengan baik oleh pasar pun tak jauh dari buku-buku kategori "panduan ibadah" atau "psikologi spiritual". Padahal, seperti pernah dirisaukan Haidar Bagir, jika absennya buku-buku wacana pemikiran terus berlangsung, akibat yang hampir tak bisa ditampik adalah keringnya dinamika pemikiran dan menyempitnya cakrawala penghayatan agama.
Khaled Abou El-Fadl barangkali benar ketika mengatakan bahwa kaum muslim saat ini telah terpangkas dari tradisi intelektual kaum muslim-awal. Telah kehilangan etos pengetahuan maupun landasan moral dan intelektual. Sehingga, alih-alih perayaan atas warisan agung di masa lalu itu, apa yang kita saksikan justru bercokolnya---apa yang disebut Abou El-Fadl dalam Musyawarah Buku (Serambi, 2002)--"pola pikir Mongol".
Seperti dicatat dalam sejarah, tahun 1258 Hulagu serta balatentara Mongol mengaramkan Baghdad dalam merahnya darah dan hitamnya tinta. Sejarah pun bertutur bahwa mayat-mayat yang dicacah balatentara yang beringas itu menyesaki dan membuat macet jejalanan kota. Pun ribuan judul buku yang mereka jarah konon berhasil memampatkan aliran sungai.
Ironisnya, kata Abou El-Fadl, tragedi itu seolah kembali berulang dengan wajah berbeda dan modus yang lebih canggih. Sebab, sebagaimana peristiwa tujuh abad lampau itu, saat ini pun sebagian kaum muslim masih dibantai di banyak penjuru dunia. Sedangkan teks-teks mereka justru dibantai oleh kaum muslim sendiri.
Begitulah, di masa lalu pembantaian buku ditempuh dengan membakar atau menghanyutkan dan menenggelamkannya ke palung-palung sungai. Di masa kini, "pembantaian" tersebut berbentuk pengeditan diam-diam atau melarangnya beredar di tengah umat. Hasilnya, menurut Abou El-Fadl lagi, buku Fatawa dan al-Jawab al-Shahih karya Ibn Taymiyah yang kini beredar adalah edisi yang telah disensor. Pun buku Bihar al-Anwar yang beredar sebenarnya tanpa tiga jilid lain yang dianggap melawan arus-utama ortodoksi.
Tak boleh dilupakan, "penyuntingan semena-mena" sebenarnya juga menimpa tafsir masyhur The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali. Berbeda dari teks aslinya, edisi-edisi yang belakangan diterbitkan Amana Corporation/IIIT atau Ifta/King Fahd Holy Qur'an Printing Complex, misalnya, adalah "versi baru" tanpa disertai beberapa apendiks serta penafsiran dengan perspektif tasawuf. Hal yang, seperti direkam dengan baik oleh MA Sherif dalam biografi Yusuf Ali yang ditulisnya (Jiwa yang Resah, Mizan, 1997), disesalkan banyak kalangan dan sempat menjadi polemik panjang.
Prestasi kaum muslim sekaligus ironi yang mengirinya itu penting diungkapkan sekadar untuk menunjukkan sesuatu yang mungkin sudah jadi klise karena begitu kerapnya diulang-ulang: watak kosmopolitanisme Islam dan sikap terbuka kaum muslim-awal dalam menerima dan menyambut kehadiran "yang lain", the others. Sikap yang akhir-akhir ini seolah raib dari kesadaran umat Islam dan berganti dengan sikap selalu curiga dan bahkan memusuhi (si)apa pun yang dianggap berbeda. Simtom yang diistilahkan Ali Ahmad Said (Adonis) sebagai "past-ism", "masa-lalu-isme": penolakan serta ketakutan akan setiap hal yang baru, beda, dan tak-umum.
Merujuk Abou El-Fadl untuk kali kesekian, kaum muslim saat ini tampaknya memang lebih senang pada, dan begitu cepat terpukau oleh, pleonasme sebuah pidato ketimbang memuliakan keanggunan khazanah pemikiran Islam yang tak tepermanai itu. Lebih terpesona oleh pidato yang gaduh (dan kerap angkuh), pemahaman-umum yang siap-pakai, dan terkesan jeri masuk dalam keheningan laku untuk---meminjam anak judul buku Abou El-Fadl itu--menelusuri keindahan Islam dari buku ke buku.
***
Penghormatan yang tinggi atas buku tentu saja bukan monopoli tradisi Islam. Sebab, sebagaimana khazanah Islam, tradisi Kristiani pun menyodorkan imperatif yang tak jauh berbeda. Dalan novel masyhur The Name of the Rose karya Umberto Eco (Jalasutra, 2003), misalnya, untuk menunjukkan betapa pentingnya buku (membaca) dan alangkah tak memadainya hidup hanya dengan doa (betapapun itu tugas utama para biarawan) atau mendaraskan kitab suci tanpa menelisik potensi makna yang dikandungnya, tokoh kepala biara dalam novel karya pakar semiotika dari Italia itu juga berujar: "Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara, dapur tanpa bumbu, kebun tanpa tumbuhan, padang tanpa bunga, pohon tanpa daun".
Walhasil, tak ada dalih untuk tak merayakan buku. Tak tersedia alasan untuk tak memuliakan siapa pun yang tak kenal letih menulis, merawat, dan menyemarakkan dunia, buku. Dunia yang menjadi suaka jiwa manusia dari proses pelupaan. Sehingga, jika "manusia merasa baru menemukan diri dan nilainya dalam Tuhan," kata Sindhunata suatu ketika, "maka Tuhan pun harus dicarinya bukan hanya dengan berdoa tapi juga dengan membaca."
Akhirnya, sepotong sajak Joko Pinurbo berjudul Buku barangkali tepat untuk menutup tulisan ini: Hadiah terindah yang kudapat dari buku adalah ingatan:/pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak/ mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian.
* Damanhuri, Penyuka buku
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Mei 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)