Saturday, April 21, 2012

Mempertanyakan Pembinaan Minat Sastra di Kalangan Muda

-- RR Miranda

MASALAH utama yang paling serius dalam kesusastraan kita ialah menumbuh kembangkan minat sastra pada generasi muda. Bahkan kalau perlu mencuci otak anak-anak muda menjadi setengah sastrawan.

    Sebab lingkungan mereka (keluarga, sekolah dan mungkin negara) sepertinya punya sikap sinis terhadap sastra dan sastrawan.

    Dalam keluarga misalnya. Kebanyakan orang tua akan mengutuk diri sepanjang hidupnya kalau akhirnya kecolongan punya anak atau menantu seorang sastrawan.

    Bisa begitu, karena dimata mereka sastra adalah "bidang pekerjaan" paling gila yang pernah ada. Dan mereka yang nyemplung di dalamnya adalah "orang gila".

    Nada lembaga persekolahan terhadap sastra dan sastrawan juga tidak jauh beda. Bahkan lebih brutal. Prilaku kurikulum pendidikan kita malah terkesan ingin menghapuskan etika atau akal budi yang bersumber dari karya sastra.

    Hal itu dibuktikan sampai saat ini pelajaran kesusasteraan masih sebagai bagian dari mata pelajaran lain, seperti bagian Bahasa lndonesia dan porsinya pun hanya 10 persen. Kalau diperguruan tinggi ia hanya bagian dari mata kuliah budaya dasar, porsi materi sastra 0,1 persen. Seakan-akan sastra hanyalah pelajaran sampingan yang jika dalam keadaan mendesak layak untuk ditiadakan. Bebeda dengan matematika, fisika, kimia dan akuntansi.

    Ironisnya lagi generasi muda seakan percaya bahwa sastra memang tak bisa memberikan apa-apa. Apalagi memberikan titik terang pada masa depannya.

    Sebenarnya banyak problem lain dalam kesusastraan, tapi ringan. Seperti sempitnya jalan menuju singgana sastra karena system akomodasi yang terlunta-lunta, terutama bagi pemula. Tersumbatnya saluran regenerasi akibat pengapuran yang sengaja dibuat generasi tua dan media massa.

    Ada juga problem tentang munculnya saluran baru kesusastraan yang sengaja dibuat generasi muda seperti gua bawah tanah dalam perang gerilya karena mampatnya saluran lama, yakni sastra cyber. Yang mana setelah diproklamirkan kemunculannya menjadi perdebatan. Bahkan dituding-tuding sebagai sastra "sampah".

    Tapi ini pun masih bukan problem serius. Yang menjadi problem utama kita bagaimana menumbuhkan minat sastra pada generasi muda. Sebab sastrawan generasi tua mulai bengok-bengok bahwa kita kekurangan sastrawan. Dari 1 juta penduduk hanya lahir satu sastrawan. Sedangkan idealnya dari 1 juta penduduk perlu 10.000 sastrawan baru. Ini artinya kita kekurangan juru damai. Dan dampaknya akan sangat menyeramkan; jiwa manusia muda Indonesia akan mudah tersulut dan tenggelam dalam lautan bencana moral yang secara tiba-tiba membesar dan meluluh lantakkan etika negeri ini.

    Tawuran, pemerkosaan, free sex, pembunuhan dan narkoba yang kerap dilakukan generasi muda setidaknya bisa menjadi bukti kongkret.

    Ya. Sebab sastra tidak menjadi panji utama penjaga etika di negeri ini. Padahal sastra berfungsi sebagai agen pendidikan membentuk pribadi keinsanan seseorang dan memupuk kehalusan adab dan budi kepada individu serta masyarakat agar menjadi masyarakat yang berperadaban.

    Fase-fase pemikiran ini jelas memberi pengetahuan bahwa sastra berkaitan dengan pemikiran, pendidikan, dan akal budi manusia.

    Tegasnya Friedrich Schiller mengatakan sastra semacam permainan menyeimbangkan segenap kemamuan mental manusia berhubung dengan adanya kelebihan energi yang harus disalurkan.

    Dengan kesusastraan, seorang diasah kreativitas, perasaan, kepekaan dan sensitivitas kemanusiaannya, sehingga terhindar dari tindakan-tindakan yang destruktif, sempit kerdil dan picik (Darmaningtyas, 2004;81). Bahkan kalau kita mau melakukan refleksi lebih mendalam bahwa para sastrawan yang kaya secara material murni merupakan hasil jerih payahnya menciptakan karya yang berkualitas.

    Seorang Joni Andriadinata yang dulunya pernah menjadi tukang becak di Jakarta, kini telah punya rumah sendiri, mobil sendiri karena keseriusannya menekuni dunia sastra. Beda dengan Insinyur sipil yang kaya, kebanyakan karena terlalu besar mengkorup biaya konstruksi. Akibatnya bagunan menjadi buruk. Juga para dokter yang kaya pada umumnya karena ekslotatif terhadap pasien. Tapi mengapa cita-cita anak selalu ingin menjadi dokter atau insinyur. Tidak menjadi sastrawan?


Sumber: Suara Karya, Sabtu, 21 April 2012

Sunday, April 15, 2012

[Buku] Bila Cerpen Serupa Reportase Televisi

Judul buku  : Korsakov

Penulis     : Wina Bojonegoro

Penerbit    : Elmatera, Yogyakarta

Tebal       : 184 hal.

ADALAH sebuah keberanian ketika seorang Wina Bojonegoro, single parent yang mengaku menulis cerpen sejak tahun 1988, membukukan cerpen-cerpennya dalam sebuah buku kumpulan cerpen yang diberi judul Korsakov. Tak banyak penulis cerpen yang melakukan hal serupa meskipun bisnis buku terus melaju dengan cepat. Penerbit juga bermunculan bak jamur, saling berlomba menerbitkan sebanyak-banyaknya buku berbagai genre, tetapi sedikit penerbit mayor yang mau gambling menerbitkan buku kumpulan cerpen dan antologi puisi. Alasannya cukup beralasan, pembelinya tak banyak.

Selain itu, editor sebuah penerbitan dengan tegas mengatakan penerbitnya tidak akan menerbitkan buku kumpulan cerpen kecuali karena alasan khusus. Alasannya sederhana, jarang pembaca membeli buku kumcer jika tidak yakin isinya bagus. Dan nama penulis masih tetap menjadi jaminan meskipun tak semua penulis terkenal selalu menulis bagus.

Tak heran jika penulis di genre ini banyak yang membukukan karyanya secara indie. Membiayai sendiri semua biaya penerbitan sampai promosi, bahkan menjual sendiri bukunya seperti sales pada umumnya, bahkan memilih sendiri editor dan endorser.

Tak ada yang salah ketika penulis ingin membukukan karyanya seperti yang dilakukan Wina Bojonegoro dan penulis lainnya yang menerbitkan secara indie. Sementara yang perlu kita cermati adalah apakah buku mereka sudah layak dibaca dan punya nilai plus bagi pembaca?

Korsakov, buku setebal 184 halaman, ini berisi 18 judul cerita pendek Wina yang sebagian besar sudah dimuat di koran lokal Kota Surabaya. Jika membaca satu demi satu cerpen dalam buku ini, terasa sekali penulis ingin membawa pembaca ke berbagai aneka corak problema kehidupan yang terjadi di Surabaya. Kejadian sehari-hari yang bisa terjadi pada siapa saja, perempuan khususnya, dengan lakon dan karakternya suroboyoan sekali. Dengan mengangkat kisah-kisah lokal dengan dialek lokal yang kental, istilah yang pada umumnya digunakan di daerah Surabaya, juga logat kental arek Suroboyo, jadi tak heran jika cerpen-cerpennya dimuat di koran lokal. Sehingga di setiap cerpennya, Wina tak perlu susah-susah memberi catatan kaki untuk istilah bahasa Jawa dan istilah lain yang biasa didengar di keseharian Kota Buaya. Padahal, lazimnya setiap menggunakan bahasa daerah, asing, atau resapan yang tidak baku, harus ditulis miring dan disertakan catatan kaki tentang arti kalimat, kata, atau istilah yang digunakan dalam cerpen tersebut.

Lalu, mengapa Korsakov yang menjadi judul buku ini? Mengapa penulis tidak memilih judul yang lebih menggambarkan keseluruhan isi buku? Bukankah judul harus mencerminkan isi buku? Sehingga tidak terkesan ada pengelabuan atau penipuan publik? Betul ada cerpen dengan judul Korsakov, tapi isi cerita tersebut logika berceritanya lompat-lompat dan tidak lebih bagus dari cerpen yang berjudul Lelaki Berbulu atau Di Atas Jembatan Rolak, Namaku Giri, meski judul yang terakhir terlalu panjang, tidak punya magnet. Menurut saya, judul Korsakov memang cukup punya daya tarik antara lain karena berbau asing dan bisa laku dijual. Faktor bisnis sepertinya memang harus dikedepankan.

Sebuah cerpen bisa ditulis oleh siapa saja yang punya kemampuan baca-tulis. Tetapi, sebuah cerpen yang bagus selain sangat subjektif, sesuai selera penulis dan pembaca, ada banyak hal yang perlu diperhatikan sehingga pembaca tidak merasa membaca cerpen seperti mendengar berita di televisi atau membaca berita di koran.

Sebuah cerpen yang baik harus bisa menggugah hati pembaca, ada nilai seni, keindahan. Selain itu, dapat memberi sesuatu yang bermanfaat dan pesan moral, terutama cerpen-cerpen yang ditulis oleh penulis perempuan akan bagus bila dapat memberi pelajaran berharga dari kisah-kisah yang dirangkum dengan bahasa yang baik, menggunakan kata-kata pilihan, sehingga pembaca merasa seakan dialah yang mengalami kisah itu.

Di Korsakov, saya sulit menemukan magnet yang membuat saya harus melotot, membaca kalimat demi kalimat sampai ke titik tamat di setiap judul. Saya tak menemukan keindahan dalam kalimat. Saya seperti membaca seorang reporter televisi, men-translate ucapannya ke dalam bentuk tulisan apa adanya. Meskipun begitu, cerpen-cerpen Wina sungguh hebat karena bisa menembus media lokal yang kabarnya lumayan sulit ditembus.

Beberapa teman bertanya apa yang membuat cerpen-cerpen Wina bisa dimuat di koran tersebut? Barangkali jawabannya simpel saja, kekuasaan pemuatan ada di tangan redaktur. Siapa yang bisa melarang seorang redaktur untuk memuat cerpen yang dipilihnya? Kembali lagi ini soal selera meski tetap setiap cerpen yang benar ada tolok ukurnya.

Terakhir, buku ini seperti yang diakui Wina dalam percakapan dengan saya, ia menerbitkan buku ini secara indie. Dengan bantuan beberapa teman yang menjadi editornya (ada tiga nama) seharusnya cerpen ini melalui tahap editing yang jeli. Ada banyak salah ketik (atau tak paham bahwa menunjukkan tempat harus dipisah), ada penulisan bahasa Inggris yang lumayan fatal seperti sleeper (orang yang tidur), sementara yang dimaksud dalam cerpen itu adalah slipper (sandal). Akibatnya tentu makna cerita berubah total.

Terlepas dari hal-hal yang saya kupas di atas, tentu saya acungkan jempol untuk keberanian Wina menerbitkan cerpen-cerpennya dalam sebuah kumcer ini. Setidaknya bisa menjadi bacaan di kala senggang dan untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan orang Surabaya.

Tita Tjindarbumi, penulis.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 April 2012


Surat kepada Maridjan

-- Syaukani Al Karim

AKU merasa kita pernah bertemu suatu ketika, meski Tuan akan mengatakan tidak. Waktu itu tahun 1938, dan Tuan berusia 33 tahun. Di atas podium, Tuan, sebagai wakil ketua Partai Syarikat Islam Hindia Belanda, yang kemudian disebut Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dengan bersemangat menjelaskan konsep ‘’hijrah” kepada peserta kongres ke-22 di Surabaya. Dengan nada yang berapi-api, Tuan menjelaskan bahwa hijrah, bukanlah semata-mata penolakan, bukan semata-mata sikap non-kooperasi, tapi bermuatan lebih positif, yaitu penolakan yang diikuti oleh usaha membentuk kekuatan hebat yang menuju Darul Islam: sebuah negeri yang dibangun dengan konsep kemaslahatan.

Pada waktu itu, kalimat Tuan yang menyebut Darul Islam, tentu saja tak bermasalah. Pada tahun 1938 tersebut, secara de facto dan de jure, Indonesia masih sesuatu yang imajiner.  Indonesia belumlah ada, kecuali dalam sederet mimpi dan sehasta rindu. Indonesia hanya ada dalam perbincangan-perbincangan elit politik yang mencoba menjadikan nama itu sebagai sumbu gairah perlawanan. Yang dihadapi waktu itu adalah Belanda, dan Islam, merupakan sentimen yang kuat dan seksi untuk menumbuhkan semangat perlawanan.

Politik hijrah yang Tuan usung, meski didukung oleh beberapa pihak, juga mendapat penolakan yang keras. Akhirnya Tuan dikeluarkan dari partai. Namun demikian, sebagai seorang yang keras keyakinan, Tuan tak peduli dengan ketidaksetujuan itu. Tuan terus melawan dengan mendirikan Komite Pertahanan Kebenaran (KPK) PSII, yang sering disebut sebagai PSII tandingan. Selain mengurus PSII tandingan, Tuan juga mendirikan Institut Suffah, sebuah pondok pesantren, yang sekaligus dijadikan basis latihan laskar Hizbullah dan Sabilillah.

 Aku merasa kita pernah bertemu suatu kali, mungkin tahun 1945. Akhirnya hati Tuan luluh juga, meski sebelumnya Tuan mati-matian menentang konsep Soekarno dan Hatta dalam menghadapi Belanda. Dengan hati yang penuh, Tuan pun menerima Indonesia yang Pancasila. Aku mencoba menebak dari mana persetujuan Tuan berpangkal. Mungkin karena pemimpin masa itu, Tuan pandang dapat menerjemahkan konsep hijrah Tuan dalam kepemimpinan mereka.

Aku juga ingat, ketika 27 Juli 1947, ketika Belanda melakukan agresi pertama. Tuan mengeluarkan resolusi jihad. Resolusi itu, membuat pasukan Tuan bersedia mati berkalang tanah demi Indonesia. Bersedia, hanya dengan bermodal bambu runcing, mempertarungkan rindu akan merdeka dengan nyawa. Tuan pernah kecewa, ketika pemimpin Indonesia bersedia untuk berunding di kapal US Renville (perjanjian Renville) yang berujung ditariknya pasukan RI dari wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda. Karena kecewa dengan perjanjian itu, Tuan memutuskan untuk tak ikut menarik pasukan keluar dari Jawa Barat. Lalu, Tuan menamakan pasukan yang tersisa dengan nama Tentara Islam Indonesia (TII).

Tuan terus bertempur, dan kembali mengobarkan jihad sewaktu agresi Belanda ke-II. Tapi ketika wilayah itu sudah Tuan kuasai, dan kemudian divisi Siliwangi meminta agar Tuan menyerahkan wilayah tersebut kepada mereka, maka Tuan pun tersinggung. Tuan  menganggap pemerintah pusat sudah tidak beretika, sudah tidak amanah, serta tidak istiqamah dalam berpolitik. Tuan meradang, lalu berbalik menempur tentara Siliwangi dan sekaligus Belanda. Pada kemarahan yang puncak itulah, Tuan lalu memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII), pada 7 Agustus 1949 di Malangbong.

Aku merasa  kita pernah bertemu suatu kali, meski Tuan tetap berkata tidak. Hari itu 16 Agustus tahun 1962. Tuan diadili dan dijatuhi hukuman mati. Bagiku, bukan kematian itu benar yang menusuk kalbu, tapi kekukuhan tuan dalam memegang teguh apa yang Tuan yakini itulah yang menggetarkan jiwa. Menjelang ajal, Tuan tetap menolak menidakkan NII yang tuan dengungkan, meski dengan imbalan keringanan hukuman. Aku tak peduli, apakah NII itu benar atau tidak, tapi sikap yang Tuan tunjukkan adalah pelajaran bahwa sebuah  prinsip perlu dijaga dengan dengan satu kata : Istiqamah.

Aku merasa kita pernah bertemu suatu kali, mungkin dalam kitab sejarah. Di kitab itu, nama dan tindakan Tuan ditulis dengan huruf-huruf yang buram dan murung, untuk selanjutnya diterjemahkan dalam kalimat-kalimat yang kusam. Di kitab itu, pasukan tuan disebut dengan “gerombolan” dan perjuangan Tuan disebut dengan “pemberontakan” dan Tuan dicap pula sebagai “pemberontak”.

Ah, aku tak percaya Tuan seorang pemberontak. Tuan tak sejahat itu, sebab bagaimana mungkin seorang ulama besar seperti Daud Beureureh, atau tokoh seperti Kahar Muzakkar, dengan rela membai’at Tuan sebagai pemimpin. Saya percaya, seperti yang Tuan katakan, bahwa apa yang Tuan lakukan adalah sebuah respon terhadap kekuasaan yang menyimpang, sebuah kekuasaan yang Tuan sebut “tidak konsisten”, atau sebuah kekuasaan yang dalam praktik, bertolak-belakang antara aqidah dan ibadah, antara konsep dan tindakan.

Tapi tak usahlah Tuan risau, karena sejarah hanya soal persepsi, soal ruang dan waktu. Soal pihak mana yang menulisnya. Pihak pemenang akan menulis yang kalah sebagai pengkhianat, dan ketika musim berganti, maka berganti pula kisah sebuah sejarah. Siapa pahlawan dan pengkhianat tergantung sebuah situasi psikologi pada waktu sejarah itu ditulis. Soekarno pernah ditulis sebagai pahlawan pada suatu masa, lalu ditulis sebagai pengkhianat pada masa yang lain, lalu ditulis kembali sebagai pahlawan pada masa berikutnya. Hal yang sama pernah terjadi pada Teungku Daud Beureureh, pada Tan Malaka, bahkan kepada Soeharto, yang dari pahlawan ditulis menjadi pengkhianat ketika Ia kalah.

Tak usahlah Tuan risau, karena Aku dan Tuan, hidup pada sebuah Negara, yang sejarah tak selalu berisi kebenaran, tapi lebih banyak pembenaran. Kita hidup pada sebuah Negara, dengan buku-buku sejarah yang sarat kepentingan, dengan kisah sejarah yang selalu diarahkan untuk melegitimasi sebuah tujuan. Di negeri kita, sejarah bukanlah sepenuh “history” tapi sudah bergeser kepada “His- Story”, pada sebuah kisah pribadi dan golongan. Sekali lagi, usahlah risau, karena meski aku masih mempertanyakan konsep Negara Islam yang Tuan proklamirkan, aku tetap memandang Tuan sebagai pahlawan, karena telah berjuang, baik ketika menjadi anggota Jong Java, Jong Islamieten Bond, maupun ketika memimpin pasukan melawan Belanda, Tuan telah bertungkus-lumus berjuang, telah mempertaruhkan nyawa demi memberikan kemerdekaan, untuk  kami simpan.

Aku merasa kita pernah bertemu, mungkin kemarin dan kemarinnya lagi, di antara bunyi bom yang memekakkan telinga, di tengah larian ketakutan, di antara tatapan kosong para ibu yang kehilangan anaknya, antara kematian orang-orang yang tak bersalah, antara tatap benci dan dendam yang entah kapan selesai. Mereka menghubungkan bom dan kehilangan anak-anak itu dengan gerakan Tuan. Aku tak percaya Tuan akan setuju dengan cara itu, karena Tuan bukan pengecut. Sepanjang hidup Tuan, segala sesuatu selalu Tuan hadapi dengan jantan, tidak dengan cara mengorbankan orang yang tak bersalah.

Aku cuma tidak tahu, dari mana datangnya sebuah tafsir yang membenarkan bom menjadi jalan bagi pencapaian cita-cita. Aku juga tidak tahu mengapa mereka menerjemahkan Negara Islam dengan mendirikan khilafah dengan pengertian raja. Aku tentu saja sepakat dengan tuan, bahwa kita membutuhkan seorang Khulafa ar Rasyidin, tapi dalam makna yang sebenarnya, yaitu seorang pemimpin atau pengganti yang cerdas dan baik secara aqidah (Khulafa ar-Rasyidin), karena dengan pemimpin yang cerdas dan baik, sebuah negeri berpeluang menjadi lebih maju, sejahtera, dan bermartabat.

Aku dan Tuan, pada hari ini mungkin akan sama-sama heran melihat banyak orang yang mengaku pengikut Tuan, menerjemahkan kekhalifahan dengan mendirikan raja. Seolah-olah, hanya dengan kerajaan, negeri ini bisa ditata dengan baik. Tuan dan aku mungkin sama-sama maklum, bahwa begitu banyak raja dalam dinasti Islam, gagal menjadi pemimpin yang cerdas iman atau menjadi pengganti yang baik itu. Mereka hanya tegak sebagai raja, semata-mata sebagai raja. Negara Islam di mataku, bukanlah sebuah monarkhi, tapi adalah sebuah demokrasi yang bersandar pada kemaslahatan. Islam menyuruh kita “memilih” dengan jalan musyawarah, bukan “menunjuk” seseorang sebagai raja, apa lagi sampai berketurunan.

Aku juga tak percaya, bahwa Tuan hendak mendirikan raja. Tuan pasti tahu, bahwa jika raja adalah sumber kemaslahatan, maka pastilah Tuhan telah menjadikan semua nabi sebagai raja. Tapi ketika Tuhan hanya menjadikan segelintir nabi, seperti Daud dan Sulaiman sebagai raja, dari sekian banyak utusan-Nya, maka kita dapat mengambil petunjuk, bahwa bukan raja yang utama.

Aku ingat kita pernah bertemu, mungkin hari ini, mungkin kemarin, di antara sisa-sisa mayat, di antara hujan hujatan, atau mungkin di tengah wajah-wajah penduduk yang cemas, di tengah ceracau negara yang tak pernah merasa salah, dan pada raut kepedihan menatap kematian. Ya, aku merasa bertemu denganmu pada hari ini, karena semua peristiwa dinisbatkan kepadamu, dan engkau dijadikan tepat berlindung bagi sebuah teror lain yang justru lebih besar: korupsi, tarik-menarik kekuasaan yang tiada habis, penistaan, kemiskinan, dan orang-orang yang lelah menanti cahaya.

Aku ingat kita pernah bertemu, mungkin di rumah sejarah. Berbincang di ruang kenangan. Aku mengagumimu dengan hati nan pedih, lalu dengan suara lamat-lamat aku menyebut namamu: Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Syaukani Al Karim, sastrawan Riau yang telah menghasilkan banyak karya. Tulisannya tersebar di berbagai media, maupun antologi. Kini bermastautin di Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 15 April 2012