Monday, January 25, 2010

Lawatan: Memandang ke Depan

-- H Rosihan Anwar

DALAM rekaman video di Ridderzaal saya menyinggung perbedaan antara Perancis dan Belanda dalam menghadapi bekas negeri jajahan masing-masing. Saya mengunjungi negara-negara Afrika bekas jajahan Perancis, juga disebut negara-negara Francophone, pada tahun 1980-an.

Di Bandara Schiphol, Belanda. (Dari kiri ke kanan) Sirtjo Koolhof (Radio Hilversum), Rosihan Anwar, Duta Besar Junus Effendie Habibie, dan Naila Karim Anwar. (Rusjdi Hussein)

Saya terkesan oleh hubungan spesial antara penduduk lokal dan Perancis akibat sikap kultural dan politik ekonomi Perancis yang tetap memberikan dukungan.

Pengaruh bahasa Perancis masih kuat, elitenya berorientasi pada kebudayaan Perancis. Bantuan perkembangan ekonomi diberikan oleh Perancis.

Ini berbeda halnya dengan hubungan Belanda-Indonesia. Hubungan historis mereka sudah sirna. Untuk masa depan hubungan ini perlu diperbaiki. Secara historis Negeri Belanda merupakan jendela bagi Indonesia serta pintu gerbang bagi akses mengetahui dunia Barat dan peradabannya. Karena itu, perlu dilaksanakan kerja sama, baik di bidang politik, ekonomi, maupun kebudayaan antara Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia.

Adegan penutup memperlihatkan saya dan Febriyanti di depan pintu Ridderzaal, berjalan keluar melalui lapangan licin akibat salju menuju mobil.

Final shot tampak dibalik jendela kaca mobil saya duduk memandang ke muka, seperti berefleksi mengenai perkembangan masa datang. Pada saat itu gambarnya freeze, gerak terhenti. Video yang durasinya sekitar 10 menit pun berakhir.

Supaya lebih kuat mengenang kembali disisipkan beberapa adegan dari sebuah film dokumenter tentang penyerahan kedaulatan.

Tampak para menteri berjalan di depan Paleis op de Dam hendak memasuki istana itu. Di dalam Wapres Hatta dan PM Belanda Willem Drees menandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan dengan disaksikan oleh Ratu Juliana. Hatta memberikan pidato sambutan. Ratu Belanda juga demikian. Di luar orang-orang Indonesia yang berdiam di Negeri Belanda, antara lain yang berasal dari Maluku, menunggu untuk mengelu-elukan Wapres Hatta. Lagu ”Indonesia Raya” diperdengarkan oleh carillon, disusul oleh lagu kebangsaan Belanda, ”Wilhelmus”.

Sebagai wartawan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang belum balik ke Tanah Air, saya hadir di Istana Amsterdam menyaksikan upacara penyerahan kedaulatan. Pikiran yang melintas di kepala ialah bangsa dan negara Indonesia kini siap menempatkan diri dalam pergaulan komunitas internasional, terbebas dari rasa rendah diri seorang anak jajahan.

Berbarengan dengan upacara di Istana De Dam, di Jakarta di Paleis Rijswijk yang segera berganti nama menjadi Istana Merdeka berlangsung upacara yang sama.

Sultan Hamengku Buwono IX mewakili bangsa Indonesia menerima penyerahan kedaulatan dari Wakil Agung Mahkota Lovink.

Setelah mereka menandatangani naskah perjanjian penyerahan kedaulatan, kedua pembesar itu pergi ke luar Istana menyaksikan upacara penurunan bendera.

Ketika bendera Belanda, Rood Wit Blauw, diturunkan, rakyat yang banyak berkumpul di depan pekarangan Istana bersuit-suit melecehkan Belanda, sedangkan tatkala Sang Merah Putih dikerek, rakyat menyambutnya dengan tempik sorak gembira.

Menurut protokol, maka naiklah de laatste Gouverneur Generaal, Gubernur Jenderal terakhir, ke pesawat KLM di Bandara Kemayoran hengkang ke negeri asalnya, Nederland. Sebuah kurun zaman telah berakhir.

Keesokan harinya Presiden Soekarno dan Ny Fatmawati turun dari pesawat Garuda Indonesia Airways di Bandara Kemayoran, dan setelah empat tahun di Yogya kembali ke Jakarta, disambut oleh rakyat dengan kegembiraan meluap-luap. Merdeka, merdeka!

Ditanya oleh penyiar, Yanti, Wakil Dubes Umar Hadi berbicara. Ia bilang mendengar lagu ”Indonesia Raya” dikumandangkan oleh carillon dalam film dokumenter tadi, dia lalu teringat sejarah diplomasi Indonesia pada 1945-1949 (dijalankan oleh PM Sjahrir, Wapres Hatta, dan Presiden Soekarno). Diplomasi Indonesia sama penting artinya dengan perjuangan fisik bersenjata. Dimensi kemanusiaan menyertai perjuangan tersebut. Hak segala bangsa untuk merdeka dijadikan pegangan. Dia sebut peranan Indonesia mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 yang bertujuan mengakhiri sisa-sisa penjajahan di benua Asia-Afrika. Dia merujuk pada Gerakan Nonblok dengan politik luar negeri bebas aktif, di mana Indonesia ikut memberikan sumbangan bagi perkembangan cita-citanya. Kini hubungan bilateral Belanda dan Indonesia makin erat sejak Menlu Belanda Bernard Bok hadir di Istana Merdeka di Jakarta pada perayaan 17 Agustus tahun 2005. Belanda dan Indonesia bisa bekerja sama dalam soal perubahan iklim, urusan persenjataan nuklir, untuk kepentingan umum.

Sejak Indonesia memasuki reformasi 10 tahun yang lalu, posisi Indonesia jauh lebih baik. Tidak ada lagi hambatan ideologi. Indonesia dilihat secara strategis dalam dialog Barat dengan Islam. Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar jumlahnya di dunia. Secara ekonomi, setelah krisis global yang terjadi, ada tiga negara yang kini positif pertumbuhan ekonominya, yakni China, India, dan Indonesia. G-20 yang merupakan kelompok negara paling berpengaruh dewasa ini, Indonesia termasuk di dalamnya, tetapi Negeri Belanda tidak. Melalui Indonesia Nederland bisa menyampaikan idenya mengenai perkembangan dunia ke G-20. Belanda mengatakan ada speciale relatie, hubungan istimewa antara Belanda dan Indonesia. Sejumlah 1,6 juta penduduk Nederland kini mempunyai sesuatu yang berkaitan dengan Indonesia. Di Den Haag dan tempat lain ada sekitar 300 restoran yang menghidangkan makanan masakan Indonesia.

Jika Indonesia bisa mengekspor bahan pangan dan ramuan Indonesia ke Negeri Belanda, dia menemukan sebuah pasar yang terjamin atau captive market.

Apakah soal penyerahan kedaulatan atau soal pengakuan kemerdekaan yang jadi titik perbedaan masih membayangi hubungan Indonesia-Belanda? ”Jangan terpenjara oleh sejarah masa lampau. Kita sepakat melihat ke depan,” kata Umar Hadi.

Dubes Nikolaos van Dam

Saya bertemu dengan Jan C Lepeltak, koresponden majalah Elsevier waktu dia berkunjung kepada Dubes Fanny Habibie.

Elsevier baru menerbitkan edisi spesial bertema ”Ons Indie-400 jaar Nederlandse sporen in Insulinde, de strijd om de onafhankelijkheid & 60 jaar Indonesia” (Hindia Kami-400 tahun jejak-jejak Belanda di Insulinde, perjuangan untuk kemerdekaan & 60 tahun Indonesia).

Saya bilang kepadanya untuk sebuah majalah yang konservatif isinya lumayan mengenai Indonesia. Akan tetapi, saya baca keterangan gambar dari enam presiden Indonesia, yaitu Ahmed Soekarno 1949-1967, Haji Muhammad Soeharto 1967-1998, Bacharuddin Jusuf Habibie 1998-1999, Abdurrahman Wahid 1999-2001, Megawati Soekarnoputri 2001-2004, Susilo Bambang Yudhoyono 2004-sekarang.

Rupanya Elsevier masih terus berpegang kepada legenda yang dipupuknya dalam benaknya bahwa Indonesia barulah merdeka sejak 27 Desember 1949 setelah penyerahan kedaulatan. Adapun fakta yang benar adalah Presiden Soekarno memerintah mulai tahun 1945. Bukan tahun 1949. Saya berpikir dalam bahasa Belanda tentang Elsevier: Ga je gang maar (Suka hati kamu).

Syo Wynia menulis artikel dalam Elsevier berjudul ”Frustratiea van een kleine mogendheid - Verlies van ons Indie was lange tijd traumatisch voor Nederlands zelfbeeld” (Frustrasi-frustrasi sebuah negara kecil-Kehilangan Hindia Kami adalah traumatis buat masa panjang bagi citra diri Belanda).

Enam puluh tahun setelah kemerdekaan Indonesia perasaan bersalah pascakolonial, mulanya terutama terhadap Indonesia, telah menentukan tidak hanya politik luar negeri Belanda, tapi juga menjelaskan besaran bantuan pembangunan dari Negeri Belanda.

Hanya dengan demikian dapat diterangkan bahwa kedutaan besar Belanda di Jakarta menempati urutan kedua dari semua ambassade Belanda di dunia.

Nederland pada 2009 juga kembali memberikan sebanyak 135 juta euro kepada Indonesia untuk bantuan pembangunan kendati kenyataan bahwa Indonesia menurut norma Belanda sesungguhnya adalah terlalu makmur untuk memperoleh bantuan ekonomi.

Jan Lepeltak menulis artikel berjudul ”Indonesiers zijn meer bezig met de toekomst” (Orang-orang Indonesia lebih banyak sibuk dengan masa depan).

Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam yang sudah bertugas empat tahun di Jakarta jatuh hati kepada Indonesia. Sebagai diplomat yang fasih berbahasa Arab dan mulai bertugas sebagai Kuasa Usaha di Libya, kemudian sebagai Duta Besar di Irak, Mesir, Turki, ia tidak percaya pada meningkatnya usaha pengislaman (Islamisering) Indonesia karena 90 persen penduduknya sudah beragama Islam. Dalam pemilu 2009 ternyata partai-partai politik Islam tidak berdaya meraih banyak suara.

Secara pribadi, Dubes Van Dam sangat terkesan oleh kemampuan orang-orang Indonesia untuk menahankan nyeri sakit malapetaka yang paling merusak. Dapat dinamakan suatu keajaiban bahwa Indonesia kendati masalah-masalah yang paling berat selalu mengembangkan dirinya lebih lanjut. So much for the future!

Cerita ”human interest”

Mari kita kembali ke siaran Radio Hilversum, 28 Desember 2009, dan memungut dari sana beberapa cerita human interest dan bersifat personal.

Penyiar Yanti bertanya apakah benar Bu Rosihan pernah menjadi penyiar radio?

Saya jawab itu betul. Zuraida karena keadaan tak aman di Jakarta, dia tinggal dekat markas Batalyon-10 Nica, mengungsi bersama keluarganya ke Yogya, Desember 1945.

Pada 1946 sambil bekerja di redaksi Kedaulatan Rakyat, dia menjadi penyiar siaran luar negeri RRI Yogya dalam bahasa Inggris. Siaran dimulai dengan pemberitahuan: This is the voice of free Indonesia.

Zuraida, gadis Betawi, punya hubungan keluarga dengan pemimpin nasional Mohammad Husni Thamrin. Dia juga penyiar dalam bahasa Belanda. Saya yang waktu itu tetap tinggal di Jakarta sebagai wartawan surat kabar Merdeka sering mendengar suara merdunya waktu siaran sore hari di Yogya.

Dari 24 SMS yang dikirim oleh pendengar sewaktu siaran Radio Hilversum banyak yang tidak dapat saya jawab akibat kekurangan waktu. Akan tetapi, tidak mengapalah karena banyak di antaranya mirip satu sama lain menyangkut soal KMB.

Mari saya kemukakan sebagai ilustrasi hal-hal yang bersifat pribadi yang ditanyakan pendengar.

Waktu zaman bapak dulu, radio yang bersiaran, radio apa ya Pak? bunyi SMS Denny di Aceh Barat Daya.

Saya bercerita tentang siaran Nederlands Indisch Radio Omroep Maatschappij (NIROM) pada zaman Hindia Belanda, Hosokyoku pada zaman Jepang, dan RRI pada zaman Republik.

Assalamualaikum. Ak Kevin Bengkulu: Kalau zaman dulu radio sudah berapa macam, terus musik dulu apa yang paling digemari?

Saya cuma bisa jawab keroncong dan lagu-lagu Amerika.

Asep Galing bertanya: Apakah ada pemalsuan sejarah dalam kurikulum sekolah di Indonesia? Apa saja peristiwa sejarah bangsa Indonesia yang menurut Bapak harus diluruskan?

Saya kekurangan waktu untuk menjawabnya.

Pak Rosi, apa judul tulisan Anda yang mengkritik tentang kolonial Belanda di Indonesia? Tolong ceritakan isi ringkasnya. Dg Agus di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pak Rosihan, saya sungguh bangga dengan perjuangan orang-orang Indonesia di zamannya bapak. Tidak seperti orang Indonesia sekarang, hanya pandai bicara dan korupsi. Pertanyaan saya: apa pendapat Bapak tentang kualitas orang Indonesia di zamannya Bapak dibanding dengan orang Indonesia sekarang? Gde Putra, Malang.

Bp Rosihan, Bapak termasuk pejuang lewat karya-karya Bapak, tapi waktu pemilu tahun ini Bapak memilih capres siapa? Mega/SBY? Trims dari Bu Nurul.

Pak Rosihan sudah berumur 88 tahun, tapi dari suaranya masih terdengar jelas dan bertenaga seperti orang muda, pasti juga sehat. Apa resepnya? Antonius J di Batu Jatim.

Goede middag Pak Rosihan Anwar & Kakak-kakak. Sisi dari Bandung senang sekali dapat mendengar suara Pak Rosihan di Renesi (Radio Nederland Siaran Indonesia) & lagu Belanda yang diputar tadi sangat indah, dank u wel.

Halo Ranesi. Apakah Pak Anwar sebagai saksi hidup KMB pernah menulis buku history mengenai KMB? Trims, Santoso Kalteng.

Saya jawab belum pernah, tetapi jika kesehatan mengizinkan ada maksud dalam waktu singkat menulis buku tentang peringatan 60 tahun KMB meskipun tidak secara akademis, tapi secara jurnalistik dan sedikit nge-pop agar dibaca juga oleh generasi muda untuk mengenal sejarah Indonesia-Belanda pada masa silam dan hubungan Indonesia-Belanda pada masa sekarang.

Ada SMS lain yang masuk, tetapi karena habis waktu tidak sempat dijawab.

Beberapa contoh, P Haerun, Banyuwangi: kenapa kok konferensi itu dinamakan Konferensi Meja Bundar (KMB). Apa ndak ada nama lain atau atas kesepakatan bersama yang berunding?

Pertanyaan untuk Bapak Rosihan Anwar. apakah saat itu anda merasa KMB adalah keinginan Belanda untuk merebut Indonesia kembali? Apa yang Anda pikirkan saat itu? Rudy Hartono, Jalan Penjajap Timur 3 A, Pemangkat, Kalimantan Barat.

Apakah benar Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun? Apakah ada pernyataan resmi Kerajaan Belanda tentang kemerdekaan Indonesia? Haposan di Kalimantan Barat.

Pak Ros, harapan apa yang ada dalam diri orang Belanda atas KMB yang tertangkap oleh pikiran Pak Ros? Dari Munthalib, Lawang, Malang.

Satu-satunya SMS dari seorang pendengar di Negeri Belanda berbunyi sebagai berikut: Selamat siang Ibu Yanti, Pak Jean, dan Pak Rosihan. Menurut Pak Rosihan, apa yang harus dilakukan supaya Belanda mau mengakui tanggal 17 Agustus 1945 sebagai kemerdekaan RI secara de jure? Dan pertanyaan yang kedua, apakah menurut Pak Rosihan harus ”mengakui” (atau lebih tepat) menerima tanggal 27 Desember 1949 secara de facto? Trims, Eric, Negeri Kincir Angin.

Time is up. Maka setelah siaran selama dua jam dari studio NRW Hilversum, penyiar Yanti dan Jean van de Kok mengucapkan terima kasih kepada kami sebagai narasumber wawancara.

Dalam siaran itu Nederland Wereld Omroep Siaran Indonesia entah untuk menyampaikan pesan muhibah (goodwill), entah hendak menandakan peristiwa itu sebagai simbolik dan harapan bagi hubungan Belanda-Indonesia pada masa datang memperdengarkan sebuah lagu Amerika terkenal dari tahun 1940-an, dimainkan oleh band Glenn Miller dan dinyanyikan oleh penyanyi-aktor masyhur, Frank Sintra.

Lirik lagu itu adalah sebagai berikut:

I give to you and you give to me,
True love, true love.
So on and on it will always be,
True love, true love.
For you and I have a guardian angel
On high with nothing to do,
But to give to you and to give to me,
Love forever true.

For you and I have a guardian angel
On high with nothing to do
But to give to you and to give to me
Love forever true
Love forever true.

Ya benar, itu adalah lagu ”True Love”. Cinta nan sejati.

Sumber: Kompas, Senin, 25 Januari 2010

[Maestro] Gesang Martohartono: Keroncong Tak Boleh Mati

-- Imron Rosyid

TUBUHNYA yang renta itu tergolek di atas ranjang rumah sakit. Matanya yang redup, sesekali melirik ke arah pintu kamar Firdaus 7 RS PKU Muhammadiyah, Solo, Jateng. Dia berusaha untuk tersenyum dan sembari terbaring dia menyalami rombongan anak-anak berusia belasan tahun itu. Wajah pria yang sudah berusia 92 tahun itu pun menjadi sumringah tatkala tanpa diduga anak-anak itu melantunkan lagu Bengawan Solo.


Lelaki yang terbaring lemah itu tak lain adalah Gesang Martohartono, si penggubah lagu keroncong tersebut. Meski tak terlalu merdu, kor anak-anak itu ternyata menjadi "obat" yang mempercepat kesembuhannya. Bukan lantaran lagu ciptaannya yang sudah mendunia itu yang dinyanyikan. "Anak-anak ternyata banyak yang suka dengan keroncong," katanya.

Gesang berulang-ulang menyatakan harapannya terhadap jenis musik ini harus tetap lestari. Dalam sebuah kesempatan, Gesang mengungkapkan keroncong tak boleh mati. Entah bagaimanapun caranya, keroncong harus bisa eksis sepanjang masa. "Saya sudah tidak bisa apa-apa, saya senang anak-anak menyukai," ujarnya.

Gesang tak ingin cawe-cawe dan lebih memilih menaruh harapannya kepada kaum muda.

Dia menyebut dirinya sebagai orang mantan atau pensiunan lantaran tidak lagi ada yang bisa dikerjakan. Dia juga seolah tak mengharubirukan dengan sebutan sebagai maestro keroncong lantaran lagu-lagu yang digubah sebagian besar melegenda sepanjang masa.

Pria yang lahir dengan nama Sutadi ini tidak pernah bermimpi lagu-lagu ciptaannya bisa dikenang sepanjang masa. Tidak hanya Bengawan Solo, tetapi lagu keroncong Jembatan Merah yang juga kesohor meski memang tidak mendunia seperti Bengawan Solo. Ada lagi karyanya, seperti Sapu Tangan, Kalung Mutiara, Borobudur, Roda Dunia, Dunia Berdamai, Tirtonadi, dan lain-lain.

Gesang membuat lagu tatkala dia masih muda sekali ketika masih berusia belasan tahun. Lagu Bengawan Solo yang kini banyak memiliki versi itu digubahnya saat berusia 23 tahun. Gesang terakhir menulis lagu pada tahun 1975 silam. Koleksi lagu yang dibuatnya sebanyak 44 buah. "Saya menulis lagu hanya apa yang saya lihat dan rasakan," katanya.

Pria kelahiran 10 November 1917 ini semasa mudanya gemar berpetualang. Kala itu, dia sering diajak pelukis Dullah melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mencari inspirasi. Rupanya, cara kerja Dullah membekas pada diri Gesang. Saat membuat lagu, dia selalu melakukan pengamatan. Gesang tak pernah menargetkan kapan lagunya bisa diselesaikan.

Kegemarannya jalan-jalan itu benar-benar mendarah daging. Gesang tetap menyukai melakukan pengamatan di sekitarnya. Di setiap pagi saat sehat, Gesang menyempatkan diri berjalan-jalan meski hanya beberapa ratus meter di sekitar rumahnya. "Paling-paling ya cari bubur untuk sarapan, tapi di tengah jalan sudah tidak kuat," katanya.

Hidupnya panjang seperti Bengawan Solo. Soal umur panjang ini, Gesang memberikan resepnya saat ditanya Mooryati Soedibyo, pemilik perusahaan jamu Mustika Ratu yang membesuknya. Dia tidak pernah ngoyo dalam hidupnya, senang dan susah dijalani dengan cara yang sama. "Jangan pernah marah, apalagi dimasukkan ke dalam hati," katanya.

"Surat Wasiat"

Hampir semua lagu yang dibuatnya berdasarkan dari pengalaman yang dilalui sendiri oleh Gesang. Jembatan Merah, dibuat saat Gesang terlibat dalam revolusi fisik sebagai anggota Palang Merah Indonesia (PMI). Piatu yang dibuat di awal dia mencipta lagu merupakan kontemplasi hidupnya yang sudah kehilangan ibunya sedari anak-anak.

Mungkin karena itu, lagu-lagunya tak lekang digerus zaman. Bertahun-tahun tetap bertahan dinyanyikan dari generasi ke generasi. Dari satu versi ke versi lain, mulai jazz hingga regge. Lagu-lagunya seperti lirik Bengawan Solo, mengalir sampai jauh. Menembus batas-batas negara dan budaya.

Di berbagai negara Gesang memiliki penggemar fanatik, di Jepang, ada perkumpulan pencinta Gesang yang membuat Perhimpunan Dana Gesang.

Meski masih hidup, organisasi ini membuatkan suatu monumen berupa Taman Gesang di Jurug. Tak heran, sakitnya Gesang mengundang media dari Jepang untuk mengabarkannya. "Pada hari keempat, ada wartawan dari Jepang yang menelpon dan ngobrol dengan Mbah Gesang," kata Santosa, salah seorang kerabat Gesang.

Gesang memberi makna pada perjalanan hidupnya. Jauh-jauh hari dia telah membuat "surat wasiat" melalui salah satu lagunya yang berjudul, Sebelum Aku Mati. Simak syair lagu yang digubah pada tahun 1963 ini. //Sekali ku hidup, sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi//.

Boleh jadi, Bengawan Solo adalah warisan abadi Gesang, yang terus mengalir sampai jauh. Tidak hanya mengalir sam- pai ke laut seper- ti aliran sungai Bengawan Solo, tetapi hingga ke samudra keabadian.

Gesang memang tidak mampu lagi pergi ke mana-mana, tetapi dia sebenarnya sudah ada di mana-mana. Gesang, seperti namanya yang berarti hidup, boleh jadi adalah sebagai suatu keabadian.

Sumber: Suara Pembaruan, Senin, 25 Januari 2010

Sunday, January 24, 2010

[Buku] Jalan Sunyi Kolonialisme-Liberalisme

-- JJ Rizal*

KELIRU besar menganggap Belanda membangun negara imperialisme modern itu hanya dengan bedil dan meriam yang mengancam serta beratus ”binnenland bestuur” alias pegawai negeri kolonial yang hipokrit.

Sejumlah cendekiawan dan pranata kesarjanaan dengan sadar masuk persekongkolan menyelewengkan ilmu pengetahuan demi tegaknya kekuasaan kolonial. JS Furnivall adalah salah satunya. Menjelang Perang Dunia II, tahun 1938, terbit karyanya, Netherland India: A Study of Plural Economy. Sebuah opus magnum yang menggetarkan ihwal pentingnya keberlanjutan kolonialisme Belanda atas Indonesia bertirai asap retorika dan diagnosa tajam ihwal plural economy atau ekonomi majemuk.

Tentu saja kalau kini, selang 70 tahun lebih, karya ideologis Furnivall itu diterjemahkan, maka cara pembacaan paling memikat adalah dengan memosisikannya dalam masalah kompleks hubungan ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Menelusuri teks Furnivall sebagai sejarah gagasan dari praktik politik kolonial. Mencermati sejauh mana wacana kolonial itu hidup dalam karya-karyanya. Lantas menempatkannya dalam suatu keluasan dan kebesaran jaringan cendekiawan yang kait-mengait menunjang bangunan hegemoni kolonial agar tetap lestari, mapan, dan hidup dari kurun sejarah ke kurun sejarah lainnya.

Lupa Soekarno, lupa Hatta

Salah jika menuduh Furnivall antipati terhadap pribumi. Blakblakan dipaparkannya eksploitasi kuasa kolonial dan kaum modal yang serakah. Bahkan secara khusus diriwayatkan pertumbuhan nasionalisme dan gerakan kebangsaan Indonesia. Tapi dalam pembahasannya tidak sekalipun disebut Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka.

Jangan bilang Furnivall alpa atau khilaf. Sebab ia menulis dalam masa yang sohor disebut periode perdebatan ideologis. Bukankah saat itulah pers pribumi dan Barat digemparkan oleh pengadilan Soekarno dan pidato pembelaannya tahun 1930? Ada berlimpah catatan ihwal sikap dan sepak terjang revolusioner Soekarno. Begitu juga berita-berita Hatta dan Sjahrir dengan PNI Baru, atau kelompok kiri beserta tokoh-tokohnya, seperti Tan Malaka, Alimin, dan Muso.

Semua itu lantaran Furnivall dalam berkarya telah menjadikan dirinya mesin kolonial untuk menginformasikan, memengaruhi, dan mengelabui persepsi agar sesuai garis ”Politik Ethis Konservatif”. Ini satu saja definisinya: ”kebijakan yang diarahkan untuk meletakkan seluruh kepulauan Hindia di bawah kekuasaan Belanda dan untuk mengembangkan negeri dan bangsa di wilayah itu ke arah pemerintahan sendiri di bawah asuhan Belanda.”

Furnivall alergi kepada para nasionalis revolusioner. Simpati besarnya untuk para pribumi jinak, pribumi model Barat yang bertindak dan berpikir persis tuan-tuan putih. Adalah bodoh, menurut Furnivall, kalau pilih cara revolusioner meraih kemerdekaan. Nasionalisme, apalagi yang revolusioner, jangan dijadikan dasar negara. Baginya pilihan terbaik adalah nasionalisme statis yang tidak melihat, bahkan menolak perkembangan masyarakat dan sejarah.

Ilmu kolonial

Asal-usul nasionalisme statis Furnivall dapat dilacak ke abad ke-19, ketika pejabat-pejabat kolonial menikmati liburan panjang di Belanda untuk menulis disertasi dalam ilmu hukum, etnologi, dan bahasa. Saat itulah kepentingan administrasi kolonial merasuk dalam penelitian ilmiah. Pada dua dasawarsa terakhir abad ke-19, studi bergaya kolonial itu pun kian kokoh.

Salah satu yang memukau adalah disertasi JH Boeke, Tropisch Koloniale Staathuiskunde (1910) dengan teori dualisme. Di Hindia Belanda, kata Boeke, ada ekonomi Barat, seperti ekonomi perkebunan yang kapitalistik, mengakumulasi modal dan mengeruk keuntungan. Tetapi, ada pula ekonomi pribumi, terutama ekonomi pedesaan berprinsip gotong royong.

Pada tahun 1930-an, ketika Furnivall menulis Netherland India, tesis Boeke sohor sekali. Saat itu pemerintah kolonial menjadikan tesis Boeke acuan langkah yang diambil menghadapi krisis ekonomi tahun 1929 yang menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat. Merujuk pada Boeke, penguasa kolonial percaya masyarakat akan membagi beban sosial-ekonomi yang berat itu berdasarkan prinsip gotong royong, sama rata sama rasa.

Ide Boeke ihwal jalan keselamatan via penyatuan selamanya Hindia dan Belanda pada 1930 oleh de Kadt Angelino dibakukan dalam tiga jilid bukunya, Staatkundig Beleid en Bestuurszorg in Netherlands Indie. De Kadt Angelino mengajukan konsep rijkseenheid, penyatuan Hindia dan Belanda. Seperti de Kadt Angelino, Furnivall pun pengagum Boeke. Teori ekonomi majemuk yang dikampanyekannya jelas kloning idenya Boeke.

Dalam bab ”Ekonomi Majemuk” sebagai penutup bukunya, Furnivall bilang prinsip politik-ekonomi yang pas diterapkan pada masyarakat majemuk adalah mengintegrasikan masyarakat dan mengorganisasikan permintaan sosial yang berbeda itu dalam suatu negara tunggal.

Kalau pecah ketunggalan (Hindia dengan Belanda) terlemparlah masyarakat dan semua golongan yang majemuk itu ke dalam anarki. Lantas Furnivall menawarkan persis penawaran de Kadt Angelino. Ia menyebutnya ”solusi sistem federal Belanda”. Furnivall dan de Kadt Angelino hanyalah murid yang pandai membeo. Sebab itu, mereka segera mengorbit dalam jagat karya ilmu kolonial.

Peliharaan kekuasaan

Jangan kaget kalau Gubernur Jenderal ACD De Graeff (1926-1931) memerlukan diri menulis pengantar penuh puji untuk Furnivall dan bukunya. Bagaimana tidak? Furnivall dengan bukunya adalah bentuk dukungan sekaligus pengabsahan atas kebaikan dan perlunya keberlanjutan sistem kolonial.

Adalah benar de Graeff semula dikenal sebagai gubernur jenderal yang berusaha memahami aspirasi kaum pergerakan Indonesia. Tetapi tak selang lama, de Graeff segera menjadi potret dari rentetan kekuasaan gubernur jenderal konservatif, pengecam keras pergerakan nasional dan pendukung gerakan nasionalisme statis yang percaya bahwa hanya kekacauan saja adanya jika Hindia lepas dari Belanda.

Bukan di masa de Graeff saja terasa kuat ikatan batin Furnivall dengan ideologi kolonial dan kampanyenya ihwal pentingnya keberlanjutan sistem kolonial serta alerginya terhadap gerakan nasionalis. Semua itu masih dan lebih tergambar lagi dalam bukunya, Colonial Policy and Practice yang terbit pada 1947.

Dekolonisasi yang terjadi di hampir seluruh dunia pasca-Perang Dunia II tidak meruntuhkan kepercayaan Furnivall akan kebaikan sistem kolonial. Ia tetap saja bilang nasionalisme bakal menjadi kekuatan kreatif bagi tanah jajahan yang merdeka asalkan sedia menerima kembali penjajahnya untuk memberikan “latihan dan persiapan”. Secara sinis Furnivall mengumpamakan negara jajahan yang baru merdeka sebagai narapidana yang baru bebas dan perlu asuhan-perawatan.

Akhirnya, sebagai buku induk ilmu kolonial karya Furnivall bukan tak berguna. Marilah membacanya dengan mencontoh cara Soekarno dalam Indonesia Menggugat membaca dan memakai karya para mahaguru ilmu kolonial. Mencomot data dan analisisnya seraya mengingatkan betapa: ”kolonialisme-imperialisme tidaklah mati… tetapi dipakai mengekalkan apa yang sudah dicapai dengan melalui jalan-jalan yang lebih sunyi, stillere wegen”.

* JJ Rizal, Peneliti Sejarah di Komunitas Bambu, Jakarta

Sumber: Kompas, Minggu, 24 Januari 2010