Sunday, May 19, 2013

[Refleksi] Wiji Thukul

-- Djadjat Sudradjat

MEI 1998 adalah bulan yang "belum selesai". Ia revolusi yang penuh tragedi, waktu yang penuh orang-orang mati dibunuh dan dihilangkan. Juga kau, Wiji Thukul, anak tukang becak, buruh yang memilih menjadi penyair dan aktivis partai (PRD). Kau adalah martir perubahan...

Thukul, kau bukan satu-satunya yang dihabisi. Tahun sebelumnya ada Yani, Sonny, Deddy, Alkatiri, Ismail. Pada 1998, ada Suyat, Herman, Petrus, Ucok, Yadin, Hendra, Abdun. Apa namanya kalau bukan mati jika belasan tahun tak kembali? Mereka tak menjelma menjadi jin, bukan?

Thukul paling diburu. Dihajar popor senjata hingga matanya nyaris buta. Padahal, ia hanya melawan dengan kata-kata. "Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan!? (sajak Peringatan). Inilah ?mantera? bagi aktivis dalam aksi melawan penguasa-durjana.

Kau pun terus dikejar serupa harimau memburu kelinci. Kau lari dengan jeri, menyamar dengan beberapa nama, dari kota ke kota, menyeberang lautan, bersembunyi, berhari-hari, tanpa gerak, tanpa bunyi. Meninggalkan anak-bini. Tapi terus menulis puisi.

Mula-mula kau menjajakan puisi dari kota ke kota. Puisi tak sekadar membuatmu yang dulu minder menjadi percaya diri, tapi juga berani. Puisi membuatmu punya harga diri. Sajakmu menjadi magma yang menurunkan lahar. Yang menjadi energi bagi kaum buruh, aktivis HAM, kaum prodemokrasi, dan mereka yang terimpit batu penguasa.

Pada putrimu kau menulis: "Wani, bapakmu harus pergi/kalau teman-temanmu tanya/kenapa bapakmu dicari-cari polisi/jawab saja:/karena bapakku orang berani.? (sajak Wani, Bapakmu Harus Pergi). Lalu kau, yang lahir di Solo, 26 Agustus 1963, menertawakan kawan-kawanmu yang penakut.

Mungkin itu "libido" orang-orang yang kerap dianggap lemah. Kau miskin, sekolahmu tak tinggi, tubuhmu ceking, bicaramu pelo. Tapi dengan ?sastra terlibat? yang kau yakini, penguasa jadi ngeri. Mereka murka. "Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi/....istriku kaget/ sebab seorang letnan jenderal menyeret-nyeret namaku/" (sajak Para Jendral Marah-Marah).

Bagimu sastra adalah sebuah kesaksian. Di tengah rakyat yang ditindas ia menjadi khianat jika terus ?memuja keindahan rembulan? dan ?harum melati?. Bagimu sastra haruslah berjejak pada bumi: merekam helaan napas dan tetes keringat rakyat di pasar, pabrik, sawah, dan jalanan yang liar.

Thukul, dengan puisi kau telah menjadi martir perubahan. Sebagian orang masih percaya suatu saat kau akan kembali, tapi aku yakin kau yang menjadi target utama penguasa waktu itu, memang telah dihabisi. Kebiadaban yang terus dikunci hingga kini, mungkin juga nanti... n

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Mei 2013

Saturday, May 18, 2013

Pudarnya Sensibilitas Masyarakat pada Sastra

-- Doddy Hidayatullah

NASIB dunia sastra kita, dewasa ini kian memprihatinkan. Sensibilitas dan kepedulian masyarakat pada sastra, semakin pudar-untuk mengatakan tidak ada lagi. Mestinya, masyarakatlah yang bertanggungjawab pada sustainabilitas dan tumbuh-tegaknya sastra, karena masyarakat merupakan objek dan subjek sastra.

    Memang, absennya kesadaran melestarikan sastra tidak berakar dari masyarakat semata. Nyatanya, dunia sastra juga turut andil membidaninya. Khususnya, simbol "binatang jalang" sastrawan kita dengan penampilan fisik yang kumal, awut-awutan, berambut gondrong tak terurus, mungkin malah "tatoan" layaknya pelaku kriminal, hidup tak teratur, anti-kemapanan, mengutamakan kebebasan yang tak terbatas, dan prilaku hidup bertentangan dengan norma-norma masyarakat normal lainnya, merupakan pemicu utama. Selain itu, dalam dunia akademik -dan dunia keilmuan pada umumnya- terjadi dominasi perspektif monodisipliner. Perspektif ini jarang sekali melibatkan disiplin lain, dan cenderung melihat disiplin-disiplin ilmu termasuk sastra secara tunggal.

    Dari perspektif monodisipliner, tumbuh anggapan bahwa studi sastra hanya terbatas pada studi teks-teks sastra, dan tidak memperhatikan kaitannya dengan elemen-elemen lain di luarnya. Corak perspektif monodisipliner dapat dilihat dalam karya-karya semacam An Introduction to The Language of Poetry (Chatman, 1968), Poetic Imagery (Wells, 1961), The Verbal Icon (Wimsatt, 1967), dan Aspects of The Novel (Forster, 1978).

    Pembahasan karya sastra dengan perspektif monodisipliner tentu sangat merugikan sastra sendiri. Sebab, perspektif monodisipliner mengarahkan studi sastra hanya pada persoalan bagaimana meningkatkan keterampilan berbahasa, mengembangkan kosakata, atau paling luas mencari tema-tema kemanusiaan yang dianggap universal.

    Akibatnya, selain membuat sastra semakin teralienasi dari disiplin-disiplin keilmuan lainnya, perspektif monodisipliner juga mereduksi makna, mengkaburkan peran sastra dan menyesatkan cara pandang terhadap realitas.

    Di Amerika dan Eropa, dominasi perspektif monodisipliner sudah ditinggalkan. Di sana, kajian sastra telah mengalami kemajuan yang sangat pesat.

    Para ilmuan dan sastrawan di kedua benua tersebut, saling bahu-membahu mengembangkan kajian-kajian sastra hingga melampaui perspektif monodisipliner-yang mereka sebut sebagai perspektif interdisipliner. Dengan perspektif interdisipliner tersebut, orang dituntut untuk tidak hanya berkutat pada satu disiplin ilmu saja, namun secara lebih luas juga harus bisa melihat hubungan kajiannya dengan ilmu lain.

    Menurut Muh. Arif Rokhman (2003:4-6) ada beberapa keuntungan perspektif interdisipliner dalam studi sastra. Pertama, studi sastra tidak mengasingkan dirinya dari studi kemanusiaan yang praktis karena ketika bersinggungan dengan ilmu-ilmu sosial dan teknik, misalnya, studi sastra harus mampu menjawab permasalahan-permasalahan pragmatis yang dihadapi oleh manusia.

    Kedua, posisi karya sastra akan sejajar dengan penelitian antropologi, sosiologi, sejarah, serta disiplin ilmu sosial lainnya. Sebab, melalui studi-studi tentang motif-motif (pola-pola) dalam karya sastra, karya-karya tersebut akan menjadi semacam pola-pola berulang dalam kehidupan manusia. Karya sastra akan menjadi monumen kemanusiaan pada tingkat lokal, nasional maupun internasional yang membantu manusia pada tingkat-tingkat yang berkaitan.

    Ketiga, manusia yang tersentuh sastra akan mempunyai cara melihat persoalan yang lebih utuh dalam hidup karena apa yang dipahaminya dari teks-teks sastra-yang merupakan potret kehidupan-dapat dilihat dari sisi lain bergantung pendekatan dari disiplin lain. Dari cara pandang tersebut, manusia akan melihat perbedaan-perbedaan secara wajar, sehingga akan timbul toleransi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut.

    Keempat, bagi para pakar disiplin lain, studi sastra interdisipliner memperkaya pengetahuan mereka tentang manusia meliputi keinginan-keinginannya, normalitas dan abnormalitasnya, penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan, kekecewaan-kekecewaannya sehingga para pakar tersebut lebih mempertimbangkan sisi-sisi kemanusiaan semacam itu dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan disiplin-disiplin mereka.

    Kelima, dalam jangka panjang, akan terjadi perubahan pandangan di dalam masyarakat bahwa studi sastra yang mulanya hanya dapat dilakukan oleh para ilmuwan sastra, akan dapat dilakukan oleh ilmuwan dari disiplin lain, dan bahkan, orang biasa bisa melakukannya. Pendek kata, perspektif interdisipliner selain mendekatkan sastra dengan disiplin-disiplin ilmu sosial lainnya, juga dapat mengembangkan cara pandang yang lebih utuh dan lebih luas terhadap realitas.

    Persoalannya kemudian, untuk mewujudkan kajian sastra interdispliner, cara pandang serta pendekatan apa yang bisa digunakan? S Bassnett dalam Comparative Literature: A Critical Introduction (1995) menunjukkan ada satu pendekatan alternatif yang dapat digunakan dalam hal ini, yakni yang disebut dengan Sastra Banding. Istilah Sastra Banding (Comparative Literature), pertama kali muncul di Perancis tahun 1816, yang diambil dari rangkaian antologi pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee.

    Di Jerman, istilah tersebut dipadankan dengan vergleichende literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literature muncul di Inggris pada tahun 1848. Sementara di Eropa, sastra banding pada awalnya digunakan sebagai perspektif untuk melacak "pengaruh" seorang penulis dari suatu negara atau budaya lain. Namun, dalam perkembangan selanjutnya terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut, karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain.

    Sastra Banding merupakan studi sastra yang melewati batas-batas sebuah negara tertentu dan studi tentang hubungan antara kesusastraan di satu pihak dan bidang lain dari pengetahuan, seperti seni, filsafat, sejarah, ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu alam, agama, dan sebagainya di lain pihak. Pendeknya, Sastra Banding merupakan perbandingan satu karya sastra dengan karya lain dan perbandingan antara karya sastra dan lingkup ekspresi manusia yang lain. n

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 18 Mei 2013


Friday, May 17, 2013

Membangun Peradaban melalui Literasi

-- Ali Rif an

JIKA mencermati perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, kita segera menemukan realitas yang miris. Betapa tidak, proses transfer ilmu dan informasi hari ini lebih banyak dilakukan dari mulut ke mulut ketimbang melalui kegiatan membaca.

Tidak heran jika data dari United Nations Development Programme (UNDP) pernah menyebutkan dalam hal minat baca, Indonesia menempati peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Bahkan, untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara di bawah peringkat Indonesia, yakni Kamboja dan Laos.

Fakta di atas menandakan bangsa ini agaknya telah mengalami kepikunan sejarah. Sebab, dalam sejarahnya, kegiatan membaca bukanlah hal asing bagi kita. Sebagai contoh, para pendiri bangsa kita adalah orang-orang yang kutu buku, sebut saja Soekarno, Mohammad Hatta, Sahrir, Tan Malaka, Hasyim Asy?ari, dan lain-lain.

Bahkan, saking seringnya membaca, ketika Soekarno ditahan di Penjara Sukamiskin, ia mampu melahirkan buku menggugah berjudul Di Bawah Bendera Revolusi. Begitu halnya Mohammad Hatta, ketika mengalami masa tahanan di Penjara Boeven Digul, ia mampu memunculkan buku berjudul Mendayung Antara Dua Karang.

Dua Sebab

Apa sebenarnya yang melatari rendahnya minat baca di negeri ini? Menurut Suherman, dalam bukunya Bacalah! Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban (2010), ada dua faktor yang menyebabkan minat baca rendah di Indonesia. Pertama, faktor determinisme genetik, yakni warisan orang tua. Seseorang tidak suka membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan dirinya pada bacaan.

Kedua, determinisme lingkungan. Orang tidak senang membaca karena lingkungan, teman-teman, rekan kerja, guru, atau dosen tidak senang membaca. Di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak disediakan perpustakaan, serta tidak ada peraturan perusahaan/instansi yang mengharuskan seseorang untuk membaca.

Dengan kata lain, membaca belum dijadikan denyut nadi dalam kehidupan berbangsa. Orang tua masih malas memberikan keteladan membaca bagi anak-anaknya, sementara pemerintah makin acuh dan kurang selera menggerakkan budaya baca.

Tidak heran jika guru besar bahasa di Universitas Pendidikan Indonesia, A. Chaidar Alwasilah, pernah menemukan penelitian mencengangkan tentang kaum akademis di Indonesia. Alwasilah dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 16 responden etnografis (mahasiswa S-1, S-2, dan S-3) di kampus Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, mayoritas responden menilai bahwa pendidikan nasional Indonesia tidak membekali (maha) siswa dengan kemampuan menulis paper (75%), tidak mengajari kemampuan berpikir kritis (68%), dan menulis paper merupakan tugas akademik yang paling sulit (75%).

Kenyataan ini tentu berbahaya. Pasalnya, membaca merupakan titik penting dari tumbuh kembangnya suatu peradaban. Dalam Islam, misalnya, membaca justru perintah pertama dan utama sebelum diperintahkan yang lainnya. Islam pernah menjadi saka guru peradaban dunia yang menguasai lebih dari separuh jagat ini. Jika ditelusuri, peletak dasar ilmu-ilmu yang ada sekarang adalah lahir dari tangan-tangan para ulama yang memiliki kegilaan dalam membaca.

Dalam konteks kenegaraan, kemajuan suatu bangsa dan peradaban sangat berkelindan dengan kegetolan masyarakatnya menyelami dunia literasi. Sebagai contoh, di negara maju, semisal AS dan Jepang, setiap individu memiliki waktu baca khusus dalam sehari. Rata-rata kebiasaan di negara maju memiliki waktu baca delapan jam dalam sehari, sementara di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap harinya (Suherman, 2010: 128).

Kebutuhan Primer

Oleh karena itu, sudah saatnya kesadaran membaca menjadi pijakan dari segenap anak bangsa. Sebab, jika pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan primer manusia secara fisik (badan), buku dan bahan bacaan lainya adalah kebutuhan primer manusia secara nonfisik, rohani (otak). Kita harus sadar bahwa buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya.

Buku, menurut sastrawan kondang Taufik Ismail, adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu. Bangsa yang membaca adalah bangsa yang gemar membaca, bukan menonton. Sudah saatnya budaya visual yang lebih dominan di negeri digantikan dengan tradisi literasi.

Ali Rif'an, Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber: Lampung Post, Jumat, 17 Mei 2013