Sunday, July 07, 2013

[Pigura] Dari Cerbung Terbitlah Novel

-- Iwan Kurniawan

KALA bertemu di sebuah kafe di senja hari, Winna Efendi, 27, menyodorkan novel terbarunya berjudul Melbourne. Tentu saja berlatar Melbourne, kota di Australia, tempat Winna sempat bermukim.

Sebagai novelis, ia sudah menghasilkan Ai, Refrain, Glam Girls Unbelievable (2009), Remember When (2011), Unforgettable dan Truth or Dare (2012), serta sebuah nonfiksi Draf 1: Teknik Menulis Fiksi Pertamamu (2012).

Novel terbarunya, Melbourne (Gagas Media, Jakarta), tak lagi galau, karena katanya, ia tak lagi remaja.

Namun, proses mencipta novel berdasar cerita bersambung atau cerbung telah dimulainya pada Remember When. “Karakter awal penceritaan dalam novel Remember When adalah cerbung. Saat itu saya menulis 20 cerbung. Namun, setelah berpikir-pikir dan berkonsultasi dengan penerbit, dijadikanlah novel,” tutur Winna.

Winna telah bergelut dengan cerbung sejak remaja. Buat menggubahnya menjadi novel, Winna menambahkan tokoh-tokoh.

Begitu pula dengan Melbourne. Materi yang ada di novel setebal 324 halaman itu awalnya hanyalah cerbung. Kisahnya tentang dua orang sahabat yang ditakdirkan bersama.

Cerbung miliknya itu sempat ditelantarkan beberapa tahun. Namun, ia pun melanjutkan proses adaptasi kisah itu menjadi novel dengan menambahkan latar belakang Kota Melbourne. “Tokoh-tokoh pun sempat diganti berulang kali,” papar penulis perempuan itu.

Gebrakan 60-an

Cerbung dalam perjalanan sastra negeri ini punya jejak sejarah panjang. Gebrakan paling dahsyat pernah dilakukan sastrawan Remy Sylado pada era 1960-an. Cerbung berjudul Coridad Cruz pernah diterbitkan di majalah Aktuil pada 1972 dan diterbitkan sebagai buku dengan beberapa perubahan pada 1977.

Melewati puluhan tahun, akhirnya Remy berhasil mengumpulkan kisah-kisah cerbung miliknya yang lain, termasuk Coridad Cruz yang sempat dimuat di sederet media massa. Kini, lewat kerja kerasnya, ia meramunya menjadi novel Gali Lobang Gila Lobang (Nuansa Cendekia, Bandung).

Novel setebal 177 halaman itu menghadirkan tokoh utama Jacques Pierre Andre Tocqueville alias Djeki, seorang pelaut Indonesia, dan Caridad Cruz, seorang penyanyi Filipina.

Pertemuan antara Djeki dan Caridad diwarnai banyak rayuan dan berujung pada percintaan. Namun, cinta pun memaksa mereka berpisah. Apalagi Djeki sempat dibohongi Caridad yang juga memiliki nama lain Emilia.

Ada yang menarik dalam novel itu. Djeki, yang sering bepergian dengan kapal, berlabuh di Manila, Filipina. Setiap kali mendarat di pelabuhan, para kelasi, halnya Djeki, sepakat atas istilah lobang (hlm 15).

Remy cukup ‘nakal,’ membuat kita tertawa, tergelitik, dan terhipnosis dengan alur yang apik.

Berawal dari cerbung, novelis muda Winna hingga novelis kawakan Remy Sylado menunjukkan bahwa proses kreativitas sungguh kaya spektrum. (M-3)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 7 Juli 2013 

[Jendela Buku] Kala Suri Mempertanyakan Hidup

BUKU Surga Retak mengisahkan perjalanan hidup Suri si gadis belia yang penuh dinamika di tanah Deli. Buku ini mengisahkan kegetiran Suri karena ayahnya mempertaruhkan ibu di meja judi, padahal dalam pertaruhan kelas seribu rupiahan saja bapak selalu kalah. Perhitungan ayahnya yang terlalu gegabah tidak sebanding dengan keberanian orang-orang lain yang sudah terlatih berjudi sejak Belanda mengembangkan kapitalisme di tanah Deli Serdang.

Bapak membuat Suri seperti tercabut dari kebahagiaan, kabur di malam buta dengan motor tua, menuju harapan baru, meninggalkan indahnya cinta yang baru mekar di belakang.

Itulah sepenggal novel Surga Retak, karya Syahmedi Dean yang baru diluncurkan di Gramedia Pondok Indah, Jakarta, 4 Juli lalu. Aktivis dan politikus wanita Wanda Hamidah dan penulis biografi Alberthine Endah turut mengupas novel Surga Retak ini.

Buku ini mengupas keserakahan akan tanah perkebunan yang ada di Deli Serdang, Sumatra Utara. Juga mengupas peninggalan Belanda tentang pelacuran, perjudian, dan kapitalisme yang hingga kini masih terjadi.

Novel Dean kali ini memiliki perbedaan dari novel-novel sebelumnya. Biasanya ia mengangkat gaya hidup ataupun fesyen, dan mengambil lokasi di Kota Paris, Milan, dan Singapura. Dean memberikan sentuhan berbeda dengan mengedepankan nilai-nilai sosial, budaya, sejarah, dan kisah asmara antara Suri dan Murad. Selain itu, ia menggunakan lokasi ia dilahirkan, yaitu di Deli Serdang.

Dengan deskripsi yang sangat detail, pembaca serasa benar-benar masuk alur novel ini dan merasakan perasaan yang ada pada novel Surga Retak ini. Dalam pengerjaan buku ini, sang penulis membutuhkan waktu selama dua tahun. Itu karena ia harus meriset dan mengolah data yang berkaitan dengan novel ini. Dean mengatakan surga retak adalah tanah di Deli Serdang yang dulunya dialiri air yang memiliki humus yang baik sehingga tanah yang ada subur. "Namun, karena keserakahan Belanda, air itu dikuasai sehingga tanah di Deli Serdang mengering," jelasnya.

Menyanyat hati

Penulis menggambarkan kehidupan pelacuran sangat menyayat hati, tak hanya wanita yang menjadi pelacur, tapi laki-laki pun ikut di dalamnya. Kegiatan perjudian yang sangat gila dalam novel ini digambarkan bahwa saat tak memiliki uang, istri, anak atau apa pun dijadikan bahan pertaruhan.

Lalu, apa pesan moral dalam novel yang sarat kesedihan ini?

Dean menyatakan kadang-kadang manusia mengira nasib dipengaruhi dengan apa yang dilakukan. Padahal tidak, nasib dipengaruhi beberapa hal yang lain, seperti sejarah dan hal-hal yang di sekitar kita.

Alberthine takjub terhadap novel Surga Retak ini karena loncatan yang dilakukan penulis sangat jauh. "Saya melihat Dean dapat membuat hal-hal yang bernilai dari sesuatu yang sederhana," tuturnya.

Novel ini menyajikan sebuah ide yang menginspirasi, menyuguhkan mimpi, dan cara mewujudkannya. Walau nasib kadang mencoba untuk memutar roda kendali hidup Anda dari jalan panjang untuk mencapai mimpi Anda. Seperti kata Suri dalam novel Surga Retak, 'Aku harus punya cita-cita, harus berani bermimpi. Kalau tidak, aku cuma terombang-ambing dalam kehidupan duniawi, terombang-ambing dalam arus hidup orang lain. Cita-cita bisa membuat kita punya kehidupan sendiri dalam gelombang kehidupan dunia'. (Why/M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 7 Juli 2013 

[Jendela Buku] Tidak Pernah Memelihara Kebencian

-- Rudy Policarpus

Buku Ayah tidak hanya melihat Buya Hamka sebagai cendekiawan, ulama, politikus, dan sastrawan, tapi sebagai ayah, suami, dan kepala keluarga serta sahabat.

Ayah... Kisah Buya Hamka
Pengarang: Irfan Hamka
Terbit: Jakarta, 2013
ISBN : 978-602-8997-71-3
Tebal: xxviii + 321 hlm.
BUKU yang mengangkat kisah kehidupan Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Buya Hamka sudah banyak dikupas. Namun, buku berjudul Ayah karangan Irfan Hamka, putra kelima Buya, diklaim penulis sedikit berbeda dengan terbitan-terbitan yang sudah ada.

Sebelum Irfan, Rusjdi Hamka, putra Hamka lainnya, juga pernah menerbitkan buku berjudul Pribadi dan Martabat Buya Hamka yang menggambarkan sosok sang ayah.

Buku setebal 320 halaman ini menyuguhkan sosok mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak hanya sekadar cendekiawan, ulama, politikus, sastrawan, tapi juga sisi Buya sebagai ayah, suami, dan kepala keluarga serta sahabat. Sebagai ulama bergelar doktor honoris causa dari Universitas Al-Azhar Mesir, Hamka dikenal memiliki sikap kerap untuk urusan akidah. Namun, di buku ini, penulis juga menampilkan karakter pemaaf dari Buya, bahkan terhadap orang yang membencinya sekalipun.

Di halaman 255, diceritakan hubungan Buya dengan mantan Presiden Soekarno. Pada pemerintahan Soekarno, pria kelahiran 17 Februari 1908 ini pernah menghabiskan waktunya selama 2 tahun 4 bulan di penjara (1964-1966). Ia ditahan tanpa proses pengadilan dengan tuduhan subversif terhadap pemerintahan Soekarno. Hingga suatu ketika, kata Irfan dalam bukunya, ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo membawa pesan keluarga Soekarno untuk Buya.

"Pada 16 Juni 1970, Pak Soeryo datang ke rumah membawa pesan terakhir Soekarno. Isi pesan itu meminta kesediaan ayah menjadi imam salat jenazah Soekarno," tulis Irfan.

Sontak Buya bertanya kepada Mayjen Soeryo. "Jadi beliau sudah wafat," tanyanya yang dijawab anggukan kepala Mayjen Soeryo. Meski sempat dipenjara, Buya tak memelihara benih dendam kepada Soekarno. Buya malah bersyukur dipenjara karena selama di tahanan ia dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Alquran 30 juz.

Menolak Pancasila

Selama masa hidupnya, Buya dikenal teguh memegang prinsipnya, yakni menolak Pancasila sebagai dasar negara. Keteguhannya itu membuat ia dibenci Mohammad Yamin, tokoh nasionalis karena perbedaan ideologi. Yamin ialah politikus Partai Nasionalis Indonesia, sedangkan Buya berasal dari Partai Masyumi. Hingga tiba pada 1962 menjelang ajalnya, Yamin meminta Buya mendampinginya. Kembali Buya menyanggupi permintaan orang yang membenciya itu.

Buku ini juga banyak menyajikan perjalanan hidup tokoh Muhammadiyah itu mulai dari Buya kecil, selama meniti karier di Jakarta sebagai pegawai Kementerian Agama, hingga meninggal pada 24 Juli 1981.

Beberapa saat sebelum wafat, Buya meletakkan jabatannya sebagai Ketua MUI. Penyebabnya, pemerintah Soeharto meminta dia mencabut fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam mengikuti perayaan dan mengucapkan selamat Natal. Sekali lagi Hamka menunjukkan keteguhannya memegang akidah.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang hadir dalam peluncuran buku Ayah pada Juni lalu, menilai Hamka sebagai sosok manusia 'hampir sempurna' untuk urusan akidah. Tidak hanya soal akidah, JK juga mengenal Hamka pintar berceramah. "Saya beberapa kali ikut ceramahnya, semuanya baru tak ada yang sama," ujarnya.

Layaknya manusia biasa, tak ada yang sempurna. Pun demikian dengan Buya di mata JK. "Masak sih mengucapkan selamat Natal saja tak boleh," ujarnya.

Buku yang diterbitkan Republika Penerbit ini mungkin tak banyak menyuguhkan hal baru soal sosok yang diberi Gelar Pahlawan Nasional pada 2011 itu. Namun, bagi penggemar Buya, buku ini layak dimiliki untuk melepaskan kerinduan terhadap sosok karismatik asal Sumatra Barat itu. (M-2)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 7 Juli 2013