Bagian pertama Dari dua tulisan
-- Ahmadun Yosi Herfanda
MOMENTUM peringatan hari kemerdekaan selalu menjadi saat yang tepat untuk menakar dan mereaktualisasi nasionalisme warga suatu negara. Karena itulah, pergelaran sastra dan dialog interaktif dalam rangka 63 tahun Kemerdekaan Indonesia di Studio B RRI Pusat, Jumat (15/8) malam, lalu mengambil tema Nasionalisme dan Masa Depan Indonesia.Seperti tahun-tahun sebelumnya, pentas kemerdekaan yang digelar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) dan Forum Kebudayaan Indonesia (FKI) ini tidak hanya menghadirkan para penyair dan sastrawan, tapi juga para menteri dan tokoh masyarakat.
Mereka adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufik Effendi, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, juru bicara kepresidenan Andi Alfian Malarangeng, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Eka Tjiptadi, dan anggota Komisi I DPR RI Sigi Wahab.
Selain berdialog, para pejabat dan tokoh masyarakat itu juga membaca puisi. Sementara, dari kalangan penyair dan sastrawan yang tampil membaca puisi, antara lain Diah Hadaning, Fatin Hamama, Kurnia Effendi, dan Budi Setyawan. Tampil juga novelis Titie Said membacakan cerpen pendek, serta Direktur Program RRI Niken Widiatuti, dan anggota Dewan Pengawas RRI Kabul Budiono, membacakan sajak-sajak pendek. Pertunjukan sastra diawali musikalisasi puisi oleh Devi's Sanggar Matahari.
Dialog yang dimoderatori Dirut RRI Parni Hadi dan disiarkan langsung secara nasional itu mencoba menegaskan kembali tentang makna nasionalisme. Para pembicara sepakat bahwa nasionalisme dimulai dari rasa cinta, yakni cinta pada tanah air, bangsa dan negara. Setelah itu adalah perbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara. "Nasionalisme dimulai dari rasa cinta dan kemauan untuk berbuat bagi bangsa dan negara," kata Meutia.
Kata kunci
Dari dialog ini, dapat dikristalkan bahwa makna nasionalisme terletak pada tiga kata kunci, yakni cinta, peduli, dan berbuat/. Tentang nasionalisme kebudayaan, misalnya, dapat dimaknai sebagai cinta dan peduli pada kebudayaan nasional serta banyak berbuat untuk pelestarian dan pengembangan kebudayaan bangsa. Targetnya adalah pembentukan jati diri bangsa yang kuat dan mandiri.
Begitu juga ketika kita berbicara tentang nasionalisme sastra, maka sastra yang nasionalistik adalah sastra yang mendorong dan mengembangkan rasa cinta serta peduli pada kebudayaan dan jati diri bangsanya, kemudian mendorong pembacanya untuk melakukan yang terbaik bagi bangsanya.
Dengan demikian, kalau ada kalau ada individu atau kelompok masyarakat yang begitu saja mengadopsi nilai-nilai dan bentuk-bentuk ekspresi budaya asing yang tidak sesuai dengan keyakinan dan jati diri bangsanya, baik dalam karya seni (termasuk sastra) dan gaya hidup sehari-hari, maka patut diragukan rasa nasionalismenya. Jangan-jangan meminjam istilah Bung Karno -- mereka adalah kepanjangan tangan imperialisme budaya.
Maka, dapatlah dikatakan bahwa karya sastra yang berupaya merevitalisasi nilai-nilai budaya bangsa, yang mengembangkan rasa cinta dan kepedulian pada kebudayaan sendiri, termasuk kearifan dan kekayaan budaya lokal (etnis), adalah karya sastra yang nasionalis. Sebaliknya, karya sastra yang cenderung memanjakan serta mengagungkan nilai-nilai dan ekspresi budaya asing adalah karya sastra yang a-nasionalis.
Dialog budaya
Karya-karya seni budaya (sastra) yang menawarkan nilai-nilai budaya asing tentu tetap ada manfaatnya untuk mempertajam dialog antara budaya asing dan budaya nasional guna mencapai formula kebudayaan Indonesia yang lebih pas dengan tuntutan zaman. Sebab, bagaimanapun, seperti kata Umar Kayam, kebudayaan adalah proses transformasi dan dialektika nilai yang tak pernah selesai.
Karena itu, nasionalisme budaya tidak dapat lantas diartikan sebagai sikap menutup diri terhadap kebudayaan asing. Guna menyempurnakan formula kebudayaan Indonesia, kita tetap patut belajar pada kebudayaan negara-negara lain yang lebih maju dan sejahtera. Dalam hal etos kerja dan profesionalisme (budaya kerja), misalnya kita masih perlu belajar pada negara maju. Begitu juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, demokrasi, pembentukan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, kultur birokrasi, serta pemberantasa korupsi.
Yang patut dihindari adalah mengagungkan budaya asing secara berlebihan, serta mengadopsinya begitu saja, sehingga yang terjadi bukannya proses transformasi budaya dengan dialektika nilai yang sehat, tapi justru 'penggusuran budaya' yang meminggirkan kebudayaan nasional. Sebab, jika itu yang terjadi, maka kita akan terancam untuk menjadi bangsa yang kehilangan jati diri dan identitas nasional.
* Ahmadun Yosi Herfanda, Wartawan Republika dan Ketua Umum KSI
Sumber: Republika, Minggu, 24 Agustus 2008
Sunday, August 24, 2008
Dari Orang Tercinta hingga Marsinah
-- Dwi Fitria
MAKNA kepahlawanan pernah begitu bias profesi dan gender. Para penyair merebutnya.
Menurut kritikus sastra Kris Budiman ada pembahasan yang harus ditambahkan dalam membicarakan puisi-puisi bertema kepahlawanan. “Orde Baru menyebabkan ada bias militer dan bias gender dalam konsep kepahlawanan kita,” katanya.
“Taman makam pahlawan hanya diperuntukkan bagi militer, sementara sebagian besar pahlawan nasional berasal dari kasta ksatria. Ini adalah fakta dalam tanda petik,” ujar Kris yang juga berprofesi sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi ini.
Sifat militeristik tersebut menyebabkan bias gender yang kemudian berujung pada kecenderungan male oriented dalam pemahaman konsep pahlawan. “Oleh karena itulah disebut pahlawan, bukannya pahlawati. Nilai-nilai maskulin amat mendominasi.”
Sementara kritikus sastra Ribut Wijoto memberikan penjelasan yang lebih sederhana. “intrepretasi kepahlawanan telah direbut pemerintah. Kepahlawanan bukan lagi milik masyarakat. Lihat saja, siapa yang berwenang menentukan jenazah yang boleh dimakamkan di taman makam pahlawan? Jawabnya pemerintah.”
“Faktanya Taman Makam Pahlawan lebih banyak dihuni oleh bekas tentara. Itu artinya kepahlawanan bukan lagi milik masyarakat. Masyarakat menjadi asing dengan istilah pahlawan.”
Sayangnya saat ini, puisi-puisi yang eksplisit berbicara tentang kepahlawanan seolah hanya bisa ditemukan dalam kegiatan-kegiatan seremonial semisal acara peringatan kemerdekaan. Melalui lomba baca puisi atau penulisan puisi kepahlawanan. “Secara verbal dunia puisi kepahlawanan kita hanya berupa kegiatan Agustusan,” kata Ribut.
Kemungkinan untuk mengekplorasi tema-tema kepahlawanan di luar kerangka militeristik tadi selalu terbuka, dan ini telah dilakukan banyak penyair. Semisal Subagyo Sastrowardoyo dalam Monginsidi. “Puisi itu mendudukkan tokoh sebagai manusia biasa, yang tidak dipuja-puji, tanpa semangat militeristik yang penuh slogan,” kata Kris Budiman.
Hal yang sama dilakukan oleh Rendra dalam buku kumpulan puisinya Balada Orang-Orang Tercinta. Di dalam buku kumpulan puisi yang diterbitkan pada 1957 itu Rendra memberikan suara bagi orang-orang terpinggirkan yang tergilas kemiskinan dan tekanan.
Ode di mancanegara
Di mancanegara, ode adalah bentuk puisi yang banyak digunakan untuk mengangkat pahit getir perjuangan seorang tokoh. Bentuk puisi ini telah berkembang sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Bentuk ode berkembang di wilayah Britania, juga di Amerika.
“Ode juga banyak ditulis para penyair Indonesia, tetapi isinya bukan kepahlawanan dalam arti perjuangan di bidang kenegaraan maupun pemerintahan. Ode lebih mengarah ke hal-hal yang bersifat personal,” kata Ribut.
Para penulis mancanegara yang pernah menulis ode-ode yang masih menjadi bagian penting dalam perkembangan sastra di negaranya antara lain Percy Bysshe Shelley dari Inggris yang menulis To The West Wind, Mark Twain dari Amerika yang menulis Ode to Stephen Dowling Bots. Juga penyair Amerika, Walt Whitman yang menulis O Captain My Captain.
Ode To Stephen Dowling Bots kerap dijadikan model dalam puisi-puisi di Amerika. Kekuatan penggunaan metafora, repetisi kata, juga rimanya, membuat karya Mark Twain itu jadi salah satu contoh kuat puisi Amerika.
Penerima Nobel Sastra 1971, Pablo Neruda membangkitkan kembali minat mencipta ode di Spanyol lewat karya-karyanya. Tak mengangkat tokoh tertentu sebagai sumber inspirasinya ode-ode gubahan Neruda ditujukan untuk berbagai hal, konsep, benda mati, juga mahluk hidup. Pembuatan ode yang mengangkat tema semacam ini, amat jarang dilakukan para penyair sebelum dirinya.
Ode-ode Neruda diterbitkan dalam tiga buah buku Odas Elementales (Ode-Ode Elemen) pada 1954, Nuevas Odas Elementales (Ode-Ode Elemen Baru) pada 1956 dan Navegaciones y regresos (Perjalanan dan Kepulangan) pada 1959.
Tetap relevan
Tema-tema patriotik tetaplah sesuatu yang relevan. Bahkan senantiasa ada dalam puisi-puisi yang diciptakan oleh para penyair Indonesia. Ribut Wijoto menarik garis yang cukup jauh dalam hal ini. “Ada dua puisi besar tentang kepahlawanan yang diwarisi oleh para penyair, terutama yang berasal dari Jawa, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Hal ini bisa dilihat dalam puisi para penyair seperti Subagio Sastrowardoyo, Shindunata, Sapardi juga Goenawan Mohamad. Artinya pada suatu hari nanti akan muncul puisi kepahlawanan yang istimewa.”
Eksplorasi tema-tema patriotik menurut Kris Budiman, adalah sesuatu yang selalu relevan. “Kita kekurangan patriot, ada terlalu banyak koruptor dan orang-orang munafik," kata Kris Budiman. “Sepanjang puisi tersebut mengangkat tema pembelaan tanah airnya maka puisi itu adalah puisi yang patriotik”
Tetapi tema-tema tersebut tidak muncul secara eksplisit. Saat ini tidak ada penyair yang secara khusus hanya menekuni kepahlawanan. Yang membuat para penyair ogah mendalami tema-tema ini lagi-lagi karena ada terlalu banyak campur tangan pemerintah di dalamnya. “Kalau ada sedikit singgungan dengan kinerja pemerintahan atau negara, para penyair justru menuliskannya sebagai bentuk protes. Dan memang, puisi protes atau perlawanan lebih diminati dibanding puisi kepahlawanan,” ujar Ribut.
Tidak eksplisit
Meskipun tidak eksplisit, tema-tema patriotik muncul dalam puisi banyak penyair berbagai generasi. Semisal Zen Hae lewat puisi-puisi dalam bukunya Paus Merah Jambu. “Dia menulis tentang sebuah kota yang terasa begitu asing, dengan segala macam ekses perkembangan industri dan budaya konsumsi, bagi saya itu amatlah patriotis,” kata Kris Budiman. “Berbicara nilai-nilai patriotis, berarti berbicara di tataran tema, yang berarti kita membicarakan struktur maknanya.”
Sementara Ribut Wijoto mengambil contoh puisi Dongeng Marsinah gubahan penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi yang berkisah tentang buruh pabrik arloji yang ditemukan terbunuh akibat penganiayaan pada 8 Mei 1983 itu, memaparkan kepahlawanan seorang Marsinah. “Saya kira perjuangan seorang buruh melawan kebusukan kapitalisme juga bisa dijadikan tema puisi kepahlawanan.”
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 24 Agustus 2008
MAKNA kepahlawanan pernah begitu bias profesi dan gender. Para penyair merebutnya.
Menurut kritikus sastra Kris Budiman ada pembahasan yang harus ditambahkan dalam membicarakan puisi-puisi bertema kepahlawanan. “Orde Baru menyebabkan ada bias militer dan bias gender dalam konsep kepahlawanan kita,” katanya.
“Taman makam pahlawan hanya diperuntukkan bagi militer, sementara sebagian besar pahlawan nasional berasal dari kasta ksatria. Ini adalah fakta dalam tanda petik,” ujar Kris yang juga berprofesi sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi ini.
Sifat militeristik tersebut menyebabkan bias gender yang kemudian berujung pada kecenderungan male oriented dalam pemahaman konsep pahlawan. “Oleh karena itulah disebut pahlawan, bukannya pahlawati. Nilai-nilai maskulin amat mendominasi.”
Sementara kritikus sastra Ribut Wijoto memberikan penjelasan yang lebih sederhana. “intrepretasi kepahlawanan telah direbut pemerintah. Kepahlawanan bukan lagi milik masyarakat. Lihat saja, siapa yang berwenang menentukan jenazah yang boleh dimakamkan di taman makam pahlawan? Jawabnya pemerintah.”
“Faktanya Taman Makam Pahlawan lebih banyak dihuni oleh bekas tentara. Itu artinya kepahlawanan bukan lagi milik masyarakat. Masyarakat menjadi asing dengan istilah pahlawan.”
Sayangnya saat ini, puisi-puisi yang eksplisit berbicara tentang kepahlawanan seolah hanya bisa ditemukan dalam kegiatan-kegiatan seremonial semisal acara peringatan kemerdekaan. Melalui lomba baca puisi atau penulisan puisi kepahlawanan. “Secara verbal dunia puisi kepahlawanan kita hanya berupa kegiatan Agustusan,” kata Ribut.
Kemungkinan untuk mengekplorasi tema-tema kepahlawanan di luar kerangka militeristik tadi selalu terbuka, dan ini telah dilakukan banyak penyair. Semisal Subagyo Sastrowardoyo dalam Monginsidi. “Puisi itu mendudukkan tokoh sebagai manusia biasa, yang tidak dipuja-puji, tanpa semangat militeristik yang penuh slogan,” kata Kris Budiman.
Hal yang sama dilakukan oleh Rendra dalam buku kumpulan puisinya Balada Orang-Orang Tercinta. Di dalam buku kumpulan puisi yang diterbitkan pada 1957 itu Rendra memberikan suara bagi orang-orang terpinggirkan yang tergilas kemiskinan dan tekanan.
Ode di mancanegara
Di mancanegara, ode adalah bentuk puisi yang banyak digunakan untuk mengangkat pahit getir perjuangan seorang tokoh. Bentuk puisi ini telah berkembang sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Bentuk ode berkembang di wilayah Britania, juga di Amerika.
“Ode juga banyak ditulis para penyair Indonesia, tetapi isinya bukan kepahlawanan dalam arti perjuangan di bidang kenegaraan maupun pemerintahan. Ode lebih mengarah ke hal-hal yang bersifat personal,” kata Ribut.
Para penulis mancanegara yang pernah menulis ode-ode yang masih menjadi bagian penting dalam perkembangan sastra di negaranya antara lain Percy Bysshe Shelley dari Inggris yang menulis To The West Wind, Mark Twain dari Amerika yang menulis Ode to Stephen Dowling Bots. Juga penyair Amerika, Walt Whitman yang menulis O Captain My Captain.
Ode To Stephen Dowling Bots kerap dijadikan model dalam puisi-puisi di Amerika. Kekuatan penggunaan metafora, repetisi kata, juga rimanya, membuat karya Mark Twain itu jadi salah satu contoh kuat puisi Amerika.
Penerima Nobel Sastra 1971, Pablo Neruda membangkitkan kembali minat mencipta ode di Spanyol lewat karya-karyanya. Tak mengangkat tokoh tertentu sebagai sumber inspirasinya ode-ode gubahan Neruda ditujukan untuk berbagai hal, konsep, benda mati, juga mahluk hidup. Pembuatan ode yang mengangkat tema semacam ini, amat jarang dilakukan para penyair sebelum dirinya.
Ode-ode Neruda diterbitkan dalam tiga buah buku Odas Elementales (Ode-Ode Elemen) pada 1954, Nuevas Odas Elementales (Ode-Ode Elemen Baru) pada 1956 dan Navegaciones y regresos (Perjalanan dan Kepulangan) pada 1959.
Tetap relevan
Tema-tema patriotik tetaplah sesuatu yang relevan. Bahkan senantiasa ada dalam puisi-puisi yang diciptakan oleh para penyair Indonesia. Ribut Wijoto menarik garis yang cukup jauh dalam hal ini. “Ada dua puisi besar tentang kepahlawanan yang diwarisi oleh para penyair, terutama yang berasal dari Jawa, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Hal ini bisa dilihat dalam puisi para penyair seperti Subagio Sastrowardoyo, Shindunata, Sapardi juga Goenawan Mohamad. Artinya pada suatu hari nanti akan muncul puisi kepahlawanan yang istimewa.”
Eksplorasi tema-tema patriotik menurut Kris Budiman, adalah sesuatu yang selalu relevan. “Kita kekurangan patriot, ada terlalu banyak koruptor dan orang-orang munafik," kata Kris Budiman. “Sepanjang puisi tersebut mengangkat tema pembelaan tanah airnya maka puisi itu adalah puisi yang patriotik”
Tetapi tema-tema tersebut tidak muncul secara eksplisit. Saat ini tidak ada penyair yang secara khusus hanya menekuni kepahlawanan. Yang membuat para penyair ogah mendalami tema-tema ini lagi-lagi karena ada terlalu banyak campur tangan pemerintah di dalamnya. “Kalau ada sedikit singgungan dengan kinerja pemerintahan atau negara, para penyair justru menuliskannya sebagai bentuk protes. Dan memang, puisi protes atau perlawanan lebih diminati dibanding puisi kepahlawanan,” ujar Ribut.
Tidak eksplisit
Meskipun tidak eksplisit, tema-tema patriotik muncul dalam puisi banyak penyair berbagai generasi. Semisal Zen Hae lewat puisi-puisi dalam bukunya Paus Merah Jambu. “Dia menulis tentang sebuah kota yang terasa begitu asing, dengan segala macam ekses perkembangan industri dan budaya konsumsi, bagi saya itu amatlah patriotis,” kata Kris Budiman. “Berbicara nilai-nilai patriotis, berarti berbicara di tataran tema, yang berarti kita membicarakan struktur maknanya.”
Sementara Ribut Wijoto mengambil contoh puisi Dongeng Marsinah gubahan penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi yang berkisah tentang buruh pabrik arloji yang ditemukan terbunuh akibat penganiayaan pada 8 Mei 1983 itu, memaparkan kepahlawanan seorang Marsinah. “Saya kira perjuangan seorang buruh melawan kebusukan kapitalisme juga bisa dijadikan tema puisi kepahlawanan.”
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 24 Agustus 2008
Perluasan Makna Pahlawan
-- Theresia Purbandini
PADA zaman perang meraih kemerdekaan bangsa Indonesia, beberapa penyair
melahirkan karya-karya sastra mereka yang merupakan rekaman segala bentuk ekspresi jiwa yang tertoreh dalam sebuah puisi untuk menyemangati para pejuang di masa itu.
Perputaran roda zaman telah menggilas makna pahlawan dalam arti yang
sesungguhnya. Saat zaman perang, arti pahlawan adalah orang yang berjasa
kepada tanah air dalam berjuang untuk mencapai kemerdekaan dari penjajahan. Karya-karya penyair Angkatan 45’ banyak diwarnai oleh pengalaman hidup dan gejolak sosial politik budaya yang lebih realistik dibanding angkatan sebelumnya.
Menurut Jamal D.Rachman, “Pada Angkatan 45’ para penyair menuliskan karya-karya mereka sesuai semangat zaman kemerdekaan, di antaranya puisi untuk Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, dan masih banyak lainnya.”
Hal senada juga disampaikan oleh Joko Pinurbo, penulis puisi yang pernah menjadikan ‘celana’ sebagai bahan eksplorasi dalam puisinya. “Zaman yang
berbeda ikut mempengaruhi kosakata. Di zaman dulu mana ada judul puisinya yang menggunakan telepon genggam,” katanya sambil tertawa. “Tiap angkatan memiliki tema dominan masing-masing. Kalau sekarang susah mencari tema yang dominan, terlebih lagi bila harus membuat angkatan. Karena tema puisi sekarang makin beragam.” kata Joko.
Seiring pesatnya perkembangan zaman, defenisi baru arti pahlawan di mata
penyair sekarang telah bereinkarnasi ke dalam wilayah yang lebih luas. Bahkan Saut Situmorang menyatakan telah musnahnya pahlawan nasional di zaman reformasi ini. “Seseorang di zaman sekarang bisa dikategorikan sebagai seorang pahlawan, justru apabila berangkat dari sebuah keadaan realitas kemiskinan, seperti Wiji Thukul yang berani mengorbankan jiwanya dan tetap konsisten dengan idealisme melakukan perlawanan terhadap kondisi ketidakadilan,” kata Saut bersemangat.
Kini namanya inspirator
Jamal juga berpendapat mengenai makna kepahlawanan dalam puisi di masa
sekarang, tak hanya sekadar pejuang kemerdekaan. Di zaman sekarang arti
kepahlawanan tidak lagi hanya berpatok terhadap orang-orang yang
tercatat dalam sejarah, melainkan orang-orang yang menjadi inspirator
bagi orang lain. Meskipun tak tercatat dalam sejarah atau membuat hal
besar, tapi sejauh langkahnya telah memberikan inspirasi bagi seseorang
atau pun suatu komunitas tertentu, maka akan menjadi pahlawan dalam arti
yang lebih subyektif.
Pahlawan bagi Jamal adalah manusia dengan kapasitas terbatas yang menjalani hidupnya dengan cemerlang. Pergulatan hidupnya di tengah alam, lingkungan dan orang-orang ‘kecil’ yang pendidikan dan sosialisasinya terbatas, tapi ia mampu lahir sebagai manusia yang berarti bagi kehidupan orang lain. Petani tembakau Madura jadi bahan perenungan dalam salah satu puisinya, yang menceritakan betapa pelik kehidupan para petani yang tetap menanam tembakau meskipun dirundung ketidakpastian dalam hidup; tapi mampu jadi gantungan hidup orang banyak.
Berbagai gaya penyair dalam menuangkan hasil karyanya ke dalam torehan
puisi, merupakan penghayatan yang didukung oleh sebuah estetika. Entah
mengalir dalam bahasa yang ‘tinggi’ maupun sederhana, namun terkadang
dalam kesederhanaan itu justru menyelipkan makna yang lebih kental dalam
bahasa yang lebih komunikatif.
Joko Pinurbo yang senang menggelombangkan syair-syairnya secara sederhana mengungkapkan, “saya suka mengolah kompleksitas hidup manusia dengan cara pengungkapan yang sederhana. Saya tidak suka cara pengungkapan yang rumit tapi isinya malah sederhana.” Unsur puitik yang disematkan oleh Joko dan para penyair lainnya secara teknis melalui keselarasan ritme, bunyi dan kemampuannya menyentuh nalar serta menggugah emosi pembaca menjadi kekuatan dari sebuah puisi.
Saut Situmorang yang mengartikulasikan puisi layaknya bercerita, di mana
ada awal, konflik dan ending dalam kisahnya telah menjadi standar
elementer gaya bahasa yang sering ia gunakan. Dengan untaian kata yang
sederhana, jauh dari kesan abstrak sehingga makin menujukkan kadar
kecanggihannya sebagai penyair lewat bahasa sederhana yang digunakannya.
Melanggar pakem
Menurut penyair yang telah berkecimpung dalam dunia puisi selama 20
tahun ini, eksplorasi mendalam yang biasa menginspirasi puisinya tak harus lahir dari dunia mimpi dan khayal yang semu. “Menulis puisi merupakan bentuk komunikasi,” kata Saut.
Penyair tahun 90-an, dianggap Saut, mayoritas meniru frase dan gaya ekspresi Chairil Anwar. Sedangkan menurut Jamal, gaya menulis pusi angkatan sekarang lebih naratif, layaknya sebuah balada yang mengisahkan renungan monolog penyairnya dalam penghayatan tokoh yang ingin disampaikannya melalui guratan puisi.
Pelanggaran terhadap pakem-pakem tertentu, menurut Jamal, demi mencari hal unik yang lebih eksploratif, bilamana perlu harus berani dilakukan. Jika tidak roda perputaran puisi akan terasa statis. Untuk itulah tugas seorang penyair adalah terus bereksplorasi demi kesegaran dunia sastra Indonesia.
Perjalanan puisi dari tahun ke tahun seperti kapal yang terombang-ambing
akan pasang surutnya gelombang yang menaikinya. Bisa dalam keadaan yang
stagnan, tetapi juga bisa goyah akibat karam. Tapi diakui oleh Jamal,
pergeseran yang terjadi setelah angkatan 40-an, pencapaian yang
sangat menonjol dirasakan pada angkatan 70-an.
Setelahnya, yakni angkatan 90-an hingga kini, masih dibutuhkan penelitian yang lebih menyeluruh. Selain karena pendekatan penggunaan diksi yang sudah semakin beragam, juga karena melimpahnya sarana berekspresi melalui berbagai macam media cetak, dunia maya, dan perbukuan.
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 24 Agustus 2008
PADA zaman perang meraih kemerdekaan bangsa Indonesia, beberapa penyair
melahirkan karya-karya sastra mereka yang merupakan rekaman segala bentuk ekspresi jiwa yang tertoreh dalam sebuah puisi untuk menyemangati para pejuang di masa itu.
Perputaran roda zaman telah menggilas makna pahlawan dalam arti yang
sesungguhnya. Saat zaman perang, arti pahlawan adalah orang yang berjasa
kepada tanah air dalam berjuang untuk mencapai kemerdekaan dari penjajahan. Karya-karya penyair Angkatan 45’ banyak diwarnai oleh pengalaman hidup dan gejolak sosial politik budaya yang lebih realistik dibanding angkatan sebelumnya.
Menurut Jamal D.Rachman, “Pada Angkatan 45’ para penyair menuliskan karya-karya mereka sesuai semangat zaman kemerdekaan, di antaranya puisi untuk Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, dan masih banyak lainnya.”
Hal senada juga disampaikan oleh Joko Pinurbo, penulis puisi yang pernah menjadikan ‘celana’ sebagai bahan eksplorasi dalam puisinya. “Zaman yang
berbeda ikut mempengaruhi kosakata. Di zaman dulu mana ada judul puisinya yang menggunakan telepon genggam,” katanya sambil tertawa. “Tiap angkatan memiliki tema dominan masing-masing. Kalau sekarang susah mencari tema yang dominan, terlebih lagi bila harus membuat angkatan. Karena tema puisi sekarang makin beragam.” kata Joko.
Seiring pesatnya perkembangan zaman, defenisi baru arti pahlawan di mata
penyair sekarang telah bereinkarnasi ke dalam wilayah yang lebih luas. Bahkan Saut Situmorang menyatakan telah musnahnya pahlawan nasional di zaman reformasi ini. “Seseorang di zaman sekarang bisa dikategorikan sebagai seorang pahlawan, justru apabila berangkat dari sebuah keadaan realitas kemiskinan, seperti Wiji Thukul yang berani mengorbankan jiwanya dan tetap konsisten dengan idealisme melakukan perlawanan terhadap kondisi ketidakadilan,” kata Saut bersemangat.
Kini namanya inspirator
Jamal juga berpendapat mengenai makna kepahlawanan dalam puisi di masa
sekarang, tak hanya sekadar pejuang kemerdekaan. Di zaman sekarang arti
kepahlawanan tidak lagi hanya berpatok terhadap orang-orang yang
tercatat dalam sejarah, melainkan orang-orang yang menjadi inspirator
bagi orang lain. Meskipun tak tercatat dalam sejarah atau membuat hal
besar, tapi sejauh langkahnya telah memberikan inspirasi bagi seseorang
atau pun suatu komunitas tertentu, maka akan menjadi pahlawan dalam arti
yang lebih subyektif.
Pahlawan bagi Jamal adalah manusia dengan kapasitas terbatas yang menjalani hidupnya dengan cemerlang. Pergulatan hidupnya di tengah alam, lingkungan dan orang-orang ‘kecil’ yang pendidikan dan sosialisasinya terbatas, tapi ia mampu lahir sebagai manusia yang berarti bagi kehidupan orang lain. Petani tembakau Madura jadi bahan perenungan dalam salah satu puisinya, yang menceritakan betapa pelik kehidupan para petani yang tetap menanam tembakau meskipun dirundung ketidakpastian dalam hidup; tapi mampu jadi gantungan hidup orang banyak.
Berbagai gaya penyair dalam menuangkan hasil karyanya ke dalam torehan
puisi, merupakan penghayatan yang didukung oleh sebuah estetika. Entah
mengalir dalam bahasa yang ‘tinggi’ maupun sederhana, namun terkadang
dalam kesederhanaan itu justru menyelipkan makna yang lebih kental dalam
bahasa yang lebih komunikatif.
Joko Pinurbo yang senang menggelombangkan syair-syairnya secara sederhana mengungkapkan, “saya suka mengolah kompleksitas hidup manusia dengan cara pengungkapan yang sederhana. Saya tidak suka cara pengungkapan yang rumit tapi isinya malah sederhana.” Unsur puitik yang disematkan oleh Joko dan para penyair lainnya secara teknis melalui keselarasan ritme, bunyi dan kemampuannya menyentuh nalar serta menggugah emosi pembaca menjadi kekuatan dari sebuah puisi.
Saut Situmorang yang mengartikulasikan puisi layaknya bercerita, di mana
ada awal, konflik dan ending dalam kisahnya telah menjadi standar
elementer gaya bahasa yang sering ia gunakan. Dengan untaian kata yang
sederhana, jauh dari kesan abstrak sehingga makin menujukkan kadar
kecanggihannya sebagai penyair lewat bahasa sederhana yang digunakannya.
Melanggar pakem
Menurut penyair yang telah berkecimpung dalam dunia puisi selama 20
tahun ini, eksplorasi mendalam yang biasa menginspirasi puisinya tak harus lahir dari dunia mimpi dan khayal yang semu. “Menulis puisi merupakan bentuk komunikasi,” kata Saut.
Penyair tahun 90-an, dianggap Saut, mayoritas meniru frase dan gaya ekspresi Chairil Anwar. Sedangkan menurut Jamal, gaya menulis pusi angkatan sekarang lebih naratif, layaknya sebuah balada yang mengisahkan renungan monolog penyairnya dalam penghayatan tokoh yang ingin disampaikannya melalui guratan puisi.
Pelanggaran terhadap pakem-pakem tertentu, menurut Jamal, demi mencari hal unik yang lebih eksploratif, bilamana perlu harus berani dilakukan. Jika tidak roda perputaran puisi akan terasa statis. Untuk itulah tugas seorang penyair adalah terus bereksplorasi demi kesegaran dunia sastra Indonesia.
Perjalanan puisi dari tahun ke tahun seperti kapal yang terombang-ambing
akan pasang surutnya gelombang yang menaikinya. Bisa dalam keadaan yang
stagnan, tetapi juga bisa goyah akibat karam. Tapi diakui oleh Jamal,
pergeseran yang terjadi setelah angkatan 40-an, pencapaian yang
sangat menonjol dirasakan pada angkatan 70-an.
Setelahnya, yakni angkatan 90-an hingga kini, masih dibutuhkan penelitian yang lebih menyeluruh. Selain karena pendekatan penggunaan diksi yang sudah semakin beragam, juga karena melimpahnya sarana berekspresi melalui berbagai macam media cetak, dunia maya, dan perbukuan.
Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 24 Agustus 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)