Sunday, December 29, 2013

[Tifa] Seni Kriya Pembuka Cakrawala

-- Iwan Kurniawan

Lewat desain dan kriya, para seniman dan desainer menghadirkan karya kontemporer yang tak hanya bernilai seni, tapi juga memiliki pasaran.

HUJAN baru saja berhenti setelah sejam lebih mengguyur kawasan Jakarta Pusat. Di halaman Galeri Nasional, Jakarta, beberapa pengunjung mondar-mandir masuk gedung untuk melihat pameran seni yang sedang berlangsung selama sebulan penuh itu.

Ada yang menggendong anak kecil dan ada pula pasangan yang saling bergandengan. Mereka tampak menikmati karya-karya terbaru para seniman dan desainer di ajang Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 itu, pertengahan pekan ini.

Pada pameran itu, ada puluhan karya terbaik anak negeri yang dipajang sejak 19 Desember hingga 19 Januari 2014 mendatang. Setiap konsep memiliki nilai-nilai estetika sehingga memberikan sebuah persepsi berbeda tentang seni kriya dan desain.

Setiap karya-karya yang dipamerkan tak terlepas dari upaya seniman untuk menghadirkan karya seni yang tak hanya dinikmati. Namun, bisa memberikan dampak pada ekonomi kreatif tuk menunjang proses kreativitas.

Karya instalasi Rebirth menjadi salah satu karya yang paling mencolok dalam pameran tersebut. Tiga seniman Susan Budiharjo, Gilang Luhur Mandiri, dan Uy Dharma Prayoga berkolaborasi dalam menghadirkan perpaduan antara seni patung, kriya, dan desain.

Tampak seorang perempuan bertelanjang dada sedang menatap tajam. Buah dadanya sengaja tak ditutupi sementara tangan kirinya menongkat di paha. Sepintas terlihat objek perempuan itu sedang duduk.

Di luar objek karya, ada sebuah rangka besi-besi yang menyerupai telur. Sehingga dari kejauhan, perempuan itu sedang terpenjara dalam telur raksasa. Namun, jangan heran, karena bila kita melihat lebih detail, karya itu merupakan sebuah instalasi yang cukup mengundang penasaran.

Setiap karangka tubuh terbuat dari kayu, kabel, dan besi. Semua terlihat seperti sebuah manusia ‘robot’ yang sedang menunggu untuk menetas. Namun, di balik itu, ada pemikiran-pemikiran liar yang dihadirkan ketiga desainer sekaligus seniman itu.

Karya lain yang mengundang perhatian juga tampak pada garapan Rinaldy Arvianto Yunardi yang berkolaborasi bersama Mariska Adriana dan Sandy Karman. Mereka menghadirkan instalasi berjudul Gravitasi. Karya setinggi dua meter lebih itu menggambarkan tentang gravitasi, hukum tarik-menarik antara dua dunia, dua langit, garis-garis bertautan, dan satu titik lautan.

Keduanya berada pada tatanan yang sama, dunia adalah langit dan langit adalah dunia. Semua tergantung dari mana kita melihat dan di mana kita berpijak. Penggunaan kaca sebagai pantulan menjadikan karya itu memberikan pandangan tentang langit dan bumi yang sama dilihat dari setiap negara mana pun.

Begitu pula dengan karya Children Nest karya Titiana Irawani dan Ayu Joddy berupa dua buah sarang yang ditumpuk sehingga membentuk labirin. Pengunjung bisa masuk dan berputar untuk menemukan sarang persembunyiannya dan tertidur di dalamnya.

Cakrawala baru

Guru Besar Emeritus Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Imam Buchori Zainuddin menilai keberadaan desain dan kriya cukup penting. Pada saat spirit nasionalisme muncul di Zaman Penalaran (The Age of Reason), arts banyak mengandung intuisi dan keterampilan pribadi.

“Spirit nalar membawa cakrawala baru tentang bagaimana manusia meninggalkan berbagai sendi-sendi kehidupan berdasarkan realitas yang dapat diukur, direncanakan, dan dimanfaatkan bagi kehidupan sosial,� ujarnya dalam pengantar katalog pameran.

Berkat penalaran, dunia sains semakin bergelora. Berbagai penemuan bidang ilmu pengetahuan banyak membawa perubahan secara radikal sehingga membuka lembaran baru dalam cara orang memanfaatkan pengetahuan. Yang akhirnya mendorong terjadinya Revolusi Industri.

“Seni yang biasanya merupakan hak istimewa kaum ningrat dengna acuan selera hedonistik berkembang mengikuti stratifikasi fungsi sosial. Akibatnya, seni semakin terurai,� jelasnya.

Irvan Noe’man, salah satu Kurator Biennale Desain & Kriya Indonesia,menjelaskan industri kreatif desain sangat terkait dengan banyak orang. Desain bukan sekadar menghadilkan added value (nilai tambah) bagi karyanya, melainkan lebih sebagai value creation yang menguntungkan bagi semua pihak. “Selain mutu dan nilai produk, karya mampu memenuhi harapan dan kepuasan bagi pembuat dalam menjalankan bisnis industri kreatif,� paparnya.

Lewat pameran desain dan kriya, para seniman dan desainer mencoba menghadirkan karya-karya yang penuh estetika dan memiliki dampak terhadap sebuah perubahan baru. Mereka menunjukkan bahwa ide kreatif tak akan menyengsarakan pelaku seni dan budaya. (M-4)

miweekend@mediaindonesia.com                                            

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 29 Desember 2013

Desakralisasi Kata-kata dalam ”Mantra Pejinak Ular’’

-- Darwin

SIHIR kata-kata adalah kekuatan para sastrawan. Di tangan seorang sastrawan, daya pikat kata adalah unsur terpenting dalam karya sastra, baik itu prosa maupun puisi. Kata-kata biasa bisa menjadi ‘berbunga’ di ujung pena seorang sastrawan. Kata-kata yang basi di mulut politisi, bisa menjadi berisi dalam setiap ucap para sastrawan. Itulah yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri yang populer dengan ‘’puisi mantranya’’. Atau, di seberang lain ada Ayu Utami dengan teknik komposisinya. Tentunya tidak ketinggalan Chairil Anwar dengan permainan diksinya yang sulit mencari pembandingnya di zaman Twitter saat ini. Masih banyak lagi para ‘pemain kata’ yang tidak bisa semuanya disebutkan namanya di sini.

Dalam ranah sastra, masih menjadi perdebatan apakah yang diperlukan itu permainan kata (diksi, metafora, rima dll.), atau kekuatan cerita. Dalam salah satu kesempatan, novelis Muhidin M. Dahlan pernah mengatakan kekuatan cerita lebih penting daripada kekuatan kata-kata. Meskipun ia tidaklah menafikan yang namanya kata-kata. Seorang prosais tidak harus terjebak dengan kata-kata memikat nan manis yang, dalam bahasa Rendra (hanya) bersajak tentang anggur dan rembulan. Tapi sisi ide, penguatan karakter, plot, detail, dan setting juga menjadi penting.

Terserah kita mau berpijak pada ranah yang mana. Tetapi penulis masih yakin kekuatan kata-kata itu sangatlah penting. Mungkin ini dipengaruhi oleh setting di mana penulis lahir, yakni Riau. Kita tahu Riau adalah tempat ‘bersemainya’ kata-kata. Dalam kenduri, upacara pernikahan, acara resmi pemerintah, hingga perbualan keseharian di rumah, orang Melayu Riau selalu disihir oleh kata-kata. Pantun, petatah-petitih selalu menghiasi. Ia sudah menjadi adat-resam, bahkan lebih ekstrem ia adalah periuk-nasi kedua masyarakat Riau. Tidak salah jika dari provinsi ini bermunculan para sastrawan dan budayawan yang ‘gila kata’ semacam Raja Ali Haji, Soeman Hs, Sutardji Calzoum Bachri, Tenas Effendy, Idrus Tintin, Taufik Ikram Jamil, dan sederet nama kondang lainnya.

Novel yang punya kekuatan pada cerita dan ‘abai’ dengan sihir kata bisa kita jumpai dalam Mantra Pejinak Ular (Penerbit Buku Kompas/2013) karya novelis yang juga cendekiawan Muslim, Kuntowijoyo. Novel ini sungguh tidaklah berbusa-busa dalam hal metafora. Bahasanya adalah keseharian kita apa adanya. Namun, novel yang mendapatkan penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) ini mempunyai kekuatan pada ide, plot, setting, karakter, dan detail, serta tentu saja nilai-nilai kehidupan yang terdedahkan di dalamnya. Kekuatan kearifan hidup inilah yang membuat Mantra Pejinak Ular menjadi luar biasa. Ia dipuji, dipercakapkan, dan pada akhirnya penghargaan pun didapatkan. 

Mantra Pejinak Ular yang sudah dicetak dua kali ini (cetakan pertama tahun 2000, juga oleh Penerbit Buku Kompas), menceritakan sosok Abu Kasan Sapari, seorang pegawai kecamatan yang juga seorang dalang muda jempolan. Ia ditugaskan di Kemuning, sebuah kecamatan di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah. Suatu ketika, di saat Abu sedang mengikuti pesta tibanya musim giling tebu, ia bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek tua itu membisikkan sesuatu di telinga Abu. Yang dibisikkan itu tak lain adalah mantra pejinak ular.

Jadilah Abu seorang yang ahli dalam menjinakkan ular. Tersebab keahliannya inilah ia dipanggil dukun ular oleh warga. Setiap ular yang ditemuinya selalu dijinakkannya, kemudian dilepaskan kembali. Di sini Kuntowijoyo mengajak pembaca untuk merefleksikan hidup, di mana mencintai ular berarti adalah mencintai alam, yang dalam bahasa Kunto -begitu ia sering disapa- dalam novel ini: peduli lingkungan. Ini tidak bisa dimungkiri karena setting novel ini adalah menjelang tumbangnya pemerintah Orde Baru (orba).

Mengenai hal ini ada bab khusus (bab IV) yang berjudul: ‘’Cinta Ular Cinta Lingkungan’’.

Berkat dekatnya Abu dengan ular, saat ia dipindahtugaskan di kecamatan Tegalpandan, ia memelihara seekor ular yang disebutnya dengan klangenan (kesayangan) di rumahnya. Rumahnya ini bersebelahan dengan seorang janda muda cantik bernama Sulastri. Ular itu menjadi jinak di tangan seorang Abu. Hal ini dibuktikan dengan penguasaan bahasa isyarat oleh ular itu. Ia mengikuti keinginan Abu hanya dari siulan saja. Bersiul satu kali, ular itu langsung naik di atas meja di rumahnya, bersiul dua kali berarti ular itu harus turun, dan tiga kali artinya ular itu harus membelit tiang tengah (hal. 135).

Di sini dengan piawai Kunto mengangkat nilai-nilai kearifan Jawa. Dalam filsafat Jawa, para lelaki yang telah dewasa dianjurkan mempunyai wisma, wanita, curiga, kukila, dan turangga (rumah, istri, keris, burung, kuda). Nah, di sini Kunto membalik kebiasaan orang Jawa dengan mensubstitusi burung dengan ular. Inilah kelebihan penulis produktif ini. Ia tidak membuat cerita menjadi klise, tetapi selalu menawarkan warna baru.

Mantra Ular dan Mitos
Keahlian Abu lainnya adalah mendalang. Ia adalah dalang handal yang mentas di mana-mana. Acara pernikahan, sunatan, tujuh belasan, kampanye pemilihan kepala desa/lurah, dan acara-acara kecamatan lainnya tidak bisa lepas dari atraksi wayang seorang Abu. Ia dikenal dan dicintai semua orang berkat keahliannya ini. Berkat seni pedalangan pulalah ia terusir dari kecamatan Kemuning. Bermula ketika ia mendukung dengan sangat terpaksa beberapa calon lurah. Ia diminta oleh calon-calon itu untuk wayangan semalam suntuk. Di sinilah muncul keragu-raguan dalam dirinya. Di mana sebenarnya wilayah seni, di mana pula politik? ‘’Kesenian itu otonom. Kesenian adalah keindahan, sedangkan politik adalah kekuasaan. Biarlah orang lain mengotori politik, asal bukan kesenian.’’ (hal. 110). Pada akhirnya, keangkuhan kekuasaan membuat ia dipindahkan karena calon status quo dikalahkan oleh calon-calon yang didukung oleh Abu.

Masih banyak nilai yang menjadi pesan dalam novel bertebal 274 halaman ini. Selain kaya akan filsafat Jawa, novel ini juga berisi wejangan keagamaan dan kritik sosial. Dalam ranah politik -karena setting-nya bernuansa Orba- pemikir keislaman yang juga sejarawan ini dengan sangat memikat menggambarkan detik-detik menjelang kejatuhan Soeharto dengan bahasa simbol. Dalam novel ini dideskripsikan dengan rubuhnya pohon beringin dekat terminal di kecamatan Tegalpandan.

Hal lain adalah berkait concern Kunto dalam wacana keislaman. Untuk diketahui, ia dikenal karena konsep Ilmu Sosial Profetik-nya. Ia mengupas habis surat Ali Imran ayat 110. Etika profetik menurut Kunto terdapat dalam ayat ini. Inti ayat ini amar makruf, nahi munkar, dan tukminunabillah. Amar makruf diderivasikan menjadi humanisasi, memanusiakan manusia. Sedang nahi munkar adalah pembebasan, yakni pembebasan umat manusia dari ketertindasan, kebodohan, dan lainnya. Tukminunabillah berarti transendensi, di mana adanya nilai-nilai ketuhanan yang melandasi dua hal di atas tadi.

Selain itu, ia membagi periode umat Islam Indonesia dengan babakan-babakan; yaitu fase mitos, ideologi, dan ilmu. Bukunya yang mengungkai hal ini berjudul Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas (Mizan/2002). Terkait dengan periode umat Islam ini tentunya juga disinggung dalam Mantra Pejinak Ular di halaman 257: ‘’Buang saja mantra itu, yang kau perlukan ialah ilmu, teknologi, dan doa, bukan mantra’’. Inilah kata-kata eyang dari Abu Kasan Sapari dalam sebuah mimpinya.

Ular yang dipelihara Abu memang menjadi masalah. Banyak warga kampung yang tidak menyukainya. Akibatnya, pada suatu malam rumah Abu akan digerebek oleh masyarakat kampung. Mereka sudah siap dengan pentungan, parang, golok, batu dan lainnnya. Mereka menginginkan ular itu dan tuannya sekaligus. Ular milik Abu dianggap telah menghabisi ayam dan ternak masyarakat lainnya. Hanya karena Sulastri-lah, janda yang dekat denganAbu itu, penggerebekan batal dilakukan karena Sulastri meyakinkan mereka. Di sinilah dilema terjadi, di satu sisi Abu sangat menyayangi ular itu, pada sisi lain ular itu tidak disenangi masyarakat kampungnya. Lagi-lagi bahasa simbol digunakan oleh Kunto. Mantra ular adalah bagian dari sejarah umat Islam yang disebutnya dalam era mitos, zaman di mana umat Islam didominasi cara berpikir mistis-irrasional yang berlangsung sebelum awal abad ke-20. Membuang mantra ular adalah proses transformasi dari periode mitos menuju periode ideologi dan ilmu.

Di sinilah kelebihan seorang Kunto yang juga seorang cerpenis ini. Ia meramu kata dengan bahasa sehari-hari dalam novelnya ini. Dengan kata lain, ia mendesakralisasi daya pikat kata dalam sastra. Namun, bahasa sehari-hari itu tidaklah mengurangi kualitas novelnya. Nilai-nilai kearifan dan kritik sosial menghiasi novel dengan ide di luar mainstream ini dari lembar pertama hingga akhir. Bandingkan dengan novel-novel seperti Ayat-ayat Cinta, misalnya, sudah bahasanya sederhana, ditambah lagi dengan ceritanya yang klise! Ini peringatan bagi kita jika menulis karya sastra. Tinggalkan yang klise, bikin ide cerita dengan warna baru! Mari mencoba! n

Darwin, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Univ. Muhammadiyah Yogyakarta. Karya terakhir antologi cerpen Pesan Mama Tentang Kematian yang Indah (The Phinisi Press/Yogyakarta/2012), asal Pelalawan.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 29 Desember 2013

Musik Versus Sound System

-- Aristofani Fahmi

 JIKA membaca judul tulisan ini di imajinasi Anda muncul ring tinju, saran saya tunda dulu, ada saatnya nanti. Awalan ini penting untuk sekedar dasar mengapa judulnya demikian.

Dalam mementaskan karyanya di panggung, komponis dan musisinya sedang berupaya mempublikasi nilai yang ditujukan kepada penontonnya. Sebaliknya penonton akan berusaha memaknai nilai yang terkandung dalam karya musik tersebut. Musik sebagai sebuah karya yang dipentaskan, menggunakan media bunyi sebagai elemen dasarnya. Maka yang utama dalam proses pemaknaan nilai karya ini adalah kehadiran tiga elemen, yaitu penyaji, karya, dan penyimak. Pada era modern ini kehadiran sound system menjadi hal yang tak kalah pentingnya dan kadang sebagai penentu dalam kesempurnaan proses pemaknaan nilai tersebut.

Sound system merupakan perangkat teknologi pengeras suara yang dapat membantu sebuah bunyi/suara terdengar jelas dari kejauhan. Bahkan saat ini banyak pertunjukan musik sangat bergantung pada kesempurnaan teknologi sound system, agar tujuan utama pertunjukan dapat terwujud secara tuntas. Maka sound system menjelma menjadi bagian utama dalam pertunjukan seni terutama (musik). Dengannya kita akan mengenali detail elemen bunyi musik.

Tapi mengapa judul tulisan ini musik dan sound system justru saling beroposisi? Keduanya saling melawan. Apakah nantinya harus ada yang kalah? Ah... penulis ini mengada-ada saja.

Ini bukan mengada-ada tapi peristiwa apa adanya. Saya mengambil contoh terhangat. Beberapa hari yang lalu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau menggelar event bertajuk Culture Night pada tanggal 10 hingga 15 Desember 2013, di pelataran purna MTQ di Pekanbaru. Pada helat ini, publik di Kota Pekanbaru disajikan beragam seni pertunjukan oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah dalam dan luar negeri. Acaranya luar biasa meriahnya, sebab menghadirkan beberapa artis Ibu kota seperti band Wali, penyanyi dangdut Iis Dahlia, dan lainnya. Tata panggung yang megah, pencahayaan yang glamor, dan sound system yang canggih dengan kekuatan di atas 20.000 watt. Selain itu juga dihadirkan sanggar atau grup seni dari daerah yang aktif berkarya untuk menampilkan inovasi karya-karyanya.

Fasilitas yang sungguh mewah untuk pementasan karya-karya seni. Bandingkan dengan peralatan yang ada gedung megah Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru, yang pada malam itu menjadi latar belakang panggung Culture Night. Sebetulnya pasilitas di Anjung Seni Idrus Tintin dapat dikatakan tidak usang, pengadaan awalnya sudah ada sistem komputerisasi untuk operasionalnya. Hanya saja belum pernah digunakan secara maksimal. Entah apa masalah dan siapa penanggung jawabnya. Tapi, untuk apa dibandingkan? Kebanyakan seniman yang menggelar karya-karyanya di Gedung Pertunjukan terbesar dan kebanggaan Provinsi Riau ini dengan produksi sendiri adalah seniman yang pasrah pada kondisi seadanya Gedung Anjung Seni Idrus Tintin. Produksi karya seni yang belum sanggup mengoptimalkan pencahayaan dan teknologi tata suara sebagai bagian utama artistik. Dugaan saya karena tidak memiliki biaya yang cukup atau gagal menarik minat sponsor untuk membantu mengadakan pasilitas dan operator yang lebih baik. Yang sering kali muncul dalam benak adalah kata ‘seandainya’. Seandainya ada biaya untuk memaksimalkan sound system dan tata lampunya gedung pertunjukan ini.

Grup yang berpentas di Anjung Seni Idrus Tintin selama ini hanya dapat mampu menghadirkan pendingin ruangan. Solusinya tentu saja adalah butuh perhatian yang serius agar karya yang ditampilkan dapat secara maksimal diapresiasi oleh masyarakat. Kondisi ini telah berlangsung berlarut-larut, akhirnya yang terjadi adalah pemakluman tak berkesudahan. Di sisi lain, peralatan yang digunakan pada Culture Night tentunya merupakan pasilitas impian seniman yang mengedepankan detail dalam karyanya. Namun kembali lagi, untuk menghadirkannya dalam produksi sendiri membutuhkan biaya yang sangat besar. Konon event ini menggunakan biaya hingga milyaran rupiah.

Kegagalan Proses Pemaknaan
Seperti yang disebut di atas, bahwa pertunjukan musik merupakan proses publikasi makna. Prosesnya terjadi antara penyaji karya - karya - penyimak. Sound system di sini menjadi media utama dalam publikasinya. Apabila sound system tidak baik (precise) maka proses pemaknaan besar kemungkinan akan gagal. Ini sudah terjadi berulang kali, tidak hanya di Riau tapi hampir di seluruh daerah di Indonesia, tidak terkecuali Jakarta.

Selalu ada yang menjadi kecewa pada saat pertunjukan seni yang menggantukan diri pada sound system. Salah satunya adalah peserta Culture Night dari Kabupaten Pelelawan. Mereka menampilkan karya musik yang berjudul ‘’Lakasyafa’ah Ya Rasulullah’’, yang disusun apik oleh Bambang Haryono S.Pd, berpentas pada hari ketiga Culture Night. Sebagai penonton, saya sesungguhnya sangat tertarik dengan konsep yang ditawarkan yakni mencoba mengajak khalayak untuk tidak meninggalkan Salawat. Sebab pada masa sekarang salawat hanya menjadi sebatas bacaan biasa, pemaknaan terhadapnya menjadi dangkal. Padahal sesungguhnya Salawat memiliki makna yang perlu menjadi refleksi bagi kehidupan manusia, menjadi penyelamat di ambang dosa dan amal. Melalui media musik, Bambang mencoba menyajikan Salawat menjadi hal yang lebih menarik. Mengajak penonton menyelami makna Salawat melalui susunan bunyi yang syahdu. Vokal shalawat dilagukan dengan melodi tenang dan khusyuk.Sehingga setiap orang yang mendengarnya akan menemukan ketenangan batin. Setidaknya itu cita-cita komponisnya.

Namun apa yang terjadi, selepas pentas saya menemui para pemainnya untuk sekedar memberi selamat. Sepertinya cita-cita komponis tidak berhasil. Wajah para pemain terlihat kumal. Tidak bahagia. Ketika ditanya bagaimana pertunjukannya, jawabnnya singkat: sound systemnya tidak baik. Huuh... terjadi lagi, pikirku. Bahkan Cendra yang bermain Cello pada karya Bambang ini mengungkapkan kalimat bernada apatis terhadap buruknya sound system. ‘’Biarlah, kondisi ini pada akhirnya menjadi kebiasaan,’’ kata Cendra seusai pentas. Menurut saya ungkapan Cendra ini adalah ‘bencana estetika musik’. Pemusik sebagai tokoh utama penyampai makna mulai tidak peduli terhadap tujuan proses pemaknaan yang terjadi pada triangulasi estetika tadi. Apakah pesan dari karya tersebut sampai kepada penyimak atau tidak, bukan lagi menjadi hal penting. Pada kondisi ini kehadiran kesenian sebagai sistem nilai menjadi tidak berharga.

Dalam pengamatan saya, sound system pada pertunjukan karya ‘’Lakasyafa’ah Ya Rasulullah’’ malam itu memang buruk. Mickrophone vokal yang dipasang sebanyak tiga buah, satu pun tidak ada yang bunyi. Padahal karya musik ini mengangkat Salawat di mana vokal menjadi hal utama. Sementara instrumen biola yang menggunakan kabel plug in mendominasi dengan vomule keras. Gambus seperti ‘ada gambar tak ada suara’. Cello seperti sosok bertubuh raksasa tapi suaranya mlempem. Berulang kali saya menoleh ke belakang, ke area awak sound system, berniat memberi tandadengan tatapan penuh arti: ‘’halloo... ada yang tidak beres di sini,’’ teriakku dalam pikiran. Namun sepertinya mereka kebingungan, tidak tahu apa masalahnya. Padahal setiap penampil sudah melalui proses cek sound pada siangnya. Tidak dapat terhitung berapa kali kejadian seperti ini selalu terulang. Sound system selalu menjadi faktor utama kegagalan proses pemaknaan pertunjukan musik. Yang menyedihkan adalah sound system bintang tamu artis dari Ibukota begitu sempurna. Saat ini kita sudah dapat menerka siapa pemenang antara musik vs sound system.

Meraba Pokok Permasalahan
Dalam catatan saya, pertunjukan baik musik maupun tari di Pekanbaru, sangat sedikit pertunjukan yang tidak mempermasalahkan sound system. Tidak hanya  di Anjung Seni Idrus Tintin, event tari dan musik yang dilombakan di ruang lain seringkali menjadi kambing hitam atas kegagalan grup dalam meraih predikat terbaik. Misal, pada parade tari tingkat Provinsi Riau tahun 2011, komponis dan musisi dari grup kabupaten Indragiri Hulu membawa perangkat sound system sendiri. Meskipun persiapannya cukup panjang, sekitar 20 menit, untuk mengganti chanel mickrophone dari mixer milik sound system penyelenggara dengan mixer kecil milik penyaji. Namun usaha tersebut berhasil. Pertunjukan berjalan lancar dengan sound system yang steril dari bunyi-bunyian yang tidakdiinginkan kehadirannya. Sebagai bandingannya adalah, sound system penyajian dari kabupaten sebelum Indragiri Hulu yang betul-betul buruk. Bunyi storing/feed back mengisi ruang pendengaran sejak awal hingga akhir sajian. Dengan kondisi seperti itu, rasa jengkel menumpuk, mempertanyakan apa pokok permasalahannya.

Apabila disimak secara sepintas pokok permasalahan buruknya pelayanan sound system seni pertunjukan ada pada sumber daya para operatornya. Operator sound system yang mumpuni di negeri ini terbilang sedikit. Salah satunya almarhum Totom Kodrat. Ia menyerahkan segala hidupnya untuk menguasai keterampilan tata suara. Hingga akhirnya menjadi konsultan tata suara gedung pertunjukan. Grup musik yang berpentas di Jakarta selalu berharap akan di tangani oleh Totom. Dalam sebuah bincang ringan di Jambi awal tahun 2012, Totom mengatakan sound enginer harus mau mempelajari seluk beluk instrumen tradisional nusantara, sebab ragamnya sangat menarik untuk dijadikan bahan pembelajaran karakter bunyi.

Tak dapat dipungkiri, penguasaannya terhadap tata suara menjadikannya panutan untuk tata suara karya musik inovasi tradisi berbahagialah seniman yang pernah bekerja sama dengan Totom.

Kita dapat berkaca pada sosok Totom, bahwa salah satu persoalan mendasar operato sound system di Indonesaiadalah perlunya pengetahuan yang luas dan kedekatan terhadap beragam jenis musik. Mungkin operator sound satu dapat dengan lihai menangani pertunjukan musik band populer. Apalagi dengan fasilitas sistem digital yang sudah tersedia pada sound system mutakhir. Namun belum tentu untuk musik inovatif yang menggunakan instrumen tradisional sebagaimana para peserta di acara Culture Night. Untuk menjadi operator sound system yang baik, tidak hanya dituntut menguasai persoalan teknis. Anda perlu mendalami karakter bunyi setiap instrumen musik dan pemahaman dasar komposisi musik yang dimainkan oleh grup musik.

Sebuah pengalaman lain ketika terlibat dalam proyek perekaman musik pedesaan di Kabupaten Subang pertengahan tahun 2004. Saat itu tim sedang merekam musik tradisional Tarling. Ditengah proses perekaman tiba-tiba operator minta istirahat untuk evaluasi. Terjadi perbedaan pendapat antara dua orang ahli tata suara yang berbeda latar belakang. Satunya etnomusikologi, satu lagi terbiasa menangani perekaman musik populer. Permasalahannya adalah yang direkam adalah musik tradisional yang tidak bisa disikapi sebagaimana musik populer. Hasilnya yang diharapkan adalah kemurnian karakter bunyi instrumendan keseimbangan apalagi dengan hanya menggunakan dua buah mickrophone. Hal ini tentu saja mustahil bagi operator sound system musik populer. Dari pengalaman itu saya menganggap penguasaan karakter instrumen musik dan komposisi musik menjadi sangat penting. 

November lalu saya sempat menyaksikan pertunjukan Kua Etnika Yogyakarta arahan Djadug Feriyanto di teater Salihara Jakarta.Mereka memainkan jenis musik World Music, dimana instrumen tradisional Jawa dipadukan dengan instrumen combo band. Alat musik yang digunakan sangat banyak sehingga panggung seluas 8 x 10 meter terlihat penuh. Dari hati yang paling dalam saya memuji operator sound systemnya yang menghadirkan bunyi yang sangat jernih, sama sekali tidak ada gangguan teknis.

Selepas pertunjukan saya temui operatornya untuk menanyakan bagaimana bisa seperti itu. Mas Gendhel, panggilannya, mengatakan tidak usah terlalu ribet, yang paling penting adalah keseimbangan volume di atas panggung harus tercipta. Keseimbangan volume ini akan sangat menentukan kenyamanan para pemain dalam penampilannya. Bagaimanakah tataran keseimbangan volume yang dimaksud, hanya para pemusik yang tahu. Operator sound system harus mampu menerjemahkannya. Di sinilah pentingnya komunikasi intim antara pemusik dan operator sound system.Sebab keduanya sedang mempertaruhkan kredibilitasnya.

Seniman musik seperti Bambang dan Cendra ini tidak butuh macam-macam, cukup keseimbangan bunyi setiap instrumen musik. Sebab tanda musik pada perubahan yang tidak dapat diprediksi tidak selalu dilakukan oleh satu alat musik sebagaimana instrumen drum pada karya musik populer. Jadi apabila operator sound belum mampu untuk sekedar menciptakan keseimbangan volume antar instrumen, terus bagaimana dengan dengan tuntutan lain dari karya musik yang lebih dalam, semisal karakter bunyi setiap instrumen? Para pemusik di Riau selalu mengatakan ‘Lamak’ untuk mengungkapkan rasa puas terhadap sound system yang baik seusai berpentas. Dan tentu saja kata ‘Lamak’ menjadi pujian terhadap operator sound system.

Sekedar saran bagi pihak yang berwenang terhadap penyedia jasa sound system sebagai fasilitas artistik seni pertunjukan, investasi Anda terhadap kualitas peralatan sound system hendaknya diimbangi dengan sumber daya operatornya. Berinvestasi jugalah pada peningkatan kemampuan operator, niscaya Anda adalah penyedia  jasa sound system yang mulia. Kami doakan.

Yang Kalah
Apakah sudah menemukan siapa yang kalah?  Mungkin kita berbeda. Menurut saya tentu saja bukan dari pihakpenyedia jasa sound system. Sebab seburuk apapun kualitas jasa sound systemnya, nilai kontrak dari penyewa tidak akan berubah. Namun juga bukan pemusik seperti Bambang, Cendra atau pemusik non populer lainnya, bayaran peyenya tidak akan berkurang. Maaf, Saya bercanda. Maksud dari kalimat tersebut adalah, tugas musisi dan komponis sudah selesai ketika usai menampilkan karyanya. Selebihnya adalah urusan teknis yang menjadi penentu tersampaikannya pesan atau tidak. Kalau begitu, siapa?

Yang kalah, sejatinya ialah nilai yang terkandung dalam karya itu sendiri. Pada awalnya nilai itu berada di dunia abstrak imajinasi pengkarya. Melalui proses panjang dengan laku kontemplatif yang dalam, pengkarya berusaha menerjemahkan realitas metafisik menjadi bahasa konkrit berupa bunyi, teks, gerak, rupa-bentuk, dan lain lain untuk dapat dihayati manusia. Hanya sedikit dari seniman tulen yang  sanggup melakukannya, sehingga predikat pencipta melekat pada sosoknya ketika berhasil melahirkan karya. Malam itu tentu saja Bambang berharap karyanya dapat diapresiasi secara tuntas.

Namun ketika karya itu tidak berhasil dikomunikasikan secara total, disebabkan oleh persoalan teknis, maka nilai dan karya tersebut bergentayangan di pikiran orang-orang yang terkait. Dia gagal dimaknai oleh publik sebagai tujuan penciptaannya. Eksistensinya pun tidak sempat menjadi ‘peristiwa’ yang senantiasa ingin diketahui oleh manusia apresiator. Tidak ingin lama bergentayangan, ia akan kembali pada senimannya, berusaha agar tetap diakui keberadaannya. Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan, sang seniman penciptanya hanya bisa pasrah, seraya membelai dan berharap semoga pada penampilan berikutnya dapat lebih baik. n

Tulisan dipersembahkan untuk almarhum Totom Kodrat, konsultan sound system dan akustik Anjung Seni Idrus Tintin, sosok operator yang sederhana, yang semasa hidupnya ia dedikasikan pada peningkatan kemampuan sound system. Semoga ada penerusnya. n

Aristofani Fahmi, musisi dan penonton kesenian. Tinggal di Kota Bertuah Pekanbaru, Ria

Sumber: Riau Pos, Minggu, 29 Desember 2013